Iklan

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS TENTANG PERJUANGAN BANGSA INDONESIA DI MASA PENJAJAHAN PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 3 BUMIHARJO KECAMATAN KLIRONG TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Suswati, S.Pd.SD.

ABSTRAK

Suswati, 2020. Penggunaan Model Pembelajaran Make A Match Untuk meningkatkan Hasil Belajar IPS Tentang Perjuangan Bangsa Indonesia di Masa Penjajahan pada Siswa Kelas V SD Negeri 3 Bumiharjo Kecamatan Klirong Tahun Pelajaran 2019/2020. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar IPS siswa SDN 3 Bumiharjo Kecamatan Klirong Kabupaten Kebumen Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020. Tujuan Penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan penggunaan model Make A Match dalam meningkatkan hasil belajar IPS tentang Perjuangan Bangsa Indonesia di Masa Penjajahan pada Siswa Kelas V SD Negeri 3 Bumiharjo Kecamatan Klirong Kabupaten Kebumen Tahun Pelajaran 2019/2020 (2) untuk mengetahui penerapan model Make A Match dalam pembelajaran IPS tentang Perjuangan Bangsa Indonesia di Masa Penjajahan pada Siswa Kelas V SD Negeri 3 Bumiharjo Kecamatan Klirong Kabupaten Kebumen Tahun Pelajaran 2019/2020. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan metode siklus. Subyek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri 3 Bumiharjo Kecanatan Klirong Kabupaten Kebumen Tahun Pelajaran 2019/2020 yang berjumlah 30 siswa dengan perincian 16 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan tes, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada proses pelaksanaannya, peneliti menggunakan hasil ulangan KD sebelumnya yang dilanjutkan dengan siklus tindakan I dan siklus tindakan II yang didukung dengan penerapan penggunaan model Make A Match. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: 1) Penggunaan model Make A Match dapat meningkatkan hasil belajar IPS tentang Perjuangan Bangsa Indonesia di Masa Penjajahan pada Siswa Kelas V SD Negeri 3 Bumiharjo Kecamatan Klirong Kabupaten Kebumen Tahun Pelajaran 2019/2020. 2) Penerapan penggunaan model Make A Match dalam pembelajaran IPS mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Kata Kunci: Model Pembelajaran Make A Match, Hasil belajar IPS, PTK

BAB I PENDAHULUAN

Peningkatan kualitas sumber daya manusia diperlukan dalam konteks peningkatan pengetahuan dan keterampilan melalui model pembelajaran yang efektif dan efisien, serta mengikuti perkembangan zaman. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan dampak tertentu terhadap inovasi sistem pembelajaran. Pandangan mengenai konsep pembelajaran terus mengalami perkembangan sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejauh ini pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih terfokus pada guru sebagai sumber utama dalam proses pembelajaran. Ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Guru sebagai salah satu komponen pembelajaran dituntut mampu mengembangkan kapasitas belajar, kompetensi dasar, dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa secara penuh sehingga siswa dapat tergugah untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran dan proses belajar mengajar lebih efektif dan efisien. Dalam hal ini guru harus mampu menerapkan suatu pendekatan pembelajaran yang tepat. Oleh karena itu diperlukan sebuah strategi baru yang lebih memberdayakan siswa. Strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka.

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ditegaskan bahwa saat ini kesejahteraan bangsa tidak hanya tergantung pada sumber daya alam dan modal yang bersifat fisik, tetapi bersumber pada modal intelektual, sosial, dan kepercayaan. Dengan demikian tuntutan untuk memutakhirkan pengetahuan sains menjadi suatu keharusan. Mutu lulusan tidak cukup bila diukur dengan standar lokal saja sebab perubahan global telah menuntut keharusan untuk menguasai iptek. Iptek tidak lepas dari pembelajaran IPS.

II. LANDASAN TEORI

  1. Pengertian Belajar

H. J. Gino, dkk (2000:6) menyatakan bahwa “belajar adalah suatu kegiatan yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku, baik potensial maupun aktual”. Sri Rumini, dkk (1995:59) menyatakan bahwa “belajar adalah suatu proses usaha dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku relatif menetap, baik yang dapat diamati maupun tidak diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu hasil latihan pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan”. Oemar Hamalik (2001:28) menyatakan bahwa “belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan”

Pengertian Pembelajaran

Menurut Udi S. Winataputra, dkk (2007:1.18) pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi, memfasilitasi, dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik. Achmad Sugandi (2004:9) menyatakan bahwa “pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan kepada si belajar untuk berfikir agar memahami apa yang dipelajari”. Gino, dkk (2000:33) menyatakan bahwa “pembelajaran adalah sebagai usaha sadar dari guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu dengan didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama karena adanya usaha”.

Pengertian IPS

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis.

Hakikat Model Make A Match

Make A Match merupakan salah satu bagian dari pembelajaran kooperatif. Sebagai bagian dari pembelajaran kooperatif maka dalam proses pelaksanaannya dilakukan secara bersama dengan teman sekelasnya.

Menurut Hamruni 2009: 290, Model Pembelajaran Make A Match adalah cara menyenangkan lagi aktif untuk meninjau ulang materi pembelajaran dengan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berpasangan dan memainkan kuis kepada kawan sekelas. Menurut Tamirizi (2008 : 3) mengemukakan bahwa model pembelajaran cooperative didasarkan atas filsafah Homo homini socius. Falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk social (Anita lie 2003 : 27). Menurut Muslim H Ibrahim (2000 : 2) model pembelajaran cooperative merupakan model pembelajaran yang membantu siswa mempelajari isi akademik dan hubungan sosial. Ciri khusus pembelajaran cooperative mencakup lima unsur yang harus diterapkan yang meliputi ; saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antara anggota dan evaluasi proses kelompok (Anita Lie 2003 : 30).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Setting/Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 3 Bumiharjo, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen yang beralamat di Desa Bumiharjo, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, yang secara geografis terletak di perbatasan 4 pedesaan.

SD Negeri 3 Bumiharjo terletak di perempatan jalan, bersebelahan dengan TK Adi Purnama, dan di sebelah selatannya terdapat Pos Kesehatan Desa Bumiharjo Di bagian depan merupakan halaman yang luas. Sarana dan prasarana tidak begitu lengkap, namun anak didik dan guru tetap bersemangat.

B. Indikator Kinerja

Sebagai dasar untuk mengetahui keberhasilan dan menganalisis data yang diperoleh perlu ditetapkan indikator kinerja dalam penelitian. Indikator kinerja dalam penelitian ini adalah adanya peningkatan hasil belajar IPS tentang perjuangan bangsa Indonesia pada masa penjajahan pada siswa kelas V SD Negeri 3 Bumiharjo Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen Tahun Pelajaran 2019/2020. Rata-rata nilai yang diperoleh oleh siswa adalah ≥ KKM IPS yaitu 66. Siswa yang memperoleh nilai 66 ke atas adalah lebih dari 85%. Serta mengetahui penerapan penggunaan model Make A Match dalam pembelajaran IPS tentang perjuangan bangsa Indonesia pada masa penjajahan pada siswa Kelas V SD Negeri 3 Bumiharjo, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen Tahun Pelajaran 2019/2020.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Hasi belajar menunjukkan bahwa sebesar 96% atau sebanyak 30 siswa telah mencapai nilai ≥ KKM. Sedangkan sisanya sebesar 4% atau 1 siswa memperoleh nilai ≤ KKM. Pada siklus II, diperoleh data mengenai peningkatan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan jika dibandingkan dengan tes awal dan siklus I. Pada tes awal jumlah siswa yang tuntas sebanyak 10 siswa atau 33%. Pada siklus I sebanyak 17 siswa atau 56% Pada siklus II menjadi 96% atau sebanyak 29 siswa dan nilai rata-ratanya menjadi 81,3.

Diagram Peningkatan Hasil Belajar

Tabel Persentase Ketuntasan Belajar Tes Awal, Siklus I, dan Siklus II

No Tahap Tuntas Tidak Tuntas
1 Tes Awal 33% 67%
2 Siklus I 57% 43%
3 Siklus II 96 % 4%

Pembahasan

Pada kondisi awal, keadaan siswa Kelas V SD Negeri 3 Bumiharjo tahun pelajaran 2019/2020 masih sangat kurang dalam memahami materi pelajaran. Hal ini dikarenakan guru masih melaksanakan pembelajaran yang terpusat pada guru sehingga tidak tercipta suasana belajar yang aktif, kreatif, efektif, dan menimbulkan pengalaman langsung bagi siswa. Dari hasil tes awal yang diikuti oleh 30 siswa hanya ada 10 siswa atau 33% siswa yang telah tuntas dari KKM dengan KKM 66.

Kemudian pada siklus 1 peneliti melaksanakan tindakan pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan sosial dengan pokok bahasan Perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang dengan menggunakan model Make A Match. Pada siklus pertama, menunjukkan pembelajaran dengan model Make A Match belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Hal ini disebabkan guru belum memberikan penekanan secara khusus terhadap proses pembelajaran. Siswa masih banyak yang belum memahami kegiatan pembelajaran dengan model Make A Match. Selain itu, siswa memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien untuk menyelesaikan tugas. Walaupun demikian pada siklus 1 ini sudah mulai ada peningkatan hasil belajar, yaitu pada siklus 1 dari hasil evaluasi siswa yang tuntas KKM sebanyak 17 siswa atau 57% telah tuntas dari KKM. Hal ini berarti telah ada peningkatan hasil belajar sebesar 24%.

Untuk memperbaiki pada siklus pertama, maka dilakukan siklus kedua. Pelaksanaan siklus kedua ini hampir sama dengan pelaksanaan siklus pertama. Perbedaannya terlatak pada kegiatan pembelajaran. Perbaikan pada kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada siklus kedua ini lebih menekankan pada penggunaan model Make A Match. Untuk membantu siswa memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien, guru memberikan arahan tentang gerakan/arah gerakan dalam mencari pasangan kartu. Kegiatan yang dilakukan ini telah membuat suasana belajar menyenangkan dan lebih menarik. Siswa tampak aktif mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan oleh siswa, sehingga hasil evaluasi pada siklus kedua mendapatkan hasil yang memuaskan. Hal ini dapat dilihat dari persentase siswa yang tuntas KKM yaitu sebanyak 29 siswa atau 96 % tuntas KKM dari 30 siswa yang mengikuti kegiatan penelitian. Hal ini berarti telah terjadi peningkatan hasil belajar sebanyak 39%. Karena pada siklus II ketuntasan belajar telah mencapai kriteria yang ditetapkan, maka pada siklus II dapat dikatakan penelitian tindakan kelas telah berhasil.

Dengan demikian, dari sebelum ada tindakan kelas sampai dengan tindakan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 63% dan setiap kali ada tindakan kelas, hasil belajar siswa selalu meningkat. Pada tes awal adalah 33%, siklus I adalah 57%, siklus II adalah 96%.

Adapun tabel persentase ketuntasan belajar tes awal, siklus I, dan siklus II sebagai berikut:

Tabel 4.9: Tabel Persentase Ketuntasan Belajar Tes Awal, Siklus I, dan Siklus II

No Tahap Tuntas Tidak Tuntas
1 Tes Awal 33% 67%
2 Siklus I 57% 43%
3 Siklus II 96 % 4%

Kenaikan persentase pencapaian ketuntasan belajar siswa digambarkan pada grafik berikut ini.

Diagram 4.6 Ketuntasan Belajar Siswa

Grafik di atas menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Peningkatan terjadi sebelum dilakukan tindakan sampai akhir tindakan pada setiap siklus. Kenaikan persentase ketuntasan siswa dalam belajar merupakan suatu bukti bahwa pembelajaran model Make A Match dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Hasil belajar yang diperoleh oleh anak sesuai dengan kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar menurut Mulyono Abdurrahman (2003:37).

Adapun sebagai bahan pertimbangan rekapitulasi hasil evaluasi dari tes awal, siklus I, dan siklus II akan diuraikan dalam tabel berikut ini.

Tabel 4.10: Tabel Rekapitulasi Hasil Evaluasi Tes Awal, Siklus I, dan Siklus II.

No Uraian Nilai Rata-rata Siswa Tuntas Siswa Belum Tuntas
Frekuensi % Frekuensi %
1 Tes Awal 59 10 33 20 67
2 Siklus I 69 17 57 13 43
3 Siklus II 81,3 29 96 1 4

Karena frekuensi dan persentase ketuntasan naik, maka nilai rata-rata hasil belajar siswa juga ikut mengalami peningkatan. Pada tes awal sebelum diadakan tindakan nilai rata-rata siswa hanya mencapai 59. Setelah tindakan siklus I nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 69. Adapun setelah dilakukan tindakan siklus II nilai rata-rata siswa juga mengalami peningkatan menjadi 81,3.

Adapun grafik peningkatan nilai rata-rata siswa tesawal, siklus I, dansiklus II sebagai berikut:

Diagram 4.7. Nilai Rata-rata Tes Awal, Siklus I, dan Siklus II.

Prosedur pembelajaran dengan model Make A Match secara garis terbagi menjadi 3 bagian sebagai berikut:

1. Persiapan

Dalam penelitian ini guru menyusun rencana pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan materi tentang Perjuangan para tokoh pejuang di masa penjajahan Belanda dan Jepang yang tertuang dalam RPP. Selain itu guru juga menyiapkan media pembelajaran yang dibutuhkan di antaranya kartu soal/jawaban/pernyataan.

2. Pembukaan

Pada bagian ini siswa dikenalkan dengan strategi pembelajaran yang akan digunakan oleh guru dalam pembelajaran yaitu dengan model Make a Match. Selain itu siswa diberi pertanyaan tentang masalah yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan berdasarkan kehidupan nyata yang dialami oleh siswa.

3. Proses Pembelajaran

Siswa mencoba untuk bermain mencari pasangan kartu dengan model Make A Match yang dilakukan secara klasikal. Dalam penelitian ini guru memberikan penjelasan kepada siswa tentang permainan model Make A Match, hanya sebagai pengawas jalannya pembelajaran.

Pada penerapan model make A Match diperoleh beberapa temuan bahwa model Make A Match dapat memupuk aktifitas siswa pada proses pembelajaran untuk mencari pasangan kartu, proses pembelajaran lebih menarik dan tampak sebagian besar siswa lebih antusias mengikuti proses pembelajaran, dan keaktifan siswa tampak pada saat siswa mencari pasangan kartu.

Dari uraian diatas peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran model Make A Match memiliki kelebihan yaitu:

  1. Mampu menciptakan suasana pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
  2. Materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa.
  3. Mampu meningkatkan hasil belajar siswa mencapai ketuntasan belajar secara klasikal 100%.

Kekurangan dari model Make A Match berdasarkan temuan di lapangan yaitu:

  1. Diperlukan bimbingan dan arahan dari guru untuk melakukan kegiatan;
  2. Waktu yang tersedia perlu dibatasi agar siswa tidak terlalu banyak bermain;
  3. Jika ada siswa yang suka iseng tentunya akan menjadi kesempatan untuk bermain-main sehingga berakibat fatal jika tidak dalam pengawasan guru.

Dari hasil pembahasan yang telah dikemukakan, maka dapat membuktikan bahwa kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model Make A Match dapat meningkatkan hasil belajar IPS tentang Perjuangan Bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda dan Jepang pada siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Bumiharjo, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen. Dengan demikian hipotesis pada penelitian tindakan kelas ini telah terbukti.

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan deskripsi pelaksanaan penelitian yang dilakukan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada pokok bahasan Perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang di Kelas V pada penelitian tindakan kelas dengan judul “Penggunaan Model Pembelajaran Make A Match Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Tentang Perjuangan Bangsa Indonesia di Masa penjajahan Belanda dan Jepang pada Siswa Kelas V SD Negeri 3 Bumiharjo, Kecamatan Klirong, Tahun pelajaran 2019/2020” dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Make A Match dapat meningkatkan hasil belajar IPS tentang Perjuangan Bangsa Indonesia di Masa Penjajahan pada Siswa Kelas V SD Negeri 3 Bumiharjo, Kecamatan Klirong, Tahun pelajaran 2019/2020. Hal ini terbukti pada kondisi awal dari 30 siswa dengan rata-rata nilai 59, siswa yang tuntas belajar 10 siswa atau 33%. Dapat meningkat pada siklus I rata-rata nilai 69 siswa yang tuntas belajar 17 atau 57% dan mengalami kenaikan 24% pada siklus II rata-rata nilai 81,3 siswa yang tuntas belajar 29 atau 96% dan mengalami kenaikan 39%.

B. Implikasi

Dari hasil penelitian ini akan dapat berpengaruh terhadap model pembelajaran yang dipilih guru dalam melaksanakan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Dengan penerapan model Make A Match dalam proses pembelajaran dapat membangkitkan keingintahuan dan kerjasama di antara siswa serta mampu menciptakan kondisi yang menyenangkan. Hal ini sesuai dengan tuntutan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bahwa pelaksanaan proses pembelajaran mengikuti standar kompetensi, yaitu berpusat pada siswa, mengembangkan kondisi yang menyenangkan, mengembangkan beragam kemampuan dan pengalaman belajar, dan karakteristik mata pelajaran.

Penerapan penggunaan model Make A Match setidaknya tidak hanya dijadikan sebagai wawasan saja namun diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi guru untuk menerapkannya dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Kelas V dan juga diharapkan tidak hanya pada satu mata pelajaran saja.

Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas kepada para pendidik dalam memilih alternatif pembelajaran yang tepat guna mencapai prestasi yang terus meningkat.

C. Saran

Sehubungan dengan berakhirnya penulisan ini, maka perlu adanya beberapa saran yang sekiranya dapat bermanfaat dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.

Adapun saran-saran antara lain:

1. Bagi Para Pendidik

  1. Penggunaan model Make A Match pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dapat dijadikan alternatif bagi guru untuk meningkatkan hasil belajar bagi siswa sekolah dasar maupun yang sederajat;
  2. Guru hendaknya tidak terpaku pada media, metode, dan model pembelajaran yang sudah ada dalam melaksanakan pembelajaran;
  3. Guru hendaknya lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan suasana belajar yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan bagi siswa, hal ini bisa ditempuh dengan pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan;
  4. Guru seharusnya mampu menciptakan suasana pembelajaran yang baru guna menantang rasa ingin tahu siswa, sehingga siswa tidak jenuh dengan pola pembelajaran yang disajikan;
  5. Guru tidak harus menggunakan model pembelajaran yang memerlukan biaya yang mahal dalam menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, melainkan dapat dengan memanfaatkan benda-benda yang ada disekitar kita.

2. Bagi Siswa

  1. Sebagai siswa hendaknya mampu menyesuaikan dengan apapun kondisi belajar yang diciptakan oleh guru dengan cara mengikuti pembelajaran secara antusias, konsentrasi, dan ikut berpartisipasi dalam pembelajaran;
  2. Di dalam kelas meskipun pembelajaran menggunakan model permainan diharapkan siswa tetap tenang dan antusias mengikuti pembelajaran yang sedang berlangsung;
  3. Siswa harus berperan aktif ataupun terlibat dalam pembelajaran guna memperoleh pengalaman belajar.

3. Bagi Lembaga Pendidikan Dasar

  1. Lengkapilah sarana dan prasarana yang menunjang proses pembelajaran, sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung sesuai dengan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan;
  2. Manfaatkan fasilitas yang ada guna meningkatkan hasil belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Sugandi. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK UNNES

Anita, Lie. 2003. Cooperative Learning. Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT. Grasindo.

Depdiknas. 2003. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: BP. Dharma Bhakti.

Dimyati dan Mujdiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta

Gredler, Margaret E. Bell. 1994. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

H. J. Gino, dkk. 2000. Belajar dan Pembelajaran 1. Surakarta: UNS

Hamruni 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Ibrahim Muslim. 2000.Upaya Optimalisasi kegiatan Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Kasihani Kasbolah. 1998. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Depdikbud

Miles, Mathew.B dan Huberman, A Michael. 2007. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI PRESS

Moleong, Lexy. J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya

Muhammad Numan Somantri. 2001. Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Rosdakarya

Mulyono Abdurrahman. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta

Nana Sudjana dan Ibrahim. 2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Oemar Hamalik. 2001. Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara

Prawindra Dwitantra 2001. Pembelajaran Mengajar Rahasia Sukses Belajar. Yogyakarta: Gajah Mada. Ghozali

Sri Rumini, dkk. 1995. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UPP UNY

Biodata Penulis

Nama : Suswati, S.Pd.SD

NIP : 19670616 200312 2 003

Unit Kerja : SD Negeri 3 Bumiharjo

You cannot copy content of this page