Iklan

PENGGUNAAN METODE PERMAINAN KARTU PECAHAN DALAM PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA BAGI SISWA KELAS VI SD NEGERI 2 WONOKROMO KECAMATAN ALIAN KABUPATEN KEBUMEN TAHUN PELAJARAN 2017/2018

Sarifudin, S.Pd.SD

ABSTRAK

Sarifudin, 2018. Penggunaan Metode Permainan Kartu Pecahan Dalam Peningkatan Hasil Belajar Matematika Bagi Siswa Kelas VI SD N 2 Wonokromo Kecamatan Alian Kabupaten Kebumen Tahun Ajaran 2017/2018 . Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar matematika tentang pecahan pada siswa kelas VI SD N 2 Wonokromo. Rumusan masalah yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini adalah apakah melalui metode permainan kartu pecahan dapat meningkatkan hasil belajar matematika bagi siswa kelas VI SD Negeri 2 Wonokromo Kecamatan Alian Kabupaten Kebumen Tahun Pelajaran 2017/2018? dan bagaimana metode permainan kartu pecahan dapat meningkatkan hasil belajar matematika bagi siswa kelas VI SD Negeri 2 Wonokromo Kecamatan Alian Kabupaten Kebumen Tahun Pelajaran 2017/2018?. Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar matematika menggunakan metode permainan kartu pecahan bagi siswa kelas VI SD N 2 Wonokromo tahun ajaran 2017/2018 (2) Mendeskripsikan penggunaan metode permainan kartu pecahan dalam meningkatkan hasil belajar matematika bagi siswa kelas VI SD N 2 Wonokromo tahun ajaran 2017/2018, (3) Mendiskripsikan kendala dan solusi metode permainan kartu pecahan dalam meningkatkan hasil belajar Matematika bagi siswa kelas VI SD N 2 Wonokromo tahun ajaran 2017/2018. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas dengan metode siklus yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu tahap perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan di SD Negeri 2 Wonokromo dengan subyek penelitian yaitu siswa kelas VI SD Negeri 2 Wonokromo pada semester dua tahun ajaran 2017/2018 yang berjumlah 24 siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, tes dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan terhadap data yang diperoleh dari hasil observasi, dokumentasi maupun hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan metode permainan kartu pecahan yang dilaksanakan secara tepat dapat meningkatkan hasil belajar matematika bagi siswa kelas VI SD N 2 Wonokromo tahun 2017/2018. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil belajar siswa yang dalam setiap siklus mengalami peningkatan yang cukup baik, dengan rincian sebagai berikut; rata-rata kelas hasil pree test kondisi awal mencapai 44,58 dengan persentase ketuntasan 16,7%, sedangkan rata-rata kelas hasil evaluasi test siklus I mengalami peningkatan menjadi 72,5 dengan persentase ketuntasan 75%, dan terjadi peningkatan yang cukup tinggi pada siklus II dengan rata-rata kelas hasil test siklus II mencapai 87,5 dengan persentase ketuntasan 91,7%.

Oleh karena itu sebaiknya guru pandai dalam memilih dan menggunakan metode serta media pembelajaran yang sesuai dengan materi yang disajikan, sehingga dapat mendorong tercapainya tujuan yang diharapkan.

Kata Kunci: hasil belajar, permainan kartu pecahan

I PENDAHULUAN

Untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam pembelajaran matematika, seorang pendidik harus lebih pandai dalam memilih metode dan media yang sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan, sehingga peserta didik akan lebih berminat dan senang dalam kegiatan pembelajaran serta lebih aktif. Selain itu seorang guru Sekolah Dasar juga harus dapat menetapkan metode yang paling tepat sesuai untuk tujuan tertentu, penyampaian bahan ajar tertentu, suatu kondisi belajar peserta didik untuk suatu penggunaan media atau alat Bantu pembelajaran yang dipilih. Berbagai metode pengajaran penting diketahui guru agar tujuan dari pembelajaran dapat tercapai.

Metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran matematika misalnya yaitu metode permainan. Hal tersebut membuat peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana meningkatkan mutu pembelajaran matematika, khususnya memahami pecahan melalui metode bermain (permainan). Penggunaan metode ini secara efektif dan maksimal merupakan salah satu alternatif untuk memperbaiki mutu pembelajaran matematika.

Penggunaan metode permainan dalam pembahasan pecahan, diharapkan dapat mempermudah pemahaman siswa mengenai pecahan. Siswa dapat mengetahui bagaimana cara merubah pecahan menjadi desimal atau persen, menyederhanakan pecahan, mengurutkan pecahan, dengan sebuah permainan dengan bimbingan guru. Dengan cara tersebut, siswa akan memperoleh informasi yang akan lebih bertahan lama dalam ingatan mereka, karena siswa terlibat langsung dan siswa dikondisikan dalam suasana bermain saat mengerjakan soal menyederhanakan pecahan, mengurutkan pecahan dan juga tentang desimal dan persen.

II Landasan Teori

Pengertian Belajar

Oemar Hamalik (2008: 27), menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya. Aunurrahman (2009: 35), mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Abdillah (dalam Aunurrahman, 2009: 35) belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu.

Pengertian Metode Permainan

Permainan (games), populer dengan berbagai sebutan antara lain pemanasan (ice-breaker) atau penyegaran (energizer). Arti harfiah ice-breaker adalah ‘pemecah es’. Jadi, arti pemanasan dalam proses belajar adalah pemecah situasi kebekuan fikiran atau fisik peserta. Permainan juga dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme. Karakteristik permainan adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (fun) serta serius tapi santai (sersan). Permainan digunakan untuk penciptaan suasana belajar dari pasif ke aktif, dari kaku menjadi gerak (akrab), dan dari jenuh menjadi riang (segar).

Pengertian Matematika

Menurut Wahyudi (2008: 3 ), matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya yang sudah diterima, sehingga kebenaran antar konsep dalam Matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Menurut James dan James (dalam E. T. Ruseffendi, 1992: 27), Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep – konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyaknya terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri.

Karakteristik Siswa kelas VI SD

Menurut Basset, Jack dan Logan (dalam Johar Permana dan Mulyani Sumantri, 2001: 11) adalah sebagai berikut:

  1. Mereka secara alamiah memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan tertarik akan dunia sekitar yang mengelilingi mereka sendiri;
  2. Mereka senang bermain dan lebih suka bergembira/riang;
  3. Mereka suka mengatur dirinya untuk menangani berbagai hal, mengeksplorasi suatu situasi dan mencobakan usaha-usaha baru;
  4. Mereka biasanya tergetar perasaannya dan terdorong untuk berprestasi sebagai mana mereka tidak suka mengalami ketidakpuasan dan menolak kegagalan-kegagalan;
  5. Mereka belajar secara efektif ketiak mereka puas dengan situasinya yang terjadi;
  6. Mereka belajar dengan cara bekerja, mengobservasi, berinisiatif dan mengejar anak-anak lainnya.

III METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Tempat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu di SD Negeri 2 Wonokromo yaitu di Sekolah dasar dimana peneliti menjadi salah satu pengajar di SD tersebut. SD Negeri 2 Wonokromo tepatnya berada di Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen. Jumlah ruangan yang ada di SD Negeri 2 Wonokromo ada 6 ruang kelas, 1 ruang guru, dapur, ketrampilan, perpustakaan, gudang, 1 kamar mandi/WC guru dan 4 kamar mandi/WC siswa. Lokasi SDN 2 Wonokromo cukup strategis. Prestasi yang dicapai oleh SD Negeri 2 Wonokromo cukup membanggakan.

Indikator Kinerja Penelitian

Penelitian tindakan ini dilakukan diharapkan agar terjadi adanya perubahan yang lebih baik. Adapun indikator-indikator yang dicapai sebagai bentuk keberhasilan penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa termotivasi dalam belajar matematika, siswa merasakan suasana belajar efektif, pembelajaran dapat berjalan secara efektif, dan siswa memperoleh hasil yang maksimal dalam pembelajaran matematika.

Sebagai tolak ukur (kriteria) keberhasilan tindakan kelas ini berhasil bila:

  1. Minimal 85% dari siswa telah mencapai nilai hasil 70 atau lebih untuk rentang nilai ideal 0 sampai dengan 100.
  2. Minimal rata-rata aktivitas siswa 70% dan rata-rata aktivitas guru lebih dari 85%.

Apabila dua hal tersebut di atas belum terpenuhi, maka harus diadakan program perbaikan, melalui tahapan siklus-siklus berikutnya sampai target keberhasilan terpenuhi.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

HASIL PENELITIAN

Hasil Belajar

Siklus I siswa yang mendapat nilai sama dengan atau lebih dari 70 adalah 18 siswa, dan yang mendapat nilai kurang dari 70 adalah 6 siswa. Dari hasil tes evaluasi diperoleh hasil untuk nilai terendah adalah 40 dan nilai tertinggi adalah 100 dengan nilai rata-ratanya 72,5. Atau dengan presentasi 75% sudah tuntas dan 25% belum tuntas. Hal ini membuktikan bahwa siswa sudah mengalami peningkatan hasil belajar matematika jika dibandingkan dengan hasil dari tes awal/pre-test yang hanya mencapai ketuntasan belajar sebesar 4 siswa dari 24 siswa atau 16,7%, sehingga mengalami kenaikan sebesar 58,3%.

Hasil siklus II juga memuaskan dan mengalami peningkatan. Dari hasil tes evaluasi siklus II siswa yang mencapai batas tuntas yaitu siswa yang telah mencapai nilai lebih dari atau sama dengan 70 sejumlah 22 siswa dari 24 siswa atau mencapai 91,7%, dan yang mendapat nilai kurang dari 70 adalah 2 siswa atau mencapai 8,3%. Dari hasil tes evaluasi diperoleh hasil untuk nilai terendah adalah 60 dan nilai tertinggi adalah 100 dengan nilai rata-ratanya 87,5.

Tabel 1. Tabel Rekapitulasi Hasil Evaluasi dari Tes Awal Sampai Siklus II

No Uraian Nilai rata-rata

Tiap siklus

Siswa Tuntas Siswa belum tuntas
Frekwensi % Frekwensi %
1 Tes Awal 44,58 4 16,7 20 83,3
2 Siklus I 72,5 18 75 6 25
3 Siklus II 87,5 22 91,7 2 8,3

Prosentase peningkatan nilai rata-rata siswa pada siklus I, dan siklus II, dapat dilihat pada gambar 2.

Perbandingan ketuntasan belajar siswa pada tes awal, siklus I, dan siklus II selengkapnya dapat dilihat pada gambar 2 sebagai berikut:

Gambar 2. Perbandingan Ketuntasan Belajar dengan media kartu pada Siklus I, Siklus II

PEMBAHASAN

Dengan penggunaan media kartu pecahan yang peneliti siapkan, ternyata dapat dibuktikan bahwa media kartu pecahan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VI SD Negeri 2 Wonokromo Tahun Pelajaran 2017/2018. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan hasil dari tes awal/pre-test, tes akhir siklus I dan tes akhir siklus II. Pada test awal/pre-test dicapai ketuntasan belajar sebesar 16,7% atau 4 dari 24 anak. Sesudah diadakan tindakan siklus I dan dilakukan tes akhir siklus I ternyata didapat hasil siswa yang tuntas belajar mencapai 75% atau 18 dari 24 siswa. Hal ini berarti telah terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 58,3%. Adapun setelah diadakan tindakan siklus II yang tuntas belajar mencapai 91,7% atau 22 dari 24 siswa. Berarti, dari tindakan siklus I menuju siklus II mengalami peningkatan sebesar 16,7%. Dengan demikian, dari sebelum ada tindakan kelas sampai dengan tindakan siklus II mengalami peningkatan sebesar 75% dan setiap kali ada tindakan kelas, hasil belajar siswa selalu meningkat.

Disamping itu, nilai rata-rata hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Pada tes awal/ sebelum diadakan tindakan siklus I nilai rata-rata siswa adalah 44,58. Setelah tindakan siklus I nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 72,5, dan setelah dilakukan tindakan siklus II nilai rata-rata siswa juga meningkat menjadi 87,5. Adapun hasil perbandingan hasil observasi pada guru dan siswa adalah sebagai berikut :

Table 4.22. Tabel Perbandingan Observasi Terhadap Guru Siklus 1 dan siklus 2

No Siklus Skor Akhir Rata-rata Ket
Obs 1 Obs 2 Obs 3
1. Siklus 1 3,7 3,8 3,7 3,7 Baik Sekali
2. Siklus 2 3,8 3,8 3,8 3,8 Baik Sekali
Rata-rata Siklus 1 dan 2 3,75 Baik Sekali

Pada kondisi awal, siswa kelas VI SD Negeri 2 Wonokromo tahun ajaran 2017/2018 masih ada yang belum memperhatikan penjelasan guru, siswa bersikap pasif dan mengobrol sendiri dengan teman sebangku. Hal ini disebabkan guru tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar aktif dan menyenangkan bagi siswa. Kemudian pada siklus I peneliti melaksanakan tindakan pada pembelajaran matematika tentang menyederhanakan dan mengurutkan pecahan. Siswa masih bersikap pasif dan hanya beberapa siswa yang sudah terlihat aktif,terbukti dari masih adanya siswa yang berbicara sendiri dengan teman sebangku, melamun, diam, tidak memahami materi, serta tertidur di kelas. Adapun setelah guru memberikan materi dengan media kartu pecahan, maka anak-anak terlihat sangat antusias dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Keadaan ini semakin membaik pada siklus II pada saat peneliti melaksanakan tindakan pada pembelajaran matematika tentang mengubah pecahan. Siswa sudah mulai tenang diskusi berpasangan, siswa sudah terfokus pada materi pelajaran, hampir seluruh siswa sudah ikut berpartisipasi dalam pembelajaran, guru telah menerapkan metode permainan sesuai dengan kriterianya dan peran guru juga telah beralih menjadi mediator dalam pembelajaran.

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan deskripsi pelaksanaan penelitian selama dua siklus dalam pembelajaran Matematika pokok bahasan pecahan pada penelitian tindakan kelas dengan judul “Penggunaan Metode Permainan Kartu Pecahan dalam Peningkatan Hasil Belajar Matematika bagi Siswa Kelas VI SD N 2 Wonokromo Tahun ajaran 2017/2018 ” dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Dengan penerapan metode permainan yang dilaksanakan secara tepat dapat meningkatkan hasil belajar tentang pecahan bagi siswa kelas VI SD N 2 Wonokromo tahun 2017/2018. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil belajar siswa yang dalam setiap siklus mengalami peningkatan yang cukup baik, dengan rincian sebagai berikut; rata-rata kelas hasil pree test mencapai 44,58 dengan persentase ketuntasan 16,7%, sedangkan rata-rata kelas hasil post test siklus I mengalami peningkatan menjadi 72,5 dengan persentase ketuntasan 75%, dan terjadi peningkatan yang cukup tinggi pada siklus II dengan rata-rata kelas hasil test siklus II mencapai 87,5 dengan persentase ketuntasan 91,7%.
  2. Penggunaan metode permainan dalam peningkatan hasil belajar tentang pecahan bagi siswa kelas VI SD N 2 Wonokromo tahun 2017/2018, menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: (1) penentuan topik, (2) persiapan pelaksanaan metode permainan, (3) penyampaian langkah-langkah permainan, (4) pelaksanaan permainan, (5) evaluasi, (6) penutup
  3. Kendala penerapan metode permainan dalam peningkatan hasil belajar tentang pecahan bagi siswa kelas VI SD N 2 Wonokromo tahun ajaran 2017/2018 adalah : (a) siswa masih menyepelekan guru, misalnya saat guru menjelaskan bagaimana cara memainkan permainan kartu pecahan beberapa anak masih bermain sendiri, (b) guru dan siswa belum menguasai secara optimal permainan kartu pecahan. Terlihat pada saat pelaksanaan permainan kartu pecahan beberapa anak masih terlihat bingung dalam menyelesaikan permainan, (c) beberapa siswa masih mengalami kesulitan menerima materi pelajaran, terbukti pada setiap siklus masih ada anak yang belum tuntas, (d) suasana pembelajaran gaduh. Sedangkan solusinya adalah : (a) guru member motivasi kepada siswa agar memusatkan perhatiannya pada pembelajaran, (b) guru berusaha memperbaiki kemampuannya dalam menggunakan media kartu pecahan, (c) setiap tahapan pembelajaran diusahakan sesuai perencanaan supaya kegiatan lancar, (d) guru memberikan tugas tambahan agar siswa tidak gaduh saat menunggu teman yang lain menyelesaikan kartu pernyataannya.

Implikasi

Dari kesimpulan diatas, kiranya penelitian ini dapat ditindak lanjuti. Keberhasilan penggunaan media kartu pecahan pada pembelajaran Matematika khususnya materi konsep pecahan, dapat dijadikan sebagai salah satu pilihan oleh guru untuk menciptakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan bagi siswa. Tentunya juga sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan hasil belajar Matematika khususnya materi pecahan.

Secara teoritis, keberhasilan pembelajaran matematika didukung oleh media dan metode yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar bagi guru untuk memberikan pengajaran kepada siswanya dalam pelajaran matematika khususnya pecahan.

Apabila dilakukan penelitian yang semacam ini, dan hasil yang diperoleh dapat lebih meningkat, maka pihak-pihak yang berkompeten dapat menyebarluaskan teknik tersebut kepada masyarakat luas terutama dunia pendidikan. Mengenai kelebihan yang ada pada setiap siklusnya agar dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Adapun tentang kekurangan yang terjadi dalam setiap siklusnya dapat dicarikan solusi yang tepat agar kekurangan tersebut tidak terulang kembali.

Saran

Berdasarkan simpulan dan implikasi yang telah diuraikan, perlu disampaikan saran-saran sebagai berikut:

Untuk Rekan Guru

  1. Penggunaan metode permainan dengan media kartu pecahan seperti yang telah diuraikan diatas, hendaknya dijadikan sebagai alternatif guru untuk meningkatkan hasil belajar pecahan bagi siswa kelas VI Sekolah Dasar maupun Madrasah Ibtidaiyah.
  2. Guru hendaknya lebih memiliki tanggungjawab yang tinggi dalam menjalankan tugasnya dengan melaksanakan tugas pokok mengajar secara profesional, mengkaji dan menerapkan berbagai inovasi pembelajaran secara variatif sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar.
  3. Guru hendaknya mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, inovatif dan menyenangkan agar siswanya tidak merasa jenuh dan takut terhadap pelajaran matematika.

Untuk Siswa

  1. Sebagai siswa hendaknya memperhatikan penjelasan guru dan berperan aktif dalam pembelajaran.
  2. Didalam kelas meskipun pembelajaran dengan metode permainan menggunakan media kartu pecahan, diharapkan tidak terlalu gaduh sehingga dapat mengganggu kelas lainnya.

3. Untuk Lembaga Pendidikan

a. Lengkapilah sarana dan prasarana yang menunjang proses pembelajaran, sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung sesuai dengan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan.

DAFTAR PUSTAKA

Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

Dadang Djuanda. 2006. Pembelajaran Matematika Menyenangkan. Jakarta: Depdikbud.

T. Ruseffendi. 1992. Pendidikan Matematika 3. Jakarta: Depdikbud.

Fauzan. 2007. Teori Perkembangan Pendidikan dalam http://fauzan btg.blogspot.com/2007/12/implementasi-teori-perkembangan.html. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2010.

Gunarti. 2009. Penggunaan Metode Permainan dalam Upaya Peningkatan Hasil Belajar Pecahan Kelas V SD N I Prembun Tahun Ajaran 2009/2010: Surakarta. Skripsi diterbitkan.

H.Sujati. 2000. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Suatu Pengantar. Yogyakarta:

Fakultas Ilmu Kependidikan UNY.

Miles B. Matthew dan Huberman. Michael. 2007. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia.

Moh. Nazir. 2005. Metodologi Penelitian Matematika SD. Bogor: Ghalia Indonesia.

Muhibbin Syah. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Mulyani Sumantri dan Johar Permana. 2001. Stragtegi Belajar Mengajar. Bandung: CV Maulana.

Mulyono Abdurrahman. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Nana Sudjana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mngajar. Jakarta: PT Remaja Rosdakarya.

Ngalim Purwanto. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Oemar Hamalik. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Rochiati Wiriaatmadja. 2008. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Subliyanto. 2009. Metodologi Penelitian dalam http://tatangmanguny.wordpress.com/2009/04/21/subjek-responden-dan-informan-penelitian. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2010.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suharsimi Arikunto. 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

. 2007. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek dalam http://karya-ilmiah.um.ac.ia/index.php/sastra-indonesia/article/view/2690. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2010

Biodata Penulis

Nama : Sarifudin, S.Pd.SD.

Jabatan : Guru

Unit Kerja : SD Negeri 2 Wonokromo

You cannot copy content of this page