Iklan

PENGARUH METODE DEMONSTRASI TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAPEL PAI DI SD NEGERI 01 NOTOGIWANG KECAMATAN PANINGGARAN TAHUN 2011

Sriyanti, S. Pd.I., M.Pd.I.

Abstrak

Mewujudkan proses belajar mengajar yang baik terkait erat dengan tugas dan peran guru menentukan pemilihan metode mengajar sesuai dengan materi pelajaran yang akan diajarkan. Sehingga penggunaan metode mengajar yang tepat akan berpengaruh positif pada prestasi belajar pesertadidik. Adapun penelitian ini mengacu pada metode mengajar yang mengfokuskan pada pengaruh penggunaan metode demonstrasi terhadap prestasi belajar mapel PAI di SD Negeri 01 Notogiwang Kecamatan Paninggaran Tahun 2011.

Permasalahan penelitian ini adalah 1) Bagaimana penggunaan metode demonstrasi pada mapel PAI di SD Negeri 01 Notogiwang kecamatan Paninggaran? 2) Bagaimana prestasi belajar mapel PAI di SD Negeri 01 Notogiwang? 3) Bagaimana pengaruh metode demonstrasi terhadap prestasi belajar mapel PAI di SD Negeri 01 Notogiwang? Tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui penggunaan metode demonstrasi mapel PAI di SD Negeri 01 Notogiwang kecamatan Paninggaran. 2) Mengetahui prestasi belajar mapel PAI di SD Negeri 01 Notogiwang kecamatan Paninggaran. 3) Untuk mengetahui pengaruh metode demonstrasi terhadap prestasi belajar mapel PAI SD Negeri 01 Notogiwang kecamatan Paninggaran. Kegunaan penelitian ini diharapkan mampu mempengaruhi guru untuk menerapkan metode demonstrasi dalam kegiatan belajar mengajar.

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field recearch). Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif.Populasi penelitian ini adalah jumlah siswa per-kelas. Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah kelas VIa dan VIb SD Negeri 01 Notogiwang kecamatan Paninggaran yang berjumlah 43 peserta didik. Variabel penelitian ini ada 2 yaitu metode demonstrasi dan prestasi belajar. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, interview dan angket. Adapun dalam menganalisis data peneliti menggunakan rumus korelasi product moment.

Hasil penelitian menunjukan penggunaan metode demonstrasi mapel PAI di SD Negeri 01 Notogiwang kecamatan Paninggaran mempunyai kategori baik, hal ini dibuktikan dari hasil angket dengan nilai rata-rata 31 yang terdapat dalam rentang intrerval 31-33 yang berarti termasuk dalam kategori baik, prestasi belajar mapel PAI mempunyai prestasi yang baik dengan presentasi ketuntasan belajar 90% dalam acuan skala normatif terdapat pada rentang 76%-99% yang berarti dalam kategori baik. Ada korelasi posiyang signifikan antara metode demonstrasi terhadap prestasi mapel PAI peserta didik,hal ini dibuktikan dari besarnya rh = 0,689> dari rt =0,301 pada taraf signifikan 5%, dan rh =0,689> dari rt =0,389 pada taraf signifikan 1%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang berbunyi terdapat pengaruh yang signifikan antara metode demonstrasi terhadap prestasi belajar mapel PAI di SD Negeri 01 Notogiwang kecamatan Paninggaran diterima.

Kata kunci: Metode Demonstrasi dan Prestasi Belajar

PENDAHULUAN

Belajar pada hakikatnya ialah membelajarkan siswa dalam arti mendorong dan membimbing siswa belajar. Membelajarkan siswa terkandung maksud guru berupaya mengaktifkan siswa belajar, (Udin S. Winataputra, 2005:25). Sedangkan, mengajar ialah menyajikan atau menyampaikan bahan pelajaran oleh seseorang kepada orang lain agar orang lain itu menerima, menguasai dan mengembangkan bahan itu. Dari perumusan tentang mengajar itu jelas, bahwa tujuan dari mengajar itu ialah agar orang yang diberi pelajaran (yaitu para pelajar) dapat menerima bahan yang disajikan dan lebih dari itu ialah agar orang (para pelajar) mampu mengembangkan bahan-bahan yang telah diterima dan dikuasainya itu, (IGN S. Ulih Bukit Karo-karo, 1997:33).

Mengajar bukan hanya menyampaikan bahan pelajaran pada siswa, melainkan yang terpenting adalah bagaimana bahan tersebut dapat disajikan dan dipelajarkan oleh siswa secara efektif dan efisien. Dalam mengajar sangat diperlukan cara atau tehnik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Agar tujuan tersebut dapat tercapai dengan baik, maka diperlukan kemampuan dalam menggunakan metode mengajar.

Belajar bermakna bakal terjadi jika relevan dengan kebutuhan peserta didik disertai motivasi instrinsik dan kurikulum yang tidak kaku. Kejadian belajar bermakna didorong oleh hasrat dan insentitas keingintahuan peserta didik tentang bidang studi tertentu. Hal tersebut sangat memungkinkan peserta didik mempelajari segalanya tentang bidang studi tersebut. Guru atau [1]tenaga kependidikan harus aktif dan paham betul atas keunikan peserta didik.

Kesadaran anak akan keterlibatanya dalam proses pembelajaran peserta didik diarahkan [2]guru atau tenaga kependidikan, oleh karena itu guru atau pendidik harus terlibat bersama–sama dalam kegiatan belajar mengajar, (Hera Lestari Mikarsa, 2007:97). Pembelajaran merupakan kegiatan bertujuan yang banyak melibatkan aktivitas siswa dan aktivtas guru. Untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan adanya alternatif metode mengajar yang dapat dijadikan alas untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam prosesnya guru perlu menggunakan metode mengajar secara bervariasi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan sebelumnya (Udin S. Winataputra: 200).

Metode mengajar merupakan salah satu komponen yang harus ada dalam kegiatan pembelajaran. Pada dasarnya metode mengajar merupakan cara atau tehnik yang digunakan dalam melakukan interaksi siswa pada saat pembelajaran berlanjut. Untuk memudahkan pemilihan metode mengajar, guru harus merumuskan tujuan pembelajaran secara jelas. Sesuai kriteria tujuan pembelajaran khusus serta harus dipahami tentang prilaku yang bagaimana atau apa yang akan dicapai siswa dalam pembelajaran.

Setiap pemilihan metode mengajar guru harus mengkaji terhadap kesesuaian antara perilaku yang diharapkan dalam tujuan dengan metode mengajar. Kemudian pilih atau tentukan alternatif metode yang dianggap sesuai dengan tujuan tersebut. Dalam tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan akan bisa dilihat pada prestasi belajar peserta didik. Pada proses mendidik, metode mengajar mempunyai kedudukan sangat penting untuk mencapai tujuan pembelajaran. Karena metode mengajar menjadi sarana yang bermaknakan materi pelajaran, dan tersusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa. Sehingga dapat dipahami dan diserap oleh peserta didik menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah-lakunya. Tanpa metode mengajar, suatu materi pelajaran tidak dapat terproses secara efisien dan efektif dalam kegiatan belajar-mengajar menuju tujuan pendidikan.

Materi bidang studi pendidikan agama islam banyak hal yang harus didemonstrasikan terutama dalam bidang ibadah, seperti pelaksanaan wudlu, Tayamum (Toharoh), sholat, haji, menyembelih hewan yang halal dimakan dan materi yang bersifat motorik lain. Tindakan mengamati memberikan kesan pada diri pesertadidik agar mudah diinternalisasi. Guru harus memberikan pengalaman yang benar sesuai hukum fiqih dan syariat kepada pesertadidik untuk ikut mendeomotrasikan. Sehingga syarat dan rukun menjalankan ibadah tidak ditinggalkan.

Metode demonstrasi adalah salah satu teknik mengajar yang dilakukan oleh seorang guru atau orang lain yang dengan sengaja diminta atau siswa sendiri ditunjuk untuk memperlihatkan kepada kelas tentang suatu proses atau cara melakukan sesuatu, (Basyarudin Usman, 2002:45).

Mengajar merupakan usaha yang sangat kompleks, sehingga sulit untuk menentukan tentang bagaimanakah mengajar yang baik. Pelaksanaan interaksi belajar mengajar yang baik dapat menjadi petunjuk tentang pengetahuan seorang guru dalam mengakumulasi dan mengaplikasikan segala pengetahuan keguruannya. Dalam melaksanakan interaksi belajar mengajar perlu adanya beberapa keterampilan mengajar. Beberapa keterampilan mengajar ini dapat dibagi dalam 3 klasifikasi yakni yang berkaitan dengan aspek materi, modal kesiapan, dan keterampilan operasional, (Sudirman, 2007:19).

Para pendidik berusaha memilih metode pengajaran yang setepat-tepatnya agar dipandang lebih efektif dari pada metode-metode lainya. Sehingga kecakapan dan pengetahuan yang diberikan oleh guru itu benar-benar menjadi milik murid. Hubungan antara tujuan dan metode sangat erat sekali, karena metode difungsikan sebagai alat atau usaha mencapai untuk tujuan. Jadi metode menjiwai atau menentukan corak metode. (Sudirman, 2007:194).

Hasil belajar peserta didik atau prestasi belajar akan diperoleh setelah siswa menempuh proses atau pengalaman belajar. Pengalaman belajar (learning eksperiance) merupakan suatu proses kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Proses kegiatan belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh alternatif metode mengajar yang digunakan oleh guru, (Sudirman, 2007:194).

Metode mengajar merupakan suatu cara yang digunakan guru dalam membelajarkan siswa agar terjadi interaksi dalam proses pembelajaran. Setiap metode mengajar masing-masing memiliki karakterisrik yang berbeda dalam membentuk pengalaman belajar siswa, satu dan yang lainya saling menunjang. Tercapainya tujuan pembelajaran bisa dilihat dari prestasi belajar siswa.

Selain penting mengetahui apa yang kita kehendaki dilakukan oleh siswa, pantang juga mengetahui sampai berapa baik siswa diharapkan melakukannya. Salah satu tugas yang dihadapi oleh guru ialah menentukan taraf prestasi yang diharapkan dari siswa-siswanya dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan secara operasional, (Hera Lestari Mikarsa, 2007:97).

LANDASAN TEORI

Kata demonstrasi diambil dari kata “demonstration” (to show) yang artinya memperagakan atau memperlihatkan proses kelangsungan sesuatu. Jadi metode demonstrasi adalah salah satu teknik mengajar yang dilakukan oleh seorang guru atau orang lain yang dengan sengaja diminta atau siswa sendiri ditunjuk untuk memperlihatkan kapada kelas tentang suatu proses atau cara melakukan sesuatu. (Hera Lestari Mikarsa, 2007:97)

Menurut Dr. Wina Sanjaya metode demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau tentang benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekedar memperhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Dalam stratategi pembelajaran, demonstasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri, (Hera Lestari Mikarsa, 2007:97).

Sedangkan menurut Drs. M. Basyarudin Usman metode demonstrasi adalah salah satu tekhnik mengajar yang dilakukan oleh seorang guru atau orang lain yang dengan sengaja diminta atau siswa sendiri ditunjuk untuk memperlihatkan kepada kelas tentang suatu proses atau melakukan sesuatu, (Udin S. Winataputra. 2007:97). Hal serupa juga diutarakan oleh Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetyo bahwa yang dimaksud dengan metode demonstrasi adalah metode mengajar dimana guru atau orang lain yang sengaja diminta atau murid sendiri memperlihatkan kepada seluruh kelas suatu proses, (Udin S. Winataputra. 2007:97). Jadi, metode demonstrasi sebagai merupakan dramatisasi memberikan pengalaman belajar kepada anak untuk mendapat gambaran tentang kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang mendekati kenyataan.

Beberapa pengertian di atas maka metode demonstrasi dapat didefinisikan sebagai teknik mengajar yang memperlihatkan, memperagakan dan mempraktikkan,kepada kelas tentang suatu proses atau cara melakukan sesuatu. Maka tujuan metode demonstrasi yaitu anak dibimbing dan diarahkan untuk menggunakan mata dan telinganya secara terpadu sebagai hasil dari pengamatan kedua indera itu dapat menambah penguasaan materi pelajaran yang diberikan. Penerapan tujuan metode demonstrasi lebih banyak digunakan untuk memperjelas cara mengerjakan atau kaifiyat suatu proses ibadah, misalnya berwudlu, shalat, haji dan materi lain yang bersifat motorik. Metode demonstrasi merupakan suatu wahana untuk memberikan pengalaman belajar agar anak dapat menguasai pelajaran lebih baik. Metode demonstrasi anak dilatih untuk menangkap unsur-unsur penting untuk proses pengamatan, maka kemungkinan melakukan kesalahan sangat kecil bila terus menirukan apa yang telah didemonstrasikan oleh guru dibandingkan jika ia melakukan hal yang sama hanya berdasarkan penjelasan lisan oleh guru.

METODE PENELITIAN

Penelitian yang dilakukan termasuk penelitian jenis lapangan (field research), field research adalah penelitian yang dilakukan di tempat terjadinya gejala-gejala yang diselidiki yaitu untuk menganalisis permasalahan yang muncul dalam lokasi penelitian secara mendalam tentang pengaruh metode demonstrasi terhadap prestasi mapel PAI peserta didik. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan model penelitian kuantitatif yang menekankan anlisis pada data nomurical (angka yang diolah dengan metode statistik).

Populasi yang penulis maksudkan dalam penelitian ini adalah populasi reverence yaitu jumlah siswa per-kelas di SD Negeri 01 Notogiwang Kecamatan Paninggaran dengan perincian populasi sebagai berikut: a). Kelas VI.a jumlah 21 peserta didik; b). Kelas VI.b jumlah 21 peserta didik; c). Kelas V.a jumlah 27 peserta didik; d). Kelas V.b jumlah 27 peserta didik; e). Kelas IV.a jumlah 20 peserta didik; f). Kelas IV.b jumlah 21 peserta didik; g). Kelas III.a jumlah 29 peserta didik; h). Kelas III.b jumlah 28 peserta didik; i). Kelas II.a jumlah 28 peserta didik; j). Kelas II.b jumlah 27 peserta didik; k). Kelas I.a jumlah 19 peserta didik; l). Kelas I.b jumlah 19 peserta didik. Dengan demikian jumlah keseluruhan 286 peserta didik dalam subjek. Adapun besar sampel dalam penelitian ini adalah kelas VI dengan jumlah 42 peserta didik. Adapun tehnik yang diterapkan dalam pengambilan sampel penelitian ini adalah purposive sampling.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat diambil kesimpulan yang merupakan jawaban dari rumusan masalah dalam skripsi ini:

  1. Penggunaan metode demonstrasi mapel PAI di SD Negeri 01 Notogiwang kecamatan Paninggaran berdasarkan angket yang disebarkan kepada sejumlah 43 responden yaitu khususnya kelas VIa dan kelas VIb, dengan perolehan skor tertinggi 39 dan skor terendah 22 dengan rata-rata 31,48 (dibulatkan 31) terdapat dalam rentang interval 31-33 yang berarti termasuk dalam kategori baik. Dengan demikian penggunaan metode demonstrasi mapel PAI SD Negeri 01 Notogiwang kecamatan Paninggaran mempunyai kategori baik.
  2. Prestasi belajar mapel PAI di SD Negeri 01 Notogiwang kecamatan Paninggaran mempunyai prestasi belajar yang baik dengan presentasi ketuntasan belajar (dengan patokan nilai KKM) 90% dalam acuan skala normatif terdapat pada rentang 76%-99% yang berarti dalam kategori baik.
  3. Metode demonstrasi di SD Negeri 01 Notogiwang Kec. Paninggaran Mempunyai korelasi positif yang signifikan dengan prestasi belajar mapel PAI. Hal ini dibuktikan dari besarnya rh = 0,689 > dari rt = 0,301 pada taraf signifikan 5%, dan rh = 0,689 > rt = 0,389 pada taraf dignifikan 1%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang berbunyi terdapat pengaruh yang signifikan antara metode demonstrasi terhadap prestasi belajar mapel PAI di SD Negeri 01 Notogiwang Kecamatan Paninggaran diterima.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto Suharsini, 1993, Manajemen Pengajaran, Jakarta: PT Rineke Cipta.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2001, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustska.

Hadi Sutrisno, 1987, Metodologi Research. Jilid 1. Yogyakarta : Andi afset.

Hajar Ibnu, 1989, Dsar-Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif Dalam Pendidikan, Jakarta : Raya Grapindo.

Hasibuan JJ, Dip,Ed.dan Moedjiono 2007, Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosydakarya.

IGN S. Ulih Bukit Karo-Karo, dkk 1979, Metodologi pengajaran, Salatiga: CV. Saudara.

Khobir Abdul, 2009, Filsafat Pendidikan Islam, Pekalongan : STAIN PRES.

Muna Arinal, 2010, Penagruh Metode Demonstrasi Guru Agama Terhadap Prestasi Belajar PAI Peserta Didik di SMP Negeri 2 Pekalongan, Skripsi, Pekalongan: Pepustakaan STAIN

Popham James W Eva, L Baker, 2008, Teknis Mengajar Secara Sistimatis Jakarta: Rineke Cipta.

Salafudin, 2005 Statistika Terapan untuk Penelitian Sosial :Pekalongan: STAIN press.

Subroto Suryo, 1997 Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT. Rinaka Cipta.

Sudirman, 2007, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Uno B. Hamzah, 2008 Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Efektif dan Efisie, Jakarta: PT Bumi Aksara.

Usman Basyrudin M., 2002, Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: Ciputat Pers.

Winataputra Udun S., 2005, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : UT.

Biodata

Nama Lengkap dan Gelar : Sriyanti, S.Pd.I., M.Pd.I.

Nama Sekolah : SDN 01 Paninggaran

Alamat Sekolah : Jl. Raya Desa Paninggaran Kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan Provinsi Jawa Tengah

You cannot copy content of this page