Iklan

PENGARUH GABUNGAN METODE CERAMAH DENGAN METODE KERJA KELOMPOK TERHADAP HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI BANTARSARI 01 KECAMATAN BANTARSARI KABUPATEN CILACAP TAHUN PELAJARAN 2019 / 2020

ABSTRAK

Setiyani, S.Pd.SD. 2019. Pengaruh Gabungan Metode Ceramah Dengan Metode Kerja Kelompok Terhadap Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Pada Siswa Kelas VI SD Negeri Bantarsari 01 Kecamatan Bantarsari Kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 2019 / 2020. Setiap akan mengajar, guru perlu membuat persiapan mengajar dalam rangka melaksanakan sebagian dari rencana bulanan dan rencana tahunan. Dalam perisiapan itu sudah terkandung tentang, tujuan mengajar, pokok yang akan diajarkan, metode mengajar, bahan pelajaran, alat peraga dan teknik evaluasi yang digunakan. Karena itu setiap guru harus memahami benar tentang tujuan mengajar, secara khusus memilih dan menentukan metode mengajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, cara memilih, menentukan dan menggunakan alat peraga, cara membuat tes dan menggunakannya, dan pengetahuan tentang alat-alat evaluasi.Permasalahan yang ingin dikaji dalam dalam penelitian tindakan ini adalah: (a) Apakah gabungan metode ceramah dengan metode kerja kelompok berpengaruh terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial? (b) Bagaimanakah pengaruh gabungan metode ceramah dengan metode kerja kelompok terhadap motivasi belajar siswa?Tujuan penelitian yang hendak diperoleh adalah: (a) Untuk mengungkap pengaruh gabungan metode ceramah dengan metode kerja kelompok terhadap hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial. (b) Untuk mengungkap gabungan metode ceramah dengan metode kerja kelompok terhadap motivasi belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri Kedungwadas 01 Kecamatan Bantarsari Kabupaten Cilacap. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar.Dari hasil analisis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu, siklus I (64,29%), siklus II (78,57%), siklus III (90,47%). Simpulan dari penelitian ini adalah gabungan metode ceramah dengan kelompok kerja dapat berpengaruh positif terhadap prestasi dan motivasi belajar Siswa Kelas VI SD Negeri Bantarsari 01 Kecamatan Bantarsari Kabupaten Cilacap, serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran ilmu pengetahuan sosial.

Kata kunci: Belajar Ips, Metode Ceramah, Kerja Kelompok

PENDAHULUAN

Pendidikan yang berkualitas hanya akan muncul dari sekolah yang berkualitas. Oleh sebab itu, upaya peningkatan kualitas sekolah merupakan titik sentral upaya menciptakan pendidikan yang berkualitas demi terciptanya tenaga kerja yang berkualitas pula. Dalam upaya peningkatan kualitas sekolah, tenaga kependidikan yang meliputi, tenaga pendidik, pengelola satuan pendidikan, penilik, pengawas, peneliti, teknis sumber belajar, sangat diharapkan berperan sebagaimana mestinya dan sebagai tenaga kependidikan yang berkualitas. Tenaga pendidik/guru yang berkualitas adalah tenaga pendidik/guru yang sanggup, dan terampil dalam melaksanakan tugasnya.

Tugas utama guru adalah bertanggung jawab membantu anak didik dalam hal belajar. Dalam proses belajar mengajar, gurulah yang menyampaikan pelajaran, memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam kelas, membuat evaluasi belajar siswa, baik sebelum, sedang maupun sesudah pelajaran berlangsung (Combs, 1984: 11-13). Karena itu setiap guru harus memahami benar tentang tujuan mengajar, secara khusus memilih dan menentukan metode mengajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, cara memilih, menentukan dan menggunakan alat peraga, cara membuat tes dan menggunakannya, dan pengetahuan tentang alat-alat evaluasi.

Setiap pembelajaran pada semua tingkat pendidikan baik formal maupun non formal apalagi tingkat Sekolah Dasar, haruslah berpusat pada kebutuhan perkembangan anak sebagai calon individu yang unik, sebagai makhluk sosial, dan sebagai calon manusia seutuhnya.

Hal tersebut dapat dicapai apabila dalam aktivitas belajar mengajar, guru senantiasa memanfaatkan teknologi pembelajaran yang mengacu pada gabungan metode ceramah dengan metode kerja kelompok dalam penyampaian materi dan mudah diserap peserta didik atau siswa berbeda.

Khususnya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, agar siswa dapat memahami materi yang disampaikan guru dengan baik, maka proses gabungan metode ceramah dengan metode kerja kelompok, guru akan memulai membuka pelajaran dengan menyampaikan kata kunci, tujuan yang ingin dicapai, baru memaparkan isi dan diakhiri dengan memberikan soal-soal kepada siswa.

Dari latar belakang masalah tersebut, maka penulis mengambil judul “Pengaruh Gabungan Metode Ceramah Dengan Metode Kerja Kelompok Terhadap Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Pada Siswa Kelas VI SD Negeri Bantarsari 01 Kecamatan Bantarsari Kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 2019/2020”.

KAJIAN PUSTAKA

Definisi Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses, cara, menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. (KBBI, 1996: 14). Jadi pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu.

Metode Ceramah

Menurut Hasibuan dan Mudjiono (1981), metode ceramah adalah cara penyampain bahan pelajaran dengan komunikasi lisan. Jadi metode ceramah adalah metode belajar yang digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang sesuai dengan rumusan metode belajar mengajar. Penggunaan metode ceramah secara terus menerus dalam proses belajar kurang tepat karena dapat menimbulkan kejenuhan pada siswa.

Kerja Kelompok

Teknik ini sebagai salah satu strategi belajar mengajar. Ialah suatu cara mengajar, dimana siswa di dalam kelas dipandang sebagai suatu kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5 (lima) atau 7 (tujuh) siswa, mereka bekerja bersama dalam memecahkan masalah, atau melaksanakan tugas tertentu, dan berusaha mencapai tujuan pengajaran yang ditentukan pula oleh guru.

Robert L. Cilstrap dan William R Marti, memberikan pengertian kerja kelompok sebagai kegiatan sekelompok siswa yang biasanya berjumlah kecil, yang diorganisir untuk kepentingan belajar. Keberhasilan kerja kelompok untuk mengajar mempunyai tujuan agar siswa mampu bekerja sama dengan teman yang lain dalam mencapai tujuan bersama.

Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial

Di dalam istilah hasil belajar, terdapat dua unsur di dalamnya, yaitu unsur hasil dan unsur belajar. Hasil merupakan suatu hasil yang telah dicapai pebelajar dalam kegiatan belajarnya (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya), sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, (1995: 787). Dari pengertian ini, maka hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lajimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.

METODE PENELITIAN

Setting Tindakan

Tempat Penelitian

Penelitian ini bertempat di SD Negeri Bantarsari 01 Kecamatan Bantarsari Kabupaten Cilacap.

Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan November semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020.

Subjek Penelitian

Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas VI SD Negeri Bantarsari 01 Kecamatan Bantarsari Kabupaten Cilacap.pada pokok bahasan dampak globalisasi.

Rancangan Penelitian

Gambar 3.1 Alur PTK

Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu silabus, Rencana Pelajaran (RPP), Lembar Kegiatan Siswa, Tes formatif.

Teknik Pengumpulan Data

Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi pengolahan belajar aktif, dan tes formatif.

Teknik Analisis Data

Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatiF. Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

SIKLUS I

Adapun data hasil penelitian pada siklus I yaitu Hasil observasi aktivitas guru dan siswa seperti pada tabel berikut :

No Aktivitas Guru yang diamati Presentase
1

2

3

4

5

6

7

8

9

Menyampaikan tujuan

Memotivasi siswa

Mengkaitkan dengan pelajaran sebelumnya

Menyampaikan materi/ langkah-langkah/ strategi

Menjelaskan materi yang sulit

Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep

Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan

Memberikan umpan balik

Membimbing siswa merangkum pelajaran

5,0

8,3

8,3

6,7

13,3

21,7

10,0

18,3

8,3

No Aktivitas siswa yang diamati Presentase
1

2

3

4

5

6

7

8

9

Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru

Membaca buku

Bekerja dengan sesama anggota kelompok

Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru

Menyajikan hasil pembelajaran

Menyajikan/ menanggapi pertanyaan/ ide

Menulis yang relevan dengan KBM

Merangkum pembelajaran

Mengerjakan tes evaluasi

22,5

11,5

18,7

14,4

2,9

5,2

8,9

6,9

8,9

Tabel 4.2. Pengelolaan Pembelajaran Pada Siklus I

Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa aktivitas guru yang paling dominan pada siklus I adalah membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep, yaitu 21,7 %. Aktivitas lain yang presentasinya cukup besar adalah memberi umpan balik/ evaluasi, tanya jawab dan menjelaskan materi yang sulit yaitu masing-masing sebesar 13,3 %. Sedangkan aktivitas siswa yang paling dominan adalah mengerjakan/ memperhatikan penjelasan guru yaitu 22,5 %. Aktivitas lain yang presentasinya cukup besar adalah bekerja dengan sesama anggota kelompok, diskusi antara siswa/ antara siswa dengan guru, dan membaca buku yaitu masing-masing 18,7 % 14,4 dan 11,5 %.

Pada siklus I, secaraa garis besar kegiatan belajar mengajar dengan metode pembelajaran kooperatif model Gabungan Metode Ceramah dengan Metode Kerja Kelompok sudah dilaksanakan dengan baik.

No. Urut Skor Keterangan No. Urut Skor Keterangan
T TT T TT
1 100 22 60
2 60
3 80
4 60
5 60
6 80
7 70
8 60
9 90
10 80
11 80
12 60
13 70
14 70
15 70
16 80
17 70
18 80
19 70
20 60
21 60
Jumlah 1510 14 7 Jumlah 60 0 1
Jumlah Skor Tercapai 1560

Jumlah Skor Maksimal Ideal 2610

Rata-Rata Skor Tercapai 71,42

Table 4.2. Nilai Tes Formatif Pada Siklus I

No Uraian Hasil

Siklus I

1

2

3

Nilai rata-rata tes formatif

Jumlah siswa yang tuntas belajar

Persentase ketuntasan belajar

71,42

14

64,29

Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan gabungan metode ceramah dengan kerja kelompok diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 71,42 dan ketuntasan belajar mencapai 64,29% atau ada 14 siswa dari 21 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 65 hanya sebesar 64,29% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan gabungan metode ceramah dengan kerja kelompok.

SIKLUS II

Adapun data hasil penelitian pada siklus II yaitu disajikan hasil observasi akivitas guru dan siswa sebagai berikut:

No Aktivitas Guru yang diamati Presentase
1

2

3

4

5

6

7

8

9

Menyampaikan tujuan

Memotivasi siswa

Mengkaitkan dengan pelajaran sebelumnya

Menyampaikan materi/ langkah-langkah/ strategi

Menjelaskan materi yang sulit

Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep

Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan

Memberikan umpan balik

Membimbing siswa merangkum pelajaran

6,7

6,7

6,7

11,7

11,7

25,0

8,2

16,6

6,7

No Aktivitas siswa yang diamati Presentase
1

2

3

4

5

6

7

8

9

Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru

Membaca buku

Bekerja dengan sesama anggota kelompok

Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru

Menyajikan hasil pembelajaran

Menyajikan/ menanggapi pertanyaan/ ide

Menulis yang relevan dengan KBM

Merangkum pembelajaran

Mengerjakan tes evaluasi

17,9

12,1

21,0

13,8

4,6

5,4

7,7

6,7

10,8

Tabel 4.2. Aktivitas Guru Dan Siswa Pada Siklus II

Berdasarkan tabel I di atas, tampak bahwa aktifitas guru yang paling dominan pada siklus II adalah membimbing dan mengamati siswa dalam menentukan konsep yaitu 25%. Jika dibandingkan dengan siklus I, aktivitas ini mengalami peningkatan. Aktivitas guru yang mengalami penurunan adalah memberi umpan balik/evaluasi/ Tanya jawab (16,6%), mnjelaskan materi yang sulit (11,7). Meminta siswa mendiskusikan dan menyajikan hasil kegiatan (8,2%), dan membimbing siswa merangkum pelajaran (6,7%).

Sedangkan untuk aktivitas siswa yang paling dominan pada siklus II adalah bekerja dengan sesama anggota kelompok yaitu (21%). Jika dibandingkan dengan siklus I, aktifitas ini mengalami peningkatan. Aktifitas siswa yang mengalami penurunan adalah mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru (17,9%). Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru (13,8%), menulis yang relevan dengan KBM (7,7%) dan merangkum pembelajaran (6,7%). Adapun aktifitas siswa yang mengalami peningkatan adalah membaca buku (12,1%), menyajikan hasil pembelajaran (4,6%), menanggapi/mengajukan pertanyaan/ide (5,4%), dan mengerjakan tes evaluasi (10,8%).

No. Urut Skor Keterangan No. Urut Skor Keterangan
T TT T TT
1 100 22 60
2 80
3 90
4 60
5 70
6 60
7 70
8 80
9 70
10 90
11 80
12 60
13 60
14 90
15 90
16 80
17 80
18 90
19 60
20 100
21 80
Jumlah 1640 16 5 Jumlah 60 0 1
Jumlah Skor Tercapai 1700

Jumlah Skor Maksimal Ideal 2630

Rata-Rata Skor Tercapai 77,85

Table 4.3. Nilai Tes Formatif Pada Siklus II

No Uraian Hasil

Siklus II

1

2

3

Nilai rata-rata tes formatif

Jumlah siswa yang tuntas belajar

Persentase ketuntasan belajar

77,85

16

78,57

Tabel 4.4. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II

Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 77,85 dan ketuntasan belajar mencapai 78,57% atau ada 16 siswa dari 21 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajr siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar.

SIKLUS III

Adapun data hasil penelitian pada siklus III adalah sebagai berikut:

No Aktivitas Guru yang diamati Presentase
1

2

3

4

5

6

7

8

9

Menyampaikan tujuan

Memotivasi siswa

Mengkaitkan dengan pelajaran sebelumnya

Menyampaikan materi/ langkah-langkah/ strategi

Menjelaskan materi yang sulit

Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep

Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan

Memberikan umpan balik

Membimbing siswa merangkum pelajaran

6,7

6,7

10,7

13,3

10,0

22,6

10,0

11,7

10,0

No Aktivitas siswa yang diamati Presentase
1

2

3

4

5

6

7

8

9

Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru

Membaca buku

Bekerja dengan sesama anggota kelompok

Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru

Menyajikan hasil pembelajaran

Menyajikan/ menanggapi pertanyaan/ ide

Menulis yang relevan dengan KBM

Merangkum pembelajaran

Mengerjakan tes evaluasi

20,8

13,1

22,1

15,0

2,9

4,2

6,1

7,3

8,5

Tabel 4.2. Aktivitas Guru dan Siswa Pada Siklus III

Berdasarkan tabel diatas tampak bahaw aktivitas guru yang paling dominan pada siklus III adalah membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep yaitu 22,6%, sedangkan aktivitas menjelaskan materi yang sulit dan memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab menurun masing-masing sebesar (10%), dan (11,7%). Aktivitas lain yang mengalami peningkatan adalah mengkaitkan dengan pelajaran sebelumnya (10%), menyampiakan materi/strategi /langkah-langkah (13,3%), meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan (10%), dan membimbing siswa merangkum pelajaran (10%). Adapun aktivitas ynag tidak menglami perubahan adalah menyampaikan tujuan (6,7%) dan memotivasi siswa (6,7%).

Sedangkan untuk aktivitas siswa yang paling dominan pada siklus III adalah bekerja dengan sesama anggota kelompok yaitu (22,1%) dan mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru (20,8%), aktivitas yang mengalami peningkatan adalah membaca buku siswa (13,1%) dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru (15,0%). Sedangkan aktivitas yang lainnya mengalami penurunan.

No. Urut Skor Keterangan No. Urut Skor Keterangan
T TT T TT
1 80 22 70
2 90
3 90
4 80
5 90
6 90
7 90
8 80
9 80
10 90
11 80
12 70
13 80
14 90
15 90
16 90
17 80
18 90
19 80
20 90
21 60
Jumlah 1740 19 2 Jumlah 70 1 0
Jumlah Skor Tercapai 1810

Jumlah Skor Maksimal Ideal 2520

Rata-Rata Skor Tercapai 83,09

Table 4.3. Nilai Tes Formatif Pada Siklus III

No Uraian Hasil

Siklus III

1

2

3

Nilai rata-rata tes formatif

Jumlah siswa yang tuntas belajar

Persentase ketuntasan belajar

83,09

38

90,47

Tabel 4.4. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus III

Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 83,09 dan dari 21 siswa yang telah tuntas sebanyak 20 siswa dan 1 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 90,47% (termasuk kategori tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II.

Berdasarkan hasil penelitian, kerja kelompok pada materi pelajaran dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.

DAN SARAN

KESIMPULAN

Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pembelajaran dengan pembelajaran dengan gabungan metode ceramah dengan kerja kelompok pada materi pelajaran memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (64,29%), siklus II (78,57%), siklus III (90,47%).
  2. Penerapan pembelajaran dengan gabungan metode ceramah dengan kerja kelompok pada materi pelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukan dengan rata-rata jawaban siswa yang menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan pembelajaran tersebut sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar.
  3. Penerapan pembelajaran gabungan metode ceramah dengan kerja kelompok pada materi pelajaran efektif untuk mengingatkan kembali materi ajar yang telah diterima siswa selama ini, sehingga mereka merasa siap untuk menghadapi ujian akhir yang segera akan dilaksanakan.

SARAN

  1. Untuk melaksanakan pembelajaran dengan gabungan metode ceramah dengan kerja kelompok pada materi pelajaran memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pembelajaran dengan gabungan metode ceramah dengan kerja kelompok pada materi pelajaran proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.
  2. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
  3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di kelas VI SD Negeri Bantarsari 01 Kecamatan Bantarsari Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2019 /2020.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon.

Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta: Rineksa Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi. 1999. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta.

Combs. Arthur. W. 1984. The Profesional Education of Teachers. Allin and Bacon, Inc. Boston.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta.

Djamarah. Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineksa Cipta.

Foster, Bob. 1999. Seribu Pena SLTP Kelas I. Jakarta: Erlangga.

Hadi, Sutrisno. 1981. Metodogi Research. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Yoyakarta.

Hasibuan. J.J. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineksa Cipta.

Melvin, L. Seiberman. 2000. Active Learning. Bandung: Nuansa dan Nusamedia

Mukhlis, Abdul. (Ed). 2000. Penelitian Tindakan Kelas. Makalah PanitianPelatihan Penulisan Karya Ilmiah untuk Guru-guru se-Kabupaten Tuban.

Mursell, James ( – ). Succesfull Teaching (terjemahan). Bandung: Jemmars.

Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nur, Moh. 2001. Pemotivasian Siswa untuk Belajar. Surabaya. University Press. Universitas Negeri Surabaya.

Poerwodarminto. 1991. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Bina Ilmu.

Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.

Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.

Soekamto, Toeti. 1997. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka.

Suryosubroto, b. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT. Rineksa Cipta.

Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Wetherington. H.C. and W.H. Walt. Burton. 1986. Teknik-teknik Belajar dan Mengajar. (terjemahan) Bandung: Jemmars.

BIO DATA PENULIS

Nama : Setiyani ,S.Pd.SD

NIP : 19731224 199703 2 001

Unit Kerja : SD Negeri Bantarsari 01

By admin

You cannot copy content of this page