Iklan

PENERAPAN PENDEKATAN ILMIAH DENGAN SUPERVISI PENGAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KINERJA GURU DALAM PEMBELAJARAN DARING DI SD NEGERI JAGAPURA 01 KECAMATAN KERSANA KABUPATEN BREBES TAHUN PELAJARAN 2020/2021

C:\Users\Toshiba\Downloads\Foto Bu Rodijah.jpeg

Oleh : Rodijah, S.Pd.SD.

ABSTRAK

Latar belakang dari penelitian ini adalah masih rendahnya kinerja guru dalam pembelajaran daring. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru dalam pembelajaran daring di tengah pandemi covid-19. Model pembinaan yang diterapkan yaitu pendekatan ilmiah dengan supervisi pengajaran. Penelitian dilaksanakan di SD Negeri Jagapura 01 Kecamatan Kersana Kabupaten Brebes pada semester 1 Tahun Pelajaran 2020/2021. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah kombinasi antara pendekatan ilmiah dengan supervisi pengajaran dapat meningkatkan kinerja guru dalam pembelajaran daring. Penelitian tindakan dalam bidang supervisi yang penulis gunakan adalah kombinasi antara pendekatan ilmiah dengan supervisi pengajaran. Teknik supervisi yang digunakan adalah kombinasi antara kombinasi antara pendekatan ilmiah dengan supervisi pengajaran, pertemuan dan pendapat siswa. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan tipe isian. Jenis data yang dikumpulkan adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan melalui 2 siklus. Siklus I dengan kombinasi antara pendekatan ilmiah dengan supervisi pengajaran. Siklus ke II kombinasi antara pendekatan ilmiah dengan supervisi pengajaran.

Kata kunci : Pendekatan Ilmiah, Supervisi Pengajaran, Kinerja Guru

PENDAHULUAN

Keberhasilan pendidikan pada satuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh peran kepala sekolah sebagai peneliti dalam kepemimpinan pembelajaran terhadap para guru. Kepala sekolah pada satuan pendidikan memiliki peran strategis dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan guru dalam pembelajaran yang di dalamnya ada sistem evaluasi pembelajaran. Kegagalan pembelajaran pada satuan pendidikan dapat diatasi dengan usaha dan peran kepala sekolah yang mampu mendeteksi dini kelemahan guru dalam mengevaluasi hasil belajar siswa dengan peranannya sebagai peneliti. Kegagalan dan keberhasilan guru juga dipengaruhi olah kemampuan pemahaman guru terhadap proses pembelajaran.

Ketidakmampuan guru memahami maksud dan tujuan pembelajaran dapat mempengaruhi hasil pembelajaran. Guru dituntut mampu memahami makna dan karakter kurikurikulum sehingga dapat menguasai materi, metoda, teknik, evaluasi pembelajaran sehingga hasil pembelajaran pada suatu satuan pendidikan dapat dicapai secara maksimal dan bermutu.

Ketidakberhasilan perbaikan mutu pendidikan telah membuat para pendidik cukup tercengang, hal ini membuat kita setuju terhadap pencanangan Departemen Pendidikan Nasional, tentang Managemen Peningkatan Mutu Pendidikan. Di sini peningkatan mutu pendidikan diarahkan kepada menggali kemampuan yang ada di sekolah. Berbeda dengan gaya yang terdahulu di mana pendidikan itu orientasinya pada input (input oriented). Yang tertera dalam input oriented misalnya: penyediaan buku-buku dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan yang lain. Dengan ini terpenuhi maka diharapkan memperoleh output yang bermutu. Dengan pencanangan manajemen peningkatan mutu yang telah dipaparkan, maka sekolah akan menjadi pusat untuk bisa mutu pendidikan itu meningkat. Peningkatan mutu pendidikan sudah pasti banyak ditentukan oleh mutu guru dalam banyak hal. Secara khusus dalam penelitian ini dibahas peningkatan mutu guru dalam melakukan inovasinya proses pembelajaran, kemampuan melaksanakan penilaian, kemampuan melaksanakan evaluasi dan kemampuan guru dalam
melaksanakan tindak lanjut terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan.

Keadaan yang semacam ini memberi tantangan pada guru-guru untuk lebih siap dalam memberikan pengajaran. Setelah wawacaran dilakukan terhadap kepala-kepala sekolahnya, ternyata sekolah-sekolah ini telah berupaya memajukan mutu pendidikan di sekolahnya dengan mencanangkan visi dan misi yang baik untuk pencapaiannya. Kepala-kepala sekolah telah mencanangkan upaya itu dengan berusaha merubah perilaku guru-guru mempunyai komitmen yang lebih tinggi. Selanjutnya mereka sangat berharap agar para pengawas sekolah mau melakukan tugasnya lebih giat dengan hadir ke sekolah-sekolah dan ikut membantu agar tujuan tersebut dapat tercapai. Hal ini sering diungkapkan oleh kepala-kepala sekolah dalam berbagai kesempatan pertemuan-pertemuan, baik pertemuan formal maupun informal.

Perlu diketahui bahwa bagaimanapun giatnya para kepala sekolah melakukan
tugasnya, walaupun ditambah dengan penelitian, belum tentu juga keberhasilan perilaku guru itu akan dapat dirubah dalam waktu yang singkat aritnya jika pengawasan dihentikan maka perilaku guru itu bisa berubah karena tingkah laku manusia dipengaruhi oleh banyak faktor.

Keberhasilan proses pembelajaran sangat bergantung pada beberapa faktor diantaranya adalah faktor guru. Guru sangat memegang peranan penting dalam keberhasilan proses pembelajaran. Guru yang mempunyai kompetensi yang baik tentunya akan sangat mendukung keberhasilan proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil observasi kinerja guru di SD Negeri Jagapura 01 dalam pembelajaran masih rendah, terutama dalam pelaksanaan pembelajaran daring yang memerlukan kreativitas guru dalam bidang IT untuk memnafaatkan berbagai aplikasi pembelajaran.

Dari latar belakang dan identifikasi di atas, di rumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah proses penerapan pendekatan ilmiah dengan supervisi pengajaran untuk meningkatkan kinerja guru dalam pembelajaran daring di SD Negeri Jagapura 01 Tahun Pelajaran 2020/2021?
  2. Bagaimanakah peningkatan kinerja guru dalam pembelajaran daring di SD Negeri Jagapura 01 Tahun Pelajaran 2020/2021 setelah penerapan pendekatan ilmiah dengan supervisi pengajaran?
  3. Bagaimanakah tanggapan guru terhadap kegiatan pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah?

LANDASAN TEORITIS DAN HIPOTESIS

Pengertian Pendekatan Ilmiah

Pendekatan ilmiah adalah mekanisme atau cara mendapatkan pengetahuan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu struktur logis yang terdiri atas beberapa tahapan kerja, yaitu:

  1. adanya kebutuhan objektif,
  2. perumusan masalah,
  3. pengumpulan teori,
  4. perumusan hipotesis,
  5. pengumpulan data/informasi/fakta,
  6. analisis data,
  7. penarikan kesimpulan.

Secara sederhana, pendekatan ilmiah yaitu pendekatan disipliner dan pendekatan ilmu pengetahuan yang fungsional terhadap masalah tertentu.

Di dalam pendekatan ilmiah, dituntut untuk dilakukan cara-cara atau langkah-langkah dengan tata urutan tertentu pula sehingga tercapai pengetahuan yang benar dan logis.

Menurut Cholid Narbuko (6:2007), untuk dapat berpikir ilmiah maka akan melalui tiga tahap, yaitu:

  1. Skeptik
    Adalah upaya untuk selalu menanyakan bukti-bukti atau fakta-fakta terhadap setiap pernyataan.
  2. Analitik
    Adalah kegiatan untuk selalu menimbang-nimbang setiap permasalahan yang dihadapinya, mana yang relevan, mana yang menjadi masalah utama, dan sebagainya.
  3. Kritik
    Adalah berupaya untuk mengembangkan kemampuan menimbangnya selalu objektif. Untuk ini maka dituntut agar data dan pola berpikirnya selalu logis.

Ciri-Ciri Pendekatan Ilmiah

Menurut Checkland dalam Aria Susman, berdasarkan sejarah perkembangan ilmu, didapatkan tiga karakteristik utama dari pendekatan ilmiah, yaitu:

  1. Reductionism
    Reductionism adalah pendekatan yang mereduksi kompleksitas permasalahan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga dapat dengan mudah diamati dan diteliti. Pendekatan analitikal adalah nama lain dari reductionism, yaitu mencoba untuk mencari unsur-unsur yang menjelaskan fenomena tersebut dengan hukum sebab akibat. Asumsi dari reductionism ini adalah bahwa fenomena keseluruhan dapat dijelaskan dengan mengetahui fenomena dari unsur-unsurnya. Ada satu istilah yang sering digunakan dalam hal ini, yaitu keseluruhan adalah merupakan hasil penjumlahan dari unsur-unsurnya. Oleh karena itu, berpikir linier adalah juga merupakan nama lain dari reductionism.
  2. Repeatability
    Repeatability yaitu suatu pengetahuan disebut ilmu, bila pengetahuan tersebut dapat dibuktikan dengan mengulang eksperimen atau penelitian yang dilakukan oleh orang lain di tempat dan waktu yang berbeda. Sifat ini akan menghasilkan suatu pengetahuan yang bebas dari subjektifitas, emosi, dan kepentingan. Ini didasarkan pada pemahaman bahwa ilmu adalah pengetahuan milik umum, sehingga setiap orang yang berkepentingan harus dapat memeriksa kebenarannya dengan mengulangi eksperimen atau penelitian yang dilakukan.
  3. Refutation
    Sifat ini mensyaratkan bahwa suatu ilmu harus memuat informasi yang dapat ditolak kebenarannya oleh orang lain. Suatu pernyataan bahwa besok mungkin hujan atau pun tidak, memuat informasi yang tidak layak untuk disebut ilmu, karena tidak dapat ditolak. Ilmu adalah pengetahuan yang memiliki risiko untuk ditolak, sehingga ilmu adalah pengetahuan yang dapat berkembang. Sebagai contoh, teori Newton ditolak oleh Eisntein sehingga menghasilkan teori baru tentang relativitas.

Hakekat Supervisi Pengajaran

Supervisi pengajaran adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran (Glickman, et al, 2003). Di dalam Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia disebutkan inti dari supervisi akademik adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran (Depdiknas, Ditjen PMPTK 2009). Supervisi pengajaran merupakan bagian dari supervisi pendidikan, di samping supervisi administratif atau manajerial. Pada hakekatnya supervisi pengajaran adalah proses pemberian bantuan kepada guru dengan jalan memberikan dorongan, rangsangan atau bimbingan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar. Secara singkat Wiles (1987) mengatakan bahwa supervisi merupakan bantuan untuk perbaikan pengajaran. Glickman (1980), mengungkapkan supervisi pengajaran adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses belajar mengajar demi pencapaian tujuan pengajaran.

Dari beberapa pendapat tersebut, tampak bahwa hakekat supervisi pengajaran bukan menilai performansi guru dalam mengelola proses belajar mengajar, tetapi membantu guru mengembangkan kemampuannya. Evaluasi terhadap guru dilakukan dalam rangka menggali data yang ditindaklanjuti dengan pembinaan dan pengembangan kemampuan guru. Dalam hal ini Soetopo (2007) mengemukakan 3 aspek evaluasi keberhasilan guru, yaitu aspek personal guru, aspek profesional guru, aspek sosial guru. Aspek personal guru meliputi penampilan sehari-hari, cara berbicara dan berinisiatif, keseimbangan emosi, keramahtamahan; aspek profesional meliputi perencanaan mengajar, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, evaluasi pembelajaran; dan aspek sosial meliputi hubungan dengan kepala sekolah, guru yang lain, petugas tata usaha, petugas lainnya, murid, orang tua murid, dan masyarakat. Melalui evaluasi terhadap keberhasilan guru tersebut maka akan ditemukan tingkat keberhasilan dan ketidakberhasilan guru sehingga pembinaan dan pengembangan kemampuan guru dapat dilaksanakan secara tepat.

Pengertian Kinerja Guru

Pengertian kinerja menurut Robbins (Amaliyah, 2017: 34), “Kinerja adalah hasil evaluasi terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan dibandingkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengertian kinerja menurut Moeheriono (Amaliyah, 2017: 34), yaitu “Kinerja atau performance merupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu program kegiatan atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi dan misi organisasi yang dituangkan melalui perencanaan strategis suatu organisasi”. Amstrong dan Baron (1998: 15) memberikan pengertian bahwa “kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategi organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi ekonomi” (Amaliyah, 2017: 34).

Menurut Miao et al (2007), kinerja adalah kemampuan individu dalam menyelesaikan pekerjaannya. Selama beberapa dekade terakhir, tren untuk meningkatkan koordinasi dalam organisasi yang bertujuan meningkatkan kinerja merupakan tantangan besar untuk pemimpin dalam memotivasi pengikutnya, meningkatkan kinerja tim secara bersamaan serta menjaga kesimbangan antar keduanya (Amaliyah, 2017: 35).

Dari beberapa teori yang telah di paparkan di atas, maka penulis membuat kesimpulan bahwa, kinerja guru adalah suatu kondisi yang menunjukkan kemampuan seorang guru dalam menjalankan tugasnya disekolah serta menggambarkan adanya suatu perbuatan yang ditampilkan guru dalam atau selama melakukan aktivitas pembelajaran.

HIPOTESIS

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah dengan penerapan pendekatan ilmiah dengan supervisi pengajaran untuk meningkatkan kinerja guru dalam pembelajaran daring di SD Negeri Jagapura 01 Tahun Pelajaran 2020/2021.

METODE PENELITIAN

Penelitian yang dilakukan termasuk jenis penelitian tindakan. Penelitian tindakan ini terfokus pada penelitian tindakan sekolah.

Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan di SD Negeri Jagapura 01 Semester 1 Tahun Pelajaran 2020/2021 dimulai bulan Juli sampai dengan Oktober 2020. Subjek penelitian Tindakan Sekolah ini adalah guru-guru SD Negeri Jagapura 01 yang berjumlah 8 orang yang terdiri dari 6 guru kelas, 1 guru agama dan 1 guru PJOK.

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah mengikuti langkah-langkah yang digunakan dalam supervisi akademik. Untuk menguji hipotesis penelitian ini dicocokan dengan indikator-indikator keberhasilan penelitian yaitu pengisian lembar observasi penelitian tugas guru. Apabila indikator indikator keberhasilan belum tercapai, maka penelitian ini belum bisa dikatakan berhasil ,dan dilanjutkan ke proses berikutnya, apabila hasil yang diperoleh sudah memenuhi kriteria keberhasilan penelitian, maka penelitian ini tidak dilanjutkan ke siklus berikutnya

Metode yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Sekolah ini dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap, yaitu merencanakan (planning), melakukan tindakan (acting), mengamati (observing), dan refleksi (reflecting).

Indikator Kinerja

Penelitian tindakan sekolah ini berhasil bila semua guru yang dibina mampu meningkatkan kinerja dalam pembelajaran daring di kelas. Usulan kinerja yang diharapkan adalah rata-rata klasikal mencapai 86-100 dengan kriteria “Amat Baik”.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Deskripsi yang dapat disampaikan untuk perolehan data awal sebagai indikator yang dituntut yaitu minimal siswa mampu mencapai ketuntasan belajar dengan nilai sama atau melebihi ketuntasan belum tercapai. Data yang diperoleh menunjukkan hanya 3 guru yang tuntas atau hanya 37,5% yang tuntas dari 8 guru pada semester I tahun pelajaran 2020/2021 di bawah ketuntasan. Data tersebut menunjukkan rendahnya kemampuan guru SD Negeri Jagapura 01 pada awalnya. Kekurangan yang ada adalah akibat proses pembelajaran yang
dilakukan oleh guru masih bersifat konvensional. Kelebihannya adalah peneliti sebagai kepala sekolah telah giat melakukan supervisi secara maksimal.

Deskripsi Siklus I

Penelitian Tindakan Sekolah ini dilaksanakan di SD Negeri Jagapura 01 Kecamatan Kersana Kabupaten Brebes, yang pelaksanaannya meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Perencanaan, yang meliputi merumuskan masalah yang akan dipecahkan solusinya, dan merumuskan tujuan penyelesaian masalah/ tujuan menghadapi tantangan/ tujuan melakukan inovasi/ tindakan, merumuskan indikator keberhasilan, merumuskan langkah – langkah penyelesaian, mengidentifikasi warga sekolah, mengidentfikasi pengumpulan data yang akan digunakan, penyusunan instrumen, mengidentfikasi fasilitas yang diperlukan,
  2. Tindakan, meliputi menyebarkan lembar pengamatan dan rekapitulasi hasil pengamatan.
  3. Pengamatan

Perkembangan kemampuan guru
pada siklus I adalah hanya 6 orang (75%) yang memperoleh nilai dengan ketuntasan dalam proses pembelajaran di sekolah. Sedangkan yang lainnya yang berjumlah 2 orang (25%) belum mampu mencapai ketuntasan yang dituntut. Dari hasil pengamatan serta rekap dari skor kinerja guru dikelas pada pembelajaran daring dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1 Rekapitulasi Skor Kinerja Guru Siklus I

No. Nama Guru Skor
1 Guru 1 70
2 Guru 2 80
3 Guru 3 60
4 Guru 4 80
5 Guru 5 80
6 Guru 6 70
7 Guru 7 80
8 Guru 8 80
Jumlah 620
Rata-Rata 77,5
  • Refleksi

Dari data siklus I menunjukkan bahwa guru-guru tersebut belum giat dalam mengikuti proses pembelajaran oleh karenanya peneliti harus lebih giat lagi melakukan pembelajaran pada siklus berikutnya. Upaya yang lebih giat yang bisa peneliti laksanakan pada siklus yang kedua ini berpenekanan pada perbaikan-perbaikan dari kekurangan kekurangan yang ada pada diri guru.

Deskripsi Siklus II

  • Perencanaan,

Semua kekurangan pada siklus I yang sudah disampaikan pada refleksi siklus I di depan menjadi acuan bagi peneliti untuk melakukan perbaikan.

  1. Tindakan, meliputi Perbaikan ini banyak
    dilakukan pada pertemuan awal sebelum mereka masuk kelas. Pada saat bimbingan tersebut diberi penekanan agar mereka merubah cara yang mereka lakukan selama ini yaitu mengajar
    dirubah dengan membelajarkan. Jadi guru tidak diharapkan untuk menceramahkan materi, guru tidak diharapkan menghabiskan waktunya untuk berdiri di depan kelas dan ngomong a,
    b, c, dan terus menerus mendominasi kelas. Yang dituntut adalah lebih 60% waktu digunakan oleh siswa untuk memperoleh pengalaman belajar, jadi guru boleh duduk di bangku
    guru dan tidak harus terus menerus berdiri ngomong ini, ngomong itu sampai habis waktu pembelajaran tetap juga berdiri. Pada pertemuan awal diberikan bimbingan tentang kekurangan-kekurangan yang ada selama siklus I untuk diperbaiki dan diminta agar guru-guru melihat apa yang mereka tulis di RPP dan melaksanakan sesuai apa yang mereka tulis.
    Disamping itu guru-guru juga diminta untuk memperhatikan waktu sesuai dengan apa yang mereka telah tulis di RPP.
  2. Pengamatan dan Evaluasi

Diskusi yang matang yang dilakukan pada pertemuan awal ternyata mampu menghasilkan peningkatan yang cukup signifikan. Dari rata-rata siklus I 77,50 pada siklus yang ke II ini naik menjadi 90,625. Keberhasilan ini tidak terlepas dari upaya yang sungguh-sungguh,
upaya yang maksimal yang dapat ditujukan untuk peningkatan mutu pendidikan.

Tabel 2 Rekapitulasi Skor Kinerja Guru Siklus II

No. Nama Guru Skor
1 Guru 1 80
2 Guru 2 95
3 Guru 3 90
4 Guru 4 95
5 Guru 5 95
6 Guru 6 80
7 Guru 7 95
8 Guru 8 95
Jumlah 725
Rata-Rata 90,625
  • Refleksi

Setelah selesai pelaksanaan tindakan pada siklus II maka diadakan refleksi mengenai kelemahan atau kekurangan dari pelaksanaan tindakan pada siklus II tersebut.

Dari hasil observasi dan data yang diperoleh, peneliti mengambil kesimpulan bahwa tindakan yang dilaksanakan pada siklus II dinyatakan berhasil, karena rata-rata klasikal mencapai 86-100, atau melebihi target yang telah ditentukan.

Pembahasan dari Setiap Siklus

Pembahasan pada Siklus I

Gambaran kinerja guru dalam pembelajaran daring pada siklus I terlihat pada grafik 1 berikut:

Grafik 1 Peningkatan Kinerja Guru Siklus I

Dari paparan grafik di atas kinerja guru SD Negeri Jagapura 01 ada peningkatan dalam pembelajaran daring, terlihat dari 8 orang guru 6 orang atau sekitar 75% telah tuntas. Namun penelitian belum berhasil karena rata-rata klasikal belum mencapai 86-100 kriteria “Amat Baik”.

Pembahasan Pada Siklus II

Gambaran peningkatan kinerja guru dalam pembelajaan daring setelah penerapan pendekatan ilmiah dengan supervisi pengajaran pada siklus II terlihat pada grafik 2 berikut:

Grafik 2 Peningkatan Kinerja Guru Siklus II

Dari paparan grafik di atas terlihat peningkatan kinerja guru dalam pembelajaran daring telah 100% tuntas karena rata-rata klasikal telah mencapai 86-100 dengan kriteria “Amat Baik”. sehingga penelitian dinyatakan berhasil.

PENUTUP

Simpulan

  1. Pendekatan ilmiah yaitu pendekatan disipliner dan pendekatan ilmu pengetahuan yang fungsional terhadap masalah tertentu. Sedangkan supervisi pengajaran adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran
  2. Penerapan pendekatan ilmiah dan supervisi pengajaran sangat efektif untuk meningkatkan kinerja guru dalam pembelajaran daring di SD Negeri Jagapura 01.
  3. Guru memberikan tanggapan yang baik terhadap tindakan bimbingan yang dilaksanakan oleh kepala sekolah dan memicu motivasi mereka untuk datang ke sekolah tepat waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad, 1983, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Penerbit Sinar Baru: Bandung.

Amaliyah, Al Fisqy Kayyasah. Pengaruh Motivasi Kerja dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Guru Yayasan Swadhipa Natar TP 2015/2016. Tesis. Program Studi Magister Manajemen Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Arikunto, Suharsini, 1992. Prosedur Penelitian. PT. Rineka Cipta: Jakarta.

Depdiknas, 2009. Membimbing Guru dalam Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan, Badan Pengembangan Sumber Daya Menusia.

Harianto, Mawardi Slamat, dkk. 2015. Pelaksanaan Supervisi Pengajaran Dalam Meningkatkan Kemampuan Profesional Guru Di SMA Negeri Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Administrasi Pendidikan ISSN 2302-0156 Pascasarjana Universitas
Syiah Kuala. Pp 128-137.

Margono, S. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Penerbit Rineka Cipta: Jakarta.

Ngalim Purwanto. 1998. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Penerbit Remaja Rosda Karya: Bandung.

Putri, Maya, dkk. 2016. Pelaksanaan Supervisi Pengajaran Dalam Meningkatkan Proses Belajar Mengajar di SMA Negeri 5 Kota Banda Aceh. Jurnal Administrasi Pendidikan ISSN 2302-0156 Pascasarjana Universitas Syiah Kuala Volume 4 Nomor 3.

BIODATA

Nama : Rodijah, S.Pd.SD.

NIP : 19701207 199703 2 002

Pangkat/ Gol : Pembina, IV/a

Jabatan : Kepala Sekolah

Unit Kerja : SD Negeri Jagapura 01 Kec. Kersana – Brebes

You cannot copy content of this page