Iklan

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENJASORKES POKOK BAHASAN PEMELIHARAAN KESEHATAN DARI PENYAKIT MENULAR DAN TIDAK MENULAR PADA SISWA KELAS V SEMESTER I SDN 1 KALIWANGI TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Oleh : Setyo Suratno, S.Pd.

ABSTRAK

Setyo Suratno, 2018. Penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share untuk Meningkatkan Hasil Belajar Penjasorkes Pokok Bahasan Pemeliharaan Kesehatan Dari Penyakit Menular Dan Tidak Menular Pada Siswa Kelas V Semester I SDN 1 Kaliwangi Tahun Pelajaran 2018/2019. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar pokok bahasan pemeliharaan kesehatan dari penyakit menular dan tidak menular melalui model Think Pair Share pada siswa kelas V SDN 1 Kaliwangi Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Subyek penelitian adalah siswa kelas V SD Negeri 1 Kaliwangi Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2018/2019 yang berjumlah 13 siswa. Data penelitian ini adalah data primer meliputi data hasil belajar siswa dengan menggunakan metode TPS selama pembelajaran. Data sekunder meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran, silabus, dan kurikulum yang diperoleh dari dokumen yang dimiliki guru dan sekolah. Data dikumpulkan melalui tes tertulis. Untuk menguji validitas data dilakukan dengan triangulasi. Dari hasil analisa data diketahui bahwa, hasil belajar siswa sebelum diadakan tindakan adalah 6 siswa (46%) tuntas belajar dan 7 siswa (54%) belum tuntas belajar. Pada siklus I ketuntasan belajar mencapai 69% yaitu 9 siswa telah tuntas belajar dan 4 siswa (31%) belum tuntas belajar. Pada siklus II ketuntasan belajar mencapai 92% yaitu 12 siswa telah tuntas belajar dan 1 siswa (8%) belum tuntas belajar. Kesimpulan penelitian ini adalah melalui model Think Pair Share dalam pembelajaran Penjasorkes pokok bahasan pemeliharaan kesehatan dari penyakit menular dan tidak menular pada siswa kelas V SD Negeri 1 Kaliwangi dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Kata kunci: Model Pembelajaran Think Pair Share, Hasil Belajar

LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan yang memberikan perhatian pada aktivitas pengembangan jasmani manusia, walaupun pengembangan utamanya adalah jasmani, namun tetap berorientasi pada pendidikan, pengembangan jasmani bukan merupakan tujuan akan tetapi alat untuk mencapai tujuan pendidikan.

Pendidikan jasmani di sekolah meliputi pembelajaran permainan, atletik, senam, aktivitas luar sekolah dan pendidikan kesehatan. Hal penting namun jarang dilakukan dalam pembelajaran Penjasokes adalah pembelajaran pokok bahasan pemeliharaan kesehatan. Siswa beranggapan pelajaran olahraga hanya berupa pelajaran tentang aktifitas fisik saja, sehingga pembelajaran dalam bentuk teori kurang diminati, sehingga pemahaman siswa tentang pokok bahasan pemeliharaan kesehatan kurang.

Dari contoh diatas menunjukkan penerapan pola hidup sehat bagi siswa belum dilakukan dengan baik. Faktor lain yang menyebabkan kegiatan pembelajaran teori jarang dilaksanakan oleh guru penjasorkes adalah keterbatasan kemampuan guru penjasorkes dalam hal pembelajaran teori didalam kelas. Namun yang terjadi di SDN 1 Kaliwangi sedikit berbeda, pokok bahasan pemeliharaan kesehatan pada mata pelajaran penjasorkes tetap dilaksanakan namun dalam pelaksanaannya dilakukan dengan model konvesional, yaitu ceramah dan penugasan mengerjakan LKS. Sehingga hasil yang diperoleh oleh siswa dalam hal pengetahuan maupun penerapan pokok bahasan pemeliharaan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari terbukti sangatlah kurang.

Adapun hasil tes pengetahuan pada pokok bahasan pemeliharaan kesehatan dari penyakit menular dan tidak menular yaitu dari KKM yang telah ditetapkan di SDN 1 Kaliwangi adalah 75, hanya 46% atau 6 siswa yang sudah tuntas dari 13 siswa keseluruhan. Hal ini tentu menjadi masalah bagi guru, karena tingkat penguasaan materi pembelajaran masih rendah. Jika kejadian seperti ini tidak segera ditangani, akan berakibat pada rendahnya hasil belajar siswa. Untuk mengatasi masalah tersebut maka alternatif pemecahan dapat dipresentasikan dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Share. Dengan penggunaan model pembelajaran tersebut, peneliti memiliki gambaran bahwa siswa nantinya dapat berpikir dan berbagi dengan teman lainnya. Selama ini model pembelajaran tersebut belum pernah digunakan dalam pembelajaran Penjasorkes di SD Negeri 1 Kaliwangi

Peneliti menindaklanjuti hasil analisis permasalahan tersebut dengan melakukan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Penjasorkes Pokok Bahasan Pemeliharaan Kesehatan Dari Penyakit Menular Dan Tidak Menular Pada Siswa Kelas V Semester I SDN 1 Kaliwangi Tahun Pelajaran 2018/2019”.

KAJIAN PUSTAKA

Pembelajaran Penjasorkes Pokok Bahasan Pemeliharaan Kesehatan Dari Penyakit Menular Dan Tidak Menular

Hakikat Pembelajaran Penjasorkes

Belajar merupakan aktifitas utama dalam sebuah proses pembelajaran. Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Sugihartono, dkk. 2007: 74). Sementara menurut Ruber yang dikutip Sugihartono, dkk. (2010: 74) mendefinisikan belajar dalam dua pengertian. Pertama, belajar sebagai proses memperoleh pengetahuan dan kedua, belajar sebagai perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat. Dari berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses memperoleh pengetahuan tingkah laku dan kemampuan bereaksi yang relatif permanen atau menetap karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya.

Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas, emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Sebagai sebuah mata pelajaran yang menitikberatkan perhatian pada ranah jasmani dan psikomotor, namun juga tidak mengabaikan aspek kognitif dan afektif. Cakupan materi pembelajaran jasmani untuk SD menurut KTSP 2006 ialah: (1) Permainan dan olahraga, (2) Aktivitas pengembangan, (3) Aktivitas senam, (4) Aktivitas ritmik, (5) Aktivitas air, (6) Pendidikan luar kelas, dan (7) Kesehatan. (KTSP 2007: 1)

Pembelajaran pendidikan jasmani pada umumnya merupakan sebuah hal yang komplek sehingga dibutuhkan pemikiran-pemikiran yang tepat untuk menjalankannya. Pembelajaran pendidikan jasmani merupakan bagian dari pendidikan secara keseluruhan. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran pendidikan jasmani merupakan pendidikan melalui sebuah aktifitas jasmani untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Pokok Bahasan Pemeliharaan Kesehatan dari Penyakit Menular dan Tidak Menular

Penyakit menular adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya agen penyebab yang mengakibatkan perpindahan penularan penyakit dari orang atau hewan yang terinfeksi, kepada orang atau hewan yang rentan, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui perantara atau lingkungan hidup.(Aji Arifin 2017: 136). Sampai saat ini, angka kejadian penyakit menular di Indonesia masih tinggi, dan salah satu di antaranya (Tuberculosis) merupakan penyebab kematian nomor 4 tertinggi di Indonesia menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Berdasarkan hal tersebut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia memasukan materi pemeliharaan kesehatan dari penyakit menular dan tidak menular pada mata pelajaran penjasorkes jenjang sekolah dasar. Tujuannya adalah untuk memberikan pengetahuan sejak dini tentang penyakit menular dan tidak menular serta cara memelihara kesehatan siswa dari penyakit menular dan tidak menular. Adapun contoh penyakit menular yaitu Influenza, Tuberkulosis (TBC), Muntaber, Tifus, DBD, Chikungunya. Sedangkan contoh penyakit tidak menular adalah Jantung, Obesitas, Diare, Cacingan. (Aji Arifin 2017: 137-148).

Model Pembelajaran Think Pair Share

Pengertian Model Think Pair Share

TPS (Think-Pair-Share) atau (Berfikir-Berpasangan-Berbagi) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. TPS menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota) dan lebih dirincikan oleh penghargaan kooperatif,  dari pada penghargaan individual (Ibrahim dkk: 2000: 3). TPS digunakan untuk mengajarkan isi akademik atau untuk mengecek pemahaman siswa terhadap isi tertentu. Guru menciptakan interaksi yang dapat mendorong rasa ingin tahu, ingin mencoba, bersikap mandiri, dan ingin maju. Guru memberi informasi, hanya informasi yang mendasar saja, sebagai dasar pijakan bagi anak didik dalam mencari dan menemukan sendiri informasi lainnya. Atau guru menjelaskan materi dengan mengaitkannya dengan pengalaman dan pengetahuan anak sehingga memudahkan mereka menanggapi dan memahami pengalaman yang baru bahkan membuat anak didik mudah memusatkan perhatian. Karenanya guru sangat perlu memperhatikan pengalaman dan pengetahuan anak didik yang didapatinya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian jelas bahwa melalui model pembelajaran Think-Pair-Share, siswa secara langsung dapat memecahkan masalah, memahami suatu materi secara berkelompok dan saling membantu antara satu dengan yang lainnya, membuat kesimpulan (diskusi) serta mempresentasikan di depan kelas sebagai salah satu langkah evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.

Langkah-langkah Think Pair Share

Tahapan dalam pembelajaran Think-Pair-Share menurut Ibrahim (2000:  26-27) adalah Tahap 1 : Think  (berpikir) Kegiatan pertama dalam Think-Pair-Share yakni guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan topik pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan tersebut secara untuk beberapa saat. Dalam tahap ini siswa dituntut lebih mandiri dalam mengolah informasi yang dia dapat. Tahap 2 : Pairing Pada tahap ini guru meminta siswa duduk berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah difikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat membagi jawaban dengan pasangannya. Biasanya guru memberikan waktu 4-5 menit untuk berpasangan. Tahap 3 : Share  (berbagi) Pada tahap akhir guru meminta kepada pasangan untuk berbagi jawaban dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka diskusikan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.

Hasil Belajar

Hasil belajar adalah sebuah hasil yang didapat dari proses pembelajaran yang dilewati. Hasil belajar dapat menentukan berhasil atau tidaknya sebuah pembelajaran, hasil belajar harus menunjukkan suatu perubahan tingkah laku atau perolehan perilaku yang baru dari siswa yang bersifat menetap, fungsional, positif, dan disadari. Karena dalam belajar bukan hanya pengetahuan tetapi juga tingkah laku seperti yang di kemukakan oleh Benyamin Bloom (1956) yang dikutip oleh Sri Anitah W, dkk dalam Strategi Pembelajaran di SD (2009:2.19) yang dapat menunjukkan gambaran hasil belajar, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. hasil belajar siswa dapat dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu:

  1. Faktor yang berasal dari dalam diri pelajar, yaitu faktor psikologis dan faktor fisiologis dan yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar adalah kualitas pembelajaran.
  2. Faktor yang berasal dari luar diri si pelajar, yaitu faktor sosial dan faktor non sosial, selain faktor kemampuan, ada juga faktor lain yaitu motivasi belajar, minat, perhatian, sikap. Kebiasaan belajar, ketekunan, kondisi ekonomi, kondisi fisik dan psikis.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di SD Negeri 1 Kaliwangi Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas, berlangsung pada semester ganjil tahun pelajaran 2018/2019. Subjek penelitian tindakan kelas adalah siswa kelas V sebanyak 13 siswa. Teknik pengumpulan data yang penulis pergunakan adalah observasi secara langsung dan tes tertulis. Sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif yang bertujuan untuk membanding- kan kondisi sebelum dan sesudah diadakan tindakan perbaikan pembelajaran. Tahapan dalam tindakan menganalisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa adalah ketuntasan siswa dalam pembelajaran apabila nilainya mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (≥75), dan ketuntasan belajar secara klasikal mencapai minimal 75%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kondisi Awal

Kondisi awal diperoleh sebelum pelaksanaan proses penelitian tindakan kelas berlangsung yang dimaksudkan untuk mengetahui keadaan sebenarnya tentang kondisi pembelajaran pada pokok bahasan pemeliharaan kesehatan dari penyakit menular dan tidak menular siswa kelas V SD Negeri 1 Kaliwangi. Hasil tersebut dapat diketahui sebagai berikut:

  1. Siswa kelas V SD Negeri 1 Kaliwangi Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2018/2019 berjumlah 13 siswa yang terdiri dari 6 siswa putra dan 7 siswa putri.
  2. Perhatian siswa tidak terfokus pada pembelajaran, terutama pada saat guru menyampaikan materi, hal itu disebabkan oleh karena guru kurang menarik dalam menyampaikan materi.
  3. Siswa terlihat acuh dan bermain sendiri ketika pembelajaran, bahkan ada beberapa siswa yang tetap asik berbicara sendiri dengan teman ketika guru menyampaikan materi.
  4. Hasil penilaian pratindakan siswa masih rendah, rata-rata nilai yang dicapai hanya 62 sedangkan persentase siswa yang mampu mencapai atau melampaui KKM hanya 6 siswa (46%), sedangkan 7 siswa (54%) belum mencapai KKM. Untuk lebih jelas data nilai dan persentase ketuntasan pembelajaran prasiklus dapat diamati pada diagram berikut.

Gambar 1. Data Nilai dan Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Prasiklus

Melalui deskripsi data awal, masing-masing aspek menunjukkan kriteria keberhasilan pembelajaran yang kurang, maka disusun sebuah tindakan untuk meningkatkan hasil belajar penjasorkes pokok bahasan pemeliharaan kesehatan dari penyakit menular dan tidak menular pada siswa kelas V SD Negeri 1 Kaliwangi dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Share.

Siklus I

Hasil belajar Penjasorkes pokok bahasan pemeliharaan kesehatan dari penyakit menular dan tidak menular dari siswa kelas V SD Negeri 1 Kaliwangi setelah mendapat pembelajaran dengan metode Think Pair Share telah sesuai dan tepat dengan yang diharapkan dan tampak adanya perubahan dalam mengikuti pembelajaran. Hasil observasi tindakan siklus I sudah cukup baik, rata-rata nilai yang dicapai adalah 73 sdh mendekati KKM, sedangkan persentase siswa yang mampu mencapai atau melampaui KKM sebanyak 9 siswa (69%), sedangkan 4 siswa (31%) belum mencapai KKM. Hasil penilaian dan persentase ketuntasan pembelajaran dapat diamati pada gambar berikut.

Gambar 2. Data Nilai dan Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I

Berdasarkan diagram di atas, peningkatan rata-rata nilai dan persentase ketuntasan belajar siswa meningkat. Hal ini dikarenakan adanya perubahan metode pembelajaran dari metode konvensional menjadi metode Think Pair Share yang dilakukan oleh guru sekaligus peneliti. Namun peningkatan tersebut belum mampu mencapai indikator dalam penelitian ini, hal ini disebabkan karena terlalu lama waktu yang digunakan untuk mendiskusikan satu materi, sehingga pembahasan materi yang lain kurang sempurna mengingat kegiatan belajar mengajar terbatas waktu, kekurangan yang kedua adalah pembagian kelompok secara homogeny, siswa yang berkemampuan lebih berkumpul dalam satu kelompok sehingga kurang bias berbagi dengan siswa yang lain terutama yang berkemampuan kurang.

Siklus II

Hasil belajar Penjasorkes pokok bahasan pemeliharaan kesehatan dari penyakit menular dan tidak menular dari siswa kelas V SD Negeri 1 Kaliwangi pada siklus II sudah cukup baik, rata-rata nilai yang dicapai adalah 77 sdh melampaui KKM, sedangkan persentase siswa yang mampu mencapai atau melampaui KKM sebanyak 12 siswa (92%), sedangkan 1 siswa (8%) belum mencapai KKM. Hasil penilaian dan persentase ketuntasan pembelajaran dapat diamati pada gambar berikut.

Gambar 3. Data Nilai dan Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II

Berdasarkan gambar di atas, peningkatan rata-rata nilai dan persentase ketuntasan belajar siswa meningkat drastis. Hal ini dikarenakan adanya perbaikan dari penerapan metode Think Pair Share yang dilakukan oleh guru sekaligus peneliti berdasarkan hasil refleksi siklus I. Adanya peningkatan yang sangat drastis guru melakukan pembatasan waktu diskusi dan mengubah system pemilihan anggota kelompok menjadi heterogen, setiap kelompok ada siswa yang berkemampuan lebih sehingga dalam berdiskusi menjadi lebih aktif.

Pembahasan

Penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan selama dua siklus mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran penjasorkes pokok bahasan pemeliharaan kesehatan dari penyakit menular dan tidak menular. Metode Think Pair Share dilaksanakan sesuai langkah-langkahnya sehingga kegiatan pembelajaran lebih efektif dan siswa lebih aktif. Penerapan metode Think Pair Share yang telah dilaksanakan dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Ibrahim (2000:  26-27) yaitu Tahap 1 : Think  (berpikir) Kegiatan pertama dalam Think-Pair-Share yakni guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan topik pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan tersebut untuk beberapa saat. Dalam tahap ini siswa dituntut lebih mandiri dalam mengolah informasi yang dia dapat. Tahap 2 : Pairing Pada tahap ini guru meminta siswa duduk berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah difikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat membagi jawaban dengan pasangannya. Biasanya guru memberikan waktu 4-5 menit untuk berpasangan. Tahap 3 : Share  (berbagi) Pada tahap akhir guru meminta kepada pasangan untuk berbagi jawaban dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka diskusikan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan. Peningkatan kualitas kegiatan pembelajaran tidak lepas dari adanya kegiatan refleksi yang dilaksanakan pada tiap siklusnya dan kemudian diimplementasikan pada rencana kegiatan untuk siklus berikutnya. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat pada diagram berikut.

Gambar 4 Peningkatan Rata-rata nilai hasil belajar siswa prasiklus, siklus I dan siklus II

Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa rata-rata nilai hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan. Data prasiklus yaitu 63 meningkat pada akhir siklus I menjadi 73 dengan kategori baik namun belum mencapai atau melampaui KKM yaitu 75, pada akhir siklus II mengalami peningkatan menjadi 77 dengan kategori baik dan sudah mampu melampaui KKM. Sedangkan persentase ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan dari data prasiklus yaitu 6 siswa (46%) meningkat menjadi 9 siswa (69%) pada akhir siklus I, dan meningkat menjadi 12 siswa (92%) pada akhir siklus II.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan analisis data hasil belajar pokok bahasan pemeliharaan kesehatan dari penyakit menular dan tidak menular pada siswa kelas V SD Negeri 1 Kaliwangi Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2018/2019 dapat diperoleh hasil sebagai berikut:

  1. Rata-rata nilai siswa pada prasiklus hanya 63, meningkat menjadi 73 pada akhir siklus I, dan meningkat menjadi 77 pada akhir siklus II.
  2. Persentase ketuntasan secara klasikal pada pratindakan dari 13 siswa, terdapat 6 siswa (46%) yang tuntas belajar.
  3. Persentase ketuntasan secara klasikal pada akhir siklus I dari 13 siswa, terdapat 9 siswa (69%) yang tuntas belajar.
  4. Persentase ketuntasan secara klasikal pada akhir siklus II dari 13 siswa, 12 siswa (92%) telah tuntas belajar.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Think Pair Share berhasil karena indikator kinerja penelitian dapat tercapai. Peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran sudah mencapai rata-rata nilai 77, sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal minimal 75% sudah terlampaui yaitu 12 siswa (92%) sudah mencapai bahkan ada yang melampaui KKM.

Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, peneliti dapat memberikan saran yaitu sebagai berikut:

  1. Siswa sebaiknya lebih serius dalam mengikuti pembelajaran agar hasil belajar lebih baik.
  2. Guru pendidikan jasmani hendaknya menggunakan beraneka model pembelajaran yang cocok untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
  3. Sekolah hendaknya berusaha menyediakan sarana dan prasarana yang dapat mendukung terlaksananya proses pembelajaran pendidikan jasmani

Biodata Penulis

Nama : Setyo Suratno, S.Pd.

Jabatan : Guru Penjasorkes

Unit Kerja : SD Negeri 1 Kaliwangi Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas

By admin

You cannot copy content of this page