Iklan

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN LEARNING CYCLE UNTUK MENINGKATKAN KETRAMPILAN METAKOGNISI PESERTA DIDIK SMA NEGERI 1 JERUKLEGITAHUN PELAJARAN 2019/2020

Drs. Solikhin

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian perbaikan kualitas pembelajaran matematika. Analitik Kualitatif pada peserta didik SMA Negeri 1 Jeruklegi. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kesiapan dan aktivitas belajar, meningkatkan hasil belajar peserta didik. Tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah PBL dan Learning Cycle. Dengan tindakan tersebut, diperoleh hasil yaitu kesiapan belajar sangat baik, aktivitas peserta didik dalam proses belajar mengajar mengalami peningkatan, kerjasama antar peserta didik baik, dan hasil belajar peserta didik baik. Persepsi peserta didik terhadap model belajar yang diterapkan, sangat positif. Berdasarkan hal tersebut, disimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

Kata kunci : PBL, Learning Cycle, Metakognisi.

PENDAHULUAN

Pembelajaran di kelas akan sangat efektif apabila guru melaksanakan dengan memahami peran, fungsi dan kegunaan mata pelajaran yang diajarnya.

Guru dituntut untuk memiliki komitmen, kemauan keras dan kemampuan untuk melaksanakan pembelajaran sesuai dengan ketentuan tersebut di atas. Idealnya, proses pembelajaran tidak hanya diarahkan pada upaya mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya, melainkan juga bagaimana menggunakan seluruh pengetahuan yang didapat tersebut untuk memecahkan permasalahan atau mengerjakan tugas yang ada kaitannya dengan bidang studi yang sedang dipelajari.

Kemampuan untuk memecahkan masalah adalah sangat penting bagi peserta didik untuk masa depannya nanti. Peserta didik akan terlatih dan memiliki keterampilan untuk mengatasi masalah dan mengembangkan proyek yang dapat menghasilkan produk dan bertanggung jawab terhadap produk yang dibuat. Pengalaman tersebut akan sangat bermanfaat bagi peserta didik untuk mereka pelajari di dalam kelas dan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Pendidikan dikatakan bermutu apabila proses pembelajaran berlangsung secara efektif, peserta didik (peserta didik) memperoleh pengalaman yang bermakna bagi dirinya, dan produk pendidikan merupakan individu-individu yang bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan bangsa. Selain itu peserta didik berbeda dalam berbagai hal, terutama intelegensinya. Intelegensi adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Banyak peserta didik yang prestasi belajarnya kurang bukan disebabkan oleh kemampuan intelegensi yang belum optimal. Namun hal ini lebih disebabkan kemampuan berfikir untuk memanfaatkan apa yang mereka ketahui atau disebut juga dengan kemampuan metakognisi, kurang berkembang.

Oleh karena itu 3 aspek penting dalam pelaksanaan pembelajaran yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan, yaitu teaching of thinking, teaching for thinking, dan teaching about thinking harus terus ditumbuhkembangkan sehingga dibutuhkan metode pembelajaran yang menekankan pada pengalaman berfikir operasional formal yang memungkinkan seseorang untuk mempunyai tingkah laku problem solving dan sebuah konsep pembelajaran sistematik atau sering disebut juga dengan metode pembelajaran learning cycle. Dengan adanya kedua penekanan ini diharapkan peserta didik akan dapat mengembangkan keterampilan metakognisinya sehingga menyebabkan prestasi belajarnya meningkat.

Rumusan masalah dalam penulisan ini adalah bagaimana pembelajaran problem solving dan learning cycle dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan metakognisi peserta didik ?

Tujuan dalam penulisan adalah (a). untuk mengetahui pentingnya pengetahuan dan keterampilan metakognisi yang berperan dalam peningkatan hasil belajar peserta didik, (b). untuk mengetahui metode-metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan metakognisi peserta didik dan (c). untuk mengkaji penerapan metode problem solving dan learning cycle sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan metakognisi peserta didik

KAJIAN TEORI

1. Konstruktivisme dalam Pembelajaran

Konstruktivisme lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky, dimana keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsep-konsep yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui proses ketidakseimbangan dalam lupaya memahami informasi-informasi baru. Piagetk dan Vigotsky juga menekankan adanya hakekat sosial dari belajar dan keduanya menyarankan untuk menggunakan kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam rangka perubahan konseptual (Slavin, 2000).

Pembelajaran sosial dari ide-ide konstruktivis banyak berlandaskan pada teori Vigotsky (dalam Slavin, 2000) yang telah digunakan dalam metode pengajaran yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek dan penemuan. Empat prinsip yang diturunkan dari teori Vigotsky adalah (1) penekanannya pada hakekat sosial pembelajaran; (2) gagasan bahwa siswa akan belajar dngan baik bila konsep dalam zona perkembangan terdekat mereka (3) pemagangan kognitif, yaitu proses seorang siswa secara bertahap mencapai kepakaran bila berinteraksi dengan seorang yang ahli, apakah dengan guru ataukah teman sebaya yang lebih tinggi pengetahuannya, (4) scaffolding atau mediated learning, siswa seharusnya diberi tugas-tugas sulit Konstruktivisme lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky, dimana keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsep-konsep yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui proses ketidakseimbangan dalam upaya memahami informasi-informasi baru. Piagetk dan Vigotsky juga menekankan adanya hakekat sosial dari belajar dan keduanya menyarankan untuk menggunakan kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam rangka perubahan konseptual (Slavin, 2000).

Prinsip yang paling umum dan paling esensial yang dapat diambil dari teori konstruktivisme adalah guru merancang pembelajaran dimana siswa memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah (kelas). Menurut pandangan konstruktivism, pengetahuan bukan merupakan kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan merupakan bentukan kognitif seseorang terhadap obyek, pengalaman maupun lingkungannya. Pembentukan pengetahuan dilakukan secara terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru. Sebagaimana yang dikatakan Driver dalam Budiningsih (2005), ilmu pengetahuan bukan hanya kumpulan hukum atau daftar fakta melainkan kreasi dan pikiran manusia dengan semua ide dan konsep yang ditemukan secara bebas.

Menurut Nur (2000), dalam pandangan penganut konstruktivisme tujuan seseorang mendapatkan pengetahuan bukanlah untuk menemukan kebenaran realitas melainkan untuk mengorganisasikan pengetahuan yang cocok dengan pengalaman hidup manusia sehingga dapat digunakan bila berhadapan dengan tantangan dan pengalaman-pengalaman baru. Mereka tidak mempermasalahkan apakah pengetahuan tersebut merupakan suatu realitas sebagai kebenaran, yang lebih diutamakan adalah melihat bahwa kita menjadi tahu akan sesuatu.

Proses mengkonstruksik pengetahuan dilakukan oleh semua manusia. Dalam mengkonstruk pengetahuan orang tersebut menggunakan indranya dan interaksinya dengan obyek dan lingkungan. Misalnya, seseorang melihat api, menyalakan kompor, memasak air dengan menggunakan kompor air menjadi mendidih setelah beberapa menit, maka seseorang bisa membangun gambaran pengetahuan tentang api dan air. Semakin banyak seseorang berinteraksi dengan pengetahuan dan pemahamannya akan obyek dan lingkungan, pemahaman dan pengetahuan akan obyek tersebut akan semakin meningkat dan lebih rinci.

Dalam membentuk pengetahuan, diperlukan beberapa syarat yang harus dipenuhi seseorang. Von Glasersfeld dalam Mustaji & Sugiarso (2005), syarat-syarat yang perlu dimiliki seseorang untuk mengkonstruk pengetahuan meliputi: (1) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengetahuan, (2) kemampuan membandingkan, mengambil keputusan mengenai persamaan dan perbedaan dan (3) kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu daripada yang lain. Ini artinya untuk mendapatkan pengetahuan siswa tidak bersifat pasif hanya sekedar menerima stimulus berupa pengetahuan yang sudah baku melainkan harus aktif melalui indranya membentuk pengetahuan tersebut sesuai dengan kedalaman pengetahuan dan pengalaman mereka.

Faktor-faktor lainnya yang juga mempengaruhi proses pembentukan pengetahuan adalah konstruksi pengetahuan seseorang yang telah ada, domain pengalaman dan jaringan struktur kognitif yang dimilikinya. Proses dan hasil konstruksi pengetahuan yang telah dimiliki oleh seseorang akan menjadi pembatas konstruksi pengetahuan yang akan datang. Pengalaman akan fenomena yang baru menjadi unsur penting dalam membentuk dan mengembangkan pengetahuan. Keterbatasan pengalaman seseorang pada suatu hal akan membatasi pengetahuannya akan hal tersebut.

Dalam pembelajaran konstruktivisme guru memberikan kebebasan dan keberagaman kepada siswa. Kebebasan yang dimaksudkan di sini adalah kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukan siswa. Sedangkan keberagaman yang dimaksud adalah siswa menyadari bahwa individu berbeda dengan orang / kelompok lain dan orang/kelompok lain berbeda dengan individunya. Teori konstruktivisme memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruk pengetahuan yang baru. Siswa juga akan berinteraksi dengan lingkungannya. Semakin sering siswa berinteraksi maka akan semakin banyak pengalaman yang dimiliki yang berarti dasar pengetahuannya juga semakin banyak.

2. Pembelajaran Problem Solving

Model pembelajaran problem based learning (pembelajaran berbasis masalah), awalnya dirancang untuk program graduate bidang kesehatan oleh Barrows, Howard (1986) yang kemudian diadaptasi dalam bidang pendidikan oleh Gallagher (1995). Problem based learning disetting dalam bentuk pembelajaran yang diawali dengan sebuah masalah dengan menggunakan instruktur sebagai pelatihan metakognitif dan diakhiri dengan penyajian dan analisis kerja siswa.

Model pembelajaran problem based learning berlandaskan pada psikologi kognitif, sehingga fokus pengajaran tidak begitu banyak pada apa yang sedang dilakukan siswa, melainkan kepada apa yang sedang mereka pikirkan pada saat mereka melakukan kegiatan itu. Pada problem based learning peran guru lebih berperan sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa belajar berpikir dan memecahkan masalah mereka sendiri. Belajar berbasis masalah menemukan akar intelektualnya pada penelitian John Dewey (Ibrahim, 2000). Pedagogi Jhon Dewey menganjurkan guru untuk mendorong siswa terlibat dalam proyek atau tugas yang berorientasi masalah dan membentu mereka menyelidiki masalah-masalah tersebut. Pembelajaran yang berdayaguna atau berpusat pada masalah digerakkan oleh keinginan bawaan siswa untuk menyelidiki secara pribadi situasii yang bermakna merupakan hubungan problem based learning dengan psikologi Dewey. Selain Dewey, ahli psikologi Eropa Jean Piaget tokoh pengembang konsep konstruktivisme telah memberikan dukungannya. Pandangan konstruktivisme- kognitif yang didasari atas teori Piaget menyatakan bahwa siswa dalam segala usianya secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuannya sendiri (Ibrahim, 2000).

Adaptasi struktur problem based learning dalam kelas-kelas sains dilakukan dengan menjamin penerapan beberapa komponen penting dari sains. Empat penerapan esensial dari problem based learning adalah seperti diurutkan dalam Gallagher et.al (1995) adalah:

  • Orientasi siswa pada masalah

Pada saat mulai pembelajaran, guru menyampaikan tujuan pembelajaran secara jelas, menumbuhkan sikap positif terhadap pelajaran. Guru menyampaikan bahwa perlu adanya elaborasi tentang hal-hal sebagai berikut:

  • Tujuan utama dari pembelajaran adalah tidak untuk mempelajari sejumlah informasi baru, namun lebih kepada bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadikan pebelajar yang mandiri.
  • Permasalahan yang diselidiki tidak memiliki jawaban mutlak ”benar”. Sebuah penyelesaian yang kompleks memiliki banyak penyelesaian yang terkadang bertentangan.
  • Selama tahap penyelidikan dalam pembelajaran, siswa didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi dengan bimbingan guru.
  • Pada tahap analisis dan penyelesaian masalah siswa didorong untuk menyampaikan idenya secara terbuka.

Guru perlu menyajikan masalah dengan hati-hati dengan prosedur yang jelas untuk melibatkan siswa dalam identifikasi. Hal penting di sini adalah orientasi kepada situasi masalah menentukan tahap untuk penyelidikan selanjutnya. Oleh karena itu pada tahap ini presentasi harus menarik minat siswa dan menimbulkan rasa ingin tahu.

  • Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Problem based learning membutuhkan keterampilan kolaborasi diantara siswa menurut mereka untuk menyelidiki masalah secara bersama. Oleh karena itu mereka juga membutuhkan bantuan untuk merencanakan penyelidikan dan tugas-tugas belajarnya.

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar kooperatif juga berlaku untuk mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok problem based learning. Intinya di sini adalah guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang akan dipecahkan.

  • Membantu penyelidikan siswa

Pada tahap ini guru mendorong siswa untuk mengumpulkan data-data atau melaksanakan eksperimen sampai mereka betul-betul memahami dimensi dari masalah tersebut. Tujuannya agar siswa mengumpulkan cukup informasi untuk membangun ide mereka sendiri. Siswa akan membutuhkan untuk diajarkan bagaimana menjadi penyelidik yang aktif dan bagaimana menggunakan metode yang sesuai untuk masalah yang sedang dipelajari.

Setelah siswa mengumpulkan cukup data mereka akan mulai menawarkan penjelasan dalam bentuk hipotesis, penjelasan dan pemecahan. Selama tahap ini guru mendorong semua ide dan menerima sepenuhnya ide tersebut.

  • Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Pada tahap ini guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan hasil karya yang akan disajikan. Masing-masing kelompok menyajikan hasil pemecahan masalah yang diperoleh dalam suatu diskusi. Penyajian hasil karya ini dapat berupa laporan, poster maupun media-media yang lain.

  • Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Tahap akhir ini meliputi aktivitas yang dimaksudkan untuk membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri dan disamping itu juga mengevaluasi keterampilan penyelidikan dan keterampilan intelektual yang telah mereka gunakan.

3. Pembelajaran Learning Cycle

Salah satu tantangan besar yang dihadapi guru saat ini yakni bagaimana membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir (thinking skills), melangkah dari pengalaman konkret ke berpikir abstrak yang dapat menghasilkan “loncatan intuitif” melalui sebuah desain pembelajaran aktif. Piagetian-based education mengakui pentingnya menyiapkan lingkungan di mana anak dapat melangkah dari pengalaman konkret menuju ke menemukan konsep, dan  mengaplikasikan konsep. Mengetahui sebuah objek atau peristiwa, tidak sesederhana melihatnya dan menggambarkannya. Mengetahui objek berarti berbuat terhadapnya, memodifikasinya, mentransformasi dan memahami proses transformasinya, dan sebagai konsekuensi dari pemahaman terhadap objek adalah mengkontruksinya.

Pembelajaran meliputi tiga hal utama yaitu fakta, konsep dan nilai. Fakta-fakta yang dieksplorasi harus dapat dikonseptualisasi untuk melahirkan nilai-nilai yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Dengan demikian, ketika anak belajar maka sesungguhnya diharapkan dapat melatih dan mengembangkan skill belajar (soft skill) yang meliputi self management skills, thinking skills, research skills, communication skills, social skills, dan problem solving skills.

Dengan semakin meningkatnya tantangan kehidupan di masa depan, menuntut pengembangan teori dan siklus belajar secara berkesinambungan. Siklus belajar yang dikembangkan dalam sebuah sistem pembelajaran menentukan terbentuknya karakter yang diharapkan pada diri anak. Karakter berpikir yang kreatif dan membebaskan dapat menjadi modal utama bagi anak untuk menjadi manusia mandiri dalam kehidupan masa depan yang kompetitif. Proses pembelajaran yang berkarakter, membiasakan anak belajar dan bekerja terpola dan sistematis, baik secara individual maupun kelompok dengan lingkungan yang menyediakan ruang bagi anak untuk berkreasi dan mencipta.

Untuk membentuk karakter kreatif dan produktif menuju terciptanya kemandirian bagi anak, maka dikembangkan siklus belajar yang meliputi lima aspek pengalaman belajar sebagai berikut:

  1. Exploring, merespon informasi baru, mengeksplorasi fakta-fakta dengan petunjuk sederhana, melakukan sharing pengetahuan dengan orang lain, atau menggali informasi dari guru, ahli/pakar atau sumber-sumber yang lain.
  2. Planning, menyusun rencana kerja, mengidentifikasi alat dan bahan yang diperlukan, menentukan langkah-langkah, desain karya dan rencana lainnya.
  3. Doing/acting, melakukan percobaan, pengamatan, menemukan, membuat karya dan melaporkan hasilnya, menyelesaikan masalah.
  4. Communicating, mengkomunikasikan/mempresentasikan hasil percobaan, pengamatan, penemuan, atau hasil karyanya, sharing dan diskusi.
  5. Reflecting, mengevaluasi proses dan hasil yang telah dicapai, mencari kelemahan-kekurangan guna meningkatkan efektivitas perencanaan

Siklus Belajar (Learning Cycle) adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada pembelajar (student centered). Learning Cycle merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga pembelajar dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif. Learning Cycle pada mulanya terdiri dari fase-fase eksplorasi (exploration), pengenalan konsep (concept introduction), dan aplikasi konsep (concept application) (Karplus dan Their dalam Renner et al, 1988).

  • Fase exploration

Pada tahap eksplorasi, pembelajar diberi kesempatan untuk memanfaatkan panca inderanya semaksimal mungkin dalam berinteraksi dengan lingkungan melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum, menganalisis artikel, mendiskusikan fenomena alam, mengamati fenomena alam atau perilaku sosial, dan lain-lain.

  • Fase concept introduction / Expalanation

Pada fase explanation, guru harus mendorong peserta didik untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka, dan mengarahkan kegiatan diskusi.

  • Fase concept application (elaboration)

Peserta didik menerapkan konsep dan ketrampilan dalam situasi baru melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum lanjutan dan problem solving.

Berdasarkan tahapan-tahapan dalam metode pembelajaran bersiklus seperti dipaparkan di atas, diharapkan peserta didik tidak hanya mendengar keterangan guru tetapi dapat berperan aktif untuk menggali dan memperkaya pemahaman mereka terhadap konsep-konsep yang dipelajari. Metode pembelajaran problem solving akan dapat berhasil dengan baik jika diterapkan bersama-sama dengan metode learning cycle. Paduan kedua metode ini akan membawa peserta didik mencapai pengetahuannya dengan cara-cara yang sesuai dengan filsafat konstruktivisme.

4. Keterampilan Metakognisi

Metakognisi merupakan suatu istilah yang diperkenalkan oleh Flavell pada tahun 1976 dan menimbulkan banyak perdebatan pada pendefinisiannya. Flavell & Brown (Veenman, 2006) menyatakan bahwa metakognisi adalah pengetahuan (knowledge) dan regulasi (regulation) pada suatu aktivitas kognitif seseorang dalam proses belajarnya.

Namun belakangan ini, perbedaan paling umum dalam metakognisi adalah memisahkan pengetahuan metakognisi dari keterampilan metakognisi. Pengetahuan metakognisi mengacu kepada pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan kondisional seseorang pada penyelesaian masalah (Brown & DeLoache, 1978; Veenman, 2006). Sedangkan keterampilan metakognisi mengacu kepada keterampilan prediksi (prediction skills), keterampilan perencanaan (planning skills), keterampilan monitroring (monitoring skills), dan keterampilan evaluasi (evaluation skills).

Pengertian metakognisi yang dikemukakan oleh para pakar di atas sangat beragam, namun pada hakekatnya memberikan penekanan pada kesadaran berpikir seseorang tentang proses berpikirnya sendiri. Keterampilan metakognisi berkaitan dengan keterampilan perencanaan, keterampilan prediksi, keterampilan monitoring, dan keterampilan evaluasi.

Model problem solving dan learning cycle adalah alternatif model pembelajaran inovatif yang dikembangkan berlandaskan paradigma konstruktivistik. Esensi dari model pembelajaran tersebut adalah adanya reorientasi pembelajaran dari semula berpusat pada pengajar menjadi berpusat pada pebelajar. Model problem solving dan learning cycle memberikan peluang pemberdayaan potensi berpikir pebelajar dalam aktivitas-aktivitas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dalam konteks kehidupan dunia nyata yang kompleks :

Kerangka Berfikir

Kerangka pemikiran pembelajaran problem solving dan learning cycle adalah sebagai upaya meningkatkan keterampilan metakognisi peserta didik.

kerangka berfikir

Keterangan :

Keterampilan metakognisi peserta didik merupakan keterampilan berfikir dalam berfikir, dimana peserta didik tahu dan paham akan kemampuan dirinya sendiri. Sehingga peserta didik dapat mengatur atau memanajemen dirinya sendiri dimana hal ini akan mempengaruhi prestasi belajarnya. Dari bagan kerangka berpikir tersebut dapat ditunjukkan bagaimana metode pembelajaran problem solving dan learning cycle dapat meningkatkan keterampilan metakognisi peserta didik yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.

METODOLOGI

Jenis data, fakta atau informasi primer yang dikumpulkan berasal dari jurnal ilmiah, komunikasi pribadi dan focus group discussion (FGD). Data sekunder berupa buku, majalah atau lainnya. Beberapa artikel ilmiah ditelusur dengan menggunakan jasa penelusuran, yaitu melalui Google, sedangkan sebagian besar artikel ilmiah diperoleh dari internet.

Data dikumpulkan dari sumber-sumber bacaan berupa jurnal, majalah, buku, artikel ilmiah di internet, komunikasi pribadi dan sumber-sumber lain yang relevan dengan topik yang dibahas. Pada tahap ini data, fakta dan informasi dicari dan diidentifikasi. Data diseleksi, yang sesuai dengan topik tulisan dipisahkan dari yang tidak sesuai. Data yang sesuai dengan topik tulisan dipisahkan berdasarkan kesesuaiannya dengan sub-sub judul dalam kerangka tulisan.

Data, fakta atau informasi yang diperoleh kemudian dianalisis dengan analisis deskriptif dalam bentuk teks. Data yang telah diolah kemudian ditafsirkan dengan menggunakan metode analisis isi.

Analisis dilakukan dengan cara membandingkan intisari-intisari sumber bacaan sebagai hasil pengolahan dan penafsiran data, fakta atau informasi. Pada tahapan ini, dibandingkan pula antara data yang tersedia dengan teori-teori yang relevan. Berdasarkan hasil perbandingan tersebut, maka diungkap permasalahan-permasalahan, kelemahan-kelemahan, kelebihan-kelebihan atau manfaat-manfaatnya. Permasalahan yang ditemukan itu kemudian dicari alternatif pemecahannya. Disini, penulis juga mengemukakan argumentasi untuk mendukung alternatif pemecahan masalah yang penulis kemukakan.

ANALISIS DAN SINTESIS

Pendidikan adalah proses yang sangat kompleks, keberhasilan terselenggaranya suatu proses pendidikan di pengaruhi oleh tiga (3) faktor. Pertama Raw input, Environmental input, dan Instrumental input. Artinya untuk menghasilkan suatu lulusan, maka hasil dari output lulusan tersebut sangat dipengaruhi oleh ketiga faktor tersebut. Raw input berhubungan dengan masukan bahan mentah. Dalam hal ini yang dimaksud bahan mentah adalah peserta didik sebagai subyek dan obyek pembelajar. Environmental input berkaitan dengan faktor lingkungan dimana peserta didik tersebut melakukan proses belajar. Wujudnya bisa berupa lingkungan fisik maupun lingkungan psikologis. Baik lingkungan sekolah, masyarakat maupun lingkungan keluarga. Faktor ketiga adalah Instrumental input yaitu berkaitan dengan sarana-sarana pendukung seperti adanya guru, fasilitas dan sarana pendukung lainnya.

Keterampilan metakognisi merupakan bagian yang menjadi faktor keberhasilan pencapaian prestasi belajar peserta didik sebagai persiapan output pembelajaran. keterampilan metakognisi ini erat hubungannya dengan environmental input. Keterampilan ini bergantung pada pengalaman berfikir peserta didik sebagai faktor psikologis dalam menghadapi pemasalahan-permasalahan pembelajaran yang muncul dari lingkungan.

Untuk meningkatkan keterampilan metakognisi ini dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut : (a). Kenalan, yaitu peserta didik dikenalkan pada materi pelajaran yang mana akan menimbulkan keingintahuan peserta didik terhadap pelajaran, (b). Ajar, yaitu menyatakan cara untuk memperoleh keterampilan dari materi pelajaran dengan memberikan urutan langkah-langkah tertentu dan apa yang harus dilakukan dalam setiap langkah, (c). Demonstrasi, menunjukkan keterampilan yang diperoleh dari proses ajar dan langkah-langkah penyelesaian permasalahan merujuk dari contoh tertentu, (d). Aplikasi, mengaplikasikan keterampilan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, (e). Refleksi, peserta didik merefleksi tentang keterampilan yang digunakan.

Dan metode pembelajaran yang tepat untuk merefleksikan tahapan-tahapan tersebut yaitu metode pembelajaran learning cycle dan problem solving .

1. Analisis Berdasarkan Metode Pembelajaran Problem Solving

Pembelajaran sangat erat kaitannya dengan sebuah permasalahan yang setiap peserta didik wajib memecahkan permasalahan tersebut untuk mencapai suatu proses belajar yang optimal dan prestasi belajar yang terbaik. Sehubungan dengan hal ini problem solving merupakan metode pembelajaran yang tepat.

Metode pembelajaran problem solving memiliki sejumlah karateristik yang membedakannya dengan model pembelajaran yang lainnya yaitu 1) pembelajaran bersifat student centered, 2) pembelajaran terjadi pada kelompok-kelompok kecil, 3) dosen atau guru berperan sebagai fasilitator dan moderator, 4) masalah menjadi fokus dan merupakan sarana untuk mengembangkan ketrampilan problem solving, 5) informasi-informasi baru diperoleh dari belajar mandiri (self directed learning).

Problem solving memiliki tahapan-tahapan pembelajaran mulai dari mengidentifikasi masalah, menentukan altenatif solusi, menganalisis masing-masing solusi dan berbagai kemungkinannya, memilih solusi, mengimplementasikan solusi tersebut dan pada akhirnya mengevaluasi hasil yang ditimbulkan oleh solusi itu. Dari tahap-tahap inilah maka peserta didik dituntut untuk berfikir secara sistematis, aktif, dan solutif .

Problem solving sangat berhubungan dengan pembelajaran learning cycle. Hanya saja problem solving lebih menekankan pada solusi yang solutif dari permasalahan riil yang terjadi. Dengan kata lain pembelajaran problem solving dapat menguji kesadaran berfikir seseorang tentang proses berpikirnya sendiri yang sering disebut dengan keterampilan metakognisi. Dimana hal ini dapat meningkatkan prestasi belajar.

2. Analisis Berdasarkan Metode pembelajaran learning cycle

Tahap-tahap pembelajaran learning cycle terbagi menjadi 3 fase yaitu Fase exploration, yang diharapkan dapat menimbulkan ketidakseimbangan dalam struktur mental peserta didik (cognitive disequilibrium) yang ditandai dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada berkembangnya daya nalar tingkat tinggi (high level reasoning) yang diawali dengan kata-kata seperti mengapa dan bagaimana. Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus merupakan indikator kesiapan peserta didik untuk menempuh fase kedua yaitu fase concept introduction / Expalanation. Pada fase ini diharapkan terjadi proses menuju kesetimbangan antara konsep-konsep yang telah dimiliki pembelajar dengan konsep-konsep yang baru dipelajari melalui kegiatan-kegiatan yang membutuhkan daya nalar seperti menelaah sumber pustaka dan berdiskusi. Dan pada fase terakhir yaitu fase concept application (elaboration), peserta didik diajak menerapkan pemahaman konsepnya melalui kegiatan-kegiatan seperti problem solving (menyelesaikan problem-problem nyata yang berkaitan) atau melakukan percobaan lebih lanjut. Penerapan konsep dapat meningkatkan pemahaman konsep dan motivasi belajar, karena pembelajar mengetahui penerapan nyata dari konsep yang mereka pelajari.

Dari tahapan-tahapan diatas menunjukan bahwa proses pembelajaran learning cycle merupakan cerminan dari tahapan-tahapan yang dapat meningkatkan keterampilan metakognisi. Tahapan exploration merupakan wujud dari kenalan, tahapan concept introduction / Expalanation merupakan ajar dan demonstrasi sedangkan pada tahapan concept application (elaboration) adalah tahap aplikasi dan refleksi. Sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.

KESIMPULAN

Berdasar pembahasan di atas, penulis dapat menyimpulkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Pengetahuan dan keterampilan metakognisi sangat penting untuk ditingkatkan, karena keterampilan metakognisi berperan dalam keberhasilan peserta didik mencapai prestasinya.
  2. Guru perlu terus belajar untuk menemukan metode-metode pembelajaran yang dapat meningkatkan ketrampilan metakognisi peserta didik, di antaranya metode problem solving dan learning cycle.
  3. Pembelajaran problem solving dapat meningkatkan keterampilan metakognisi peserta didik karena peserta didik diajak untuk selalu berpikir mandiri dalam mencari solusi sebuah permasalahan. Pembelajaran learning cycle dapat meningkatkan keterampilan metakognisi peserta didik karena pembelajaran merupakan cerminan dari tahapan-tahapan proses berpikir mandiri, kreatif dan aktif. Paduan keduanya akan membawa keberhasilan meningkatkan ketrampilan metakognisi dan pada gilirannya dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

SARAN

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis memiliki beberapa saran dan rekomendasi hal-hal sebagai berikut :

  1. Kurikulum pendidikan di Indonesia seharusnya lebih memperhatikan keterampilan metakognisi peserta didik.
  2. Pendidik diharapkan menggunakan metode pembelajaran yang menekankan

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, dan Supardi, 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, Bina Aksara

Budimansyah, Dasim, 2010, Model Pembelajaran dan Penelian Tindakan Kelas, Bandung, PT. Genesindo

Baharuddin & Esa Nur Wahyuni. 2011. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Ar-Ruzz Media

Erman Suherman dkk. 2012. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: UPI

Aisyah . N 2007 .Pendekatan Pemecahan Masalah Matematika . Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta Press

Huda , M .2015 .Cooperative Learning ( Metode, Tehnik, Struktur dan Model Penerapan ).Yogyakarta : Pustaka Pelajar

BIO DATA

Nama : Drs Solikhin

NIP : 196801291998021003

Jabatan : Guru Madya ( Guru Matematika )

Pangkat, Golongan : Guru Pembina, IV/a

Unit Kerja : SMA Negeri 1 Jeruklegi

You cannot copy content of this page