Iklan

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS 1 SD NEGERI 1 MAKAM

Rasmiyati, S.Pd.SD.

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Student Teams Achievement Divison (STAD) dalam pembelajaran tematik kelas 1 SD Negeri 1 Makam. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Model penelitian yang digunakan adalah model siklus Stephen Kemmis dan Mc Taggart yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, tindakan, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 1 SD N 1 Makam, yang berjumlah 17 siswa, terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 4 siswa perempuan. Objek penelitian adalah motivasi belajar siswa dalam pembelajaran tematik. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, angket, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa dalam pembelajaran kelas 1 SD Negeri Makam meningkat setelah diberikan tindakan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif STAD. Rata-rata motivasi belajar siswa berdasarkan hasil observasi setelah diberikan tindakan pada siklus I adalah 55,03% dan pada siklus II adalah 76,37%. Kemudian rata-rata motivasi belajar siswa berdasarkan hasil angket setelah diberikan tindakan pada siklus I adalah 67,87% masuk kategori sedang dan pada siklus II adalah 80,91% masuk kategori tinggi. Rata-rata motivasi belajar tersebut sudah sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditentukan oleh peneliti.

Kata kunci: Model Pembelajaran Kooperatif Student Teams Achievement Division (STAD), Motivasi Belajar

Pendahuluan

Perkembangan dunia kini sangat berdampak pada berbagai aspek kehidupan, baik dari segi sosial, budaya, teknologi, ilmu pengetahuan maupun aspek lain. Dari segi ilmu pengetahuan tentunya tidak dapat terlepas dari dunia pendidikan. Dunia pendidikan inilah yang nantinya dapat menciptakan manusia-manusia yang dapat berperan dalam perkembangan dunia di masa sekarang dan masa datang. Perkembangan dunia yang sangat cepat mengakibatkan dibutuhkannya manusia unggul dan berkualitas, karena jika aspek tersebut ditinggalkan maka dapat mengakibatkan kalah bersaing dengan manusia lain.

Di Indonesia sendiri sangat dibutuhkan manusia yang unggul dan berkualitas agar tidak kalah bersaing dengan negara lain. Untuk mendapatkan manusia yang unggul dan berkualitas tinggi salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan merupakan suatu proses bertahap dan berkelanjutan untuk membentuk dan mengembangkan akhlak dan intelektual seseorang. Pendidikan yang berkualitas tinggi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Untuk mendapatkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas tinggi ini maka perlu untuk terus meningkatkan sistem dan mutu pendidikan yang ada di Indonesia. Pendidikan yang ada harus sesuai dengan yang telah dirumuskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 Tahun 2007 tentang standar proses, menyatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan dilaksanakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.

Salah satu yang diamanatkan dalam standar proses tersebut adalah pembelajaran dilaksanakan dengan memotivasi siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Menurut Hamzah B. Uno (2016: 1) motivasi adalah kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa motivasi sebagai proses mempengaruhi seseorang agar melakukan sesuatu yang diinginkan.

Sardiman (2011: 75) mengemukakan bahwa motivasi belajar merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Peranan motivasi ini dapat berupa penumbuhan gairah, merasa senang dan bersemangat untuk belajar. Menurut Ngalim Purwanto (2014: 71) motivasi adalah “pendorongan” suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas 1 SD Negeri 1 Makam, belum muncul motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. Banyak siswa yang kurang memperhatikan penjelasan dari guru dan berbicara sendiri dengan temannya. Belum terlihat interaksi dua arah yang terjadi antara guru dan siswa. Perlu ada tindakan untuk meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran, agar kualitas dan hasil pembelajaran menjadi baik.

Motivasi belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran akan muncul jika ada rangsangan, baik dari dalam maupun luar. Rangsangan dari luar salah satunya adalah dari guru. Dalam hal ini perlu adanya peran dari guru untuk menciptakan pembelajaran yang merangsang tumbuhnya motivasi belajar siswa. Guru hendaknya melibatkan siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran jangan hanya menggunakan metode ataupun model tradisional yang monoton, sehingga siswa menjadi termotivasi dalam mengikuti pembelajaran.

Tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas 1 SD Negeri 1 Makam adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Student Teams Achievement Division (STAD). Pembelajaran kooperatif STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas Johns Hopkins pada tahun 1980, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang sederhana dan mudah diterapkan oleh guru.

Arends & Kilcher (2010: 317) mengemukakan bahwa STAD adalah pendekatan lain untuk belajar bersama. STAD melibatkan siswa bekerja sama dalam kelompok dan kelompok yang bersaing satu sama lain. Cohen, et al (2004: 85) mengemukakan bahwa STAD merupakan salah satu dari pendekatan kooperatif, dan berdasarkan penelitiannya STAD kuat dalam meningkatkan prestasi belajar, motivasi, dan hubungan antar anggota group dari berbagai macam kultural.

Komponen-komponen pembelajaran STAD dalam penelitian ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Slavin (1995: 71) antara lain:

Presentasi kelas

Dalam STAD materi diawali dengan pengenalan. Pengenalan tersebut dengan menggunakan pengajaran langsung seperti yang sering kali dilakukan atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru. Pada saat presentasi kelas siswa harus benar-benar memperhatikan karena ini dapat membantu mereka mengerjakan kuis dengan baik, karena nilai kuis yang baik menentukan nilai kelompok.

Tim (Kelompok)

Anggota kelompok terdiri dari 4-5 orang siswa yang heterogen baik dalam kemampuan, jenis kelamin, maupun etnik. Setelah guru menyampaikan materi, tim berkumpul untuk mempelajari dan menyelesaikan lembar kegiatan. Tim sangat penting dalam pembelajaran STAD, dimana yang ditekankan adalah membuat anggota kelompok melakukan yang terbaik untuk kelompoknya. Disini peran ketua kelompok memotivasi teman-temannya agar kelompok benar-benar memberikan sesuatu yang berarti bagi siswa secara individu. Jika ada kesulitan, siswa yang merasa mampu membantu siswa yang mengalami kesulitan. Dalam kelompok siswa mendiskusikan masalah, membandingkan jawaban, dan meluruskan jika ada anggota kelompok yang mengalami kesalahan konsep.

Tes/Kuis

Setelah presentasi kelas dan diskusi kelompok dilakukan, siswa menyelesaikan soal tes indivisual. Saat menjawab tes tidak diperkenankan untuk saling membantu. Hal ini dilakukan untuk mengetahui gambaran siswa secara individual mengenai pemahaman terhadap materi yang didiskusikan.

Skor Kemajuan Individu

Setiap anggota kelompok diharapkan mencapai skor tes/kuis yang tinggi karena skor ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok. Perhitungan skor individu digunakan untuk menentukan nilai perkembangan individu yang akan disumbangkan sebagai skor kelompok. Nilai perkembangan individu dihitung berdasarkan selisih perolehan skor tes terdahulu dengan skor tes akhir.

Penghargaan Tim (Kelompok)

Kelompok yang mencapai rata-rata skor tertinggi diberikan penghargaan. Skor dihitung berdasarkan rata-rata nilai perkembangan yang disumbangkan anggota kelompok. Berdasarkan nilai rata-rata perkembangan yang diperoleh, terdapat tiga tingkatan penghargaan yang diberikan untuk penghargaan kelompok.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah PTK (Penelitian Tindakan Kelas) atau Classroom Action Research. Suharsimi Arikunto (2010: 130) menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap suatu kegiatan yang sengaja dimunculkan, dan terjadi dalam sebuah kelas.

Dalam penelitian ini model penelitian yang dipilih adalah model siklus Kemmis-Taggart yang terdiri dari empat tahapan. Kemmis dan Mc Taggart (Suharsimi Arikunto, 2010: 132) menjelaskan empat tahapan tersebut berlangsung dalam suatu siklus/ tahapan penelitian tindakan kelas yaitu:

Perencanaan atau planning

Perencanaan menjelaskan mengenai apa, kapan, dimana dan oleh siapa dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Perencanaan ini dilakukan secara berpasangan antara peneliti dan kelas.

Tindakan atau action

Tindakan merupakan penerapan isi rancangan dalam melakukan tindakan di kelas. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap ini pelaksana guru harus taat pada apa yang dirumuskan dalam rancangan.

Pengamatan atau observing

Merupakan palaksanaan pengamatan oleh pengamat. Pengamatan dan tindakan berlangsung dalam waktu yang sama. Sambil mengamati pengamat mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi.

Refleksi atau reflecting

Refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakakan kembali apa yang sudah terjadi. Istilah “refleksi” sebetulnya lebih tepat dikenakan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan. Refleksi merupakan bagian yang amat penting untuk memahami dan memberikan makna terhadap proses dan hasil (perubahan) yang terjadi. Adapun kegiatan yang dilakukan pada saat merefleksi adalah melakukan analisis dan mengevaluasi data yang diperoleh.

Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian adalah di kelas1 (satu) SD N 1 Makam Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga. Adapun penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun ajaran 2019/2020, tepatnya pada bulan Februari 2020.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 1 SD N 1 Makam Rembang Purbalingga, yang banyaknya 17 siswa, terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 4 siswa perempuan.

Objek Penelitian

Obyek dalam penelitian ini adalah motivasi belajar siswa yang ditingkatkan dalam proses belajar melalui model pembelajaran kooperatif STAD pada siswa kelas 1 SD N 1 Makam Rembang Purbalingga.

Prosedur Penelitian

Penelitian dilakukan dengan kerjasama atau penelitian kolaboratif, yaitu penelitian ini tidak dilakukan sendiri, namun membutuhkan bantuan guru kelas lain. Adapun tahap-tahap penelitian adalah sebagai berikut:

Persiapan

Kegiatan dalam persiapan meliputi:

  1. Permohonan ijin pelaksanaan penelitian kepada kepala sekolah SD Negeri 1 Makam.
  2. Observasi dan angket dilakukan untuk mengetahui motivasi belajar siswa awal.
  3. Mengidentifikasi masalah yang terjadi dalam pembelajaran.

Tindakan dalam penelitian ini dilakukan dalam siklus sesuai dengan model itu penelitian yang digunakan yaitu model Kemmis dan Mc.Taggart. Siklus I dilaksanakan dalam dua pertemuan. Kegiatan dalam siklus I ini diantaranya:

Perencanaan Tindakan

Rencana penelitian ini berupa rencana pelaksanaan yang dilakukan oleh peneliti. Berdasarkan observasi dan rumusan hipotesis maka untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di kelas tersebut, peneliti menggunakan keterampilan memberikan penguatan yang belum diterapkan secara optimal untuk meningkatkan motivasi pada kelas 1 SD Negeri 1 Makam.

Sebelum melaksanakan tindakan peneliti melakukan observasi untuk mengetahui motivasi dan hasil belajar siswa sebelum diberikan tindakan. Tindakan yang dilakukan peneliti adalah dengan mengoptimalkan penerapan STAD sebagai langkah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Peneliti membahas rancangan tindakan yang diberikan yaitu : topik, permasalahan, perlakuan, strategi, pembelajaran, aktivitas siswa, hal-hal yang akan diobservasi dan evaluasi kegiatan. Secara terinci persiapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
  2. Mempersiapkan Lembar kerja siswa (LKS)
  3. Mempersiapkan lembar observasi motivasi belajar siswa
  4. Mempersiapkan lembar observasi guru dalam menerapkan pembelajaran STAD
  5. Mempersiapkan angket motivasi belajar siswa

Pelaksanaan

Tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu melakukan tindakan pembelajaran di kelas. Selama proses pembelajaran berlangsung, guru mengajar dengan menggunakan RPP yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan tindakan dilakukan dengan fleksibel dan terbuka dalam arti pelaksanaan kegiatan pembelajaran tidak harus terpaku sepenuhnya pada RPP, akan tetapi dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan perubahan-perubahan yang sekiranya diperlukan.

Observasi

Observasi dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Observasi ini bertujuan untuk mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan oleh peneliti.

Refleksi

Refleksi merupakan pengkajian data yang telah diperoleh setelah diberikan tindakan. Peneliti melakukan refleksi dan mempersiapkan siklus selanjutnya.

Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini dengan observasi dan angket kepada siswa, observasi kepada guru, dan dokumentasi.

Instrumen Penelitian

Lembar Observasi

Suharsimi Arikunto (2010: 199) mengatakan bahwa observasi dapat melihat dengan keseluruhan indra (penglihatan, penciuman, peraba, dan pengecap). Apa yang dikatakan ini sebenarnya adalah pengamatan langsung. Lembar observasi ini berisi mengenai observasi aktivitas guru dalam menerapkan model pembelajaran STAD dalam pembelajaran dan observasi motivasi belajar siswa.

Angket

Suharsimi Arikunto ( 2010 : 124) menjelaskan bahwa kuisioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Angket yang digunakan oleh peneliti merupakan angket langsung.

Dokumentasi

Suharsimi Arikunto (2010: 201) mengatakan bahwa dokumentasi merupakan langkah yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan data seseorang melalui benda benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, catatan harian dan sebagainya. Dokumentasi ini bermanfaat untuk menambah pemahaman atau informasi yang diperlukan dalam penelitian.

Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh peneliti dilapangan dianalisis secara kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Rincian analisis data dari sumber penelitian adalah sebagai berikut

Data dari hasil observasi

Data hasil observasi motivasi belajar siswa dianalisis menggunakan statistik deskriptif kuantitatif yang merujuk pada pendapat Suharsimi Arikunto (2010: 187-189). Setiap siswa diamati sesuai dengan indikator dalam melakukan observasi. Setiap siswa diberikan skor 1 jika melakukan tindakan yang diharapakan yang dalam indikator. Hasil skor kemudian dijumlahkan lalu dibagi skor maksimal kemudian dikalikan 100%. Berikut merupakan rumus dari analisis hasil observasi.

r = rerata skor yang diperoleh

Hasil dari rerata tiap indikator tersebut kemudian direrata secara total yang menghasilkan skor rerata motivasi.

r∑ = skor rerata motivasi

Presentase kemudian dikatagorikan dengan klasifikasi seperti berikut.

Tabel 1. Klasifikasi Hasil Observasi

Skor Siswa Katagori
0 – 19 % Kurang
20 – 39 % Cukup
40 – 59 % Sedang
60 – 79 % Baik
80 – 100% Sangat Baik

Analisis data Hasil Angket

Data angket dianalisis secara destriptif kuantitatif Merujuk pada pendapat Suharsimi Arikunto (2010: 191-193). Siswa yang menjawab dengan jawaban “Ya” mendapat skor 1 dan jawaban “Tidak” diberikan skor 0. Hasil skor kemudian dijumlahkan lalu dibagi skor maksimal kemudian dikalikan 100% untuk setiap anak. Berikut rumusnya:

r = rerata skor yang diperoleh

Hasil dari perhitungan diatas, kemudian diklarifikasikan pada tebel di bawah ini.

Tabel 2. Klasifikasi Skor Hasil Angket

Skor Siswa Katagori
0 – 19 % Kurang
20 – 39 % Cukup
40 – 59 % Sedang
60 – 79 % Baik
80 – 100% Sangat Baik

Dokumentasi

Dokumentasi dilakukan dengan mengambil foto pada saat proses pembelajaran berlangsung. Foto menjadi perangkat utama untuk merekam kejadian-kejadian penting di ruang kelas.

Kriteria Keberhasilan

Komponen-komponen yang menjadi Indikator keberhasilan dalam penelitian ini yang merupakan indikator tercapainya kualitas pembelajaran adalah diterapakannya model pembelajaran kooperatif STAD dengan baik dan adanya peningkatan motivasi belajar siswa. Penelitian dikatakan berhasil apabila terjadi peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 dan motivasi belajar siswa masuk kategori tinggi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dekripsi Hasil Penelitian

Siklus I

Berdasarkan observasi yang dilakukan di siklus I, didapatkan hasil bahwa motivasi siswa siklus I terdapat peningkatan yaitu dari 50,41 % pada pertemuan pertama menjadi 59,66 % pada pertemuan kedua. Berarti terdapat peningkatan motivasi belajar sebesar 9,25 %. Jadi dalam dua pertemuan pada siklus 1 terjadi peningkatan motivasi siswa, akan tetapi dari hasil pengamatan tersebut belum sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditentukan oleh peneliti.

Tabel 3. Hasil Observasi Motivasi Belajar Siswa Siklus 1

No. Aktivitas yang Diamati Pertemuan 1 Pertemuan 2
Jumlah Jumlah
Siswa % Siswa %
1 Memperhatikan penjelasan guru 14 82,35 15 88,23
2 Mengajukan pertanyaan 2 11,76 3 17,64
3 Menjawab pertanyaan atau mengemukakan pendapat 4 23,52 7 41,17
4 Mengerjakan tugas kelompok (LKS) 17 100 17 100
5 Menunjukkan ekspresi yang ceria 7 41,17 9 52,94
6 Terlihat sungguh-sungguh mengerjakan tugas 9 52,94 11 64,70
7 Mengacungkan tangan saat guru memberikan pertanyaan 7 41,17 9 52,94
Rata-rata Motivasi siswa (%) 50,41 59,66

Kemudian berdasarkan hasil angket motivasi belajar, dapat dikatagorikan menjadi tiga kategori yaitu kategori rendah diantara rentang 0%-60%, sedang yaitu 60%-80% dan tinggi 80%-100%. Berdasarkan hasil angket yang diberikan kepada siswa pada sisklus 1, rata-rata motivasi belajar siswa adalah 67,87% yang masuk pada kategori sedang.

Tabel 4. Pengkategorian Hasil Angket Motivasi Belajar Siswa Siklus 1

siklus I Keterangan
Kategori Jumlah siswa %
˂ 60% 4 23,52 Rendah
60 – 80% 11 64,70 Sedang
80 – 100% 2 11,76 Tinggi

Dari angket tersebut dapat dilihat bahwa dari keseluruhan siswa terdapat 4 ( 23,52 %) siswa dalam kategori rendah, sedangkan dalam kategori sedang terdapat 11 (64,70 %) siswa, dan untuk kategori tinggi terdapat 2 (11,76 %) siswa. Dalam pelaksanaan siklus pertama yang dilakukan dalam dua kali pertemuan ini, masih didominasi oleh siswa yang berada pada kategori sedang yaitu sebanyak 11 siswa. Dari angket yang diberikan kepada seluruh siswa didapatkan bahwa rata-rata motivasi belajar masih dalam kategori sedang, sehingga kriteria keberhasilan belum terpenuhi.

Siklus II

Berdasarkan hasil observasi di siklus II didapatkan hasil bahwa motivasi belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran mengalami peningkatan yaitu dari 71,42 % menjadi 81,51 %. Berarti terdapat peningkatan motivasi belajar sebesar 10,09 %. Jadi dalam dua pertemuan pada siklus kedua, terjadi peningkatan motivasi siswa.

Tabel 5. Hasil Observasi Motivasi Belajar Siswa Siklus II

No. Aktivitas yang Diamati Pertemuan 1 Pertemuan 2
Junlah Junlah
Siswa % Siswa %
1 Memperhatikan penjelasan guru 17 100 17 100
2 Mengajukan pertanyaan 4 23,52 5 29,41
3 Menjawab pertanyaan atau mengemukakan pendapat 10 58,82 13 76,47
4 Mengerjakan tugas kelompok (LKS) 17 100 17 100
5 Menunjukkan ekspresi yang ceria 12 70,58 14 82,35
6 Terlihat sungguh-sungguh mengerjakan tugas 13 76,47 15 88,23
7 Mengacungkan tangan saat guru memberikan pertanyaan 12 70,58 16 94,11
Rata-rata motivasi siswa (%) 71,42 81,51

Kemudian berdasarkan hasil angket yang diberikan kepada siswa pada sisklus II, dapat dikatagorikan menjadi tiga kategori yaitu kategori rendah diantara rentang 0%-60%, sedang yaitu 60%-80% dan tinggi 80%-100%. Berdasarkan hasil angket yang diberikan kepada siswa pada sisklus II, rata-rata motivasi belajar siswa adalah 80,91% yang masuk pada kategori tinggi.

Tabel 6. Pengkategorian Hasil Angket Motivasi Belajar Siswa Siklus II

siklus II Keterangan
Kategori jumlah siswa %
˂ 60% 1 5,88 Rendah
60 – 80% 4 23,52 Sedang
80 – 100% 12 70,58 Tinggi

Dari angket tersebut dapat dilihat bahwa dari keseluruhan siswa terdapat ( 5,88 %) siswa dalam kategori rendah, sedangkan dalam kategori sedang terdapat 4 (23,52 %) siswa, dan untuk kategori tinggi terdapat 12 (70,58 %) siswa. Dalam pelaksanaan siklus kedua yang dilakukan dalam dua kali pertemuan sudah terdapat peningkatan motivasi belajar siswa, dengan rata-rata motivasi belajar massuk kategori tinggi. Dengan demikian kriteria keberhasilan di siklus II sudah terpenuhi.

Pembahasan

Tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan motivasi siswa adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD. Penelitian yang dilakukan ini memfokuskan pembelajaran tematik kelas 1, subtema 2. Langkah pembelajaran STAD dalam penelitian ini adalah pembagian kelompok, penyampaian materi secara singkat oleh guru, kelompok mendiskusikan LKS, presentasi kelompok, kuis individu, penghitungan skor kemajuan siswa, dan penghargaan.

Hasil pengamatan observasi pertama menunjukkan bahwa rata-rata motivasi siswa masih ada yang rendah. Banyak siswa yang kurang memepunyai inisiatif untuk menjawab dan kurang mempunyai greget dalam mengikuti pelajaran. Pada pertemauan kedua, terjadi penigngkatan rata-rata motivasi siswa. Jumlah siswa yang menjawab pertanyaan dengan sukarela bertambah jumlahnya. Melalui angket yang dibagikan kepada siswa menunjukkan terjadinya peningkatan motivasi siswa. Siswa lebih termotivasi dalam pembelajaran disetiap pertemuan pada siklus I.

Pada siklus II motivasi siswa mulai lebih terlihat. Siswa terlihat ceria dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Perhatian siswa dalam pembelajaran dan menanggapi kegiatan terlihat serius namun dalam suasana yang menyenangkan. Pada siklus dua ini siswa lebih tertarik karena pembelajaran yang divariasikan, serta pemberian penghargaan yang lebih banyak intensitasnya.

Penggunaan model pembelajaran kooperatif STAD pada pembelajaran tematik kelas 1 dapat meningkatkan motitivasi belajar siswa. Peningkatan motivasi siswa dalam dua siklus dapat dilihat dari observasi dan angket kepada siswa.

Hasil penelitian tindakan pada siklus I dan siklus II menunjukkan peningkatan yang signifikan. Dilihat dari hasil obsevasi dan angket motivasi belajar siswa, terjadi peningkatan pada siklus I dan siklus II. Pada kondisi awal sebelum tindakan, motivasi belajar siswa masuk dalam kategori rata-rata rendah. Setelah dilakukan tindakan, pada siklus I motivasi belajar siswa naik, dari yang sebelumnya rata-rata rendah menjadi rata-rata sedang. Kemudian pada siklus II, motivasi belajar siswa dalam kategori tinggi.

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian tersebut, maka penelitian dapat dikatakan berhasil. Penerapan model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran tematik siswa kelas 1 SD Negeri 1 Makam.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dari hasil penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar siswa pada pembelajaran tematik kelas 1 di SD Negeri 1 Makam dapat ditingkatkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD. Hasil rata-rata observasi (pengamatan) dan angket terhadap motivasi belajar siswa setelah dilakukan tindakan pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan.

Rata-rata hasil observasi pada siklus I mencapai 55,03 % dan pada siklus II mencapai 76,37%. Hasil observasi (pengamatan) tersebut menunjukkan bahwa rata-rata motivasi siswa berada pada katagori baik. Sementara dari hasil angket, motivasi belajar siswa pada siklus I adalah 23,52 % dalam kategori rendah, 64,70 % dalam kategori sedang, dan 11,76 % dalam kategori tinggi. Rata-rata motivasi belajar siswa pada siklus I masih berada pada kategori sedang. Kemudian, hasil angket pada siklus II motivasi belajar siswa adalah 5,88% dalam kategori rendah, 23,52% dalam kategori sedang, dan 70,58% dalam kategori tinggi. Rata-rata motivasi belajar siswa pada siklus II sudah masuk pada kategori tinggi.

Saran

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, terjadi peningkatan motivasi belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif STAD. Peneliti menyarankan agar pembelajaran kooperatif STAD dapat diterapkan oleh guru lain sebagai salah satu model pembelajaran yang dapat membuat siswa termotivasi dalam mengikuti pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Arrends, I. R., & Kilcher, A. (2010). Teaching for student learning: becoming an accomplished teacher. New York, NY: Routledge.

Cohen, E. G., Brody, C. M., & Shevin, M. S. (2004). Teaching cooperative learning “the challenge for teacher education”. New York: State University of New York Press.

M. Ngalim Purwanto. (2014). Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Permendikbud No. 41 Tahun 2007 tentang standar proses.

Sardiman, A. M. (2011). Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Slavin, R. E. (1995). Cooperative learning: Theory, research, and practice (2th ed.). London: Allyn and bacon.

Suharsimi Arikunto. (2010). Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik). Jakarta: Rieneka Cipta.

Uno, H. B. (2016). Teori motivasi dan pengukurannya analisis bidang pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Biodata

Nama : Rasmiyati, S.Pd.SD.

NIP : 19680415 198811 2 001

Jabatan : Guru Kelas 1

Unit Kerja : SD Negeri 1 Makam, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga

You cannot copy content of this page