Iklan

PENERAPAN MODEL PBL (PROBLEM BASED LEARNING) DALAM PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR PADA SISWA KELAS V SD NEGERI TLOGOWULUNG KECAMATAN ALIAN TAHUN AJARAN 2016/2017

Dwi Yantiningsih, S.Pd.SD

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model PBL (Problem Based Learning) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis IPA dan hasil belajar pada siswa kelas V SDN Tlogowulung Kecamatan Alian tahun ajaran 2016/2017. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus ditempuh melalui empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas V SD Negeri TlogowulungTahun Pelajaran 2016/2017 sebanyak 24 siswa, terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 11siswa perempuan.

Penerapan model PBL (Problem Based Learning) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis IPA pada siswa kelas V SDN Tlogowulung Kecamatan Alian tahun ajaran 2016/2017. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan berpikir kritis IPA setiap siklus mengalami peningkatan. Pada konisi awal kemampuan berpikir kritis IPA hanya sebesar 62,5% atau nilainya 2,5 dengan kategori cukup. Pada siklus I, mengalami peningkatan sebesar 79,2% atau nilai 3,2 yang dikategorikan baik. Sedangkan pada siklus II peningkatan berpikir kritis IPA mengalami peningkatan signifikan sebesar 91,7% atau nilai 3,7 dengan kata lain hampir semua siswa mengalami peningkatan berpikir kritis IPA.

Penerapan model PBL (Problem Based Learning) dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas V SDN Tlogowulung Kecamatan Alian tahun ajaran 2016/2017. Hasil pretes siswa diperoleh nilai rata-rata sebesar 61,67. Jumlah siswa tuntas sebanyak 6 siswa (25%). Pada siklus I rata-ratanya sebesar 70,75. Jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar menjadi 15siswa (62,5%). Siswa yang belum tuntas mengalami penurunan dari yang semula 18 siswa (75%) menjadi 9 siswa (37,5%). Hasil evaluasi siklus II diperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 86. Jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar juga mengalami kenaikan dari yang sebelumnya 15 siswa (62,5%) pada siklus I menjadi 24 siswa (100%) pada siklus II. Siswa yang belum tuntas menjadi tidak ada (0%) pada siklus II.

Kata kunci: Model PBL, berpikir kritis dan hasil belajar

PENDAHULUAN

Menteri Pendidikan Nasional menjelaskan ada beberapa kompetensi yang terkait dengan penguasaan keterampilan berpikir kritis, yaitu bahwa lulusan harus dapat: (1) membangun, menggunakan dan menerapkan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif, (2) menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, (3) menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya, (4) menunjukkan kemampuan memecahkan masalah, (5) menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar, dan (6) menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya (2006: 3).

IPA merupakan kumpulan pengetahuan dapat berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan model yang biasa disebut produk. Selain itu yang paling penting dalam IPA adalah proses dalampembelajaran. Selain memberikan bekal ilmu kepada siswa, mata pelajaran IPA merupakan wahana untuk menumbuhkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian IPA tersebut sesuai dengan pendapat Sulistyorini yang menyatakan bahwa,“Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan sistematis pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan” (2007: 39).

IPA dibedakan atas dua unsur, yaitu hasil IPA dan cara kerja memperoleh hasil itu. Hasil produk IPA berupa fakta-fakta seperti hukum-hukum, prinsip-prinsip, klasifikasi, struktur dan lain sebagainya. Cara kerja memperoleh hasil itu disebut proses IPA. Dalam proses IPA terkadung cara kerja, sikap dan cara berfikir. Kemajuan IPA yang pesat terjadi oleh proses ini. Dalam memecahkan suatu masalah, seorang ilmuan sering berusaha mengambil suatu masalah yang memungkinkan usaha mencapai hasil yang diharapkan. Sikap ini dikenal dengan sikap ilmiah. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu pembelajaran wajib yang diberikan dari tingkat sekolah dasar. IPA merupakan cabang ilmu yang terkait dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, melalui proses penemuan. Sehingga seharusnya pembelajaran IPA dapat dilakukan sedemikian rupa sehingga para siswa dapat memiliki pengalaman bagaimana menemukan suatu konsep. Bila hal tersebut dilakukan akan menstimulus perkembangan keterampilan berpikir kritis siswa.

Kenyataan umum yang dijumpai pada siswa kelas V SD Negeri Tlogowulung Kecamatan Alian tahun ajaran 2016/2017 menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis IPA siswa kelas masih rendah. Rendahnya kemampuan berpikir kritis IPA tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: (1) model pembelajaran yang belum sesuasi karena guru lebih sering menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran karena terbatasnya waktu dan biaya, (2) siswa belum siap memulai pembelajaran walaupun materi pelajaran yang akan diajarkan sudah diberitahukan terlebih dahulu, 3) aktivitas siswa dalam proses pembelajaran masih rendah, (4) aktivitas belajar di luar jam sekolah juga belum maksimal terlihat dari aktivitas belajar siswa yang terjadi ketika ada pekerjaan rumah atau akan melaksanakan ulangan saja, (5) minat terhadap pelajaran IPA masih kurang, akibatnya pelajaran IPA kurang disukai oleh sebagian besar siswa, dan (6) media pembelajaran yang terbatas.

Rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa menyebabkan hasil belajar siswa juga rendah. Hasil belajar IPA yang diperoleh dari nilai pretest menunjukan bahwa masih banyak siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM dengan kriteria KKM IPA sebesar 70. Hasil pretest menunjukkan dari 24 siswa yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 11 siswi perempuan, sebanyak 6 siswa atau 25% memperoleh nilai ≥ KKM sedangkan sisanya sebanyak 18 siswa atau sebesar 75% memperoleh nilai < KKM. Selain itu siswa belum mampu memecahkan soal IPA karena mereka tidak memahami konsep yang telah mereka pelajari, siswa belum berani bertanya apabila mengalami kesulitan, dan siswa juga tidak berani menyanggah pendapat teman lain. Padahal itu merupakan aspek penting dalam berpikir kritis.

Salah satu model pembelajaran yang memberikan peluang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa adalah model PBL(Problem Based Learning). Model ini merangsang siswa untuk menganalisis masalah, memperkirakan jawaban-jawabannya, mencari data, menganalisis data dan menyimpulkan jawaban terhadap masalah. Hal itu sesuai dengan pendapat Trianto yang menjelaskan bahwa, “Model pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu model pembelajaran yang didasarkan pada banyaknya permasalahan yang membutuhkan penyelidikanautentik yakni penyelidikan yang membutuhkan penyelesaian nyata dari permasalahan yang nyata (2012a: 90). Misalnya pada pembelajaran IPA tentang materi cahaya terdapat suatu fenomena alam, mengapa tongkat seolah-olah kelihatan patah saat dimasukkan dalam air? Mengapa uang logam yang diletakkan dalam sebuah gelas kosong jika dilihat pada posisi tertentu tidak kelihatan tetapi saat diisi air menjadi kelihatan? Dari contoh permasalahan nyata jika diselesaikan secara nyata, memungkinkan siswa memahami konsep bukan sekedar menghafal konsep.

Pelaksanaan pembelajaran IPA dengan model PBL (Problem Based Learning), siswa dihadapkan pada masalah yang penuh dengan makna dan siswa diharapkan mampu menggunakan dan mengembangkan kemampuan dasar yang dimilikinya, mampu berpikir tingkat tinggi, berpikir kritis, dan dapat melaksanakan tahapan dalam memecahkan masalah tersebut. Melalui kegiatan tersebut aspek-aspek yang menunjukkan kemampuan berpikir kritis siswa dapat dikembangkan dengan baik, yaitu dengan mempertimbangkan gagasan siswa dan melibatkan siswa secara aktif dalam memecahkan masalah IPA.

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tindakan kelas yang berjudul “Penerapan Model PBL (Problem Based Learning) dalam Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SD Negeri Tlogowulung Kecamatan Alian Tahun Ajaran 2016/2017”.

II. LANDASAN TEORI

A. Pengertian Berpikir Kritis IPA

“Berpikir kritis” di Amerika Serikat sering dianggap sebagai sinonim dari “keterampilan berpikir”. Menurut Ennis, berpikir kritis didefinisikan Critical thinking as the ability to make reasonable assessments of statements, to which we would add that critical thinking is the best thought of as an attitude or a persistent disposition to make such assessments. Berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pada pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan (Kartimi, 2012: 22). Kuswana menjelaskan bahwa “Berpikir kritis merupakan analisis situasi masalah melalui evaluasi potensi, pemecahan masalah, dan sintesis informasi untuk menentukan keputusan” (2011: 19).

Sejalan dengan pendapat diatas Glaser (1941) mendefinisikan berpikir kritis sebagai:(1) suatu sikap mau berpikir secara mendalam tentang masalah-masalah dan hal-hal yang berada dalam jangkauan pengalaman seseorang, (2) pengetahuan tentang metode-metode pemeriksaan dan penalaran logis, dan (3) berpikir kritis menuntut upaya keras untuk memeriksa keyakinan atau pengetahuan asumtif berdasarkan bukti pendukungnya dan kesimpulan-kesimpulan lanjutan yang diakibatkannya (fisher, 2008: 3).

Dari beberapa pendapat para ahli tentang definisi berpikir kritis di atas dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis adalah menganalisis atau mengevaluasi informasi suatu masalah berdasarkan pemikiran yang logis untuk menentukan keputusan.

Sejalan dengan pendapat di atas, Fisher (2008) menjelaskan ada beberapa keterampilan berpikir kritis yang sangat penting yaitu:(1) Mengidentifikasi elemen-elemen dalam kasus yang dipikirkan, khususnya alasan-alasan dan kesimpulan-kesimpulan; (2) mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi-asumsi, (3) mengklarifikasi dan menginterpretasi pertanyaan-pertanyaan dan gagasan-gagasan, (4) menilai akseptabuilitas, khususnya kredibilitas dan lain-lain; (5) mengevaluasi argumen-argumen yang beragam jenisnya; (6) menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan penjelasan-penjelasan; (7) menganalisis, mengevaluasi, dan membuat keputusan-keputusan; (8) menarik inferensi-inferensi; dan (9) menghasilkan argumen-argumen (hlm. 8).

B. Pengertian Hasil Belajar

Sudjana (dalam Padmono, 2002: 37) menyatakan “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa atau mahasiswa setelah si menerima pengalaman belajarnya”. Hasil belajar menunjukkan perubahan yang berupa penambahan, peningkatan, dan penyempurnaan perilaku

Selain itu, Abdurahman (2003: 38-39) menyatakan ada tiga ranah (domain) hasil belajar, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan menurut Romiszowski, hasil belajar merupakan keluaran (outputs) dari suatu sistem pemrosesan masukan (inputs).Masukan berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya berupa perbuatan atau kinerja (perfomance), hasil belajar sebagai keluaran dari suatu sistem pemrosesan berbagai masukan yang berupa informasi

Dari pendapat beberapa ahli di atas disimpulkan pengertian hasil belajar adalah seluruh kecakapan atau kemampuan (kognitif, afektif, dan psikomotor) yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan proses belajar dan pengalaman belajarnya yang akan menunjukkan adanya suatu perubahan yang berupa penambahan, peningkatan, dan penyempurnaan perilaku serta bisa juga diwujudkan dalam bentuk hasil karya anak.

C. Pengertian Model Pembelajaran Kontekstual

Trianto (2012) menyatakan bahwa ”Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar kontruktivis” (hlm. 92). Teori belajar konstruktivisme menekankan pada setiap individu secara aktif membangun pengetahuannya sendiri ketika berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian ketika siswa masuk kelas mereka tidak dalam keadaan kosong, melainkan mereka sudah memiliki pengetahuan awal. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka pembelajaran perlu diawali dengan mengangkat permasalahan yang sesuai dengan lingkungannya (kontekstual). Jadi konsep dibentuk atau ditanamkan melalui pembahasan masalah nyata.

Proses PBL akan dapat dijalankan bila pengajar siap dengan segala perangkat yang diperlukan. Pembelajar juga harus memahami proses dan cara menjalankan proses tersebut yang sering di kenal dengan langkah-langkah penerapan modelPBL.Amir (2012) menjelaskan ada tujuh langkah dalam penerapan modelPBL yaitu: (1) mengklarifikasi istilah konsep yang belum jelas, (2) merumuskan masalah, (3) menganalisis maslah, (4) menata gagasan anda dan secara sistematis menganalisis dengan dalam, (5) memformulasikan tujuan pembelajaran, (6) mencari informasi tambahan dari sumber lain, dan (7) mensintesa dan menguji informasi baru, kemudian membuat laporan (hlm. 24-25).

Didukung oleh pendapat Anitah (2009) yang menjelaskan ada tujuh langkah (seven jumps)PBL yaitu:(1) Mengklarifikasi istilah yang belum jelas, (2) mendefinisikan masalah, (3) sumbangsaran kemungkinan hipotesis dan penjelasan, (4) penjelasan ke dalam pemecahan tentatif, (5) mendefinisikan tujuan belajar, (6) mengumpulkan informasi, dan (7) berbagi hasil (hlm. 72-73).

Oleh karena itu dapat disimpulkan ada empat langkah yang harus ditempuh dalam melaksanakan model PBL yaitu:

Orientasi siswa pada masalah

Siswa perlu memahami bahwa tujuan pembelajaran berbasis masalah adalah tidak untuk memperoleh informasi baru dalam jumlah besar, tapi untuk melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah penting dan untuk menjadi pebelajar yang mandiri. Cara yang baik untuk menyajikan masalah dalam pembelajaran ini adalah dengan menggunakan kejadian yang menimbulkan suatu keinginan untuk memecahkan masalah.

Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Pada model pembelajaran ini, dibutuhkan pengembangan keterampilan kerjasama diantara siswa dan saling membantu untuk menyelidiki masalah secara bersama.

  1. Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
  2. Guru membantu siswa dalam pengumpulan informasi dari berbagai sumber. Siswa diberi pertanyaan yang membuat mereka memikirkan masalah dan jenis informasi yang dibutuhkan untuk pemecahan masalah. Siswa diajarkan menjadi penyelidik yang aktif dan dapat menggunakan metode yang sesuai dengan masalah yang dihadapinya.
  3. Guru mendorong pertukaran ide secara bebas. Selama tahap penyelidikan, guru memberi bantuan yang dibutuhkan tanpa mengganggu aktivitas siswa.
  4. Membuat karya
  5. Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah

Tugas guru pada tahap akhir pembelajaran berbasis masalah adalah membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berfikir mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan yang mereka gunakan. Selama tahap ini, guru meminta siswa untuk melakukan rekonstruksi pemikiran dan aktivitas mereka selama pembelajaran.

D. Materi IPA Tentang Sifat-Sifat Cahaya

Cahaya adalah sinar yang memungkinkan mata dapat melihat. Cahaya berasal dari sumber cahaya. Sumber cahaya yaitu benda-benda yang memancarkan atau mengeluarkan cahaya sendiri. Menurut Tim Bina IPA, “Sumber cahaya ada dua yaitu sumber cahaya alami dan sumber cahaya buatan” (2008: 100). Sumber cahaya alami adalah sumber yang tidak dibuat oleh manusia. Sumber cahaya alami misalnya matahari dan kunang kunang. Sedangkan sumber cahaya buatan adalah sumber cahaya yang diproduksi dan dibuat oleh manusia. Contoh sumber cahaya buatan adalah lilin, lampu dan senter.Sifat sifat cahaya meliputi cahaya merambat lurus, cahaya menembus benda bening, cahaya dapat dipantulkan, cahaya membias, dan cahaya dapat diuraikan.

III. METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian

Penelitian berlangsung di SD NegeriTlogowulung, UPT Dinas Pendidikan Unit KecamatanAlian, Kabupaten Kebumen. Subjek penelitian yaitu peserta didik Kelas V Tahun Pelajaran 2016/2017 sebanyak 24 anak (13 laki-laki 11 perempuan). Penelitian berlangsung selama 3 bulan. Penelitian berlangsung dalam dua siklus. Pelaksanaan setiap siklus melalui 4 tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian dilakukan dalam mata pelajaran IPA pada kompetensi dasar mendeskripsikan sifat-sifat cahaya.

B. Indikator Kinerja

Kemampuan Berpikir Kritis IPA

Berpikir kritis IPA dapat dilihat dari aspek antara lain: mengidentifikasi masalah; mengumpulkan berbagai informasi yang relevan; menyusun sejumlah alternatif  pemecahan masalah; menetapkan keputusan; mengungkapkan pendapat; dan menilai argumen yang relevan dalam penyelesaian suatu masalah. Perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila 80% atau lebih dari jumlah peserta didik menunjukkan ciri-ciri berpikir kritis IPA.

Hasil belajar

Siswa dinyatakan tuntas belajar apabila berhasil memperoleh nilai ≥ KKM dimana KKM yang ditentukan dalam penelitian ini untuk mata pelajaran IPA sebesar 70 dalam mengikuti tes akhir pembelajaran. Pembelajaran dinyatakan berhasil apabila 80% atau lebih dari jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran berhasil mencapai kriteria ketuntasan belajar.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

1. Proses Berpikir Kritis IPA

Pada penelitian ini alat pengumpulan data yang digunakan untuk mengukur pelaksanaan penggunaan model PBL dalam peningkatan berpikir kritis IPA berupa: Aspek yang diukur sesuai indikator berpikir kritis yang meliputi: (1) mengidentifikasi masalah, (2) mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, (3) menyusun sejumlah alternatif  pemecahan masalah, (4) menetapkan keputusan; (5) mengungkapkan pendapat, (6) dan menilai argumen.Proses berpikir kritis pada saat mengerjakan LKS mengembangkan lima keterampilan proses yaitu: (1) mengamati, (2) menafsirkan data, (3) eksperimen/melakukan percobaan, (4) inferensi/membuat kesimpulan, dan (5) mengkomunikasikan.

kemampuan berpikir kritis IPA setiap siklus mengalami peningkatan. Pada konisi awal kemampuan berpikir kritis IPA hanya sebesar 62,5% atau nilainya 2,5 dengan kategori cukup. Pada siklus I, mengalami peningkatan sebesar 79,2% atau nilai 3,2 yang dikategorikan baik. Sedangkan pada siklus II peningkatan berpikir kritis IPA mengalami peningkatan signifikan sebesar 91,7% atau nilai 3,7 dengan kata lain hampir semua siswa mengalami peningkatan berpikir kritis IPA. Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa semua variabel penelitian mengalami peningkatan pada setiap siklus. Data sebagaimana peneliti paparkan di atas dapat disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut.

Tabel 1. Tabel Rekapitulasi Proses Berpikir Kritis Belajar Tiap Siklus

No Indikator Kondisi Awal Siklus I Siklus II
NILAI KET. NILAI KET. NILAI KET.
1 Mengidentifikasi masalah 2 C 3 B 4 A
2 Mengumpulkan berbagai informasi yang relevan 2 C 4 A 4 A
3 Menyusun sejumlah alternatif  pemecahana masalah 3 B 3 B 4 A
4 Membuat kesimpulan 3 B 3 B 3 B
5 Mengungkapkan pendapat 2 C 3 B 4 A
6 Mengevaluasi argumen 3 B 3 B 3 B
Rata-rata 2,5 3,2 3,7
Persentase 62,5% 79,2% 91,7%

2. Hasil Belajar

Berdasarkan hasil evaluasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA yang diikuti oleh 24 siswa, hasil pretest diperoleh nilai rata-rata 61,67. Jumlah siswa yang tuntas hanya sebesar 6 siswa atau 25% dari jumlah keseluruhan siswa, sedangkan jumlah siswa yang tidak tuntas 18 siswa atau 75%.

Hasil evaluasi selama siklus I diperoleh data nilai rata-rata kelas sebesar 70,75. Jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar 15 siswa (62,5%). Siswa yang belum tuntas sebanyak 9 siswa (37,5%).

Hasil evaluasi siklus II diperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 86. Jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar sebanyak 24 siswa (100%). Siswa yang belum tuntas tidak ada atau (0%).

Tabel 2. Persentase Ketuntasan Belajar dan Nilai Rata-rata Tiap Siklus

No Siklus Persentase Siswa Tuntas ≥KKM Persentase Siswa

Belum Tuntas <KKM

Nilai Rata-rata
1 Tes Awal 25% 75% 61,67
2 Siklus I 62,5% 37,5%. 70,75
3 Siklus II 100% 0% 86

B. PEMBAHASAN

Berpikir Kritis IPA

Selama pelaksanaan penelitian yang telah dilaksanakan, menunjukkan bahwa rata-rata hasil observasi langkah-langkah penerapan model PBL setiap siklus mengalami peningkatan. Peningkatan langkah penerapan model PBL yang dilakukan oleh guru diikuti dengan meningkatnya berpikir kritis pada setiap siklusnya. Pada siklus I peningkatan berpikir kritis kurang maksimal karena ada beberapa kendala. Pada siklus II kendala yang dialami pada saat siklus I sudah diperbaiki dan terbukti adanya peningkatan pada siklus II dan telah mencapai indikator kinerja yang peneliti rencanakan. Proses berpikir kritis diukur menggunakan lembar observasi sedangkan hasil berpikir kritis menggunakan tes. Ada enam indikator proses berpikir kritis yaitu: (1) mengidentifikasi masalah, (2) mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, (3) menyusun sejumlah alternatif pemecahan masalah, (4) membuat kesimpulan, (5) mengungkapkan pendapat, dan (6) mengevaluasi argumen.Proses berpikir kritis IPA diamati menggunakan lembar observasi siswa. Berikut hasil analisis observasi siswa tentang proses berpikir kritis IPA pada siklus I sampai dengan siklus II.

Kemampuan berpikir kritis IPA setiap siklus mengalami peningkatan. Pada konisi awal kemampuan berpikir kritis IPA hanya sebesar 62,5% atau nilainya 2,5 dengan kategori cukup. Pada siklus I, mengalami peningkatan sebesar 79,2% atau nilai 3,2 yang dikategorikan baik. Sedangkan pada siklus II peningkatan berpikir kritis IPA mengalami peningkatan signifikan sebesar 91,7% atau nilai 3,7 dengan kata lain hampir semua siswa mengalami peningkatan berpikir kritis IPA.

Selengkapnya grafik peningkatan persentase berpikir kritis IPA dari tes awal, siklus I, dan siklus II dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 1. Grafik Peningkatan Berpikir Kritis IPA Siswa pada Tes Awal, Siklus I, dan Siklus II

2. Hasil belajar

Berdasarkan hasil pretes siswa pada mata pelajaran IPA yang diikuti oleh 24 siswadiperoleh nilai rata-rata sebesar 61,67Nilai terendah sebesar 40 dan nilai tertinggi sebesar 90. Jumlah siswa yang tuntas hanya sebanyak 6 siswa atau jika dipersentase sebesar 25%.

Hasil evaluasi selama siklus I setelah diarata-rata untuk kemudian dianalisis mengalami kenaikan rata-rata kelasnya dari yang semula pada kondisi awal rata-ratanya sebesar 61,67 menjadi 70,75.Jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar juga mengalami kenaikan dari yang sebelumnya pada test awal siswa yang mengalami ketuntasan hanya sebanyak 6 siswa atau (25%) menjadi 15 siswa (62,5%) pada siklus I. Siswa yang belum tuntas mengalami penurunan dari yang semula 18 siswa (75%) menjadi 9 siswa (37,5%) pada siklus I. Nilai terendah pada siklus I adalah 50 dan nilai tertinggi adalah 100.

Hasil evaluasi siklus II diperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 86.Jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar juga mengalami kenaikan dari yang sebelumnya 15 siswa (62,5%) menjadi 24 siswa (100%) pada siklus II. Siswa yang belum tuntas mengalami penurunan dari yang semula 9 siswa (37,5%) pada siklus I menjadi tidak ada (0%) pada siklus II. Nilai terendah pada siklus II adalah 73 dan nilai tertinggi adalah 100.

Grafik peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa beserta nilai tertinggi dan terendah pada tes awal, siklus I, dan siklus II selengkapnya dapat dilihat pada grafik berikut:

Gambar 2 Grafik peningkatan nilai rata-rata hasil belajar beserta nilai tertinggi dan terendah siswa pada tes awal, siklus I, dan siklus II

Sedangkan grafik peningkatan persentase ketuntasan belajar siswa tiap siklus dapat dilihat pada grafik di bawah ini:

Gambar 3 Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Tiap Siklus

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil tindakan yang telah dilakukan peneliti pada siklus I dan II, dapat disimpulkan beberapa hal yaitu sebagai berikut:

  1. Penerapan model PBL (Problem Based Learning) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis IPA pada siswa kelas V SDN Tlogowulung Kecamatan Alian tahun ajaran 2016/2017. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan berpikir kritis IPA setiap siklus mengalami peningkatan. Pada konisi awal kemampuan berpikir kritis IPA hanya sebesar 62,5% atau nilainya 2,5 dengan kategori cukup. Pada siklus I, mengalami peningkatan sebesar 79,2% atau nilai 3,2 yang dikategorikan baik. Sedangkan pada siklus II peningkatan berpikir kritis IPA mengalami peningkatan signifikan sebesar 91,7% atau nilai 3,7 dengan kata lain hampir semua siswa mengalami peningkatan berpikir kritis IPA.
  2. Penerapan model PBL (Problem Based Learning) dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas V SDN Tlogowulung Kecamatan Alian tahun ajaran 2016/2017. Hasil pretes siswa diperoleh nilai rata-rata sebesar 61,67. Jumlah siswa tuntas sebanyak 6 siswa (25%). Pada siklus I rata-ratanya sebesar 70,75. Jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar menjadi 15 siswa (62,5%). Siswa yang belum tuntas mengalami penurunan dari yang semula 18 siswa (75%) menjadi 9 siswa (37,5%). Hasil evaluasi siklus II diperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 86. Jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar juga mengalami kenaikan dari yang sebelumnya 15 siswa (62,5%) pada siklus I menjadi 24 siswa (100%) pada siklus II. Siswa yang belum tuntas menjadi tidak ada (0%) pada siklus II.

.

B. Saran

Berdasarkan simpulan dan implikasi yang telah diuraikan, perlu disampaikan saran-saran sebagai berikut:

Bagi Siswa

Siswa sebaiknya tidak takut mencari alternatif pemecahan masalah, dan mengungkapkan pendapat atas pemecahan masalahnya agar kemampuan berpikir kritis terus meningkat.

BagiGuru

Penerapan model PBLseperti yang telah diuraikan diatas, hendaknya dilaksanakan dengan langkah-langkah yang tepat agar dapat meningkatkan berpikir kritis IPA siswa kelas V.

Bagi Sekolah

Pihak Sekolah hendaknya menyediakan sarana pembelajaran yang lengkap, salah satunya adalah menyediakan media pembelajaran yang memadai, sehingga para guru dapat meningkatkan kreativitas, proses belajar yang berkualitas, dan hasil belajar siswanya.Sekolah juga sebaiknya mendukung dan memfasilitasi guru dalam melaksanakan pembelajaran yang inovatif, sehingga dapat memberikan dampak positif bagi kemajuan siswa, guru, dan sekolah.

Untuk Peneliti Lain

Hasil penelitian tentang penerapan model PBL(Problem Based Learning) ini dapat dijadikan salah satu referensi untuk penelitian selanjutnya, khususnya pada mapel IPA.

DAFTAR PUSTAKA

Abdulrahman, M. 2003. Pendidikan Bagi Anak BerkesulitanBelajar.Jakarta: PT Rineka Cipta.

Amir, T. (2010a). Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning. Jakarta: Kencana.

Anitah, S. (2009a).TeknologiPembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka.

Fisher, A. (2008a). Berpikir Kritis. Jakarta: Erlangga.

Kartimi. (2012). Pengembangan Alat Ukur Berpikir Kritis pada Konsep Termokimia untuk Siswa SMA Peringkat Atas dan Menengah. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia (JPII) Volume 1. Diakses dari http://journal.unnes.ac.id/index.php/jpii pada tanggal 16 Desember 2012.

Kuswana, W.S. (2011). Taksonomi Berpikir. Bandung: Rosda.

Padmono. 2002. Evaluasi Pengajaran. Surakarta: UNS.

Tim Bina IPA. (2008). Ilmu Pengetahuan Alam Kelas 6 SD. Bogor: Yudhistira.

Trianto. (2012). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarata: Kencana.

Biodata Penulis

Nama : Dwi Yantiningsih, S.Pd.SD

Unit Kerja : SD Negeri Tlogowulung, Kecamatan Alian, Kebumen

You cannot copy content of this page