Iklan

PENERAPAN KEGIATAN FOCUS GROUP DISCUSSION SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU SD DALAM MERENCANAKAN PEMBELAJARAN TEMATIK PADA GURU SD NEGERI KETANGGUNG SAMPANG SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Oleh : Sri Pamuji, S.Pd.

ABSTRAK

Tugas pokok guru mencakup: merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa guru-guru di Dabin III Kecamatan Sampang belum mengenal tentang pembuatan RPP tematik sehingga RPP yang seharusnya telah ada sebelum proses KBM berlangsung menjadi bayangan saja. Tempat pengembangan profesional bagi guru adalah KKG dengan salah satu bentuk kegiatannya adalah FGD (Kelompok Diskusi Terarah). Penelitian tindakan sekolah dilakukan dalam 2 siklus yang dilaksanakan dari bulan Agustus sampai dengan bulan Mei 2019 bertempat di SD Negeri Ketanggung Kecamatan Sampang. Lembar penilaian menggunakan IPKG 1 dan untuk pengamatan menggunakan lembar observasi dengan 4 skala nilai. Indikator kinerja adalah terjadi peningkattan kemampuan sebesar 20% dari pertemuan sebelumnya atau rata-rata penilaian IPKG minimal 80. Kegiatan FGD dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing kelompok terdiri atas 3 orang anggota yang tetap pada siklus 1 dan 2. Siklus 1 menunjukkan peningkatan sebelum FGD dengan nilai kelompok 1 = 69,25, kelompok 2 = 70 dan kelompok 3 = 69,25 termasuk kategori cukup. Siklus 2 nilai kelompok 1 = 99,75; kelompok 2 = 97; dan kelompok 3 = 99,25 dalam kategori baik. Respon mengikuti KKG juga meningkat dari 67,08 menjadi 88,33. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus 2 nilai rata-rata IPKG 1 = 81,79 dan respon KKG meningkat 21,25 maka kegiatan siklus 2 sudah di atas indikator keberhasilan. Kesimpulan laporan ini adalah Kegiatan FGD dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran tematik di SD Negeri Ketanggung Dabin III Kecamatan Sampang. Pembelajaran Tematik merupakan pembelajaran yang memadukan beberapa mata pelajaran sehingga dalam merencanakan pembelajaran sangat merepotkan untuk itu dapat dilakukan dalam KKG dengan teknik FGD.

Kata Kunci: FGD, Kemampuan Guru SD, Pembelajaran Tematik

  1. PENDAHULUAN
  2. Latar Belakang Masalah

Jenjang pendidikan dasar menjadi pilar yang menentukan keberlangsungan pendidikan selanjutnya. Hal ini dikarenakan bahwa jenjang ini menjadi landasan bagi pendidikan pada tingkat berikutnya. Menurut Tilaar (2005: 8), dikatakan bahwa pendidikan dasar merupakan basis dari pembangunan manusia.

Penyelenggaraan pendidikan dasar tidak dapat dilakukan secara asal saja hanya dengan mementingkan kuantitas dengan mengabaikan kualitas. Hal ini disebabkan karena cepat lambatnya pembangunan suatu negara sangat tergantung pada kualitas sumber daya manusia yang ada. Di sisi lain, pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas ditentukan oleh kualitas pendidikan. Untuk itu penyelenggaraan pendidikan harus memperhatikan kualitas selain kuantitas.

Tinggi rendahnya kualitas pendidikan ditentukan oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang dapat menjadi penentu kualitas pendidikan di sekolah menurut Slamet terdiri dari faktor input dan proses (Slamet, 2003: 3). Hal ini dikarenakan bahwa sistem persekolahan merupakan suatu jalinan yang saling kait mengkait antara input, proses, output, dan outcome.

Faktor-faktor yang dapat menentukan tinggi rendahnya kinerja sekolah meliputi faktor input dan proses. Hal ini dikemukakan oleh Slamet (dalam Komariah dan Triatna, 2005: 7) yang menyatakan bahwa “kinerja sekolah adalah pencapaian atau prestasi sekolah yang dihasilkan melalui proses persekolahan.”. Lebih lanjut, Slamet (2003: 3) menjelaskan bahwa kinerja sekolah diukur dari efektivitas, kualitas, produktivitas, efisiensi, inovasi, kualitas kehidupan kerja, surplus, dan moral kerjanya.

Proses adalah berubahnya “sesuatu” menjadi “sesuatu yang lain”. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut “input“, sedang sesuatu dari hasil proses disebut output. Dalam pendidikan bersekala mikro (sekolah), proses yang dimaksud adalah: (1) proses pengambilan keputusan, (2) proses pengelolaan kelembagaan, (3) proses pengelolaan program, (4) proses pemotivasian staf, (5) proses pengkoordinasian, (6) proses belajar mengajar, dan (7) proses monitoring dan evaluasi (Slamet, 2003: 4).

Salah satu komponen dari proses sistem sekolah yang langsung berhubungan dengan siswa adalah proses belajar mengajar. Proses ini menjadi ciri khusus suatu proses persekolahan. Oleh karena itu, proses pembelajaran menjadi fungsi pokok penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Guru sebagai salah satu komponen input mempunyai kewajiban untuk menjalankan tugas sesuai peraturan yang berlaku sehingga dapat menjalankan proses yang berkualitas untuk menghasilkan output yang berkualitas pula. Tugas pokok guru menurut UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mencakup: merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran (Hasbullah, 2006: 188). Untuk itu guru harus mampu melaksanakan pembelajaran yang berkualitas.

Perencanaan merupakan tugas penting dari suatu organisasi, termasuk didalamnya organisasi persekolahan. Perencanaan menjadi penting karena pada kenyataannya manusia dapat mengubah masa depan bila segala sesuatunya direncanakan dengan baik dan secara matang, demikian pula yang terjadi dalam konteks pembelajaran. Perencanaan pembelajaran harus berorientasi pada pencapaian tujuan yang ingin dicapai.

Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung.

Sosialisasi dan pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sudah berlangsung sejak tahun 2006, bahkan pada saat KBK tahun 2005 telah diberlakukan pembelajaran model Tematik namun dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (holistic), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.

  1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas bahwa hasil monitoring dan evaluasi akademik pada Guru kelas SD Negeri Ketanggung oleh kepala sekolah menunjukkan bahwa hanya 2 orang guru yang telah menyampaikan pembelajaran secara tematik, selebihnya belum melaksanakan dengan bervariasi alasan.

Rata-rata guru kelas SD Negeri Ketanggung di Dabin III Korwil Bidik Kecamatan Sampang belum melaksanakan pembelajaran Tematik karena belum mengenal secara mendalam tentang tematik, langkah-langkah pembelajaran Tematik sehingga RPP pembelajaran secara tematikpun belum memiliki. Guru menyampaikan pembelajaran tanpa persiapan, pelaksanaan pembelajaran kurang memanfaatkan media pelajaran, kurang bervariasi. Kenyataan tersebut mengakibatkan siswa kurang tertarik mengikuti pelajaran, merasa tertekan mengikuti pelajaran karena takut dimarahi guru.

Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik kelas awal sekolah dasar cukup rendah. Sementara itu, hasil supervisi menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk Taman Kanak-Kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan Taman Kanak-Kanak. Selain itu perbedaan pendekatan, model dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas satu dan dua sekolah dasar dengan pendidikan prasekolah dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.

Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka meningkatkan kemampuan kepala sekolah dalam menulis dan membuat laporan ilmiah sebagai salah satu tugas pokok kepala sekolah, maka penulis mengambil judul dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah Penerapan Kegiatan Focus Group Discussion sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru SD dalam Merencanakan Pembelajaran Tematik pada Guru SD Negeri Ketanggung Sampang Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020.

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimanakah proses pembelajaran dengan menerapkan Kegiatan Focus Group Discussion meningkatkan kemampuan guru SD dalam merencanakan pembelajaran tematik pada guru SD Negeri Ketanggung Sampang Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020?
  3. Seberapa besar peningkatan kemampuan guru SD dalam merencanakan pembelajaran tematik pada guru SD Negeri Ketanggung Sampang Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020, setelah menerapkan kegiatan Focus Group Discussion?
  1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan, maka penelitian ini bertujuan untuk :

  1. Untuk mendeskripsikan proses pembelajaran dengan menerapakan kegiatan Focus Group Discussion dapat meningkatkan kemampuan guru SD dalam merencanakan pembelajaran tematik pada guru SD Negeri Ketanggung Sampang Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020.
  2. Untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan guru SD dalam merencanakan pembelajaran tematik pada guru SD Negeri Ketanggung Sampang Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020, setelah menerapkan kegiatan Focus Group Discussion.
  3. Manfaat Penelitian

Penelitian tindakan sekolah ini, dilakukan dengan harapan memberikan manfaat bagi siswa, guru, maupun sekolah.

a. Manfaat bagi siswa :

  1. Memperoleh materi pelajaran secara runtut karena guru telah siap sebelum masuk kelas.
  2. Merasa nyaman menikuti pelajaran karena guru tidak lagi disibukkan dengan penyusunan administrasi pembelajaran.
  3. Meningkatkan penguasaan konsep.
  4. Tumbuh keberanian mengemukakan pendapat karena perhatian guru penuh pada kegiatan pembelajaran.

b. Manfaat bagi guru:

  1. Peningkatan kinerja guru dalam merencanakan pembelajaran tematik.
  2. Memperoleh alternatif baru yang dapat diterapkan guru untuk peningkatan mutu pembelajaran.

c. Manfaat bagi sekolah :

  1. Administrasi sekolah tertata secara runtut.
  2. Kegiatan pembelajaran dapat diukur pencapaiannya berdasarkan rencana pembelajaran yang telah ada.
  3. LANDASAN TEORI
  4. Landasan Teori
  5. Focus Group Discussion

Focus grooup discussion (FGD) atau diskusi kelompok terarah (DKT) adalah pertemuan yang sifatnya terarah untuk membahas topik yang fokus (dipersempit) difasilitasi oleh peneliti dengan panduan pertanyaan dalam proses kelompok sehingga tidak terjebak dengan wawancara individual.

Kelompok Kerja Guru (KKG) adalah bentuk kegiatan yang beranggotakan guru-guru kelas, dimana tujuan kegiatannya adalah untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi mereka sesuai kelas yang dipegang. Bentuk kegiatan KKG bisa berupa diklat, simulasi, diskusi kelompok terarah (FGD) atau yang lainnya.

Diskusi kelompok adalah suatu kegiatan belajar yang dilakukan secara bersama-sama. Diskusi kelompok pada dasarnya memecahkan persoalan secara bersama-sama. Artinya setiap anggota turut memberikan sumbangan pemikiran dan pendapat dalam memecahkan persoalan tersebut. Diskusi kelompok adalah suatu kegiatan belajar untuk memecahkan persoalan secara bersama-sama, sehingga akan memperoleh hasil yang lebih baik. (Tabrani dan Daryani dalam Kasianto,2004).

Keunggulan kegiatan FGD adalah cara yang sangat fleksibel untuk mengetahui keyakinan normatif (bukan individu), sikap, perilaku dan konsep. Menyediakan kesempatan untuk melakukan kontak langsung dan mempelajari pandangan secara lebih cepat dan lebih ekonomis dibanding wawancara individual. Adanya kesempatan untuk mempelajari pandangan yang tidak biasa (fasilitator bukanlah pusat perhatian). Memungkinkan eksplorasi ide yang dibangun oleh kelompok.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa diskusi kelompok adalah suatu proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai pengalaman individu dalam interaksinya dengan lingkungan yang dilakukan secara bersama-sama atau berkelompok.

Ischak.SW dan Warji R. (dalam Kasianto,2004) mengemukakan beberapa petunjuk dalam pelaksanaan diskusi kelompok, yaitu :

a. Pilihlah teman yang cocok untuk bergabung dalam belajar kelompok. Jumlah setiap kelompok terdiri dari 5 hingga 7 orang.

b. Tetapkan siapa sebagai pemimpin yang akan memimpin jalannya diskusi atau belajar kelompok.

c. Tuntaskan persoalan satu persatu dengan memberi kesempatan kepada anggota untuk mengajukan pendapatnya. Dari pendapat yang masuk dikaji bersama-sama mana yang paling tepat.

Dari uraian di atas,maka di dalam pelaksanaan diskusi kelompok perlu diperhatikan pembentukan kelompok,penetapan pimpinan kelompok,penetapan masalah yang akan dibahas dan pencatatan kesimpulan hasil diskusi kelompok.

Keterbatasan yang perlu disadari melalui FGD adalah:

    1. Tidak seperti observasi (bukanlah situasi yang alami)
    2. Lebih suulit dikendalikan (dinamika kelompok)
    3. Hasil bisa saja bias karena pengaruh 1-2 orang peserta diskusi
    4. Lebih banyak tergantung pada ketrampilan fasilitator
    5. Peneliti harus memahami konteks diskusi untuk memahami data yang diperoleh selama proses kegiatan.

Langkah-langkah Kegiatan FGD dalam KKG:

  1. Guru mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi di sekolah masing-masing.
  2. Diskusi pengelompokkan masalah yang telah diidentifikasi, penetapan permasalahan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu.
  3. Diskusi kelompok membahas permasalahan yang menjadi pokok kegiatan KKG.
  4. Laporan masing-masing kelompok dengan memberikan presentasi dan kelompok lain memberikan tanggapan dan masukan demi sempurnanya hasil KKG.
  5. Pembahasan hasil KKG dalam bentuk klasikal dan pemilihan kelompok yang akan memberikan contoh pelaksanaan hasil KKG
  6. Pelaksanaan Peerteaching.
  7. Pembelajaran Tematik

Pembelajaran Tematik merupakan pembelajaran bermakna bagi siswa. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu. Oleh karena itu, guru harus merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual yang menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan, selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik disekolah dasar akan sangat membantu siswa, hal ini dilihat dari tahap perkembangan siswa yang, masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan.

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa, Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang emnjadi pembicaraan, Dengan tema diharapkan akan memberikan keuntungan.

Kelebihan dan kelemahan pembelajaran tematik

Pembelajaran tematik memiliki kelebihan yaitu :

  1. Menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan peserta didik.
  2. Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
  3. Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna.
  4. Mengembangkan keterampilan berfikir anak didik sesuai dengan persoalan yang dihadapi.
  5. Menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerja sama.
  6. Memiliki sikap toleransi komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
  7. Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan peserta didik.

Selain memiliki kelebihan pembelajaran tematik juga memilki kelemahan, adapun kelemahan pembelajaran tematik terjadi jika dilakukan oleh guru tunggal, Misalnya seorang guru kelas kurang menguasai secara mendalam penjabaran tema sehingga pembelajaran tematik akan merasa sulit untuk mengaitkan tema dengan materi pokok setiap mata pelajaran.

Petunjuk Pengisian Format RPP

1. Identitas

Tuliskan identitas RPP terdiri dari: Nama sekolah, Mata Pelajaran, Kelas­/Semester, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Alokasi Waktu.

2. Tujuan Pembelajaran

  • Tuliskan output (hasil langsung) dari satu paket pengalaman belajar yang dikemas oleh guru, karena itu penetapan tujuan pembelajaran dapat mengacu pada pengalaman belajar siswa.

3. Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran adalah materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran dan indikator. Materi dikutip dari materi pokok yang ada dalam silabus. Materi pokok tersebut kemudian dikembangkan menjadi beberapa uraian materi. Untuk memudahkan penetapan uraian materi dapat diacu dari indikator.

4. Metode Pembelajaran

Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.

Karena itu pada bagian ini cantumkan pendekatan pembelajaran dan metode-metode yang diintegrasikan dalam satu pengalaman belajar siswa:

  1. Pendekatan pembelajaran yang digunakan, misalnya: pendekatan proses, kontekstual, pembelajaran langsung, pemecahan masalah, dan sebagainya.
  2. Metode-metode yang digunakan, misalnya: ceramah, inquiri, observasi, tanya jawab, dan seterusnya.

5. Langkah-langkah Pembelajaran

  1. Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

Langkah-langkah standar yang harus dipenuhi pada setiap unsur kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:

    1. Kegiatan pendahuluan
      • Apersepsi
      • Motivasi
      • Pemberian Acuan
      • Pembagian kelompok belajar dan penjelasan mekanisme pelak­sana­an pengalaman belajar
    2. Kegiatan inti

Berisi langkah-langkah sistematis yang dilalui siswa untuk dapat menkonstruksi ilmu sesuai dengan skemata (frame work) masing-masing. Langkah-langkah tersebut disusun sedemikian rupa agar siswa dapat menunjukkan perubahan perilaku sebagaimana dituangkan pada tujuan pembelajaran dan indikator.

Untuk memudahkan, sebaiknya kegiatan inti dilengkapi dengan Lembaran Kerja Siswa (LKS).

    1. Kegiatan penutup
      • Guru mengarahkan siswa untuk membuat rangkuman/simpulan.
      • Guru memeriksa hasil belajar siswa.
      • Memberikan arahan tindak lanjut pembelajaran, dapat berupa kegiatan di luar kelas, di rumah atau tugas sebagai bagian remidi­/pengayaan.
  1. Langkah-langkah pembelajaran dimungkinkan disusun dalam bentuk seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model pembelajaran yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.

6. Sumber Belajar

Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan oleh satuan pendidikan. Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber (tenaga ahli, seperti bidang, lurah, polisi, dsb), alat, dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referens, dalam RPP harus dicantumkan judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.

7. Penilaian

Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian, bentuk instrumen, dan instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data. Dalam sajiannya dapat dituangkan dalam bentuk matrik horisontal atau vertikal. Apabila penilaian menggunakan teknik tes tertulis uraian, tes unjuk kerja, dan tugas rumah yang berupa proyek harus disertai rubrik penilaian.

  1. Kerangka Berfikir

Berdasarkan uraian di atas, kerangka berpikir peneliti adalah “apabila proses pembelajaran menggunakan metode yang tepat maka akan meningkatkan kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran tematik.” Berikut ini deskripsi pelaksanaan Penelitian Tindakan Sekolah dari kondisi awal hingga akhir penelitian.

Guru:

  • Mengalami kesulitan dalam pembelajaran
  • Kemampuan guru rendah

Kepala Sekolah :

Belum menggunakan Kegiatan FGD

Kondisi Awal

Siklus I:

  • Perbaikan pembelajaran dengan menggunakan Kegiatan FGD.
  • Kemampuan guru meningkat.

Kepala Sekolah :

Sudah menggunakan Kegiatan FGD

Tindakan

Kemampuan guru meningkat

Siklus II:

  • Perbaikan pembelajaran dengan menggunakan Kegiatan FGD
  • Kemampuan guru meningkat

Kondisi Akhir

Gambar 2.1 Skema kerangka berpikir

  1. Hipotesis Tindakan

Hipotesis dalam penelitian tindakan ini adalah: “Dengan kegiatan FGD diduga dapat meningkatkan kemampuan guru SD Negeri Ketanggung dalam merencanakan pembelajaran tematik”.

  1. METODE PENELITIAN
        1. Setting Penelitian
          1. Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan selama enam bulan, yaitu pada bulan Juli – Desember 2019.

          1. Tempat Penelitian

Tempat penelitian dilakukan di SD Negeri Ketanggung beralamat Jl. Tilimbok No. 26 Desa Karangasem Kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap kode pos 53273.

          1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Sekolah (PTS).

        1. Subyek Penelitian

Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah guru-guru kelas di SD Negeri Ketanggung Dabin III (Daerah Binaan IV) Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2019/2020 yang berjumlah 6 orang. Karakteristik subjek penelitian : guru kelas SD Negeri Ketanggung Dabin III mempunyai karakteristik pemahaman Tematik yang sangat heterogen.

        1. Sumber Data

Data yang peneliti peroleh bersumber dari :

  1. Proses pembelajaran dengan menggunakan kegiatan FGD.
  2. Sumber data arsip atau dokumen dalam merencanakan pembelajaran tematik.
        1. Teknik Pengumpulan Data
No Sumber Data Jenis Data Teknik Pengumpulan Instrumen
1. Guru Antusias dan Aktivitas guru Observasi Pedoman observasi
2. Guru Kehadiran guru Observasi Daftar Hadir Guru
3. RPP RPP Tematik hasil kegiatan Observasi IPKG 1
  1. Validasi Data

Menurut Arikunto (2010), validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkatan kevalidan atau kesahihan sebuah instrumen. Suatu instrumen dinyatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat.
Menurut Sugiyono (2013), validitas merupakan derajad ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Suatu data dikatakan valid apabila tidak ada perbedaan antar data yang dilaporkan peneliti dengan data yang sesungguhnya.
Ada dua macam validitas penelitian, yaitu validitas internal dan eksternal. Validitas internal berkenaan dengan derajad akurasi desain penelitian dengan derajad akurasi desain penelitian dengan hasil yang dicapai, sedangkan validitas eksternal berkenaan dengan derajad akurasi apakah hasil penelitian dapat digeneralisikan atau diterapkan pada populasi dimana sampel tersebut diambil. Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji credibility (validitas interbal), transferbility (validitas eksternal), dependability (reabilitas), dan confirmability (obyektivitas). Peneliti ini menggunakan uji kredibilitas triangulasi.

  1. Analisa Data

Metode analisa data yang digunakan adalah membandingkan hasil observasi dan instrumen penelitian sebelum penelitian, saat penelitian siklus I dan II.

  1. Indikator Keberhasilan

Penelitian tindakan sekolah ini berhasil apabila :

  1. Antusias guru melaksanakan kegiatan meningkat
  2. Penguasaan Guru tentang RPP Tematik meningkat

Peningkatan penguasaan RPP hasil IPKG 1 mencapai ≥ 80%.

  1. Prosedur Penelitian

Penelitian ini tergolong Penelitian Tindakan Sekolah, dengan empat langkah pokok yaitu : Perencanaan tindakan, Pelaksanaan tindakan, Pengamatan (observasi), dan Refleksi, dengan melibatkan 6 orang guru SD Negeri Ketanggung Dabin III Korwil Bidik Kecamatan Sampang. Penelitian dilakukan dua siklus setiap siklus terdiri atas 2 pertemuan apabila hasil telah memenuhi indikator kinerja penelitian dihentikan, apabila indikator kinerja belum terpenuhi maka dilakukan siklus berikutnya sampai indikator kinerja tercapai.

Indikator kinerja yang ditetapkan adalah peningkatan kemampuan guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dilihat dari hasil evaluasi menggunakan IPKG I, dan keaktifan guru dalam kegiatan KKG Dabin III. Aspek yang diukur dalam observasi adalah antusiasme guru dalam kegiatan KKG , aktivitas dalam diskusi kelompok.

    1. Perencanaan Tindakan

Tahap perencanaan ini merupakan rencana kegiatan menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah.

    1. Pelaksanaan Tindakan

Kegiatan diskusi kelompok dalam melakukan kegiatan:

        1. Menentukan indikator yang akan dijadikan acuan dalam penyusunan RPP.
        2. Mempersiapkan kelompok mata pelajaran
        3. Mempersiapkan media pembelajaran.
  1. Membuat format evaluasi
  2. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
  3. Merencanakan penerapan pembelajaran
  4. Membuat Format Observasi
  5. Membuat angket respon guru dan siswa
  6. Setiap tim yang telah menyusun rencana pembelajaran menyajikan atau mempresentasikan rencana pembelajarannya, sementara kelompok lain memberi masukan, sampai akhirnya diperoleh rencana pembelajaran yang lebih baik.
  7. Perbaikan rencana pembelajaran
  8. Pengamatan (observasi)

Pengamatan dilakukan selama pelaksanaan kegiatan, aktivitas yang diamati:

        1. Antusias guru menyampaikan pendapat.
        2. Partisipasi guru mencari sumber bahan.
        3. Partisipasi dalam penyusunan RPP.

Hasil kegiatan berupa RPP dievaluasi dengan menggunakan lembar IPKG1.

  1. Refleksi
  2. Mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan dan mendiskusikan tindakan bersama dengan pengamat/observer.
  3. Tanggapan-tanggapan observer yang difokuskan pada kegiatan guru dan hasil RPP Tematik.
  4. Tanggapan balik dari peserta.

Kesimpulan dan saran untuk perbaikan pada tahap berikutnya.

  1. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  2. Hasil Penelitian
  3. Diskripsi Awal Penelitian

SD Negeri Ketanggung Daerah Binaan (Dabin) III Korwil Bidik Kecamatan Sampang merupakan daerah dengan struktur geografis daerah dataran rendah.Lingkungan belajar nyaman sehingga siswa dengan mudah memperoleh pembelajaran. Hasil pembelajaran di SD Negeri Ketanggung dilihat dari hasil tes ulangan harian kemampuan siswa dan administrasi guru masih sangat rendah.

Data guru kelas SD Negeri Ketanggung yang telah menyusun RPP tematik, setelah diukur menggunakan IPKG 1 menunjukkan hasil seperti terlihat dalam Tabel 4.1. Data menunjukkan gambaran kemampuan guru dalam pemahaman pembelajaran Tematik khususnya dalam merancang persiapan pembelajaran (RPP).

Tabel 4.1 Data Kemampuan Guru Menyusun RPP

No. Kemampuan Yang Diamati Skor Skor Maks
R1 R2 R3 Rata-rata
1-4 1-4 1-4
1. Merumuskan Tujuan Pembelajaran 1,5 2 2 1,83 4
2. Mengembangkan dan mengorganisasikan materi, media pembelajaran, dan sumber belajar 2 2,3 2 2,10 4
3. Merencanakan skenario kegiatan pembelajaran 2 2,2 2 2,07 4
4. Merancang pengelolaan kelas 2 2,5 2,5 2,33 4
5. Merencanakan prosedur, jenis, dan menyiapkan alat penilaian 1,5 2 2 1,83 4
6. Tampilan dokumen rencana pembelajaran 3 3 3 3,00 4
Jumlah 12 14 13,5 13,16 24
Rata-rata 2 2,33 2,25 2,19

Adapun skala penilaian yang digunankan adalah skala Likert dengan 4 kategori sikap yaitu : tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Penilaian dengan memberikan skor pada kolom yang tersedia dengan ketentuan sebagai berikut: skor 4 = tinggi, skor 3 = sedang, skor 2 = rendah, skor 1 = sangat rendah. Untuk mendapatkan nilai digunakan rumus:

NK = X 100

Jumlah Rata-rata skor perolehan = 13,16 jumlah skor maksimal 24, maka nilai kemampuan menyusun RPP = X 100 = 54,83

Setelah diperoleh nilai, maka nilai tersebut ditransfer kedalam bentuk kualitatif untuk memberikan komentar bagaimana kualitas kemampuan guru menyusun RPP dengan kriteria penilaian acuan patokan skala empat sebagai berikut:

Rentang Nilai Kriteria
76 – 100 Baik
51 – 75 Cukup
26 – 50 Kurang
0 – 25 Sangat Kurang
  1. Siklus 1

Siklus 1 terdiri atas 2 pertemuan, pertemuan 1 dilaksanakan pada hari Senin, 6 Agustus 2019 kegiatan yang dilakukan:

  1. Perencanaan Tindakan

Seorang Pengawas sekolah harus menguasai kompetensi supervisi akademik. Kompetensi supervisi akademik intinya adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran. Oleh sebab itu sasaran supervisi akademik adalah guru dalam pro­ses pembelajaran, yang terdiri dari materi pokok dalam proses pembelajaran, penyusunan silabus dan RPP, pemilihan strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran serta penelitian tindakan kelas.

Berdasar hasil penilaian supervisi akademik pada pra-siklus Senin, 6 Agustus 2019, maka kegiatan yang dilakukan pada langkah perencanaan siklus 1 ini adalah mengidentifikasi permasalah pembelajaran yang menjadi kendala bagi Guru kelas SD Negeri Ketanggung. Kendala pembelajaran di SD Negeri Ketanggung sangat berfariasi namun dapat digolongkan dalam 2 kelompok yaitu permasalahan menyampaikan pembelajaran dengan strategi pembelajaran tematik, dan permasalahan menyusun RPP Tematik.

Hasil FGD menyimpulkan untuk penyusunan RPP Tematik dalam siklus 1 mengambil tema Lingkungan. Tema ini diambil karena disesuaikan dengan silabus dan program semester yang ada terutama waktu pelaksanaan sehingga RPP yang sudah jadi dapat langsung digunakan di sekolah.

Pertemuan kedua hari Rabu, 8 Agustus 2019 kegiatan yang dilakukan adalah:

  1. Pelaksanaan Tindakan

Beragamnya pemahaman tentang pembelajaran tematik mengisyaratkan bahwa guru belum memahami tentang pembelajaran tematik. Peneliti memberikan gambaran singkat tentang pembelajaran tematik agar guru memiliki pandangan yang sama untuk memudahkan penyusunan RPP. Penjelasan meliputi landasan pembelajaran tematik, langkah-langkah pembelajaran tematik.

Guru berdiskusi menentukan indikator, kelompok mata pelajaran, media pelajaran dan alat evaluasi dengan mengacu pada silabus yang telah ditetapkan dalam KKG sebelumnya. Diskusi dilanjutkan dengan diskusi kecil terdiri atas 3 kelompok, tujuannya agar diperoleh RPP yang bervariasi dari satu tema.

Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi yang diwakili oleh salah satu anggota kelompok. Kelompok lain memperhatikan dan memberikan masukan agar RPP siap digunakan. RPP yang telah disusun dan disetujui digandakan untuk masing-masing peserta KKG.

Setiap kelompok mempunyai kesempatan yang sama dalam menyampaikan hasil diskusi. Laporan hasil diskusi diutamakan pada rancangan gagasan ide penyusunan RPP, untuk penyusunan tulisan disempurnakan setelah adanya masukan hasil diskusi. Hasil penilaian penyusunan RPP untuk masing-masing kelompok dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Penilaian Penyusunan RPP menggunakan IPKG 1

No. Kemampuan Yang Diamati Skor Skor Maksimal
Kelompok1 Kelompok 2 Kelom pok 3 Rata-rata
1. Merumuskan Tujuan Pembelajaran 2,5 2,5 2,5 2,50 4
2. Mengembangkan dan mengorganisasikan materi, media pembelajaran, dan sumber belajar 3 3 3 3,00 4
3. Merencanakan skenario kegiatan pembelajaran 2,6 2,8 2,6 2,67 4
4. Merancang pengelolaan kelas 2,5 2,5 2,5 2,50 4
5. Merencanakan prosedur, jenis, dan menyiapkan alat penilaian 2,5 2,5 2,5 2,50 4
6. Tampilan dokumen rencana pembelajaran 3,5 3,5 3,5 3,50 4
Jumlah 16,6 16,8 16,6 16,67 24
Rata-rata 2,77 2,8 2,77 2,78

Jumlah nilai rata-rata skor perolehan 16,67, sedang skor maksimal 24 sehingga nilai kemampuan menyusun RPP = X 100 = 69,46.

Nilai 69,46 berada dalam rentang nilai 51 – 75 termasuk dalam kategori cukup.

Meskipun kondisi awal dan kondisi siklus 1 kemampuan menyusun RPP sama-sama dalam kategori cukup namun dalam siklus 1 sudah ada peningkatan nilai dari kondisi awal sebesar 54,83 menjadi 69,46. Terdapat peningkatan sebesar 14,63.

Perbandingan kemampuan menyusun RPP prasiklus dan siklus 1 dapat dilihat dalam Diagram 4.1

Diagram 4.1. Nilai Kemampuan Menyusun RPP Prasiklus dan Siklus 1

  1. Pengamatan (Observasi)

Pengamatan pelaksanaan KKG meliputi antusias guru dalam pelaksanaan, kehadiran guru, aktivitas guru dan peranan terhadap hasil KKG. Pengamatan menggunakan lembar Penilaian terhadap peserta KKG. Hasil pengamatan masing-masing peserta dirata-rata untuk memberikan gambaran tentang partisipasi guru dalam KKG.

Partisipasi guru dalam KKG siklus I menunjukkan bahwa guru berantusias hadir namun belum siap mengikuti KKG. Guru datang tanpa membawa materi apa yang harus dibahas sehingga mereka pasif ketika diskusi.

Peran guru dalam siklus I hasil rata-rata dapat dilihat pada Tabel 4.3. rata-rata ini dari 6 peserta KKG.

Tabel 4.3. Antusias Guru dalam KKG

No Aspek yang diamati Skor rata-rata Skor Maksimal
A Antusias mengikuti KKG
1 Prosentase kehadiran 4 4
2 Ketepatan kehadiran 3,5 4
3 Kesiapan mengikuti KKG 2 4
B Aktivitas mengikuti KKG
1 Kegiatan dalam pertemuan 2,5 4
2 Peran dalam diskusi 2 4
3 Partisipasi dalam menentukan sumber bahan diskusi 2 4
4 Partisipasi dalam menyipulkan hasil diskusi 2,5 4
5 Peran terhadap hasil KKG 2 4

Nilai antusias mengikuti KKG penghitungannya digunakan rumus :

NR = X 100

Jumlah skor maksimal antusias mengikuti KKG = 12.

Jumlah skor rata-rata antusias mengikuti KKG = 9,5

Maka nilai Antusias mengikuti KKG = X 100 = 79,17

Nilai aktivitas mengikuti KKG penghitungannya digunakan rumus:

NY = X 100

Jumlah skor maksimal Aktivitas mengikuti KKG = 20.

Jumlah skor rata-rata aktivitas mengikuti KKG = 11

Maka nilai Aktivitas mengikuti KKG = X 100 = 55

Nilai respon mengikuti KKG adalah rata-rata antusias dan aktivitas mengikuti KKG, jadi nilai respon mengikuti KKG = 79,17 + 55 dibagi 2 = 67,08

Setelah diperoleh nilai, maka nilai tersebut ditransfer kedalam bentuk kualitatif untuk memberikan komentar bagaimana Antusias dan Aktivitas mengikuti KKG dengan kriteria penilaian acuan patokan skala empat sebagai berikut:

Rentang Nilai Kategori
76 – 100 Respon Aktif
51 – 75 Respon Sedang
26 – 50 Kurang Merespon
0 – 25 Tidak ada respon

Nilai 67,08 berada dalam rentang 51 – 75 termasuk kategori respon sedang.

  1. Refleksi

Kegiatan penelitian siklus I, belum menunjukkan perubahan yang menonjol. Dari tahap perencanaan belum semua guru berperan aktif dalam menanggapi masalah yang dihadapi rekan-rekan guru. Rata-rata penyusunan RPP berdasarkan IPKG 1 belum mencapai nilai 80 maka perlu ditindaklanjuti dengan siklus 2.

Aktifitas guru dalam KKG masih perlu ditingkatkan, belum semua guru siap dalam mengikuti KKG, perlu perubahan cara pembinaan agar perhatian guru lebih maksimal.

  1. Siklus 2

Siklus 2 dilaksanakan dalam 2 pertemuan, pertemuan 1 kegiatan tahap perencanaan hari Senin, 20 Agustus 2019 dan pertemuan 2 meliputi kegiatan pelaksanaan, Penilaian dan refleksi Jum’at, 24 Agustus 2019

  1. Perencanaan Tindakan

Hasil refleksi pada siklus 1 menyimpulkan bahwa strategi kegiatan KKG diubah agar aktifitas guru meningkat, maka pada siklus ini kegiatan dilakukan lebih mengelompok. Peserta KKG ditanya kesulitan yang dihadapi dalam pembuatan RPP. Tema yang ditetapkan dalam penyusunan RPP adalah budi pekerti. Setiap peserta melihat silabus masing-masing, mencermati isi indikator, langkah-langkah pembelajaran pada tema pengalaman. Guru menyampaikan kesulitan yang dihadapi dalam menyusun RPP.

  1. Pelaksanaan Tindakan

Penyusunan RPP dilakukan dengan panduan dari peneliti mulai dari penyusunan tujuan pembelajaran. Setiap peserta diarahkan agar dapat menyusun tujuan pembelajaran, setelah tujuan pembelajaran dikuasai, kegiatan dilanjutkan menyusun langkah langkah pembelajaran.

Kesulitan masing-masing peserta KKG dikonsultasikan sebelum melangkah ke tahap berikutnya. Tujuan kegiatan ini adalah agar diperoleh gambaran yang sama antar peserta dalam memahami RPP Tematik.

RPP yang telah disusun dilakukan penilaian menggunakan instrumen IPKG 1. Hasil penilaian RPP dapat didilihat pada Tabel 4.4. Penyusunan ini masih menggunakan bentuk kelompok kecil agar kemajuan peningkatan penguasaan RPP dapat dibandingkan dengan RPP pada siklus 1. Pembagian kelompok masih tetap sama seperti Siklus 1 hal ini dimaksudkan agar kemajuan penguasaan pembuatan RPP terlihat perkembangannya.

Tabael 4.4. Penilaian RPP Siklus 2 menggunakan IPKG 1

No. Kemampuan Yang Diamati Skor Skor Maksimal
Kelompok1 Kelompok 2 Kelom pok 3 Rata-rata
1. Merumuskan Tujuan Pembelajaran 4 4 4 4 4
2. Mengembangkan dan mengorganisasikan materi, media pembelajaran, dan sumber belajar 4 4 4 4 4
3. Merencanakan skenario kegiatan pembelajaran 3,8 3,8 3,8 3,8 4
4. Merancang pengelolaan kelas 4 3,5 4 3,83 4
5. Merencanakan prosedur, jenis, dan menyiapkan alat penilaian 4 4 4 4 4
6. Tampilan dokumen rencana pembelajaran 4 4 4 4 4
Jumlah 19,8 19,3 19,8 19,63 24
Rata-rata 3,3 3,22 3,3 3,27

Jumlah skor rata-rata 19,63, skor maksimal 24, maka nilai RPP pada siklus

2 = X 100 = 81,79

Peningkatan nilai IPKG 1 dari siklus 1 sebesar 69,46 menjadi 81,79 pada siklus 2, terdapat peningkatan sebesar 12,33 sedang dari prasiklus ke siklus 1= 14,63

Terdapat peningkatan kemampuan guru dalam menyusun RPP Tematik dibandingkan pada siklus 1. Penigkatan terjadi pada setiap instrumen penilaian.Masing-masing kelompok memperoleh kemajuan yangberbeda-beda, tergantung dari keseriusan anggota kelompok dalam menyelesaikan tugas. Peningkatan kemampuan menyusun RPP dapat dilihat dalam tabel 4.5

Tabel 4.5. Perbandingan kemampuan menyusun RPP Siklus 1dan Siklus 2 Masing-masing Kelompok

No. Kemampuan Yang Diamati Skor
Kelompok1 Kelompok 2 Kelompok 3
S1 S2 S1 S2 S1 S2
1. Merumuskan Tujuan Pembelajaran 2,5 4 2,5 4 2,5 4
2. Mengembangkan dan mengorganisasikan materi, media pembelajaran, dan sumber belajar 3 4 3 4 3 4
3. Merencanakan skenario kegiatan pembelajaran 2,6 3,8 2,8 3,8 2,6 3,8
4. Merancang pengelolaan kelas 2,5 4 2,5 3,5 2,5 4
5. Merencanakan prosedur, jenis, dan menyiapkan alat penilaian 2,5 4 2,5 4 2,5 4
6. Tampilan dokumen rencana pembelajaran 3,5 4 3,6 4 3,5 4
Rata-rata 2,77 3,97 2,8 3,88 2,77 3,97
Nilai 69,25 99,25 70,00 97,00 69,25 99,25
  1. Pengamatan (Penilaian)

Aktifitas guru dalam mengikuti KKG meningkat. Guru hadir KKG dengan persiapan penuh. Materi yang akan dibahas telah dipersiapkan sehingga pembehasan dapat langsung pada sasaran yang dibahas.

Keaktifan guru mengikuti KKG tergambar dalam Tabel 4.5. Guru mengikuti KKG karena kebutuhan bukan karena keterpaksaan. Hasil KKG langsung dapat digunakan guru dalam pembelajaran di kelas. Beban administrasi guru dapat berkurang sehingga perhatian pada anak didik lebih banyak.

Kehadiran guru dalam KKG lebih awal acara dimulai dengan membawa bahan diskusi berupa silabus dan buku ajar, menunjukkan guru telah siap mengikuti KKG. Aktifitas guru dalam KKG ditunjukkan dengan peranan dalam menyampaikan pendapat dalam diskusi, menyimpulkan hasil diskusi sehingga materi hasil diskusi dapat bermanfaat bagi semua.

Tabel 4.6. Aktifitas Guru dalam KKG

No Aspek yang diamati Skor rata-rata Skor Maksimal
A Antusias mengikuti KKG
1 Prosentase kehadiran 4 4
2 Ketepatan kehadiran 4 4
3 Kesiapan mengikuti KKG 3 4
B Aktivitas mengikuti KKG
1 Kegiatan dalam pertemuan 3 4
2 Peran dalam diskusi 4 4
3 Partisipasi dalam menentukan sumber bahan diskusi 3 4
4 Partisipasi dalam menyipulkan hasil diskusi 4 4
5 Peran terhadap hasil KKG 3 4

Skor antusias mengikuti KKG 11skor maksimal 12 nilai antusias KKG = X 100 = 91,67 dan skor aktivitas mengikuti KKG 17 skor maksimal 20 , maka nilai aktivitas KKG =

X 100 = 85. Respon mengikuti KKG = = 88,33. Nilai 88,33 termasuk dalam rentang nilai 76 – 100 adalah kategori respon aktif.

  1. Refleksi

Bentuk pembinaan dalam kelompok kecil lebih dapat memberikan perhatian pada masing-masing peserta KKG. Bentuk tempat duduk melingkar lebih mengakrabkan masing-masing peserta KKG. Keakraban antar peserta KKG dapat memberikan semangat antar peserta dalam mengikuti KKG. KKG bukan menjadi kegiatan rutinitas formil yang harus diikuti guru.

Hasil siklus 2 terjadi peningkatan dalam penyusunan RPP dan repon guru mengikuti KKG.Penyusunan RPP terdapat peningkatan dari siklus 1 sebesar 69,46 menjadi 81,79 pada siklus 2. Respon KKG meningkat dari 67,08 menjadi 88,33. Kesulitan-kesulitan guru dalam menyusun RPP Tematik dapat dikurangi sehingga guru dalam menyampaikan pembelajaran dapat lebih baik.

  1. Pembahasan
  2. Kondisi Awal

Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasiaktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Kenyataan menunjukkan bahwa guru kelas I Dabin III belum seluruhnya menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, guru yang telah memiliki RPP hanya mencontoh dari penerbit buku sehingga hasil kurang sesuai dengan keadaan sekolah. Hasil penilaian menggunakan IPKG 1 menunjukkan bahwa guru belum seluruhnya mampu merumuskan tujuan pembelajaran skor yang diperoleh rata-rata 2 sedang skor maksimal 4 atau 50% kemampuan guru merumuskan tujuan pembelajaran. Nilai kemampuan rata-rata penyusunan RPP berdasarkan IPKG 1 54,83 tergolong kategori cukup.

  1. Siklus 1

Setiap manusia mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Daya tangkap masing-masing orang sangat dipengaruhi intelegensi dan pengalaman. Sistem klasikal kurang menampung seluruh kemampuan masing-masing individu. Setiap orang tidak ingin mendapat penilaian negatif atau kurang untuk itu ia akan berusaha mengaktualisasikan diri dalam bentuk kegiatan yang menonjol.

Orang yang merasa belum memahami suatu permasalahan yang disampaikan secara klasikal maka ia akan merasa kurang tertarik oleh sebab itu kurang perhatian terhadap masalah yang sedang dihadapi secara klasikal.

Pelaksanaan KKG pada siklus 1 cenderung klasikal sehingga diperoleh kemampuan guru dalam menyusun RPP masih kurang.Data yang ada menunjukkan bahwa dalam merumuskan tujuan pembelajaran rumusan lengkap tetapi tidak jelas. Nilai rata-rata 2,5 dan skor maksimal 4 berarti tergolong kemampuan rendah. Mengembangan dan mengorganisir materi pelajaran menunjukkan nilai rata-rata 3 skor maksimal 4 tergolong kemampuan sedang.

Merencanakan skenario kegiatan pembelajaran menunjukkan baru mencapai empat diskriptor yang disebutkan secara jelas. Hasil rata-rata penilaian menggunakan IPKG 1 adalah 2,78. Dihitung dengan penguasaan RPP dengan rumus 2,78 dibagi skor maksimal 4 dikali 100 meghasilkan 69,5. Jika dikonfirmasikan dengan tabel kemampuan menyusun RPP maka termasuk kriteria cukup. Aktivitas dan antusias guru dalam mengikuti KKG dari data diperoleh hasil antusias mengikuti KKG rata-rata 3,17 dan aktivitas mengikuti KKG rata-rata 2,2 rata-rata kedua instrumen 2,68. Dihitung menggunakan rumus 2,68 dibagi skor maksimal 4 dikalikan 100 diperoleh hasil 67,08Jika dikonfirmasi dengan tabel respon mengikuti KKG termasuk kategorirespon sedang.

Tabel Respon Mengikuti KKG

Rentang Nilai Kategori
76 – 100 Respon Aktif
51 – 75 Respon Sedang
26 – 50 Kurang Merespon
0 – 25 Tidak ada respon

Hasil penilaian IPKG 1 69,5 masih dibawah indikator kinerja yang ditetapkan minimal 80 maka perlu dilakukan penelitian siklus 2.

  1. Siklus 2

Diskusi kelompok adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai pengalaman individu dalam interaksinya dengan lingkungan yang dilakukan secara bersama-sama atau berkelompok.Perencanaan tindakan pada siklus 2 menggunakan strategi kelompok. Pengaturan tempat duduk dibuat melingkar agar terjadi komunikasi multi arah lebih maksimal.

Pengembangan sumber daya manusia yang sangat mendasar dalam tatanan pendidikan, tidak dapat melepaskan dari wacana persekolahan sebagai sistem. Komponen strategis dalam sistem persekolahan adalah tenaga kependidikan khususnya sosok guru. Dalam Proses pendidikan akan terjadi suatu pergeseran nilai-nilai yang semakin bergerak ke arah yang penuh ketidakpastian, manakala komponen sistem pendidikan di negara kita tidak mampu mengantisifasi dan memprediksi. Hal itu, terutama dalam mempersiapkan dan meningkatkan kualitas guru yang secara langsung berhadapan dengan proses pembelajaran di sekolah.

Pengelolaan KKG agar dapat menampung kamauan dan kesulitan guru dalam menyampaikan pembelajaran menjadikan prioritas utama pelaksanaan KKG. Karena guru merupakan agen pembelajaran yang harus dapat memanusiakan manusia.

Pembinaan secara individu dapat memberikan peluang pada guru untuk menyampaikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam pembelajaran khususnya dalam menyusun RPP. Kemampuan rata-rata kelompok 1 terjadi peningkatan dari siklus 1 sebesar 69,25 menjadi 99,25 pada siklus 2 berarti terdapat peningkatan sebesar 30 nilai. Kelompok 2 memperoleh peningkatan dari 70 pada siklus 1 menjadi 97 pada siklus 2 sehingga terdapat peningkatan nilai sebesar 27. Kelompok 3 memperoleh peningkatan daari siklus 1 sebesar 69,25 menjadi 99,25 pada siklus 2 berarti terdapat peningkatan nilai sebesar 30. Hasil rata-rata pada siklus 2 menunjukkan98,17 termasuk katergori baik.Peningkatan kemampuan menyusun RPP dalam tabel 4.5 dapat digambarkan dalam Diagram Batang 4.

Diagram 4.2 Perbandingan Kemampuan Menyusun RPP Siklus 1 dan 2

Hasil Penilaian pelaksanaan KKG menunjukkan skor3,53 atau memperoleh nilai 88,25. Terjadi kenaikan aktivitas KKG dari siklus 1 sebesar 21,25%.

Indikator kinerja menyebutkan bahwa penelitian dianggap berhasil apabila hasil Penilaian antusias pelaksaan KKG meningkat 20% dari pelaksanaan sebelumnya. Pada siklus 2 hasil Penilaian 21,25% berarti telah melampaui batas ketentuan minimal. Hasil penilaian penguasaan penyusunan RPP menurut indikator kinerja menyebutkan bahwa penelitian dianggap berhasil apabila telah mencapai rata-rata minimal 80. Siklus 2 menunjukkan perhitungan penguasaan penyusunan RPP sebesar 98,17 berarti telah mencapai batas indikator kinerja oleh sebab itu penelitian siklus 2 sudah dianggap berhasil.

  1. PENUTUP
  2. SIMPULAN
  3. Kemampuan merencanakan pembelajaran diukur menggunakan instrumen IPKG 1. Data IPKG 1 menunjukkan adanya peningkatan. Peningkatan terlihat dari kondisi awal 54,83 meningkat pada siklus 1 menjadi 69,46 dan pada siklus 2 mencapai 98,17 dengan kategori baik. Kegiatan Focus Discution Group terbukti dapat meningkatkan kemampuan guru SD Negeri Ketanggung dalam merencanakan pembelajaran Tematik.
  4. Antusias guru mengiktui KKG meningkat dari siklus 1 sebesar 67,08 menjadi 88,33 pada siklus 2 termasuk dalam kategori respon aktif mengikuti KKG. Kegiatan Focus Discution Group dapat digunakan untuk meningkatkan pengembangan profesional guru dalam mengelola pembelajaran khususnya dalam merencanakan pembelajaran.
  5. SARAN

Berdasar hasil simpulan maka saran yang dapat disampaikan dalam tulisan ini adalah:

  1. Pembelajaran Tematik merupakan pembelajaran yang memadukan beberapa mata pelajaran sehingga dalam merencanakan pembelajaran sangat merepotkan untuk itu dapat dilakukan dalam KKG dengan teknik FGD.
  2. Kemampuan dan pemahaman tiap orang berbeda-beda oleh sebab itu dalam pelaksanaan KKG hendaknya perhatian pada setiap individu diperhatikan.
  3. Penelitian ini hanya pada tahap merencanakan pembelajaran, akan lebih sempurna apabila dilakukan penelitian pelaksanaan pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Model Silabus Mata Pelajaran SD/MI. Jakarta: BP. Cipta Jaya.

Djamarah, Syaiful Bahri. (2002). Psikologi Belajar. Bandung: Rineka Cipta.

Dworetzky, John. P. (1990). Introduction to Child Development. New York: West Publishing Company.

Hamalik, O. (2003). Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: Bumi Aksara.

Ibrahim, R. Dan Syaodih Sukmadinata, N. (2003). Perencanaan Pengajaran. Bandung: Rineka Cipta.

Makmun. ( 1995;68 ) Tugas-tugas perkembangan anak sekolah.

Nasution, S. (1989). Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Ruseffendi, (2001). Penilaian Pendidikan dan Hasil Belajar Siswa. Bandung : Modul

Raka, T.J. (1996). Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Sanjaya, W. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media.

S Syaodih Nana, (2006). Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah(konsep,prinsif, dan instrumen). Bandung : Aditama.

Sudrajat Akhmad. Pendekatan Pembelajaran. (Jurnal Pendidikan & Budaya) /Maret2009/Pendekatan Kontekstual dalam pembelajaran Matematika/Erman Suherman. (Diunduh 23 Oktober 2010).

Tilaar. (1998). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. Magelang : Penerbit Tera Indonesia.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Wahyudin. (2002). Kapita Selekta Matematika Sekolah, JICA UPI.

BIODATA PENULIS

Nama : Sri Pamuji, S.Pd.

NIP : 19660429 198810 2 003

Pangkat/Golongan : Pembina, IV/a

Jabatan : Kepala Sekolah

Instansi : SD Negeri Ketanggung Korwil Bidang Pendidikan Kec. Sampang Kab. Cilacap

Judul : PENERAPAN KEGIATAN FOCUS GROUP DISCUSSION SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU SD DALAM MERENCANAKAN PEMBELAJARAN TEMATIK PADA GURU SD NEGERI KETANGGUNG SAMPANG SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2019/2020

By admin

You cannot copy content of this page