Iklan

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSEPSI VISUAL PENDIDIKAN ISLAM

Oleh : Teguh Dasa Prianto – Guru PAI – SMP Negeri 1 Sumbang

  1. PENDAHULUAN

Pendidikan watak atau karakter sejak awal munculnya dalam pendidikan sudah dianggap sebagai hal yang niscaya oleh para ahli. John Dewey misalnya, sebagaimana dikutip oleh Frankn G. Boble pada tahun 1916, pernah berkata, “sudah merupakan hal lumrah dalam teori pendidikan bahwa pembentukan karakter atau watak merupakan tujuan umum pengajaran dan pendidikan budi pekerti di sekolah.” (Mu’in, 2011 : 297). Pendidikan karakter pertama kali dicanangkan di Indonesia, yaitu pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudiono (SBY), dalam acara pringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2010. Pendidikan karakter menjadi isu yang sangat hangat saat itu, sehingga pemerintah memiliki tekad untuk menjadikan pengembangan karakter dan budaya bangsa sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional yang harus didukung secara serius (Mu’in, 2011 : 323).

Kemudian dalam undang – undang Sistem Pendidikan Nasioanal nomor 20 tahun 2013 juga disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangasa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan karakter diperkuat pula dengan adanya Peraturan Menteri Agama nomor 2 tahun 2008, di dalam latar belakang kurikulumnya dinyatakan bahwa kurikulum ini diharapkan dapat membantu mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan dimasa depan. Standr kompetensi dan kompetensi dasar diarahkan untuk menambahkan dan memberikan kecakapan bertahan hidup dalam kondisi yang beragam dengan berbagai perubahan serta persaingan. Kurikulum ini dicanangakan untuk mendapatkan lulusan yang kompeten, baik, dan cerdas dalam membangun sosial dan mewujudkan karakter.

Dari beberapa kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa antara pendidikan nasional dan pendidikan secara umum memiliki fungsi dan tujuan yang sama dalam membentuk karakter atau kepribadian yang baik terhadap peserta didik. Hal ini menunjukan betapa besarnya keseriusan pemerintah dalam upaya merealisasikan pendidikan karakter di negara tercinta ini. Agar tercipta karakter bagi setiap individu dan masyarakat Indonesia secara menyeluruh maka pendidikan karakter harus ditanamkan secara berkesinambungan sejak anak usia dini sampai menginjak dewasa. Hal ini seperti apa yang diungkapkan oleh Majid dan Andayani, yang menjelaskan bahwa secara alami, sejak lahir sampai berusia tiga tahun, atau mungkin hingga sekitar usia lima tahun, kemampuan menalar seorang anak belum tumbuh sehingga pikiran bawah sadar masih terbuka dan menerima apa saja informasi dan stimulus yang dimasukan ke dalamnya tanpa ada penyeleksian. Informasi dan stimulus yang sangat mungkin masuk dan mudah sekali diterima oleh seorang anak adalah berasal dari orang yang terdekat, yaitu orang tua dan lingkungan keluarganya. Dari mereka itulah pondasi awal terbentuknya karakter sudah terbangun dengan kuat. Karakter tidak dapat dikembangkan secara segera dan cepat (instant), namun harus melewati suatu proses yang panjang, cermat dan sistematis (Majid dan Andayani, 2012 : 108).

Oleh karenanya pendidikan karakter harus ditanamkan sejak anak masih kecil dan melalui proses yang disesuaikan dalam tahapan tumbuh kembang anak. Hal ini menunjukan bahwa dalam pembentukan karakter anak diperlukan kesabaran dan keekunan para pendidiknya yang harus didukung dengan keseimbangan antara pendidikan ornag tua di rumah dengan pendidikan di sekolah. Pembentukan watak atau karakter tentunya harus dimulai dari pribadi atau diri sendiri, dalam keluarga sebagai sel inti sebuah bangsa, terutama orang tua sebagai pendidik utama di rumahnya. Pembentukan merupakan proyek besar (mega proyek) yang benar-benar tidak muda, membutuhkan usaha dan energi yang tidak sedikit serta keseriusan mutlak. Sungguh dibutuhkan komitme, ketekunan, keuletan, proses, metode, waktu dan keteladanan sebagai faktor yang paling utama (Sumantri, 2008 : 57 ).

Masih menurut Majid dan Andayani, menjelaskan bahwa dalam Islam terdapat tiga nilai utama, yaitu akhlak, adab, dan keteladanan. Akhlak merujuk kepada tugas dan tanggung jawab selain syari’ah dan ajaran islam secara umum. Sedangkan tentang adab merujuk kepada sikap yang dihubungkan dengan tingkah laku yang baik. Sedangkan keteladanan merujuk pada kualitas karkter yang ditampilkan oleh seorang muslim yang baik yang mengikuti keteladanan nabi Muhammad Saw. Ketiga nilai inilah yang menjadi tonggak dan pilar pendidikan karakter dalam agama Islam (Majid dan Andayani, 2012 : 58).

Dari penjelasan dan latar belakang tersebut, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Apakah pendidikan karakter itu ?
  2. Bagaimana pendidikan karakter dalam presepsi visual pendidikan Islam ?
  3. Bagaimana implementasi Pendidikan Islam sebagai pendidikan karakter ?
  4. PEMBAHASAN
  5. Pendidikan Karakter

Karakter dalam bahasa Inggris berasal dari kata character dan dalam bahasa Indonesia “karakter”, dari Yunani charassein yang berarti membuat tajam, membuat dalam. Kamus Purwadarminta menyebutkan, bahwa karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat – sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan sesorang dengan yang lain. Nama dari jumlah seluruh ciri pribadi yang meliputi hal-hal seperti perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola pemikiran.

Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik dan jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. Lebih lanjut Majid dan Andayani menyatakan bahwa pendidikan karakter memiliki beberapa pilar antara lain :

  1. Moral knowing, merupakan aspek pertama yang memiliki unsur :
  • Kesadaran moral
  • Pengetahuan tentang nilai-nilai moral
  • Penentuan sudut pandang
  • Logika moral
  • Kebenaran mengambil menentukan sikap
  • Pengenalan diri
  1. Moral loving atau moral feeling, merupakan penguatan aspek siswa untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk yang harus dirasakan oleh siswa, yaitu kesadaran akan jati dirinya, yang meliputi :
  • Percaya diri
  • Kepekaan terhadap derita orang lain
  • Cinta kebenaran
  • Pengendalian diri
  • Kerendahan hati
  1. Moral doing / acting, yaitu sebagai outcome akan dengan mudah muncul dari para siswa setelah dua pilar di atas terwujud. Moral acting menunjukan kesempurnaan dari pada kompetensi yang dimiliki oleh siswa setelah melalui proses pembelajaran. Kemampuan yang dimiliki para siswa bukan hanya bermanfaat bagi dirinya melainkan mempu memberikan manfaat kepada orang lain yang ada disekitarnya (Majid dan Andayani, 2012 : 30).

Dalam dunia pendidikan ketiga unsur tersebut seharusnya dimiliki oleh seluruh siswa. Pilar-pilar pendidikan karakter menyentuh ranah kognirif, afektif dan psikomotorik yang ketiganya saling melengkapi dan memberikan kesempurnaan potensi yang dimiliki oleh para siswa. Ketiga pilar tersebut berkaitan erat satu sama lain dan harus dimiliki secara bersamaan setelah proses belajar mengajar dilakukan.

Setiap sistem pendidikan baik itu pendidikan nasional, pendidikan Islam, pendidikan barat, maupun pendidikan karakter itu sendiri masing-masing memiliki ciri khusus. Ciri-ciri tersebut menjadi gambaran akan adanya titik perbedaan maupun persamaan yang signifikan. Seperti halnya pendidikan karakter memiliki empat ciri dasar menurut Foerster, yaitu :

  • Keteraturan interior, dimana setiap tindakan diukur berdasarkan hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan.
  • Koherensi yang memberi keberanian membuat seseorang teguh pada prinsip dan tidak mudah terombang ambing pada situasi baru atau takut resiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa satu sama lain. Tidak adanya koherensi dapat meruntuhkan kredibilitas seseorang,
  • Ortonomi, seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh desakan pihak lain.
  • Keteguhan dan kesetiaan, keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mendapatkan apa yang dipandang baik. Dan keseitiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih (Tafsir, 2013 : 36-37).
  1. Pendidikan Karakter dalam Persepsi Visual Pendidikan Islam.

Dalam dunia pendidikan terjadi prubahan warna, yaitu dengan munculnya pendidikan karakter khususnya di negara Indonesia. Meskipun dalam kenyataannya pendidikan karakter itu telah ada seiring dengan lahirnya sistem pendidikan Islam, karena pendidikan karakter itu merupakan ruh dari pada pendidikan Islam itu sendiri. Pendidikan Islam merupakan sebuah sistem, yang merupakan seperangkat komponen atau unsur-unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan (Ramayulis, 2010 : 19). Maka dari itu pendidkan Islam memiliki komponen-komponen yang saling berkaitan yang menjadi ruang lingkupnya. Adapun ruang lingkup pendidikan Islam tersebut menurut Uhbiyati adalah sebagai berikut :

Perbuatan mendidik itu sendiri, yaitu seluruh kegiatan, tindakan atau perbuatan, dan sikap yang dilakukan oleh pendidik sewaktu menghadapi atau mengasuh anak didik.

  • Anak didik, yaitu pihak yang merupakan objek terpenting dalam pendidikan. Hal ini disebbkan perbuatan atau tindakan mendidik itu diadakan atau dilakukan hanyalah untuk membawa anak didik kepada tujuan pendidikan Islam yang dicita-citakan.
  • Dasar dan tujuan pendidikan Islam, yaitu landasan yang menjadi fundamen serta sumber dari segala kegiatan pendidikan Islam ini dilakukan.
  • Pendidik, yaitu subjek yang melaksanakan pendidikan Islam.
  • Materi pendidikan Islam, yaitu bahan-bahan, atau pengalaman-pengalaman belajar ilmu agama Islam yang disusun sedemikian rupa untuk disajikan atau disampaikan kepada anak didik.
  • Metode pendidikan Islam, yaitu cara yang paling tepat dilakukan oleh pendidik untuk menampaikan bahan atau materi pendidikan Islam kepada anak didik.
  • Alat-alat pendidikan Islam, yaitu alat-alat yang dapat digunakan selama melaksanakan pendidikan Islam agar tujuan pendidikan Islam tersebut lebih berhasil.
  • Lingkungan sekitar atau millieu pendidikan Islam, yaitu keadaan-keadaan yang ikut berpengaruh dalam pelaksanaan serta hasil pendidikan Islam.

Mujib dan Mudzakir, mendefinisikan pendidikan Islam dengan : upaya mengembangkan, mendorong, serta mengajak manusia untuk lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan maupun perbuatan (Mujib dan Mudzakir, 2006 : 36). Dari penjelasan ini, maka dalam pendidikan Islam terdapat tiga unsur pokok, yaitu :

  • Aktifitas pendidikan adalah mengembangkan, mendorong dan mengjak peserta didik untuk lebih maju dari kehidupan sebelumnya.
  • Upaya dalam pendidikan didasarkan atas nilai-nilai akhlak yang luhur dan mulia.
  • Upaya pendidikan melibatkan seluruh potensi manusia, baik potensi kognitif (akal), afektif (perasaan), dan psikomotorik (perbuatan).

Pendidikan Islam sebagaimana pendidikan pada umumnya berusaha membentuk pribadi manusia, harus melalui proses yang panjang, dengan hasil yang tidak dapat diketahui dengn segera (Ramayulis, 2010 : 132). Oleh karena itu agar usaha tersebut memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan, haruslah diperhitungkan dengan matang dan hati-hati berdasarkan pandangan dan rumusan-rumusan yang jelas dan tepat. Pendidikan Islam harus memahami dn menyadari betul apa yang ingin dicapai dalam proses pendidikan. Hal tersebut dalam istilah pendidikan disebut dengan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan Islam menurut Arifin, secara teoritis dibedakan menjadi dua jenis tujuan, yaitu :

  • Tujuan keagmaan (Al-ghardud diny)

Tujuan pendidikan Islam penuh dengan nilai rohaniah Islami dan berorientasi kepada kebhagiaan hidup di akhirat. Tujuan itu difokuskan pada pembentukan pribadi muslim yang sanggup melaksanakan syai’at Islam melalui proses pendidikan spiritual menuju makrifat kepada Allah SWT.

  • Tujuan keduniaan (Al-ghardud dunyawi)

Tujuan pendidikan keduniaan menurut Islam yaitu berorientasi kepada kesejahteraan hidup duniawi yang didasarkan kepada nilai Islami, sehingga tujuan pendidikan tidak gersang dari nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Hal tersebut tentunya bebeda dengan tujuan keduniaan menurut paham pramatisme dan menurut tuntunan hidup ilmu dan teknologi modern yang gersang dari nilai-nilai kemanusiaan dan agama (Arifin, 2006 : 56).

Dari penjelasan-penjelasan tersebut terlihat jelas bahwa pendidikan Islam memiliki tujuan dan memiliki persepsi visual atau pandangan bahwa manusia itu dididik agar memiliki karakter yang baik dalam berbagai bidang. Bukan hanya terhadap Tuhannya saja melainkan juga terhadap sesama makhluk yang berada di bumi ini, Sehingga sudah sangat tepat apa yang disampaikan penjelasan diawal pembahasan ini bahwa pendidikan karakter merupakan ruh dari pendidikan Islam itu sendiri. Pendidikan karakter lahir bersamaan dengan lahirnya pendidikan Islam.

  1. Implementasi Pendidikan Islam sebagai Pendidikan Karakter.

Di negara Indonesia pendidikan karakter sangat mudah diterima, khususnya oleh para pemikir muslim, bukan karena konsep atau teori-teori yang baru, melainkan karena pendidikan karakter itu secara tersirat sebenaranya telah ada pada konsep pendidikan Islam yang selama ini telah diterapkan di negara kita. Pendidikan karakter seolah-olah memperkuat ruh dari pada pendidikan Islam. Pendidikan Islam pada hakikatnya kegiatan untuk membentuk anak didik menjadi manusia yang berkarakter atau bernilai akhlak yang mulia sehingga menjadi manusia yang diridhoi oleh Allah SWT.

Pendidikan Islam memiliki tujuan yang sangat jelas, mempunyai aktivitas dengan metode yang baik, dan dijalankan oleh para pelaku yang memiliki kapasitas dan profeionalisme serta adab yang tinggi. Layaknya pendidikan Islam, pendidikan karakterpun dengan teori-teori mutakhir diterima, dilaksanakan dan berada di tengah-tengah masyarakat muslim dengan objeknya adalah anak didik. Anak didik adalah manusia yang membutuhkan bimbingan, pengajaran, pengetahuan, pertolongan dari manusia dewasa. Mereka haus dengan ilmu pengetahuan yang akan menerangi langkah-langkahnya di kemudian hari. Sedemikian urgen dan pendidikan tersebut bagi seorang anak, maka mereka membutuhkan pendidik muslim yang memiliki sifat-sifat nabi Muahammad Saw, demi terciptanya rumusan-rumusan tujuan pendidikan Islam yang telah ditetapkan serta keberhasilan mereka dalam mencetak generasi baru bercorak insan kamil. Bagaimana mungkin anak didik mau berubah ke arah yang lebih baik seandainya sosok yang mereka perhatikan setiap hari baik di dalam kelas maupun di luar kelas tidak pantas untuk diteladani serta pribadinya tidak mencerminkan sebagai seorang pendidik muslim yang berkarakter baik. Oleh karenanya seorang pendidik muslim harus memiliki sifat-sifat yang mulia sebagai prasyarat menjadi seorang pendidik muslim. Syarat yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik diantaranya adalah :

  • Memiliki sifat zuhud, yaitu tidak mengutamakan materi dan mengajar karena mencari keridoan Alloh SWT semata.
  • Mengetumakan kebersihan baik jasmani ataupun rohani yaitu menjauhi dosa besar, menjauhi dari sifat ria, dengki, permusuhan, perselisihan, dan lain-lain sifat tercela lainnya.
  • Ikhlas dalam kepercayaan, keikhlasan, dan kejujuran di dalam pekerjaannya merupakan jalan terbaik ke arah suksesnya di dalam tugas dan sukses murid-muridnya.
  • Mencintai murid-muridnya seperti cintanya terhadap anak-anaknya sendiri.
  • Mengetahui tabiat, pembawaan, adat, kebiasaan, rasa dan pemikiran murid-muridnya agar ia tidak keliru dalam mendidik murid-muridnya.
  • Menguasai mata pelajaran yang akan diberikan, serta memperdalam pengetahuannya tentang itu sehingga mata pelajaran itu tidak bersifat dangkal (Uhbiyati. 2005 : 77).

Dari segi materipun pendidikan Islam terlihat jelas merupakan pendidikan yang berbasis karakter. Yaitu pendidikan yang mencetak anak didiknya bukan hanya cerdas melainkan juga berkarakter, serta bertujuan memanusiakan manusia dengan bukti kongkrit adanya ;perubahan pada dirinya menjadi lebih baik dalam pengetahuan, dikap, dan keterampilan.

  1. PENUTUP

Pendidikan watak atau pendidikan karakter di Indonesia muncul di tengah-tengah sistem pendidikan Islam yang diterima oleh masyarakat muslim dengan karakter-karakter yang dirumuskan sebagai penguat terhadap pendidikan Islam, sehingga pendidikan karakter pada hakikatnya adalah ruh dalam pendidikan Islam. Pendidikan Islam memiliki ruang lingkup yang sangat jelas dan ter;perinci. Ruang lingkupp tersebut merupakan komponen yang satu sama lain saling keterkaitan, tak dapat dipisahkan satu sama lain sehingga membentuk sebuah sistem Eksistensi pendidikan Islam tidak hanya ditentukan dengan bagus atau tidaknya salah satu komponen melainkan semua komponen berjalan searah demi terciptanya pendidikan Islam di manapun dan sampai kapanpun.

Ruang lingkup pendidikan Islam pada dasarnya mengacu kepada sumber-sumber yang berada dalam pedoman hidup uamt Islam yaitu Al qur’an dan Al Hadits. Sehingga dalam keberadaannya di tengah-tengah masyarakat muslim tidak terlepas dari karakter-karakter atau nilai-nilai yang ada pada pedoman umat Islam tersebut. Karakter-karakter yang diharapkan telah dirumuskan secara jelas yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik setelah mereka menempuh pendidikan baik di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, M. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Tinjauan Teoretis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan dan Interdisipliner. Jakarta: Bumi Aksara.

Majid, A. & Andayani, D. 2012. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mu’in, F. 2011. Pendidikan Karakter Kontruksi Teoretik dan Praktik. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Mujib, A. & Mudzakkir, J. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Ramaliyus. 2010 .Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Sumantri, E. 2008. Seabad Kebangkitan Nasional. Bandung: Yasindo Multi Aspek.

Tafsir, A. 2013. Ilmu Pendidikan Islami. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Uhbiyati, N. 2005. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.

C:\Users\asus\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\FB_IMG_1609734968981.jpg

Nama : Teguh Dasa Prianto, S.Ag

NIP : 197211242008011006

Pangkat/Gol: Penata Muda TK.1/IIIb

Jabatan : Guru Mata Pelajaran Pend. Agama Islam dan Budi Pekerti

Unit Kerja : SMPN 1 Sumbang

E-mail : teguhdasa47@gmail.com

No. HP : 085540425598

Judul : PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSEPSI VISUAL PENDIDIKAN ISLAM

By admin

You cannot copy content of this page