Iklan

PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS IMAN DAN TAQWA TERHADAP PESERTA DIDIK

C:\Users\TOTOK\Downloads\WhatsApp Image 2021-05-18 at 10.08.50.jpeg

Warso, S.Ag.

Abstrak

Pendidikan karakter telah menjadi polemik di berbagai negara. Pandangan pro dan kontra mewarnai diskursus pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan bagian dari esensial yang menjadi tugas sekolah, tetapi selama ini kurang perhatian. Pendidikan karakter diartikan sebagai deliberate us of all demision of school life to foster optimal, character development (usaha secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah untuk membantu pengembangan karakter dengan optimal). Hal ini berarti bahwa untuk mendukung perkembangan karakter peserta didik harus melibatkan seluruh komponen di sekolah baik dari aspek isi kurikulum (the content of the curriculum), proses pembelajaran (the procces of instruction), kualitas hubungan (the quality of relationships), penanganan mata pelajaran (the handling of discipline), pelaksanaan aktivitas ko-kurikuler, serta etos seluruh lingkungan sekolah. Islam adalah ajaran Alloh SWT kepada umat manusia melalui rosul-Nya, mulai dari nabi Adam as sampai nabi Muhammad saw. Pada generasi Nabi Muhammad saw ajaran itu ada di dalam Al-Quran . Itu sebabnya, Alloh swt memosisikan Al-Quran sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia dan nabi Muhammad saw diposisikan Alloh sebagai model orang yang ideal karena ia dianggap oleh Alloh sebagai pribadi yang memiliki karakter paripurna (insan kamil).

Kata kunci : pendidikan karakter, iman, takwa, peserta didik

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan upaya sadar dan terencana yang dilakukan oleh pendidik untuk mengembangkan segenap potensi peserta didiknya secara optimal. Potensi ini mencakup potensi jasmani dan rohani sehingga melalui pendidikan seorang peserta didik dapat mengoptimalkan pertumbuhan fisiknya agar memiliki kesiapan untuk melakukan tugas-tugas perkembangannya dan dapat mengoptimalkan perkembangan rohaninya agar dengan totalitas pertumbuhan fisik dan perkembangan psikisnya secara serasi dan harmonis, dia dapat menjalankan tugas hidupnya dalam seluruh aspeknya baik sebagai anggota masyarakat, individu maupun sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa ( Majid Abdul, Andayani Dian : 2004). Arah dan tujuan pendidikan nasional kita, seperti yang diamanatkan oleh UUD 1945 adalah peningkatan iman dan takwa serta pembinaan akhlak mulia peserta didik yang dalam hal ini adalah seluruh warga negara yang mengikuti proses pendidikan di Indonesia. Karena itu pendidikan yang membangun nilai-nilai moral atau karakter di kalangan peserta didik harus selalu mendapatkan perhatian. Pendidikan di tingkat dasar (SD dan SMP) merupakan wadah yang sangat penting untuk mempersiapkan sejak dini para generasi penerus yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa di masa mendatang. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 3, menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan pada pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab ( UU Nnomor 20 Tahun 2003). Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama dan adat istiadat.

PEMBAHASAN

  • Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil (Kusuma Darma dkk). Hal tersebut senada dengan Ratna Megawangi yang menengarai perlunya metode 4 M dalam pendidikan karakter, yaitu mengetahui, mencintai, menginginkan dan mengerjakan (kowing the good, loving the good, desiring the good and acting the good) kebaikan dengan mengetahui dan mencintai serta berkesinambungan. Metode ini menunjukan bahwa karakter adalah sesuatu yang dikerjakan berdasarkan kesadaran yang utuh. Sedangkan kesadaran utuh adalah sesuatu yang diketahui secara sadar, dicintainya dan diinginkan. Dari kesadaran utuh ini barulah tindakan dapat menghasilkan karakter yang utuh pula (Daradjat Zakiyah: 2001). Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 prosen oleh hard skill dan sisanya 80 prosen oleh soft skill. Kementrian pendidikan nasional telah mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur dan jenjang serta jenis pendidikan. Grand design ini menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Grand design pendidikan karakter nasional menyebutkan bahwa konfigurasi karakter dalam kontek totalitas proses psikologis dan sosial kultural tersebut dikelompokan dalamolah hati (spiritual and emotional development), olah pikir (intellectual development), olah raga dan kinestika (psysical and kinesthetic development), olah rasa dan karsa (affective and creativity development), (Agustian Ari Ginanjar: @001). Menurut Raharjo memaknai pendidikan karakter sebagai suatu proses pendidikan secara holistis yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai pondasi bagi terbentuknya generasi yang berkualitas yang mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

  • Pengertian Iman dan Takwa

Kata iman dari bahasa Arab yaitu amana artinya aman. Maksudnya orang yang beriman selalu memiliki rasa aman karena nyakin selalu dilindungi oleh Alloh SWT. Dalam kaitan inilah iman terkait aqidah. Aqidah itu berasal dari bahasa Arab “aqad” artinya ikatan. Maksudnya ikatan hati dengan Alloh. Definisi iman adalah kenyakinan penuh yang dibenarkan oleh hati, diucapkan oleh lidah dan diwujudkan oleh amal perbuatan. Sistematika dan implementasi arkanul iman adalah sebagai berikut :

  1. Beriman kepada Alloh
  2. Kenyakinan dan ketundukan hanya kepada Alloh
  3. Alloh SWT yang menentukan segala sesuatu tanpa ada campur tangan kekuasaan lain.
  4. Dari Alloh SWT alam ini dan Alloh SWT pula yang menentukan batasannya.
  5. Beriman kepada malaikat
  6. Menyakini ada mahluk gaib yang bernama malaikat dengan tugas yang telah digariskan Alloh SWT
  7. Kehadiran malaikat sangat berkaitan dengan kelangsungan hidup manusia atau alam ini.
  8. Beriman kepada Rosul Alloh
  9. Menyakini pesuruh Alloh di atas bumi hanya Rosul Alloh yang dibimbing oleh wahyu.
  10. Meneladani dan mengikuti petunjuknya yang sangat besar dan pasti.
  11. Beriman kepada kitab Alloh
  12. Menyakini keberadaan wahyu atau firman Alloh yang ditulis dalam kitab agama samawi.
  13. Kitab agama samawikebenaran isi dan tulisannya itu adalah mutlak dari Alloh.
  14. Beriman kepada hari kiamat
  15. Menyakini dibalik kehidupan fana (dunia) ini ada lagi kehidupan yang abadi dan kekal.
  16. Adanya pertanggungjawaban manusia kepada Alloh.
  17. Adanya pembagian tempat dan kedudukan bagi manusia nantinya yang sesuai dengan ibadah dan amalannya.
  18. Beriman kepada qada dan qadar
  19. Dalam kehidupan ini tetap dada campur tangan Alloh SWT (genggaman kekuasaan).
  20. Usaha dan perjuangan manusia sangat bersinergi dengan kasih sayang Alloh SWT.

Taqwa berarti berhati-hati, mawas diri dan waspada. Menurut H.A. Salim dalam “Dienul Islam” yang dituliskan oleh H. Nasruddin Rajak, disebutkan bahwa takwa lebih tepat disalin dengan kata “ingat” dengan makna awas, hati-hati yaitu menjaga diri, yang dapat diusahakan dengan melakukan yang baik dan yang benar, menjauhi larangannya. Jadi pengertian takwa secara umum ialah sikap mental orang-orang mukmin dari kepatuhannya dalam melaksanakan perintah-perintah Alloh SWT serta menjauhi larangan-larangan Nya atas dasar kecintaan sesama. Taqwa merupakan nilai yang mendasar dan sangat mulia yang harus dimiliki oleh seorang muslim dikarenakan :

  1. Ukuran jauh dekatnya seseorang dengan Alloh SWT.
  2. Ukuran jauh dekatnya seseorang dengan Alloh SWT. Orang yang paling mulia disisi Alloh adalah orang yang bertakwa (Al-Hujarat:13).
  3. Merupakan bekal yang paling baik (Al-Baqarah:197)
  4. Pakaian yang paling baik yang harus dipakai manusia (Al-A’raf:26)
  5. Kekasih atau disayangi Alloh SWT (Yunus:62-63).
  6. Amalan orang yang takwa diterima Alloh SWT (Al-Maidah:27).

Iman dan takwa adalah dua unsur pokok bagi pemeluk agama. Keduanya merupakan elemen yang penting dalam kehidupan manusia dan sangat erat hubungannya dalam menentukan nasib hidupnya serta memiliki fungsi urgen,(Ince Ami:2008). Khususnya filsafat agama yang membahas masalah agama dari segi filsafat. Landasan berfilsafat adalah akal bukan wahyu, oleh karena itu dalam sejarah filsafat terdapat filosof yang beriman dan ada filosof yang kultur yang hanya percaya pada pengetahuan panca indra yang didukung oleh akal, terutama filosofi yang beraliran materialisme.Sebenarnya antara berberfikir filosofis dan berfikir religius mempunyai titik mulai yang sama, keduanya mulai dengan percaya. Menurut agama islam diartikan secara sederhana adalah kepercayaan yang memunculkan ketaqwaan, sedangkan dalam filsafat agama, iman tersebut dipahami secara radikal dan ketakwaan dipahami sebagai konsep etika (Marimba Ahmad:1981).

Indikator orang yang beriman dan bertaqwa :

  1. Orang beriman antara lain :
  2. Senantiasa hatinya bergetar apabila membaca, mendengar ayat-ayat suci Al-Quran (QS, Al-Anfal:2).
  3. Mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rezeki yang diberikan Alloh SWT (QS, Al-Anfal:3)
  4. Taat kepada Alloh dan Rosul-Nya (QS, Al-Anfal:24).
  5. Beramal dan berdakwah dengan penuh kesabaran (QS. Al-Ashar:3).
  6. Orang yang bertaqwa antara lain :
  7. Memelihara diri dari hal-hal yang menjerumuskan ke neraka. Dalam Al-Quran disebut pada surat (Ali-Imron:131).
  8. Selalu menuju pada maghfirah (ampunan Alloh SWT), QS. Al-Imron:133.
  9. Apabila berbuat keji, segera mengingat Alloh dan memohon ampunan Nya (QS. Al-Imron:135).

Kemudian indikator iman dan takwa dapat dirincikan sebagai berikut :

  1. Aspek kenyakinan yang mencerminkan nilai-nilai Islam.
  2. Aspek ucapan yang mencerminkan nilai-nilai Islam.
  3. Aspek perbuatan yang mencerminkan nilai-nilai Islam.

Mentalitas iman dan taqwa yang harus ditanamkan antara lain :

  1. Tawadlu : rendah hati atau tidak sombong
  2. Qonaah : merasa cukup dengan yang dititipkan Alloh.
  3. Wara : menjauhi yang haram dan subbut.
  4. Yakin : optimisme (Darajat Zakiyah: 2000).
  • Peran pendidik dalam pelaksanaan pendidikan karakter berbasis iman dan taqwa

Dalam tataran operasional, maka pengejahwantahan cita-cita pembangunan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa melalui pendidikan karakter pada pundak pendidik. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen mendifinisikan guru sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Terdapat beberapa sasaran utama yang perlu menjadi perhatian sebagai target dalam meningkatkan nilai iman dan taqwa bagi pendidik sebagai berikut :

  1. Pendidik dapat memahami konsep tauhid yang benar.
  2. Pendidik dapat memahami pedoman hidup hakiki secara kaffah.
  3. Pendidik dapat memahami hadist secara benar dan menyeluruh.
  4. Terlahir semangat silaturahmi dari para peserta didik kepada kaum ilmuwan.
  5. Lahirnya kebiasaan untuk berdiskusi nilai-nilai agama di lingkungan tempat pendidik bekerja.
  6. Lahirnya sikap yang santun dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
  7. Lahirnya kebiasaan yang konsisten untuk beramal sholeh.
  8. Meningkatkan tanggungjawab bekerja
  • Iman dan Taqwa dalam perspektif perundang-undangan

Perubahan Undang-Undang sistem pendidikan nasional dari Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 kepada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 diantaranya dikarenakan tidak memadai lagi undang-undang yang pertama dan disempurnakan agar sesuai dengan amanat perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Perubahan ini secara langsung juga berimplikasikan terhadap model pendidikan secara nasional, terutama nilai baik di lingkungan pendidikan formal maupoun pendidikan non formal (PLS). Minimal terdapat empat faktor yang mendukung pendidikan nilai dalam proses pembelajaran berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Nomor 20 Tahun 2003 sebagai berikut :

  1. UUSPN nomor 20 Tahun2003 yang bercirikan desentralistik menunjukan bahwa pengembangan nilai-nilai kemanusiaan terutama yang dikembangkan melalui demokratisasi pendidikan menjadi hal utama.
  2. Tujuan pendidikan nasional yang utama menekankan pada aspek keimanan dan ketaqwaan.
  3. Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) menandakan bahwa nilai-nilai kehidupan peserta didik perlu dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan belajar.
  4. Perhatian UUSPN Nomor 20 Tahun 2003 terhadap pendidikan anak usia dini (PAUD) memiliki misi nilai amat penting bagi perkembangan anak.
  • Iman dan Taqwa dalam perspektif kecerdasan emosional

Akar kata emotion adalah movere, kata latin yang berarti “bergerak”. Ditambah awalan “e” memberi arti “bergerak menjauh”. Kata emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang menyertainya, keadaan psikologis dan biologis dan sederet dorongan untuk beraksi. Padanan istilah emosi yang mendekati kesesuaian dalam Al-Quran mungkin adalah Nafs (dalam bahasa Indonesia disebut nafsu atau hawa nafsu). Namaun kata nafs sendiri dalam Al-Quran juga bermakna nyawa atau diri atau pribadi, dalam suarat Al-Imron:158 : Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Kecerdasan emosional erat hubungannya dengan peransaan manusia. Emosi menuntut kita menghadapi saat-saat kritis dan tugas-tugas yang terlampau risaukan bila hanya diserahkan kepada otak. Perasaan bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor ndiantaranya sugesti, kelelahan, perhatian, intelegensi sehingga ikut mewarnai emosi. Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali disampaikan pada tahun 1990 oleh ahli psikologi Pieter Salovey dari Universitas Harvard dan John Mayer dari Universitas New Hampshire, keduanya menerangkan adanya kualitas-kualitas yang penting bagi keberhasilan antara lain: empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri , disukai, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan dan sikap hormat. Salovey dan Meyer sendiri mengatakan kecerdasan emosional sebagai himpunan bagian dari kecerdasan sosial melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan. Konsep kecerdasan emosional terdiri dari :

  1. Kemampuan mengenali emosi diri
  2. Kemampuan mengelola emosi diri.
  3. Kemampuan memotivasi diri.
  4. Kemampuan mengenali emosi orang lain.

Menurut Goleman, seorang yang mengalami kemerosotan emosi akan mempunyai perilaku sebagai berikut :

  1. Menarik diri dari pergaulan atau masalah sosial, lebih suka menyendiri, bersikap sembunyi, banyak bermuram durja, kurang bersemangat, merasa tidak bahagia.
  2. Cemas dan depresi, menyendiri, sering takut dan cemas, ingin sempurna, merasa tidak dicintai , gugup atau sedih.
  3. Memiliki masalah dalam perhatian atau berfikir, tidak mampu memusatkan perhatian atau duduk tenang, melamun, bertindak tanpa berpikir.
  4. Nakal atau agresif, bergaul dengan anak-anak yang bermasalah, bohong, menipu, sering bertengkar, bersikap kasar terhadap orang lain.

Banyak keuntungan bila seseorang mempunyai kecerdasan emosi yang baik diantaranya :

  1. Kecerdasan emosional mampu menjadi alat untuk pengendalian diri sehingga seseorang tidak terjerumus ke dalam tindakan bodoh yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
  2. Kecerdasan emosional bisa diimplementasikan sebagai cara yang sangat baik untuk memusatkan atau membesarkan ide, konsep atau bahkan sebuah produk dengan pemahaman tentang diri, kecerdasan emosional juga menjadi cara terbaik dalam membangun kerja sama.
  3. Kecerdasan emosional adalah modal penting bagi seseorang untuk mengembangkan bakat kepemimpinan dalam bidang apapun (Goleman Daniel: 2003).

Unsur-unsur utama dalam kecerdasan emosional menurut Daniel Gileman adalah sebagai berikut :

  1. Kesadaran diri : mengamati diri sendiri dan mengenali perasaan diri sendiri.
  2. Pengambilan keputusan pribadi: mencermati tindakan-tindakan diri sendiri dan mengetahui akibatnya, menguasai sebuah keputusan, pikiran atau perasaan.
  3. Mengelola perasaan : memantau pembicaraan sendiri untuk menangkap pesan negatif seperti ejekan tersembunyi, menyadari apa yang ada dibalik perasaan.
  4. Menangani stres : mempelajari pentingnya berolah raga, perenungan yang terarah, metode relaksasi.
  5. Emapti : memahami perasaan dan masalah orang lain dan berfikir dengan sudut pandang mereka.
  6. Komunikasi : berbicara mengenai perasaan secara efektif, menjadi pendengar dan penanya yang baik.
  7. Membuka diri ; menghargai keterbukaan dan membina kepercayaan dalam suatu hubungan, mengetahui kapan situasinya aman untuk mengambil resiko.

Berdasarkan unsur-unsur utama dalam kecerdasan emosional di atas dapat diambil benang merah bahwa titik pokok kecerdasan emosional terletak pada pengarahan perasaan atau pengendalian perasaan (diri, jiwa, pribadi) dalam rangka memadukan emosi dan intelektual menjadi pribadi yang baik dan cerdas.

  • Iman dan taqwa perspektif kecerdasan spiritual (SQ)

Menurut Danah Zohar dan Ian Marsall, orang yang pertama kali mengeluarkan ide tentang konsep kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, kecerdasan yang memberikan makna dan nilai. Kecerdasan spiritual (SQ) itu menunrut penelitian-penelitian di bidang neurology, punya tempat yang khusus dalam otak. Ada bagian dari otak kita yang memiliki kemampuan untuk mengalami pengalaman spiritual, misalnya memahami Tuhan dan memahami sifat-sifat Tuhan. Orang yang cerdas secara spiritual diantaranya bisa dilihat ciri-cirinya antara lain yaitu bisa memberi makna dalam kehidupannya, senang berbuat baik, senang menolong orang lain, menemukan tujuan hidup, merasa memikul misi yang mulia, merasa dilihat oleh Tuhannya. Tanda-tanda kecerdasan spiritual yang telah berkembang dengan baik adalah :

1, Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif).

2. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit.

3. Kualitas hidup yang diilhami oleh kualitas visi dan nilai.

4. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.

5. Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal.

6. Kecenderungan nyata untuk bertanya mengapa atau bagaimana untuk mencari jawaban yang mendasar.

KESIMPULAN

  1. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan , maupun kebangsaan.
  2. Kata iman dari bahasa Arab yaitu amana artinya aman. Maksudnya orang yang beriman selalu memiliki perasaan aman karena yakin selalu dilindungi oleh Alloh SWT.
  3. Taqwa berarti hati-hati, mawas diri dan waspada. Menurut H.A. Sali dalam Dienul Islam yang ditulis oleh H. Nasruddin Rajak, disebutkan bahwa taqwa lebih tepat disalin dengan kata “ingat” bermakna: awas, hati-hati yaitu menjaga diri, memelihara keselamatan diri.
  4. Kecerdasan emosional erat hubungannya dengan perasaan manusia. Emosi menuntut kita menghadapi saat-saat kritis dan tugas yang terlampau riskan bila hanya diserahkan kepada otak.
  5. Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, orang yang pertama kali mengelurkan ide tentang konsep kecerdasan spiritual , mendifinisikan kecerdasa spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, kecerdasan yang memberikan makna, yang melakukan kontekstualisasi dan bersifat transformatif. Mereka mengatakan kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. Danah Zohar juga mengatakan bahwa kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam individu yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid, Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi. Bandung : PT Remaja Rosda Karya. 2004.

Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangunb Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, Jakarta: Arga. 2001.

  1. Ahmad Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: PT. Al-Maarif. 1981.

Danar Zohar, Ian Massal, Kecerdasan Spiritual, bandung: Mizan. 2001.

Daniel Goleman, Emotional Intellengence, Mengapa EQ Lebih Penting Daripada IQ, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2003.

Darma Kusuma, dkk. Pendidikan karakter: Kajian Teori dan Praktek di Sekolah, Bandung: Remaja Rosda Karya

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Bahan Dasar Peningkatan Guru Agama. Jakarta: Departemen Pendidikan kebudayaan.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.

UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara .2000.

BIO DATA

Nama : Warso, S. Ag

NIP : 19690517 200701 1 015

Pangkat/Gol : Penata/ III c

Jabatan : Guru muda

Unit Kerja : SMP Negeri 3 Sumbang, Kabupaten Banyumas

You cannot copy content of this page