Iklan

PEMBENTUKAN SIKAP SOSIAL DALAM

PEMBELAJARAN IPS DI SMP NEGERI 1 WANAYASA BANJARNEGARA.

Oleh : Saefulloh

Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang bermoral dan sadar akan norma dan nilai, tidak dapat hidup secara sediri-sendiri/secara individual. Ketergantungan individu pada orang lain sangat besar, tidak hanya sekedar untuk pelengkap saja, setiap individu membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, tanpa bantuan orang lain manusia tidak mampu untuk bertahan hidup, oleh karena itu harus saling menghargai dan menjaga hak orang lain (Budiarti,–:106-107).

Untuk dapat hidup bermasyrakat dengan baik maka diperlukan sikap sosial yang baik dalam berinteraksi dengan lingkunganya. Sikap sosial yang baik ditandai dengan munculnya empati dan simpati dalam diri sesorang. Sikap sosial seperti itu secara bertahap dibangun dalam proses pembelajaran IPS dengan harapan akan membentuk kepribadian atau karakter sebagai dampak dari usaha dalam pebentukan sikap sosial peserta didik.

Pendahuluan

Sikap sosial merupakan kesadaran dalam diri individu terhadap lingkungan sosial di sekitarnya. Sikap sosial biasanya muncul dengan di tandai adanya empati dan simpati. Empati dan simpati merupakan sikap sosial paling dasar yang melekat pada setiap individu dan berkembang menjadi karakter/watak.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:369), pengertian empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasikan dirinya kedalam perasaan atau pikiran yang sama dengan kelompok lain. Empati adalah kemampuan untuk merasakan keadaan emsional orang lain, merasakan simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil prespektif orang lain. sikap sebagai penilaian subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap.

Simpati adalah faktor yang sangat penting dalam syarat interaksi sosial, yang menentukan proses-proses interaksi sosial dalam tahap selanjutnya. Simpati merupakan proses yang menjadikan seseorang merasa tertarik kepada orang lain.

Attitude dapat diterjemahkan sebagai sikap terhadap objek tertentu, yang dapat merupakan sikap pandangan atau sikap perasaan, tetapi sikap disertai oleh kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan objek. Jadi attitude itu lebih diterjemahkan sebagai sikap dan kesedihan beraksi terhadap sesuatu hal (Gerungan, 1991:149).

Dengan demikian, sikap adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan nyata dalam kegiatan-kegiatan sosial. Sikap sosial secara umum adalah hubungan antara manusia dengan manusia yang lain, saling ketergantungan dengan manusia lain dalam berbagai sendi kehidupan di dalam masyarakat.

Ketergantungan dengan manusia lain ini menimbulkan interaksi atau hubungan timbal balik dengan manusia lain, hubungan karena ketergantungan/interaksi ini akan menimbulkan perasaan sosial yaitu perasaan yang mengikat individu dengan sesama individu atau kelompok, yaitu perasaan hidup bermasyarakat seperti saling tolong menolong, saling memberi dan menerima, simpati dan empati/rasa setia kawan, dan sebagainya.

Sikap sosial ini merupakan karakter yang sangat mendasar yang harus di bangun pada diri seorang siswa/perserta didik, agar kelak ketika terjun di masyarakat memiliki sikap sosial yang baik. Penelitian tentang pembentukan sikap sosial dalam pembelajaran IPS di sekolah sangat diperlukan karena dalam pengamatan penulis, terdapat beberapa indikator penurunan sikap sosial pada siswa, yakni sebagai berikut ;

1. Kepekaan sebagian besar siswa terhadap kondisi teman sekelasnya yang menderita sakit mulai meluntur.

2. Empati dan simpati yang cenderung melemah, terutama terlihat pada peristiwa lelayu yang menimpa temanya dalam satu kelas maupun satu sekolah.

3. Partisipasi yang rendah pada setiap iven/kegiatan donasi kepedulian bencana alam maupun bencana sosial lainya.

4. Akhir-akhir ini muncul tradisi negatif dikalangan peserta didik yakni perundungan/bullying, yang jauh dari ranah sikap sosial yang baik.

5. Ekslusifisme pada diri siswa dalam pergaulan

A. Sikap Sosial

Seseorang atau individu dapat diidentifikasi/dicirikan oleh sikap/ perilakunya masing-masing sebagai ciri khas pribadinya. Sikap pada umumnya sering diartikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan individu untuk memberikan tanggapan pada suatu hal. Azwar (2010:3), menjelaskan bahwa sikap diartikan sebagai suatu reaksi atau respon yang muncul dari seseorang individu terhadap objek yang kemudian memunculkan perilaku individu terhadap objek tersebut dengan cara-cara tertentu.

Walaupun objeknya sama, namun tidak semua individu mempunyai sikap yang sama, hal itu dapat dipengaruhi oleh keadaan individu, pengalaman, informasi dan kebutuhan masing-masing individu yang berbeda. Sikap seseorang terhadap objek akan membentuk perilaku individu terhadap objek.

Pengertian mengenai sikap juga disampaikan oleh Sarlito (2009: 151), bahwa Sikap adalah suatu proses penilaian yang dilakukan oleh seorang individu terhadap suatu objek. Objek yang disikapi individu dapat berupa benda, manusia atau informasi. Proses penilaian seorang terhadap suatu objek dapat berupa penilaian positif dan negatif.

Sikap, atau yang dalam bahasa Inggris disebut attitude adalah suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang. Suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap sesuatu perangsang atau situasi yang dihadapi, bagaimana reaksi seseorang jika ia terkena sesuatu rangsangan baik mengenai orang, benda-benda, ataupun situasi-situasi tertentu mengenai dirinya maupun orang lain.

Sikap timbul karena adanya stimulus. Terbentuknya suatu sikap itu banyak dipengaruhi perangsang oleh lingkungan sosial dan kebudayaan misalnya; keluarga, sekolah, norma dalam lingkungan, golongan agama, dan adat istiadat. Sikap tumbuh dan berkembang dalam basis sosial yang tertentu, misalnya: ekonomi, politik, agama dan sebagainya. Di dalam perkembangannya sikap banyak dipengaruhi oleh lingkungan, norma-norma atau group. Hal ini akan mengakibatkan perbedaan sikap antara individu yang satu dengan yang lain karena perbedaan pengaruh atau lingkungan yang diterima. Sikap tidak akan terbentuk tanpa interaksi manusia, terhadap objek tertentu atau suatu objek.

Ahmadi (1988:52), memberikan definisi bahwa sikap adalah kesadaran individu yang menetukan perbuatan nyata dan perbuatan-perbuatan yang akan terjadi. Sedang menurut Azwar (2007:10) sikap seseorang terhadap suatu objek psikologis adalah perasaan mendukung, memihak atau setuju maupun perasaaan tidak mendukung, tidak memihak, atau tidak setuju pada objek sikap tersebut.

Dari uraian teori-teori di atas dapat disimpulkan bahwa sikap sosial adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan nyata untuk bertingkah laku dengan cara tertentu terhadap orang lain dan mementingkan tujuan-tujuan sosial daripada tujuan pribadi dalam kehidupan masyarakat atau bermasyarakat.

B. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar peserta didiksehingga dapat menumbuhkan dan mendorong peserta didik melakukan proses belajar. Pembelajaran dapat dikatakan sebagai proses memberikan bimbingan/bantuan kepada peserta didik dalam melakukan proses belajar (Djamarah, 2006:39).

Istilah pembelajaran dapat didefinisikan dari berbagai sudut pandang. Dari sudut pandang behavioristik, pembelajaran sebagai proses pengubahan tingkah laku siswa melalui pengoptimalan lingkungan sebagai sumber stimulus belajar. Sejalan dengan banyaknya paham behavioristik yang dikembangkan para ahli, pembelajaran ditafsirkan sebagai upaya pemahiran ketrampilan melalui pembiasaan siswa secara bertahap dan terperinci dalam memberikan respon atau stimulus yang diterimanya yang diperkuat oleh tingkah laku yang patut dari para pengajar (Djamarah, 2006:10).

Pembelajaran dari sudut pandang teori kognitif, didefinisikan sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengontruksi pengetahuan baru sebagai upaya peningkatan penguasaan materi yang baik terhadap materi pelajaran. Berdasarkan pengertian ini, pembelajaran dapat dikatakan sebagai upaya guru untuk memberikan stimulus, arahan dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar (Nurdyansyah, 2016:1-2).

Pembelajaran dari sudut pandang teori interaksional didefinisikan sebagai proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Berdasarkan konsep ini, pembelajaran dipandang memiliki kualitas baik jika interaksi yang terjadi bersifat multi arah, yakni guru-siswa, siswa-guru, siswa-siswa, siswa-sumber belajar, dan siswa-lingkungan belajar (Nurdyansyah, 2016:2).

Pendidikan IPS merupakan mata pelajaran yang materinya diadopsi sebagian materi ilmu-ilmu sisoal, yang digunakan sebagai pembelajaran di sekolah (Sukardi, 2019:56). The social sciences this simplified have always included history, some from political science, and at various time geography, economics, sociologi, anthropology, and psychology (Hertzberg, 1981, dalam Sukardi, 2019:57). IPS merupakan pelajaran yang cukup komprehensif yang dapat menjadi salah satu instrument untuk memecahkan masalah-masalah sosio-kebangsaan di Indonesia, sesuai dengan kadar kemampuan dan tingkat perkembangan peserta didik.

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003, bab 1 pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadara dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dn proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan sprotual keagamaan , pengendalian diri kepribadian kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinua, masyarakat, bangsa dan negara.

Jadi diperlukan adanya pendidik dan metode pembelajaran yang efektif, sistematik, terencana, berproses dan terevaluasi sehingga tujuan pendidikan itu dapat tercapai sesuai yang kita inginkan.

Dari pengertian di atas dapat ditarik suatu pemahaman bahwa pembelajaran IPS adalah proses pengubahan tingkah laku siswa melalui pengoptimalan lingkungan sebagai sumber stimulus belajar, atau proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengontruksi pengetahuan baru sebagai upaya peningkatan penguasaan materi yang baik khususnya pada materi IPS, atau proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar pada mata pelajarn IPS.

C. Pembentukan sikap sosial dalam pembelajaran IPS

Sikap sosial adalah perilaku atau tindakan seseorang yang menunjukan perbuatan positif atau baik di tengah-tengah lingkunganya sehingga menyebabkan terjalinnya suatu interaksi, bahkan ikatan emosi, misalnya; sikap setia kawan, saling tolong-menolong (empati dan simpati), saling memberi, saling menghargai, saling menyayangi dan lain-lain. Sikap sosial sebenarnya dapat dibentuk di masyarakat, sekolah maupun di tempat kerja. Di sekolah sikap sosial dapat dibentuk melalui semua mata pelajaran, termasuk di dalamnya dalam mata pelajaran IPS.

Pada mata pelajaran IPS, pembetukan sikap sosial disesuaikan dengan penerapan pembelajaran dalam sehari-hari melalui indikator pencapaian karakter secara rutin, sesuai dengan tingkat kompetensi dan kompetensi dasar serta tema pembelajaran. Upaya pembentukan sikap sosial melalui mata pelajaran IPS sangat luas kajianya, karena domain IPS adalah mengkaji dan mempelajari Fenomena Alam serta gejala-gejala sosial yang timbul dari fenomena tersebut.

Untuk menumbuhkan sikap sosial agar menjadi karakter yang baik bagi siswa, maka karkter-karkter yang menumbuhkan sikap sosial di pertajam dalam Indikator karakter pada RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) yang diajarkan sesuai tema pembelajaranya, contoh indikator-indikator tersebut adalah; menunjukan perilaku jujur, tanggung jawab, peduli sosial dan lingkungan, kepekaan sosial, rasa ingin tau, menghargai dan percaya diri.

Untuk mendukung ketercapaian indikator-indikator karakter pada setiap tema/materi pembelajaran IPS, adalah dengan cara mengimplementasi indikator Kompetensi Inti pada setiap aspek, antara lain :

Aspek Kompentensi Inti Materi Penanaman Sikap Sosial
Sikap Spiritual Menghargai dan menghayati ajaran Agama yang dianutnya Semua Materi Menanamkan sikap bersyukur atas semua karunia Alloh SWT baik berupa Fenomena fisik maupun sosial yang ada di sekitar kita/lingkungan tempat tinggalnya.
Sosial Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (Toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam jangkauan pergaulan dan keberadaanya
  • Interaksi sosial, Konsep kebutuhan dan kelangkaan, Kegiatan ekonomi (Kelas 7)
  • Pengaruh Interaksi sosial terhadap kehidupan sosial dan kebangsaan (Kelas 8)
  • Perubahan sosial budaya dan globalisasi, memanfaatkan persaingan sebagai peluang untuk meraih keunggulan ekonomi Bangsa (Kelas 9)
  • Pembiasaan sikap sosial dalam berinteraksi; berupa sikap santun;
  • Pembiasaan sikap jujur, tanggung jawab dan peduli pada konsep pemenuhan kebutuhan, tentang pengambilan laba atau keuntungan dalam kegiatan jual-beli mengedepankan sikap mengambil keuntungan yang bermoral; pembiasaan sikap tanggung jawab pada kegiatan distribusi/penyaluran barang;
  • Pembiasaan Etika (tata krama/unggah-ungguh), dan sopan santun dalam pergaulan
  • Pembiasaan sikap rendah hati dan berprasangka baik (positive tingking)
  • Pembiasaan gaya komunikasi yang baik dan santun
  • Pembiasaan sikap empati dan simpati dalam kegiatan pembelajaran, pembiasaan saling tolong menolong dan kerjasama
  • Pembiasaan sikap untuk berfikir kritis dan kreatif dalam menghadapi arus negatif globalisasi
  • Penanaman wawasan cinta tanah air dan bangsa dengan implementasi nyata berupa sikap peduli pada keadaan lingkungan,
  • Pembiasaan bersikap positif dalam menghadapi perubahan zaman dan berfikir kritis dalam menyikapi fenomena perubahan sosial, budaya dan dampak globalisasi
  • Pembiasaan berfikir dan bertindak kreatif dalam mensikapi peluang ekonomi kretif untuk menolong potensi sumber daya lingkungan sekitar

Melalui berbagai kegiatan ataupun ivent untuk memperkuat tumbuhnya karakter sikap sosial, yakni melalui berbagai kegiatan, diantaranya:

1. Mengajak siswa dalam satu kelasnya untuk menjenguk temanya yang sakit, kegiatan kunjungan/menengok temanya yang sakit tersebut dilakukan apabila sudah tiga (3) hari berturt-turut tidak berangkat sekolah karena sakit.

2. Memberikan dukungan moril berupa kunjungan lelayu ketika orang tua siswa meninggal dunia, siswa yang terlibat adalah teman-teman dalam satu kelas, pengurus osis dan perwakilan masing-masing kelas

3. Melatih siswa untuk berprtisipasi aktif dalam mengumpulkan dan memberikan sumbangan untuk kegiatan lelayu, bencana alam dan sosial maupun ivent lain sebagai sumbangan kepedulian sosial.

4. Dalam kegiatan ekstra pramuka fokus kegiatannya tidak hanya pada berlatih disiplin, jujur dan bertanggung jawab saja, namun pada kegiatan-kegiatan lain siswa di latih untuk peduli pada temanya ketika ada yang tidak membawa bekal makanan, minumanya habis atau bahkan uang sakunya habis untuk memiliki kepedulian berbagi.

4. Melaksanakan kegiatan Bhakti sosial di masyarakat sekitar sekolah, kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada akhir semester 1 dan 2 atau 1 tahun 2 kali, tujuanya untuk melatih kepekaan sosial agar terbentuk sikap sosial yang peduli pada lingkungan sekitarnya.

5. Siswa dibiasakan untuk berlatih Qurban pada saat hari raya ‘idul Adha, dengan cara iuran sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk membeli hewan Qurban, tujuan kegiatan ini adalah agar siswa memiliki kepekaan terhadap jiwa rela berqurban sebagaimana di contohkan oleh Nabi Ismail AS sekaligus melatih karakter rela berkorban demi agama, bangsa dan negara (jiwa/karakter nasionalisme).

6. Melatih tata krama pergaulan, sopan santun, saling hormat menghormati antar peserta didik maupun dengan guru untuk menghilangkan potensi-potensi perundungan atau bullying.

Usaha-usaha pembentukan karakter tersebut di atas baik melalui mata pelajaran IPS maupun kegiatan sekolah yang mendukung pembentukan sikap sosial tadi dalam perkembanganya mengalami kemajuan yang cukup baik dan positif, diantaranya ditunjukan oleh adanya indikator-indikator berikut ini :

1. Partisipasi siswa dalam memberikan sumbangan peduli sosial, baik bencana alam, lelayu maupun musibah lainya mengalami peningkatan partisipasi baik dari segi kuantitas maupun kualitas (jumlah dana yang terkumpul maupun jumlah partisipasi).

2. Kegiatan kunjungan pada siswa yang sakit mengalami peningkatan (baik jumlah siswanya maupun intensitasnya), hal ini terlihat dari data siswa yang ijin untuk menengok temanya yang sedang sakit meningkat drastis. Dalam kegiatan ini wali kelas, kesiswaan dan perwakilan guru ikut berpartisipasi aktif sebagai suri tauladan bagi mereka.

3. Jumlah siswa yang mengikuti kegiatan ta’ziah, ketika ada orang tua wali wali murid dikalangan teman-temannya mengalami peningkatan dibandingkan masa-masa sebelumnya.

Simpulan

Sikap sosial pada siswa dapat dibentuk melalui kegiatan pembelajaran mata peljaran IPS, maupun mata pelajaran lainya. Kegiatan yang dapat menumbuh kembangkan sikap sosial biasanya akan lebih membumi apabila dilaksanakan secara langsung, seperti ; menengok temanya yang sedang sakit, lelayu, ikut memberi sumbangan kepedulian (bencana), dan bhakti sosial. Kegiatan seperti ini apabila dibiasakan akan membentuk karakter yang baik yakni kepedulian sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Abu, Ahmadi. 1998. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Bina Aksara

Azwar, S. 2010. Sikap Manusia Teori dan Pengukuranya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Budiarti, Meilanny, S. –. Mengurai Konsep Dasar Manusia sebagai Individu Melalui Relasi Sosial yang Dibangunnya. Proseding KS:Riset & PKM. Volume 4, Nomor 1. ISSN 2442-4480.

Djamarah, Bahri, S dan Zain Aswan. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakrta: PT. Rineka Cipta.

Gerungan. 1991. Psikologi sosial. Bandung: PT. Eresco

Nurdyansyah dan Fahyuni, Fariyaul E. 2016. Inovasi Model Pembelajaran; Sesuai Kurikulum 2013. Jurnal Nizamial Learning Center.

Sarlito, Sarwono W & Eko A, Meinarno. 2009. Psikologi Sosial. Jakarta : Salemba Humanika.

Sukardi, Tanto. 2019. Revitalisasi Pendidikan IPS Di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa. Edisi Ke 4. 2008. Jakarta: PT. Gramedia.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003. Tentang sistem Pnedidikan Nasional.

BIODATA

Nama : Saefulloh

NIP. : 19740915 200701 1 009

Pangkat/Gol : Penata/III c

HP : 085 291 625 465

Unit Kerja : SMP Negeri 1 Wanayasa

By admin

You cannot copy content of this page