Iklan

PEMBELAJARAN IPS TERPADU YANG MENYENANGKAN DENGAN PENDEKATAN KONTRUKTIVISTIK

C:\Users\TOTOK\Downloads\WhatsApp Image 2021-04-06 at 12.00.31.jpeg

Tatiek Martini, SE

Abstrak

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SMP / Mts mata pelajaran IPS terpadu memuat materi geografi, sejarah, ekonomi dan sosiologi. Melalui pelajaran IPS siswa mengenal perannya dalam kehidupan bermasyarakat. Ilmu Pengetahuan Sosial adalah pelajaran yang mengkaji realitas yang paling dekat disekitar kita, jika belajar IPA prakteknya di laboratorium maka IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) tidak ada laboratnya. Maka laboratoriumnya adalah masyarakat. Masyarakat merupakan wilayah sangat luas, dimana kita sulit menjangkau satu persatu, semua hal yang terkait dengan masyarakat bisa dikaji dengan IPS Terpadu. Pengalaman pribadi kita pun bagian dari masyarakat yang seakan sah-sah saja diajarkan kepada anak didik. Penulis pernah memberikan tugas kepada siswa untuk memberikan analisis fenomena “lebaran” secara IPS. Bagaimanakah lebaran dilihat secara ekonomi , geografi, sosiologi dan sejarah. Siswa hanya perlu menjelaskan lebaran dikaitkan dengan empat bagian IPS terpadu dalam satu paragraf sederhana. Jawaban yang diberikan siswa sangat bermacam-macam dan sangat menyenangkan membacanya. Ilmu Pengetahuan Sosial sering diplesetkan menjadi ilmu pengetahuan santai karena pelajaran ini memiliki tujuan yang sederhana yaitu agar siswa bisa menjadi warga negara yang baik.

Kata kunci : IPS, Pembelajaran Menyenangkan, Pendekatan kontruktivistik.

PENDAHULUAN

Pembelajaran IPS di sekolah selama ini masih menggunakan pendekatan tradisional seperti ceramah, diskusi dan lain-lain, serta menekankan pada aspek kognitif dan mengabaikan keterampilan-keterampilan sosial. Konsekuensi dari metode ini adalah siswa merasa bosan terhadap pelajaran IPS dan dalam jangka panjang tentu saja akan terjadi penurunan kualitas pembelajaran. Demikian juga dalam evaluasi sering kali hanya dilakukan pada saat akhir kegiatan dan tidak pernah dilaksanakan dalam proses. Model porto folio masih jarang digunakan, model ini merupakan salah satu alat yang efektif untuk menilai keberhasilan belajar siswa yang secara komprehensif merekam hampir semua aspek kegiatan belajar mengajar (KBM). Dalam mengevaluasi keberhasilan belajar, guru IPS di sekolah masih sering menggunakan alat test obyektif, alat ini dalam beberapa hal tidak memuaskan siswa sebab siswa hanya diminta menghafal dan mengingat fakta-fakta dengan ranah kognitif terendah. Dari uraian diatas akan dibahas tentang hal yang harus diperhatikan oleh seorang tenaga pendidik yaitu guru sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran IPS terpadu di sekolah (SMP/Mts) agar dapat mengkontruksikan pengalaman siswa dengan tidak menggunakan metode ceramah saja. Agar proses pembelajaran IPS menyenangkan, menantang tetapi bermakna bagi siswa , guru harus bisa mengubah kebiasaan. Mengubah kebiasaan merupakan pekerjaan yang tidak mudah, demikian juga dengan proses belajar mengajar yang sudah terbiasa menggunakan metode ceramah, tetapi hal tersebut bukan tidak mungkin untuk kita lakukan. Dalam hal ini interaksi antara guru dan siswa sangat diperlukan. Artikel ini akan dibahas bagaimanakah cara guru mengajarkan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) agar para siswa merasa senang dan memperoleh manfaat dengan mempelajari IPS. Pendekatan konstruktivistik dapat digunakan oleh guru IPS dalam mengembangkan materi ajar di kelas.

METODE PENELITIAN

Pendekatan konstrutivistik proses belajar mengajar dilakukan bersama-sama oleh guru dan siswa dengan produk kegiatan adalah membangun persepsi dan cara pandang siswa mengenai materi yang dipelajari, mengembangkan masalah baru dan membangun konsep-konsep baru dengan menggunakan evaluasi yang dilakukan pada saat KBM berlangsung (on going evalution). Dengan pengajaran ini, kualitas pengajaran dapat ditingkatkan, siswa dipandang sebagai individu yang mandiri yang memiliki potensi belajar dan pengembang ilmu. Apabila pendekatanitu digunakan maka guru IPS dapat memandang siswa sebagai rekan belajar dan pengembang ilmu sehingga akan tercipta hubungan harmonis antara guru dan siswa.

PEMBAHASAN DAN HASIL

Dalam pandangan Brooks and Brooks (1999) pendekatan kontrutivistik mengharuskan guru IPS untuk melakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Mendorong dan menerima otonomi dan inisiatif siswa dalam mengembangkan materi pembelajaran. Kemandirian dan inisiatif akan mendorong siswa untuk menghubungkan gagasan dan konsep siswa yang berinisiatif untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan isu-isu mengenai materi pelajaran dan kemudian mencobanya untuk menjawab sendiri pertanyaan itu serta menganalisisnya. Siswa seperti itu dapat dimanfaatkan oleh guru untuk mengembangkan materi pelajaran di dalam kelas yang melibatkan secara aktif semua siswa. Dalam pelajaran IPS pertanyaan-pertanyaan kritis dari siswa seperti “mengapa terjadi banjir di perkotaan, mengapa banyak pelanggaran terhadap norma atau aturan,mengapa keadaan cucaca di dataran tinggi terasa dingin dan dipantai terasa panas, dan lain-lain” merupakan pertanyaan kritis yang dapat dikembangkan dalam materi pelajaran IPS yang konstruktivistik.
  2. Menggunakan data mentah dan sumber utama/primary resources, untuk dikembangkan dan didiskusikan bersama-sama dengan siswa di kelas. Data-data dan angka yang tercantum dalam monogram di kantor kelurahan atau kecamatan mengenai keadaan penduduk misalnya merupakan data utama. Data tersebut dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran IPS yang konstrutivistik melalui diskusi kelas dan untuk membangun kemampuan siswa dalam membuat prediksi, analisis dan kesimpulan berdasarkan kemampuan individu.
  3. Memberikan tugas kepada siswa untuk mengembangkan klasifikasi, analisis, melakukan prediksi terhadap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan menciptakan konsep-konsep baru. Pelajaran IPS yang penuh cerita baik yang disajikan dalam bentuk teks tertulis maupun lisn yang dibacakan oleh guru merupakan materi yang baik untuk melatih kemampuan siswa dalam menganalisis, menginterprestasi, memprediksi, mensintesa dan membuat kesimpulan. Melalui cerita yang dibacakan atau diceritakan oleh guru di kelas, siswa dilatih untuk mengembangkan imajinasi serta membuat prediksi terhadap apa yang akan terjadi kemudian. Pengalaman belajar siswa terhadap apa yang didengarnya itu merupakan modal bagi bagi siswa untuk melakukan prediksi dan kesimpulan terhadap apa yang telah dipelajarinya.
  4. Bersifat fleksibel terhadap response dan interprestasi siswa dalam masalah-masalah sosial, bersedia mengubah strategi pembelajaran yang tergantung pada minat siswa, serta mengubah isi peloajaran sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. Ketika seorang guru IPS memfasilitasi minat siswa terhadap materi tertentu yang aktual tidak berarti guru tersebut meninggalkan rencana pelajaran dan kurikulum sepenuhnya. Ia masih tetap dapat mengembangkanmateri pelajaran seperti direncanakan dalam RPP. Sebahai contoh ketika guru akan menerangkan materi ketampakan alam dan buatan di daerah, masih bisa meneruskan materi tersebut. Akan tetapi ketika di lingkungan alam dan buatan di daerah itu dijelaskan dalam konteks materi yang direncanakan. Dengan mengembangkan konsep-konsep baru sesuai dengan konteks atau kejadian di lingkungan setempat sebenarnya guru telah bersifat fleksibel untuk menampung minat siswa pada masalah-masalah sehari-hari yang secara langsung dirasakan oleh siswa.
  5. Memfasilitasi siswa untuk memahami konsep sambil mengembangkannya melalui dialog dengan siswa. Dalam mengembangkan materi pelajaran IPS yang konstrutivistik, guru IPS harus mampu mengurangi “jawaban paling benar” terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa. Jawaban yang diberikan guru akan mendorong siswa untuk pasif dan tidak memberikan peluang mengembangkan alternatif jawaban terhadap pertanyaan atau isu yang muncul dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Model latihan atau lembar kerja siswa (LKS) yang sifatnya test obyektif dan hanya menghendaki jawaban tunggal juga tidak akan bermanfaat bagi pengajaran konstrutivistik. Model latihan tersebut membelenggu kreatifitas siswa. Oleh karena itu materi yang sifatnya pemahaman dan imperatif dalam pengajaran IPS adalah sangat bermanfaat untuk melatih siswa berpikir kritis. Dialog terhadap pertanyaan dan jawaban siswa merupakan salah satu esensi dari pengajaran konstrutivistik.
  6. Mengembangkan dialog antara gurur dengan siswa dan antara siswa dengan rekan-rekannya. Salah satu cara terbaikbagi siswa untuk mengubah dan memperkuat konsepsinya adalah melalui wacana (discourse) sosial. Memiliki kesempatan untuk menyajikangagasan seperti halnya kesempatan untuk mendengarkan dan merefleksikan gagasan terhadap orang lain, adalah merupakan hal yang sangat berharga. Keuntungan mengembangkan wacana dengan orang lain terutama dengan teman sebaya dapat memfasilitasi proses pembentukan makna.

Dalam pembelajaran tradisional sebagian siswa sering kali digunakan perbedaan baik buruk dan salah benar, yang semuanya disajikan secara hitam putih. Konsekuensi dari penyajian itu adalah siswa hanya belajar mengenai jawaban singkat dan hanya berbicara mengenai gagasan baik dan jawaban yang benar yang mungkin saja yang baik dan benar tersebut adalah menurut standar guru. Penyajian seperti itu jelas tidak mendorong siswa untuk mengembangkan pemahaman mengenai materi pelajaran. Sebaliknya dengan dialog antara masyarakat kelas (guru dan siswa) akan tercipta pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Menurut penelitian pengalaman pembelajaran kooperatif (cooperative learning) telah mampu meningkatkan daya tarik interpersonal diantara siswa yang semula memiliki prasangka kurang baik dan pengalaman tersebut telah meningkatkan interaksi antar kelompok (etnik atau status sosial), baik pengajaran di kelas maupun dalam hubungan sosial diluar kelas.

  1. Menghindari penggunaan alat test untuk mengukur keberhasilan siswa. Evaluasi bersifat on going dilakukan secara komprehensif dan pertanyaan yang bersifat terbuka akan mendorong siswa untuk saling bertanyasatu sama lain. Seorang guru IPS yang konstruktivistik adalah berusaha untuk menghindari penggunaan alat test sebagai satu-satunya alat evaluasi untuk mengukur keberhasilan siswa. Jika seorang guru mengajukan pertanyaan dengan tujuan hanya memperoleh satu jawaban yang benar, bagaimana siswa dapat diharapkan mampu mengembangkan minat dan keterampilannya dalam menganalisis yang diperlukan untuk inquiry.
  2. Mendorong siswa untuk membuat analisis dan elaborasi terhadap masalah-masalah kontroversial yang dihadapinya.Masalah-masalah kontroversial dalam pembelajaran IPS seperti pentingnya mempertahankan hutan demi kelestarian alam serta pentingnya memanfaatkan hutan guna meningkatkan devisa (pendapatan) merupakan masalah menarik untuk didiskusikan. Apabila guru IPS memfasilitasi beragam pendapat mengenai isu kontroversial di atas maka akan mengembangkan pengajaran IPS yang konstrutivistik. Dengan diberikannya kebebasan siswa untuk mencari rujukan bacaan dan sumber lain maka guru telah memfasilitasi keterampila suasana demokratis dalamkelas yang berguna bagi kehidupan di masyarakat.
  3. Memberi peluang kepada siswa untuk berpikir mengenai masalah yang dihadapi siswa.

Konsepsi ini berkaitan dengan strategi bertanya yang sering dikembangkan oleh guru IPS. Ketika guru IPS mengajukan pertanyaan kepada siswa, sebaiknya siswa diberi waktu untuk memikirkan jawaban dan seterusnya setiap jawaban siswa itu dihargai oleh guru. Model jawaban cepat yang dituntut oleh guru IPS dari para siswa ketika mereka mengajukan pertanyaan tidak cocok lagi dikembangkan dalam pengajaran konstrutivistik. Model cepat tepat lebih banyak mengukur kemampuan kognitif para siswa harus dihindari oleh guru IPS. Berikanlah waktu yang lebih banyak untuk memberi jawaban serta argumentasi mengenai pertanyaan atau masalah yang diajukan guru.

  1. Mengembangkan materi pelajaran melalui konsep-konsep yang saling berhubungan. Pengajaran konsep sangat berguna untuk meningkatkan pemahaman secara menyeluruh terhadap materi pembelajaran IPS. Melalui konsep-konsep yang saling berhubungan itu dapat dikembangkan methapora pada diri siswa. Berdasarkan uraian di atas tentu saja mengevaluasi keberhasilan belajar tidak hanya berdasarkan pada hasil test, tetapi harus menyeluruh meliputi berbagai aspek yang ditampilkan siswa saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Salah satu model evaluasi yang dapat digunakan adalah porto folio. Portofolio pada dasarnya merupakan dokumen guru yang dikumpulkan mengenai semua penampilan siswa yang menyangkut kemampuan dan keterampilan pengetahuan, partisipasi dalam KBM, sikap terhadap pelajaran, kemampuan inquiry, kooperatif dengan teman-teman di kelas, ketepatan waktu dalam mengumpulkan tugas, hasil tugas, dan lain-lain. Dengan model ini guru dapat merekam semua aspek yang ditampilkan siswa dalam belajar.

Keterampilan sosial perlu dikembangkan dalam pelajaran IPS di sekolah. Maslah tersebut perlu dipecahkan antara lain dengan menyiapkan peserta didik memiliki keterampilan sosial sebagai warga masyarakat. Keterampilan sosial dalam mengenal bahasa simbol (rambu-rambu lalu lintas), antri di tempat umum, membuang sampah, berkomunikasi dengan baik, bekerja sama dan lain-lain. Sesuai dengan tuntutan kurikulum, harus lebih sering mengejar hasil belajar daripada proses dalam mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut. Keterampilan sosial yang dapat dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya berhubungan dengan keterampilan intelektual atau kemampuan kognitifnya. Oleh karena itu sering kali tidak bisa dibedakan dengan jelas antara keterampilan intelektual dan keterampilan sosial. Misalnya ketika siswa melakukan antri di depan layanan umum tidak hanya dia menghargai hak orang lain dan berbuat tertib melainkan juga dia tau bahwa hak orang lain itu harus dihargai dan hidup tertib itu bagian dari ciri warga negara yang baik. Keterampilan sosial dalam kehidupan sehari-hari juga mulai disadari oleh kalangan pendidik dan pengembang kurikulum di Indonesia. Dalam peraturan menteri Pendidikan Nasional nomor 22, 23 dan 24 tentang Standar Isi, Standar Kompetensi dan Standar Kompetensi Lulusan, misalnya telah ada rumusan mengenai profil lulusan pendidikan sekolah umum yang anyata lain memiliki keterampilan sosial dalam mengikutin perkembangan global. Secara umum profil lulusan diharapkan memiliki kompetensi atau keterampilan dalam beberapa hal antara lain:

  1. Mampu mencari, memilih dan mengolah informasi dari berbagai sumber.
  2. Mampu mempelajari berbagai hal-hal baru untuk memecahkan masalah sehari-hari
  3. Memiliki keterampilan berkomunikasi baik lisan maupun tulisan.
  4. Memahami, menghargai dan mampu bekerja sama dengan orang lain yang majemuk.
  5. Mampu mentransformasikan kemampuan akademik dan beradaptasi dengan perkembangan masyarakat, lingkungan dan perkembangan global serta aturan-aturan yang melingkupinya, serta keterampilan-keterampilan kainnya yang relevan.

Profil tersebut harus diterjemahkan oleh pengembang kurikulum di sekolah termasuk guru IPS SMP /Mts di kelas. Melalui proses belajar mengajar yang melibatkan secara aktif semua peserta didik sehingga keterampilan sosial dapat dilaksanakan melalui KBM. Penguasaan guru IPS di SMP/Mts terhadap strategi pembelajaran konstruktivistik, inquiry dan pembelajaran kooperatif dalam mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial tersebut adalah sama pentingnya dengan pemahaman mengenai materi pembelajaran IPS. Dengan demikian guru-guru IPS di SMP/Mts perlu diberi kesempatan lebih luas untuk memperoleh informasi yang tersedia begitu banyak di era global ini agar wawasannya meningkat. Akses mereka terhadap sumber-sumber informasi tersebut perlu dibuka luas dengan cara memberdayakannya melalui berbagai kesempatan dan didukung dengan sistem reward yang memadai. Guru IPS perlu memiliki wawasan luas agar siswanya menjadi bagian dari masyarakat dunia yang cepat berubah dan mampu memenangkan persaingan atau berperan dalam kehidupan masyarakat.

KESIMPULAN

Pembelajaran IPS yang menyenangkan dan bermanfaat dalam mempelajari IPS adalah dengan menggunakan model konstruktivistik. Dalam mengevaluasi keberhasilan belajar model konstruktivivstik dalam pendidikan IPS di SMP/Mts, proses belajar nampaknyalebih penting daripada hasil. Guru IPS yang melakukan evaluasi proses belajar yang konstruktivistik dan dengan menggunakan portofolio harus mampu mencatat kemampuan dan keterampilan-keterampilan yang dikembangkan dalam KBM. Kemampuan-kemampuan dalam mengumpulkan informasi atau data, mengolah informasi, memanfaatkan informasi untuk dirinya serta mengkomunikasikan hasil berbagai keperluan harus dapat dikembangkan dan dievaluasi dalam pelajaran IPS yang bersifat konstruktivistik.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson. Jhon R, 1990. Cognitive Psychology and Its Implication. W.H. Freeman and Company.

Eggen, P & Kauchak, D. 1994. Educational Psycology, Classroom Convention, New York: Macmillan College Publishing Company.

Mahmud, 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia

Ormrod, J.E. 2008. Psikologi Pendidikan Jilid I. Alih Bahasa Amitya Kumara. Jakarta: Erlangga.

Santrock, J.W. Psikologi Pendidikan. Alih Bahasa Tri Wibowo, B.S. Jakarta: Kkencana

Stavin. E.R. 2006. Educational Psychology Theory and Practive, Eighth Edition, New York: Pearson Education, Inc.

Syamsu, Yusuf. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung. Remaja Rosdakarya.

BIODATA

Nama : Tatiek Martini, SE.

NIP : 19770313 200801 2 010

Pangkat/Gol : Penata/ III c

Jabatan : Guru muda

Unit Kerja : SMP Negeri 3 Sumbang, Kabupaten Banyumas

You cannot copy content of this page