Iklan

PEMBELAJARAN IPS SEJARAH DI SEKOLAH DARI PRAGMATIS KE IDEALIS

C:\Users\TOTOK\Downloads\WhatsApp Image 2021-05-18 at 08.39.33.jpeg

Sutaryo, S.Pd.

Abstrak

Pembelajaran sejarah telah dilakukan dengan gambaran buruk selama ini. Gambaran pembelajaran sejarah adalah pembelajaran yang mengingat, tidak menarik, tidak menyenangkan, dan membosankan. Berdasarkan alasan pentingnya peran pembelajaran sejarah sebagai pembentuk karakter bangsa bagi peserta didik, perlu adanya perubahan kondisi ini. Pola pikir guru sebagai aktor yang bertanggung jawab harus dirubah dari paradigma pragmatis menjadi idealis. Proses pembelajaran sejarah harus bergeser dari orientasi penyelesaian materi kurikulum menuju pencapaian tujuan yang sebenarnya yaitu munculnya kesadaran historis bagi siswa.

Kata kunci : pengajaran sejarah, citra, pola pikir, kesadaran historis.

LATAR BELAKANG

Persoalan klasik pembelajaran sejarah di sekolah adalah adanya image yang sangat kuat dikalangan siswa bahwa mata pelajaran sejarah adalah mata pelajaran yang bersifat hafalan, kurang menarik dan membosankan. Entah mulai kapan image ini muncul. Image ini menggelinding dari waktu ke waktu seolah tanpa dapat dihentikan oleh siapapun (Kasim, 1992). Bagaimana kondisi sebenarnya ? Image tersebut tentu saja ada benarnya dan ada salahnya. Image tersebut benar, setidaknya dari indikasi rendahnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran atau dari banyak guru yang menggunakan metode ceramah bervariasi tanya jawab. Image terebut salah karena belum ada data empiris yang menyakinkan tentang hal ini. Apalagi jika menggunakan data normatif bahwa setiap kali kenaikan kelas hampir semua siswa dapat melampaui KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal), walaupun sangat dinyakini bahwa nilai KKM bukan jaminan gambaran kemampuan yang sesungguhnya. Pertanyaannya adalah mengapa Image tersebut berkembang, walaupun di ranah kebijakan telah terjadi berkali-kali perubahan kurikulum. Apakah hal ini berarti bahwa perubahan kurikulum tidak dapat mempengaruhi dan mendorong terjadinya perubahan dalam pembelajaran mata pelajaran IPS sejarah. Tulisan ini memberikan gambaran bagaimana hal ini dapat terjadi dan menawarkan konsep solusi apa yang sebaiknya dilakukan. Tujuannya membantu guru dan siswa agar dapat melaksanakan pembelajaran ke arah yang lebih baik.

PEMBELAJARAN IPS SEJARAH DI SEKOLAH DEWASA INI

Pembelajaran IPS sejarah di sekolah berbeda-beda , untuk tingkat SD dan SMP pembelajaran sejarah masuk dalam mata pelajaran IPS, untuk SMA berdiri sendiri sebagai mata pelajaran dan untuk SMK bergabung dengan mata pelajaran PPKn. Posisi ini memang sangat mempengaruhi pembelajaran sejarah di sekolah. Di tingkat SD dan SMP karena tidak berdiri sendiri, mata pelajaran sejarah harus menyesuaikan dengan persoalan substansi akademis dan teknis yang tidak mungkin dihindari. Masalah substansi akademis menyangkut posisi materi sejarah dalam mapel IPS dan masalah teknis menyangkut persoalan guru pengajar dan pembagian waktu jam belajar. Dua masalah ini akan disajikan dalam paparan tersendiri. Di tingkat SMA dan SMK, persoalan akademis dan teknis tidak serumit di tingkat SD dan SMP. Keluhan yang selama ini terdengar lebih pada persoalan teknis, yakni jumlah waktu pelajaran yang diberikan mapel sejarah tidak sama antara satu jurusan dengan jurusan lain, sementara materi yang harus diselesaikan tidak berbeda jauh.

POSISI MATERI SEJARAH DALAM IPS

Persoalan akademis yang pertama adalah hubungan sejarah dengan IPS, persoalan kedua adalah bagaimana bentuk intergrasi materi sejarah dengan mata pelajaran yang tergabung dalam IPS yakni geografi, ekonomi dan sosiologi. IPS adalah bidang studi yang menggunakan materi tertentu dalam ilmu-ilmu sosial secara terintegrasi untuk kepentingan pendidikan. Tujuan IPS adalah memberikan wawasan pengetahuan kepada siswa agar dapat menjadi warga negara yang baik dan cerdas, memahami dan mampu menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Kerangka dasar IPS meliputi tiga unsur yakni sebagai pendidikan kewarganegaraan, sebagai dasar pengenalan ilmu-ilmu sosial dan sebagai cara mengenalkan siswa pada persoalan riil yang ada disekitar kehidupannya. Materi sejarah hanya memiliki keterkaitan langsung dengan unsur yang pertama, dengan unsur yang kedua masih menjadi perdebatan karena sejarah lebih condong untuk dimasukan dalam rumpun ilmu humaniora. Keterkaitan dengan unsur yang ketiga bahkan sering ditolak karena ketidakpahaman tentang sejarah dianggap hanya menggarap kajian masa lalu dan “sulit” untuk dikaitkan dengan kehidupan riil siswa.

IPS sebagai mata pelajaran memangtidak memiliki landasan rancang bangun teoritik, dalam konteks ini sebenarnya hubungan dengan sejarah menjadi jelas yakni sejarah sebagai salah satu penopang keberadaan IPS. Persoalannya adalah materi sejarah begitu banyak dan luas dalam rentang waktu yang begitu panjang, apa yang seharusnya dikaji di tingkat SD dan SMP. Materi sejarah dalam IPS di SD mulai kelas 2 semester 1, dengan substansi memperkenalkan life history dengan tema sejarah keluarga, kelas 3 semester 2 ada materi sejarah uang, kelas 4 semester 1 ada dua materi yang cukup banyak yakni 1) peninggalan sejarah lokal (disekitar kabupaten dan propinsi) dan upaya pelestariannya, 2) meneladani kepahlawanan dan patriotisme tokoh-tokoh di lingkungannya. Kelas 5 semester 1 bahkan materi sangat luas yakni sejarah Hindu-Budha dan Islam serta mengenal tokoh-tokohnya. Kelas 5 semester 2 mapel IPS diisi hanya dengan materi sejarah, dari perjuangan jaman Belanda, kemerdekaan, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Kelas 6 tidak ada lagi materi sejarah dalam mata pelajaran IPS.

Di SMP materi sejarah muncul pada kelas VII semester dua dengan KD yang berisi materi pengulangan tentang perkembangan Hindu-Budha dan Islam, ditambah satu KD tentang perkembangan masyarakat, kebudayaan dan pemerintahan kolonial Eropa. Kelas VIII semester 1 materi sejarah berisi perkembangan kolonialisme dan imperialisme serta pergerakan nasional. Semester dua berisi tentang peristiwa sekitar proklamasi, persiapan proklamasi hingga terbentuknya NKRI. Pada kelas IX semester 1 membahas Perang Dunia 2 dan dampaknya diberbagai bidang, pada semester 2 membahas pembebasan Irian Barat (Papua), berbagai pemberontakan dalam negeri dan di akhiri dengan membahas berakhirnya pemerintahan Orde Baru dan lahirnya reformasi. Masalah teknis pembelajaran terpenting adalah tidak semua guru IPS memiliki pendidikan dan pengetahuan sejarah yang memadai. Di lapangan menunjukan, terutama di SMP guru IPS berasal dari guru yang memiliki latar pendidikan ekonomi, geografi, sejarah. Dapat dibayangkan sebenarnya dampak akademis yang muncul akibat persoalan teknis ini, ketika seorang guru dengan latar belakang ekonomi atau geografi harus mendampingi atau menyajikan pembelajaran sejarah. Guru hanya dalam posisi lebih dahulu belajar sekian jam sebelum mendampingi siswa belajar sejarah, hasilnya sudah dapat diduga, terciptanya situasi pembelajaran yang semakin memperkuat image bahwa pelajaran sejarah tidak menarik, membosankan dan kuarng menantangf siswa.

Disisi lain persoalan jumlah alokasi waktu pelajaran juga menimbulkan masalah, di SD dengan 3 jam tatap muka per minggu jelas sangat kurang, tetapi relatif dapat teratasi karena adanya sistem guru kelas memungkinkan untuk bersikap luwes dalam pengaturanwaktunya. Di SMP , pihak sekolah mengambil kebijakan yang berbeda-beda. Bagi SMP yang memberlakukan mapel IPS persoalan guru tentang waktu dapat teratasi secara teknis, karena guru mapel IPS yang akan membuat pembagian waktu tersendiri, kapan ekonomi, kapan sejarah, kapan geografi dan kapan sosiologi. Pada SMA, persoalan teknis pembelajaran sejarah yang dihadapi relatif lebih sederhana karena mata pelajaran sejarah berdiri sendiri. Muncul persoalan teknis pada jurusan IPA yang hanya memiliki alokasi waktu 1 jam tatap muka per minggu, walaupun materi sudah disederhanakan tetap saja menyulitkan. Terlepas dari semua kondisi sebagaimana tersenut di atas, ada satu persoalan yang mungkin tidak disadari tetapi tidak dapat berbuat apapun. Masalah tersebut adalah orientasi tentang tujuan pembelajaran sejarah. Pembelajaran sejarah yang terjadi dewasa ini lebih berorientasi pada penguasaan pengetahuan sebagaimana tuntutan SK dan KD. Guru berusaha dengan keras menyelesaikan seluruh materi yang harus dipelajari siswa, terlepas apakah tujuan belajar sejarah yang sebenarnya sudah tercapai oleh siswa atau belum. Ketika siswa sudah mencapai nilai diatas KKm(Kriteria Ketuntasan Minimal) maka sudah dianggap berhasil. Pemanfaatan media pembelajaran walaupun diketahui perannya sangat penting, belum banyak dilakukan. Ceramah dan tanya jawab merupakan metode yang dominan dilaksanakan, metode yang tergolong dalam cooperative learning memang sudah dipraktekan akan tetapi pelaksanaannya tetap mengacu pada bagaimana siswa menyerap pengethuan sebanyak-banyaknya sesuai tuntutan SK dan KD.

PEMBELAJARAN SEJARAH YANG IDEAL

Tujuan utama belajar sejarah adalah menjadikan seseorang bijaksana (Kartodirdjo, 1992); Kuntowijoyo, 1995). Belajar sejarah merupakan pintu untuk mempelajari dan menemukan hikmah terhadap apa yang sudah terjadi. Belajar sejarah adalah belajar tentang kemanusiaan dalam segala aspeknya. Belajar sejarah akan melahirkan kesadaran tentang hakekat perkembangan budaya dan peradaban manusia, hasil blajar inilah yang kemudian dikenal sebagai kesadaran sejarah ( historical consciousness). Jadi tujuan belajar sejarah salah satunya adalah melahirkan kesadaran sejarah. Dengan demikian, proses pembelajaran sejarah di sekolah juga harus didorong untuk menciptakan situasi yang dapat menumbuhkembangkan kesadaran sejarah. Dalam dokumen kurikulum pendidikan nasional, tujuan mata pelajaran sejarah dijabarkan dengan rinci, ironisnya tujuan ini seolah-olah hanyamenjadi referensi. Mata pelajaran sejarah bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:

  1. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini dan masa depan.
  2. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah dan metodologi keilmuan.
  3. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di masa lampau.
  4. Menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa akan datang.
  5. Menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan baik nasional maupun internasional. (Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006).

Tujuan yang telah diterapkan pemerintah boleh dikatakan merupakan tujuan ideal pembelajaran sejarah. Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah telah menggaariskan garis besar materi yang harus dipelajari oleh siswa. Dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) menyebutkan materi sejarah sebagai berikut :

  1. Mengandung nilai-nilai kepahlawanan, keteladanan, kepeloporan, patriotisme, nasionalisme dan semangat pantang menyerah yang mendasari proses pembentukan watak dan kepribadian peserta didik.
  2. Memuat khasanah mengenai peradaban bangsa-bangsa, termasuk peradaban bangsa Indonesia.
  3. Menanamkan kesadaran persatuan dan persaudaraan serta solidaritas untuk menjadi perekat bangsa dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa.
  4. Sarat dengan ajaran moral dan kearifan yang berguna dalam mengatasi krisis multidimensi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Berguna untuk menanamkan dan mengembangkan sikap bertanggung jawab dalam memelihara keseimbangan dan keserasian lingkungan hidup.

Materi sejarah yang ditetapkan pemerintah sebenarnya cukup ideal, sayangnya penjabaran operasionalnya masih perlu ditata, dengan mempertimbangkan apa yang dipelajari setidaknya para guru dan pihak terkait harus tergugah untuk mengambil langkah-langkah yang dapat menjamin tercapainya tujuan pembelajaran sejarah. I Gede Widja (1978) memberi rambu-rambu untuk proses pembelajaran sejarah di sekolah dengan menawarkan beberapa metode yang dapat dilaksanakan oleh guru, metode tersebut antara lain :

  1. Metode reseptif merupakan penyampaian informasi satu arah melalui cara-cara tertentu, dimana pihak satu (guru, pihak lain yang dapat memberi informasi seperti buku, film, dsb) sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima.
  2. Metode diskusi
  3. Metode discovery / inquiry
  4. Metode pengajaran sejarah di luar kelas (widya wisata)
  5. Simulasi dan sosiodrama

Menurut Kartodirdjo (1992) pembelajaran sejarah harus menggunakan pendekatan lokosentris, yakni pembelajaran sejarah dengan berpijak pada sejarah lokal. Guru harus memahaminprinsip paralelisme waktu dalam menyajikan peristiwa dan juga harus memahami sejarah lokal. Dengan demikian guru akan selalu menghubungkan peristiwa nasional dengan peristiwa di daerah tempat dia bertugas. Pembelajaran sejarah yang ideal ada;ah sebuah situasi yang memfasilitasi siswa agar dapat mencapai tujuan pembelajaran sejarah secara optimal. Situasi yang dapat memfasilitasi belajar sejarah dengan optimal terdiri atas berbagai aspek saling sinergi dan terintegrasi menciptakan dorongan dan motivasi pada siswa untuk belajar sejarah. Aspek pertama yang perlu disebut adalah guru. Sosok guru walaupun di era kemajuan teknologi kehadirannya dapat digantikan, akan tetapi untuk pembelajaran sejarah tetap diperlukan. Guru tidak sekedar sebagai fasilitator yang memfasilitasi terjadinya proses pembelajaran, tetapi guru adalah seorang desainer bagaimana proses pembelajaran itu harus dan semestinya terjadi. Dalam konteks pembelajaran sejarah yang ideal maka guru sejarah haruslah memenuhi beberapa persyaratan antara lain : 1) harus mempunyai kemampuan akademis (menguasai materi). Kemampuan akademis setidaknya diindikasikan oleh latar belakang pendidikan yang berasal dari jurusan sejarah atau pendidikan sejarah. 2) kemampuan dikdaktik metodik (paedagogies). Kemampuan guru untuk melaksanakan pembelajaran sejarah. Salah satu indikasi yang gampang dilihat adalah legalitas dokumen pendidikan yang dimiliki, yakni dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang. 3) kemampuan untuk mengadopsi perkembangan iptek yang terkait pendidikan dan pembelajaran. Kemampuan ini sangat diperlukan oleh guru karena kurikulum pendidikan selalu mengalami perubahan secara berkala sesuai dengan tuntutan jaman, jika tidak memiliki kemampuan untuk mengadopsi perkembangan iptek maka yang terjadi seperti sekarang ini. Model pembelajaran yang menekankan pada pemrosesan informasi (Joyce & Emily, 2009; Medsker & Holdsworth, 20010 ) mestinya diperkuat pemahamannya dan dipraktekan karena belajar sejarah terkait erat dengan penerimaan informasi.

Aspek lain adalah tersedianya fasilitas yang memadai. Konsep ruang sejarah (history room) sudah lama dikemukakan (Cooper, 1992) akan sampai KTSP wajib dijalankan pada tahun 2009 tidak semua sekolah memiliki ruang sejarah. Bahkan konsep tentang ruang sejarah seperti apa juga belum banyak yang mengerti. Ruang sejarah masih berisi jajaran bangku dan kursi belajar yang diatur seperti pada kelas biasa. Walaupun dinding ruangan telah diisi dengan berbagai gambar atau foto pahlawan dan peristiwa sejarah, tetapi sepenuhnya belum dipergunakan secara maksimal. Beberapa sekolah sudah melengkapi ruang sejarah seperti komputer, LCD, VCD dan TV, tetapi guru sering terbentur pada terbatasnya bahan yang akan disajikan. Jika hal ini dapat dilengkapi maka belajar sejarah sebagai bentuk pelaksanaan intelektual (Soedjatmoko, 1995) pada masa lalu akan dapt terwujudkan. Dalam standar proses jumlah siswa setiap kelas 34 siswa, itupunpada sekolah-sekolah tertentu. Ketentuan yang ada menyarankan antara 28 siswa sampai 32 siswa pada setiap kelas, akan tetapi dewasa ini baru sekolah-sekolah negeri yang melaksanakan. Pembelajaran sejarah di sekolah yang ideal sebagai bentuk proses pengembangan kapasitas berpikir dan pengembangan sikap serta kepribadian memang tidak mudah dilaksanakan di SD dan SMP, karena mapel sejarah hanya bagian dari mata pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Guru mapel sejarah di tingkat SD dan SMP disamping harus menguasai materi juga dituntut menguasai model-model pembelajaran yang menyenangkan dan inspiratif. Untuk tingkat SMA pembelajaran sejarah yang ideal dapat disiapkan dengan baik, terutama untuk jurusan IPS yang memiliki waktu cukup longgar yakni 3 jam per minggunya. Mapel sejarah sebagai cara pengembangan berpikir dan pengembangan sikap serta kepribadian memerlukan model-model pembelajaran yang menantang seperti pembelajaran berbasis masalah, inquiry discovery, atau tugas penelitian sejarah. Kehadiran media audio visual jelas diperlukan, terutama film-film dokumenter yang dapat menggugah sisi kemanusiaan lebih dalam (Formwalt, 20020. Intinya bahwa pembelajaran sejarah yang ideal di sekolah adalah terfasilitasinya siswa untuk dapat tumbuh dan berkembangnya kesadaran sejarah siswa, yakni sebuah kemampuan siswa menggunakan peristiwa sejarah untuk dasar berpikir dan pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Pembelajaran sejarah yang ideal adalah ketika siswa dapat menemukan nilai dan makna sebuah peristiwa lalu yang dapat dipergunakan untuk memahami apa yang terjadi sekarang dan menyiapkan masa depan yang lenih baik.

LANGKAH-LANGKAH YANG PERLU DILAKUKAN

Persoalan yang menghadang di depan mata adalah bagaimana membawa kondisi pembelajaran sejarah yang ideal. Dengan berpijak pada data-data empiris pembelajaran sejarah dewasa ini maka dapat diambil langkah-langkah strategis yang dapat mengarah pada terciptanya pembelajaran sejarah yang ideal di sekolah-sekolah. Langkah-langkah strategis yang ditawarkan adalah sebagai berikut :

  • Melakukan peningkatan kemampuan akademis.

Kegiatan ini sangat penting bagi guru-guru IPS SD dan SMP yang belum memiliki sertifikat pendidik sejarah. Bagi guru-guru yang berasal dari pendidikan sejarah perlu dilakukan penyegaran berupa pendalaman materi yang ada dalam tuntutan kurikulum.

  • Mengembangkan kemampuan didaktik metodik

Guru melaksanakan pelatihan atau workshop yang embahas bagaimana melaksanakan proses pembelajaran dengan model dan strategi yang tepat. Terutama ketika terjadi perubahan kurikulum, maka guru harus diberi bekal untuk melaksanakan proses pembelajarannya. Misalnya bagaimana mempraktekan pembelajaran yang bertujuan membangkitkan kesadaran (Eric Jensen dan Le Ann Nicklesen, 2011).

  • Meningkatkan keterampilan guru dalam mengadopsi perkembangan ipteks, terutama IT di bidang pendidikan

Perkembangan ipteks terutama teknologi informatika dan komunikasi amat sangat cepat, guru harus mampu melaksanakan pengetahuan ini untuk dunia pendidikan, yang sangat urgen dalam pembelajaran sejarah.

  • Menyiapkan bahan ajar

Bahan ajar sebagai unsur penting dalam menyampaikan materi pelajaran, menjadi sangat vital kedudukannya dalam memfasilitasi siswa belajar. Untuk tingkat SMA tidak menjadi masalah, tetapi untuk anak SD dan SMP melahirkan persoalan tersendiri.

  • Pengadaan media audio visual yang representatif.

Untuk dapat belajar sejarah sebaiknya disiapkan ruang sejarah yang memungkinkan siswa belajar secara mandiri. Keberadaan ruang ini akan membantu guru dalam melaksanakan pembelajaran. Jika ruang sejarah tidak memungkinkan maka media audio visual seperti VCD dan tape recorder harus diupayakan ada. Laptop dan VCD dewasa ini merupakan kelengkapan kelas yang sudah banyak dipergunakan.

PENUTUP

Mata pelajaran sejarah memiliki peran dalam membentuk karakter bangsa dabn menumbuhkan sikap kebangsaan dan cinta tanah air. Kondisi mata pelajaran sejarah dengan image buruk terus mengikuti, haruslah segera di akhiri. Cara mengakhirinya melalui pengembangan pembelajaran sejarah di kelas harus mau berubah dari sikap pragmatis menjadi idealis. Berubah dari sekedar menyelesaikan materi dan siswa mendapat nilai di atas KKM, menjadi tujuan yang sangat mulia yakni membentuk watak dan kepribadian siswa. Guru harus mengubah dirinya dari bersikap pasif menjadi guru yang mampu menginspirasi siswa-siswanya melalui mapel sejarah.

DAFTAR PUSTAKA

Cooper. H. (1992). The Teaching of History, Implementing the National Curriculum. Zlondon Z; David Fulton Publishers.

Jensen, Eric & Nicklesen, 2011. Deeper learning: 7 Strategi Luar Biasa Untuk Pembelajaran Yang mendalam dan Tak Terlupakan. Terj: Benyamin Molan:Jakarta PT:Indeks.

Kartodirdjo, S. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Kuntowijoyo, 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006

Soejatmoko, dkk. 1995. Historyografi Indonesia: Sebuah Pengantar. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

Widja, I Gde. 1989. Dasar-Dasar Pengembangan Strategi serta Metode Pengajaran Sejarah. Jakarta: Depdiknas PPLPTK

Kasim, Sultan. 1992. Beberapa Catatan Tetang Pengajaran Sejarah di SMA. Jakarta: Gramedia & Masyarakat Sejarawan Indonesia.

BIODATA

Nama : Sutaryo, S.Pd

NIP : 19650405 200701 1 021

Pangkat/Gol : Penata/ III c

Jabatan : Guru muda

Unit Kerja : SMP Negeri 3 Sumbang, Kabupaten Banyumas

You cannot copy content of this page