Iklan

PEMBELAJARAN DARING SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) DI TENGAH WABAH COVID 19

C:\Users\TOTOK\Downloads\WhatsApp Image 2021-01-23 at 14.59.47.jpeg

Susiati Purwaningsih, S.Pd

Abstrak

Pandemi covid 19 telah mengganggu proses pembelajaran secara konvensional. Maka diperlukan solusi untuk menjawab permasalahan tersebut. Pembelajaran secara daring adalah salah satu alternatif yang dapat mengatasi masalah tersebut. Tujuan penulis adalah untuk memperoleh gambaran pelaksanaan pembelajaran daring di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai upaya menekan penyebaran covid-19. Subyek utama adalah siswa SMP. Data dikumpulkan dengan wawancara melalui zoom cloud meeting. Analisis data yang dilakukan menggunakan teknik analisis interaktif Miles & Huberman. Hasil pengamatan menunjukan bahwa : (1) Siswa memiliki fasilitas-fasilitas dasar yang dibutuhkan untuk mengikuti pembelajaran daring, (2) pembelajaran daring memiliki fleksibilitas dalam pelaksanaannya dan mampu mendorong munculnya kemandirian belajar dan motivasi untuk lebih aktif dalam belajar, (3) pemblajaran jarak jauh akan mendorong munculnya perilaku ocial distancing dan meminimalir munculnya keramaian siswa sehingga dianggap dapat mengurangi potensi penyebaran covid-19 di lingkungan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Lemahnya pengawasan terhadap siswa , kurang kuatnya sinyal di daerah pelosok dan mahalnya biaya kuota adalah tantangan tersendiri dalam pembelajaran daring. Meningkatnya kemandirian belajar, minat dan motivasi, keberanian mengemukakan gagasan dan pertanyaan adalah keuntungan lain dari pembelajaran daring.

Kata kunci : Pembelajaran daring, covid-19, social distancing.

PENDAHULUAN

Wabah corona virus disease 2019 (Covid-19) yang telah melanda 215 negara di dunia, memberikan tantangan tersendiri bagi lembaga pendidikan, khususnya Sekolah Menengah Pertama (SMP). Untuk melawan Covid -19 pemerintah melarang untuk berkerumun, pembatasan sosial (social ditancing) dan menjaga jarak fisik (physical distancing), memakai masker dan selalu cuci tangan. Melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah telah melarang siswa untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (konvensional) dan memerintahkan untuk pembelajaran secara daring (Firman. F. & Rahayu. S.2020). Untuk mencegah penyebaran Covid-19 , WHO memberikan himbauan untuk menghentikan acara-acara yang dapat menyebabkan masa berkerumun. Maka dari itu pembelajaran tatap muka yang mengumpulkan banyak siswa di dalam kelas ditinjau ulang pelaksanaannya, harus diselenggarakan dengan pembelajaran daring yang mampu mencegah berhubungan secara fisik antara siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa (Firman. F. & Rahayu. S.2020). Menurut Milman (2015) penggunaan teknologi digital dapat memungkinkan siswa dan guru melakswanakan proses pembelajaran walaupun mereka di tempat yang berbeda. Bentuk pembelajaran yang dapat dijadikan solusi dala masa pandemi covid-10 adalah pembelajaran daring. Menurut Moore, Dickson-Deane, & Galyen (2011). Pembelajaran daring adalah pembelajaran yang menggunakan internet dengan aksesibilitas, konektivitas, fleksibilitas dan kemampuan untuk memunculkan berbagai jenis interaksi pembelajaran. Penelitian yang dilakukanm oleh Zhang et al, (2004) menunjukan bahwa penggunaan internet dan teknologi multimedia mampu merombak cara penyampaian pengetahuan dan dapat menjadi alternatif pembelajaran yang dilaksanakan dalam kelas tradisional. Pembelajaran daring adalah pembelajaran yang mampu mempertemukan siswa dan guru untuk melaksanakan interaksi pembelajaran dengan bantuan internet (Kuntato, E. 2017). Pada tataran pelaksanaan pembelajaran daring memerlukan dukungan perangkat-perangkat mobile seperti smarphone atau telepon android, laptop, komputer, tablet dan iphone yang dapat digunakan untuk mengakses informasi kapan saja dan dimana saja (Gikas & Grant, 2013). Penggunaan teknologi mobile mempunyai sumbangan besar dalam lembaga pendidikan termasuk di dalamnya pencapaiann tujuan pembelajaran jarak jauh (Korucu & Alkan, 2011). Berbagai media juga dapat digunakan untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran daring. Misalnya kelas-kelas virtual menggunakan layanan google classroom ( Enriquez, 2014; Sicat, 2015; Iftakhar,2016) dan aplikasi pesan instan seperti WhatsApp) (So,2016). Pembelajaran daring bahkan dapat dilakukan melalui media sosial seperti Facebook dan instagram (Kumar & Nanda, 2018). Pembelajaran daring menghubungkan peserta didik dengan sumber belajarnya yang secara fisik terpisah atau bahkan berjauhan namun dapat saling berkomunikasi, berinteraksi dan berkolaborasi (secara langsung dan secara tidak langsung). Pembelajaran daring adalah bentuk pembelajaran jarak jauh yang memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan informasi, misalnya internet, CD-ROOM (Molinda, 2005).

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Tujuannya adalah menggambarkan pembelajaran daring yang dilaksanakan di sekolah terutama tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai upaya dalam menekan mata rantai penyebaran covid-19 dilingkungan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pembelajaran daring yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang menggunakan media-media pembelajaran yang dapat diakses menggunakan layanan internet. Penelitian dilakukan dengan terlebih dahulu mengadakan survey kepada siswa dan orang tua mengenai penerapan pembelajaran daring. Survey disebarkan dengan menggunakan google form yang diberikan kepada orang tua siswa melalui pesan WhatsApp. Hasil survey kemudian dikelompokan kedalam tiga kategori respon: (1) setuju dengan penerapan pembelajaran daring, (2) tidak setuju dengan penerapan pembelajaran daring, (3) ragu dengan pelaksanaan pembelajaran daring. Subyek penelitian adalah siswa SMP yang dipengaruhi oleh keadaan dan kondisi covid-19 saat ini, terutama siswa SMP Negeri 2 Sokaraja yang saya jadikan sebagai subyek utama. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara via whatsApp. Aspek-aspek yang ditanyakan dalam wawancara adalah : (1) sarana dan prasarana yang dimiliki siswa untuk melaksanakan pembelajaran daring, (2) respon siswa mengenai efektivitas pembelajaran daring, (3) pelaksanaan pembelajaran daring dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di lingkungan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Analisis data penelitian menggunakan model analisis Miles & Huberman (1994) yang terdiri dari tiga tahapan, yaitu redukasi data, display data, serta penarikan dari verifikasi kesimpulan.

Gambar 1 : Tahapan analisis data penelitian

Analisis data penelitian tahap reduksi data merupakan tahap pengumpulan seluruh informasi yang dibutuhkan dari hasil wawancara lalu dikelompokan datanya. Tahap display data merupakan pemaparan data yang diperlukan dalam penelitian dan yang tidak perlu dibuang. Tahap penarikan dan verifikasi kesimpulan adalah tahap interprestasi data penelitian untuk ditarik kesimpulan berdasarkan fenomena yang didapatkan (Miles, M.B. & Huberman, M.1994).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Siswa memiliki fasilitas yang memadai untuk melaksanakan pembelajaran daring

Peningkatan dalam penggunaan internet di Indonesia dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (Rahadian, D. 2017). Pada tahun 2018 ada 62.41 % orang penduduk Indonesia memiliki telepon seluler dan 20,05 % rumah tangga telah memiliki komputer di rumahnya (BPS, 2019). Data ini relevan dengan hasil riset yang memaparkan bahwa walaupun ada siswa yang belum memiliki laptop, akan tetapi hampir seluruh siswa telah mempunyai smarphone. Survey yang telah dilakukan melaporkan bahwa 85 % smarphone dan laptop dan 15 %nbelum mempunyai. Penggunaan smarphone dan laptop dalam pembelajaran daring dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik ( Angrawan, A. 2019 ). Pangondian, R. A. Santosa, P.I. & Nugroho, E. (2019) menyatakan banyak kelebihan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam pelaksanaan pembelajaran daring diantaranya adalah tidak terikat ruang dan waktu. Penelitian telah banyak dilakukan yang meneliti tentang penggunaan gawai seperti smartphone dan laptop dalam pembelajaran.

Kemampuan smartphone dan laptop dalam mengakses internet membantu siswa untuk mengikuti pembelajaran daring (Kay & Lauricella, 2011: Gikas & Grant, 2013; Chan, Walker, & Gleaves, 2015; Gokfearslan, Mumcu, Haslaman, & Levik, 2016). Pembelajaran daring menggunakan zoom cloud meeting memiliki kelebihan dapat berinteraksi langsung antara siswa dan guru serta bahan ajar tetapi memiliki kelemahan boros kuota dan kurang efektif (Naserly, M.K. 2020). Lebih lanjut tantangan pembelajaran daring adalah ketersediaan layanan internet. Sebagian siswa mengakses internet menggunakan layanan seluler dan sebagian kecil menggunakan layanan WIFI. Ketika kebijakan pembelajaran daring diterapkan siswa berada di rumah masing-masing mengalami kesulitan sinyal selular ketika didaerah masing-masing, bahkan masih ada siswa yang belum memiliki HP. Jikapun ada sinyal yang didapatkan sangat lemah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan pembelajaran daring di sekolah Menengah Pertama (SMP). Pembelajaran daring memiliki kelemahan ketika layanan internet lemah dan instruksi guru yang kurang dipahami oleh siswa (Astuti, P, & Febrian, F, 2019). Tantangan lain yang dihadapi adalah kendala dalam pembiayaan pembelajaran daring. Walaupun penggunaan gawai dapat mendukung pembelajaran daring, tetapi ada dampak negatif yang perlu mendapat perhatian dan diantisipasi yaitu penggunaan gawai yang berlebihan. Mereka mengakui bahwa selain pembelajaran daring, siswa juga menggunakan media sosial dan menonton youtube. Media sosial telah memasuki ranah kehidupan golongan dewasa awal (Lau, 2017). Siswa mengakses media sosial dalam rangka ekspresi diri, membangun jejaring pertemanandan opini (Kim, Wang, & Oh, 2016). Sangat disayangkan banyak orang kecanduan gawai akibat menggunakannya secara berlebihan (Waslh, White & Young, 2007). Perlu dikawatirkan masuknya informasi yang menyesatkan dan tidak perhatian selama belajar akibat bermain media sosial (Siddiqui & Singh, 2016). Selain itu, peserta didik yang kecanduan ngawai memiliki masalah akademik dan sosial. Peserta didik yang memiliki kecanduan Gadget memiliki masalah emosional dan perilaku.

Efektifitas Pembelajaran daring

Pembelajaran daring dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dalam upaya memutus mata rantai penyebaran covid-19 menggunakan aplikasi-aplikasi pembelajaran yang dapat diakses dengan jaringan internet. Dengan pembelajaran daring , siswa tidak terkendala waktu dan tempat dimana mereka dapat mengikuti pembelajaran dari rumah masing-masing maupun dari tempat dimana saja, walaupun masaih ada siswa yang belum mempunyai hand phone. Dengan pembelajaran daring guru memberikan pembelajaran melalui kelas virtual yang dapat diakses dimanapun dan kapanpun tidak terkait ruang dan waktu. Kondisi ini membuat siswa dapat secara bebas mengikuti mata pelajaran sesuai dengan jadwal dan tugas mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Penelitian Sun et al (2008) menginformasikan bahwa fleksibilitas waktu, metode pembelajaran dan tempat dalam pembelajaran dasring berpengaruh terhadap kepuasan siswa terhadap pembelajaran. Ditemukan hasil penelitian yang unik dari penelitian ini yaitu siswa merasa lebih nyaman dalam mengemukakan gagasan dan pertanyaan dalam pembelajaran daring . Mengikuti pembelajaran dari rumah membuat mereka tidak merasakan tekanan psikologis dari teman sebaya yang biasa mereka alami ketika mengikuti pembelajaran tatap muka. Ketidakhadiran guru secara langsung atau fisik juga menyebabkan siswa merasa tidak canggung dalam mengutarakan gagasan . Ketiadaan penghambat fisik serta batasan ruang dan waktu menyebabkan peserta didik lebih nyaman dalam berkomunikasi (Sun et al, 2008). Lebih lanjut pembelajaran secara daring menghilangkan rasa canggung yang pada akhirnya membuat siswa menjadi berani berekspresi dalam bertanya atau mengutarakan pendapat secara bebas.

Pembelajaran daring juga memiliki kelebihan mampu menumbuhkan kemandirian belajar ( self regulated learning ). Penggunaan aplikasi on line mampu meningkatkan kemandirian belajar ( Oknisih, N & Suyoto, S, 2019 ), menyatakan bahwa pembelajaran daring lebih bersifat berpusat pada siswa yang menyebabkan mereka mampu memunculkan tanggung jawab dan otonomi dalam belajar ( learning autuonomy ). Belajar secara daring menuntut siswa mempersiapkan sendiri pembelajarannya, mengevaluasi, mengatur dan secara sumultan mempertahankan motivasi dalam belajar ( Sun, 2014, Aina, M, 2016) menyatakan bahwa pembelajaran daring dapat meningkatkan minat peserta didik. Pembelajaran daring memiliki tantangan khusus, lokasi siswa dan guru yang terpisah saat melaksanakan menyebabkan guru tidak dapat mengawasi secara langsung kegiatan siswa selama proses pembelajaran. Tidak ada jaminan bahwa siswa sungguh-sungguh dalam mendengarkan ulasan dari guru . Oleh karena itu disarankan dalam pembelajaran daring sebaiknya diselenggarakan dalam waktu yang tidak lama mengingat siswa sulit mempertahankan konsentrasinya apabila pembelajaran dilaksanakan lebih dari satu jam (Khan, 2012). Hasil penelitian juga melaporkan bahwa tidak sedikit siswa yang kesulitan dalam memahami materi pembelajaran yang diberikan secara daring. Bahan ajar niasa disampaikan dalam bentuk bacaan yang tidak mudah dipahami secara menyeluruh oleh siswa . Mereka berasumsi bahwa materi dan tugas tidak cukup karena perlu penjelasan secara langsung oleh guru. Garrison & Cleveland –Ines (2005) dan Swan (2002) melaporkan bahwa kelas yang gurunya sering masuk memberikan penjelasan dalam pembelajaran lebih baik dibandingkan kelas yang gurunya jarang masuk memberikan penjelasan.

Pembelajaran daring memutus mata rantai penyebaran Covid 19

Wabah covid -19 adalah jenis wabah yang tingkat penyebarannya sangat tinggi dan cepat. Wabah ini sistem imun dan pernapasan manusia (Rothan & byrareddy, 2020). Pencegahan wabah ini dilakukan dengan menghindari interaksi langsung orang yang dengan orang-orang yang beresiko terpapar virus corona ini. Mengatur jarak dan kontak fisik yang berpeluang menyebarkan virus disebut social distancing ( Bell at al, 2006 ). Berbagai upaya untuk menekankan mata rantai penyebaran covid-19 di lingkungan sekolah, menerapkan aturan pembelajaran daring. Pembelajaran dilakukan menggunakan internet sehingga memudahkan guru dan siswa berinteraksi secara online. Guru dapat membuat bahan ajar yang diakses oleh siswa dimana saja dan kapan saja. Menurut Bell et al, (2017) pembelajaran daring memungkinkan adanya interaksi melalui web walaupun mereka berada di tempat yang jauh dan berbeda ( Arzayeya, et. Al, 2015 ). Keberadaan guru dan siswa yang berbeda tempat selama pembelajaran menghilangkan kontak fisik dan mampu mendorong munculnya perilaku social distancing. Menurut Stein (2020) melakuakan social distancing sebagai solusi yang baik untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Pembelajaran daring memungkinkan siswa dan guru melaksanakan pembelajaran dari rumah masing-masing. Siswa dapat mengakses materi pembelajaran dan mengirim tugas yang diberikan guru tanpa harus bertemu secara fisik di pembelajaran sekolah. Tindakan ini bisa mengurangi timbulnya kerumunan masa di sekolah seperti pada pembelajaran tatap muka. WHO (2020) merekomendasi bahwa menjaga jarak dapat mencegah penularan covid-19. Sayangnya , di daerah – daerah pelosok dan tidak mempunyai akses internet yang baik pelaksanaan pembelajaran daring menunjukan kecenderungan yang berbeda. Dalam menyiasati kondisi ini, siswa yang tinggal di daerah yang sinyal internet lemah akan mencari wilayah-wilayah tertentu seperti perbukitan dan wilayah atau lokasi lain untuk dapat terjangkau oleh akses internet.

KESIMPULAN

Dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di lingkungan SMP, maka pembelajaran daring sebagai solusi pelaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukan siswa harus memiliki sarana dan prasaranaada kelemahan pembelajaran daring untuk melaksanakan pembelajaran daring. Pembelajaran daring efektif untuk mengatasi pembelajaran yang memungkinkan guru dan siswa berinteraksi dalam kelas visual yang dapat diakses dimana saja dan kapan saja. Pembelajaran daring dapat membuat siswa belajar mandiri dan motivasinya meningkat. Namun ada kelemahan pembelajaran daring, siswa tidak terawasi dengan baik selama proses pembelajaran daring. Lemah sinyal internet dan mahalnya biaya kuota menjadi tantangan tersendiri pembelajaran daring. Akan tetapi pembelajaran daring dapat menekan penyebaran Coxid-19 di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

DAFTAR PUSTAKA

Aina, M. (2016). Pengembangan multimedia Interaktif Menggunakan Camtasia Studio 8 Pada Pembelajaran Materi Kultur Jaringan Untuk Siswa SMP.

Anggrawan, A. (2019). Analisis Deskriptif Hasil Belajar Pembelajaran Tatap Muka dan Pembelajaran Online Menurut Gaya Belajar. Matrik jurnal Manajemen, Teknik Informatika dan Rekayasa Komputer, 18(2). 339-346. https://doi.org/10.30812/matrik.v.1812.411.

Arzayeva, M. Rakhimxhanov, K. Abdrahmanova, A & Umitkaliev, U. (2015). Special aspects of distance learning in educational system. Antropologist 22(3), 449-454. https: doi.org/10.1080/09720073.2015.11891900.

Asif, A. R & Rahmadi, F.A. (2017). Hubungan Tingkat Kecanduan Gadget Dengan Gangguan Emosi Dan Perilaku Remaja Usia 11-12 Tahun (Doctoral Dissertation Faculty of Medicine)

Belt, D, Nicoll, A. Fukuda, K, Horby, P, Monto, A, Hayden, F, Van Tam, J (2006) Nonpharma veutical Interventions for Pandemic Influenza, National and Community Measures Emerging Infectious Diseases. https://doi.org/10.3201/eid1201.051271.

Firman, F & Rahayu, S. (2020). Pembelajaran Online di Tengah Pandemi Covid-19. Indonesia Journal of Educational Science (OJES). 2(2), 81-89.

He, W. Xu, G. & Kruck, S. (2014). OnlineIs Education for The 21st Century. Jounal of Information System Education.

Jamaluddin, D, Ratnasih, T, Gunawan, H & Paujiah, E. (2020). Pembelajaran Daring Masa Pandemik Covid-19 Pada Calon Guru Hambatan, Solusi dan Proyeksi. LP2M

Iftikhar, S. (2016). Google Classtoom What Works and How. Journal of Education and Social Sciences.

Kuntarto, E. (2017). Keefektifan Model Pembelajaran Daring Dalam Pembelajaran. Indonesian Language Education and Literature.

Oknisih, N & Suyoto, S, S. (2019). Penggunaan APLEN ( Aplikasi Online) Sebagai Upaya Kemandirian Belajar Siswa. In Seminar Nasional Pendidikan Dasar ( Vol 1. No.01)

Pangondian, R, A, Santosa, P, I & Nugroho, E. (2019). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesuksesan Pembelajaran Daring Dalam Revolusi Industri.

Rahadian, D. (2017). Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari Kompetensi Teknologi Pembelajaran Untuk Pengajaran Yang Berkualitas.

WHO, (n.d). Points of entry and mass gatherings. Retrieved March 28, 2020 from https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/technical-guidance/points-of-entry-and-mass-gatherings.

BIODATA

Nama : Susiati Purwaningsih, S.Pd.

NIP : 19700422 200701 2 010

Pangkat/Gol : Penata/ III c

Jabatan : Guru muda

Unit Kerja : SMP Negeri 2 Sokaraja, Kabupaten Banyumas

You cannot copy content of this page