Iklan

PEMANFAATAN METODE STAD BAGI GURU DALAM MENGAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PADA SISWA SMP

Oleh: Heny Herowati, S.Pd.

Abstrak

Artikel ini akan mengarahkan kajian dalam pembelajaran dengan metode Student Teams Achievement Devision (STAD). Metode ini tidak terlepas dari pembelajaran kooperatif dengan tujuan dalam kegiatan belajar mengajar lebih terarah pada tujuan bersama dalam kelompok kecil Dengan belajar siswa akan paham tentang metode STAD yang dilakukan secara kelompok, dengan anggota kelompok yang heterogen. Guru memegang peran yang sangat penting dan menentukan segalanya. Oleh karena peran guru yang begitu penting, biasanya proses pengajaran hanya akan berlangsung ketika dihadiri oleh seorang guru dan tak mungkin terjadi proses pembelajaraan tanpa guru. Dalam proses pembelajaran yang berpusat pada guru tersebut, guru memegang tiga peranan utama, yaitu (1) perencana pembelajaran, (2) penyampai informasi, (3) evaluator. Siswa mempunyai kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakat bakat, bahkan untuk belajar sesuai dengan gayanya dalam berkelompok. Jadi dalam proses pembelajaran guru dan siswa saling menguasai kegiatan pembelajaraan. Di dalam kelas secara tidak langsung siswa sebagai obyek dan guru menyampaikan informasi yang disebut dengan mengajar. Hasil belajar akan menjadi optimal kalau ada motivasi. Motivasi akan senantiasa menentukan usaha belajar bagi para siswa. Motivasi bertalian dengan suatu tujuan.

Kata kunci : STAD, Pembelajaran Kooperatif, Belajar, Motivasi, Mengajar

Pendahuluan

Upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan seakan tidak pernah berhenti. Banyak agenda reformasi yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan. Beragam program inovatif ikut serta meriahkan reformasi pendidikan. Reformasi pendidikan adalah restrukturisasi pendidikan, yakni memperbaiki pola hubungan sekolah dengan lingkungannya dan dengan pemmerintah, pola pengembangan perencanaan serta pola mengembangkan manajerialnya, pemberdayaan guru dan restrukturisasi model-model pembelajaran (Murphy, 1992:10).

Dunia pendidikan saat ini telah menjadi perhatian bagi semua pihak untuk memikirkannya. Melalui pendidikan , pondasi dari kecerdasan suatu bangsa akan tercermin, baik itu pengetahuan maupun ketrampilan anak didiknya. Pelaksanaan pembelajaran pada sekolah-sekolah pada saat ini perlu menerapkan teori, metode, media maupun teknik komunikasi yang sesuai dan tepat kepada siswa. Melalui pemebelajaran yang efektif, mutu pendidikan akan bisa ditingkatkan. Tugas seorang guru memang cukup berat dalam membangun pendidikan yang berkualitas. Akan tetapi, dengan niat dan motivasi tinggi untuk menjadi guru yang terampil dan profesional, tentunya hal tersebut akan terasa lebih ringan.

Motivasi kerja guru akan ditentukan oleh besar kecilnya tanggung jawab yang diembannya dalam melaksanakan tugas. Tanggung jawab tersebut memberikan kebebasan kepada setiap guru untuk memutuskan apa yang dihadapinya dan bagaimana menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Pemberian tanggung jawab secara individual merupakan kesempatan bagi guru untuk mengoptimalkan segenap potensi yang dimilikinya dalam bekerja sehingga mereka dapat mengaktualisasikan keinginan dan cita-cita secara optimal.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidik memiliki peran sebagai ing ngarso sungtulodo (jika di depan menjadi contoh); ing madio mangun karso (jika di tengah membangkitkan hasrat untuk belajar); tut wuri handayani (jika di belakang memberi dorongan). Ketiga kalimat tersebut memiliki pengertian, bahwa pendidik memberikan contoh, memberikan pengaruh, dan mengendalikan siswa (Soecipto dan Kosasi, 1994).

Dalam hal ini persoalan-persoalan pembelajaran yang muncul dan diidentifikasi oleh guru akan mudah diketahui dan dipecahkan dengan guru yang lain dengan istilah kolaborasi. Disini guru akan tahu dan bisa membedakan siswa yang memiliki sifat perasaan negatif dan antagonis dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam artikel ini penulis mencoba mengelompokan siswa dengan metode STAD, hal tersebut dikandung maksud agar dalam pembelajaran antara guru dengan siswa ada komunikasi serta siswa juga diharapkan tidak mempunyai rasa diskrimininasi. Penerapan metode STAD merupakan sistem pembelajaran kooperatif yang didalamnya siswa dibentuk ke dalam kelompok belajar yang terdiri dari empat atau lima anggota yang mewakili siswa pada tingkat kemampuan dan jenis kelamin yang berbeda.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

  • Apa yang dimaksud dengan metode STAD?
  • Bagaimana hakikat Pembelajaran kooperatif?
  • Bagaimana hakikat motivasi belajar?
  • Bagaimana hakikat mengajar melalui metode STAD?

Pembahasan

Pengertian STAD

STAD (Student Teams Achievement Devision) merupakan salah satu sistem pembelajaran kooperatif yang di dalamnya siswa dibentuk ke dalam kelompok belajar yang terdiri dari empat atau lima anggota yang mewakili siswa dengan tingkat kemampuan dan jenis kelamin yang berbeda. dalam hal ini guru memberikan pelajaran dan selanjutnya siswa bekerja dalam kelompoknya masing-masing untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok telah menguasai pelajaran yang diberikan. Selanjutnya, siswa melaksanakan tes atas materi yang diberikan dan mereka harus mengerjakan sendiri tanpa bantuan siswa lain. Nilai tes yang mereka peroleh, selanjutnya dibandingkan dengan nilai rata-rata yang mereka peroleh sebelumnya dan kelompok-kelompok yang berhasil memenuhi kriteria diberi nilai tersendiri sehingga nilai ini kemudian ditambahkan pada nilai kelompok.

Menurut pendapat Slavin ( 1995 ) STAD terdiri dari lima komponen utama yaitu presentasi kelas, kelompok, tes, nilai peningkatan individu, dan penghargaan kelompok. Metode STAD lebih mementingkan sikap daripada teknik dan prinsip, yakni sikap partisipasi dalam rangka mengembangkan potensi kognitif dan afektif. Dengan demikian, siswa lebih (being mode) bukan hanya sekedar (being have). Kelebihan sistem ini, antara lain: (1) siswa lebih mampu mendengar, menerima, dan menghormati serta menerima orang lain, (2) siswa mampu mengidentifikasi akan perasaannya juga perasaan orang lain, (3) siswa dapat menerima pengalaman dan dimengerti orang lain, (4) siswa mampu menyakinkan dirinya untuk orang lain dengan membantu orang lain dan menyakinkan dirinya untuk saling memahami dan mengerti, dan (5) mampu mengembangkan potensi individu yang berhasil guna dan berdaya guna, kreatif, bertanggung jawab, mampu mengaktualisasikan, dan mengoptimalkan dirinya terhadap perubahan yang terjadi.

Metode STAD merupakan metode berdiskusi yang pada dasarnya diskusi yaitu memecahkan suatu permasalahan, memahami, menjawab pertanyaan dan membuat keputusan. Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman dan wawasan antar siswa . Adapun Kekurangan dari metode diskusi ini yaitu sering terjadi pembicaraan hanya dikuasai oleh dua atau tiga orang saja, bahkan yang didiskusikan sering meluas sehingga kesimpulan menjadi tidak jelas serta memakan waktu cukup lama. Namun kekurangan ini tidak menutup kemungkinan bahwa metode ini dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran khususnya pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

Hakikat Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah kerja kelompok dengan unsur dasar, yaitu: (1) ketergantungan positif, (2) akuntabilitas individual, (3) interaksi tatap muka, (4) keterampilan sosial, dan (5) processing ( Bennet, 1991). Demikian pula menurut Mortarela (1994) dalam buku Sukidi dkk, pembelajaran kooperatif secara umum menyangkut teknik pengelompokan yang di dalamnya siswa bekerja terarah pada tujuan belajar bersama dalam kelompok kecil yang umumnya terdiri dari empat atau lima siswa. Pembentukan kelompok didasarkan pada pemerataan karakteriistik psikologis individu, yang meliputi kecerdasan, kecepatan belajar, motivasi belajar, perhatian, cara berpikir, dan daya ingat.

Lebih lanjut, Richad L. Arends (1997) , menyatakan pembelajaran kooperatif dapat dikelompokkan menurut bentuknya sebagai berikut : (1) siswa bekerja bersama-sama dalam kelompok untuk menguasai materi pelajaran, (2) kelompok siswa terdiri dari peserta yang berprestasi tinggi, sedang dan rendah, (3) bila memungkinkan kelompok tersebut merupakan campuran dari jenis kelamin, dan (4) penilaian atau sistem penghargaan dengan berorientasi kelompok bukan berorientasi individu.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, bahwa pembelajaran kooperatif adalah, pembelajaran yang memandang keberhasilan individu diorientasikan dalam keberhasilan kelompok. Dalam hal ini, maka siswa bekerjasama dalam mencapai tujuan dan siswa berusaha keras membantu dan mendorong pada teman-teman untuk bersama-sama berhasil dalam belajar.

Dalam pembelajaran kooperatif siswa bekerja bersama-sama dalam belajar dan bertanggung jawab atas pembelajaran yang dilakukan. Menekankan pada tujuan dan keberhasilan kelompok yang hanya dapat dicapai jika semua anggota kelompok mempelajari apa yang diajarkan.

Hakikat Belajar

Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.

Baharudin dan Esa (2007: 16) mengemukakan: proses belajar adalah serangkaian aktivitas yang terjadi pada pusat saraf individu yang belajar. Menurut Skinner, dikutip Syah (1999: 89), belajar adalah suatu adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.

Selanjutnya, Ernest R. Higard memberikan definisi yaitu seseorang yang belajar kelakuannya akan berubah daripada sebelum itu. Jadi, belajar tidak hanya mengenai bidang intelektual, akan tetapi mengenai seluruh pribadi anak. Perubahan kelakuan karena mabuk bukanlah hasil belajar.

Dalam kamus pedagogik, belajar adalah berusaha memiliki pengetahuan atau kecakapan. Seseorang telah mempelajari sesuatu terbukti dengan perbuatannya. Ia baru dapat melakukan sesuatu hanya dari proses belajar sebelumnya. Akan tetapi, harus diingat juga bahwa belajar mempunyai hubungan yang erat dengan masa peka, yaitu suatu masa dimana sesuatu fungsi maju dengan pesat untuk dikembangkan.

Menurut Purwanto (1991: 84-85), beberapa element penting yang mencirikan belajar yang dilakukan siswa yaitu;

  1. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku,
  2. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman,
  3. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap dan,
  4. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian.

Menurut Gestalt, belajar adalah proses mengembangkan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antarbagian dalam suatu situasi permasalahan. Teori ini berbeda dengan teori behavioristik yang menganggap belajar atau tingkah laku itu bersifat makanistis sehingga mengabaikan atau mengingkari peranan insight. Teori Gestalt justru menganggap bahwa insight adalah inti dari pembentukan tingkah laku.

Menurut teori Medan belajar adalah suatu proses pemecahan masalah. Beberapa hal yang berkaitan dengan proses pemecahan masalah menurut Lewin dalam belajar adalah sebagai berikut.

  1. Belajar adalah perubahan struktur kognitif setiap orang akan dapat memecahkan masalah jika ia bisa mengubah struktur kognitif.
  2. Pentingnya motivasi. Motivasi adalah faktor yang dapat mendorong individu untuk berperilaku.

C.T Morgan berpendapat bahwa belajar adalah suatu perubahan yang relatif dalam menetapkan tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman masa lalu. Adapun menurut Thursam Hakim, belajar adalah suatu proses perubahan dalam kepribadian manusia. Perubahan tersebut diperlihatkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain.

G.A. Kimble, belajar adalah perubahan yang relatif menetap dalam potensi tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari latihan dengan penguatan. Tidak termasuk perubahan-perubahan karena kematangan, kelelahan, atau kerusakan pada susunan saraf. Dengan kata lain, belajar adalah mengetahui dan memahami sesuatu sehingga terjadi perubahan dalam diri seseorang yang belajar(Lisnawaty Simanjuntak, dkk. 1993).

Jhon Dewey, belajar adalah apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, inisiatif baru datang dari siswa. Guru adalah pembimbing dan pengarah, yang mengemudikan perahu, tetapi tenaga yang harus mengerakkan perahu tersebut haruslah berasal siswa yang belajar. Dengan demikian, para siswa harus didorong untuk belajar bagi mereka sendiri, tugas guru yang sebenarnya adalah bahwa siswa menerima tanggung jawabnya sendiri untuk belajar dengan mengembangkan sikap dan rasa antusias untuk keperluan ini (Devies, 1991).

Selanjutnya Oemar Hamlik (2017: 27) menjelaskan bahwa belajar adalah:

  1. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Menurut pengertian ini belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.
  2. Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.

Menurut Vernon S. Gerlach & Donal P. Ely dalam bukunya Teaching & Media-A Systematic Approach (dalam Arsyad, 2011: 3) mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan perilaku, sedangkan perilaku itu adalah tindakan yang diamati. Lebih lanjut Abdillah (dalam Aunurrahman, 2010: 35) menyimpulkan belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu.

Belajar dilakukan niat yang benar, dilaksanakan dengan baik, dan mencapai hasil prestasi atau prestasi yang gemilang, adalah sebuah harapan yang diinginkan oleh semua orang, semua siswa sekolah. Untuk mencapai hal tersebut, maka ada tiga bagian penting seperti yang dikemukakan Mardianto dalam bukunya Psikologi Pendidikan, yakni: pertama, niat dilakukan dengan sepenuh hati, bukan karena diperintah, bukan karena diperintah, bukan karena jadwal, atau karena dihukum. Kedua, belajar dilaksanakan dengan baik, maka seorang anak akan melakukan belajar dengan usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh semua orang , tidak curang, tidak merugikan orang lain. Ketiga, mencapai hasil yang gemilang, bahwa dengan belajar akan memperoleh hasil, hasil yang diperoleh benar-benar adalah disebabkan kegiatanbelajaar bukan karena yang lain ( Mardianto, 2012: 190).

Hakekat Motivasi

Menurut Mc. Donald , motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Jenis-jenis motivasi dapat dibagi menjadi dua yaitu: (1) motivasi intrinsik dan (2) motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang tercakup dalam situasi belajar dan menemui kebutuhan dan kebutuhan-kebutuhan siswa. Motivasi ini sering disebut motivasi murni. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar, seperti angka kredit, ijazah, tingkatan hadiah, medali pertentangan, dan persaingan yang bersifat negatif ialah sarcasm, ridicule, dan hukuman.

Menurut Oemar Hamalik (2013: 161) motivasi sangat menentukan tingkat berhasil atau gagalnya perbuatan belajar siswa. Belajar tanpa adanya motivasi kiranya akan sangat sulit untuk berhasil. Sebab, seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang dikerjakan itu tidak menyentuh kebutuhannya.

Motivasi sebagai faktor inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan tidak baik dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar kesukessan belajar. Seorang besar motivasi akan giat berusaha, tampak gigih tidak mau menyerah, giat membaca buku-buku untuk meningkatkan prestasinya dan untuk memecahkan masalahnya. Sebaliknya mereka yang memotivasinya lemah, tampak acuh tak acuh, mudah putus asa, perhatian tidak tertujupada pelajaran, suka menganggu kelas, sering meninggalkan kelas, sering meninggalkan pelajaran akibat banyak mengalami kesulitan belajar (Ahmad dan Supriyono, 2004: 83).

Hakikat Mengajar melalui Metode STAD

Mengajar secara deskriptif diartikan sebagai suatu aktivitas dari proses penyampaian informasi atau pengetahuan dari seorang guru kepada siswa. Proses penyampaian ini sering pula dianggap sebagai proses mentransfer ilmu. Dalam hal ini, istilah menstranfer diartikan sebagai proses menyebarluaskan. Untuk proses mengajar, sebagai proses menyampaikan pengetahuan , akan lebih tepat bila diartikan sebagai menanamkan ilmu pengetahuan (Smith, 1987).

Berikut beberapa konsep dan teori mengajar sebagai berikut.

  1. Muhammad Ali menyampaikan mengajar merupakan proses yang kompleks. Tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa. Banyaknya kegiatan maupun tindakan harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik pada seluruh siswa. Oleh karena itu, rumusan pengertian mengajar tidaklah sederhana. Artinya, dibutuhkan rumusan yang dapat meliputi seluruh kegiatan dan tindakan dalam perbuatan mengajar itu sendiri.
  2. Bohar Suharto (1997) mendefinisikan, mengajar merupakan suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur (mengelola) lingkungan sehingga tercipta suasana yang sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan siswa sehingga terjadi proses belajar yang menyenangkan. Pendapat ahli yang lain, Oemar Hamalik (1992), yang merujuk dari pendapat Davis mengatakan bahwa mengajar sebagai proses menyampaikan pengetahuan dan kecakapan kepada siswa. Dalam pengertian yang lain dijelaskan juga bahwa menagajar adalah suatu aktivitas profesional yang memerlukan keterampilan tingkat tinggi dan menyangkut pengambilan keputusan.
  3. Pendapat dari Hasibuan (2000) bahwa konsep mengajar dalam proses perkembangannya masih dianggap sebagai suatu kegiatan penyampaian atau penyerahan pengetahuan.
  4. Menurut Pupuh Fathurrahman (2007) mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yakni tujuan instruksional yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, guru dan siswa yang memainkan peranan serta ada dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan, serta sarana dan prasarana belaajar mengajar yng tersedia. Posisi guru tidak lagi seperti cara mendidik tradisional lagi yang mana bahwa menyampaikan informasi tidak bersifat instruksional tetapi bersifat membantu, membimbing, dan sebagai problem solving bagi siswanya.

Dengan kita sebagai guru telah mengetahui hakikat dari mengajar dan dihubungkan dengan metode STAD maka keduanya memiliki keterkaitan dan keterikatan antara satu dengan yang lain. Metode STAD ini sangatlah membantu guru untuk mengurangi penggunaan metode konvensional yang membosankan bagi siswa. Dengan metode konvensional perkembangan siswa dan ruang lingkup berpikirnya akan terbatas dengan hanya sistem ceramah yang digunakan oleh guru. Maka dapat ditegaskan bahwa metode STAD ini sangat perlu dipergunakan bagi guru dalam mengajar terutama dalam pembelajaran Pendidikan kewarganegaraan yang menuntut siswa belajar berpendapat untuk mengungkapkan ide atau gagasan sesuai dengan yang sedang dibahas oleh guru apalagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang sedang memasuki masa remaja yang memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Dan metode STAD lah yang cocok dapat melatih siswa untuk bekerja sama dalam kelompok, dapat mengurangi rasa egoistis yang tinggi. Dengan metode STAD juga dapat menampung aspirasi siswa dan hal ini juga akan berimbas pada hasil belajarnya.

Penutup

Kesimpulan

Penerapan pembelajaran dengan menggunakan metode Student Teams Achievement Devision (STAD) ini mempermudah guru dalam kegiatan belajar mengajar. Metode ini akan mempermudah bagi guru dan menyenangkan bagi siswa. Dimana guru akan tahu karakteristik siswa karena dengan menggunakan metode Student Teams Achievement Devision (STAD) dibentuk kelompok secara heterogen. Tidak membedakan jenis kelamin laki-laki maupun perempuan bahkan siswa yang pandai maupun yang kurang pandai, hal ini dikandung maksud, siswa akan tahu pembelajaran yang sebenarnya dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah setiap hari.

Saran

Guru diharapkan selalu membimbing dan mengarahkan siswa agar bisa menanamkan sikap rasa ingin tahu, kreatif, bersahabat, bertoleransi, kerjasama, disiplin, mandiri. Berperilaku yang sopan santun, berpakaian yang rapi dan bersikap yang menyenangkan dalam melakukan kegiatan belajar mengajar. Senantiasa mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju dan serba modern, penggunaan ICT adalah salah satu yang harus dimiliki agar bisa mengembangkan dan bisa mencari sumber belajar yang lain.

Daftar Pustaka

Kompri. Motivasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya: Dua Satria Offset.

Koswara D., Deni. dan Halimah, (2008). Bagaimana Menjadi Guru Kreatif. Bandung: PT Pribumi Mekda.

Majid, Abdul, (2011). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, H. E dkk, (2017). Revolusi dan Inovasi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Suardi, Moh. Dan Syofrianisda, (2018). Belajar dan Pembelajaran. Bantul Yogyakarta

Sukidin, dkk. (2007). Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Insan Cendekia

Wardana, Yana. (2010). Teori Belajar dan Mengajar. Bandung: PT Pribumi Mekar.

 

BIODATA

Nama : Heny Herowati, S.Pd

NIP : 19710205 200701 2 014

Pangkat/Golongan : Penata Tk.1/IIId

Unit Kerja : SMP N 1 Kembaran

You cannot copy content of this page