Iklan

OPTIMALISASI SUPERVISI AKADEMIK GUNA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBUAT LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BAGI GURU SD NEGERI 1 BOBOTSARI PADA SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2020/2021

C:\Users\AGUNG\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\Foto PAS Bu Welas.jpeg

Oleh: Sri Welas Asih, S.Pd.

ABSTRAK

Guru sebagai fasilitator pembelajaran idealnya dapat membuat LKS secara mandiri, namun kondisi yang ada seringkali justru menunjukkan hal yang berbeda. Hasil supervisi rutin yang dilakukan peneliti selaku kepala sekolah menjumpai temuan terkait dengan LKS pada guru SD Negeri 1 Bobotsari. Dari 9 guru yang disupervisi, ternyata hanya 3 orang (33,3%) yang rajin membuat LKS secara mandiri. Sementara 6 orang guru lainnya umumnya lebih banyak menggunakan LKS dari buku atau sumber-sumber cetak lainnya. Tujuan penelitian secara khusus adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan guru dalam membuat LKS melalui supervisi akademik oleh kepala sekolah. Penelitian ini dilaksanakan pada Semester II tahun pelajaran 2020/2021 di SD Negeri 1 Bobotsari dengan subjek penelitian sebanyak 9 orang guru. Instrumen penelitian menggunakan lembar pengamatan. Penelitian tindakan ini dilakukan sebanyak dua siklus. Tiap-tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/evaluasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi supervisi akademik dapat meningkatkan kemampuan guru SD Negeri 1 Bobotsari dalam membuat LKS. Hal ini dibuktikan dengan naiknya skor kemampuan membuat LKS maupun pelaksanaan supervisi akademik. Kondisi awal menunjukkan nilai rata-rata kemampuan membuat LKS sebesar 22,7. Pada akhir siklus I, nilai rata-rata meningkat menjadi 29,7 dan pada akhir siklus II kembali meningkat menjadi 35,3. Pelaksanaan supervisi akademik, pada kondisi awal belum dilaksanakan atau 0, meningkat menjadi 20 pada akhir siklus I dan meningkat lagi menjadi 26 pada akhir siklus II. Hasil akhir pada siklus II melampaui indikator kinerja dalam penelitian tindakan ini, yaitu: 1) Nilai atau skor rata-rata kemampuan membuat LKS adalah 35,3 yang lebih besar dari indikator kinerja sebesar 32, dan 2) Nilai rata-rata tindakan supervisi akademik yang dilakukan peneliti adalah 26 lebih besar dari indikator kinerja sebesar 23. Dari hasil tersebut, hipotesis tindakan yang menyatakan: “Supervisi akademik dapat meningkatkan kemampuan membuat LKS bagi guru SD Negeri 1 Bobotsari Semester II tahun pelajaran 2020/2021”, terbukti benar.

Kata kunci: supervisi akademik, kemampuan guru, LKS.

Latar Belakang Masalah

Sumber belajar berperan besar dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Oleh karena itu, dibutuhkan sumber belajar yang tepat dan berkualitas agar keberhasilan pembelajaran lebih mudah dicapai. Supriadi (2015) menyatakan kualitas interaksi peserta didik dengan sumber belajar berpengaruh sekali terhadap hasil belajar. Ada perbedaan yang sangat besar antara peserta didik yang memiliki intensitas tinggi dalam pemanfaatan sumber belajar dengan peserta didik yang memiliki intensitas rendah dalam pemanfatan sumber belajar rendah dalam meraih hasil belajarnya.

Depdiknas (2004) menyebutkan sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu. Sementara itu, Sudjana dan Rivai (2009) menuliskan bahwa pengertian sumber belajar bisa diartikan secara sempit dan secara luas. Pengertian secara sempit dimaksudkan misalnya buku-buku atau bahan-bahan cetak lainnya. Sedang secara luas itu tidak lain adalah daya yang bisa dimanfaatkan guna kepentingan proses belajar mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung, sebagian atau keseluruhan.

Salah satu sumber belajar yang banyak digunakan di sekolah adalah Lembar Kerja siswa (LKS). Menurut Widodo (2017) LKS merupakan salah satu sumber belajar yang dibuat guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Lembar kegiatan peserta didik (student work sheet) dapat diartikan sebagai lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik.

Guru sebagai fasilitator pembelajaran idealnya dapat membuat LKS secara mandiri, namun kenyataannya kondisi yang ada seringkali menunjukkan hal yang berbeda. Hasil supervisi rutin yang dilakukan peneliti selaku kepala sekolah menjumpai temuan terkait dengan LKS pada guru SD Negeri 1 Bobotsari. Dari 9 guru yang disupervisi, ternyata hanya 3 orang (33,3%) yang rajin membuat LKS secara mandiri. Namun demikian, LKS yang disusun relatif masih sederhana. Sementara 6 orang guru lainnya umumnya lebih banyak menggunakan LKS dari buku atau sumber-sumber cetak lainnya. Dari hasil wawancara dengan para guru, terungkap bahwa guru umumnya yang mengalami kesulitan dalam menyusun LKS. Kondisi tersebut menjadi cermin bahwa kemampuan membuat LKS pada guru SD Negeri 1 Bobotsari masih rendah.

Rendahnya kemampuan membuat LKS pada guru SD Negeri 1 Bobotsari memotivasi peneliti selaku kepala sekolah untuk melakukan suatu tindakan guna meningkatkan kemampuan guru dalam membuat LKS.

Adapun tindakan yang akan dilakukan adalah dengan mengoptimalkan supervisi akademik. Hal ini disebabkan supervisi terkait dengan penyusunan LKS bagi guru selama ini belum dilakukan secara intensif. Zega (2016) menyatakan bahwa supervisi akademik merupakan salah satu tugas kepala sekolah, guru senior dan tim pengawas dari Dinas Pendidikan dalam membina guru melalui fungsi pengawasan. Pengawasan pada intinya yaitu melakukan pembinaan, bimbingan untuk memecahkan masalah pendidikan termasuk masalah yang dihadapi guru secara bersama dalam proses pembelajaran dan bukan mencari kesalahan guru. Jadi jelas bahwa supervisi akademik secara konseptual sangat bermanfaat untuk meningkatkan kompetensi atau kemampuan guru.

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Untuk meningkatkan mutu pendidikan di SD Negeri 1 Bobotsari serta meningkatkan kompetensi penelitian dan pengembangan bagi peneliti.

Tujuan Khusus

Untuk mengetahui peningkatan kemampuan guru dalam membuat LKS melalui supervisi akademik oleh kepala sekolah

Kajian Teori

Menurut Zega (2016) guru merupakan suatu pekerjaan profesional, yang memerlukan suatu keahlian khusus. Karena keahliannya bersifat khusus, guru memiliki peranan yang sangat penting dan strategis dalam kegiatan pembelajaran, yang akan menentukan mutu pendidikan di suatu satuan pendidikan. Oleh karena itu, dalam sistem pendidikan dan pembelajaran dewasa ini kedudukan guru dalam proses pembelajaran di sekolah belum dapat digantikan oleh alat atau mesin secanggih apapun. Keahlian khusus itu pula yang membedakan profesi guru dengan profesi yang lainnya. .

Menurut Mulyasa (2008) guru profesional secara umum harus memenuhi dan memiliki kompetensi berikut: 1) mengerti dan dapat menerapkan landasan kependidikan baik filosofi, psikologis, sosiologis, dan sebagainya, 2) mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai taraf perkembangan peserta didik. 3) mampu menangani dan mengembangkan bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya. 4) mengerti dan dapat menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi, 5) mampu mengembangkan dan menggunakan berbagai alat, media, dan sumber belajar yang relevan. 6) mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pembelajaran. 7) Mampu melaksanakan evaluasi hasil belajar peserta didik, dan 8) Mampu menumbuhkan kepribadian peserta didik.

Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan pesan/bukan pesan sehingga tujuan belajar dapat tercapai (Purwanto, 2010). Daryanto (2010) menyatakan bahwa sumber belajar menurut AECT dibedakan menjadi enam jenis yaitu: pesan, orang, bahan, alat, teknik dan lingkungan.

Sumber belajar sebagai salah satu komponen sistem pengajaran, harus bekerjasama. Saling berhubungan dan saling ketergantungan dengan komponen pengajaran lainnya, bahkan tidak dapat berjalan secara terpisah/sendiri tanpa berhubungan dengn komponen lainnya. Untuk menjamin bahwa sumber belajar tersebut sebagai sumber belajar yang cocok, maka sumber belajar harus memenuhi persyaratan. Pertama, Sumber belajar harus mampu memberikan kekuatan dalam proses belajar mengajar sehingga tujuan instruksional dapat tercapai secara maksimal. Kedua, Sumber belajar harus mempunyai nilai-nilai instruksional edukatif, yaitu dapat mengubah dan membawa perubahan yang sempurna terhadap tingkah laku sesuai dengan tujuan yang ada. Ketiga, sumber belajar haruslah dapat tersedia dengan cepat, harus memungkinkan siswa untuk memacu diri sendiri dan harus bersifat individual yakni memenuhi berbagai kebutuhan para siswa dalam belajar mandiri (Any, 2011).

Zaman, dkk (2008) mengemukakan manfaat atau nilai dengan memanfaatkan sumber belajar itu sangat banyak, antara lain sebagai berikut:

1. Dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret dan langsung.

2. Dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.

3. Menambah wawasan dan pengalaman anak.

4. Memberikan informasi yang akurat dan terbaru.

5. Meningkatkan motivasi belajar anak.

6. Mengembangkan kemampuan berfikir anak secara lebih kritis dan positif.

McIsaac dan Gunawardena (dalam Any, 2011) menjelaskan bahwa sumber belajar yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pembelajaran sangat beraneka ragam jenis dan bentuknya. Sumber belajar tersebut bukan hanya dalam bentuk bahan cetakan seperti buku teks akan tetapi pebelajar dapat memanfaatkan sumber belajar yang lain seperti radio pendidikan, televisi, komputer, e-mail, video interaktif, komunikasi satelit, dan teknologi komputer multimedia dalam upaya meningkatkan interaksi dan terjadinya umpan balik dengan peserta didik.

Lembar Kerja Siswa merupakan suatu bahan ajar cetak berupa lembar-lembar kertas yang berisi materi ringkasan, dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus dikerjakan oleh siswa, yang mengacu pada kompetensi dasar yang harus dicapai. (Prastowo, 2014)

Ada tujuan tertentu yang ingin dicapai dari disusunnya LKS. Menurut Prastowo (2014), tujuan penyusunan LKS adalah:

1) Menyajikan bahan ajar yang memudahkan siswa berinteraksi dengan materi yang diberikan.

2) Menyajikan tugas-tugas yang meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi yang diberikan.

3) Melatih kemandirian siswa.

4) Memudahkan pendidik dalam memberikan tugas kepada siswa.

Manfaat LKS dalam mendukung kegiatan pembelajaran siswa telah dibuktikan oleh hasil penelitian terdahulu. Penelitian Rahmawati (2013) yang menyimpulkan bahwa penerapan LKS berbasis kontekstual membuat rata-rata nilai peserta didik melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Penelitian yang serupa juga dilakukan oleh Nagihan Yildirim, Sevil Kurt, dan Alipasa Ayas (2011) yang menyimpulkan bahwa dengan penggunaan LKS pada kelas eksperimen akan lebih cepat berhasil daripada kelas kontrol.

Walid (2012) mengemukakan bahwa istilah supervisi berasal dari bahasa Inggris yang terdiri dari dua akar kata, yaitu super yang artinya “di atas” dan vision mempunyai arti “melihat”, maka secara keseluruhan  supervisi diartikan sebagai “melihat dari atas. Sementara menurut Burhanuddin dkk (2007) supervisi pendidikan pada hakikatnya adalah segenap bantuan yang ditujukan pada perbaikan-perbaikan dan pembinaan aspek pengajaran. Melalui kegiatan supervisi, semua faktor yang berpengaruh terhadap proses pengajaran dianalisis, dinilai dan ditentukan jalan pemecahannya sehingga proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan sesuai yang diharapkan.

Menurut Arikunto (2004), supervisi dalam pendidikan adalah pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik. Kegiatan pokok supervisi adalah melakukan pembinaan kepada sekolah pada umumnya dan guru pada khususnya, agar kualitas pembelajarannya meningkat.

Priansa dan Somad (2014) menyatakan, supervisi akademik merupakan suatu tindakan yang dilakukan dalam membantu guru mengembangkan keprofesionalan proses pembelajaran. Menurut Glickman, et al; (dalam Kemendiknas, 2010) supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Hipotesis Tindakan

Supervisi akademik dapat meningkatkan kemampuan membuat LKS bagi guru SD Negeri 1 Bobotsari Semester II tahun pelajaran 2020/2021.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Semester II tahun pelajaran 2020/2021 di SD Negeri 1 Bobotsari dengan subjek penelitian sebanyak 9 orang guru. Instrumen penelitian menggunakan lembar pengamatan. Penelitian tindakan ini dilakukan sebanyak dua siklus. Tiap-tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/evaluasi, dan refleksi.

Hasil Tindakan dan Pembahasan

Deskripsi Kondisi Awal

Kondisi awal adalah penilaian tentang kondisi kemampuan membuat LKS pada guru SD Negeri 1 Bobotsari sebelum dilakukannya tindakan supervisi akademik oleh peneliti. Kondisi awal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.1 Kondisi Awal Kemampuan Membuat LKS pada Guru SD Negeri 1 Bobotsari Sebelum Penelitian Tindakan

No. Indikator Kode Guru & Skor Penilaian Jml Rata2
A B C D E F G H I
1. Struktur 2 3 2 2 3 2 2 3 2 21 2.3
2. Cakupan materi 3 2 3 2 3 2 2 3 2 22 2.4
3. Akurasi Materi 2 3 3 3 2 3 2 3 3 24 2.7
4. Tampilan 3 2 2 3 3 2 3 2 3 23 2.6
5. Komponen Kebahasaan 2 3 2 2 3 2 3 3 2 22 2.4
6. Teknik Penyajian 3 2 3 3 2 3 2 3 3 24 2.7
7. Syarat Didaktif 2 3 3 2 3 3 3 2 2 23 2.6
8. Syarat Konstruksi 3 2 2 2 2 3 2 2 3 21 2.3
9. Syarat Teknis 2 3 2 3 3 3 3 3 2 24 2.7
Jumlah 22 23 22 22 24 23 22 24 22 204 22.7

Data pada Tabel 4.1 menunjukkan rendahnya kemampuan guru SD Negeri 1 Bobotsari dalam membuat LKS. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai rata-rata yang hanya mencapai 22,7 yang termasuk dalam kategori kurang. Tidak seorang pun subjek penelitian yang mendapat skor 4 dan 5 pada tiap indikator penilaian. Hal ini memperkuat indikasi tentang masih rendahnya kemampuan guru SD Negeri 1 Bobotsari dalam membuat LKS.

Deskripsi Hasil Siklus I

Hasil penilaian peneliti dan kolaborator tentang kemampuan membuat LKS pada guru SD Negeri 1 Bobotsari pada Siklus I Penelitian adalah sebagai berikut:

Tabel 4.2 Hasil Penilaian Peneliti tentang Kemampuan Membuat LKS pada Guru SD Negeri 1 Bobotsari pada Siklus I Penelitian

No. Indikator Kode Guru &

Skor Penilaian

Jml Rata2
A B C D E F G H I
1. Struktur 3 4 3 3 3 3 3 3 3 28 3.1
2. Cakupan materi 4 3 3 3 4 3 3 3 3 29 3.2
3. Akurasi Materi 3 3 3 4 3 4 3 4 4 31 3.4
4. Tampilan 4 3 3 4 4 3 4 3 4 32 3.6
5. Komponen Kebahasaan 3 4 3 3 3 3 3 4 3 29 3.2
6. Teknik Penyajian 4 3 3 4 3 3 3 4 4 31 3.4
7. Syarat Didaktif 3 4 4 3 4 3 4 3 3 31 3.4
8. Syarat Konstruksi 4 3 3 3 3 3 3 3 3 28 3.1
9. Syarat Teknis 3 3 3 3 4 4 3 4 3 30 3.3
Jumlah 31 30 28 30 31 29 29 31 30 269 29.9

Tabel 4.3 Hasil Penilaian Kolaborator tentang Kemampuan Membuat LKS pada Guru SD Negeri 1 Bobotsari pada Siklus I Penelitian

No. Indikator Kode Guru & Skor Penilaian Jml Rata2
A B C D E F G H I
1. Struktur 3 3 3 3 3 3 3 3 3 27 3.0
2. Cakupan materi 4 3 3 3 4 3 3 3 3 29 3.2
3. Akurasi Materi 3 3 3 4 3 4 3 3 4 30 3.3
4. Tampilan 4 3 3 4 4 3 4 3 4 32 3.6
5. Komponen Kebahasaan 3 4 3 3 3 3 3 4 3 29 3.2
6. Teknik Penyajian 3 3 3 4 3 3 3 3 4 29 3.2
7. Syarat Didaktif 3 4 4 3 4 3 4 3 4 32 3.6
8. Syarat Konstruksi 3 3 3 3 3 3 3 3 3 27 3.0
9. Syarat Teknis 3 4 3 4 3 4 3 4 3 31 3.4
Jumlah 29 30 28 31 30 29 29 29 31 266 29.6

Berdasarkan data tersebut di atas, diketahui bahwa nilai rata-rata kemampuan membuat LKS pada guru SD Negeri 1 Bobotsari adalah sebesar 29,7 yang termasuk dalam kategori baik. Tindakan peneliti dalam melakukan supervisi akademik dinilai oleh kolaborator dan salah satu guru yang menjadi subjek penelitian.

Tabel 4.4 Hasil Penilaian Terhadap Tindakan Supervisi Akademik yang Dilakukan Oleh Peneliti pada Siklus I Penelitian

No. Pengamat Skor Rata-

rata

Kategori
1. Kolaborator 19 20 Cukup Baik
2. Salah seorang subjek penelitian 21

Berdasarkan data pada Tabel 4.4, diketahui bahwa nilai rata-rata pelaksanaan supervisi akademik oleh peneliti pada Siklus I Penelitian adalah sebesar 20 yang termasuk dalam kategori cukup baik.

Untuk mengetahui apakah kemampuan membuat LKS pada guru SD Negeri 1 Bobotsari meningkat, maka hasil pengamatan pada akhir siklus I dibandingkan dengan data awal.

Tabel 4.5 Rata-rata Data Awal dan Siklus I Penelitian

No. Data Penelitian Data

Awal

Siklus

I

Kenaikan % Kenaikan
1. Kemampuan membuat LKS 22,7 29,7 7 15,6
2. Tindakan supervisi akademik 0 20 20 66,7

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa kemampuan membuat LKS mencapai kenaikan skor 7 poin atau 15,6% dan pelaksanaan supervisi akademik mencapai skor 20 atau 66,7%. Hasil siklus I tersebut belum memenuhi kinerja keberhasilan dalam penelitian tindakan ini.

3. Deskripsi Hasil Siklus II

Tabel 4.6 Hasil Penilaian Peneliti tentang Kemampuan Membuat LKS pada Guru SD Negeri 1 Bobotsari pada Siklus II Penelitian

No. Indikator Kode Guru & Skor Penilaian Jml Rata2
A B C D E F G H I
1. Struktur 4 4 3 4 3 3 4 4 3 32 3.6
2. Cakupan materi 5 4 3 4 4 3 4 3 4 34 3.8
3. Akurasi Materi 4 3 4 4 4 5 3 5 5 37 4.1
4. Tampilan 4 4 4 5 5 4 4 4 5 39 4.3
5. Komponen Kebahasaan 4 4 3 4 3 4 4 4 4 34 3.8
6. Teknik Penyajian 4 4 4 4 4 3 4 5 5 37 4.1
7. Syarat Didaktif 3 4 4 4 4 4 4 4 3 34 3.8
8. Syarat Konstruksi 4 3 4 3 4 4 4 3 4 33 3.7
9. Syarat Teknis 3 4 3 4 4 4 3 5 4 34 3.8
Jumlah 35 34 32 36 35 34 34 37 37 314 34.9

Tabel 4.7 Hasil Penilaian Kolaborator tentang Kemampuan Membuat LKS pada Guru SD Negeri 1 Bobotsari pada Siklus II Penelitian

No. Indikator Kode Guru & Skor Penilaian Jml Rata2
A B C D E F G H I
1. Struktur 4 4 3 4 4 3 4 4 3 33 3.7
2. Cakupan materi 5 4 3 4 4 3 4 3 4 34 3.8
3. Akurasi Materi 4 4 4 4 4 5 3 5 5 38 4.2
4. Tampilan 4 4 4 5 5 4 4 4 5 39 4.3
5. Komponen Kebahasaan 4 4 3 4 4 4 4 4 4 35 3.9
6. Teknik Penyajian 4 4 4 4 4 4 4 5 5 38 4.2
7. Syarat Didaktif 3 4 4 4 4 4 4 4 3 34 3.8
8. Syarat Konstruksi 4 3 4 3 4 4 4 4 4 34 3.8
9. Syarat Teknis 4 4 3 4 4 4 4 5 4 36 4.0
Jumlah 36 35 32 36 37 35 35 38 37 321 35.7

Berdasarkan data pada Tabel 4.6 dan 4.7, diketahui bahwa nilai rata-rata kemampuan membuat LKS pada guru SD Negeri 1 Bobotsari dari peneliti adalah sebesar 37,3 sedangkan dari kolaborator sebesar 37,6. Jadi nilai rata-ratanya adalah sebesar 35,3 yang termasuk dalam kategori amat baik.

Tabel 4.8 Hasil Penilaian Terhadap Tindakan Supervisi Akademik yang Dilakukan Oleh Peneliti pada Siklus II Penelitian

No. Pengamat Skor Rata-

rata

Kategori
1. Kolaborator 25 26 Baik sekali
2. Salah seorang subjek penelitian 27

Tabel 4.9 Rata-rata Data Siklus I dan Siklus II Penelitian

No. Data Penelitian Data

Awal

Siklus

I

Kenaikan %

Kenaikan

1. Kemampuan membuat LKS 29,7 35,3 5,6 12,4
2. Tindakan supervisi akademik 20 26 6 20

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa kemampuan membuat LKS pada guru SD Negeri 1 Bobotsari mencapai kenaikan skor sebesar 6,4 atau 14,2% dan skor pelaksanaan supervisi akademik meningkat sebesar 4,5 atau 15%. Pada pembuatan LKS maupun pelaksanaan supervisi akademik sebagian besar indikator sudah nampak maksimal.

4. Pembahasan/Diskusi

Berdasarkan hasil tindakan pada siklus I dan I penelitian dapat diketahui bahwa kemampuan membuat LKS pada guru SD Negeri 1 Bobotsari mengalami peningkatan, yaitu dari data awal sampai akhir siklus II sebesar adalah 14,15 atau 31,44%. Sementara pelaksanaan supervisi akademik dari awal sampai siklus II meningkat sebesar 26 atau 85%.

Tabel 4.10 Rata-rata Data Awal, Akhir Siklus I dan Akhir Siklus II

No. Data Penelitian Data

Awal

Siklus I Siklus II Total Kenaikan % Kenaikan
1. Kemampuan membuat LKS 22,7 29,7 35,3 12,6 28
2. Tindakan supervisi akademik 0 20 26 26 86,7

Gambar 4.5 Perbandingan Data Awal, Siklus I, dan Siklus II Penelitian

Berdasarkan uraian data tersebut di atas dapat dketahui bahwa penelitian tindakan sekolah tentang peningkatan kemampuan membuat LKS oleh peneliti terhadap guru SD Negeri 1 Bobotsari dapat dikatakan berhasil karena terjadi peningkatan skor pada kemampuan membuat LKS dan supervisi akademik pada tiap siklus penelitian. Hasil akhir untuk kemampuan membuat LKS adalah sebesar 35,3 dan pelaksanaan supervisi akademik sebesar 26.

5. Hasil Tindakan

Berdasarkan data hasil penelitian dapat diketahui bahwa tindakan supervisi akademik oleh peneliti berhasil meningkatkan kemampuan guru SD Negeri 1 Bobotsari dalam pembuatan LKS. Kemampuan membuat LKS pada kondisi awal sebesar 22,7 meningkat menjadi 29,7 pada akhir siklus I dan meningkat lagi menjadi 35,3 pada akhir siklus II. Total kenaikannya adalah sebesar 12,6 atau 28%. Pelaksanaan supervisi akademik dalam pembuatan LKS oleh peneliti dari kondisi awal belum dilaksanakan (0), meningkat menjadi 20 pada siklus I dan 26 pada siklus II, sehingga total kenaikan 26 atau 86,7%.

Kenaikan skor tersebut merupakan bukti nyata bahwa pelaksanaan supervisi akademik dapat meningkatkan kemampuan guru dalam membuat LKS. Hasil penelitian ini mendukung dan sejalan dengan beberapa hasil penelitian terdahulu, seperti penelitian Mujiyana (2019) menunjukkan adanya peningkatan kompetensi guru dari hasil supervisi akademik Demikian pula hasil penelitian Prayitno (2019) yang membuktikan bahwa supervisi akademik dapat meningkatkan kemampuan pedagogik guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Simpulan

Optimalisasi supervisi akademik dapat meningkatkan kemampuan guru SD Negeri 1 Bobotsari dalam membuat LKS. Hal ini dibuktikan dengan naiknya skor kemampuan membuat LKS maupun pelaksanaan supervisi akademik. Kondisi awal menunjukkan nilai rata-rata kemampuan membuat LKS sebesar 22,7. Pada akhir siklus I, nilai rata-rata meningkat menjadi 29,7 dan pada akhir siklus II kembali meningkat menjadi 35,3. Pelaksanaan supervisi akademik, pada kondisi awal belum dilaksanakan atau 0, meningkat menjadi 20 pada akhir siklus I dan meningkat lagi menjadi 26 pada akhir siklus II. Hasil akhir pada siklus II melampaui indikator kinerja penelitian tindakan ini. Berdasarkan hasil tersebut, hipotesis tindakan yang menyatakan: “Supervisi akademik dapat meningkatkan kemampuan membuat LKS bagi guru SD Negeri 1 Bobotsari Semester II tahun pelajaran 2020/2021”, terbukti benar.

DAFTAR PUSTAKA

Any, Juniya Ip. 2011. Pemanfaatan Sumber-Sumber Belajar dalam Proses Pembelajaran di SMP N 2 Lebaksiu Kabupaten Tegal”. Skripsi. Semarang: UNNES.

Arikunto, Suharsimi. 2004. Dasar-dasar Supervisi. Jakarta: Rineka Cipta.

Burhanuddin, dkk. 2007. Supervisi Pendidikan dan Pengajaran: Konsep, Pendekatan, dan penerapan Pembinaan Profesional. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.

Daryanto. 2010. Belajar dan Mengajar. Yrama Widya: Bandung

Depdiknas. 2004. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Kemendiknas. 2010. Supervisi Akademik Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan.

Mujiyana. 2019. “Upaya Meningkatkan Kompetensi Guru melalui Supervisi Akademik Teknik Individual Kunjungan Kelas di MIN 1 Gunungkidul Tahun Ajaran 2018/2019”. Jurnal Pendidikan Madrasah, Vol. 4, No. 1.

Mulyasa, E. 2008. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Prastowo, Andi. 2014. Pengembangan Bahan Ajar Tematik Tinjauan Teoritis dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Prayitno, P. Joko. 2019. “Pelaksanaan Supervisi Akademik Untuk Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru SMA”. Jurnal Visi Ilmu Pendidikan, Volume 11 No. 2.

Priansa, Donni Juni dan Rismi Somad. 2014. Manajemen Supervisi dan Kepemimpinan Kepala Sekolah. Bandung: Alfabeta.

Purwanto. 2010. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rahmawati, Eka Dani. 2013. “Pengembangan Lembar Kerja Siswa Berbasis Kontekstual Pada Pokok Bahasan Menyusun Laporan Keuangan Perusahaan Jasa pada MA Al-Asror Semarang”. Tesis. Semarang: UNNES.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana, Nana & Ahmad Rivai. 2009. Media Pengajaran. Bandung: Citra.

Supriadi. 2015. “Pemanfaatan Sumber Belajar Dalam Proses Pembelajaran”. Lantanida Journal, Vol. 3 No. 2.

Walid, M. 2012. Supervisi Pendidikan. Jember: Salsabila Putra Pratama.

Widodo, Slamet. 2017. “Pengembangan Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) Berbasis Pendekatan Saintifik untuk Meningkatkan Keterampilan Penyelesaian Masalah Lingkungan Sekitar Peserta Didik di Sekolah Dasar”. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 26 (2),

Yildirim, Nagihan, Sevil Kurt, dan Alipasa Ayas. 2011. “The Effect Of The Worksheets On Students’ Achievement In Chemical Equilibrium”. Journal of Turkish Science Education, Volume 8, Issue 3, Semptember 2011.

Zaman, Badru dkk. 2008. Media dan Sumber Belajar. Jakarta: UT.

Zega, Torozatulo. 2016. “Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru Melalui Pelaksanaan Supervisi Akademik Oleh Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Lolowau Kabupaten Nias Selatan Tahun Pelajaran 2015/2016”. Jurnal Warta, Edisi: 50.

Biodata Penulis

Nama : Sri Welas Asih, S.Pd.

Jabatan : Kepala Sekolah

Unit Kerja : SD Negeri 1 Bobotsari

By admin

You cannot copy content of this page