Iklan

OLAH RAGA BERSAMA, ETHOS KERJA, DAN PRESTASI ANGGOTA KORPRI

(Menyambut Hari Korpri Ke-50 Tahun 29 November 2021)

C:\Users\DELL\Desktop\IMG_20211021_142547_edit_140067077331221.jpg

Oleh : Shobirin Slamet, S.Pd., M.Si.

Bangsa ini membutuhkan segolongan manusia yang memiliki komitmen untuk maju sehingga menjadi sebuah bangsa yang eksistensinya diakui oleh bangsa lain. Golongan yang mau dan mampu mengaktualisasi potensi dirinya sehingga menjadi sebuah kekuatan yang optimal. Sesungguhnya jika setiap manusia dapat menyumbang minimal 1 hal kemajuan (inovasi) saja, maka negara ini akan menjadi sebuah negara yang besar. Tetapi ketika kita melihat kenyataan di lapangan sebagian generasi muda acuh tak acuh terhadap masa depan dirinya sendiri. Kesadaran individual yang lemah ini akan menjadi beban bagi kehidupan di masa mendatang.

Bekerja di masa pandemi covid-19 yang menerpa negeri ini selama hampir 2 tahun, menjadikan system kerja work from home dan work from office. Keberadaan pegawai sulit dikontrol ketika WFH. Karena mereka bekerja di rumah yang notabene di luar pantauan langsung dari atasan. Jika pegawai yang bersangkutan tidak memiliki dedikasi dan ethos kerja yang tinggi maka akan terjadi penyimpangan-penyimpangan. Bekerja apa adanya bahkan bekerja hanya sebagai sambilan, yang diutamakan justru urusan lain. Demikian pula yang WFO, dapat pula terjadi penyimpangan, jika pegawai tersebut tidak memiliki aktivitas di kantor. Bahkan bisa terjadi pagi presensi berada di kantor, siangnya keluar, dan sore datang lagi untuk presensi pulang. Kenyataan ini menunjukkan kepada kita bahwa bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita, misalnya Malaysia, Singapura, Brunei, Phillipina, Australia, kemudian penanam modal yang tidak asing lagi di Indonesia seperti Jepang, Korea, dan Cina, kemampuan sumber daya manusia Indonesia sangat jauh. Memang ada sebagian kecil yang mampu menorehkan prestasi di tingkat Internasional, tetapi jumlahnya tidak signifikan jika dibandingkan dengan jumlah jiwa di negara kita. Sebagai gambaran realitas di masyarakat, masih banyak pegawai yang digaji oleh pemerintah yang masuk, bekerja semaunya, dan kemudian pulang setelah jam kerja selesai.

Gambaran yang riil yang terjadi di lapangan seperti di atas menunjukkan bahwa ethos kerja kita masih sangat rendah. Tidaklah mengherankan jika bangsa ini menjadi bangsa yang terpuruk dan selalu menjadi obyek yang empuk bagi bangsa lain di dunia. Kerap kali kita mendengar istilah ethos kerja kita harus ditingkatkan. Ethos adalah semangat, jiwa, jiwa/ pandangan hidup khas suatu bangsa. (Partanto dan Al Barry, 2001 : 163). Sedangkan batasan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ethos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan sesorang atau suatu kelompok. (Tim Penyusun Kamus, 2001 : 309). Dari dua pengertian tersebut maka penulis berpendapat bahwa ethos kerja merupakan semangat kerja yang telah tertanam dan menjadi sebuah budaya sebagai hasil dari pembiasaan positif secara bersama-sama untuk mencapai prestasi kerja yang maksimal.

Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia dan merupakan ujung tombak kemajuan pembangunan, maka anggota Korpri harus menjadi suri tauladan bagi masyarakat lainnya. Kedisiplinan sebagai titik awal untuk menata diri sehingga membentuk suatu budaya kerja yang baik. Bila setiap individu pegawai memiliki suatu kinerja yang baik maka akan menjadi suatu kekuatan yang luar biasa dalam membangun bangsa. Faktor integritas seorang pegawai menjadi salah satu aspek yang vital. Di dalamnya mengandung nilai-nilai perilaku seseorang pegawai. Perilaku tersebut adalah setiap perilaku, sikap, atau tindakan seorang pegawai dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Mereka taat menjalankan kewajibannya dengan tanggungjawab sesuai peraturan yang berlaku. (www.boyyendratamin.com).

Di samping integritas, faktor yang menunjang terwujudnya kemampuan kerja dan ethos kerja yang tinggi adalah kesehatan tubuh. Sebab faktor ini merupakan faktor yang vital dalam menopang aktivitas manusia. Memang kesehatan bukan segala-galanya, tetapi tanpa kesehatan segala-galanya tidak akan berarti apa-apa. Apakah ada faktor lain selain kesehatan ? Ethos kerja yang menghasilkan sesuatu prestasi merupakan komulatif dari aspek pribadi dan lingkungan. Banyak aspek yang mempengaruhi kesehatan manusia, antara lain keturunan (genetic), makanan, pola makan, gaya hidup, dan aktivitas kerja. Tetapi faktor-faktor tersebut dapat dieliminir dengan cara berolah raga yang baik. Dryden seorang pakar pendidikan dan juga seorang pebisnis handal mengatakan bahwa olahraga secara teratur merupakan cara untuk mengoksidasi darah. ( Dryden dan Vos, 2000 : 141). Darah merupakan sebuah jaringan yang menjadi sarana berfungsinya seluruh organ tubuh. Di dalamnya zat-zat diantar ke bagian-bagian penting tubuh. Peredaran darah yang lancar adalah kehidupan yang sehat karena kebutuhan akan zat-zat tubuh terpenuhi. Sebagai illustrasi bahwa Hb atau haemoglobin adalah sebuah disamakan dengan kendaraannya oksigen. Bila suplay oksigen (O2) ini lancar maka pembakaran di dalam tubuh akan berlangsung baik, namun ketika peredaran darah terhambat atau O2 kurang maka terjadilah gangguan fungsi organ.

Perlu kita ketahui bahwa kendali saraf di seluruh tubuh adalah otak. Untuk itu maka otak harus tetap terjaga kiriman oksigennya. Otak sebagai organ yang vital dalam aktivitas manusia seyogyanya digunakan semaksimal mungkin tanpa harus membuat tekanan-tekanan. Pembiasaan volume kerja yang tinggi merupakan salah satu upaya meningkatkan produktivitas manusia Indonesia. Masih membekas dalam ingatan kita ketika sebuah kalimat klise terdengar di telinga kita. Seseorang menceritakan sebuah kisah tentang dua buah otak, yang satu otak orang Jepang dan lainnya otak orang Indonesia. Otak Jepang ternyata lebih murah dibanding otak orang Indonesia, mengapa demikian ? Karena otak orang Jepang sudah keropos sering dipakai sedangkan otak orang Indonesia masih padat karena jarang dipakai.

Otak akan mampu bekerja secara efektif dengan menggunakannya secara teratur. Dan camkan kata-kata kuno “If you don’t use it, you lose it.” (Jika tidak anda gunakan, anda akan kehilangan otak anda). Dapat diterapkan pada otak Anda dan otot Anda. Gunakan mereka semua sebagai sesuatu yang terpadu dan proses belajar pun akan menjadi mudah dan lebih sederhana. (Dryden dan Vos, 2000 : 143).

Otak dan otot adalah dua hal yang tidak boleh diabaikan. Keduanya memerlukan perawatan khusus dan kontinyu. Interaksi positif secara optimal kedua komponen tersebut menghasilkan sebuah kesuksesan seseorang. Seorang pelatih rugby, John Hart mempunyai rumus untuk meraih sukses di bidang olah raga atau koordinasi otot, yaitu dengan menggunakan otak secara maksimal. Milikilah visi, buat rencana, tentukan tujuan, pilihlah yang tepat, miliki gairah, belajar terus, evaluasi kesalahan, kembangkan bakat, dan gunakan akal sehat. Sebaliknya jika ingin meraih sukses dalam bidang yang memerlukan kerja otak secara maksimal, maka berolahragalah. Karena di samping makanan, olah raga adalah salah satu sarana menjadikan otak kita berfungsi secara maksimal. Otak yang mampu mengkoordinasikan simpul-simpul syaraf organ-organ di seluruh tubuh. Volume kerja yang banyak tidak menjadikan otak menjadi lelah sebelum waktunya.

Olah raga dapat dilakukan kapan saja, misalnya setiap pagi dengan lari-lari kecil atau jogging, senam tera, senam ayo bersatu, dan sebagainya. Di kantor tempat kita bekerja juga perlu diadakan olah raga bersama atau dapat pula olah raga di luar jam kantor misalnya dilakukan setiap seminggu sekali pada Hari Minggu. Seperti bulu tangkis , tenis lapangan, seoak bola, volley ball, dan sebagainya. Rutinitas ini akan memberikan penyegaran bagi tubuh kita dan juga otak kita yang disebabkan lancarnya peredaran darah ke seluruh tubuh. Sirkulasi yang membuat tubuh kita terjaga dari gangguan kesehatan.

Di samping keuntungan yang secara langsung dapat dirasakan tubuh kita, ternyata banyak hal positif yang diperoleh dari kebiasaan olah raga bersama-sama dengan orang lain yang seprofesi atau pun yang lain profesi. Komunikasi yang positif mampu membangkitkan kinerja sehingga dapat meraih prestasi kerja secara maksimal. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan di lapangan, beberapa hal positif yang dimaksud adalah :

Menjalin persatuan pegawai

Olah raga yang lebih bersifat refreshing ini memungkinkan perasaan senasib dan seperjuangan muncul spontanitas. Kebersamaan yang setiap waktu dialami menjadikan jiwa bersatu. Persatuan ini menjadi modal utama dalam mencapai tujuan khususnya secara institusional. Dengan demikian segala bentuk perselisihan pendapat yang berpotensi ke arah pertengkaran dapat dihindarkan. Rasa saling memiliki antara pegawai yang satu dengan yang lain menjadi kekuatan dan ketahanan terhadap gejolak yang timbul baik dari dalam maupun dari luar institusi.

Meningkatkan wawasan pengetahuan dan motivasi kerja

Istirahat setelah berolah raga menjadi ajang komunikasi dua arah yang efektif dalam menambag pengetahuan. Bahkan kesulitan-kesulitan yang dialami seorang pegawai dapat diatasi setelah berinteraksi dengan rekan sekantornya atau pun dari kantor lain. Keberagaman pengetahuan yang dimiliki oleh para pegawai sebuah kekayaan yang tidak ternilai harganya. Ada seorang pegawai yang putus asa karena kesulitan menghadapi masalah teknis atau non teknis. Putus asa berarti mangganggu kemampuan kerja secara kualitatif maupun kuantitatif. Tetapi setelah komunikasi dengan rekannya masalah dapat diatasi dan muncullah motivasi baru.

Menciptakan lingkungan kerja yang kondusif

Ketika rasa persatuan dan saling memiliki terbentuk maka yang terjadi selanjutnya adalah lingkungan kerja yang menjamin rasa aman, tenang, dan senang. Dalam keadaan kondusif seperti inilah kreativitas dan inovasi bagi pengembangan profesi yang digelutinya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Tidak ada lagi persaingan negatif yang menjadikan carut marutnya sebuah institusi. Jabatan dan kedudukan tidak lagi menjadi sesuatu yang menggiurkan sehingga harus menggunakan cara-cara kotor.

Mewujudkan ethos kerja dan prestasi kerja secara bersama

Apabila ketiga hal yang telah disebutkan di atas telah menjadi sebuah tradisi di sebuah kantor atau insitusi, maka tidak ada lagi protes maupun demonstrasi menentang kebijakan atasan. Atasan dan bawahan mempunyai kesamaan visi dan misi dalam mengamban tugas sesuai bidangnya. Kedua komponen ini telah menyadari kewajiban dan hak-haknya sehingga tidak terjadi overlapping dalam menjalankan rutinitasnya sehari-hari. Kepala tidak mencampuri pekerjaan sekretaris selama tidak menyimpang dari ketentuan, sekretaris tidak mencampuri tugas bendahara, dan sebagainya. Di sekolah misalnya, guru tidak lagi mencampuri tugas dan kewenangan Kepala Sekolah. Guru adalah pendidik bangsa, bukan pengawas Kepala Sekolah. Demikian pula Kepala Sekolah tidak mencampuri tugas guru, misalnya dengan mengatur scenario program pembelajaran. Karena yang berhak mengawasi Kepala Sekolah adalah Cabang Dinas Pendidikan atau Dinas Pendidikan, Pengawas, Inspektorat, dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) tergantung kepentingan.

Akhirnya kita sadar betapa pentingnya olah raga dalam meningkatkan ethos kerja dan profesionalisme anggota Korpri (Korp Pegawai Republik Indonesia). Oleh karena itu pemerintah melalui departemen secara nasional perlu menekankan kepada seluruh jajarannya untuk menghidupkan kembali satu hari dari enam hari untuk melakukan aktivitas olah raga bersama selama 1- 2 jam sehingga mampu menciptakan ethos kerja yang tinggi. Ethos kerja yang tinggi menyongsong kehidupan bangsa Indonesia yang maju dan berprestasi.

Daftar Pustaka:

Gordon Dryden, Jeannette Vos; Ahmad Baiquni, editor. 2000. Revolusi cara belajar (the learning revolutiion). Bandung: Kaifa

Partanto, Pius., dan Al Barry, Dahlan. 2001. Kamus ilmiah Populer. Surabaya: Arkola.

https://www.boyyendratamin.com/2015/11/integritas-aparatur-sipil-negara.html%3 famp=1) diakses 10 November 2021 Pukul 20.30’

BIODATA PENULIS:

Nama : Shobirin Slamet, S.Pd., M.Si

NIP : 197107191995011001

Pangkat/ Gol : Pembina Tkt I/ IVb

Unit Kerja : SMA Negeri 1 Wangon

You cannot copy content of this page