Iklan

NILAI NILAI AKHLAK DALAM KITAB TA’LIMUL MUTA’ALLIM

Oleh : Yulistya Gunawan, S.Pd.I

Akhlak merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan karena akhlak dalam situasi apapun akan mengarahkan bagaimana seharusnya sikap seseorang, baik itu terhadap guru, teman, memuliakan kitab dan lain-lainnya. Apalagi salah satu sikap baik seseorang akan bisa didapat jika akhlak dimanifestasikan setiap saat. Bila seseorang meninggalkan akhlak, maka hal yang terjadi adalah seseorang akan meremehkan orang lain, alhasil kemanfaatan dan keberkahan tidak akan didapatkanya. Bila keberkahan dan kemanfaatan dari sebuah ilmu tidak didapat atau dihasilkan sama sekali, tentu akan berimbas pada kegagalan seseorang dalam berfikir dan berpandangan baik dalam menghadapi hidup ataupun masalah.

Jika dilihat lebih kritis, saat ini lebih mementingkan masalah yang bersifat materi dari pada etika, moral dan akhlak, tentu yang terlihat adalah kegagalan. Aktivitas seseorang lebih banyak cenderung pada pertengkaran, kedengkian bahkan permusuhan sehingga gagal membangun etika, moral maupun akhlak terhadap oarng lain, orang tua ataupun teman mereka sendiri adalah suatu fakta yang tidak bisa di hindarkan. Pendidikan Islam tidak hanya terbatas pada transformasi ilmu pengetahuan yang hanya menjurus pada kemampuan intelektual semata, tapi juga internalisasi nilai nilai spiritual, religius dan moral akhlak. Sebagaimana tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang kearah pendidikan yang sempurna, yaitu pendidikan fisik, intelektual dan budi pekerti.

Berdasar uraian tersebut diatas, sudah terlihat jelas bahwa keharusan bagi orang tua, untuk mendidik putra-putrinya agar mempunyai akhlak yang baik atau beretika, oleh karena itu seseorang harus mempunyai akhlak yang baik untuk berinteraksi dengan lingkungan ataupun orang lai. Dalam konteks ini etika menempati posisi yang amat penting dalam kehidupan seseorang, sebab akhlak menempatkan moralitas sopan santun, dan hati yang bersih sehingga dapat memperlancar setiap kondisi apapun. Sebagaimana diungkapkan ulama besar Islam (Asy’ari, 2003: 21) mengatakan sebelum mengawali proses mencari ilmu hendaknya membersihkan hati terlebih dahulu dari berbagai macam kotoran dan penyakit hati.

Di dalam kitab Ta’limul Muta’allim karya Imam Burhanudin Az-Zarnuji disebutkan akhlak yang dibangun bukan hanya merupakan pondasi tetapi bagi pencari ilmu untuk menjadi seseorang yang berakhlaqul karimah kepada orang lain, guru, teman ataupun lingkungannya, tetapi juga bagaimana sikap atau akhlak seseorang menghadapi zaman. Dalam artian menghadapi kemodernan, globalisasi dan lain sebagainya, begitu juga membangun pondasi etis dan reorientasi terhadap sesuatu atau ilmu yang dipelajari. Oleh karena itu penulis sangat tertarik untuk memaparkan beberapa nilai-nilai akhlak dalam kitab Ta’limul Muta’allim.

Kitab Ta’limul Muta’allim merupakan kitab yang berisi panduan belajar dan mengajar bagi setiap guru dan peserta didik. Selain berisi tentang panduan belajar dan mengajar, di dalam kitab tersebut juga terdapat nilai-nilai pendidikan akhlak yang perlu dikaji dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga apa yang menjadi tujuan dari belajar dapat tercapai, yakni menjadikan manusia semakin taat kepada Allah SWT, serta bermanfaat bagi sesama. Dalam kitab ta’lim juga di sebutkan tentang nilai-nilai akhlaqul karimah beserta kisah kisah tauladan yang menyertai di dalamnya, yang bisa menumbuhkan seseorang menjadi tambah semangat dalam menimba ilmu dan beretika.

Dalam kitab ini, Az-Zarnuji menekankan pada aspek nilai adab, baik yang bersifat lahiriyah maupun yang bersifat bathiniyah. Adapun nilai-nilai akhlak yang terdapat dalam kitab Ta’limul Muta’allim antara lain: 1) Memiliki niat yang baik, 2) Musyawarah, 3) Rasa hormat dan tawadlu’, 4) Sabar dan tabah, 5) Kerja keras, 6) Meyantuni diri, 7) Bercita-cita tinggi, 8) Wara’ serta sederhana, 9) Saling menasehati, 10) Istifadzah (mengambil pelajaran), 11) Tawakkal. Lebih jelas akan dijabarkan sebagai berikut.

1. Memiliki Niat Yang Baik

Seseorang hendaknya meluruskan niat selama dalam belajar. Karena niat itu sebagai pangkal dari segala amal. Maka dari itu sebaiknya setiap peserta didik mempunyai niat yang sungguh-sungguh selama belajar dengan niat mencari ridha Allah SWT., agar mendapat pahala kelak di akhirat, menghilangkan kebodohan yang ada pada dirinya dan orang lain, serta niat untuk menghidupkan dan melestarikan agama Islam. Sebagaimana yang disampaikan Az-Zarnuji: “Sebaiknya bagi penuntut ilmu dalam belajarnya berniat mencari Ridla Allah SWT, mencari kebahagiaan akhirat, menghilangkan kebodohan diri sendiri dan kebodohan orang lain, mengembangkan agama dan mengabadikan Islam, sebab keabadian Islam itu harus diwujudkan dengan ilmu”. Hal ini juga senada dengan pendidikan karakter di Indonesia yakni pendidikan yang mengandung unsur nilai religiusitas, yang diharapkan menjadikan peserta didik memiliki niat baik dalam mencari ilmu, karena dengan niat baik tersebut peserta didik dapat tulus ikhlas mencari ilmu dan memiliki tujuan yang benar, tidak mencari popularitas atau kedudukan semata, sehingga peserta didik memiliki sikap agamis, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memiliki hati yang tulus dan ikhlas memperdalam ilmu pengetahuan, baik pengetahuan umum maupun agama.

2.Musyawarah

Musyawarah adalah suatu sikap mau berdiskusi kepada orang lain untuk mengambil suatu keputusan. Cara berpikir, bersikap, dan bertindak berdasarkan dengan memandang hak dan kewajiban antara diri pribadi dan orang lain sama. Dalam hal ini, ulama mengatakan, “Ada tiga golongan orang yang berkaitan dengan musyawarah. Pertama, orang yang sempurna yaitu orang yang memiliki pendapat benar dan bersedia bermusyawarah. Kedua, orang yang setengah sempurna yaitu orang yang memiliki pendapat benar tetapi tidak bersedia bermusyawarah. Ketiga, orang yang tidak sempurna yaitu orang yang tidak mempunyai pendapat tetapi juga tidak bersedia bermusyawarah”. Musyawarah merupakan hal penting dalam menyelesaikan segala masalah baik itu masalah yang timbul dari diri sendiri maupun dari orang lain. Sebagaimana dijelaskan oleh Az-Zarnuji yang mengutip sebuah hadits : “Demikianlah dianjurkan untuk selalu bermusyawarah dalam segala urusan, sesungguhnya Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya agar bermusyawarah dalam segala urusan, padahal tidak ada seseorang yang lebih cerdas jika dibandingkan dengan beliau, akan tetapi beliau masih diperintahkan untuk bermusyawarah, maka dalam segala hal beliau selalu bermusyawarah dengan para sahabat, hingga urusan rumah tangga”.

Dari uraian di atas kita dapat mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW pun bermusyawarah dengan para sahabat sampai tentang barang-barang rumah tangga. Nilai pendidikan karakter ini perlu kiranya dimiliki oleh seorang pelajar. Sebab, dengan bermusyawarah seorang pelajar akan mendapatkan keputusan terbaik dan tidak ada penyesalan dengan keputusan yang diambilnya. Hal ini dikarenakan dalam musyawarah terdapat pendidikan karakter yakni, sikap cinta damai, kerjasama, toleransi, peduli sosial, peduli lingkungan.

3.Rasa Hormat

Saling menghormati merupakan salah satu hal yang dapat menjadikan keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat. Seperti halnya dalam menuntut ilmu, memiliki sikap hormat merupakan sebuah kewajiban bagi setiap penuntut ilmu, karena berkah tidaknya ilmu yang didapat tergantung dari hormat tidaknya penuntut ilmu dengan ahli ilmu. Sebagaimana dijelaskan oleh imam Az-Zarnuji: “Ketahuilah bahwa penuntut ilmu tidak akan mendapatkan ilmu dan tidak juga memetik manfaatannya selain dengan menghargai ilmu dan menghormati ahli ilmu, ta’dzim terhadap guru dan memuliakannya”.

Jika pelajar menunjukkan akhlak-akhlak terpuji kepada guru maka akan terjalinlah hubungan emosional yang baik yang melahirkan sikap saling pengertian, cinta damai, dan rasa kasih sayang. Sikap tersebut senada dengan pendidikan karakter di Indonesia, yakni mengandung nilai cinta damai, nilai peduli sosial, serta nilai menghargai prestasi.

4. Sabar dan Tabah

Sabar adalah sikap yang tahan terhadap cobaan yang diberikan Allah SWT kepadanya atau kepada hamba-Nya. Sabar merupakan pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Dalam menuntut ilmu, kesabaran dan ketabahan sangatlah penting dimiliki oleh setiap pendidik maupun peserta didik, apabila seorang peserta didik belajar menekuni bidang tertentu, maka harus fokus sampai dengan bidang tersebut dikuasai, jangan beralih kebidang lain sebelum bidang tersebut dikuasai. Sebagaimana yang disampaikan oleh imam Az-Zarnuji: “Maka sebaiknya penuntut ilmu harus memiliki hati yang tabah dan sabar dalam berguru, dan dalam mempelajari suatu kitab jangan ditinggalkan terbengkalai, dan dalam suatu bidang studi jangan berpindah ke bidang lain sebelum yang pertama sempurna dipelajari”.

Dengan sikap sabar dan tabah inilah yang nantinya akan melahirkan sikap kerja keras agar tujuan yang hendak diraih dapat terwujudkan. Sikap tersebut sejalan dengan pendidikan karakter di Indonesia, yakni mengandung nilai religius, nilai kerja keras, serta nilai tanggungjawab.

5. Kerja Keras

Kerja keras dapat diartikan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh untuk mencapai sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan. Kerja keras dapat dilakukan dalam segala hal, mungkin dalam bekerja mencari rezeki, berkreasi, membantu orang lain, atau kegiatan yang lain, bahkan dalam menuntu ilmu. Maka dari itu, penuntut ilmu wajib bekerja keras dalam menuntut ilmu agar tujuan maupun cita-cita dari penuntut ilmu dapat terpenuhi dan terealisasikan. Sebagaimana yang dikatakan oleh imam Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’allim: “Kemudian, penuntut ilmu juga harus bersungguh-sungguh dan terus-menerus demikian, sebagaimana petunjuk Allah SWT dalam firman-Nya: “Dan mereka yang berjuang untuk (mencari keridlaan) Kami niscaya akan Kami tunjukkan mereka kepada jalan Kami”.

Bekerja keras merupakan salah satu ajaran Islam yang harus dibiasakan oleh umatnya. Islam menganjurkan umatnya agar selalu bekerja keras untuk mencapai keinginan dan cita-cita. Salah satu wujud kerja keras yang dicontohkan imam Az-Zarnuji adalah dengan konsisten belajar dan mengulangi pelajaran yang telah diajarkan kepadanya, karena dengan mengulangi pelajaran maka ilmu yang didapat akan semakin hafal serta mudah dalam memahaminya. Hal ini sejalan dengan nilai pendidikan karakter di Indonesia yang menekankan nilai disiplin, nilai kerja keras, nilai mandiri, nilai menghargai prestasi, nilai gemar membaca, dan nilai tanggung jawab.

6. Meyantuni Diri

Menyantuni diri berarti mengerti batasan-batasan diri sehingga ketika berusaha sekuat tenaga kita harus tahu bahwa kita sebagai manusia mempunyai batas tersendiri, berbeda dengan Allah SWT sang pencipta yang Maha Besar, Maha segalanya. Hal ini sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Ta’limul Muta’allim sebagai berikut: “Dan janganlah memforsir diri sendiri, tidak membuat dirinya lelah sehingga ia tidak kuat berbuat sesuatu, akan tetapi hendaklah tetap menyantuni diri sendiri atua menyayangi diri sendiri”.

Menyantuni diri merupakan hal yang kadang dilupakan oleh kebanyakan orang atau bahkan ada yang terlalu memanjakan diri dan berlebihan dalam pola hidupnya. Menyantuni diri adalah yang tidak mengandung unsur berlebihan, sehingga dalam belajar penuntut ilmu dapat memforsir batas kemampuan yang dimiliki. Hal ini sejalan dengan karakter menghargai prestasi, yaitu memaklumi dan tidak terlalu menyesali apabila sudah berusaha kemudian tidak mencapai hasil yang maksimal.

7. Bercita-cita Tinggi

Cita-cita adalah keinginan, harapan, atau tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Tidak ada orang hidup tanpa cita-cita, tanpa berbuat kebajikan, dan tanpa sikap hidup. Cita-cita adalah suatu impian dan harapan seseorang akan masa depannya, bagi sebagian orang cita-cita itu adalah tujuan hidup dan bagi sebagian yang lain cita-cita itu hanyalah angan-angan belaka. Bagi orang yang menganggapnya sebagai tujuan hidup, maka cita-cita adalah sebuah impian yang dapat membakar semangat untuk terus melangkah maju dengan langkah yang jelas dan mantap dalam kehidupan ini, sehingga ia menjadi sebuah akselerator pengembangan diri. Namun sebaliknya bagi yang menganggap cita-cita sebagai angan-angan belaka maka hal tersebut tidak akan memberikan motivasi untuk melangkah maju dan berkembang. Seperti dijelaskan oleh Az-Zarnuji sebagai berikut: “Penuntut ilmu harus bercita-cita tinggi dalam beramal, karena manusia akan terbang dengan cita-citanya sebagaimana burung terbang dengan sayapnya”.

Untuk mencapai keinginan dan cita-cita, maka dibutuhkan kerja keras yang tinggi agar tercapai keinginan serta cita-citanya. Salah satu wujud kerja keras yang dicontohkan Az-Zarnuji adalah dengan memaksimalkan usaha menuju sukses, serta serius dalam melaksanakan dan dilakukan secara terus-menerus atau istiqamah dengan menghayati berbagai macam keunggulan ilmu. Hal ini senada dengan nilai pendidikan karakter di Indonesia, yakni nilai disiplin dan nilai kerja keras. Karena dengan sikap mandiri dan kerja keras, maka cita-cita tersebut dapat tercapai.

8. Wara’ atau Sederhana

Wara’ berarti menjaga diri dari segala sesuatu yang tidak berguna menurut agama, baik sesuatu itu mubah, makruh, maupun haram. Oleh karena itu, hendaknya seseorang selalu memperhatikan segala hal yang berkaitan dengan hukum halal dan haramnya. Al-Zarnuji juga menjelaskan bahwa yang memiliki sifat wara’ ilmunya akan bermanfaat, belajar lebih mudah, dan memiliki faidah yang banyak. Dengan ilmu yang bermanfaat seseorang akan mendapatkan kedudukan dan derajat yang tinggi. Selain itu, sifat wara’ juga akan mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan banyak beribadah. Salah satu contoh bersikap wara’ adalah menghindari perut kenyang, terlalu banyak tidur dan banyak bicara. Sebagaimana dikatakan oleh az-Zarnuji: “Termasuk perbuatan wara’ adalah menghindari perut kenyang, terlalu banyak tidur, dan banyak berbicara yang tidak berguna”

Wara’ merupakan sifat yang mencerminkan akhlak mulia yaitu berhati-hati dalam memilih dan memilah apa-apa yang berhubungan dengan pakaian, makanan, bahkan lingkungan perlu diperhitungkan keberadaannya. Hal ini juga masih terkait dengan karakter religius, dimana seseorang dituntut untuk mentaati perintah Allah SWT, yakni menghindari perkara yang dilarang oleh Allah SWT.

9. Saling Menasehati

Nasehat memiliki makna yang sangat beragam, yang pada intinya adalah anjuran, petunjuk, peringatan, dan teguran yang baik, serta kehendak yang baik. Saling menasihati berarti saling menganjurkan kebaikan, saling menghendaki kebaikan, dan saling mengingatkan akan kebaikan. Sikap inilah yang harus dimiliki oleh pendidik maupun peserta didik dalam menuntut ilmu. Agar ilmu yang didapat terhindar dari dusta serta kekeliruan, karena hakikat ilmu adalah sebuah kebenaran. Karena sikap saling menasehati merupakan wujud saling menyayangi diantara pendidik kepada penutut ilmu. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Az-Zarnuji: “Dianjurkan kepada orang yang berilmu hendaklah bersikap penyayang, suka menasehati, dan tidak memiliki sifat dengki.” Dengan saling menasehati diharapkan penuntut ilmu mendapat bimbingan serta petunjuk dalam menuntut ilmu. Sehingga apa yang dilakukan oleh mereka dapat terarah serta menumbuhkan sikap peduli terhadap orang lain. Karena di dalam saling menasehati terdapan nilai pendidikan karakter yakni, nilai demokratis, nilai komunikatif, nilai cinta damai, serta nilai peduli sosial dan nilai tanggung jawab.

10. Istifadzah ( Mengambil Pelajaran )

Istifadzah merupakan sebuah sikap yang harus dimiliki oleh setiap penuntut ilmu, yakni dengan belajar kepada siapapun dan dimanapun ia berada. Sebagaimana ungkapan yang sering kita dengarkan, yakni “belajar tidak harus dibangku sekolah saja”. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’allim: “Dan dianjurkan bagi penuntut ilmu agar dapat mengambil pelajaran sepanjang waktu, sehingga mencapai keunggulan dan kesuksesan ilmu”, dengan belajar dimana saja, diharapkan penuntut ilmu semakin banyak mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dapat ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Az-Zarnuji sendiri mencontohkan bagaimana cara yang baik dalam istifadzah, yakni dengan membawa sebuah buku catatan dan pena yang mana nantinya digunakan untuk mencatat pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan dari sekelilingnya. Dalam sikap istifadzah inilah terdapat nilai pendidikan karakter, yakni nilai kreatif, mandiri, gemar membaca, serta nilai rasa ingin tahu.

11. Tawakkal

Tawakkal adalah suatu sikap mental seorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah SWT, karena di dalam tauhid diajarkan agar meyakini bahwa hanya Allah SWT yang menciptakan segala-galanya, Pengetahuan Maha Luas, Dia yang menguasai dan mengatur alam semesta ini. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk menyerahkan segala persoalannya kepada Allah SWT. Hatinya tenang dan tenteram serta tidak ada rasa curiga, karena Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Sementara orang, ada yang salah paham dalam melakukan tawakkal. Dia enggan berusaha dan bekerja, tetapi hanya menunggu. Orang semacam ini memiliki pemikiran, tidak perlu belajar, jika Allah SWT menghendaki pandai tentu menjadi orang pandai. Atau tidak perlu bekerja, jika Allah SWT menghendaki menjadi orang kaya tentu kaya, dan seterusnya. Dalam menuntut ilmu penting bagi penuntut ilmu untuk bersikap tawakkal, karena dengan bersikap tawakkal maka dia telah meyakini bahwa Allah SWT ridho terhadap usahanya atau tidak. Sebagaimana yang dituturkan oleh Az-Zarnuji: “Kemudian penuntut ilmu seharusnya bersikap tawakkal dalam menuntut ilmu”.

Dalam bersikap tawakkal inilah terdapat nilai pendidikan karakter yang dapat diterapkan oleh penuntut dalam kehidupan sehari-hari, yakni nilai religius dan nilai menghargai prestasi. Karena di dalam sikap tawakkal kepada Allah SWT. Penuntut ilmu dapat semakin dekat dengan Tuhan-Nya serta semakin mempererat hubungan dia dengan Rabb-Nya

DAFTAR BACAAN

Ali As’ad, Ta’limul Muta’alim Bimbingan Bagi Penuntut Ilmu Pengetahuan, terj, Kudus: Menara Kudus, 2007.

Az-Zarnuji, Imam Burhanuddin, Ta‘lim al-Muta‘allim Thariq at-Ta‘allum. Jakarta: Dar al-Kutub al-lslamiyyah, 1434 H/2013 M.

Az-Zarnuzi, Pedoman Belajar Bagi Penuntut Ilmu, terj: Muhammadun Thaifuri, Surabaya: Menara Surabaya, 2008

Fathu Lillah, M. Kajian dan Analisis Ta’lim Muta’allim, Kediri: Santri Salaf Press, 2015.

Sutarjo Adi Susilo, Pembelajaran Nilai Karakter, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012.

C:\Users\User\Downloads\WhatsApp Image 2022-04-13 at 20.01.44.jpeg

Nama : Yulistya Gunawan, S.Pd.I

NIP : 197811052014061003

Pangkat / Golongan : Penata Muda Tk 1 / III-b

Unit Kerja : SMA NEGERI 1 RAWALO

You cannot copy content of this page