Iklan

MENUMBUHKAN BUDAYA ORGANISASI ISLAMI DI SDN BRANI 02 SAMPANG

Oleh: Yoky Satrio Ariwibowo, S.Pd.I

ABSTRAK

Nilai-nilai ke-Islaman yang dikembangkan kepada siswa tentunya tidak dapat dipisahkan dari keberadaan sekolah itu sendiri sebagai organisasi pendidikan. Lembaga/ sekolah mempunyai peran dan fungsi yang sangat strategis dalam menumbuh kembangkan, melestarikan nilai-nilai Islam kepada anak-anak. Budaya Islami dalam organisasi merupakan sebuah kebiasaan kegiatan-kegiatan yang norma dan segala bentuk aturan menjadi falsafah bersama dalam suatu lembaga pendidikan atau sekolah, dimana diantaranya cara berkata, bersikap dan kebiasaan hidup sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk membangun nilai-nilai Islam dalam melekat dalam diri siswa sehingga dapat diimplementasikan baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarga.

Kata kunci: Budaya, Islami, nilai

PENDAHULUAN

Dunia pendidikan yang didalamnya diperlukan sebuah organisasi dalam rangka memperlancar fungsi dan proses pendidikan. Pengalaman orang dalam organisasi akan membentuk dan membentuk kembali diri mereka sehingga pada akhirnya akan membentuk komitmen emosional dan model mental yang berakar amat dalam yang membimbing perilaku setiap orang. Organisasi pendidikan dalam menjalankan fungsinya tidaklah dapat dipisahkan dengan birokrasi. Pada dasarnya, birokrasi ini hakikatnya adalah salah satu perangkat yang fungsinya untuk memudahkan pelayanan publik. Birokrasi digunakan untuk dapat membantu mempermudah dalam memberikan layanan pendidikan yang pasti akan mempengaruhi dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses belajar mengajar agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Menurut Dewey pendidikan dalam pengertianya yang dasar merupakan proses perwujudan diri secara utuh menyangkut aspek fisik, intelektual, moral dan social. Ini yang membuat tantangan tersendiri seorang pengajar di dunia pendidikan.

Dewasa ini sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan yang cukup besar dan mendasar, terutama dalam konteks pembangunan masyarakat, negara dan bangsa. Tantangan itu dirasakan sehubungan dengan keadaan dan permasalahan di berbagai bidang kehidupan yang secara langsung memiliki kaitan dengan sistem pendidikan nasional. Tantangan tersebut berasal dari dua faktor yang saling berpengaruh, baik dari faktor luar (ekstern) maupun dari faktor yang berasal dari dalam (intern). Berkaitan dengan hal tersebut, Pendidikan Islam sebagai salah satu sub sistem dari sistem pendidikan nasional dituntut untuk selalu melakukan perubahan dan pengembangan agar mampu merespon dan mengatasi berbagai tantangan tersebut.

Produk birokrasi bukan sekadar menghasilkan perumusan sebuah kebijakan, namun mempengaruhi pola perilaku manusianya serta nilai-nilai budaya organisasinya. Selanjutnya memahami birokrasi dalam lembaga Pendidikan Islam bukanlah suatu produk tunggal, melainkan produk politik yang memiliki tujuan tertentu baik dalam memajukan sistem kelembagaannya, ideologinya, maupun secara kolektif. Birokrasi dalam pandangan Max Weber, sebagai bentuk tipe masyarakat rasional yang memungkinkan setiap anggota dalam sebuah lembaga atau kelompok mempunyai tugas, wewenang dan tanggung jawab tertentu, yang dapat memberikan sumbangsih bagi tercapainya tujuan suatu lembaga atau organisasinya.

Perilaku dan budaya dalam organisasi pendidikam juga elemen yang sangat mempengaruhi pencapaian tujuan lembaga Pendidikan Islam. Selanjutnya dengan memahami konsepsi di atas maka birokrasi, perilaku dan budaya dalam organisasi Pendidikan Islam merupakan elemen yang sangat mempengaruhi pencapaian tujuan Pendidikan Islam itu sendiri. Berdasarkan kajian inilah maka penyusun menganggap perlu adanya pembahasan mendalam tentang birokrasi, perilaku dan budaya dalam organisasi Pendidikan Islam.

Dalam perwujudan budaya organisasi Pendidikan Islam terlebih di instansi pendidikan sekolah dasar tentu mempunyai tantangan tersendiri. Banyak faktor yang membuat berhasil tidaknya penerapan budaya organisasi Pendidikan Islam di instansi sekolah dasar negeri. SDN Brani 02 Sampang merupakan sekolah negeri yang membuat peneliti merasa tertarik. Di mana tempat penelitiannya adalah sekolah umum yang lazimnya minim dengan pendidikan agama, terlebih upaya implementasi budaya organisasi yang bernuansa nilai-nilai kerohanian yang biasanya juga ditemui di madrasah-madrasah. Ini yang akan menjadi daya tarik sejauh mana dampak dari implementasi budaya organisasi Pendidikan Islam di SDN Brani 02 Sampang.

KAJIAN PUSTAKA

Birokrasi dalam bahasa Yunani disebut dengan “kratein” yang berarti mengatur. Sedangkan dalam bahasa Prancis, kata birokrasi disinonimkan dengan kata “bureau” artinya kantor. Secara umum, konsep birokrasi banyak diperkenalkan oleh Max Weber, seorang sosiolog Jerman pada awal abad ke-20, konsep ini dimunculkan karena sekitar tahun 1900-an, revolusi industri di Inggris mulai menampakkan pengaruhnya pada perubahan struktur sosial yang mendorong pemerintah terlibat dalam berbagai kegiatan publik. Max Weber menjelaskan sebagaimana yang dikutip oleh Sinambela, bahwa birokrasi merupakan suatu bentuk organisasi yang memiliki hierarki, spesialisasi peranan dan tingkat kompetensi tinggi, yang ditunjukkan oleh para pejabat yang mengisi peranan birokrasi sehingga efektif dan efisien. Charles Murane mengemukakan bahwa birokrasi sebagai bagian dari politik modern yang mempertimbangkan efisiensi dan rasionalitas dalam pekerjaan.

Konsep birokrasi di atas, penulis memahami bahwa Weber lebih menekankan konsep birokrasi sangat relevan dengan konteks masyarakat modern, karena bagaimana menciptakan relasi kerja yang jelas dan lebih terarah, mempertimbangkan efisiensi waktu, dilaksanakan berdasarkan kompetensi dan profesionalitas, serta lebih bersifat legal-rational (jelas dan dapat dipertanggung jawabkan). Birokrasi dalam pelaksanaannya, seharusnya menjadi alat untuk menyalurkan tujuan dan pembagian kerja yang terstruktur, sehingga beban kerja tidak hanya dilimpahkan pada satu orang saja. Weber menjelaskan, beberapa tipe ideal birokrasi (ideal type of bureaucracy), sebagaimana yang dikutip oleh Syakir menjelaskan bahwa: Pertama, birokrasi mencerminkan jenjang kewenangan yang berimplikasi pada wilayah kerja antara atasan dan bawahan. Kedua, birokrasi juga ditandai oleh adanya sistem aturan yang menegaskan hak dan kewajiban setiap pemegang jabatan. Ketiga, birokrasi juga menampilkan sistem prosedur yang bertujuan memberikan kejelasan bagaimana suatu pekerjaan diselesaikan dalam tahap-tahap yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain. Keempat, birokrasi seharusnya mendorong bagaimana profesionalitas kerja. Kelima, birokrasi juga mensyaratkan berlangsungnya seleksi dan promosi personil atas dasar pertimbangan kompetensi.

Budaya Pendidikan Islam tentunya hal yang sudah menjadi kebiasaan dari masyarakat Islam yaang dasar pengambilannya dari Al-Qur‟an Hadits seperti halnya pengambilan kata Iqra’ artinya membaca, ini merupakan wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril. Konsep tersebut menjadi budaya dalam Pendidikan Islam untuk selalu membaca dan selalu membaca. Membaca bukan hanya membaca buku tapi membaca kehidupan dan lain-lain. Madrasah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berbasiskan Islam. Madrasah juga memiliki budaya mutu tertentu, melihat dari pengertian budaya dan mutu, dapat dikonstruksi bahwa budaya mutu madrasah/lembaga Pendidikan Islam adalah sistem nilai organisasi/madrasah yang menciptakan lingkungan yang kondusif untuk keberlangsungan perbaikan mutu yang berkesinambungan. Budaya mutu madrasah terdiri dari nilai-nilai, tradisi, prosedur dan harapan tentang promosi mutu. Sedangkan tujuan dari budaya mutu madrasahadalah untuk membentuk suatu lingkungan organisasi yang memiliki sistem nilai, tradisi, dan aturan-aturan yang mendukung untukmencapai perbaikan mutu secara terus-menerus. Budaya mutu madrasah akan berpengaruh besar terhadap kehidupandi madrasah, meskipun tidak selamanya berdampak positif.

Ahmad Ludjito, memberikan pandangan bahwa substansi dari birokrasi lembaga Pendidikan Islam, merupakan komponen peraturan yang terdiri atas kebijakan, agenda-agenda pendidikan yang bersifat formal dan non formal, akademik, umum, maupun keagamaan. Selanjutnya berangkat dari paradigma dan konsep birokrasi di atas, penulis memberikan uraian bahwa tujuan birokrasi dalam lembaga Pendidikan Islam adalah: Pertama, penyusunan struktur pelaksana dan pembagian tugas kerja. Kedua, merumuskan dan menetapkan agenda-agenda lembaga yang akan dijalankan. Ketiga, pelaksanaan agenda kerja yang mengarah pada program kelembagaan yang telah direncanakan. Keempat, pengembangan program kerja dan program-program kelembagaan lainnya. Kelima, pendampingan pelaksanaan program kerja oleh kepala sekolah atau pemegang wewenang. Kelima, evaluasi sebagai bentuk kontrol dan tindak lanjut dari program kerja yang sudah dilaksanakan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini mengunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus dalam penelitiaannya. Dasar pengunaan pendekatan penelitian kualitatif adalah dalam penelitian ini fokus utama internalisasi nilai-nilai budaya Islami mewujudkan pendidikan karakter. Rancangan penelitian yang digunakan dalam mengumpulkan data melalui observasi, analisis dokumen-dokumen yang terkait dan studi pustaka.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Urgensi Perilaku dalam Organisasi Pendidikan Islam di SDN Brani 02 Sampang

Perilaku organisasi dapat dipahami secara tepat dengan terlebih dahulu harus memahami beberapa konsep mendasar terkait dengan perilaku organisasi, yaitu konsep perilaku dan organisasi. Pandangan lama tentang organisasi mengungkapkan bahwa organisasi merupakan suatu wadah interaksi orang-orang untuk mencapai suatu tujuan. Pandangan terkini organisasi dipandang sebagai suatu hal yang lebih dinamis dari pada suatu wadah. Organisasi dipandang sebagai satuan sistem sosial untuk mencapai tujuan bersama melalui usaha bersama atau kelompok.

Perilaku organisasi sering disingkat sebagai OB (Organisational Behavior) adalah studi mengenai perilaku manusia, mengenai titik temu antara perilaku manusia dan organisasi, serta organisasi itu sendiri. Disamping itu, perilaku organisasi menerapkan pengetahuan yang diperoleh mengenai perorangan, kelompok dan efek dari struktur pada perilaku, agar organisasi bekerja dengan lebih efektif. Perilaku organisasi tidak lepas dari persoalan hubungan antara individu dengan individu yang lainnya (interaksi sosial), hubungan individu dengan organisasinya (lembaga), serta hubungan individu dengan lingkungan sekitarnya. Cepi Triatna memberikan pandangan bahwa ruang lingkup perilaku organisasi meliputi, bagaimana memahami orang-orang dalam satuan sosial, mengelola, dan memprediksi bagaimana mereka dapat bekerja secara efektif. Dalam konteks lembaga Pendidikan Islam, perilaku organisasi tersebut dapat dipelajari pada dua aspek yakni: Pertama, manajemen kerja (managing work), yakni sebuah konsep yang dapat mengetahui bagaimana perilaku individu beradaptasi dengan lingkungan kerjanya, bagaimana menjalankan program kerja, serta mengontrol tujuan kerja. Kedua, manajemen orang (managing people), yakni aspek-aspek yang terkait dengan bagaimana faktor komunikasi, kepemimpinan, dan motivasi dari setiap individu dalam menjalankan tugas dan peran kelembagaan. Perilaku organisasi pada dasarnya menunjukkan sikap dan kemampuan dari setiap individu, dan kelompok bagaimana dalam memahami dan menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dalam memajukan organisasinya.

SDN Brani 02 Sampang merupakan sekolah dasar yang bernaung di bawah pemerintahan daerah Cilacap. Dalam hal ini penerapan perilaku dalam organisasi Pendidikan Islam di institusi ini, dianggap penting karena dapat mempengaruhi kualitas pekerjaan. Penulis memahami bahwa tindakan konkret yang dapat dilakukan oleh seorang pemimpin (leader) kaitannya dengan pengembangan perilaku organisasi adalah: Pertama, mempelajari dengan baik individu setiap guru yang ada dalam sekolah tersebut sebagai langkah awal untuk mendeteksi pola interakasi dan perilaku lebih mendalam dari setiap anggota organisasi. Kedua, membangun pola interaksi yang flexibl untuk menumbuhkan keterbukaan dan kolektivitas kerja. Ketiga, kepercayaan pada setiap anggota organisasi dalam sekolah bahwa mereka mampu menyelesaikan dengan baik tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan. Keempat, loyalitas artinya sikap bertanggung jawab terhadap sekolah yang ditunjukkan oleh seorang pemimpin menjadi nilai dasar bagi seluruh guru untuk berperilaku loyal terhadap organisasinya. Peran lembaga Pendidikan Islam, kendali lembaga dalam hal ini peran seorang pemimpin agar menghasilkan perilaku organisasi yang ideal.

Budaya dalam Organisasi Pendidikan Islam SDN brani 02 Sampang

Budaya berasal dari bahasa Sansekerta budhayah bentuk jamak dari kata budhi artinya akal atau pemikiran, jadi makna budaya merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan akal pikiran, nilai-nilai, sikap dan mental serta hasil karya dan pemikiran manusia. Sedangkan kata organisasi dalam bahasa Inggris disebut organization (kelompok, wahana), sehingga organisasi merupakan sarana/ alat bagi orang-orang yang terlibat dalam satu organisasi untuk melakukan berbagai usaha dalam mencapai tujuan tertentu.

Adam Ibrahim Indrawijaya, mengemukakan bahwa budaya organisasi adalah keseluruhan nilai, norma-norma, kepercayaan, serta pandangan yang dianut dan dijunjung tinggi bersama oleh para anggota organisasi, sehingga kebudayaan tersebut memberi arah dan corak kepada cara berfikir dan pandangan kehidupan (way of thinking, way of life). Stoner, menjelaskan sebagaimana yang dikutip oleh Suwarto dan Koeshartono, bahwa budaya organisasi adalah sejumlah pemahaman penting seperti norma, nilai, sikap, dan keyakinan yang dimiliki bersama oleh anggota organisasi.

Batasan mengenai makna budaya organisasi yang ditanamkan dalam suatu sistem organisasi kemudian diyakini oleh setiap guru di SDN Brani 02 Sampang sangat mempengaruhi sikap dan perilaku anggota organisasinya yang kemudian berpengaruh pada kinerja sekolah. Bentuk dari pengaruh budaya organisasi pada suatu lembaga ini bisa kita lihat pada perbedaan dua lembaga, misalnya antara lembaga Pendidikan Islam (madrasah) dan lembaga pendidikan umum. Tentu jika berkunjung kedua lembaga tersebut kita akan merasakan atmosfer yang sangat berbeda. Mulai dari pintu masuk gerbang, hingga interaksi sosialnya memberikan gambaran bagaimana simbol dan budaya organisasinya. Nilai dasar budaya organisasi yang ditanamkan dalam suatu lembaga, memberikan perbedaan dan pengaruh yang sangat signifikan baik melalui simbol-simbol, komunikasi, hingga interaksi sosial lainnya.

Pentingnya budaya dalam institusi pendidikan di SDN Brani 02 Sampang menjadi perhatian pengelola dan pemerhati pendidikan karena budaya di sekolah ini dipandang sebagai hal mendasar dalam kemampuan sekolah untuk membangkitkan dan mempertahankan peningkatan mutu/ kualitas sekolah. Selain itu, budaya sekolah juga terkait dengan budaya kelas-kelas yang ada di sekolah tersebut. Pengembangan budaya sekolah akan melahirkan kemampuan organisasi untuk sukses dalam melakukan suatu perubahan atau merespons suatu perubahan. Budaya organisasi di sekolah dapat menjadikan para pengelola sekolah aktif, kreatif, intelek, adaptif, mampu mengorganisasi diri, dan terus mencari makna dari setiap kegiatan yang dilakukan.

Adapun budaya organisasi yang dikembangkan bagi kemajuan lembaga Pendidikan Islam di SDN Brani 02 Sampang adalah sebagai berikut:

Membangun Tim Kerja di Sekolah

Tim kerja dapat diartikan seluruh elemen guru mampu menangani pemecahan masalah dan pembuatan keputusan di sekolah Dinas Pendidikan Kabupaten Cilacap atau Kordinator Wilayah Kecamatan Sampang berada yang terkait kedinasan maupun nonformal. Keberadaan Tim Kerja adalah untuk membangun hubungan lebih kuat antara sesama guru dan kepala sekolah sebagai menejer di instans tersebut, yang terlibat dalam aktivitas manajemen sekolah. Pembentukan tim kerja sekolah ini pada akhirnya dapat menguntungkan para pelajar, sebab semakin lebih banyak orang yang menggunakan perspektif lebih luas untuk menolong mensukseskan program unggulan sekolah yang diharpkan bersama.

Menurut Lewis, bahwa mengubah perilaku (motivasi) harus dilaksanakan melalui medium tim kerja dari pada melalui usaha individu. Hal ini menjadi tanggung jawab kepala lembaga ini dan pengawas untuk mempengaruhi perilaku anggota melalui usaha tim kerja yang aktif”. Untuk itu, tim kerja merupakan bahagian penting dalam menangani perubahan yang diinginkan di sekolah. Selain proses pemberdayaan personil, sekaligus membentuk budaya sekolah yang baik bagi peningkatan kualitas sekolah sesuai harapan masyarakat. Pembentukan tim kerja dalam pendekatan kepemimpinan di sekolah adalah dalam rangka mengembangkan kemampuan personil dan rasa tanggung jawab dalam sekolah. Menurut Overton, hal yang perlu dipertimbangkan dalam kepemimpinan tim kerja, yaitu: (1) keadilan, (2) ketenangan, (3) sikap positif, (4) mau mendengarkan, (5) kesabaran, (6) pengetahuan”. Sebuah tim kerja di sekolah harus memiliki berbagai keterampilan yang memungkinkan saling mengisi dan melengkapi untuk mewujudkan program unggulan yang diinginkan sebagai realisasi dari mengejar kualitas. Di SDN Brani 02 Sampang membentuk tim kerja yang ditunjuk kepala sekolah untuk memastikan budaya organisasi yang bernuasan spiritual dapat terlaksana baik oleh siswa maupun para guru. Tim kerja pelaksanaan budaya organisasi diantaranya:

Tim penyusun konsep/ perencanaan

Tim ini terdiri dari beberapa guru dan pimpin oleh guru PAI SDN Brani 02 Sampang, dimana bertugas membuat konsep budaya organisasi yang Islami di lingkungan sekolah. Kemudian konsep tersebuat didiskusikan kepada seluruh guru.

Tim pelaksana

Setelah sepakat membuat konsep, tim kerja pelaksana akan bertanggung jawab memastikan konsep tersebut berjalan sesuai dengan rencana, agar dapat dilaksanakan baik oleh guru, siswa, bahkan orang-orang yang berkunjung ke SDN Brani 02 Sampang.Tim ini akan membuat indikator-indikator tingkat keberhasilan program secara berkala.

Tim evaluasi/ konseling

Sebuah program pasti akan mengalami hambatan dan tantangan, terlebih yang melibatkan banyak anak-anak. Tim ini bertugas mengevaluasi point-point yang perlu dibenahi selama berlangsungnya program pembiasaan budaya organisasi Islami, serta bertugas memberikan konseling kepada siswa yang mengalami masalah/ penyimpangan perilaku. Tim ini dipimpin oleh wali kelas VI dibantu seluruh wali kelas lainnya.

Adanya tim tersebut diharapkan memaksimalkan penerapan budaya organisasi Islami di lingkungan SDN Brani 02 Sampang. Keberadaan tim yang diinginkan adalah tim yang kuat dengan keterampilan berbeda antara anggota tim, tujuan yang ingin dicapai terbagi kepada semua anggota, serta memiliki komitmen dalam memperjuangkan tujuan melalui komunikasi yang antara sesama anggota tim dalam suatu kepemimpinan. Tim kerja memiliki beberapa pengaruh positif. Pertama; semakin banyak orang terlibat dalam pengambilan keputusan, akan semakin baik dalam melakukan keputusan tersebut. Kedua; anggota tim secara terus menerus belajar dari orang lain dalam timnya yang memiliki gagasan cemerlang dan segar. Ketiga; lebih banyak dan baik informasi serta tindakan yang berasal dari kelompok orang dengan keragaman sumberdaya dan keterampilan. Keempat; adalah baik kesempatan bahwa kesalahan-kesalahan dapat diatasi dan diperbaiki. Kelima; risiko yang ada ditangani secara bersama karena dari kekuatan bersama kelompok. Sesuatu yang dirasa akan terjadi, bahwa organisasi dapat lebih berharap semua pelaku mungkin dalam organisasi yang sama, karena ada kegembiraan dan pengertian, Keenam: tim merupakan cara yang sangat efektif dalam meningkatkan produktivitas dan moral.

Program penumbuhkembangkan budaya organisasi Islami di sekolah

Menjaga Kebersihan

Kebersihan merupakan hal yang sangat penting, karena baik kebersihan badan maupun lingkungan sangat mempengaruhi kesehatan dan kinerja kita. Kebersihan juga hal yang dicintai Allah SWT, maka sebagai umat Islam harus mencintai kebersihan. Di SDN Brani 02 Sampang diajarkan untuk menjaga kebersihan diantaranya; wajib mandi sebelum berangkat sekolah, sekolah menyediakan kran air dan sabun serta tempat sampah di setiap kelas, 10 menit sebelum masuk siswa membersikan kelas, setiap Jum’at diadakan kerja bakti membersihkan seluruh sekolah baik siswa maupun guru, wc dibersihkan oleh siswa dengan membuat jadwal piket karena pusat yang kotor ada dalam wc.

Membiasakan siswa mengucapkan salam dan cium tangan kepada guru

Pembiasaan mengucapkan salam dan cium tangan dilakukan siswa disaat pertama bertemu dan sebelum berpisah dengan guru. Di pagi hari sebelum siswa memasuki ruangan kelas guru menyambut di gerbang sekolah dan diawali salam dan cium tangan dari siswa. Hal ini akan mempererat hubungan emosional antara guru dan siswa. Guru merasa dihormati dengan salam dan cium tangan, siswa merasa disayangi dengan disambut dan senyuman guru diawal pembelajaran. Selain itu sebelum memasuki ruangan baik guru maupun siswa diwajibkan mengetuk pintu dan mengucapkan salam, serta membiasakan senyum, sapa, salam (3S) di lingkungan sekolah.

Menetapkan Jum’at bersedekah

Di SDN Brani 02 Sampang memulai untuk membiasakan setiap Hari Jum’at untuk membiasakan gerakan bersedekah baik dari siswa maupun guru-guru. Hasilnya akan dihimpun untuk berbagai keperluan mushola sekolah mauapun membantu siswa yang membutuhkan. Diantaranya untuk membeli alat kebersihan mushola, membantu salah satu siswa yang memerlukan bantuan dan berbagi di mushola sekitar sekolah. Langkah ini berfungsi agar membiasakan anak-anak ringan tangan dalam membantu orang lain dari menyisipkan uang saku mereka dan menjauhkan siswa dari sifat kikir dan pelit.

Membuat program Baca Tulis Qur’an (BTQ) dan Tahfidz

Ini yang paling membedakan dengan sekolah umum lainnya. Biasanya program ini identik dengan madrasah, dimana memang porsi keagamaannya lebih besar dibanding mapel umum. Program ini terintegrasi arahan pemerintah tentang budaya literasi sekolah, dimana literasi yang digunakan di SDN Brani 02 Sampang adalah membaca dan menghafal Al-Qur’an yang dibacakan 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kelas 1 dan II mengikuti literasi belajar membaca Al-Qur’an, dengan harapan setelah akan menginjak kelas III siswa sudah mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar. Program tahfidz dimulai dari siswa kelas III-VI, dimana kelas III diasumsikan sudah dapat membaca Al-Qur’an dan menghafalkan juz ke-30. Hafalan Qur’an diulang-ulang pukul 06.45-07.00 WIB setiap hari. Diakhir kelas VI para siswa akan diuji hafalannya oleh guru Pendidikan Agama Islam juz ke-30. Intensifitas program BTQ dan tahfidz diperkuat melalui ekskul El-Fath Center, dimana para siswa akan diajarkan lebih jauh tentang BTQ dan hafalannya.

Gerakan sholat berjamaah

Sholat merupakan ibadah yang terpenting bagi umat Islam. Para siswa dibiasakan agar terbiasa menjalankan sholat berjamaah di sekolah. Sholat Dhuhur berjamaah dilaksanakan kelas IV-VI, karena kelas I-III pulang sekolah sebelum waktu Dhuhur. Selain Sholat Dhuhur para siswa juga dibiasakan Sholat Dhuha berjamaah yang dilaksanakan seminggu sekali saat Mapel PAI berlangsung. Semakin siswa sering melakukan ibadah sholat mereka akan merasa dekat dengan Penciptanya.

Melaksanakan fungsi-fungsi manajemen secara konsisten

Organisasi yang baik, akan melakukan kegiatan manajemen yang diawali dari perencanaan dan diakhiri dengan evaluasi yang dilakukan secara konsisten dan tuntas. Kegiatan yang berulang mengakibatkan menjadi budaya bagi organisasi lembaga SDN Brani 02 Sampang.. Kegiatan ini dilakukan secara ketat diawal perjalanan lembaga pendidikan dan kendur ditengah bahkan diakhir. Dengan masuknya kegiatan ini menjadi budaya organisasi lembaga sekolah dasar, diharapkan regenerasi pimpinan, pendidik dan tenaga kependidikan akan meneruskan tradisi ini. Budaya-budaya Islami di SDN Brani 02 Sampang akan tetap berjalan saat semua elemen dalam sekolah dasar baik guru dan siswa komitmen dan kosisten dalam menjalankan program-program yang telah dibuat.

Peraturan yang ditegakkan untuk semua lapisan bagi pimpinan, pendidik, tenaga kependidikan serta siswa, perlu menjadi budaya bagi lembaga. Namun penegakan disiplin harus dilaksanakan secara arif dan bijaksana, karena penegakan disiplin terhadap peraturan yang dilakukan secara kaku dapat menjadi bumerang bagi lembaga itu sendiri. Intinya penegakan disiplin diadakan untuk teraturnya kegiatan pendidikan yang dilakukan. Menurut penelitian Lislie J. Fyans, Jr dan Martin L. Maehr dalam Asri Laksmi Riani bahwa ada lima dimensi budaya organisasi di sekolah yang perlu dikembangkan yaitu: (1) Tantangan Akademik, (2) Prestasi komparatif, (3) Penghargaan terhadap prestasi, (4) Komunitas sekolah, (5) Persepsi tentang tujuan sekolah. Bila beberapa komponen di atas dilakukan secara konsisten maka budaya organisasi di sekolah cenderung menjadi kuat. Budaya organisasi bertindak sebagai perekat sosial yang mengikat sesama anggota organisasi bersama-sama dalam satu visi dan tujuan yang sama di SDN Brani 02 Sampang.

Strategi Memperkuat Budaya Organisasi

Sebuah organisasi pada umumnya membutuhkan kualitas dan integritas, sebab dengan kualitas dan integritas yang tinggi organisasi akan mampu bertahan dan meraih kesuksesan serta kualitasnya. Di samping itu, integritas yang ada dalam organisasi sangat tergantung pada solidaritas setiap anggotanya. Tentunya solidaritas ini mengarah pada sebuah hubungan antar individu atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral atau kepercayaan yang dianut bersama serta diperkuat oleh pengalaman emosial setiap anggota SDN Brani 02 Sampang. Adapun hakekat solidaritas, Durkheim dalam bukunya Division of labor in society membagi solidaritas dalam model, yaitu solidaritas mekanik dan solidaritas organik

Solidaritas Mekanik

Ciri khas solidaritas mekanik didasarkan pada tingkat homogenitas tinggi dalam kepercayaan dan sentimen (perasaan) yang sama pada organisasi sebagai sebuah sistem dalam bekerja sama. Selanjutnya, organisasi yang hanya mengenal solidarita mekanik, jenis-jenis pekerjaan dilakukan secara bersama-sama. Sehingganya tidak ada pembagian tugas secara utuh. Setiap seseorang di dalam organisasi dapat dikatakan tidak memiliki spesialisasi yang jelas kerena melakukan setiap pekerjaan bersama-sama. Dengan demikian, ini merupakan suatu kelemahan solidaritas mekanik yang bisa berpengaruh pada hasil akhir pekerjaan, dan ketika terjadi sebuah kegagalan, maka secara secara tidak langsung tidak seseorang dalam organisasi tidak bertanggung jawab, karena pekerjaan dilakukan bersama.

Solidaritas Organik

Solidaritas ini kebalikan dari solidaritas mekanik yang menekankan pada pekerjaan secara bersama-sama. Berbeda dengan solidaritas mekanik, hal ini solidaritas organik lebih jelas dengan pembagian kerja secara tegas, dimana setiap individu dalam organisasi yang terlibat dalam penyelasaian suatu pekerjaan akan memegang wewenang dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Ciri khas pada solidaritas organik ini adalah saling ketergantungan yang tinggi. Maka apabila saling ketergantungan itu bertambah, jelas spesialisasi pekerjaan dalam pembagian kerja pun akan bertambah. Di sisi lain, hal ini meunculkan semangat dan gairah kerja dengan bertambahnya pekerjaan, yang kemudian akan meningkatkan kualitas kerja dan hasil yang baik pada akhirnya.

PENUTUP

Budaya organisasi dapat diartikan sebagai nilai, norma, aturan, falsafah, dan kepercayaan yang diyakini oleh sebuah organisasi yang tercermin dalam pola pikir dan perilaku para anggota organisasi. Budaya organisasi memiliki kegunaan sebagai pembeda dengan organisasi lainnya, sebagai identitas anggota sebuah organisasi, sebagai komitmen anggota di atas kepentingan bersama., sebagai perekat sosial dengan menyediakan standar yang anggota harus lakukan dan katakan, dan berguna pula sebagai mekanisme kontrol yang membentuk perilaku anggota. Mengingat budaya organisasi merupakan nilai, kepercayaan bersama para anggota organisasi, tentu budaya ini hendaknya senantiasa terus dibangun dan dibina dalam organisasi. Hal ini terkait dengan berbagai macam latar belakang anggota organisasi. Budaya organisasi yang dikelola akan memberikan dampak positif pada kinerja institusi secara umum, karena budaya organisasi tersebut akan mengarahkan perilaku para anggota organisasi. Dalam lembaga SDN Brani 02 Sampang, budaya organisasi terus dibangun dan dibina dengan tujuan untuk melestarikan ajaran dan nilai-nilai Islam yang pada akhirnya akan menjadi budaya Islami. Mulai dari pembuatan rencana (master plan), pelaksanaan, sampai dengan evaluasi kegiatan yang telah berjalan dan bernuasa Islami.

Pada prinsipnya budaya organisasi akan mempermudah dalam mengelola serta mengevaluasi dalam sekolah. Sebuah organisasi akan lebih terarah dan lebih fokus terhadap visi dan misi organisasi yang ingin dicapai. Banyak sekali ajaran Islam yang sangat berperan dalam ikut membangun organisasi dapat maju dan berkembang dan semua itu tentu sumber daya manusia sendiri yang menjadi penentu akan kesuksesan sebuah organisasi tersebut dalam mencapai tujuan bersama. Dalam hal membumikan budaya yang mempunyai nilai-nilai Islami di sekolah negeri tentu banyak upaya yang akan ditempuh, maka membutuhkan kerjasama yang baik dan komitmen dari semua guru dan siswa serta dukungan wali murid dalam rangka implementasinya.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Nasrul, 2018, “Membangun Budaya Mutu yang Unggul Dalam Organisasi lembaga Pendidikan Islam”, dalam Jurnal Al-Tanzim, Probolingo: Universitas Nurul Jadid.

Anonim. 2007. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Yogyakarta. Pustaka Pelajar,

Basid, Abdul. Transformasi Birokrasi Pelayanan Publik, dalam Dyah Mutiarin. Manajemen Birokrasi dan Kebijaka. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014.

Hidayat, Muh, 2017, “Pengembangan Budaya Organisasi Dalam Lemabaga Pendidikan”, dalam Jurnal Tarbawi, Januari. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Indrawijaya, Adam Ibrahim. Teori Perilaku dan Budaya Organisasi. Bandung: Refika Aditama, 2010.

Lewis, James Jr. Scool Management By Objectives. New York: Parker Publishing Company, Inc. 1974.

Ludjito, Ahmad. Pendidikan Agama Sebagai Subsistem dan Implementasinya dalam Pendidikan Nasional. dalam Chabib Thoha dan Abdul Mu’ti. PBM PAI di Sekolah: Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998.

Moorhead. Gregory dan Ricky W. Griffin. Perilaku Organisasi Manajemen Sumber Daya Manusia. Tangerang: Salemba Empat, 2010.

Murane, Charles. Bureaucracy and Modernity. University of Texas at Austin, 2006.

Overton, Rodney. Leadership Made Simple.Singapura: Wharton Books, Pte.Ltd.. 2002.

Riani, Asri Laksmi.  Budaya Organisasi. Graha Ilmu: Yogyakarta, 2011.

Sinambela, L.P. Reformasi Pelayanan Publik. Jakarta: Bumi Aksara, 2015.

Soewandi, 2005. Slamet,Widaryanto, Bram Barli,Dan Nugraha Tri Setia. Pelangi Pendidikan Tinjauan Dari Berbagai Perspektif. Yogyakarta. Universitas Sanata Dharma.

Suwarto, F.X dan D. Koeshartono, Budaya Organisasi: Kajian Konsep dan Implementasi. Yogyakarta: Universitas Atmajaya, 2009.

Syakir. Reformasi Birokrasi. dalam Dyah Mutiarin. Manajemen Birokrasi dan Kebijakan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014.

Triatna, Cepi. Perilaku Organisasi Dalam Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2015.

Ulfi, Hakam. Model Kepemimpinan Birokrasi. dalam Dyah Mutiarin. Manajemen Birokrasi dan Kebijakan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014.

Wahidin, Unang, 2013, “Peran Budaya Organisasi Pendidikan Islam Dalam Menghadapi Tantangan Pembangunan Masyarakat dan Bangsa, Juli. Bogor: STAI Al-hidayah.

BIODATA PENULIS

Nama : Yoky Satrio Ariwibowo, S.Pd.I

NIP : 199006042020121017

Pangkat/ Gol : Penata Muda/ IIIa

Jabatan : GPAI

Unit Kerja : SDN Brani 02 Sampang Cilacap

You cannot copy content of this page