Iklan

MENINGKATKAN SELF CONFIDANCE SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PROBING PROMTING PADA SISWA KELAS VIIIC SMP NEGERI 4 SUMBANG

Oleh: Nurina Dananty, S.Pd.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan cara self-confidance siswa dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan Probing Promting pada siswa kelas VIIIC SMP Negeri 4 Sumbang. Subjek penelitian siswa kelas VIIIC SMP Negeri 4 Sumbang Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2020/2021 dengan jumlah siswa 28 orang. Instrumen penelitian yang digunakan terdiri dari instrumen penilaian lembar observasi dan angket tentang sel- confidance siswa. Analisis data dilakukan dengan menghitung angket yang disebar kepada siswa sebelum menggunakan pembelajaran Probing Promting dan sesudah menggunakan Probing Promting Hasil dari penelitian ini adalah terjadi peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas VIIIC SMP Negeri 4 Sumbang tahun pelajaran 2020/2021setelah dilaksanakan pembelajaran dengan probing prompting dengan sebelum menggunakan Probing Promting. Dengan demikian pembelajaran Probing Promting dapat meningkatkan self-confidance siswa.

Kata kunci :Self-Confidance, Probing Promting

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Lestari dan Yudhanegara (2015) berpendapat bahwa self-confidence adalah suatu sikap yakin akan kemampuan diri sendiri dan memandang diri sendiri sebagai pribadi yang utuh dengan mengacu pada konsep diri. Dengan demikian, siswa dengan self- confidence yang baik maka akan memandang dirinya positif dan membangun kemampuannya dalam meningkatkan percaya diri.

Self-confidence sangat penting bagi siswa agar berhasil dalam belajar matematika (Yates, 2002: 5). Dengan adanya rasa percaya diri, maka siswa akan lebih termotivasi dan lebih menyukai untuk belajar matematika, sehingga pada akhirnya diharapkan prestasi belajar matematika yang dicapai juga lebih optimal. Hal ini di dukung oleh beberapa penelitian terdahulu yang mengungkapkan bahwa terdapat assosiasi positif antara self-confidence dalam belajar matematika dengan hasil belajar matematika (Hannula, et al.,2004: 17; Suhendri, 2012: 397; TIMSS, 2012: 326). Artinya hasil belajar matematika tinggi untuk setiap siswa yang memiliki indeks self-confidence yang tinggi pula. Oleh sebab itu, rasa percaya diri perlu dimiliki dan dikembangkan pada setiap siswa. Perlunya self-confidence dimiliki siswa dalam belajar matematika ternyata tidak dibarengi dengan fakta yang ada. Masih banyak siswa yang memiliki self-confidence yang rendah. Hal itu ditunjukkan oleh hasil studi TIMSS (2012: 338) yang menyatakan bahwa dalam skala internasional hanya 14% siswa yang memiliki self-confidence tinggi terkait kemampuan matematikanya. Sedangkan 45% siswa termasuk dalam kategori sedang, dan 41% sisanya termasuk dalam kategori rendah. Hal serupa juga terjadi pada siswa di Indonesia. Hanya 3% siswa yang memiliki self-confidence tinggi dalam matematika, sedangkan 52% termasuk dalam kategori siswa dengan self-confidence sedang dan 45% termasuk dalam kategori siswa dengan self-confidence rendah.

Suatu pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis dan self-confidence siswa adalah pembelajaran Probing Prompting. Menurut Shoimin (2014), pembelajaran Probing Prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali, sehingga terjadi proses berpikir yang

mengaitkan pengetahuan sikap siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari.

Shoimin (2014) juga berpendapat bahwa pembelajaran Probing Prompting dapat: a) menjadikan siswa lebih aktif berpikir dalam proses pembelajaran; b) memunculkan sikap toleransi dari perbedaan pendapat yang apabila dikelola dengan baik akan diperoleh kemufakatan; c) mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat karena guru selalu memancing siswa dengan pertanyaan-pertanyaan. Secara tidak langsung hal ini menuntut siswa untuk mengetahui sistematis penyelesaian dari masalah yang diberikan guru. Hal ini didukung oleh penelitian Wahid (2016) yang menyebutkan bahwa pembelajaran Probing Prompting berpengaruh baik terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis.

Berikut ini uraian tentang pendekatan Probing Prompting, dan bagaimana pendekatan tersebut diyakini dapat meningkatkan self-confidence siswa dalam pembelajaran matematika.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah: Apakah pembelajaran Probing Prompting akan meningkatkan self confidance siswa dalam pembelajatan matematika?

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk: self confidance siswa dalam pembelajatan matematika dengan pendekatan Probing Prompting

Manfaat Hasil Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:

Bagi Guru

Membantu guru meningkatkan self-confidence siswa.

Bagi Siswa

Dapat mengoptimalkan kemampuan pemecahan masalah matematis dan

self-confidence siswa.

BAB II KAJIAN TEORITIK

Deskripsi Konseptual

Pada bagian ini akan dibicarakan mengenai self-confidence dan pembelajaran Probing Prompting secara lebih rinci sebagai berikut:

Self-Confidence

Self-confidence menurut Lestari dan Yudhanegara (2015) adalah suatu sikap yakin akan kemampuan diri sendiri dan memandang diri sendiri sebagai pribadi yang utuh dengan mengacu pada konsep diri. Menurut Hendriana (2012) kepercayaan diri akan memperkuat motivasi mencapai keberhasilan, karena semakin tinggi kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri, semakin kuat pula semangat untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kemauannya untuk mencapai apa yang menjadi sasaran tugas juga akan lebih kuat.

Yates (2002) menjelaskan bahwa self-confidence sangat penting bagi siswa agar berhasil dalam belajar matematika. Dengan adanya self- confidence, maka siswa akan lebih termotivasi dan lebih menyukai untuk belajar matematika, sehingga pada akhirnya diharapkan prestasi belajar matematika yang dicapai juga lebih optimal. Berdasarkan uraian di atas, peneliti dapat memberikan suatu pengertian bahwa self-confidence merupakan rasa percaya terhadap kemampuan diri sendiri dan memandang diri sendiri sebagai pribadi yang utuh.

Indikator self-confidence menurut Lestari dan Yudhanegara (2015) adalah sebagai berikut:

  1. Percaya pada kemampuan sendiri.
  2. Bertindak mandiri dalam mengambil keputusan.
  3. Memiliki konsep diri yang positif.
  4. Berani mengemukakan pendapat.

Adapun indikator self-confidence dalam penelitian ini antara lain

yaitu:

  1. Percaya pada kemampuan diri sendiri.
  2. Mampu bertindak mandiri dalam mengambil keputusan.
  3. Memiliki konsep diri yang positif.
  4. Memiliki keberanian dalam mengemukakan pendapat.

Pembelajaran Probing Prompting

Probing Prompting terdiri atas dua kata yaitu Probing dan Prompting. Menurut Huda (2017) Probing adalah penyelidikan dan pemeriksaan, sementara Prompting adalah mendorong atau menuntun. Menurut Jacobsen, dkk (2009) Fungsi Probing ialah memberikan kesempatan untuk mendukung atau mempertahankan secara intelektual pandangan dan pendapat yang dinyatakan dengan sederhana, sedangkan Prompting adalah usaha guru dalam menyediakan kesempatan pada siswa untuk berekspresi secara kreatif dengan tetap meningkatkan keikutsertaan mereka dalam pembelajaran.

Proses tanya-jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa harus berpastisipasi aktif. Selama proses pencarian dan penemuan jawaban atas masalah yang diberikan guru, siswa berusaha menghubungkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki dengan pertanyaan yang akan dijawab (Huda: 2017). Ketika terjadi peristiwa dimana siswa diam tidak menjawab pertanyaan, maka guru akan memancing siswa dengan melontarkan pertanyaan pancingan untuk mempermudah siswa dalam menjawab.

Langkah-langkah pembelajaran Probing Prompting menurut Lestari dan Yudhanegara (2015) yaitu:

  1. Pada awal penyajian, guru menghadapkan siswa pada situasi baru, misalkan dengan memperhatikan gambar, alat, atau situasi lainnya yang mengandung permasalahan.
  2. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami masalah.
  3. Guru mengajukan pertanyaan sesuai dengan indikator pembelajaran kepada seluruh siswa.
  4. Guru menunggu beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan jawabannya.
  5. Guru meminta salah satu siswa untuk menjawab pertanyaan.
  6. Jika jawabannya tepat maka guru meminta tanggapan kepada siswa lain tentang jawaban tersebut untuk meyakinkan teman lainnya. Jika jawaban kurang tepat guru mengajukan pertanyaan lagi sebagai petunjuk menuju jawaban yang tepat. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pada tahap ini sebaiknya diajukan kepada beberapa siswa yang berbeda agar seluruh siswa terlibat dalam seluruh kegiatan Probing Prompting.
  7. Guru mengajukan pertanyaan akhir kepada siswa yang berbeda untuk lebih memastikan bahwa indikator pembelajaran benar-benar telah dipahami oleh siswa.

Menurut Shoimin (2014), pembelajaran Probing Prompting memiliki kelebihan dan kekurangan, antara lain sebagai berikut: Kelebihan:

  1. Pertanyaan dapat memusatkan perhatian siswa, sehingga perhatian peserta didik terhadap jalannya pembelajaran cenderung lebih terjaga karena peserta didik selalu mempersiapkan jawaban dari pertanyaan yang disiapkan oleh guru.
  2. Mendorong siswa aktif berpikir.
  3. Siswa diberi kepercayaan untuk membangun sendiri pengetahuannya dan diarahkan untuk belajar mandiri, sehingga pengetahuan yang diperolehnya diharapkan dapat melekat lebih lama.
  4. Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.

Kekurangan:

  1. Membutuhkan waktu lama dalam proses pembelajaran jika jumlah siswa banyak.
  2. Suasana kelas menjadi tegang.
  3. Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan mudah dipahami siswa.
  4. Waktu sering banyak terbuang apabila siswa tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua atau tiga orang.

Kerangka Pikir

Dalam proses pembelajaran di kelas guru harus memperhatikan aspek afektif siswa, salah satunya adalah self-confidence. Self-confidence merupakan rasa percaya terhadap kemampuan diri sendiri dan memandang diri sendiri sebagai pribadi yang utuh. Adapun indikator self-confidence yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) percaya pada kemampuan diri sendiri; 2) mampu bertindak mandiri dalam mengambil keputusan; 3) memiliki konsep diri yang positif; dan 4) memiliki keberanian dalam mengungkapkan pendapat.

Salah satu faktor yang mempengaruhi self-confidence siswa adalah pembelajaran yang dilakukan oleh guru di kelas. Terdapat berbagai macam pembelajaran yang dikemukakan dan ditemukan. Masing-masing pembelajaran memiliki teori- teori dasar yang berbeda. Dengan menggunakan pengajaran yang tepat, maka dapat berpengaruh baik terhadap self-confidence siswa.

Pembelajaran Probing Prompting merupakan pembelajaran yang berisi pertanyaan-pertanyaan guru untuk memunculkan proses berpikir dalam mengkaitkan pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki siswa dengan materi yang akan dipelajari siswa untuk memperoleh pengetahuan baru. Pembelajaran Probing Prompting memiliki tujuh tahapan yaitu 1) menghadapkan siswa pada situasi yang baru; 2) memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan jawaban; 3) mengajukan persoalan kepada siswa sesuai indikator pembelajaran; 4) memberi kesempatan kepada siswa untuk merumuskan jawaban sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki siswa;

5) menunjuk siswa untuk menjawab pertanyaan; 6) menanggapi jawaban siswa lain; 7) mengajukan pertanyaan pada siswa yang berbeda untuk memperkuat pemahaman siswa. Pembelajaran Probing Prompting juga memiliki keunggulan antara lain dapat menjadikan siswa lebih aktif berpikir dalam proses pembelajaran, memunculkan sikap toleransi dari perbedaan pendapat yang apabila dikelola dengan baik akan diperoleh kemufakatan, dan mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat karena guru selalu memancing siswa dengan pertanyaan-pertanyaan.

Berdasarkan uraian di atas, keterkaitan pembelajaran Probing Prompting dengan self- confidence yaitu pembelajaran Probing Prompting sangat mendukung self- confidence siswa. Karakteristik model Probing Prompting ialah model pembelajaran dengan memberikan pertanyaan atau masalah kepada siswa, dengan demikian dapat mendukung siswa dalam memecahkan

permasalahannya serta belajar mengemukakan ide atau pendapat tentang materi pelajaran yang menjadikan siswa lebih percaya diri.

Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian teori di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah: Self-confidence siswa dapat meningkat dengan pembelajaran Probing Prompting

METODE PENELITIAN

Subyek Penelitian

Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIIC SMP Negeri 4 Sumbang tahun pelajaran 2020/2021. Siswa kelas VIIIC berjumlah 28 siswa yang terdiri dari 14 siswa putra dan 14 siswa putri. Karekteristik siswa di kelas ini sangat beragam, baik dari segi prestasi akademis, gaya belajar maupun latar belakangnya.

Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian di SMP Negeri 4 Sumbang. Waktu penelitian akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2020/2021.

Teknik Pengumpulan Data

Metode Pengumpulan Data

Metode Observasi

Data observasi diperoleh dengan cara mengamati aktivitas guru dan siswa selama penelitian berlangsung. Aktivitas guru yang diamati didasarkan pada kegiatan guru selama pembelajaran berlangsung sesuai dengan yang terdapat di dalam Rencana Proses Pembelajaran (RPP).

Metode Angket

Angket self-confidence diberikan kepada siswa kelas VIIIC setelah mendapatkan pembelajaran Probing Prompting

Instrumen Penelitian

Lembar Observasi

Lembar observasi dilakukan sebelum dan selama proses pembelajaran. Observer mengisi lembar observasi dengan cara memberikan tanda checklist pada kolom terlaksana, atau tidak terlaksana dan memberikan catatan apabila diperlukan pada tempat yang disediakan

Angket

Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket pertanyaan tertutup. Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang mengharapkan jawaban singkat atau mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternatif jawaban dari setiap pertanyaan yang telah tersedia (Sugiyono: 2015). Pertanyaan dalam angket dibuat kalimat positif dan negatif agar responden dalam memberikan jawaban setiap pertanyaan lebih serius dan tidak mekanistis. Pemberian angket self-confidence dilakukan setelah siswa kelas VIIIC mendapatkan pembelajaran Probing Prompting

Tabel 3.2 Format skorinCg skala self-confidence

Alternatif Jawaban Pernyataan
Positif Negatif
Selalu (S) 5 1
Sering (SR) 4 2
Kadang-kadang (K) 3 3
Jarang (J) 2 4
Tidak Pernah (TP) 1 5

Teknik Analisis Data

Analisis terhadap data self confidance siswa dilakukan dengan cara menghitung skor pada aangket tiap siswa .

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Dari hasil observasi pelaksanaan sebelum diterapkan model pembelajaran Problem promting terdapat beberapa masalah yang mendorong untuk pelaksanaan observasi. Selama ini pembelajaran yang terjadi pada siswa kelas VIIIC bahkan kelas yang lainya masih monoton dilakukan oleh guru. Maka dari itu self confidance siswa menurun. Hasil angket sebelum dilakukan pembelajaran Problem promting banyak anak yang menjawab pertanyaan positif dengan jarang atau skor 2. Sedangkan setelah dilakukan pembelajaran Problem promting hasil angket menujukan pertanyaan positif sudah dijawab dengan selalu atau skor maksimal 5. Siswa sangat antusias dengan pembelajaran Problem promting.

Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil analisis self confidance meningkat setelah dilakukan pemebalajaran Probing Prompting . Hal ini sesuai dengan pernyataan Shoimin (2014) bahwa pembelajaran Probing Prompting dapat 1) mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat; 2) memberi kepercayaan kepada siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya diharapkan dapat melekat lebih lama; 3) memusatkan perhatian siswa melalui pertanyaan yang diberikan guru, sehingga perhatian peserta didik terhadap jalannya pembelajaran cenderung lebih terjaga karena peserta didik selalu mempersiapkan jawaban.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini dengan memperhatikan aspek-aspek self confidence siswa, dan karakteristik dan langkah-langkah dari pendekatan Probing Prompting, maka diyakini bahwa penggunaan pendekatan Probing Prompting dapat menigkatkan self confidence siswa dalam matematika. Meski demikian terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan guru agar penerapan pendekatan Probing Prompting dalam pembelajaran matematika dapat memberikan manfaat yang optimal dalam membangun self-confidence siswa dalam belajar matematika.

Saran

Guru perlu memberi pengarahan kepada siswa di awal pembelajaran agar tidak tercipta suasana yang tegang.

DAFTAR PUSTAKA

Hannula,M. S., Maijala, H., & Pehkonen, E. 2004. Development Of understanding and self-confidence in mathematics; Grades 5–8. Proceedings of the 28th Conference of the International Group for the Psychology of Mathematics Education, 3, 17-24.

Hendriana, H. (2012). Pembelajaran matematika humanis dengan metaphorical thinking untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa. Infinity Journal, 1(1), 90-103.

Huda, M. (2017). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jacobsen, D. A., dkk. (2009). Methods for Teaching. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lestari, K. E. dan Yudhanegara, M. R. (2015). Penelitian Pendidikan Matematika.

Bandung: PT Refika Aditama.

Shoimin, A. (2014). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.

Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

TIMSS. (2012). TIMSS 2011 International Results in Mathematics. Chestnut Hill: TIMSS & PIRLS International Study Center

Wahid, A. M. (2016). Keefektifan Model Probing Prompting Learning berbantuan Question Card terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Peserta Didik pada Materi Komposisi Fungsi dan Invers. Skripsi Universitas Negeri Semarang: diterbitkan.

Yates, S. M. (2002). “The influence of optimism and pessimism on student achievement in mathematics”. Mathematics Education Research Journal, 14(1), 4-15

Biodata Penulis

Nama : Nurina Dananty, S.Pd

NIP : 19850402 200903 2 011

Pangkat/Gol : Penata TK.I / IIId

Unit Kerja : SMP Negeri 4 Sumbang

You cannot copy content of this page