Iklan

MENINGKATKAN KETRAMPILAN SISWA MEMBUAT PANTUN DENGAN ALAT PERAGA KARTU KATA DI KELAS 5 SEMESTER I SD NEGERI I TIPAR TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Tohidin, S.Pd.

ABSTRAK

Tohidin, 2020. ”Meningkatkan Ketrampilan Siswa Membuat Pantun dengan Menggunakan Alat Peraga Kartu Kata Di Kelas 5 Semester I SD Negeri I Tipar Tahun Pelajaran 2019/2020”. Dengan penerapan alat peraga kartu kata pada penelitian tindakan kelas ini dapat diperoleh hasil: 1)Nilai rata- rata skor hasil perhitungan terhadap Ketrampilan siswa dalam membuat pantun pra siklus adalah 38,1 termasuk dalam kriteria kurang ,pada siklus I naik menjadi 61,90 ( katagori sedang). Pada siklus II terdapat kenaikan nilai rata- rata ketrampina siswa menjadi 80,95 ( katagori tingi ) persentase keberhasilan siswa dalam membuat pantun pada siklus I yang diperoleh siswa selama penelitian oleh kepala sekolah sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan alat peraga kartu kata yaitu sebanyak 66 % dari 21 . Pada siklus II mengalami kenaikan yang signifikan pada hasil peningkatan keberhasilan ketrampilan siswa yaitu 82 % termasuk dalam kriteria sangat baik. Bardasarkan keterangan di atas maka dapat diambil sebuah kesimpuluan sebagai berikut: Melalui penggunaan alat peraga kartu kata dapat meningkatkan ketrampilan siswa membuat pantun di kelas 5 semester 1 SD Negeri 1 Tipar Korwilcam Dindik Rawalo Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2019/ 2020.

Kata Kunci; Ketrampilan Siswa , Alat Peraga Kartu Kata , Pantun

PENDAHULUAN

Pada abad 21 ini, persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, diantaranya bidang guruan. Kita dihadapakan tuntutan akan pentingnya sumber daya manusia yang berkualitas serta mampu berkompetensi. Sumberdaya manusia yang berkualitas, yang dihasilkan oleh guruan yang berkualitas dapat menjadi kekuatan utama unttuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui peningkatan mutu guruan dengan menggunakan media atau alat peraga pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan tema yang akan diajarkan.

Salah satu jenis media pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran adalah alat peraga kartu kata. Menulis merupakan tahapan tertinggi dalam keterampilan berbahasa. Menulis pantun dapat menimbulkan masalah jika siswa belum menguasai tiga keterampilan berbahasa lainnya.

Materi pantun dalam pelajaran bahasa Indonesia identik dengan kegiatan menulis. Kartu kata  merupakan kata-kata yang dituliskan pada potongan- potongan suatu media, baik karton, kertas maupun papan tulis (tripleks). Potongan-potongan kata tersebut dapat dipindahkan sesuai keinginan pembuat suku kata, kata maupun kalimat dalam bentuk baris pantun.

Salah satu usaha yang dilakukan penulis agar mutu guruan di SD negeri 1 Tipar Korwilcam Dindik Rawalo Dinas Guruan Kabupaten Banyumas berusaha untuk memperbaiki dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas peneliti menampilkan data hasil penilaian dan evaluasi kemampuan siswa dalam membuat pantun sebelum dilakukan tindakan di peroleh hasil tes formatif sebagai berikut:

No Penilaian Pra Siklus
Jml Skor Rata-rata Skor Tuntas
1 Pengetahuan (K13)/ 1230.0 45.6 Belum Tuntas
2 Ketrampilan (K14)/ 1109.4 52.83 Belum Tuntas
3 Sikap K11 dan K12)/ 1266.7 60.32 Katagori c

(Belum Tuntas)

Melalui tindakan tersebut diharapkan permasalahan yang terjadi di SD Negeri 1 Tipar dengan didukung kemampuan guru dalam mengemas berbagai media pembelajaran diharapkan mampu meningkatkan ketrampialn siswa khusunya pembuatan pantun.

Alat peraga kartu kata merupakan media yang dapat digunakan pada kegiatan belajar mengajar untuk menimbulkan daya tarik pada diri siswa, sebagai sarana yang dapat mempermudah pengertian / pemahaman siswa, dalam membuat pantun dengan menempatkan kartu kata yang disusun menjadi sebuah pantun.

Dengan memperhatikan faktor penyebab rendahnya hasil belajar dan rendahnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia tema menggalai isi dan amanat pantun yang disajikan secara lesan dan tulis dengan tujuan untuk kesenangan. Maka peneliti mencoba mencari solusi mengatasi permasalahan siswa kelas 5 SD Negeri 1 Tipar Korwilcam Dindik Rawalo dalam membuat pantun mengambil judul “Meningkatkan Ketrampilan Siswa Membuat Pantun dengann Menggunakan Alat Peraga Kartu Kata Di Kelas 5 Semester I SD Negeri I Tipar Tahun Pelajaran 2019/2020’ sebagai sulusi dalam mengatasi kesulitan belajar siswa.

KAJIAN PUSTAKA

Meningkatkan ketrampilan siswa Membuat Pantun

Pada abad 21 ini, persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, diantaranya bidang pendidikan. Kita dihadapakan tuntutan akan pentingnya sumber daya manusia yang berkualitas serta mampu berkompetensi. Sumber daya manusia yang berkualitas, yang dihasilkan oleh pendidikan yang berkualitas dapat menjadi kekuatan utama unttuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui peningkatan mutu pendidikan.

Pembelajaran abad 21 secara sederhana diartikan sebagai pembelajaran yang memberikan kecakapan abad 21 kepada siswa, yaitu 4C yang meliputi: (1) Communication (2) Collaboration, (3) Critical Thinking and problem solving, dan (4) Creative and Innovative.

PANTUN

Pantun adalah salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Pada umumnya terdiri dari empat baris yang bersajak ab-ab, dan setiap baris terdiri dari empat sampai delapan kata. Pada baris 1 dan 2 merupakan gambaran sedangkan baris 3 dan 4 merupakan baris yang berisikan maksud dari pantun tersebut.

Menurut Pradopo (2002:224), bahwa aturan-aturan pantun yang ketat yang telah menjadi konvesi yang utama ialah (1) tiap baris terdiri atas 4 baris pada umumnya; (2) baris pertama dan kedua merupakan sampiran,baris ketiga dan keempat merupakan isinya; (3)sajak akhirnya berpola ab-ab; (4) tiap baris terdiri atas dua periodus, tiap periodus terdiri atas dua kata pada umumnya.

Penilaian yang dipakai untuk mengukur karya kreatif siswa dapat menggunakan rubrik penilaian dengan memilah-milah penilaian menjadi beberapa aspek, seperti: 1) aspek kebaruan tema, 2) aspek kekuatan imajinasi, 3) aspek ketepatan diksi,dan 4) aspek pendayaan pemajasan dan citraan (Nurgiyantoro, 2013: 487). Menurut Yuni (2009) dalam http://yunipu3.blog.com aspek penilaian membuat pantun yakni kesesuaian dengan kriteria pantun, kemenarikan isi pantun dan ketepatan penulisan ejaan.

Aspek penilaian membuat pantun yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi aspek membuat sastra yang dikemukakan oleh Nurgiyantoro dan aspek membuat pantun yang dikemukakan oleh Yuni. Aspek-aspek tersebut adalah 1) kesesuaian dengan kriteria pantun, 2) kemenarikan isi pantun, 3) kekuatan imajinasi, 4) ketepatan diksi dan ejaan, 5) kebaharuan tema.

Alat Peraga Kartu Kata

Media pembelajaran adalah suatu alat yang dapat digunakan oleh siswa untuk mempermudah penangkapan suatu informasi dalam proses belajar. Salah satu jenis media pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran adalah media kartu kata.

Menurut Mohammad Jaruki dalam Venny Calenthi (2019) bahwa kartu kata adalah kartu yang berisi kata-kata yang mengandung sebuah makna. Dalam penelitian ini, kartu kata yang dimaksud adalah kartu tebal yang setiap kartunya berisi satu buah kata yang mempunyai variasi warna dan tertulis kata pada setiap kartunya.

Kata yang tertera pada kartu akan sesuai dengan baris tiap bait pantun yang ada. Kartu kata di sini dipahami sebagai media alat dalam pembelajaran, yang mana melaluinya simulasi dari inti pembelajaran disampaikan baik secara deskriptif maupun demonstratif, yang tentunya ini menandaskan pada fungsinya sebagai penyampai pesan Gagne dalam Rita, 2009:22.

Kerangka Pikir

Meningkatkan ketrampilan membuat pantun diharapkan menjadikan pendidik mampu menggunakan dan menciptakan media pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan siswa membuat berbagai pantun teka-teki, perkenalan dan nasehat.

Pembelajaran Bahasa Indonesia bersifat membosankan, tidak menarik, dan menyebabkan siswa mengantuk, tidak berminat untuk aktif dalam proses pembelajaran. Siswa malas bertanya, malas mengerjakan tugas, dan malas mendengarkan penjelasan guru.

Pada pembelajaran bahasa Indonesia, guru mendominasi kegiatan pembelajaran menggunakan alat peraga kartu kata untuk meningkatkan ketrampilan siswa membuat pantun.

Menurut Mohammad Jaruki dalam Venny Calenthi (2019) bahwa kartu kata adalah kartu yang berisi kata-kata yang mengandung sebuah makna. Dalam penelitian ini, kartu kata yang dimaksud adalah kartu tebal yang bergambar benda-benda di sekitar anak seperti binatang, tumbuhan, buah, maupun peralatan sekolah yang mempunyai variasi warna dan tertulis kata pada setiap kartunya.

Kata yang tertera pada kartu akan sesuai dengan gambar yang ada. Kartu kata di sini dipahami sebagai media alat dalam pengajaran, yang mana melaluinya simulasi dari inti pengajaran disampaikan baik secara deskriptif maupun demonstratif, yang tentunya ini menandaskan pada fungsinya sebagai penyampai pesan Gagne dalam Rita, 2009:22.

Hipotesis Tindakan

Hipotesis dalam  penelitian  ini adalah Meningkatkan Ketrampilan Siswa Membuat Pantun dengan Menggunakan Alat Peraga Kartu Kata Di Kelas 5 Semester I SD Negeri I Tipar Korwilcam Dindik Rawalo Tahun Pelajaran 2019/2020.

METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian

Tempat penelitian dilaksanakan di SD Negeri 1 Tipar yang beralamat di desa Tipar Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas.

Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilakanakan pada semester 1 tahun pelajaran 2019/2020. Penelitian ini berlangsung selama empat bulan, yaitu bulan Agustus sampai dengan bulan November 2019

Subjek Penelitian

Subjek penelitian dilaksanakan pada kelas 5 SD Negeri 1 Tipar Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas dengan jumlah siswa sebanyak 21 peserta didik, 9 siswa laki – laki dan 12 siswa perempuan.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan penelitian tindakan kelas ini adalah tes, observasi dan dokumentasi.

Instrumen Penelitian

Bentuk instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Soal Tertulis & Lembar Observasi

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Data Tes Tertulis dan Analisis Data Observasi

Prosedur Penelitian

Gambar 3.1 Rancangan Penelitian Tindakan Model Kemmis dan Taggart

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Berdasarkan hasil tes formatif, diperoleh data yang berupa angka-angka mengenai nilai masing-masing siswa yang selengkapnya dapat dilihat pada table 4.1.

No Nama Siswa Pengetahuan (K13) T/

BT

Ketrampilan (K14) T/

BT

Sikap

(K11 dan K12)

SB/B/C

/K/KS

1 AHMAD .S 50.0 BT 62.5 BT 56.25 C
2 ARLONCY.S.A 20.0 BT 46.9 BT 68.75 B
3 BAYU BINTANG 50.0 BT 62.5 BT 75 B
4 DESTANIA.E 50.0 BT 75.0 BT 56.25 C
5 DINAR BAYU S 30.0 BT 25.0 BT 62.5 B
6 ELFRIDA A. P 80.0 T 65.6 T 50 C
7 FINA MAULI 40.0 BT 31.3 BT 62.5 B
8 IZAL K. A 30.0 BT 56.3 BT 56.25 C
9 JOSHEPIN D.A 80.0 T 65.6 T 56.25 C
10 JUWITA DEWI S 50.0 BT 15.6 BT 75 B
11 KAFKA NAFIATI 50.0 BT 40.6 BT 50 C
12 KALINGGA S I N 80.0 T 68.8 BT 75 B
13 KHUSNAHUL.F 50.0 BT 71.9 BT 56.25 C
14 LIFIA DIAH. P 80.0 T 25.0 T 62.5 B
15 MUFTIHATUL K 80.0 T 68.8 BT 75 B
16 PUTRI HAYATI 50.0 BT 28.1 T 37.5 K
17 REVANDI.S R 90.0 T 56.3 T 75 B
18 SAFI NAUFAL A 80.0 T 71.9 T 68.75 B
19 SHANDY Q. S 80.0 T 84.4 T 31.25 K
20 ZAHRA A. R 70.0 T 62.5 BT 43.75 C
21 NATASYA T. D 40.0 BT 25.0 T 75 B
Jumlah Skor 1230.0 1109.4 1266.7
Rata-rata Skor 45.6 52.83 60.32
Jumlah siswa Tuntas 9 8 11
Jumlah Belum Tuntas 12 13 12
Prosentase ketuntasan 42,86% 38,1% 52,4%

Tabel 4.1 Hasil Tes Formatif dan Sklala Sikap

Data hasil penelitian pra siklus di atas kemudian peneliti sajikan dalam bentuk diagram seperti di bawah ini:

Diagram 4.1 Hasil Tes Formatif dan Sklala Sikap Pra Tindakan

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa siswa yang memperoleh jumlah sekor pengetahuan (K13) jumlah siswa yang memperoleh skor sesuai KKM sebanyak 9 orang atau 42,86 % dengan rata-rata skor 45,6 . Siswa yang memperoleh skor Ketrampilan (K14) jumlah siswa yang memperoleh skor sesuai KKM sebanyak 8 atau 38,1% dengan rata-rata skor 52,83. adapun responden yang mendapat skor sikap (KI1 dan K12) dengan katagori sangat baik (SB) sebanyak 0 orang atau 0 %, dengan kategori baik (B) sebanyak 11 orang atau 52,4 %, kategori cukup (C) sebanyak 7 orang atau 33 %.sedangkan Kurang (k) 2 orang atau 9,52 % dengan tingkat ketuntasan minimal siswa bersikap baik sebanyak 52,4 % sebelum dilakukan tindakan pada pra siklus.

Dari kriteria ketuntasan belajar siswa pada kategori “Sangat Baik”, “Baik”,” Cukup”,” kurang” pada pra siklus dapat dilihat melalui tabel rekapitulasi ketuntasan belajar di bawa ini:

No Penilaian Pra Siklus
Jml Skor Rata-rata Skor Tuntas %
1 Pengetahuan (K13)/ 1230.0 45.6 9 42,86
2 Ketrampilan (K14)/ 1109.4 52.83 8 38,1
3 Sikap K11 dan K12)/ 1266.7 60.32
Sangat Baik 0 0
Baik 11 52,4
Cukup 0 0
Kurang 0 0

Tabel 4.2 Rekapitulasi Data Perolehan Nilai Pra Siklus

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah kurangnya pengetahuan dan ketrampilan siswa dalam membuat pantun dikarenakan penggunaan pendekatan pembelajaran yang digunakan guru kurang variatif sehingga berdampak pada rendahnya kemampuan siswa dalam memahami materi yang disampaikan guru.

Siklus I

Dari hasil observasi siklus I diperoleh skor pengetahuan dan ketrampilan, sikap dan tingkat ketuntasan sebagai berikut:

No Penilaian Pra Siklus Siklus I
Jml Skor Rata-rata Skor Tuntas % Jml Skor Rata-rata Skor Tuntas %
1 Pengetahuan (K13) 1.230.0 45,6 9 42,8 1.420 52,6 12 57,1
2 Ketrampilan (K14) 1.109.4 52,83 8 38,1 1.348,6 64,2 13 61,9
3 Sikap

(K11 dan K12)

1.268.7 60,42 11 52,4 1.387,7 66,07 14 66,7
SB 0 0 2 9,52
B 11 54,7 12 57,4
C 10 45,3 7 33
K> 0 0 0 0

Tabel 4.3 Rekapitulasi Data Perolehan Nilai Pra dan Siklus I

Data hasil penelitian pra siklus di atas kemudian peneliti sajikan dalam bentuk diagram seperti di bawah ini:

Diagram 4.2 Grafik Perbandingan Data Awal dan Siklus I

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dalam kegiatan siklus I ini responden yang memperoleh jumlah sekor pengetahuan (K13) jumlah siswa yang memperoleh skor sesuai KKM sebanyak 12 orang atau 57,1% dengan rata-rata skor 52,6. Responden yang memperoleh skor Ketrampilan (K14) jumlah siswa yang memperoleh skor sesuai KKM sebanyak 13 atau 61,9% dengan rata-rata skor 64,2. adapun responden yang mendapat skor sikap (KI1 dan K12) dengan katagori sangat baik (SB) sebanyak 2 orang atau 9,52 %, dengan kategori baik (B) sebanyak 12 orang atau 57,14 %, kategori cukup (C) sebanyak 7 orang atau 33 %.sedangkan Kurang (k) 0 orang atau 0 % dengan tingkat ketuntasan minimal 75 % siswabersikap baik sebesar 66,6 % . Hasil refleksi ini dijadikan bahan diskusi dengan teman sejawat, dan diambil kesepakatan untuk melaksanakan perbaikan siklus kedua.

SIKLUS II

Dari hasil observasi siklus II yang meliputi, pengetahuan , ketrampilan, dan sikap diperoleh skor tingkat ketuntasan sebagai berikut:

No Penilaian Pra Siklus Siklus I Siklus II
Jml Skor Rata-rata Skor Tuntas Jml Skor Rata-rata Skor Tuntas Jml Skor Rata-rata Skor Tuntas
1 Pengetahuan (K13) 1230.0 45,6 9 1420 52,6 12 1570 74,76 17
2 Ketrampilan (K14) 1109.4 52,83 8 1348,6 64,2 13 1934 71,64 18
3 Sikap

(K11 dan K12)

1268.7 60,42 11 1387,7 66,07 14 1525 72,62 19

Hasil yang diperoleh sebagian besar siswamenunjukkan peningkatan dan ketrampilan serta peningkatan sikap yang lebih baik dibandingkan dengan pada saat observasi awal sebelum tindakan. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan ketrampilan sikap dan tingkat ketuntasan belajar siswa meningkat.

Berdasarkan hasil observasi terhadap pelaksanaan tindakan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia kompetensi dasar menggali isi dan amanat pantun menggunakan alat peraga kartu kata pada siklus II, adalah sebagai berikut: sekor pengetahuan (K13) jumlah siswa yang memperoleh skor sesuai KKM sebanyak 17 orang atau dengan prosentase ketuntasan secara klasikal sebesar 80,95 % dengan rata-rata skor 74,76 atau 74,76 %. Responden yang memperoleh skor Ketrampilan (K14) jumlah siswa yang memperoleh skor sebanyak 17 atau 80,95 % dengan rata-rata skor 71,64 atau 71,64 %.; adapun responden yang mendapat skor sikap (K11 dan K12) dengan katagori Sangat Baik (SB) sebanyak 4 siswa atau 14,81 %, dengan kategori baik (B) sebanyak 21 siswa atau 77,78%, kategori Cukup (C) sebanyak 2 atau 7 %. dengan tingkat ketuntasan sebanyak 92,59 % .

Hasil refleksi ini dijadikan bahan diskusi dengan teman sejawat, dan diambil kesepakatan untuk menghentikan penelitian sampai pada siklus kedua, ataukah dilanjutkan pada siklus III.

Dengan mempertimbangkan hasil tindakan sejak pra siklus sampai dengan akhir siklus II dan telah mencapai indikator kinerja yang telah ditentukan sebelumnya maka kegiatan tindakan dihentikan pada siklus II

PEMBAHASAN

Adapun peningkatan skor ketrampilan siswa berdasarkan hasil observasi awal, siklus I dan siklus II sebagai berikut:

No Nama Siswa Skor Sikap (Spiritual/Sosial) Jml Skor Skor Akhir Tiap Siklus T/BT
I II Pra I II
1 A 70.83 75 145.83 62.50 93.75 90.63 T
2 B 70.83 75 145.83 46.88 62.50 37.50 TT
3 C 75 75 150 62.50 90.63 96.88 T
4 D 62.5 70.83 133.33 75.00 62.50 75.00 T
5 E 66.67 62.5 129.17 25.00 53.13 53.13 TT
6 F 62.5 62.5 125.00 65.63 62.50 68.75 T
7 G 62.5 66.67 129.17 31.25 65.63 71.88 T
8 H 54.17 83.33 137.50 56.25 81.25 81.25 T
9 I 54.17 66.67 120.83 65.63 93.75 93.75 T
10 J 79.17 79.17 158.33 15.63 90.63 90.63 T
11 K 54.17 70.83 125.00 40.63 68.75 68.75 T
12 L 75 75 150.00 68.75 78.13 78.13 T
13 M 58.33 66.67 125.00 71.88 50.00 50.00 TT
14 N 66.67 66.67 133.33 25.00 75.00 75.00 T
15 O 79.17 87.50 166.67 68.75 50.00 50.00 TT
16 P 62.5 62.50 125.00 28.13 65.63 65.63 T
17 Q 70.83 70.83 141.67 56.25 53.13 68.75 T
18 R 83.33 83.33 166.67 71.88 59.38 71.88 T
19 S 41.67 75 116.67 84.38 93.75 93.75 T
20 T 62.5 75 137.50 62.50 71.88 71.88 T
21 U 75 75 150.00 25.00 40.63 68.75 T
Jumlah 1388 1525 1065.6 1818.7 1934.4 17
Rata-rata 66.07 72.62 39.47 67.36 71.64
Kategori B B Kurang sedang Baik Tinggi

Tabel 4.8. Peningkatan ketrampilan Siswa Berdasarkan Hasil Observasi

pada Skor Awal, Siklus I, dan Siklus II

Dari data tabel diatas dapat dilihat peningkatan skor ketrampilan siswa berdasarkan hasil observasi mulai dari skor awal (Pra Siklus) sebelum dilakukan tindakan dan setelah dilakukan tindakan pada Siklus I dan siklus II. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar Grafik 4.3 :

Gambar 4.3 . Grafik Skor Peningkatan ketrampilan Siswa

Dari data pada grafik diatas, maka dapat dilihat peningkatan Skor ketrampilan siswa dalam perbaikan tindakan membuat pantun dari awal sebelum dilakukan tindakan yaitu 38 ,10 % kategori kurang ,meningkat pada siklus I menjadi 61,90 kategori sedang, dan terjadi peningkatan kembali pada siklus II menjadi 80,95 kategori tinggi. Dari hasil yang terdapat pada tabel di atas menunjukkan terjadi peningkatan ketrampilan kelas 5 SD Negeri 1 Tipar dalam membuat pantun. Terbukti sesuai dengan teori Pembelajaran abad 21 secara sederhana diartikan sebagai pembelajaran yang memberikan cakapan abad 21 kepada siswa, yaitu 4C yang meliputi: (1) Communication (2) Collaboration, (3) Critical Thinking and problem solving, dan (4) Creative and Innovative.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

  1. Penggunaan Alat Peraga Kartu Kata dapat meningkatkan ketrampilan siswa membuat pantun di Kelas 5 Semester I SD Negeri I Tipar Tahun Pelajaran 2019/2020”.
  2. Setelah digunakan alat paraga kartu kata ketrampilan siswa membuat pantun di Kelas 5 Semester I SD Negeri I Tipar Tahun Pelajaran 2019/2020 mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari perolehan nilai rata-rata siswa pada kondisi awal kemampuan dan ketreampilan siswa dalam membuat pantun. Pada kondisi awal pra penelitian dari 21 siswa, bahwa siswa yang memperoleh jumlah sekor pengetahuan (K13) sesuai KKM sebanyak 9 siswa dengan rata-rata skor 45,6 atau 45,6 % ,sedangkan 12 siswa atau 54,4 % belum mencapai kriteria ketuntasan minimum yang telah ditetapkan oleh guru yaitu 65, Siswa yang memperoleh skor Ketrampilan (K14) jumlah siswa yang memperoleh skor sesuai KKM sebanyak 8 dengan rata-rata skor 52,83 atau 52,83 %.. sedangkan 13 siswa atau 54,4 % belum mencapai kriteria ketuntasan minimum yang telah ditetapkan oleh guru yaitu 65. Adapun responden yang mendapat skor sikap (KI1 dan K12) dengan katagori minimal baik (B) sebanyak 11 orang atau 52,4 %,
  3. Pada siklus I kemampuan siswa meningkat, namun belum maksimal.. Siswa yang mengalami ketuntasan dengan memperoleh nilai sesuai dengan KKM yakni : siswa yang memperoleh jumlah sekor pengetahuan (K13) sesuai KKM sebanyak 12 orang atau rata-rata skor 52,6 atau 52,6 %. , siswa yang memperoleh skor Ketrampilan (K14) sesuai KKM sebanyak 13 atau rata-rata skor 64,2 atau 64,2 %. adapun siswa yang mendapat skor sikap (KI1 dan K12) dengan kategori minimal baik (B) sebanyak 114 orang atau 66,67 %,
  4. Pada siklus II sekor pengetahuan (K13) jumlah siswa yang memperoleh skor sesuai KKM sebanyak 17 orang atau dengan rata-rata skor 74,76 atau 74,76 %. Siswa yang memperoleh skor Ketrampilan (K14) sesuai KKM sebanyak 18 rata-rata skor 71,64 atau prosentase ketuntasan 85,71 %.; adapun siswa yang mendapat skor sikap (K11 dan K12) dengan katagori minimal Baik (B) 19 siswa atau 90,48% .Dilhat dari ketercapaian ketuntasa hasil belajar memuat pantun dapat dilihat peningkatan Skor ketrampilan siswa dalam perbaikan tindakan membuat pantun dari awal sebelum dilakukan tindakan yaitu 38 ,10 % kategori kurang , ,meningkat siklus I menjadi 61,90 kategori sedang, dan terjadi peningkatan kembali pada siklus II menjadi 80,95 kategori tinggi. Dari hasil yang terdapat pada tabel di atas dengan menggunakan alat peraga kartu kata menunjukkan terjadi peningkatan ketrampilan kelas 5 SD Negeri 1 Tipar dalam membuat pantun..

SARAN

  1. Seorang guru sebagai penyaji materi pembelajaran hendaknya selalu tanggap dan cepat mencari solusi untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di dalam proses pembelajaran.
  2. Hendaknya guru memilih alat bantu pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang akan dipelajari siswa.
  3. Pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia tema menggalai isi dan amanat pantun yang disajikan secara lesan dan tulis dengan tujuan untuk kesenangan sebaiknya menggunakan alat peraga kartu kata, agar siswa tidak bosan dan lebih tertarik untuk mengikuti pelajaran.
  4. Guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga kartu kata agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
  5. Guru harus dapat mencari solusi untuk meningkatkan minat dan motivasi dan keaktifan siswa agar lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran.
  6. Kreativitas guru dalam mencari solusi untuk masalah pembelajaran harus lebih ditingkatkan agar pembelajaran lebih bermutu.
  7. Penjelasan guru tentang materi pembelajaran harus dapat ditangkap oleh siswa.

BIO DATA PENULIS

Nama : Tohidin, S.Pd.

NIP : 19640617 198803 1 012

Unit Kerja : SD Negeri 1 Tipar

You cannot copy content of this page