Iklan

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENJELASKAN DAN MENYAJIKAN LAPORAN TENTANG TEKS INSVESTIGASI MELALUI PENDEKATAN SAINTIFIK MODEL KOOPERATIF TEKNIK GROUP INSVESTIGATION DI KELAS VI SEMESTER 1 SD NEGERI SUKAREJA 01 TAHUN 2020/2021

Sutarno, S.Pd.

ABSTRAK

Pembelajaran Tematik Terpadu disamping menerapkan pendekatan Saintifik, guru senantiasa dapat memilih model pembelajaran yang tepat untuk digunakan menyajikan suatu materi. Sebagai upaya memperbaiki prestasi belajar siswa guru dapat memilih dan menggunakan model pembelajaran, dalam penelitian ini peneliti akan menerapkan model pembelajaran kooperatif teknik Group Insvestigation. Penelitian dilakukan pada semester I. Tujuan penelitian ini adalah untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Menjelaskan dan Menyajikan Laporan tentang Teks Insvestigasi Melalui Pendekatan Saintifik Model Kooperatif Teknik Group Insvestigation di Kelas VI Semester 1 SD Negeri Sukareja 01 Tahun Penelitian dilakukan pada semester I tahun pelajaran 2020/2021 yaitu pada Bulan Juli 2020 sampai dengan Bulan November 2020. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan subyeknya siswa kelas VI SD Negeri Sukareja 01 Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes, Semester I tahun pelajaran 2020/2021 dengan jumlah 25 siswa terdiri dari 14 laki-laki dan 11 perempuan. Penelitian ini terdiri dari dua siklus dengan masing-masing siklus meliputi: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refeksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Saintifik model Pembelajaran Kooperatif Teknik Group Insvestigation (GI)dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menjelaskan dan menyajikan laporan tentang teks insvestigasi kelas VI SD Negeri Sukareja 01 Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes, Hal ini tampak pada peningkatan nilai rata-rata kelas dan prosentase ketuntasan belajar, mulai dari kondisi awal sampai siklus II, yakni untuk penilaian aspek pengetahuan dari nilai rata-rata kelas 58 di kondisi awal meningkat menjadi 70 di siklus I dan 80 di siklus II, serta kentuntasan belajar 31,43 % pada kondisi awal menjadi 71 % di siklus I dan 80 % di siklus II.begitu pula nilai aspek keterampilan mengalami peningkatan. Saran yang diberikan adalah dalam menyajikan pembelajaran tematik terpadu dengan pendekatan saintifik hendaknya guru dapat memilih strategi atau model pembelajaran yang tepat atau cocok dengan materi.

Kata kunci: Saintifik, Pembelajaran Kooperatif, Group Insvestigation, kemampuan siswa, Hasil Belajar

PENDAHULUAN

Dalam pembelajaran tematik terpadu di Kelas VI SD Negeri Sukareja 01 tema 2 Persatuan dalam Perbedaan, subtema 1 Rukun dalam Perbedaan pada pembelajaran 1 terdiri dari beberapa muatan pelajaran yang terintegrasi, yaitu : muatan IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan PPKn. Penyajian pelajaran disajikan secara tematik terpadu menerapkan pendekatan saintifik, dan penilaian autentik. Dari hasil penilaian akhir pembelajaran ternyata nilai setiap kompetensi dasar untuk setiap muatan belum mencapai hasil yang optimal, terutama untuk muatan Bahasa Indonesia kompetensi dasar 3.1 Menggali informasi dari teks laporan investigasi tentang ciri khusus makhluk hidup dan lingkungan, serta campuran dan larutan dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku. 4.1 Mengamati, mengolah, dan menyajikan teks laporan investigasi tentang ciri khusus makhluk hidup dan lingkungan, serta campuran dan larutan secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku, indikator 3.1.1 Menjelaskan informasi penting tentang ciri khusus tumbuhan setelah melakukan kegiatan petualangan, 4.1.1 Menyajikan teks laporan setelah melakukan kegiatan petualangan di sekitar sekolah. Untuk KD 3.1 nilai rata-rata kelas hanya mencapai 56,00 dan KD 4.1 hanya mencapai 48,00.

Dari permasalahan tersebut peneliti berdiskusi dengan guru-guru SD Negeri Sukareja 01, bahwa rendahnya nilai muatan Bahasa Indonesia perlu di adakan perbaikan. Setelah peneliti merefleksi hasil pembelajaran ternyata rendahnya nilai muatan Bahasa Indonesia KD 3.1 Indikator 3.1.1 dan KD 4.1 Indikator 4.1.1 disebabkan, diantaranya antara lain; a) Guru masih kesulitan menyajikan pembelajaran tematik terpadu karena barang baru, b) pembelajaran tematik terpadu menuntut korelasi muatan pembelajaran, berbeda dengan kurikulum 2006 yang alokasi waktu khusus untuk satu mata pelajaran; c) siswa belum terbiasa dengan pembelajaran tematik terpadu,sehingga aktivitas siswa berkurang, d) Bahan atau materi ajar (buku paket untuk siswa) masih terbatas; e) penyajian pembelajaran masih berpusat pada guru; f) guru belum sepenuhnya menerapkan pendekatan saintifik dan model pembelajaran apa yang digunakan.

Dari indetifikasi permaslahan tersebut memicu peneliti untuk segera memperbaiki pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Berdasar dari permasalahan dan identifikasi masalah di atas, maka peneliti bersama teman sejawat, akan melakukan penelitian tindakan kelas dengan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah cara meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran tematik terpadu yang telah dilaksanakan?
  2. Apakah penerapan pendekatan Saintifik dengan Model Kooperatif Teknik Group Insvestigation dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada muatan pembelajaran Bahasa Indonesia Kompetensi Dasar 3.1 Indikator 3.1.1 Menjelaskan informasi penting tentang ciri khusus tumbuhan setelah melakukan kegiatan petualangan, dan Kompetensi dasar 4.1 indikator 4.1.1 Menyajikan teks laporan setelah melakukan kegiatan petualangan di sekitar sekolah di Kelas VI Semester 1 tahun pelajaran 2020/2021?

Untuk dapat menjawab rumusan masalah di atas, maka peneliti akan melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas dengan merencanakan 2 siklus perbaikan pembelajaran. Adapun fokus perbaikan pada muatan pembelajaran Bahasa Indonesia, yakni KD 3.1 dan KD 4.1. direncanakan solusi untuk mengatasi masalah rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa untuk KD 3.1 dan 4.1 , peneliti akan berupaya untuk menyajikan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan Saintifik Model Kooperatif Teknik Group Insvestigation. Hal ini dilakukan agar aktifitas serta hasil belajar meningkat secara signifikan.

Tujuan Penelitian

Meningkatkan hasil belajar siswa pada muatan pembelajaran Bahasa Indonesia, yakni mampu menjelaskan dan menyajikan laporan tentang teks hasil insvestigasi.

Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Bagi Siswa :
  2. Membiasakan siswa untuk belajar dengan pembelajaran tematik terpadu
  3. Siswa akan lebih aktif dalam mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi, dan mengomunikasikan.
  4. Kemampuan siswa dalam menjelaskan serta menyajikan tentang teks hasil insvestigasi meningkat.
  5. Manfaat Bagi Guru/Peneliti
  6. Guru akan terbiasa dan mampu menyajikan pembelajaran tematik terpadu secara maksimal.
  7. Kreativitas guru akan meningkat dalam memilih dan menerapkan model-model atau strategi pembelajaran yang tepat.
  8. Kompetensi profesional guru akan terus berkembang, dalam pengembangan karya ilmiah.
  9. Manfaat Bagi Sekolah
  10. Sekolah akan memiliki guru-guru yang cakap secara profesional
  11. Kualitas pendidikan akan meningkat, karena didukung oleh tenaga pendidik yang profesional
  12. Laporan PTK dapat dijadikan bahan referensi dan menambah koleksi perpusatkaan sekolah.

LANDASAN TEORI

Pembelajaran Tematik Terpadu (Materi Pelatihan Implementasi Kurikulum Jenjang Sekolah Dasar Tahun 2020)

Pengertian Pembelajaran Tematik Terpadu

Pembelajaran tematik terpadu merupakan salah satu model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik. Pembelajaran terpadu didefinisikan sebagai pembelajaran yang menghubungkan berbagai gagasan, konsep, keterampilan, sikap, dan nilai, baik antar mata pelajaran maupun dalam satu mata pelajaran. Pembelajaran tematik memberi penekanan pada pemilihan suatu tema yang spesifik yang sesuai dengan materi pelajaran, untuk mengajar satu atau beberapa konsep yang memadukan berbagai informasi.

Pendekatan Saintifik

Penerapan pendekatan saintifik dalam Kurikulum 2013 menggunakan modus pembelajaran langsung (direct instructional) dan tidak langsung (indirect instructional). Pembelajaran langsung adalah pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan menggunakan pengetahuan peserta didik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP. Dalam pembelajaran langsung peserta didik melakukan kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan. Pembelajaran langsung menghasilkan pengetahuan dan keterampilan langsung, yang disebut dengan dampak pembelajaran (instructional effect). Pembelajaran tidak langsung adalah pembelajaran yang terjadi selama proses pembelajaran langsung yang dikondisikan menghasilkan dampak pengiring (nurturant effect). Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan pengembangan nilai dan sikap yang terkandung dalam KI-1 dan KI-2. Hal ini berbeda dengan pengetahuan tentang nilai dan sikap yang dilakukan dalam proses pembelajaran langsung oleh mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti serta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Pengembangan nilai dan sikap sebagai proses pengembangan moral dan perilaku, dilakukan oleh seluruh mata pelajaran dan dalam setiap kegiatan yang terjadi di kelas, sekolah, dan masyarakat.

Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik

Pendekatan saintifik meliputi lima pengalaman belajar sebagaimana tercantum dalam tabel berikut.

  1. Mengamati (observing)
  2. Menanya (questioning)
  3. Mengumpulkan Informasi/Mencoba (experimenting)
  4. Mengasosiasi/ Mengolah Informasi (associating)
  5. Mengomunikasikan (communicating)

Model Pembelajaran Kooperatif (Dr. Rusman, M.Pd. 2010)

Menurut Slavin (2007) pembelajaran kooperatif menggalakan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Model pemeblajaran ini ini dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme yang lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky. Berdasarkan penelitian Piaget yang pertama dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak (Ratna, 1988:181).

Dalam model pembelajaran kooperatif ini guru lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak ahanya memberikan pengetahuan pada siswa tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya.

Menurut pandangan Piaget dan Vigotsky adanya hakikat sosial dari sebuah proses belajar dan juga tentang penggunaan kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan anggotanya yang beragam, sehingga terjadi perubahan konseptual.

Berkaitan dengan karya vigotsky dan penjelasan Piaget, para konstruktivisme menekankan pentingnya interaksi dengan teman sebaya, melalui pembentukan kelompok belajar. Dengan kelompok belajar memberikan kepada siswa secara aktif dan kesempatan untuk mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan siswa kepada teman akan membantunya untuk melihat sesuatu dengan lebih jelas bahkan melihat ketidaksesuaian pandangan mereka sendiri.

Insvestigasi kelompok (Group Insvestigation) (Dr. Rusman, M.Pd. 2010)

Strategi belajar kooperatif GI dikembangkan oleh Shlomo Sharan dan Yael Sharan di Universitas Tel Aviv Isral. Secara umum perencanaan pengorganisasian klas dengan menggunakan teknik koopreatif GI adalah klompok dibentuk oleh siswa itu sendiri dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopic dari kesluruhan unit materi (pokok bahasan) yang akan diajarkan, dan kemudian membuat atau menghasilkan laporan kelompok. Slanjutnya setiap kelompok mepresentasikan atau memamerkan laporannya kepada seluruh kelas, untuk berbagi dan saling tukar informasi temuan mereka (Burns, et al., tanpa tahun). Menurut Slavin (1995a), trategi kooperatif GI sebenarnya dilandasi oleh pilosofi belajar John Dewey.

Model pembelajaran kooperatif GI langkah-langkah pembelajarannya adalah :

  1. Membagi siswa ke dalam kelompok kecil yang terdiri dari ± 5 siswa;
  2. Memeberikan pertanyaan terbuka yang bersifat analitis;
  3. Mengajak setiap siswa untuk berpartisipasi dalam menjawab pertanyaan kelompoknya secara bergiliran searah jarum jam dalam kurun waktu yang disepakati.

Hakikat Menulis (Santosa Puji, dkk.2008)

Menulis dapat dianggap sebagai proses ataupun suatu hasil. Menulis merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menghasilkan sebuah tulisan. Menghasilkan karya tulis, kemudian dapat digunakan sebagai bahan pembelajran atau diserahkan kepada seseorang sebagai bukti karya ilmiah, kemudian akan dinilai , menuntut seorang penulis memahami betul arti kata menulis. Seorang penulis yang memahami dengan baik makna kata menulis akan betul-betul peduli terhadap kejelasan apa yang ditulis, kekuatan tulisan itu dalam mempengaruhi orang lain, keaslian pikiran yang hendak dituangkan dalam tulisa, kepiawaian penulis dalam memilih dan mengolah kata-kata.

Seorang penulis yang paham betul akan konsekuensi sebuah tulisan pasti akan mempertimbangkan respon yang akan diperolehnya jika tulisannya dibaca orang lain.

Dilihat dari prosesnya, menulis mulai dari suatu yang tidak tampak sebab apa yang hendak ditulis masih berbentuk pikiran, bersifat sangat pribadi. Jika penulis seorang siswa, guru hendaknya belajar merasakan kesulitan siswa yang sering dihadapi ketika menulis. Guru yang memahami kesulitan yang sering dihadapi siswanya ketika menulis akan berpendapat bahwa menulis karangan itu tidak ahrus sekali jadi. Adakalanya sebuah kalimar telah selesai ditulis, tetapi kelanjutanya sulit didapat. Jika hal ini terjadi maka guru menyarankan agar siswanya mengubah arah atau tujuan tulisnanya. Menugaskan siswa membuat karangan dengan judul tertentu disertai petunjuk-petunjuk praktis cara menulisnya adalah contoh pembelajaran menulis yang ditekankan pada hasilnya, bukan pada prosesnya.

Dilihat dari prosesnya, pembelajaran menulis menuntut kerja keras guru untuk membuat pembelajarannya dikelas menjadi kegiatan yang menyenangkan sehingga siswa tidak merasa dipaksa untuk dapat membuat sebuah karangan, atau sebuah laporan atau sebaliknya, siswa merasa senang karena diajak guru untuk mengarang atau menulis.

Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir di atas disajikan dalam bentuk bagan di bawah ini :

HIPOTESIS TINDAKAN

Diduga dengan menerapkan pendekatan saintifik model pembelajaran kooperatif teknik group insvestigation akan dapat meningkatkan aktivitas serta hasil belajar pada muatan pembelajaran Bahasa Indonnesia kompetensi dasar 3.1 indikator 3.1.1 Menjelaskan informasi penting tentang ciri khusus tumbuhan setelah melakukan kegiatan petualangan, dan Kompetensi dasar 4.1 indikator 4.1.1 Menyajikan teks laporan setelah melakukan kegiatan petualangan di sekitar sekolah.

METODOLOGI PENELITIAN

Setting atau tempat penelitian

Lokasi penelitian adalah SD Negeri Sukareja 01, Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes

Waktu Penelitian

Waktu Penelitian pada semester 1 Tahun Pelajaran 2020/2021, dari tahap perencanaan, pengjuan proposal, tahap pelaksanaan, sampai tahap pelaporan.

Peneliti dan Observer

  1. Peneliti : Sdr.SUTARNO, S.Pd.
  2. Observer : observer ditentukan dalam Rapat Dewan Guru

Kelas VI SD Negeri Sukareja 01, Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes, dengan jumlah siswa 25 terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Adapun Daftar

Karakteristik Siswa

Keberadaan siswa kelas VI SD Negeri Sukareja 01 , Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes, secara umum tergolong anak yang biasa-biasa, baik ditinjau dari segi kecerdasan (intellegensia) maupun kepribadian dan moralitasnya. Namun dari segi latar belakang keluarganya, mereka cukup beragam. Secara ekonomi keluarga mereka cukup beragam, mulai dari ekonomi kelas rendah (yang mayoritas), ekonomi menengah namun juga ada beberapa anak yang berasal dari keluarga mampu. Demikian juga latar belakang pendidikan keluarga (orang tua murid) mayoritas lulusan pendidikan dasar. Sedangkan ditinjau dari sisi kondisi sosial dan lingkungan, nampaknya banyak potensi alam yang belum dimanfaatkan secara optimal, maka dengan pendekatan pembelajaran yang peneliti terapakan ini diharapkan menambah pengalaman dan keterampilan anak dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga, sekaligus bekal pokok bagi mereka kelak sudah dewasa.

Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian Tindakan Kelas terhadap muatan pembelajaran Bahasa Indonesia materi laporan teks insvestigasi akan peneliti lakukan sampai dua siklus perbaikan. Dalam setiap siklus terdapat empat fase yang meliputi (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, dan (4) melakukan refleksi. Keempat fase tersebut direncanakan dan dilaksanakan untuk meningkatkan hasil belajar dan meningkatkan minat belajar siswa tentang pembelajaran mendeskripsikan dan menyajikan teks laporan insvestigasi.

Teknik Pengumpulan Data mengginakan Teknis Observasi, Teknis Tes dan Teknik Angket /Questioner

Teknik Pengolahan Data

Pada setiap akhir pembelajaran setiap pertemuan dan setiap siklus peneliti melakukan analisis data hasil pengamatan dan data hasil tes. Data hasil pengamatan dianalisis dengan tahapan-tahapan sebagai berikut, (1) mereduksi data, (2) menganalisis data, dan (3) melaporkan data, (Wardani, 2002:2.28).

Hasil pengolahan hasil tes tersebut digunakan untuk membuktikan hipotesis. Apabila dari hasil pengolahan data tersebut diperoleh peningkatan hasil belajar berarti hipotesis terbukti. Sebaliknya, jika tidak terjadi peningkatan hasil belajar hipotesis tidak terbukti.

Indikator Kinerja

  1. Aktivitas siswa dalam pembelajaran Tematik Terpadu menggunakan Model Kooperatif Teknik Group Insvestigation meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik.
  2. Aktivitas guru dalam pembelajaran Tematik Terpadu menggunakan Model Kooperatif Teknik Group Insvestigation meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik.
  3. 75 % siswa kelas VI SD Negeri Sukareja 01, mengalami ketuntasan belajar individual sebesar ≥ 67 dalam pembelajaran muatan Bahasa Indonesia Kompetensi Dasar 3.1 dan 4.1

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Refleksi Kondisi Awal

  • Muatan PPKn nilai rata-rata sudah mencapai KKM yaitu 79, siswa yang tuntas 22 atau 86 % dari jumlah siswa kelas VI.
  • Muatan IPS nilai rata-rata 78, siswa tuntas 19 atau 77 %
  • Muatan IPA nilai rata-rata mencapai 78, siswa tuntas 20 atau 80%
  • Muatan Bahasa Indonesia nilai rata-rata hanya mencapai 58, siswa tuntas hanya 8 siswa atau 31,43 % dari jumlah siswa kelas VI.

Dengan melihat data tersebut maka refleksi kondisi awal bahwa pada penilaian aspek pengetahuan untuk setiap muatan muatan pembelajaran menunjukkan hasil di atas KKM, hanya pada muatan Bahasa Indonesia nilai pengetahuan maupun nilai keterampilan masih di bawah KKM, yakni untuk KD 3.1 indikator 3.1.1 nilai rata-rata 58,00 sedangkan KKM ditetapkan 67,00, prosentase ketuntasan secara klasikal untuk aspek pengetahuan hanya mencapai 11 siswa atau 31,43 %.

Hasil Refleksi Siklus I

  • Untuk nilai aspek pengetahuan (KD 3.1 ) Nilai rata-rata 69,86, sedang siswa yang mengalami ketuntasan sebanyak 18 atau 71 %, siswa yang belum tuntas sebanyak 7 siswa atau 29%.
  • Untuk aspek keterampilan nilai rata-rata 63,00 dan siswa yang tuntas sebanyak 12 siswa atau 49 %, yang belum tuntas 13 siswa atau 51 %
  • Untuk aktivtas siswa dan keterampilan guru dalam menyajikan pembelajaran, menunjukkan peningkatan siswa secara individu sudah terlibat aktif walau masih ada beberapa anak yang, masih malu menanya, tidak mau mengeluarkan pendapat,. Hasil pengamatan terhadap peneliti observer menyimpulkan bahwa penyajian pembelajaran sudah sesuai dengan tahapan RPP siklus I, dan hasil penilaian kategori Baik.

Hasil Refleksi Siklus II

Dari data hasil observasi perbaikan pembelajaran Siklus II hasilnya sebagai berikut:

  • Untuk nilai aspek pengetahuan (KD 3.1 ) Nilai rata-rata 80, sedang siswa yang mengalami ketuntasan sebanyak 22 atau 86 %, siswa yang belum tuntas sebanyak 3 siswa atau 14 %.
  • Untuk aspek keterampilan nilai rata-rata 70,00 dan siswa yang tuntas sebanyak 20 siswa atau 80 %., siswa yang belum tuntas 5 siswa 20 %.
  • Untuk aktivtas siswa dan keterampilan guru dalam menyajikan pembelajaran, menunjukkan peningkatan siswa secara individu sudah terlibat aktif walau masih ada beberapa anak yang, masih malu menanya, tidak mau mengeluarkan pendapat,. Hasil pengamatan terhadap peneliti observer menyimpulkan bahwa penyajian pembelajaran sudah sesuai dengan tahapan RPP siklus I, dan hasil penilaian kategori Sangat Baik.

Peningkaan Nilai rata-rata Kelas :

Nilai rata-rata kondisi awal untuk KD 3.1 : 58,00 dan KD 4.1 : 56,25 meningkat di siklus I KD 3.1 menjadi 69,86, KD 4.1 menjadi 63,00, sampai di siklus II nilai rata-rata meningkat secara optimal KD 3.1 menjadi 80,00 dan KD 4.1 menjadi 70,00. Data tersebut peneliti sajikan dalam bentuk tabel dan diagram di bawah ini:

Tabel Peningkatan Nilai Rata-rata Kelas

Kondisi Aspek Pengetahuan KD 3.1 Aspek Keterampilan KD 4.1
Prasiklus 58,00 56,25
Siklus I 69,86 63,00
Siklus II 80,00 70,00

Peningkatan Prosentase Ketuntasan Belajar Klasikal :

Prosentase Ketuntasan Belajar di kondisi awal untuk aspek KD 3.1 siswa tuntas sebanyak 11 siswa atau 31,43 %, dan KD 4.1 hanya 11 siswayang tuntas atau 31,43 %, meningkat di siklus I KD 3.1 menjadi 25 siswa yang tuntasa atau 71 %, KD 4.1 menjadi 17 siswa yang tuntas atau 49 %, dan meningkat lagi pada siklus II KD 3.1 menjadi 30 siswa yang tuntas atau 86 %, KD 4.1 menjadi 28 siswa yang tuntas atau 80 %.

Tabel 4.4 Peningkatan Prosentase Ketuntasan Belajar

Kondisi Aspek Pengetahuan KD 3.1 Aspek Keterampilan KD 4.1
Prasiklus 31,43 % 31,43 %
Siklus I 71 % 49 %
Siklus II 86 % 80 %

Dari hasil pembahasan setiap kondisi ternyata pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas yang peneliti lakukan sampai 2 siklus perbaikan sudah dapat menjawab hipotesis dan rumusan indikator kinerja peneliti, sehingga peneliti merasa bahwa penelitian sudah di anggap selesai dan tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya. Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa dengan pendekatan Saintifik Model Kooperatif dengan teknik Group Insvestigation dapat meningkatkan aktivitas serta hasil belajar siswa pada pembelajaran tematik terpadu untuk muatan Bahasa Indonesia materi menjelaskan dan menyajiklan teks laporan hasil insvestigasi di Kelas VI SD Negeri Sukareja 01, Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes.

SIMPULAN

Dari hasil penelitian serta pembahasan pada Bab IV, dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan salah satu model pembelajaran Kooepartif yakni Group Insvestigation, maka suasana pembelajaran akan lebih menarik dan menyenangkan anak sehingga mereka aktif dalam mengikuti pembelajaran dan hasil belajar pun mengalami peningkatan, secara rinci dapat dijelaskan :

  1. Belajar sambil berpetualang, dan dengan pemberian motivasi serta penguatan pada siswa, akan lebih meningkatkan aktivitas siswa dan mengasyikan sehingga hasil belajar pun meningkat secara signifikan.
  2. Terbukti bahwa nilai rat-rata kelas dan Ketuntasan Belajar mengalami peningkatan dari mulai kegiatan pembelajaran Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II.
  3. Pendekatan Saintifik dengan Model pembelajaran Kooperatif Teknik Group Insvestigation dapat membawa situasi belajar lebih menyenangkan dan aktivitas belajar serta hasil belajar siswa meningkat.

SARAN/REKOMENDASI

Bahwa kurikulum 2013 dalam kegiatan proses pembelajaran harus menggunakan pendekatan saintifik juga pandai memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai materi yang akan disajikan, disamping itu seyogyanya guru :

  1. Harus pandai-pandai menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna.
  2. Harus lebih mengenal model-model pembelajaran dan memilih model apa yang paling tepat untuk menyajikan materi pembelajaran.
  3. Harus pandai-pandai memilih media/alat pembelajaran dengan tepat sesuai materi pembelajaran yang disajikan.
  4. Selalu memberikan bimbingan, motivasi, serta penguatan pada siswa baik secara individual maupun kelompok.
  5. Selalu menindak lanjuti disetiap akhir pembelajaran dengan memberikan Remedial dan pengayaan sebagai bahan pekerjaan rumah siswa.

Dari pengalaman penulis dalam melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), maka setidaknya guru telah melakukan penelitian terhadap kinerjanya sendiri sehingga akan mengetahui dengan pasti kelebihan serta kekurangannya sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyani Sumantri,2007. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta :Universitas Terbuka.

Udin S.Winataputra, dkk. 2007.Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta :Universitas Terbuka

Panitia Sertifikasi Guru Rayon 112. (2012) Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan Profesi Guru dalam Jabatan . Semarang : Universitas Negeri Semarang.

Dr. Rusman, M.Pd. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.

Santosa Puji, dkk. 2008. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta:Universitas Terbuka.

Sofiyanti Ai, dkk. 2020. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum.. Jakarta : Kemendikbud.

BIODATA

Nama : Sutarno, S.Pd.

NIP : 19740605 199903 1 005

Pangkat Gol/Ruang : Pembina / IV A

Jabatan : Guru Kelas

Unit Kerja : SD Negeri Sukareja 01 Kec. Banjarharja Kabupaten Brebes

You cannot copy content of this page