Iklan

MENINGKATKAN IBADAH DI TENGAH WABAH

OLEH : Nur Azizah, S.Pd.I.

Ibadah tidak hanya memiliki fungsi ritual semata, selain sebagai kewajiban, kebutuhan dan sarana membangun koneksi dengan Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Fikih ibadah merupakan pemahaman mendalam terhadap nash-nash yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang berkaitan dengan rukun-rukun dan syarat-syarat yang sah tentang penghambaan diri manusia kepada Allah SWT. Dalam fikih ibadah dikaji beberapa sistem ibadah hamba kepada Allah SWT, yaitu tentang wudhu, tayamum, istinja’, mandi janabat, shalat, zakat, puasa, haji dan dalil-dalil yang memerintahkannya. Pelaksanaan semua ibadah yang dimaksud, disertai dengan contoh yang datang dari Rasulullah SAW.

Ibadah merupakan rangkaian ritual yang dilakukan manusia dalam rangka pengabdian atau kepatuhan kepada sang Pencipta. Ibadah dalam Islam tidak hanya terbatas pada hubungan manusia dengan Allah semata, melainkan juga terdapat hubungan antara manusia dengan manusia lainnya serta antara manusia dengan alam.

Ada dua pembagian ibadah dalam Islam, yaitu ibadah mahdlah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdlah, yaitu ibadah yang berhubungan dengan penjalanan syariat Islam yang terkandung dalam rukun Islam. Contoh ibadah mahdhah antara lain sholat, zakat, puasa dan haji. Sementara ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah yang dilaksanakan umat Islam dalam hubungannya dengan sesama manusia dan lingkungannya. Ibadah ghairu mahdhah dikenal dengan ibadah muamalah

Tujuan beragama adalah menjaga agama, akal, diri, keturunan dan harta. Karena kita diperintahkan menjaga diri, maka perlu memunculkan dinamika berfikih yang sangat produktif untuk segala situasi.

Dalam situasi ini kita dapat mengingat hadis  Nabi Muhammad SAW bersabda :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Nabi pernah menganjurkan tinggal di rumah dari pada ke masjid hanya karena hujan lebat yang menakutkan. Nabi pernah berujar agar yang sakit tidak bercampur dengan yang sehat (HR. al-Bukhari dan Muslim). Rasa takut dan sakit juga diyakini sebagai uzur (alasan) untuk tidak shalat jamaah di masjid. Contoh-contoh seperti ini sejatinya dapat menjadi preseden yang baik bagi umat Islam untuk beribadah di masa wabah.

Fikih pada dasarnya telah memberi ruang yang fleksibelitas yang sangat terbuka. Kita lihat contoh  sholat, wajib dilaksanakan berdiri, tetapi jika tidak mampu maka boleh duduk, berbaring dan seterusnya. Dalam konteks wabah yang mengglobal, dibutuhkan sebuah Fikih Pandemi yang mengatur ibadah umat Islam di masa wabah seperti ini. Secara sederhana, buku ini hadir menawarkan Fikih Pandemi yang bersifat guidelines saja.

Masalah kebersihan misalnya, Fikih Pandemi dapat menghadirkan perspektif Fikih tentang thaharah atau kebersihan seperti mencuci tangan. Imbauan ahli kesehatan untuk sering mencuci tangan itu merupakan penegasan akan tradisi thaharah dalam Islam. Islam identik dengan kebersihan, bahkan diposisikan sebagai bagian dari iman. Kitab-kitab Fikih selalu diawali dengan uraian tentang thaharah (bersuci), disusul dengan uraian lainnya. Rasulullah SAW mengajarkan pola hidup bersih. Sebagai contoh, setelah bangun dari tidur, kita diminta untuk selalu mencuci tangan tiga kali sebelum mulai berwudhu, dengan dalih orang tidur tidak mengetahui posisi tangannya ketika tidur.

Ulama telah merumuskan sebuah pakem “la dharar wa la dhirar” yang menegaskan bahwa ibadah tidak boleh berbahaya bagi dirinya atau membahayakan orang lain. Apa pun yang melanggar pakem ini, mesti diatur lagi sedemikian rupa. Di masa pandemi seperti ini, dengan karakter Covid-19, maka shalat berjamaah di mesjid, dapat menjadi potensi besar tersebarnya virus mematikan ini. Karena potensi yang membahayakan diri dan orang lain, maka ulama dan pemerintah menganjurkan untuk shalat di rumah. Anjuran beribadah di rumah menjadi new normal yang sama sekali tidak menggugurkan pahala dan keutamaan berjamaah dalam ibadah. Ia bahkan mendapatkan kelebihan pahala karena kebersamaan turut menghindarkan orang lain dari bahaya.

Berhubung Pandemi Covid-19 adalah realitas global yang menerjang tatanan kehidupan umat manusia dari level internasional, hingga rumah tangga. Dan kemunculannya menyerang siapa saja yang dapat terjangkiti, tanpa memandang negara, agama, suku, kesholehan, ataupun strata sosial lainnya. Ia menjadi musuh bersama yang harus dilawan dengan cara, salah satunya, memutus mata rantai penyebarannya. Berhubung dalam peribadahan ummat Islam, banyak ritual ibadah dilakukan dengan cara berkumpul. Maka sangat rentan untuk menjangkitkan virus ini kepada orang lain. Dengan demikian, untuk kondisi saat ini, khususnya di musim pandemi Covid-19, adanya perbedaan cara ritual yang biasa dikerjakan sehari-hari, menjadi tidak bisa dilaksanakan seperti biasanya dilakukan.

Memahami karakter virus ini yang menyebar sangat mudah di keramaian dan media singgahnya. Umat Islam yang beribadah di masjid,  dapat dengan mudah terpapar Covid-19. Virus ini berpindah dan mencari  tempat baru dalam tubuh manusia melalui droplet yang keluar dari mulut dan hidung orang yang terjangkiti. Setelah keluar, ia dapat bertahan hidup hingga beberapa jam di media singgahnya seperti metal (gagang pintu, rel tangga), garmen (baju, mukena, sajadah, karpet), lantai, kulit manusia, dan sebagainya. Masjid adalah salah satu tempat berkumpulnya umat Islam yang menjalankan silaturrahmi, pengajian, shalat jamaah, shalat Jumat, shalat ‘Ied, buka puasa Bersama, dan sebagainya. Karenanya, virus ini dapat dengan mudah menulari umat Islam yang berjamaah di masjid. Pandemi ini akhirnya mempengaruhi cara pandang dan strategi keagamaan Islam untuk mengatur bagaimana umat Islam menjalankan ibadahnya di masjid. Ini juga memaksa para ulama untuk meretas sebuah Fikih ibadah perspetif Covid-19 yang buat di masa pandemi.

Beragama harus mengindahkan sains dan teknologi. Pemikiran keagamaan tidak cukup hanya berbasis pada teologi dan metafisika, tetapi juga harus berpijak pada teori empiric-positivistik yang dilahirkan dari riset terhadap hukum alam (sunnatullah). Dengan mengindahkan protocol kesehatan, berarti sudah mempercayai kebenaran ilmu pengetahuan. Begitu banyak dalil menunjukkan bahwa beribadah tanpa ilmu adalah kejahilan. Jangan sampai ibadah dilakukan dengan pikiran sempit dan bodoh dengan menolak ilmu pengetahuan.

Masih banyak ibadah yang bisa dilakukan dan dapat menambah kualitas ibadah yakni berderma (shodaqah), apalagi di musim pandemi di mana roda ekonomi berjalan lambat sehingga banyak masyarakat kecil membutuhkan uluran tangan. Bahkan, di dalam kondisi sulit seperti ini, berbuat baik bagi masyarakat terdampak pandemi, walaupun niatnya untuk pamer atau ada motif duniawi lainnya, itu tetap saja bermanfaat. Jika toh perbuatannya tidak ada nilai ibadah, tetapi doa org-orang yang ditolong itu akan  didengar langit. Hal ini lebih baik daripada hanya banyak bicara (baca: kemrutuk) tanpa melakukan apa-apa.

Setiap orang tentu berharap, badai pandemi covid-19 ini segera berlalu. Seluruh penduduk planet bumi berharap gerak roda kehidupan dunia segera normal kembali. Bagi setiap muslim tentu berharap covid-19 segera berakhir maka harus ridha atas ketetapan Tuhan. Ridha adalah sikap batin paling terpuji dan  maqam tertinggi dalam tasawuf sunni pada umumnya. Berdoa tentu diaanjrkan, bahkan diwajibkan. Namun demikian berdoa itu beda dengan afirmasi (perintah), berbbeda dengan ngatur-ngatur Tuhan. Jangan sampai seorang muslim berdoa tetapi diksi dan intonasinya malah mendikte Tuhan. Jangan sampai bersikap termehek-mehek dalam beragama, apalagi kemudian “membentak” Tuhan dalam untaian ucapan dan do’anya, akibat nafsu beribadah yang tidak disertai dengan ilmu.

Musim ibadah di musim pandemi, memerlukan kecakapan psiko-spiritual dan nalar yang lurus. Ini penting agar ibadah yang dilakukan tidak malah ikut berpartisipasi dalam menyumpang angka penularan covid-19. Agama mestinya menjadi rahmat bagi seru sekalian alam. Keinginan kuat dalam menjalankan doktrin agama yang tidak mengindahkan protokol kesehatan adalah perilaku yang melewati batas, dan hal ini justru akan menciptakan malapetaka bagi orang lain. Pray from home menjadi keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar, kualitas ibadah tetap dijaga, dan pada saat yang sama sudah melakukan jihad  melawan mafsadat.

Menyelamatkan diri dari wabah Corona adalah sebagai salah satu bentuk implementasi keimanan pada Tuhan Yang Maha Esa. Tokoh Agama atau Pemimpin umat beragama memang memiliki peran strategis untuk mengedukasi masyarakat dengan menjadi pelopor, memberi contoh dan panutan para pemeluk Agama dalam upaya preventif/pencegahan dan memutus mata rantai penyebaran covid 19.

Dalam situasi seperti ini memang peran tokoh agama sangat penting. Mereka diharapkan dapat memberikan stimulasi bagi masyarakat untuk menjaga kerukunan dalam kehidupan sehari-hari dan terus meningkatkan keimanannya mengingat suasana batin manusia disaat wabah sedang melanda sangat rentan terhadap keputusasaan yang bisa berujung pada pembangkangan terhadap ajaran-ajaran agamanya jika para tokoh agama tidak selalu mengingatkan mereka.
Salah satu hal penting yang harus dilakukan oleh para tokoh agama di tengah wabah seperti adalah terus menerus menjaga dan memperkokoh kerukunan umat beragama.

Hal ini penting dilakukan karena dengan kerukunan itu akan melahirkan kehidupan yang damai dan solidaritas yang tinggi sehingga masyarakat beragama dapat memiliki kekuatan batin dan kepercayaan diri yang kokoh sehingga terhindar dari perasaan kejiwaan yang tidak menentu atau stress.
Kesadaran akan pentingnya kerukunan umat beragama di tengah pandemi wabah covid 19 menjadi kunci untuk membangun kerukunan nasional. Jika kerukunan umat beragama terganggu, maka kerukunan nasional akan terganggu dan hal ini dapat mendistorsi perhatian pemerintah yang saat ini sedang consen menghadapi wabah mematikan ini.

Sebagai umat beragama kita dapat menyadari bahwa musibah, bencana atau wabah (termasuk kehadiran Covid 19 saat ini) jika menimpa sebuah negeri dapat dipandang dari tiga perspektif.

  1. bahwa musibah atau wabah itu merupakan ujian atas kualitas keimanan kita. Semakin kuat keimanan kita maka semakin kuat pula ujian atas keimanan tersebut. Ibarat emas itu bisa terilhat kualitas keemasannya jika dibakar.
  2. perlu disadari bahwa Allah sedang mengingatkan kita melalui wabah covid 19 ini. Manusia itu tidak berdaya dihadapan Allah dan tidak memiliki kekuatan apapun buktinya hanya dengan makhluk yang tidak kelihatan kecuali dengan alat tertentu tetapi sudah memporak-porandakan tatanan kehidupan sosial kita. Untuk itu hanya kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa kita berserah diri.
  3. bahwa kehadiran wabah covid 19 ini bisa merupakan teguran keras Sang Maha Kuasa atas kesombongan, keangkuhan dan pembengkangan kita terhadap firman-firmanNya yang telah disampaikan melalui para Nabi dan RasulNya.

DAFTAR PUSTAKA

Faried F. Saenong, dkk, Fikih Pandemi Beribadah di Masa Wabah, Jakarta, NUO PUBLISHING, 2020.

https://bdkjakarta.kemenag.go.id/berita/fikih-ibadah-perspektif-covid-19, diakses, 23 Desember 2020.

https://iain-surakarta.ac.id/%EF%BB%BFmusim-ibadah-di-musim-pandemi//.23 Desember 2020.

https://mediaindonesia.com/opini/306605/semangat-ibadah-di-tengah-pandemi-covid-19, diakses, 23 Desember 2020.

https://www.antaranews.com/berita/1428909/tetap-ibadah-di-tengah-pandemi-covid-19, diakses, 23 Desember 2020.

https://www.uii.ac.id/ramadan-di-tengah-pandemi-covid-19/23 Desember 2020.

Nama : Nur Azizah, S.Pd.I.

NIP : 19811115 201502 2 001

Pangkat / Gol : Penata Muda / IIIb

Alamat Email : nurazizah15bita@gmail.com

No HP : 085226980991

Unit Kerja : SMA Negeri ! Wangon

Judul : MENINGKATKAN IBADAH DI TENGAH WABAH

C:\Users\ACER\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\IMG-20200428-WA0001.jpg

By admin

You cannot copy content of this page