Iklan

DI BUAT OLEH LASTUTI,SPd.

C:\Users\admin\Downloads\WhatsApp Image 2021-01-11 at 12.23.46.jpegMENGATASI KEBIASAAN BURUK SISWA DI MASA PJJ

DI BUAT OLEH LASTUTI,SPd.

Sistem pendidikan jarak jauh secara umum berdasarkan pada keterpisahan antara siswa dan pengajar dalam ruang dan waktu, pemanfaatan (paket) bahan ajar yang dirancang dan diproduksi secara sistematis, adanya komunikasi tidak terus-menerus (non-contiguous) antara siswa dengan siswa, tutor, dan organisasi pendidikan melalui beragam media serta adanya penilaian dan pemantauan yang intensif dari organisasi pendidikan. Dengan adanya pandemi Covid-19, pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilakukan bukan karena mau tapi karena terpaksa. Daripada tidak belajar sama sekali, maka mencoba berbagai macam cara. Walaupun tidak optimal tetapi PJJ adalah pilihan. Dan kita tidak tahu PJJ sampai kapan. Apabila di kemudian hari terjadi lagi maka kita dapat melakukan PJJ dengan berbagai cara melalui pengalaman saat ini.

Berdasarkan Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020, proses belajar dari rumah dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

Belajar dari Rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.

Belajar dari Rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19.

Aktivitas dan tugas pembelajaran Belajar dari Rumah dapat bervariasi antar siswa. Sesuai minat dan kondisi masing-masing. Termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah.

Bukti atau produk Belajar dari Rumah diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna bagi guru. Tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif.

Pengertian distence learning atau PJJ menurut Simon Midglay adalah “cara belajar jarak jauh tanpa harus melakukan kontak langsung dengan guru di kelas.” PJJ menurut Wikipedia adalah “pendidikan formal berbasis lembaga yang peserta didik dan instrukturnya berada di lokasi terpisah sehingga memerlukan sistem telekomunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya dan berbagai sumber daya yang diperlukan di dalamnya.”

Perbedaan antara PJJ dengan pembelajaran daring adalah :

1. Lokasi

Dalam pembelajaran daring, siswa dapat bersama-sama di kelas dengan guru sambil bekerja melalui pembelajaran dan penilaian berbasis digital. Sedangkan pada pembelajaran jarak jauh, siswa bekerja secara daring di rumah.

2. Interaksi

Dalam pembelajaran daring akan melibatkan interaksi langsung antara guru dan siswa secara teratur. Karena pembelajaran digunakan sebagai teknik pembelajaran campuran dengan strategi pengajaran lainnya. Sedangkan pembelajaran jarak jauh tidak termasuk interaksi langsung antara guru dan siswa. Walaupun menggunakan komunikasi digital seperti aplikasi perpesanan, panggilan video, papan diskusi, dan sistem manajemen pembelajaran (LMS).

3. Tujuan

Dalam pembelajaran daring dirancang untuk digunakan dalam kombinasi dengan metode pengajaran langsung lainnya. Untuk memberikan berbagai kesempatan dan pengalaman belajar bagi siswa. Sedangkan pembelajaran jarak jauh adalah metode untuk menyampaikan instruksi pembelajaran secara daring atau korespondensi bukan sebagai variasi dalam mengajar.

Yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah menentukan langkah-langkah PJJ adalah:

Buka Silabus, KI/KD, Analisis materi apa saja yang bisa diprioritaskan untuk peserta didik

Menentukan metode yang paling pas untuk dapat mengukur kemampuan peserta didik dalam memahami materi dan bahan yang telah disediakan

Teknologi apa yang tepat untuk digunakan dengan mempertimbangkan kondisi geografis dan akses peserta didik

Merencanakan aktivitas dan interaksi sosial peserta didik yang efektif dan menyenangkan

Berikan penugasan berupa penerapan mendalam dan feedback terhadap materi yang sudah dipelajari

Di sekolah kami, siswa sudah terbiasa dengan media daring. Mereka sudah memiliki kelas Schoology. Penilaian harian, PAS, dan PAT daring menggunakan Google Form. Siswa hanya merasa bosan, mereka rindu guru, kelas, dan sekolah. Keluhan lainnya tidak punya kuota, gawai, dan laptop. PPJ akan menyenangkan jika guru dapat menentukan metode, model dengan tepat. Memilih model-model PJJ dan daring dengan melibatkan siswa. Guru memberikan pilihan kepada siswa. Pilihan dapat berupa media tatap muka melalui aplikasi Webex. Diskusi melalui WAG, memberikan materi dan penugasan melalui kelas maya Schoology atau divariasikan. Setelah terjadi kesepakatan tentang media yang digunakan, kemudian guru merencanakan dan membuat penugasan yang menyenangkan.

Pada RPP KD. 3.7 mendeskripsikan konsep badan usaha dalam perekonomian, kelas X IPS/semester 2, model PJJ yang digunakan adalah Cisco Webex, Schoology.Com, Google Form dan Teka Teki Silang (TTS). Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi, tanya jawab dan penugasan. Guru membuat Room Meeting pada Webex untuk menentukan waktu, nomor ruang dan Password melalui Flyer sebagai undangan. Jadwal belajar diinformasikan melalui WAG sehari sebelum pelaksanaan PJJ. Undangan ini ditanggapi positif oleh siswa, karena dapat melepas rindu, dan bertatap muka dengan teman-temannya.

Pada kegiatan pendahuluan di Webex, guru saling sapa dan menanyakan kabar kesehatan siswa. Tidak lupa mengingatkan prosedur Covid-19. Pada kegiatan inti, guru menayangkan materi berupa presentasi dan video tentang BUMN, BUMS dan BUMD. Guru mengajak siswa untuk diskusi secara aktif. Mereka diijinkan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan dari teman-temannya.

Pada tahap penutupan guru dan siswa menarik kesimpulan setelah bisa dipastikan mereka memahami materi yang dibahas. Guru membagikan presensi berupa angket tentang refleksi serta umpan balik PJJ melalui Google Form. Siswa diminta menanggapi tentang kejelasan materi yang disampaikan, kualitas suara yang bisa mereka tangkap, kesesuaian model yang digunakan, dan saran PJJ untuk pertemuan berikutnya.

Guru mengingatkan kepada siswa untuk masuk ke dalam kelas maya mereka di Schoology. Mereka dapat mengunduh materi dan penugasan yang sudah disiapkan sesuai KD. Agar tidak bosan dan monoton tugas dibuat dalam bentuk Teka Teki Silang (TTS). TTS yang sudah diisi, dikumpulkan dalam bentuk foto. Cara pengisiannya dibebaskan, boleh menggunakan pulpen, boleh di ketik pada gawai atau laptop. Tugas dikirimkan ke kantong tugas di kelas maya Schoology.

Keunggulan dengan menggunakan Webex adalah siswa dapat berinteraksi langsung dengan guru. Siswa dapat mengurangi rasa bosan dan lebih memahami materi yang disampaikan guru. Keunggulan Schoology adalah siswa dapat mengunggah materi dan mengirimkan tugas dengan mudah. Guru dapat mengelola aktivitas penugasan dan penilaian siswa. Keunggulan Google Form adalah guru dapat mengontrol kehadiran siswa dan memperoleh respon dengan cepat. Hasil umpan balik yang diperoleh saat pembelajaran adalah 47% peserta didik memahami materi, 49% kualitas suara guru bisa di dengar dengan jelas. Saran untuk PJJ berikutnya tetap menggunakan tatap muka melalui Webex, dengan harapan kualitas suara lebih baik lagi.

Berikut beberapa cara agar anak disiplin belajar di rumah.

1. Menjelaskan situasi
Jelaskan situasi yang terjadi saat ini pada anak mengenai social distancing dan aktivitas di rumah. Berikan pemahaman bahwa anak tetap harus belajar di rumah.
Jelaskan bahwa belajar di rumah merupakan salah satu bentuk pencegahan penularan virus corona. Tempat ramai seperti sekolah dan juga ruang publik lainnya dapat meningkatkan potensi penularan virus.
2. Konsultasi dengan guru
Psikolog Personal Growth Gracia Ivonika menyarankan agar orang tua selalu aktif berkonsultasi dengan guru di sekolah. Tanyakan pada guru mengenai materi yang harus dipelajari anak, metode pembelajaran, serta tugas yang harus dikerjakan.
“Orang tua juga perlu berkoordinasi aktif dengan pihak sekolah,” kata Ivonika kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
Beri tahu pula perkembangan anak selama belajar di rumah agar guru dapat mengantisipasi langkah pembelajaran selanjutnya.

 

3. Buat jadwal teratur
Libur sekolah bukan berarti bisa berleba-leha. Jelaskan pada anak situasi yang terjadi bahwa sekolah tetap berlangsung dan hanya dipindahkan ke rumah. Oleh karena itu, buat lah jadwal yang teratur seperti kegiatan di sekolah.
Jadwal ini bisa mengikuti jadwal belajar anak di sekolah atau membuat jadwal belajar baru yang lebih fleksibel. Misalnya, seperti bangun pagi yang teratur, mandi, sarapan, belajar, istirahat dan bermain, dan belajar hingga waktu yang ditentukan, aktivitas bebas, mandi, dan tidur.
Beri tahu anak untuk disiplin mengikuti jadwal tersebut. Jelaskan pula orang tua akan terus memantau kegiatan belajar anak.
4. Belajar dan bekerja bersama
Aktivitas orang tua yang harus bekerja dari rumah bisa digabungkan dengan belajar bersama anak. Anak akan merasa lebih adil dan terpacu untuk belajar ketika orang tua juga ikut bekerja bersama. Jangan sampai anak diminta untuk belajar tapi orang tua justru bergosip atau menonton drama.
5. Bantu anak belajar
Bantu pula anak untuk memahami materi yang dipelajari. Jelaskan dengan baik kepada anak tentang apa yang orang tua pahami. Jika tidak mengerti materi pembelajaran, jangan sungkan untuk bertanya pada guru atau mencari sumber yang tepat untuk menjelaskan materi pada anak.
6. Manfaatkan media pembelajaran daring (online)
Orang tua juga bisa menerapkan media pembelajaran secara daring yang sudah disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta sejumlah lembaga yang memberikan akses secara gratis seperti Zenius dan Ruang Guru.
Manfaatkan metode pembelajaran ini sebaik mungkin untuk mendapatkan video dan gambar sesuai dengan materi yang dibutuhkan anak.
7. Suasana yang nyaman
Buat suasana yang nyaman untuk bekerja dan belajar di rumah. Beraktivitas di rumah berarti memiliki kebebasan dan keleluasaan untuk bereksplorasi. Orang tua bisa mengajak anak belajar di ruang keluarga atau pekarangan rumah untuk mendapatkan udara yang terbuka.
Menggunakan benda tambahan seperti bantal dan menyiapkan makanan ringan juga bisa dilakukan agar anak betah belajar.
8. Selingi dengan aktivitas yang menyenangkan
Agar tidak membosankan, selalu siapkan aktivitas yang menyenangkan bersama anak. Aktivitas ini dapat pula menjadi hadiah atau imbalan ketika anak menyelesaikan sebuah tugas atau materi.
Aktivitas yang menyenangkan misalnya bermain video game dan menonton film. Jangan lupa untuk mengajak anak beraktivitas fisik dan berolahraga selama berkegiatan di rumah.

Dinamika Pembelajaran Jarak Jauh di Era Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak wabah Coronavirus menghantam Indonesia, pemerintah memberlakukan berbagai peraturan ketat untuk mencegah penularan yang lebih meluas lagi. Salah satunya kebijakan bagi dunia pendidikan yakni pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh ini merupakan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, khususnya Kemendikbud dan Kemenristek/BRIN, untuk mencegah penyebaran COVID-19 di sekolah dan kampus.

Pembelajaran Jarak Jauh dirancang agar siswa/mahasiswa bisa belajar secara virtual dengan memanfaatkan teknologi informasi. Biasanya siswa bertemu denga guru pada jam pembelajaran yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah. Selain itu, siswa juga diberikan tugas secara mandiri yang harus dikumpulkan kepada guru. Tidak hanya proses pembelajaran yang dilakukan secara virtual, proses ujian pun dilakukan secara virtual. Sekolah biasanya menggunakan aplikasi pertemuan virtual seperti Zoom dan Google Meet saat proses pembelajaran. Oleh karena itu, siswa dan guru sangat memerlukan peralatan IT seperti laptop dan smartphone dalam proses pembelajaran. Tak lupa, kuota atau wifi juga diperlukan agar proses pembelajaran secara virtual bisa berjalan dengan baik.

Meskipun Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dilaksanakan untuk mencegah penyebaran COVID-19, namun bukan berarti pembelajaran ini bebas hambatan. Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, dan Perbukuan Kemendikbud Totok Supriyanto mengatakan bahwa pandemi virus Corona membuat hambatan belajar (Pikiran Rakyat, 9 Juli 2020). Hal ini karena semua tidak bisa belajar secara tatap muka di kelas, tapi harus belajar di rumah dengan menggunakan teknologi informasi. Padahal tidak semua guru dan siswa memiliki kemampuan yang memadai untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Bukan hanya persoalan kemampuan finansial dan kepemilikan alat IT, namun juga masalah kemampuan dalam mengoperasikan aplikasi-aplikasi untuk proses pembelajaran virtual. Pembelajaran jarak jauh telah memaksa dunia pendidikan beradaptasi dengan teknologi informasi serta berbagai platform digital untuk mendukung proses pembelajaran. Namun sayangnya kondisi di lapangan yang sangat beragam tentunya menjadi kendala tersendiri dalam pelaksanaan PJJ, terutama masalah sarana dan prasarana serta kualitas SDM.

Sebelum masa pandemi virus corona, kualitas guru di Indonesia masih belum merata. Di tahun 2013, dari 2,92 juta guru, baru sekitar 51% yang berpendidikan S-1 atau lebih, sedangkan sisanya belum berpendidikan S-1. Begitupun persyaratan sertifikasi hanya 2,06 juta guru atau sekitar 70,5% guru yang memenuhi syarat (Antaranews, 27 September 2013). Kemudian di tahun 2017 dari 3,9 juta guru sebanyak 25 persen masih belum memenuhi syarat kualifikasi akademik dan 52 persen guru belum memiliki sertifikat profesi. Sementara, dalam menjalankan tugasnya seorang guru harus memiliki empat kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Namun keempat kompetensi ini masih dinilai rendah pada guru-guru di Indonesia (Republika.co.id, 18 April 2019). Ditambah dengan adanya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini sehingga para guru wajib memiliki kemampuan IT seperti menggunakan laptop dan smartphone dengan berbagai aplikasi yang diperlukan untuk proses pembelajaran. Namun masalahnya, tidak semua guru memiliki kemampuan tersebut dan mampu mempelajari hal-hal tersebut secara cepat, terutama guru-guru yang berada di wilayah terpencil, tertinggal, dan terbelakang. Lain halnya dengan guru-guru yang di wilayah perkotaan atau dosen-dosen universitas yang umumnya lebih mampu menggunakan alat-alat IT dan aplikasi-aplikasi yang mendukung pembelajaran.

Bukan hanya masalah kualitas guru yang belum merata, kemampuan siswa untuk mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) juga menjadi salah satu hambatan dalam proses pembelajaran. Sebagian anak sulit memahami tugas dari guru karena tidak bisa berkomunikasi dengan guru secara langsung. Meskipun terdapat kelas virtual yang telah ditentukan waktunya sesuai dengan jadwal, namun ada juga guru yang lebih memilih untuk memberikan tugas karena lebih praktis. Pemberian tugas didominasi dengan pengerjaan latihan soal. Masalah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) juga dirasakan oleh para orangtua. Orangtua merasa kesulitan mendampingi anak saat belajar di rumah. Terutama bagi orangtua yang melakukan Work From Home (WFH), mereka harus bekerja sambil menemani anaknya belajar juga. Hal ini karena tugas-tugas yang diberikan kepada siswa juga terkadang memerlukan bantuan orangtua seperti membuat video, membuat simulasi, mendokumentasikan kegiatan harian, dan lain-lain. Selain itu, orangtua juga terbebani kuota internet untuk keperluan belajar di rumah dan penyediaan fasilitas untuk PJJ seperti HP dan laptop. Belum meratanya kemampuan ekonomi untuk mendukung fasilitas dasar dalam pembelajaran daring adalah suatu kenyataan. Masih banyak pula daerah yang belum akrab dengan dunia internet karena persoalan sinyal (Pikiran Rakyat, 9 Juli 2020).

Pandemi COVID-19 ini telah memberi pelajaran bagi para guru mengenai pentingnya penggunaan teknologi komunikasi dalam proses belajar mengajar. Dalam proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) saat ini, suka tidak suka, guru dan siswa dipaksa untuk lebih melek terhadap teknologi dan mampu menggunakannya dalam kegiatan sekolah sehari-hari. PJJ telah memaksa dunia pendidikan beradaptasi dengan teknologi komunikasi serta berbagai platform digital untuk mendukung proses pembelajaran (Pikiran Rakyat, 9 Juli 2020). Melihat situasi dan kondisi saat ini dimana pandemi COVID-19 belum menunjukkan adanya penurunan yang signifikan, sepertinya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) masih akan terus dilakukan hingga waktu yang belum ditentukan. Meskipun ada wacana agar siswa masuk sekolah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat dalam rangka Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), namun banyak pihak yang tidak setuju dengan kembalinya siswa masuk sekolah karena kondisi saat ini dianggap belum kondusif.

Menurut Mendikbud, Nadiem Makarim, hanya sekolah di zona hijau saja yang diperbolehkan menggelar kegiatan belajar-mengajar tatap muka, itu pun dengan protokol kesehatan yang ketat. Saat ini hanya sekitar 6 persen saja peserta didik yang berada di daerah zona hijau, sedangkan 94 persen lainnya tersebar di zona merah, oranye, dan kuning. Selain itu, sekolah yang akan dibuka juga bertahap. Mulai dari tingkat SMP-SMA sederajat dan disusul oleh tingkat SD-sederajat dua bulan kemudian, dan tingkat PAUD-sederajat empat bulan kemudian. Sementara itu, untuk tingkat universitas, masih akan diberlakukan belajar daring, kecuali untuk kegiatan praktik yang berkaitan dengan syarat kelulusan mahasiswa (Kumparan, 16 Juni 2020). Kemudian ada kebijakan baru juga terkait kurikulum pembelajaran dimana kurikulum pembelajaran jarak jauh disederhanakan tetapi tetap harus mencapai target pencapaian kurikulum. Lama jam belajar jarak jauh mulai tahun ajaran baru ini juga tidak lebih dari empat jam per hari. Meskipun demikian, target kurikulum harus tetap tercapai di tengah perubahan kurikulum tersebut.

Dengan situasi saat ini yang mengalami berbagai perubahan, tentunya perlu adanya beberapa upaya yang dilakukan agar dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Pandemi COVID-19 ini belum bisa diprediksikan kapan berakhirnya sehingga kita tidak bisa menunggu situasi kembali normal untuk mulai beraktivitas kembali. Termasuk dalam hal pembelajaran, adanya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan segala dinamikanya masih merupakan pilihan yang logis agar para siswa tetap belajar dan menghindari penyebaran virus Corona. Meskipun wacana masuk sekolah di zona hijau pun tetap ada dan akan segera dilakukan di beberapa daerah zona hijau, namun hal yang lebih penting dari semua itu adalah upaya untuk mempersiapkan guru, siswa, dan orangtua dalam menghadapi perubahan proses pembelajaran di tengah pandemi ini.

Upaya mempersiapkan guru telah dilakukan oleh Kemendikbud dengan meningkatkan kompetensi guru di bidang IT. Kemendikbud telah membuat laman daring bagi para guru untuk belajar. Data per 3 Juli 2020, laman tersebut sudah diakses 5,9 juta kali, ada 950.000 lebih pengunjung dan 1,2 juta pengguna yang mengunduh RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Para guru juga bisa berbagi artikel refleksi di laman tersebut. Hingga kini, telah ada 3.021 artikel yang diunggah. Selain itu, telah bergabung 560 komunitas dan telah diselenggarakan 172 aksi kolaborasi melalui Guru Berbagi. Laman Guru Berbagi ini diarahkan untuk menjadi platform berbasis crowdsourcing yakni para guru bisa saling belajar dan berkolaborasi. Selain itu, upaya peningkatan kompetensi juga dilakukan melalui webinar Guru Belajar yang tengah diselenggarakan selama sebulan ke depan. Ada dua topik per hari, mulai dari tingkat SD hingga SMA/SMK serta SLB dalam webinar tersebut selama sebulan kedepan (Kompas, 8 Juli 2020).

Menurut Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Iwan Syahril, Kemendikbud tetap berkomitmen meningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran. Dan upaya untuk meningkatkan kompetensi guru ini akan terus dilakukan secara simultan. Namun masih ada persoalan tingkat kecemasan guru yang tinggi dalam menggunakan teknologi pembelajaran. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena tidak semua guru terbiasa menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran. Tetapi dengan kondisi saat ini, para guru wajib dipersiapkan untuk menghadapi perubahan metode pembelajaran dan kurikulum pembelajaran. Selain itu, pemerintah juga perlu memperhatikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pembelajaran, mengingat tidak meratanya kondisi geografis serta keadaan sosial ekonomi di Indonesia. Ada sekolah yang masih tidak terjangkau internet atau jaringan internetnya tidak stabil. Dalam kondisi demikian, tidak mungkin memakai internet seperti di kota-kota besar. Apalagi menggunakan aplikasi-aplikasi pendukung PJJ seperti Google Meet dan Zoom (Pikiran Rakyat, 9 Juli 2020). Oleh karena itu, pemerintah juga perlu menyediakan atau memberikan bantuan kepada guru/sekolah terkait penyediaan sarana prasarana tersebut.

Kemudian bagi para orangtua dan siswa, sebenarnya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di tengah pandemi COVID-19 ini bisa dimanfaatkan untuk merekatkan kembali hubungan antara orangtua dan anak. Para orangtua sebaiknya memberikan pendidikan nonformal juga bagi anak seperti pendidikan agama dan karakter yang tidak diajarkan di sekolah terutama saat PJJ ini. Peran orangtua memang bisa diminimalisir namun tetap tidak bisa dihilangkan karena saat PJJ seperti ini, justru orangtua yang lebih banyak berinteraksi dengan anak. Namun memang perlu adanya penyesuaian waktu dan kegiatan bagi orangtua sehingga pekerjaan kantor/pekerjaan rumah tetap bisa dilakukan sambil membantu anak mengikuti proses pembelajaran. Jadi, perlu adanya kerjasama antara sekolah, guru, dan orangtua untuk merancang dan mempersiapkan pembelajaran terbaik bagi anak. Sehingga tidak ada alasan penurunan kualitas proses pembelajaran maupun kualitas output pembelajaran meskipun dilakukan di tengah keterbatasan saat ini.

Kendala dan Dampak Pembelajaran Jarak Jauh pada Anak, Ini Pro-Kontranya!

Pandemi COVID-19 memengaruhi banyak sektor kehidupan masyarakat, tak terkecuali sektor pendidikan.

Pandemi COVID-19 memengaruhi banyak sektor kehidupan masyarakat, tak terkecuali sektor pendidikan.

Siswa yang berada di zona kuning, oranye, dan merah terpaksa menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar di rumah melalui gadget sebagai usaha memutus tali penyebaran COVID-19 yang bisa menular di lingkungan sekolah.

Kendala Pembelajaran Jarak Jauh

Kini, tahun ajaran baru telah dimulai sejak 13 Juli 2020. Para siswa kembali beajar dengan gadget-nya dan mengikuti PJJ secara online.

Meski begitu, metode PJJ ini juga memiliki kendala tersendiri bagi siswa. Berikut ini kendala PJJ yang dialami siswa yang perlu Moms ketahui.

1. Metode Pembelajaran yang Tidak Fleksibel

Metode PJJ dinilai tidak fleksibel karena beberapa pelatihan hingga praktik harus dilakukan secara online.Sehingga banyak siswa tidak bisa merasakan pengalaman seperti ketika melangsungkan praktik secara langsung atau bertatap muka. Sementara itu, bagi mahasiswa yang mengharuskan ke laboratorium atau praktikum juga merasa kesulitan karena harus berpindah ke intruksi online.

2. Membutuhkan Kontrol Diri yang Tinggi dari Gangguan Eksternal

Karena PJJ berlangsung secara online dan di rumah, tak jarang banyak anak yang menjadi tidak disiplin saat belajar. Selain itu, tak adanya pengawasan dari guru dan mengharuskan siswa untuk mempelajari materi secara online, mengerjakan tugas mandiri, hingga mengunduh materi sendiri juga jadi kendala yang harus dihadapi. Mengatasi rasa bosan dengan kontrol diri sendiri bukanlah hal mudah bagi siswa, sehingga diperlukan pengawasan orang tua ketika PJJ. Selain itu, siswa juga harus menghadapi gangguan eksternal lainnya selama di PJJ di rumah misalnya ketika orang tua meminta bantuan mengerjakan pekerjaan rumah, atau membantu orang tua berjualan.

Hal juga bisa membuat anak sulit fokus pada materi pelajaran.

3. Jaringan dan Fasilitas

PJJ dilakukan secara online sehingga membutuhkan jaringan internet hingga fasilitas elektronik lainnya seperti handphone dan laptop. Keduanya tak hanya digunakan sebagai alat berkomunikasi antara siswa dengan guru, namun juga sebagai media menyampaikan dan mengirimkan tugas. Hal ini menjadi kendala karena tak semua siswa memiliki fasilitas tersebut. Hal ini dialami oleh siswa di SMAN Bali Mandara, Buleleng, Bali. Sebelum pandemi, siswa diharuskan tinggal di asrama sekolah. Namun, semenjak pandemi, metode pembelajaran dilakukan di rumah masing-masing. Menurut Kepala Sekolah SMAN Bali Mandara, I Nyoman Darta, masih banyak siswanya yang tidak memiliki ponsel maupun laptop karena hidup dalam keterbatasan dan kemiskinan. Karenanya, banyak siswa yang tak memiliki gadget harus meminjam tetangga hingga mencari sinyal di puncak gunung agar bisa mengunduh dan mengunggah materi belajar. Terkait berbagai kendala yang dihadapi siswa, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menyebut bahwa hingga kini pemerintah dan masyarakat masih belum memiliki pilihan metode pembelajaran lain selain PJJ. Menteri Nadiem juga meminta kepada setiap instansi untuk mencari jalan keluar terkait kendala yang dihadapi selama PJJ. Meski demikian, Menteri Nadiem menyebut bahwa PJJ hanya dilakukan sementara sampai COVID-19 berakhir.

Dampak Pembelajaran Jarak Jauh

PJJ tak hanya menimbulkan kendala, namun juga memiliki dampak bagi para siswa. Berikut ini beberapa dampak yang dihadapi siswa selama PJJ.

1. Kesehatan Mental

Kehilangan akses secara langsung terhadap orang-orang yang dipercaya seperti guru dan teman bisa berdampak buruk pada kesehatan mental.Gangguan semacam ini juga bisa berpengaruh pada perkembangan otak seperti meningkatkan stres, tidak ada kestabilan emosi dan dalam jangka panjang akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meminimalisir dampak tersebut ialah mengurangi jumlah siswa yang hadir selama kelas online dan meningkatkan kolaborasi bersama teman sekelas.

2. Perasaan Cemas dan Khawatir

Anissa Lestari Kadiyono, seorang dosen Fakultas Psikologi Unpad, mengatakan menurut penelitian yang melibatkan 867 orang tua, siswa dan guru di Kota Bandung, sebanyak 19,6% responden mengaku cemas dan khawatir, 12,5% merasa bosan, 9% merasa kehilangan kemampuan belajar dan menguasai materi, 8,3% merasa butuh hiburan jika PJJ diperpanjang.Kurangnya interaksi dan sulitnya penyesuaian pembelajaran jadi penyebab munculnya perasaan negatif pada siswa. Jika hal ini tak segera diatasi maka akan berdampak buruk pada perkembangan belajar anak.

3. Keterlambatan Belajar

Kerugian dan keterlambatan mungkin saja terjadi. Sebab, menurut penelitian yang dilakukan oleh Boots, J berjudul How COVID-19 Regular School Closures Could Impact DC Student Proficiency in 2020-21, menyebut bahwa butuh bertahun-tahun bagi siswa untuk memulihkan kebiasaan hingga mengembalikan pengalaman pembelajaran yang telah hilang. Itulah kendala dan dampak PJJ pada anak. Pengawasan dan perhatian orang tua diperlukan untuk mendampingi anak belajar selama proses PJJ berlangsung.Meskipun Moms tidak bisa sepenuhnya berada 24 jam bersama anak ketika PJJ, setidaknya Moms bisa menanyakan kesulitan yang apa yang anak hadapi dan berusaha menyelesaikannya berdua.

Bagaimana Mengatasi Kebiasaan Buruk Siswa dalam Belajar?

Proses belajar mengajar tidak selamanya dapat berjalan dengan baik. Tentu sering terjadi masalah dalam proses belajar mengajar. Masalah yang timbul datang dari berbagai sumber. Masalah merupakan hal yang lumrah, sehingga perlu dilakukan pengamatan secara terus menerus untuk mencermati perubahan-perubahan yang terjadi pada siswa. Agar proses pembelajaran lebih terarah, dan guru bisa memahami berbagai masalah yang terjadi pada siswa dalam bentuk aktivitas pembelajaran, maka lebih baiknya guru mempunyai bekal pemahaman terkait masalah-masalah pembelajaran. Salah satu masalah yang dijumpai oleh guru adalah kebiasaan buruk siswa dalam belajar, sehingga menyebabkan siswa tidak mampu mencapai prestasi yang optimal. Itulah yang menyebabkan kualitas pendidikan masih rendah. Sebagai seorang guru dalam proses belajar dan mengajar, tentu mengupayakan agar semua siswa berhasil dalam pendidikan. Karena sekolah merupakan harapan bagi orang tua akan keberhasilan anak. Namun terkadang antara guru dan orang tua tidak sejalan. Kurangnya dukungan dari orang tua membuat guru kesulitan dalam menghadapi siswa. Siswa hanya belajar ketika disekolah. Dan ketika dirumah waktunya dihabiskan dengan kegiatan yang kurang mendukung terhadap belajar. Pendidikan seharusnya melibatkan kerja sama antara guru dan orang tua. Agar pendidikan bisa diterapkan di sekolah bersama dengan guru, serta diterapkan di rumah bersama dengan orang tua. Selain itu, ada beberapa penyebab yang membuat siswa memiliki kebiasaan belajar yang buruk diantaranya yaitu:

1. Belajar ketika hanya ada PR saja

2. Belajar ketika menjelang ujian

3. Belajar ketika hanya didampingi oleh orang tua

4. Belajar sistem kebut semalam

5. Belajar tanpa adanya target dan tujuan

6. Belajar sambil tiduran, menonton tv, dan bermain handphone

7. Waktu luang dihabiskan dengan kegiatan yang kurang bermanfaat

8. Tidak mempunyai jadwab belajar yang konsisten

9. Malas belajar

10. Tidak mempunyai catatan belajar, sehingga bingung apa yang akan dipelajari

Namun semua tergantung dari kepribadian masing-masing siswa. Karena semua siswa memiliki kebiasaan dan perilaku yang berbeda antara satu dengan yang lain. Ada siswa yang memiliki kesadaran dan motivasi yang tinggi untuk sukses dalam belajar, dan ada pula sebaliknya. Siswa dengan motivasi yang rendah cenderung mempunyai kebiasaan belajar yang buruk.

Berikut adalah cri-ciri belajar yang baik.

1. Adanya tempat yang digunakan dalam proses belajar

2. Mempunyai tujuan dalam belajar

3. Kondisi fisik yang sehat dan mendukung

4. Membaca setiap materi dengan hati-hati dan teliti

5. Adanya selang istirahat dalm belajar

6. Membuat rangkuman inti

Cara yang dilakukan agar siswa mempunyai kebiasaan yang baik dalam proses belajar adalah modifikasi perilaku. Cara ini dilakukan agar setiap siswa mampu melakukan hal positif dan terjadi secara terus menerus sehingga mampu meninggalkan hal yang negatif. Cara ini mencakup pada mengatasi keberhasilan belajar siswa seta menciptakan kerja sama antara guru dan orang tua.

Hal yang perlu diperhatikan dalam modifikasi perilaku yaitu.

1. Hubungan antara kebiasaan belajar dengan hasil belajar yang diperoleh

Siswa dengan perilaku dan kebiasaan belajar yang baik akan lebih besar peluang berprestasi di sekolah. Sedangkan siswa dengan perilaku dan kebiasaan belajar yang buruk kurang mampu berprestasi di sekolah. Hal tersebut menunjukkan bahwa perilaku serta kebiasaan belajar sebagai tolak ukur bagi keberhasilan pendidikan.

2. Kemampuan berfikir dengan hasil belajar

Siswa yang mempunyai IQ tinggi berpeluang memperoleh prestasi hasil belajar yang memuaskan. Sedangkan siswa yang mempunyai IQ dibawah rata-rata maka memperoleh prestasi belajar yang rendah.

3. Respon guru terhadap siswa

Guru harus melalukan pendekatan terhadap siswa. Tidak hanya sebagai pendidik, namun guru juga mampu menjadi teman yang baik bagi para siswa. Bersikap adil terhadap semua siswa tanpa terkecuali, tanpa membeda-bedakan antara siswa yang berprestasi ataupun tidak. Guru harus mampu memahami masing-masing kepribadian dari siswanya, dan memberikan dorongan agar siswa semangat dalam belajar.

4. Respon orang tua terhadap anak

Orang tua bertanggung jawab besar terhadap keberhasilan proses belajar dan masa depan anak. Tanggung jawab orang tua di rumah dapat diwujudkan dengan membimbing anak dalam proses belajar sesuai dengan materi yang sudah disampaikan di sekolah. Menemani anak dan membantu dalam menyelesaikan tugas sekolah. Orang tua merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilaku dan proses belajar pada anak. Sebab itulah orang tua dapat dengan mudah mengetahui penyebab keberhasilan dan kegagalan anak dalam belajar.

Penerapan cara modifikasi perilaku bagi siswa diantaranya sebagai berikut.

A. Rutin

Kegiatan belajar harus dilakukan secara rutin, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, dan juga di rumah. Selama waktu memungkinkan untuk melakukan proses belajar, sebagai orang tua dan guru harus selalu memberikan dorongan agar siswa mau melakukan kegiatan belajar secara rutin, dengan begitu, akan menjadi kebiasaan yang akan dilakukan terus menerus oleh siswa.

B. Spontan

Melatih siswa agar bersikap baik kepada siapa saja. Belajar tidak hanya berpacu pada buku dan akademis saja, namun dengan berbuat baik terhadap manusia di sekitar juga merupakan proses pembelajaran bagi siswa. Seperti contoh siswa memberi salam ketika masuk ruangan, membantu teman yang kesusahan, membuang sampah pada tempatnya, dan langsung bertanya apabila tidak mengetahui materi yang disampaikan oleh guru ketika berada di dalam kelas. Dengan hal-hal spontan diatas, akan membuat perilaku siswa menjadi lebih baik.

C. Teladan dan Terprogram

Kegiatan teladan dan terprogram akan menunjukkan kepada siswa bahwa waktu begitu berharga. Dengan hal ini siswa mempunyai arah dan tujuan dalam proses belajar. Siswa menjadi lebih disiplin mengerjakan PR sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Belajar setiap hari sesuai jadwal sekolah esok harinya, tidak terlambat datang ke sekolah sehingga tidak ketinggalan pelajaran yang disampaikan oleh guru, serta dapat belajar dengan tenang dan tidak mendapat hukuman.

Cara-cara diatas dapat diterapkan oleh guru dan orang tua kepada siswa agar siswa mempunyai kebiasaan belajar yang baik, dan meningkatkan semangat belajar kepada para siswa. Karena dengan kebiasaan belajar yang baik akan meningkatkan kualitas belajar dan dapat mencapai hasil yang optimal serta mensukseskan kualitas pendidikan.

HAMBATAN DAN SOLUSI SAAT BELAJAR DARING DARI RUMAH

Saat ini dampak penyebaran virus korona kian pesat dengan terus bertambahnya kasus positif di masyarakat. Terhitung per hari Jumat (10/ 04/ 2020), terdapat total 3.512 kasus positif yang telah dikonfirmasi oleh pemerintah pusat. Hal itu sangat berdampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, salah satunya adalah berkurangnya kegitan di luar ruangan. Saat ini pemerintah Republik Indonesia menginstruksikan untuk melakukan gerakan kerja dari rumah atau Work from Home (WFH) yang mengharuskan masyarakat untuk bekerja secara remote dari rumah mereka masing-masing dengan tujuan untuk memustus rantai penyebaran virus corona ini. Banyak masyarakat yang menanggapinya dengan baik, ada juga masyarakat yang tidak menanggapinya dengan baik. Salah satu suara tersebut muncul dari kalangan mahasiswa yang ikut terdampak dan harus melakukan kegiatan belajar dari rumah. Instruksi langsung dari pemerintah juga wajib diikuti oleh para mahasiswa sebagai bentuk pencegahan penyebaran virus korona. Akhirnya, berbagai alternatif metode pembelajaran seperti pembelajaran secara daring atau online learning pun diterapkan. Banyak gangguan Pada awal penerapannya, banyak mahasiswa yang menanggapi kelas daring ini dengan baik, namun, setelah berjalannya proses perkuliahan secara daring tersebut, banyak mahasiswa justru mengalami kesulitan dalam belajar. Keadaan itu justru menurunkan mutu pembelajaran bagi para mahasiswa serta mutu pengajaran oleh para dosen. Mengapa hal tersebut terjadi? Mengapa kebebasan yang diberikan pada mahasiswa dengan cara belajar dari rumah justru membuat berkurangnya efektifitas belajar tersebut? Bukankah seharusnya sebaliknya? “Menurut saya justru lebih sulit belajar dari rumah, karena ada banyak gangguan yang sifatnya kurang kondusif. Pikiran jadi buyar dan susah fokus. Walaupun lebih santai, sih.” Menurut Kevin, mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara yang telah menjalankan kelas daring sejak bulan Maret akibat pandemik Covid-19.“Jujur saya pribadi lebih pilih belajar di kampus, karena bisa lebih fokus. Tapi kalau situasinya begini juga mau gimana lagi,” jawab Kevin menanggapi pertanyaan mengenai pilihan metode belajar yang sesuai dengan dirinya. Pendapat tersebut tentunya didasarkan pada pengalaman Kevin dalam mengikuti proses pembelajaran online learning.“Karena belajar daring, bukan hanya tugas lebih menumpuk, tapi juga banyak distraction saat sedang belajar. Kelas tatap muka punya feel yang beda, interaksi langsung itu cenderung mendukung proses pembelajaran,” ujar David, mahasiswa Universitas Indonesia soal hambatan belajar secara daring.“Kalau saya pribadi biasanya tetap keep in touch dengan teman, jadi setidaknya tetap aktif dan ada interaksi. Setidaknya membantu memicu fokus sama pembelajaran,” kata David lagi mengenai cara membangun fokus saat kegiatan belajar di rumah. Berdasarkan pengalaman kedua mahasiswa tersebut, pendapat mereka condong mengarah untuk memilih proses belajar di kampus. Hal tersebut tentu didasari kesulitan saat belajar dengan metode pembelajaran daring. Kebebasan yang diberikan justru membuat terdapat banyak pilihan yang mengganggu fokus dari para mahasiswa. Fenomena ini pun coba dipahami dari segi psikologis oleh Fiona Damanik, seorang psikolog yang saat ini bekerja di Student Support Universitas Multimedia Nusantara. “Menurut saya hal ini terjadi karena adanya perubahan kebiasaan yang terjadi pada mahasiswa. Awalnya mungkin disambut dengan baik karena menjadi sesuatu yang berbeda, namun setelah dijalankan justru membuat para mahasiswa kembali jenuh dengan rutinitas yang harus dilakukan setiap hari tersebut,” jawab Fiona saat ditanya mengenai sikap yang terbentuk saat berkegiatan dan belajar dari rumah yang dilakukan oleh para mahasiswa. Distraction menjadi salah satu kunci mengapa fokus tersebut sulit dibangun. Salah satu faktor yang membangun fokus tergantung pada dorongan eksternal yang secara garis besar ada dua prinsip, yaitu prinsip kesenganan dan prinsip aturan. Prinsip kesenangan didasari pada dorongan melakukan sesuatu yang disukai dan tertarik dilakukan. Hal itu dapat membangun fokus karena menyukai subjeknya. Yang kedua adalah prinsip aturan yang didasari pada dorongan melakukan sesuatu karena tuntutan aturan yang memliki akibat. Prinsip tersebut juga dapat mendorong kemauan seseorang untuk melakukan sesuatu dan mendorong fokus. Fiona memberi beberapa saran untuk mengatasi gangguan tersebut. “Jika ingin membangun fokus, kita harus tahu prinsip apa yang mendominasi kita. Apakah pinsip kesenangan atau prinsip aturan? Jika salah satu lebih dominan, kita bisa mencoba untuk menyeimbangkannya,” ujar Fiona. Ia mencontohkan, saya mau belajar sambil makan, tapi jadi suka enggak fokus. Kalau begitu jangan makan dulu, bisa makan setelah belajar. Atau sebelum kelas daring pagi misalnya, harus mandi dulu, sarapan dulu, sehingga fokus tersebut terbangun karena aturan yang kita berlakukan. ”Jika saya suka main gim tapi ada tuntutan yang lebih penting, saya bisa jadikan gim tersebut sebagai reward setelah mengerjakan hal penting yang perlu saya lakukan terlebih dahulu, misalnya mengikuti kelas daring,” lanjut Fiona mengenai bagaimana cara membangun fokus pada mahasiswa. Berdasar pada saran tersebut, sebagai seorang mahasiswa, sebaiknya kita mengentahui kita tergerak oleh prinsip yang mana saat belajar. Apakah prinsip kesenangan atau prinsip aturan. Jika sudah tahu, kita perlu berusaha untuk menyeimbangkan hal tersebut. Harapannya kita dapat membangun fokus terutama dalam kegiatan belajar dari rumah secara daring.

Referensi:

surat edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020

https//www.co.id/magazine/ kendala dan dampak pembelajaran jarak jauh

https;//www.duniapgmi.com/com/2020/03/bagaimana-mengatasi-kebiasaan-buruk.html

 

BIODATA PENULIS

Nama : Lastuti,S.Pd.

NIP : 197811102007012029

Pangkat/Gol : Guru Pertama III/b

Unit Kerja : SMA Negeri 1 Wangon

Email : lastutiajah@gmail.com

HP : 085868440352

Judul : MENGATASI KEBIASAAN BURUK SISWA DI MASA PJJ

By admin

You cannot copy content of this page