Iklan

MAKNA RAMADHAN DAN IDUL FITRI KEDUA DI TENGAH PANDEMI

Yulistya Gunawan, S.Pd.I

Bulan suci Ramadhan merupakan suatu momentum super khusus yang disediakan oleh Allah SWT kepada kaum muslimin muslimat di seluruh dunia. Dikatakan demikian karena bulan suci Ramadhan tersebut memiliki banyak keutamaan-keutamaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan yang lainnya. Allah SWT menyediakan berbagai keutamaan-keutamaan ini kepada orang-orang yang memperbanyak ibadah di bulan suci Ramadhan. Inilah rahmat dan nikmat Allah SWT yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang memanfaatkan momentum ini dalam rangka mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Maka sudah selayaknya kita harus bersyukur kepada Allah SWT dengan dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan ini. Banyak keutamaan yang hanya ada pada bulan Suci Ramadhan. Oleh karena itu ibadah di bulan Ramadhan harus lebih ditingkatkan lagi. Jika kita bertemu dengan Ramadhan betapa beruntungnya kita, karena di bulan itu segala amalan akan dilipatkan ganjarannya. Menurut beberapa keterangan, ada banyak keutamaan bulan suci Ramadhan. Keutamaan tersebut sudah dijelaskan dalam beberapa hadis. Ramadhan yang merupakan bulan penuh keberkahan, rahmat dan maghfirah ini tentunya menjadi salah satu bulan yang ditungggu-tunggu umat Islam. Apalagi terdapat banyak keutamaannya.

Berikut ini adalah beberapa keutamaan keutamaan bulan suci Ramadhan yang dapat kita petik hikmahnya sebagai pelajaran dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada saat bulan Ramadhan kedua saat adanya wabah pandemic covid 19, antara lain adalah sebagai berikut:

1. Bulan yang penuh barakah. Ini adalah keutamaan bulan suci Ramadhan yang pertama. Rasulullah Muhammad SAW mensabdakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh barakah.

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ

“Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah…” (HR. Ahmad)

Barakah artinya adalah ziyadatul khair; bertambahnya kebaikan. Di bulan Ramadhan, banyak kebaikan yang bertambah. Banyak kebaikan yang meningkat. Kita lihat, Ramadhan memang penuh dengan keberkahan. Meningkatnya omset para pedagang dan pengusaha serta pemberian THR bagi karyawan dan pegawai mungkin adalah bagian dari keberkahan bulan Ramadhan. Sedangkan meningkatnya ibadah, puasa Ramadhan, shalat tarawih, semakin banyak tilawah dan sedekah adalah bagian dari keberkahan Ramadhan yang lebih besar lagi.

2. Diwajibkannya puasa. Salah satu keutamaan Ramadhan, di bulan ini umat Islam diwajibkan berpuasa. Sehingga Ramadhan juga disebut sebagai syahrush shiyam. Puasa menjadikan Ramadhan istimewa karena ia adalah rukun Islam yang tidak ada di bulan-bulan lainnya. Nabi Muhammad SAW bersabda yang berbunyi:

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ

Yang artinya: “Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, diwajibkan kepada kalian ibadah puasa…” (HR. Ahmad). Allah SWT berfirman di dalam Al Qur’an :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang yang bertaqwa” (QS. Al Baqarah: 183). Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Yang artinya: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa…” (QS. Al Baqarah: 185).

3. Pintu surga dibuka. Pada bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka oleh Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW, dalam lanjutan hadits di atas:

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ

“Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, diwajibkan kepada kalian ibadah puasa, dibukakan pintu-pintu surga…” (HR. Ahmad).

4. Pintu pintu neraka ditutup. Di samping pintu-pintu surga dibuka, pada bulan Ramadhan, pintu-pintu neraka ditutup. Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ

“Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, diwajibkan kepada kalian ibadah puasa, dibukakan pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka…” (HR. Ahmad).

5. Syetan dibelenggu. Di antara keutamaan Ramadhan, syetan-syetan dibelenggu pada bulan ini sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

”Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Juga lanjutan hadits riwayat Imam Ahmad sebelumnya:

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ

“Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, maka diwajibkan kepada kalian ibadah puasa, dibukakan pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta syetan-syetan dibelenggu” (HR. Ahmad).

6. Lailatul Qadar. Keutamaan Ramadhan yang tidak kalah luar biasa adalah lailatul qadar. Yakni malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Lailatul qadar hanya ada di salah satu malam bulan Ramadhan, tidak dijumpai di bulan-bulan lainnya.

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, diwajibkan kepada kalian ibadah puasa, dibukakan pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta syetan-syetan dibelenggu. di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan kebaikannya berarti ia telah benar-benar terhalang/terjauhkan (dari kebaikan)” (HR. Ahmad). Dengan adanya lailatul qadar ini, umat Nabi Muhammad bisa mengejar ketertinggalan waktu beramal dari umat-umat sebelumnya. Seperti diketahui, umat terdahulu usianya relatif lebih panjang. Bisa ratusan hingga seribu tahun. Dengan mendapatkan lailatul qadar, amal mereka bisa terkejar karena satu kali lailatul qadar setara dengan 83 tahun. Sepuluh kali mendapatkan lailatul qadar, bisa mengejar 833 tahun amal umat terdahulu. Oleh karena itu mari kita raih malam lailatul qadar dengan kekhusyuan beribadah kepada Allah SWT, insya allah dengan meraih keberkahan amaliyah ibadah di malam lailatul qadar kehidupan kita akan semakin penuh keberkahan baik selama kita hidup di dunia maupun di akhirat kelak.

7. Penghapus dosa. Ibadah dan amal-amal shalih yang dilakukan di bulan Ramadhan merupakan penghapus dosa dari Ramadhan sebelumnya hingga Ramadhan saat ini. Ini salah satu keutamaan Ramadhan, sebagaimana sabda Rasulullah:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Sholat lima waktu, antara shalat Jum’at ke Shalat Jum’at dan Ramadhan ke Ramadhan penghapus dosa diantara kesuanya, jika dijauhi dosa-dosa besar” (HR. Muslim)

8. Penghapus dosa yang telah lalu. Bukan hanya penghapus dosa antara Ramadhan satu ke Ramadhan berikutnya, bahkan salah satu keutamaan Ramadhan adalah menghapus dosa-dosa yang telah lalu. Ini diperoleh jika melakukan puasa Ramadhan dengan dilandasi iman dan mengharap perhitungan pahala dari Allah semata.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (Muttafaq ‘Alaih)

9. Waktu dikabulkannya doa. Berbeda dengan bulan lainnya, pada bulan Ramadhan banyak waktu mustajabah untuk berdoa. Di antaranya adalah waktu menjelang berbuka. Bahkan sepanjang waktu puasa mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari adalah waktu yang mustajabah untuk berdoa. Berdoa di waktu puasa Ramadhan ini lebih dikabulkan Allah.

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizholimi” (HR. Tirmidzi)

10. Pembebasan dari neraka. Salah satu keutamaan Ramadhan adalah setiap harinya Allah membebaskan hambaNya dari neraka. Mereka yang hampir saja masuk neraka, dengan kemurahan Allah di bulan Ramadhan, mereka diampuni oleh Allah dan dibebaskan dari neraka. Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW :

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.”(HR. Al-Bazar dengan para perawi yang tsiqah) Demikian adalah beberapa keutamaan keutamaan bulan suci Ramadhan yang luar biasa dan semestinya kita syukuri. Sebab umat sebelum Nabi Muhammad tidak mendapatkan keutamaan-keutamaan ini. Dan semoga keutamaan-keutamaan ini memacu kita untuk lebih giat beribadah dan melakukan amal shalih di bulan Ramadhan tahun ini. Apalagi di tengah pandemi covid 19 ini, seharusnya kita mempergunakan bulan suci ini untuk memperbanyak amaliyah-amaliyah yang dapat semakin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Semoga dengan semakin dekatnya kita kepada Allah, maka Allah SWT akan segera menghentikan wabah penyakit ini sehingga situasi akan Kembali normal sebagaimana sebelum adanya wabah ini.

Idul fitri merupakan salah satu hari raya besar yang diperingati oleh umat Islam di seluruh dunia dengan penuh suka cita dan kegembiraan. Secara etimologi Idul fitri berasal dari Bahasa Arab, yaitu ada dua kata “id” dan “al-fitri”. Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu, yang artinya kembali. Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama yaitu tanggal 1 di bulan Syawal. Idul fitri secara bahasa juga berarti hari raya kesucian atau juga berarti hari raya kemenangan. Yakni kemenangan mendapatkan kembali mencapai kesucian, fitri yang sejati. Idul fitri menurut istilah adalah Idul fitri atau Lebaran adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriah. Lebaran Idul Fitri atau biasa disebut “Lebaran Mudik” saja dilaksanakan ketika hari raya Idul Fitri tiba, orang-orang Islam umumnya saling bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dengan tetangganya, juga keluarganya setelah menunaikan Salat Ied.

Lebaran adalah nama lain dari hari raya bagi umat Islam, baik hari raya Idul Fitri maupun hari Raya Idul Adha yang dirayakan setiap tahun sekali, khusus Idul Fitri di rayakan setiap bulan Syawal setelah sebulan penuh umat muslim melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Lebaran dalam bahasa Jawa artinya sudahan atau setelahan atau sesudahnya atau setelahnya, dan kalimat ini sudah terbiasa digunakan dalam Islam ketika umat muslim Indonesia telah menyelesaikan kewajiban berpuasa, lebaran dalam Islam yaitu sesudah atau setelah melakukan kewajiban berpuasa dalam bulan Ramadhan, kaum muslim Indonesia lebih familiar dengan kalimat lebaran dalam merayakan hari kemenangan. Lebaran Idul Adha biasa disebut “Lebaran Haji“, karena memang pada saat-saat itu orang-orang Islam umumnya menunaikan ibadah Haji. Seusai Shalat Ied, biasanya diadakan pemotongan hewan kurban, dan daging hasil sembelih itu kemudian dibagikan kepada warga di daerah yang bersangkutan atau kepada warga yang kurang mampu. Di lebaran Idul Adha masyarakat muslim juga menunaikan ibadah Shalat Ied.

Kebiasaan kembali ke kampung halaman atau biasa di kenal dengan istilah yang sangat masyhur yaitu mudik telah menjadi kebiasaan yang dilakukan secara turun-temurun bagi umat Islam khususnya di negara kita Indonesia. Hal ini seolah olah sudah menjadi suatu hal yang harus dilakukan ketika mejelang hari raya akan tiba. Akan menjadi suatu yang sangat menyenangkan dan memuaskan hati apabila pulang ke kampung halaman bisa berjumpa bersilaturahmi dengan saudara, teman, tetangga dan para handai taulan. Hari raya merupakan ajang bertemu kangen kangenan dengan orang-orang yang sudah lama tidak berjumpa. Pada kesempatan tersebut bisa digunakan untuk bercengkerama, bercerita, bertukar pikiran, bertukar informasi dan bertukar pengalaman tentang perjalanan hidup yang sudah dilalui.

Adanya wabah penyakit covid 19 yang pada awalnya terjadi sejak bulan Desember tahun 2019 Maret di China yang kemudian masuk ke Indonesia pada bulan Maret tahun 2020 telah mentransformasi berbagai aspek sendi-sendi kehidupan. Selama lebih dari satu tahun ini telah melanda negeri kita hingga sekarang belum juga selesai. Hal ini menjadikan hari raya Idul Fitri tahun 2021 di rayakan oleh umat Islam dengan sangat sederhana, berbeda dengan tahun tahun sebelumnya di mana perayaan hari raya di rayakan oleh umat Islam dengan penuh suka cita, kegembiraan dan keramaian di mana-mana. Pada saat itu kebijakan pemerintah pada hari raya Idul Fitri tahun 2020 melarang adanya mudik bagi masyarakat umum, pemerintah melalui satgas Covid 19 menghimbau masyarakat umu untuk merayakan hari raya Idul Fitri dengan tetap berada di rumah masing masing, besar harapan dari masyarakat semuanya adalah semoga di tahun 2021 wabah penyakit ini bisa berakhir dan hari raya Idul Fitri bisa di rayakan dengan normal sebagaimana tahun tahun sebelum adanya wabah.

Namun kenyataan berkata lain, kita semua harus menerima wabah penyakit ini sampai sekarang, pemerintah melalui satgas covid 19 dan berbagai usaha lainnya telah dilakukan dengan kerja keras semua pihak untuk dapat mengatasi dan menghentikan pandemi ini, antara lain usaha tersebut adalah adanya program PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dan penerapan dan pengawasan 3 M ( memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak) secara ketat di mana-mana. Usaha yang telah dilakukan oleh semua komponen dengan maksimal ini belum bisa menghentikan wabah penyakit ini, buktinya penularan dari orang yang positif covid 19 masih saja terjadi dan memprihatinkan. Sampai saat ini jumlah masyarakat sudah mencapai lebih dari satu setengah juta yang terkonfirmasi positif covid 19.

Menjelang bulan suci Ramadhan tahun 2021 ini disambut dengan penuh kegembiraan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia tidak terkecuali di Indonesia. Harapan masyarakat semoga Ramadhan dan hari raya Idul fitri tahun 2021 keadaan sosial masyarakat sudah kembali normal seperti tahun tahun sebelum adanya wabah penyakit, tetapi harapan itu kurang sesuai harapan karena Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) bapak Muhajir Effendy mengatakan bahwa pemerintah melarang mudik lebaran dengan pertimbangan masih tingginya angka penularan dan kematian akibat wabah penyakit ini, khususnnya setelah adanya beberapa liburan-liburan beberapa hari sebelumnya, di mana masyarakat banyak yang beraktifitas di luar rumah.

Dalam rangka mencegah dan memutus rantai penyebaran Corona Virus Disease 2Ol9 (COVID-19) serta memberikan rasa aman kepada umat Islam dalam menjalankan ibadah pada bulan suci Ramadan tahun 1442 H atau 2O21 M, dibutuhkan panduan ibadah Ramadan yang memenuhi aspek syariat dan protokol kesehatan. Kementerian Agama sebagai instansi pemerintah yang memiliki kewenangan menangani urusan keagamaan perlu mengeluarkan surat edaran mengenai Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri sebagai acuan bagi instansi pemerintah, pengurus/pengelola rumah ibadah dan rnasyarakat luas. Maka dibuatlah Surat Edaran Nomor 03 Tahun 2021 yang di tanda tangani oleh Menteri Agama Republik Indonesia bapak Yaqut Cholil Qoumas yang ditetapkan pada tanggal 5 April 2021.

Surat edaran Menteri Agama tersebut mengatur hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan selama bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri yang antara lain sebagai berikut:

  1. Umat Islam, kecuali bagi yang sakit atau atas alasan syar’i lainnya yang dapat dibenarkan, wajib menjalankan ibadah puasa Ramadan sesuai hukum syariah dan tata cara ibadah yang ditentukan agama;
  2. Sahur dan buka puasa dianjurkan dilakukan di rumah masing-masing Bersama keluarga inti;
  3. Dalam hal kegiatan Buka Puasa Bersama tetap dilaksanakan harus mematuhi pembatasan jumlah kehadiran paling banyak 50% dari kapasitas ruangan dan menghindari kerumunan;
  4. Pengurus masjid/mushala dapat menyelenggarakan kegiatan ibadah antara lain:
  5. Shalat fardu lima waktu, shalat tarawih dan witir, tadarus Al-Qur’an, dan iktikaf dengan pembatasan jumlah kehadiran paling banyak 50% dari kapasitas masjid/mushala dengan menerapkan protocol Kesehatan secara ketat, menjaga jarak aman 1 meter
  6. Pengajian/Ceramah/Taushiyah/Kultum Ramadan dan Kuliah Subuh paling lama dengan durasi waktu 15 (lima belas) menit;
  7. Peringatan Nuzulul Qur’an di Majid/mushala dilaksanakan dengan pembatasan jumlah audiens paling banyak 50% dari jumlah ruangan dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat;
  8. Pengurus dan pengelola masjid/mushala sebagaimana angka 4 (empat) wajib menunjuk petugas yang memastikan penerapan protokol kesehatan dan mengumumkan kepada seluruh jamaah, seperti melakukan disenfektan secara teratur, menyediakan sarana cuci tangan di pintu masuk masjid/mushala, menggunakan masker, menjaga jarak aman dan setiap jamaah membawa sajadah/mukena masing-masing;
  9. Peringatan Nuzulul Qur’an yang diadakan di dalam maupun di luar gedung, wajib memperhatikan protokol kesehatan secara ketat dan jumlah audiens paling banyak 50% dari kapasitas tempat/lapangan;
  10. Vaksinasi COVID-19 dapat dilakukan di bulan Ramadan berpedoman pada fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 13 Tahun 2021 tentang Hukum Vaksinasi COVID 19 saat berpuasa dan hasil ketetapan fatwa ormas Islam lainnya;
  11. Kegiatan pengumpulan dan penyaluran zakat, infak, dan shadaqah (ZIS) serta zakat fitrah oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) dilakukan dengan memperhatikan protocol kesehatan dan menghindari kerumunan massa;
  12. Dalam penyelenggaraan ibadah dan dakwah di bulan Ramadan, segenap umat Islam dan para mubaligh/penceramah agama agar menjaga ukhuwwah Islamiyah, ukhuwwah wathaniyah, dan ukhuwwah bashariyah serta tidak mempertentangkan masalah perbedaan khilafiyah yang dapat mengganggu persatuan umat,
  13. Para mubaligh/penceramah agama diharapkan berperan memperkuat nilai-nilai keimanan, ketakwaan, akhlaqul karimah, kemaslahatan umat, dan nilai-nilai kebangsaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Bahasa dakwah yang tepat dan bijak sesuai tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah;
  14. Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1442 H/2021 dapat dilaksanakan di masjid atau di lapangan terbuka dengan memperhatikan protokol kesehatan secara ketat, kecuali jika perkembangan COVID-19 semakin negatif (mengalami peningkatan) berdasarkan pengumuman Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 untuk seluruh wilayah negeri atau pemerintah daerah di daerahnya masmg-masing.

Dari beberapa pemaparan tersebut maka mari kita berusaha memaknai bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri kedua di tengah pandemi covid 19 ini dengan penuh makna yang mendalam di dalam hati, Sebagai warga negara yang baik kita patuhi anjuran dari pemerintah dan sebagai seorang muslim yang baik mari kita tingkatkan amalan kepada Allah SWT. Selain itu tengah keprihatinan adanya wabah penyakit mari kita semakin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dengan melakukan amliyah amaliyah seperti dzikir, tadarus dan berdoa memohon kepada Allah SWT supaya wabah segera berakhir dan sebaiknya kita hindari berinteraksi sosial atau bersilaturahmi dengan teman-teman, tetangga dan saudara secara langsung seperti mudik lebaran, pergi ke tempat keramaian dan lain sebagainya, lebih baik kita beriteraksi sosial menggunakan media teknologi saja seperti dengan whatsapp, telegram, line, face book, zoom meeteng, google meet dan lain sebagainya. Insya Allah Ramadhan dan Idul Fitri kedua di tengah pandemic ini tetap bermakna bagi kita semua.

DAFTARA PUSTAKA

Depag RI. 1994. Al Qur’an dan Terjemahnya, Semarang: CV Wicaksana.

Rasyid, Sulaiman. 2018. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Amir, Ustadz Dja’far. 1986. Ilmu Fiqih. Solo: CV Ramadhani.

Surat Edaran Menteri Agama RI Nomor 03 Tahun 2021.

https://bersamadakwah.net/keutamaan-ramadhan/, diakses 12 April 2021.

https://id.wikipedia.org/wiki/Idulfitri, diakses 12 April 2021.

https://covid19.go.id/peta-sebaran, diakses 12 April 2021.

BIODATA

Nama : Yulistya Gunawan, S.Pd.I

NIP : 197811052014061003

Jabatan : Guru Agama Islam

Pangkat/Gol : Penata Muda Tk 1/ III-b

Unit Kerja : SMA Negeri 1 Rawalo

You cannot copy content of this page