Iklan

INGKAR SUNNAH DALAM STUDI HADITS

Oleh: Dudiyono, M.Pd.I

Latar Belakang Masalah

Islam merupakan agama mayoritas yang ada di Indonesia bahkan di dunia. Islam dalam menjalani kehidupannya berpegang pada pedoman hidup sebagai way of life yang diyakini mampu membimbing kaum muslimin meraih kebahagian di dunia dan di akhirat. Al-Qur’an merupakan dasar hukum dan pedoman hidup bagi kaum muslim dalam menjalankan kehidupannya, di dalam al-Qur’an terdapat berbagai ayat-ayat yang memberikan petunjuk bagi umat Islam dalam menjalani kehidupannya baik dalam bentuk aqidah, syariah, dan muamalah.

Di samping itu, Allah SWT menugaskan Rasulullah SAW untuk memberikan keterangan terkait hukum-hukum Allah. Keterangan-keterangan inilah yang kemudian dinamakan dengan al-Hadist. Hadist merupakan sumber hukum dan pedoman hidup kedua setelah al-Qur’an, di mana dalam Hadist termuat terkait segala perkataan dan perilaku Nabi yang dikodifikasikan dalam bentuk buku pada masa Umar bin Abdul Azis yang merupakan seorang khalifah pada masa bani Umayyah.

Karena keberadaannya sebagai al-Quran dan Sunnah sebagai sumber ajaran Islam pada umat Islam sejak zaman Nabi sendiri sampai sekarang. Namun dalam perkembangannya berbeda dengan al-Qur’an, perkembangan Sunnah tidak sehalus perkembangan al-Quran. Berbagai keraguan dan penolakan terjadi pertumbuhan studi terhadap Sunnah itu sendiri. Ada kelompok minoritas dari umat Islam, di mana mereka menolak hadis-hadis dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan sebagai hujjah atau pedoman hidup umat Islam. Dalam kajian ilmu Hadis, golongan ini disebut dengan ingkar sunnah. Ingkar sunnah merupakan paham yang menolak sunnah atau hadits Nabi Muhammad SAW sebagai dasar hukum Islam setelah al-Qur’an, di mana sunnah yang dimaksud dalam hal ini yaitu sunnah yang shahih baik praktis maupun sunnah yang telah dikodifikasikan oleh para ulama.

Maka dari itu, untuk memperdalam terkait Ingkar Sunnah, dalam makalah ini akan di jelaskan poin-poin yang berkaitan dengan Ingkar Sunnah, yaitu tentang Apa pengertian Ingkar Sunnah, Bagaimana Historiografi Ingkar Sunnah dan Bagaimana Ingkar Sunnah dalam wacana Indonesia,

Pembahasan

Pengertian Ingkar Sunnah

Secara Etimologis

Ingkar Sunnah” terdiri dari dua kata, yaitu “Ingkar” dan “Sunnah”. Kata “Ingkar” berasal dari akar kata bahasa Arab : انكر – ینكر – انكاراyang mempunyai arti yaitu: 1) tidak mengakui dan tidak menerima secara baik di lisan dan di hati, 2) bodoh atau tidak mengetahui sesuatu.

Arti kata “Ingkar” jika diartikan secara etimologi yaitu menolak, tidak menerima sesuatu, tidak mengakui secara lahir dan batin yang disebabkan oleh adanya faktor ketidaktahuannya atau ada faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Ingkar bisa disebabkan karena kesombongan, gengsi, dan lain sebagainya.

Sedangkan secara etimologi kata “Sunnah” memiliki arti yaitu السیرةالمتبعة (suatu perjalanan yang diikuti) baik perjalanan baik maupun buruk, juga dapat bermakna العادة المستمرة (tradisi yang kotinu).[1]

Orang yang menolak sunnah sebagai hujjah dalam beragama oleh umumnya ahli hadits disebut ahlul bid’ah dan menuruti hawa nafsunya, bukan kemauan hati dan akal fikirannya.[2]

Secara Terminologis

Secara terminologis, Ingkar Sunnah diartikan oleh para ahli dengan berbagai pendapat diantaranya:

  1. Paham yang muncul dalam masyarakat yang menolak keberadaan hadits atau sunnah sebagai sumber ajaran Islam setelah al-Qur’an.
  2. Paham yang menolak dasar hukum Islam dari sunnah shahih, baik itu sunnah praktis atau telah dikodifikasikan para ulama, baik secara mutawattir maupun ahad atau sebagian saja, tanpa ada alasan yang dapat diterima.

Dari kedua pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa ingkar sunnah merupakan paham yang menolak sunnah atau hadits Nabi Muhammad SAW sebagai dasar hukum Islam setelah al-Qur’an, di mana sunnah yang dimaksud dalam hal ini yaitu sunnah yang shahih baik praktis maupun sunnah yang telah dikodifikasikan oleh para ulama.

Menurut As-Suyuthi, berpendapat bahwa orang yang mengingkari kehujahan hadits atau sunnah Nabi Muhammad SAW, baik perkataan dan perbuatannya, maka dalam kaidah ilmu ushul fiqh memenuhi syarat sebagai orang kafir atau telah keluar dari agama Islam. Imam As-Syaukani juga menjelaskan bahwa ulama telah sepakat bahwa sunnah Nabi Muhammad SAW memiliki posisi sebagai sumber hukum Islam yang di mana di dalamnya terdapat hukum yang dapat dijadikan sebagai dasar hidup orang Islam. Kehujjahan sebagai sumber hukum Islam merupakan keharusan (dharuri) dalam beragama. Orang yang menyalahinya tidak ada bagian dalam beragama Islam. Para ulama telah bersepakat bahwa dasar hukum Islam yang kedua setelah al-Qur’an yaitu sunnah Nabi Muhamad SAW. Hal ini dilatarbelakangi oleh para fuqaha sahabat yang selalu menjadikan sunnah sebagai dasar dalam menjelaskan hal-hal yang belum di terangkan dalam al-Qur’an dan dalam beristinbat hukum yang tidak dimuat dalam al-Qur’an. [3]

Historiografi Ingkar Sunnah

Pada masa periode klasik

Pada masa periode klasik munculnya Ingkar Sunnah dilatarbelakangi ketika Imran bin Hushain sedang memberikan pembelajaran hadist, namun di sela-sela pembelajaran, seorang menyela dan mengatakan cukup dengan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh al-Qur’an. Imran menjelaskan bahwa “kita tidak bisa membicarakan ibadah (shalat dan zakat misalnya) dengan segala syarat-syaratnya kecuali dengan petunjuk Rasulullah saw. Mendengar penjelasan tersebut, orang itu menyadari kekeliruannya dan berterima kasih kepada Imran. Sikap penampikan atau pengingkaran terhadap sunnah Nabi Muhammad SAW ditambah dengan pendapat atau argumen yang menguatkan muncul pada abad ke-2 Hijriyah di awal masa Abbasiyah, dimana pada masa ini banyak bermunculan kelompok-kelompok ingkar sunnag argumen pengukuhan baru muncul pada penghujung abad ke-2 Hijriyah pada awal masa Abbasiyah.

Menurut imam Syafi’i ada tiga kelompok ingkar sunnah seperti telah dijelaskan di atas. Antara lain :

  • Golongan Khawarij

Khawarij disini merupakan golongan yang memisahkan diri ketika dari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib r.a. Ada sumber yang mengatakan bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat sebelum terjadinya fitnah yang mengakibatkan terjadinya perang saudara. Perang saudara yang terjadi yaitu perang jamal (antara sahabat Ali r.a dengan Aisyah) dan perang Siffin (antara Ali r.a dengan Mu’awiyah r.a). Hal tersebut dilatarbelakangi oleh adanya kejadian dimana sebelum terjadinya perang tersebut para sahabat dinilai sebagai orang-orang yang ‘adil. Namun, sesudah kejadian adanya fitnah tersebut, kelompok khawarij menilai mayoritas sahabat Nabi Muhammad SAW telah murtad atau keluar dari Islam. Hal ini berdampak pada penolakan hadits-hadits yang telah diriwayatkan oleh para sahabat-sahabat Nabi. Seluruh kitab-kitab tulisan orang-orang khawarij sudah punah seiring dengan punahnya mazhab khawarij ini, kecuali kelompok Ibadhiyah yang masih termasuk golongn khawarij.

Dari sumber (kitab-kitab) yang ditulis oleh golongan ini ditemukan Hadits nabi saw yang diriwayatkan oleh atau berasal dari Ali, Usman, Aisyah, Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan lainnya. Oleh karena itu, pendapat yang menyatakan bahwa seluruh golongan khawarij menolak Hadits yang diriwayatkan oleh Shahabat Nabi saw, baik sebelum maupun sesudah peristiwa tahkim adalah tidak benar.

  • Syi’ah

Syi’ah merupakan golongan yang memposisikan Ali bin Abi Thalib lebih utama dari pada khalifah yang sebelumnya, dan berpendapat bahwa ahlul al-bait lebih berhak menjadi khalifah dari pada yang lain. Golongan syiah terdiri dari berbagai kelompok dan tiap kelompok menilai kelompok yang lain sudah keluar dari Islam. Sementara kelompok yang masih eksis hingga sekarang adalah kelompok Itsna ‘Asyariyah. Kelompok ini menerima hadits nabawi sebagai salah satu syari’at Islam. Hanya saja ada perbedaan mendasar antara kelompok syi’ah ini dengan golongan ahl sunnah (golongan mayoritas umat islam), yaitu dalam hal penetapan hadits.

Golongan syi’ah menganggap bahwa sepeninggal Nabi saw mayoritas para sahabat sudah murtad kecuali beberapa orang saja yang menurut mereka masih tetap muslim. Karena itu, golongan syiah menolak hadits-hadits yang diriwayatkan oleh mayoritas para sahabat tersebut. Syi’ah hanya menerima hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ahli baiat saja.

  • Mu’tazilah

Mu’tazilah merupakan golongan yang mengasingkan diri dari mayoritas umat Islam karena berpendapat bahwa seorang muslim yang fasiq tidak dapat disebut mukmin atau kafir. Imam Syafi’i menuturkan perdebatannya dengan orang yang menolak sunnah, namun beliau tidak menelaskan siapa orang yang menolak sunah itu. Sementara sumber-sumber yang menerangkan sikap mu’tazilah terhadap sunnah masih terdapat kerancuan, apakah mu’tazilah menerima sunnah keseluruhan, menolak keseluruhan, atau hanya menerima sebagian sunnah saja. Kelompok mutazilah menerima sunnah seperti halnya umat Islam, tetapi mungkin ada beberapa hadits yang mereka kritik apabila hal tersebut berlawanan dengan pemikiran mazhab mereka. Hal ini tidak berarti mereka menolak hadits secara keseluruhan, melainkan hanya menerima hadits berada pada tingkatan mutawatir saja.[4]

Kaum Mu’tazilah berpandangan bahwa hadis ahad itu tidak bisa memberikan sebuah ilmu yang pasti dan meyakinkan. Sementara justifikasi hukum berdasarkan logika menurut mereka adalah pasti, sehingga bisa dijadikan acuan dalam hukum syariat. Menurut mereka hukum logika harus dikedepankan dari hadis ahad secara mutlak, baik dalam persoalan akidah maupun ibadah secara praktis. Bahkan dalam persoalan akidah, Mu’taziah menolak secara penuh hadis ahad dengan beralasan bahwa persoalan akidah itu seharusnya dibangun melalui sumber-sumber yang absolut bukan berdasar pada sumber seperti hadis ahad.[5]

Secara garis besar Muhammad Abu zahrah berkesimpulan bahwa terdapat tiga kelompok pengingkar sunnah yang berhadapan dengan Asy-Syafi’i, yaitu : Pertama, golongan yang menolak seluruh Sunnah Nabi Muhammad SAW, Kedua, golongan yang menolak Sunnah, kecuali bila sunnah memiliki kesamaan dengan petunjuk al-Qur’an, Ketiga, golongan yang menolak Sunnah yang berada pada tingkatan hadits Ahad dan hanya menerima Sunnah yang berada pada tingkatan Mutawatir.

Latar belakang kelompok atau golongan pertama dan kedua ingkar sunnah, mereka memiliki pendapat yang didasarkan pada al-Qur’an:

  • QS. An-Nahl ayat 89

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Artinya:

(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS. An-Nahl: 89).[6]

  • QS. Al-An’am ayat 38

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Artinya:

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (QS. Al-An’am: 38).[7]

Menurut golongan tersebut, menunjukkan bahwa al-Qur’an telah mencakup segala sesuatu lengkap yang berhubungan dengan ketentuan- ketentuan terkait agama, maka dari itu, golongan ini berpendapat tidak perlu adanya penjelasan dari sunnah Nabi Muhammad SAW. Bagi mereka perintah shalat lima waktu telah tertera dalam al-Qur’an, misalnya QS. Al-Baqarah: 238, QS. Hud: 114, QS. Al-Isra’: 78 dan ayat lain.

Kemudian latar belakang golongan ketiga yaitu menerima hadits yang memiliki tingkatan mutawatir saja, golongan ini mendasarkan pada ayat dalam QS. Yunus ayat 36:

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

Artinya:

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.[8]

  • Pada masa periode Modern

Golongan ingkar sunnah pada periode modern ini muncul dilatarbelakangi oleh adanya pengaruh kolonialisme yang sangat gigih berupaya melumpuhkan dunia Islam. Kemunculannya dipelopori oleh para tokoh yang menamakan diri mereka mujtahid, pembaharu atau modernis. Bahkan banyak pihak pengusungnya yang muncul dalam bentuk terorganisir, sehingga pengaruh negatifnya lebih cepat tersebar di dalam tubuh umat Islam. Peran para kolonialis barat terhadap lahirnya tokoh modernis dari kalangan muslim sangatlah besar, karena paham modernisme itu sendiri memang diimport dari barat. Melalui tangan merekalah para tokoh modernis muslim mengadopsi metodologi dan sistematika pemahaman dan penafsiran ajaran Islam, yang kemudian melahirkan berbagai bentuk penyimpangan termasuk pengingkaran terhadap as-Sunnah.[9]

Pada masa modern, muncul beberapa tokoh kelompok Ingkar Sunnah di akhir abad ke-19 dan ke-20 yang terkenal adalah Ghulam Ahmad Parvez dari India dan Taufik Sidqi dari Mesir, Rasyad Khalifah kelahiran Mesir yang menetap di Amerika Serikat, dan Kasasim Ahmad mantan ketua partai Sosialis Rakyat Malaysia. Mereka adalah tokoh-tokoh yang tergolong pengingkar Sunnah secara keseluruhan. Argumen yang mereka keluarkan pada dasarnya tidak berbeda dengan kelompok ingkar sunnah pada periode klasik.

Tokoh-tokoh “Ingkar Sunnah” yang tercatat di Indonesia antara lain adalah Lukman Sa’ad (Dirut PT. Galia Indonesia) Dadang Setio Groho (karyawan Unilever), Safran Batu Bara (guru SMP Yayasan Wakaf Muslim Tanah Tinggi) dan Dalimi Lubis (karyawan kantor DePag Padang Panjang). Sebagaimana kelompok ingkar sunnah klasik yang menggunakan argumen baik dalil naqli maupun aqli untuk menguatkan pendapat mereka, begitu juga kelompok ingkar sunnah Indonesia. antara sebab utama ingkar sunnah modern adalah akibat pengaruh kolonialisme yang semakin dahsyat pada awal abad ke-19 di dunia Islam. Para kolonialis memperdaya dan melemahkan Islam melalui penyebaran faham-faham yang bertentangan dengan faham dasar Islam.

Dasar mereka ingkar sunnah yaitu mereka menguatkan beberapa pendapat mereka dengan beberapa ayat-ayat dalam al-Qur’an:

  • QS. An-Nisa ayat 87

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۗ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

Artinya:

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah? (QS. An-Nisa: 87).[10]

  • QS. Al-Jasiyah ayat 6

تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ

Artinya:

Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya. (QS. Al-Jasiyah: 6).[11]

  • Ingkar Sunnah di Indonesia

Paham inkar al-Sunnah muncul di Indonesia sudah lama, kira-kira sejak tahun 1980-an, menurut seorang peneliti bahwa inkar al-Sunnah lahir di Indonesia itu sejak tahun 1982-1983.[12] Dengan demikian, usia inkar al-Sunnah di Indonesia bukanlah hal yang baru, akan tetapi sudah lama da tua bersemayam di negeri ini. Bahkan ada yang mengatakan bahwa inkar al-sunnah atau inkar hadits di Indonesia sudah ada sejak tahun 1978 yang membuat keresahan karena ajaran-ajarannya yang menolak Hadits.[13] Justru dengan data seperti itu usia paham inkar al-Sunnah di Indonesia tidak muda lagi.

Di Indonesia paham ingkar Sunnah ini kebanyakan terjadi di kalangan akademisi, karena mungkin mereka mempunyai pemikiran yang bebas, dengan kebebasan berpikir itulah mereka kebablasan dalam berfikir. Dengan demikian, perlu diwaspadai pemikiran-pemikiran di kalangan akademisi yang notabene mereka mempunyai kebebasan dalam berpikir (bukan berarti su’udzon dan menuduh), jangan sampai dengan kebebasan itu mereka kebablasan dalam mengungkapkannya. Meskipun bisa dikatakan bahwa ingkar unnah yang terjadi di kalangan akademisi itu bukan sesuatu yang final. Akan tetapi, hal itu bisa jadi menjadi dasar ketika terjun ke masyarakat nantinya. Kita sering membayangkan bahwa yang namanya paham inkar al-Sunnah ialah suatu faham yang secara total menolak akan hadirnya hadits atau sunnah.[14] Akan tetapi, Daud Rasyd mengklasifikasikan bahwa paham inkar al-Sunnah di Indonesia dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: Inkar al-Sunnah secara keseluruhan, inkar al-Sunnah sebagian dan inkar al-Sunnah selain menurut cara yang diriwayatkan. Inkar al-Sunnah secara keseluruhan yaitu paham ingkar sunnah di Indonesia yang dalam ajarannya hanya menerima al-Qur’an saja dan menolak Sunnah atau tidak menggunakan sunnah. Sedangkan faham ingkar sunnah selain melalui cara yang diriwayatkan adalah sebuah faham yang hanya menerima hadits-hadits yang diriwayatkan melalui sanad yang bersambung kepada pimpinan golongannya dan smapai kepada Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi, Hadits yang diriwayatkan oleh golongan lain, maka ditolaknya.[15]

Kesimpulan

Ingkar sunnah merupakan paham yang menolak sunnah atau hadits Nabi Muhammad SAW sebagai dasar hukum Islam setelah al-Qur’an, di mana sunnah yang dimaksud dalam hal ini yaitu sunnah yang shahih baik praktis maupun sunnah yang telah dikodifikasikan oleh para ulama. terdapat tiga kelompok pengingkar sunnah yang berhadapan dengan Asy-Syafi’i, yaitu : Pertama, golongan yang menolak seluruh Sunnah Nabi Muhammad SAW, Kedua, golongan yang menolak Sunnah, kecuali bila sunnah memiliki kesamaan dengan petunjuk al-Qur’an, Ketiga, golongan yang menolak Sunnah yang berada pada tingkatan hadits Ahad dan hanya menerima Sunnah yang berada pada tingkatan Mutawatir.

Di Indonesia paham ingkar Sunnah ini kebanyakan terjadi di kalangan akademisi, karena mungkin mereka mempunyai pemikiran yang bebas, dengan kebebasan berpikir itulah mereka kebablasan dalam berfikir. Dengan demikian, perlu diwaspadai pemikiran-pemikiran di kalangan akademisi yang notabene mereka mempunyai kebebasan dalam berpikir (bukan berarti su’udzon dan menuduh), jangan sampai dengan kebebasan itu mereka kebablasan dalam mengungkapkannya.

Daftar Pustaka

Handika, Caca. “Inkar Al-Sunnah Di Indonesia (Studi Analisis Tentang Pemikiran Inkar Al-Sunnah Ir. M. Ircham Sutarto).” Al-Din: Jurnal Dakwah Dan Sosial Keagamaan 5, no. 2 (2019): 35–46. https://doi.org/10.35673/ajdsk.v5i2.584.

Khon, Abdul Majid. “Paham Ingkar Sunnah Di Indonesia (Studi Tentang Pemikirannya).” Jurnal Theologia 23, no. 1 (2012): 57–74. https://doi.org/10.21580/teo.2012.23.1.1759.

———. Ulumul Hadis. Jakarta: Amzah, 2013.

Makhfud. “Meninjau Ulang Signifikansi Kedudukan Hadits Dan Ingkar Al Sunnah.” Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman 28, no. 1 (2017): 47–68. https://doi.org/10.33367/tribakti.v28i1.414.

Maulida, Ali. “Inkarus Sunnah Dari Kalangan Muslim Dalam Lintasan Sejarah.” Al-Tadabbur: Jurnal Ilmi Al-Qur’an Dan Tafsir 1, no. 1 (2014): 128–48. https://doi.org/10.30868/at.v1i01.172.

Mudhiiah, Khoridatul. “Pemikiran Daud Rasyid Terhadap Upaya Ingkar Sunnah Kelompok Orientalis Di Indonesia.” Addin: Media Dialetika Ilmu Islam 7, no. 2 (2013): 431–50. https://doi.org/10.21043/addin.v7i2.586.

Nurfajriyani. “Ingkar Hadits Di Indonesia Dan Malaysia: Studi Kritis Pemikiran Hadits Nazwar Syamsu Dan Kassim Ahmad.” An-Nida 43, no. 1 (2019): 101–24. https://doi.org/10.24014/an-nida.v43i1.12318.

RI, Departemen Agama. Al-Qur’an Terjemahan. Bandung: CV. Darus Sunnah, 2015.

Suhandi. “Ingkar Sunnah (Sejarah, Argumentasi, Dan Respon Ulama Hadits).” AL-DZIKRA: Jurnal Studi Ilmu Al-Qur’an Dan Al-Hadits 9, no. 1 (2015): 93–115. https://doi.org/10.24042/al-dzikra.v9i1.1727.

Syahidin. “Penolakan Hadis Ahad Dalam Tinjauan Sejarah Ingkar Sunnah.” Tsaqofah Dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan Dan Sejarah Islam 3, no. 2 (2018): 179–87. https://doi.org/10.29300/ttjksi.v3i2.1563.

BIODATA PENULIS

Nama : Dudiyono, M.Pd.I

NIP : 19781224 200710 1 001

Pangkat/ Golongan : Penata Tk. I, III/d

Unit Kerja : SMA Negeri 4 Purwokerto

You cannot copy content of this page