Iklan

IMPLEMENTASI IN HOUSE TRAINING GUNA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYUSUN SILABUS BAGI GURU KELAS IV SD DI DABIN I KOORWILCAM DINDIKBUD BOBOTSARI PADA SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Tri Wibowo, S.Pd., M.Pd.

ABSTRAK

Perangkat yang harus disiapkan guru dalam merancang pembelajaran antara lain berupa silabus. Berdasarkan temuan hasil supervisi, 8 silabus dari 10 silabus yang disupervisi terdapat kekurangan dan kelemahan pada berbagai sisi. Hal itu menjadi cermin bahwa kemampuan guru di Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun silabus perlu ditingkatkan. Tujuan penelitian secara khusus adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan guru dalam menyusun silabus melalui in house training oleh pengawas. Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2019/2020 di Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dan subjek penelitiannya adalah guru kelas IV. Instrumen penelitian menggunakan lembar pengamatan. Penelitian tindakan ini dilakukan sebanyak dua siklus dan tiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/ evaluasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan in house training oleh pengawas terbukti dapat meningkatkan kemampuan guru di Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun silabus. Hal tersebut terlihat dari kenaikan skor kemampuan menyusun silabus maupun pelaksanaan in house training pada tiap tahap penelitian. Kondisi awal menunjukkan nilai rata-rata kemampuan menyusun silabus hanya mencapai 22,6. Pada akhir siklus I, nilai tersebut meningkat menjadi 30,2 dan di akhir siklus I kembali meningkat menjadi 37,7. In house training penyusunan silabus, dari kondisi awal belum dilaksanakan atau 0, meningkat menjadi 22 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 26 pada siklus II. Hasil akhir pada siklus II melampaui indikator kinerja dalam penelitian tindakan ini, yaitu: 1) Nilai atau skor rata-rata kemampuan menyusun silabus adalah 37,7 yang lebih besar dari indikator kinerja sebesar 33, dan 2) Nilai rata-rata tindakan in house training yang dilakukan peneliti adalah 26 lebih besar dari indikator kinerja sebesar 23. Berdasarkan hasil tersebut, maka hipotesis tindakan yang menyatakan: “In house training dapat meningkatkan kemampuan menyusun silabus bagi guru di Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari pada semester I tahun pelajaran 2019/2020”, terbukti benar.

Kata kunci: kemampuan, in house training, silabus.

Latar Belakang Masalah

Tugas guru sesungguhnya cukup kompleks, karena mencakup perencanaan hingga evaluasinya, dengan segala aspek pada tiap tahapannya. Dibutuhkan kompetensi yang memadai agar semua rangkaian tugas tersebut dapat terlaksana dengan baik dan tujuan-tujuan pembelajaran dapat tercapai, sesuai dengan harapan.

Perencanaan merupakan langkah awal bagi guru dalam mengelola pembelajaran. Tahap ini bernilai strategis karena menentukan keberhasilan tahap pembelajaran berikutnya. Pendek kata, keberhasilan suatu kegiatan tentu akan sulit untuk tercapai tanpa disertai dengan perencanaan yang baik dan matang.

Menurut BSNP (2007) perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar. Berdasarkan hal tersebut maka jelas bahwa ada dua perangkat yang harus disiapkan oleh guru dalam merancang pembelajaran, yaitu silabus dan RPP. Dalam konteks penelitian ini, kajiannya difokuskan pada silabus.

Hasil supervisi rutin yang dilakukan oleh peneliti selaku pengawas mendapatkan temuan atau permasalahan menyangkut silabus. Dari 10 silabus yang terkumpul dari para guru, terdapat 8 silabus yang masih mempunyai kekurangan dan kelemahan pada berbagai sisi. Peneliti mencermati bahwa banyak guru yang cenderung meniru silabus yang sudah ada, mengcopy paste silabus dari internet, kurang cermat dalam mengisi komponen-komponen silabus, dan cenderung menyusun silabus hanya untuk memenuhi kewajiban tugas. Semua itu menjadi cermin bahwa kemampuan guru di Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun silabus perlu ditingkatkan. Kondisi tersebut memotivasi peneliti selaku pengawas untuk melakukan suatu tindakan guna meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun silabus. Adapun tindakan yang akan dilakukan adalah dengan melaksanakan in house training. Peneliti berpandangan bahwa peningkatkan kemampuan guru dalam menyusun silabus sangat penting karena selain sebagai salah satu upaya peningkatan kompetensi guru, juga untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran karena idealnya pembelajaran harus dirancang dengan baik dan matang. Perencanaan pembelajaran yang baik tersebut tidak lepas dari kesiapan perangkatnya, khususnya silabus.

Landasan Teori

Menurut Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Kemampuan guru atau yang sering disebut kompetensi guru merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Cooper (dalam Sudjana, 2009) mengemukakan ada empat kompetensi guru, yakni ; (a) mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia, (b) mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya, (c) mempunyai sikap yang tepat tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat dan bidang studi yang dibinanya, (d) mempunyai keterampilan teknik mengajar. Pendapat yang hampir serupa dikemukakan oleh Grasser bahwa ada empat hal yang harus dikuasai guru, yakni; (a) menguasai bahan pelajaran, (b) kemampuan mendiagnosa tingkah laku siswa, (c) kemampuan melaksanakan proses pengajaran, dan (d) kemampuan mengukur hasil belajar siswa.

Silabus dapat diterjemahkan sebagai garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi/materi pembelajaran. Silabus merupakan seperangkat rencana serta pengaturan pelaksanaan pembelajaran dan penilaian yang disusun secara sistematis memuat komponen-komponen yang saling berkaitan untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar (Faridah, 2019).

Telaumbanua (2014) menyatakan bahwa silabus pada dasarnya merupakan program yang bersifat makro yang harus dijabarkan lagi ke dalam program-program pembelajaran yang lebih rinci, yaitu rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Silabus merupakan program yang dilaksanakan untuk jangka waktu yang cukup panjang (satu semester), menjadi acuan dalam mengembangkan RPP yang merupakan program untuk jangka waktu yang lebih singkat. Silabus akan sangat bermanfaat sebagai pedoman bagi pengajar karena berisi petunjuk secara keseluruhan mengenai tujuan dan ruang lingkup materi yang harus dipelajari oleh peserta didik. Selain itu, juga menerangkan tentang kegiatan belajar mengajar, media, dan evaluasi yang harus digunakan dalam proses pembelajaran kepada peserta didik. Dengan berpedoman pada silabus diharapkan pengajar akan dapat mengajar lebih baik, tanpa khawatir akan keluar dari tujuan, ruang lingkup materi, strategi belajar mengajar, atau keluar dari sistem evaluasi yang seharusnya.

Kirkpatrick (dalam Sa’bani, 2017) mendefinisikan bahwa pelatihan merupakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah perilaku dan mengembangkan keterampilan. Salah satu bentuk pelatihan tersebut yaitu dalam bentuk kegiatan In House Training (IHT). In House Training adalah pelatihan yang dilaksanakan atas permintaan suatu kelompok tertentu, apakah itu lembaga profit ataupun nonprofit (Khaerani, 2016). Sedangkan Ayuningtyas (2017) menyatakan bahwa In House Training (IHT) merupakan program yang diselenggarakan di sekolah atau tempat lain menggunakan peralatan dan materi yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi, tujuannya adalah untuk mengembangkan kompetensi berupa skill, knowledge, dan atittude.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 143 Tahun 2014 menegaskan bahwa pengawas sekolah adalah pengawas sekolah/madrasah yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan. Menurut Mockler (dalam Aedi, 2014) pengawasan sebagai usaha sistematik menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar, menentukan deviasi-deviasi dan mengambil tindakan koreksi yang menjamin bahwa semua sumberdaya yang dimiliki telah dipergunakan dengan efektif dan efisien.

Sudjana (2009), dengan mengutip Ofsted, menyatakan bahwa tugas pengawas sekolah meliputi: a). Inspecting (mensupervisi), b). Advising (member nasehat), c). Monitoring (memantau), d). Reporting (membuat laporan), e). Coordinating (mengkoordinir), f). Performing Leadership (memimpin dan melaksanakan kelima tugas pokok tersebut).

Kiprah pengawas pendidikan menjadi bagian integral dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah sebagai hakikat pengawasan. Menurut Sudjana, (2012) bahwa hakikat pengawasan memiliki empat dimensi: 1) support, 2) trust, 3) challenge; dan 4) networking and collaboration.

Hipotesis Tindakan

In house training dapat meningkatkan kemampuan menyusun silabus bagi guru di Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari pada semester I tahun pelajaran 2019/2020.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2019/2020 di Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dan subjek penelitiannya adalah guru kelas IV. Instrumen penelitian menggunakan lembar pengamatan. Penelitian tindakan ini dilakukan sebanyak dua siklus dan tiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/ evaluasi, dan refleksi. Indikator kinerjanya adalah: 1) Nilai atau skor rata-rata kemampuan menyusun silabus sebesar 33, 2) nilai rata-rata in house training yang dilakukan peneliti sebesar 23.

Hasil Tindakan dan Pembahasan

Deskripsi Kondisi Awal

Hasil pengamatan kondisi awal kemampuan menyusun silabus pada guru Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsaridapat dilihat dalam tabel berikut ini.

Tabel 4.1 Kondisi Awal Kemampuan Guru Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam Menyusun Silabus Sebelum Penelitian Tindakan

No. Aspek yang Dinilai Kode Guru & Skor Penilaian Jml Rata-rata
G1 G2 G3 G4 G5 G6 G7
1. Identitas mata pelajaran 2 3 3 2 3 3 2 18 2.6
2. Standar Kompetensi 3 2 3 2 2 3 2 17 2.4
3. Kompetensi Dasar 2 2 3 2 3 2 3 17 2.4
4. Indikator 3 3 2 3 3 2 3 19 2.7
5. Pengalaman belajar 2 3 2 3 3 2 3 18 2.6
6. Materi pokok 3 2 2 2 2 3 3 17 2.4
7. Alokasi waktu pembelajaran 2 3 3 3 3 2 2 18 2.6
8. Sumber pustaka 2 2 3 2 2 3 2 16 2.3
9. Penilaian 2 3 2 3 3 3 2 18 2.6
Jumlah 21 23 23 22 24 23 22 158 22.6

Data pada Tabel 4.1 menunjukkan rendahnya kemampuan guru Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun silabus. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai rata-rata yang hanya mencapai 22,6 yang termasuk dalam kategori kurang. Tidak seorang pun subjek penelitian yang mendapat skor 4 dan 5 pada tiap aspek penilaian. Hal ini memperkuat indikasi tentang masih rendahnya kemampuan guru Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun silabus.

Deskripsi Hasil Siklus I

Hasil pengamatan pada siklus I penelitian dapat dilihat dalam Tabel berikut ini.

Tabel 4.2 Hasil Penilaian Peneliti tentang Kemampuan Guru Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam Menyusun Silabus pada Siklus I Penelitian

No. Aspek yang Dinilai Kode Guru & Skor Penilaian Jml Rata-rata
G1 G2 G3 G4 G5 G6 G7
1. Identitas mata pelajaran 3 4 3 3 4 3 3 23 3.3
2. Standar Kompetensi 3 3 4 3 3 3 3 22 3.1
3. Kompetensi Dasar 3 4 3 3 3 3 3 22 3.1
4. Indikator 3 3 4 4 4 3 4 25 3.6
5. Pengalaman belajar 4 3 3 3 4 3 4 24 3.4
6. Materi pokok 4 3 3 3 3 4 3 23 3.3
7. Alokasi waktu pembelajaran 3 4 4 3 4 4 4 26 3.7
8. Sumber pustaka 3 3 3 3 3 3 3 21 3.0
9. Penilaian 3 4 3 3 3 4 3 23 3.3
Jumlah 29 31 30 28 31 30 30 209 29.9

Tabel 4.3 Hasil Penilaian Kolaborator tentang Kemampuan Guru Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam Menyusun Silabus pada Siklus I Penelitian

No. Aspek yang Dinilai Kode Guru & Skor Penilaian Jml Rata-rata
G1 G2 G3 G4 G5 G6 G7
1. Identitas mata pelajaran 3 3 3 3 4 3 3 22 3.1
2. Standar Kompetensi 4 3 3 3 3 3 3 22 3.1
3. Kompetensi Dasar 3 4 3 4 3 3 3 23 3.3
4. Indikator 3 3 3 5 4 3 4 25 3.6
5. Pengalaman belajar 4 3 3 3 4 4 3 24 3.4
6. Materi pokok 3 4 3 4 3 3 4 24 3.4
7. Alokasi waktu pembelajaran 4 3 3 3 4 4 3 24 3.4
8. Sumber pustaka 3 4 4 3 4 3 4 25 3.6
9. Penilaian 3 3 4 4 3 4 3 24 3.4
Jumlah 30 30 29 32 32 30 30 213 30.4

Berdasarkan data tersebut di atas, diketahui bahwa nilai rata-rata kemampuan guru Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun silabus adalah sebesar 30,2 yang termasuk dalam kategori baik. Adapun hasil peniaian terhadap tindakan in house training yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut.

Tabel 4.4 Hasil Penilaian Terhadap Tindakan In House Training yang Dilakukan Peneliti Pada Siklus I

No. Penilai Skor Pembimbingan Rata-rata
1. Kolaborator 22 22
2. Subjek penelitian 22

Tabel 4.5 Rata-rata Data Awal dan Akhir Siklus I

No. Data Penelitian Data Awal Siklus I Kenaikan % Kenaikan
1. Kemampuan menyusun silabus 22,6 30,2 7,6 16,9
2. Tindakan in house training 0 22 22 73,3

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa kemampuan menyusun silabus mencapai kenaikan skor 7,6 poin atau 16,9% dan pelaksanaan in house training mencapai skor 22 atau 73,3%. Dari hasil diskusi untuk refleksi terhadap proses dan hasil tindakan pada siklus I, dapat disimpulkan bahwa apek-aspek silabus yang disusun guru belum nampak maksimal. Demikian pula dengan pelaksanaan in house training oleh peneliti. Berdasarkan hasil siklus I tersebut, maka peneltian tindakan ini dinyatakan belum berhasil dan dilanjutkan ke siklus II.

Deskripsi Siklus II Penelitian

Hasil pengamatan pada siklus II penelitian dapat dilihat dalam Tabel berikut ini.

Tabel 4.6 Hasil Penilaian Peneliti tentang Kemampuan Guru Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam Menyusun Silabus pada Siklus II Penelitian

No. Aspek yang Dinilai Kode Guru & Skor Penilaian Jml Rata-rata
G1 G2 G3 G4 G5 G6 G7
1. Identitas mata pelajaran 4 4 4 4 4 4 4 28 4.0
2. Standar Kompetensi 4 4 4 5 4 4 4 29 4.1
3. Kompetensi Dasar 4 4 4 4 4 4 4 28 4.0
4. Indikator 5 4 4 5 5 5 5 33 4.7
5. Pengalaman belajar 4 4 5 4 4 4 5 30 4.3
6. Materi pokok 5 4 4 4 4 4 4 29 4.1
7. Alokasi waktu pembelajaran 4 5 4 4 5 5 4 31 4.4
8. Sumber pustaka 4 4 3 4 4 4 4 27 3.9
9. Penilaian 4 4 4 5 4 5 4 30 4.3
Jumlah 38 37 36 39 38 39 38 265 37.9

Tabel 4.7 Hasil Penilaian Kolaborator tentang Kemampuan Guru Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam Menyusun Silabus pada Siklus II Penelitian

No. Aspek yang Dinilai Kode Guru & Skor Penilaian Jml Rata-rata
G1 G2 G3 G4 G5 G6 G7
1. Identitas mata pelajaran 4 4 4 4 4 4 4 28 4.0
2. Standar Kompetensi 4 4 4 4 4 4 4 28 4.0
3. Kompetensi Dasar 4 4 4 4 5 4 4 29 4.1
4. Indikator 5 4 5 5 4 4 5 32 4.6
5. Pengalaman belajar 4 4 4 5 5 5 5 32 4.6
6. Materi pokok 4 4 4 4 4 4 4 28 4.0
7. Alokasi waktu pembelajaran 4 4 4 4 4 5 4 29 4.1
8. Sumber pustaka 4 4 3 4 4 4 4 27 3.9
9. Penilaian 4 4 4 5 4 4 4 29 4.1
Jumlah 37 36 36 39 38 38 38 262 37.4

Berdasarkan data pada Tabel 4.6 dan 4.7, diketahui bahwa nilai rata-rata kemampuan guru di Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun silabus dari peneliti adalah sebesar 37,9 sedangkan dari kolaborator sebesar 37,4. Jadi nilai rata-ratanya adalah sebesar 37,7 yang termasuk dalam kategori amat baik. Hasil positif tersebut juga diikuti dengan penilaian yang lebih baik dari kolaborator dan salah satu guru yang menjadi subjek penelitian terhadap tindakan in house training yang dilakukan oleh peneliti.

Tabel 4.8 Hasil Penilaian Terhadap Tindakan In house training yang Dilakukan Oleh Peneliti pada Siklus II Penelitian

No. Penilai Skor Rerata Kategori
1. Kolaborator 25 26 Baik sekali
2. Subjek penelitian 27

Tabel 4.9 Rata-rata Data Akhir Siklus I dan Akhir Siklus II

No. Data Penelitian Siklus I Siklus II Kenaikan Skor %

Kenaikan

1. Kemampuan menyusun silabus 30,2 37,7 7,5 16,7
2. Tindakan in house training 22 26 4 13,3

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa kemampuan guru di Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun silabus mencapai kenaikan skor sebesar 7,5 atau 16,7% dan skor pelaksanaan in house training meningkat sebesar 4 poin atau 13,3%. Pada proses penyusunan silabus sebagian besar aspek atau komponen silabus sudah mendekati maksimal. Sedangkan untuk pelaksanaan in house training oleh peneliti secara umum sudah berjalan secara maksimal.

Pembahasan

Berdasarkan hasil tindakan pada siklus I dan 2 penelitian dapat diketahui bahwa kemampuan guru di Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun silabus mengalami peningkatan, yaitu dari data awal sampai akhir siklus II sebesar adalah 15,1 atau 33,6%. Sementara pelaksanaan in house training dari awal sampai siklus II meningkat sebesar 26 atau 86,7%.

Tabel 4.10 Rata-rata Data Awal, Akhir Siklus I dan Akhir Siklus II

No. Data Penelitian Data Awal Siklus

I

Siklus II Total Kenaikan % Kenaikan
1. Kemampuan menyusun silabus 22,6 30,2 37,7 15,1 33,6
2. Tindakan in house training 0 22 26 26 86,7

Berdasarkan uraian data yang tersaji pada Tabel 4.10 dan Gambar 4.1 di atas dapat diketahui bahwa penelitian tindakan sekolah tentang upaya peningkatan kemampuan menyusun silabus pada guru di Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dapat dikatakan berhasil. Parameter keberhasilannya dapat dibuktikan dengan terjadinya peningkatan skor pada kemampuan menyusun silabus dan tindakan in house training pada tiap siklus penelitian. Peningkatan skor itu merupakan cermin atau bukti yang menggambarkan adanya peningkatan kemampuan subjek penelitian dalam menyusun silabus. Hasil akhir yang diperoleh untuk kemampuan menyusun silabus adalah sebesar 37,7 dan pelaksanaan atau tindakan in house training yang dilakukan oleh penelitian sebesar 26, Hasil yang dicapai pada siklus II tersebut melampaui indikator kinerja keberhasilan dalam penelitian tindakan sekolah ini.

5. Hasil Tindakan

Berdasarkan data hasil penelitian dapat diketahui bahwa tindakan in house training oleh peneliti berhasil meningkatkan kemampuan guru di Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam penyusunan silabus. Kemampuan menyusun silabus pada kondisi awal sebesar 22,6 meningkat menjadi 30,2 pada akhir siklus I dan meningkat lagi menjadi 37,7 pada akhir siklus II. Total kenaikannya adalah sebesar 15,1 atau 33,6%. Pelaksanaan in house training dalam penyusunan silabus oleh peneliti dari kondisi awal belum dilaksanakan (0), meningkat menjadi 22 pada siklus I dan 26 pada siklus II, sehingga total kenaikan sebesar 25 atau 86,7%.

Kenaikan skor tersebut merupakan bukti nyata bahwa pelaksanaan in house training dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun silabus. Berdasarkan hasil tersebut, hipotesis tindakan dalam penelitian yang menyatakan: “In house training dapat meningkatkan kemampuan menyusun silabus bagi guru di Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari pada semester I tahun pelajaran 2019/2020”, terbukti benar. Jadi, kemampuan guru dalam menyusun silabus dapat ditingkatkan melalui in house training oleh pengawas. Dengan kata lain, tindakan in house training oleh pengawas secara nyata mampu memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan kemampuan guru di Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam merancang perangkat rencana pembelajaran, yang dalam hal ini adalah silabus. Guru menjadi lebih paham tentang seluk beluk silabus serta lebih siap dan mampu menyusun silabus yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Hasil yang dicapai dalam penelitian tindakan sekolah ini sekaligus menunjukkan manfaat in house training dalam upaya meningkatkan kompetensi guru, serta untuk mengatasi berbagai permasalahan tugas yang dialami oleh guru, khususnya dalam penyusunan silabus. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Ayuningtyas (2017) yang menyatakan bahwa In House Training (IHT) merupakan program yang diselenggarakan di sekolah atau tempat lain menggunakan peralatan dan materi yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi, tujuannya adalah untuk mengembangkan kompetensi berupa skill, knowledge, dan atittude. Pendapat tersebut diperkuat oleh Corinorita (2017) bahwa in house training merupakan program pelatihan yang diselenggarakan di tempat sendiri, sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi guru, dalam menjalankan pekerjaannya dengan mengoptimalkan potensi-potensi yang ada

Simpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan in house training oleh pengawas terbukti dapat meningkatkan kemampuan guru di Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun silabus. Hal tersebut terlihat dari kenaikan skor kemampuan menyusun silabus maupun pelaksanaan in house training pada tiap tahap penelitian. Kondisi awal menunjukkan nilai rata-rata kemampuan menyusun silabus hanya mencapai 22,6. Pada akhir siklus I, nilai tersebut meningkat menjadi 30,2 dan di akhir siklus I kembali meningkat menjadi 37,7. In house training penyusunan silabus, dari kondisi awal belum dilaksanakan atau 0, meningkat menjadi 22 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 26 pada siklus II. Hasil akhir pada siklus II melampaui indikator kinerja dalam penelitian tindakan ini, yaitu: 1) Nilai atau skor rata-rata kemampuan menyusun silabus adalah 37,7 yang lebih besar dari indikator kinerja sebesar 33, dan 2) Nilai rata-rata tindakan in house training yang dilakukan peneliti adalah 26 lebih besar dari indikator kinerja sebesar 23. Berdasarkan hasil tersebut, maka hipotesis tindakan yang menyatakan: “In house training dapat meningkatkan kemampuan menyusun silabus bagi guru di Dabin I Koorwilcam Dindikbud Bobotsari pada semester I tahun pelajaran 2019/2020”, terbukti benar.

DAFTAR PUSTAKA

Aedi, N. (2016). Manajemen Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Yogyakarta: Gosyen Publising.

Ayuningtyas, Ervanti Aih. (2017). “Evaluasi Program Pelatihan In House Training (IHT) di Sekolah Dasar Swasta”. Jurnal Manajemen Pendidikan Volume 4 No. 2

BNSP. (2007). Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses. Jakarta: Depdiknas.

Faridah. (2019). “Meningkatkan Kompetensi Guru dalam Menyusun Silabus dan RPP Melalui Supervisi Akademik Berkelanjutan di SMP Negeri 2 Sabang”. Tadabbur: Jurnal Peradaban Islam Vol. 1, No. 2.

Khaerani, N. C. (2016). “Peningkatan Kompetensi Guru Dalam Menyusun RPP Melalui Kegiatan IHT (In House Training)”. Didaktikum: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, Vol. 17. No. 1.

Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 143 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya

Sa’bani, F. (2017). “Peningkatan Kompetensi Guru dalam Menyusun RPP melalui Kegiatan Pelatihan pada MTs Muhammadiyah Wonosari”. Jurnal Pendidikan Madrasah, Volume 2, Nomor 1, Mei 2017.

SK Menpan No. 21 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Fungsional Sekolah dan Angka Kreditnya.

Sudjana, Nana. (2009). Supervisi Pendidikan Konsep dan Aplikasinya bagi Pengawas Sekolah. Cikarang Bekasi : Binamitra Publishing.

Sudjana, Nana. (2012). Pengawas dan Kepengawasan: Memahami Tugas Pokok, Fungsi, Peran dan Tanggung Jawab Pengawas Sekolah. Cikarang: Binamitra Publishing.

Telaumbanua, Martinus. (2014). “Peningkatan Kemampuan Guru Menyusun Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Melalui Supervisi Akademik Teknik Workshop (Lokakarya) Pada SMA Di Kabupaten Nias Selatan”. Jurnal Manajemen Pendidikan Indonesia, Vol. 6 No. 1.

Biodata

Nama : Tri Wibowo, S.Pd., M.Pd.

Jabatan : Pengawas

Unit Kerja : Koorwilcam Dindikbud Bobotsari

You cannot copy content of this page