Iklan

HAMBATAN-HAMBATAN PELAKSANAAN PJJ (ONLINE) DI MASA PANDEMI COVID 19

C:\Users\Dwiana\Downloads\WhatsApp Image 2021-02-03 at 21.57.14.jpeg

Dwiana Pujiasih, S.Sos.

Pandemi covid 19 telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat, tidak terkecuali di bidang pendidikan. Pola kemapanan dalam pembelajaran mengalami kekacauan akiibat perubahan tersebut. Pembelajaran tatap muka yang sudah dilaksanakan berpuluh-puluh tahun, tiba-tiba harus segera diberhentikan. Sekolah-sekolah ditutup dalam jangka waktu yang tidak pasti untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid 19. Namun bukan berarti bahwa siswa harus tinggal diam di rumah tanpa belajar. Pola pembelajaran harus dirubah disesuaikan dengan perubahan yang terjadi. Pemenuhan hak anak untuk mendapatkan pendidikan harus tetap diprioritaskan dan tetap berjalan. Oleh karena itu pemerintah melalui mendikbud mengeluarkan Surat Edaran No. 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona virus Disease (Covid 19) yang diperkuat dengan Surat Edaran Sekretaris Jenderal No. 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah (BDR). Dalam pelayanan BDR atau sering disebut juga Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), baik daring maupun luring tetap memegang prinsip mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat. Berdasarkan pedoman ini maka setiap satuan pendidikan harus memberikan materi pembelajaran dari rumah (BDR) atau dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Dalam peristiwa wabah virus Covid 19 yang mendunia ini, pendidikan jarak jauh menjadi satu-satunya sistem yang paling efektif. Pendidikan jarak jauh dapat didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang tidak memperhitungkan ruang dan waktu pembelajaran dan bersifat mandiri untuk pengembangan peserta didik dengan menggunakan metode dan teknik maupun media dalam kegiatan pembelajaran (Kor et al, dalam Isman, 2014). Metode PJJ sendiri ada dua, yaitu Pembelajaran Jarak Jauh Dalam Jaringan (PJJ Daring) dan PPJ Luar Jaringan (Luring). PJJ Daring secara khusus menggabungkan teknologi elektronik dan teknologi berbasis internet, sementara PJJ Luring dapat dilakukan melalui siaran televisi, radio, modul belajar mandiri, bahan cetak maupun media belajar dari benda di lingkungan sekitar.

Menurut Anugrahana (2020), bahwa pembelajaran online atau e-learning adalah salah satu bentuk model pembelajaran yang difasilitasi dan didukung pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. E-learning dapat didefinisikan sebagai sebuah bentuk teknologi informasi yang diterapkan di bidang pendidikan dalam bentuk dunia maya. Sementara Wulandari & Rahayu (2010), menjelaskan bahwa e-learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media jaringan komputer. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran online adalah pembelajaran tanpa interaksi langsung, antara guru dan siswa dapat melakukan interaksi dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Pembelajaran online memberikan keleluasaan pada para pengajar agar dapat memberikan akses kepada peserta didik untuk mendapatkan referensi lain terkait dengan materi pembelajaran, hal ini sangat berguna bagi peningkatan kualitas pembelajaran ( Pardede, 2011). Dengan perkembangan internet yang semakin maju, membuat pembelajaran online semakin mudah diselenggarakan.

Mensikapi kondisi yang terjadi, setiap satuan pendidikan dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi harus melakukan gerak cepat mengambil keputusan untuk melaksanakan pembelajaran online. Setiap sekolah memilih berbagai aplikasi pembelajaran online yang dapat digunakan untuk melayani siswa dengan baik. Ada yang memilih WA group, “Google Class Room (GCR), Office 365, zoom, google meet, atau aplikasi lain sebagai sarana untuk mengelola pembelajaran jarak jauh. Dengan demikian sekolah tetap dapat menjalankan fungsinya untuk memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik kepada para siswanya.

Dalam rangka memberikan pelayanan kepada siswanya, setiap sekolah, bahkan setiap guru memiliki gaya masing-masing. Prinsipnya bahwa setiap guru tetap harus menjalankan tugas mengajar dalam kelas maya sesuai dengan jadwal belajar yang dikeluarkan sekolah. Demikian juga setiap siswa harus mengikuti pembelajaran di kelas maya. Untuk satuan pendidikan tingkat SMA, biasanya dipilih aplikasi pembelajaran yang menuntut tingkat kemandirian lebih tinggi. Siswa harus bergabung pada kela-kelas maya yang sudah dibuat guru mata pelajaran secara mandiri. Selain guru dan siswa yang aktif dalam proses pembelajaran, wali kelas memiliki andil besar dalam membimbing kelas perwaliannya sehingga wali kelaspun biasanya ikut bergabung dalam kelas maya sehingga dapat mengontrol siswa perwaliannya yang kurang disiplin. Namun demikian dalam pelaksanaan pembelajaran masih banyak ditemukan permasalahan, bahkan permasalahan ini menjadi permasalahan nasional yang dihadapi dunia pendidikan. Banyak siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran online. Setelah ditelusuri ternyata ditemukan kasus-kasus antara lain; ada anak yang tidak memiliki HP android atau dalam keluraga hanya ada satu HP digunakan secara bersama dengan anggota keluarga lain, anak tidak mengikuti pembelajaran karena bangun kesiangan, orang tua kurang peduli dengan anak, anak tidak dapat mengikuti pembelajaran atau mengirim tugas karena pulsa paketannya habis, anak tidak mengikuti pembelajaran karena sinyal rumahnya susah, anak tidak mengirimkan tugas karena tidak memahami cara penggunaan fitur-fitur dalam kelas maya, anak terpaksa tidak ikut pembelajaran karena harus bekerja membantu perekonomian keluarga, dan masih banyak permasalahan lainnya. Kondisi demikian sedikit banyak telah mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran online. Dan pada akhirnya akan menghambat transfer pengetahuan kepada siswa.

Berdasarkan permasalahan tersebut penulis telah mengidentifikasi beberapa factor yang menjadi factor penghambat dalam pembelajaran jarak jauh dengan sitem online, antara lain sebagai berikut:

  • Status Sosial Ekonomi Orang tua

Menurut Soekanto (2003) status sosial ekonomi adalah posisi seseorang dalam masyarakat berkaitan dengan orang lain dalam arti lingkungan pergaulan, prestasinya, dan hak-hak serta kewajibannya dalam hubunganya dengan sumber daya. Menurut Coleman & Cressey dalam Sumardi (2004) tingkatan status sosial ekonomi terdiri dari: a) Status sosial ekonomi atas; dan b) Status sosial ekonomi bawah. Status sosial ekonomi atas adalah status sosial atau kedudukan seseorang di masyarakat yang diperoleh berdasarkan penggolongan menurut kekayaan, di mana harta yang dimiliki di atas rata-rata masyarakat pada umumnya dan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan baik. Status sosial ekonomi bawah adalah kedudukan seseorang di masyarakat yang diperoleh berdasarkan penggolongan menurut kekayaan, dimana harta kekayaan yang dimiliki termasuk kurang jika dibandingkan dengan rata-rata masyarakat pada umumnya serta tidak mampu dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Status sosial ekonomi seseorang tentu mempunyai peranan terhadap perkembangan anak-anaknya. Keluarga yang mempunyai status sosial ekonomi yang baik, tentu akan memberi perhatian yang baik pula pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan akan memikirkan masa depan anak-anaknya. Hal ini didukung oleh pendapat Gerungan (2004) menyatakan bahwa keadaan sosio-ekonomi keluarga tentulah berpengaruh terhadap perkembangan anak- anak, apabila kita perhatikan bahwa dengan adanya perekonomian yang cukup, lingkungan material yang dihadapi anak dalam keluarga itu lebih luas, ia mendapat kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan bermacam-macam kecakapan yang tidak dapat ia kembangkan apabila tidak ada prasarananya. Sebaliknya keluarga yang memiliki status sosial ekonomi kurang mampu, akan cenderung untuk memikirkan bagaimana pemenuhan kebutuhan pokok, sehingga perhatian untuk meningkatkan pendidikan anak juga kurang.

Keadaan ekonomi orang tua turut mendukung siswa dalam pengadaan sarana dan prasarana belajar, yang akan memudahkan dan membantu pihak sekolah untuk meningkatkan proses belajar mengajar di sekolah. Pembelajaran membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dalam pelaksanaan pembelajaran online di masa pandemi ini, diperlukan berbagai fasilitas untuk menunjang agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Setidaknya siswa harus memiliki HP android atau laptop sebagai alat untuk berkomunikasi dengan guru, ruang belajar yang nyaman di rumah, buku-buku sumber belajar, ketersediaan sarana jaringan internet, atau ketersediaan anggaran dana untuk membeli pulsa/paketan. Terpenuhinya fasilitas tersebut sangat berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi orang tua. Orang tua/keluarga yang satus social ekonominya mapan akan dapat memenuhi semua kebutuhan anaknya, sementara keluarga yang tidak mampu akan sulit untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya.

Sugihartono, dkk (2015) menyatakan bahwa status sosial ekonomi orang tua, meliputi tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, penghasilan orang tua. Berdasarkan survey lapangan terhadap 112 siswa di SMA Negeri 3 Purwokerto ditemukan bahwa tingkat pendidikan orang tua/wali murid di SMA Negeri 3 Purwokerto adalah 54,5% adalah lulusan SMA, 22,3% lulusan sarjana dan lulusan SMP dan SD masing-masing sebesar 11,6%. Ini berarti bahwa separuh lebih orangtua/wali murid di SMA Negeri 3 Purwokerto hanya berpendidikan lanjutan atas. Selanjutnya Tingkat pendidikan tentunya sangat berhubungan dengan jenis pekerjaan yang mereka geluti. Tingkat pendidikan yang rendah akan menghasilkan jenis pekerjaan yang rendah pula, yaitu jenis-jenis pekerjaan yang tidak memerlukan keahlian tertentu, seperti berdagang, buruh tani, buruh bagungan atau pekerjaan serabutan lainnya. Berdasarkan survey ditemukan bahwa sebagian besar (85,7%) orang tua dari siswa di SMA negeri 3 Purwokerto memiliki jenis pekerjaan yang penghasilannya tidak tetap, seperti, petani, peternak, tukang, kuli bangunan, dan pedagang. Jenis pekerjaan yang digeluti seseorang tentu saja menentukan tingkat pendapatannya. Berdasarkan survey diketahui bahwa tingkat pendapatan orang tua/wali murid rata-rata perbulan adalah; 28,6% responden memiliki pendapatan 1-2 juta, 24,1% responden memiliki pendapatan kurang dari satu juta, 13,4% responden memiliki pendapatan 2-3 juta, 13,4% responden memiliki pendapatan di atas 5 juta, 11,6% responden memiliki pendapatan 3-4 juta dan 8,9% responden memiliki pendapatan 4-5 juta. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa lebih dari 50% orang tua di SMA Negeri 3 Purwokerto memiliki pendapatan 2 juta ke bawah. Dengan penghasilan yang tidak tetap ditambah kecilnya pendapatan yang mereka peroleh akan sulit bagi mereka untuk dapat memenuhi semua kebutuhan sekolah anak-anaknya.

  • Perhatian Orang Tua

Keluarga memiliki peranan penting atas pengajaran dan perlindungan anak dari mulai anak lahir sampai dengan remaja. Chasiyah, dkk (2009) mengemukakan “fungsi dasar keluarga adalah memberikan rasa memiliki, rasa aman, kasih sayang dan mengembangkan hubungan yang baik diantara anggota keluarga”. Anak merupakan tanggung jawab orang tua, maka dari itu orang tua harus berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam pendidikan anak, karena keluargalah terutama orang tua adalah lingkungan serta orang yang pertama kali dikenal oleh anak, sehingga pendidikan dasar merupakan tanggung jawab orang tua.

Menurut Walgito (2004), perhatian adalah pemusatan atau konsentrasi dan seluruh aktivitas individu yang ditujukan pada sesuatu atau sekumpulan obyek”. Perhatian orang tua adalah suatu aktivitas yang tertuju pada suatu hal dalam hal ini adalah aktivitas anak dalam belajar yang dilakukan oleh orang tuanya. Orang tua bisa berarti ayah, ibu atau wali dalam keluarga yang bertanggung jawab atas pendidikan anaknya. Perhatian, kasih sayang, materi harus secara seimbang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Penyediaan fasilitas belajar dan lingkungan belajar yang nyaman, tenang dan aman akan mendorong peserta didik untuk lebih semangat dalam belajar dan meraih prestasi yang optimal. Selain penyediaan fasilitas belajar dan materi perlu adanya perhatian terkait dengan kegiatan belajar anak terutama di saat pademi dimana mereka harus mengikuti pembelajaran online. Orang tua harus memberikan perhatian ekstra, seperti misalnya memotivasi anak untuk disiplin mengikuti pembelajaran, membangunkan anak, membantu kesulitan belajar anak dan lain sebagainya. Perhatian orang tua terhadap aktivitas belajar anak di rumah mempunyai arti penting untuk meningkatkan semangat anak dalam meraih prestasi belajar yang optimal. Keberhasilan belajar anak di sekolah harus didukung perhatian orang tua, baik psikologis maupun pemenuhan fasilitas belajar.

Berdasarkan survey angket terhadap 112 siswa di SMA Negeri 3 Purwokerto, ketika ditanya apakah di rumahnya tersedia jaringan internet, maka diperoleh data bahwa 56,3% siswa menjawab tidak tersedia jaringan internet, sedang sisanya 43,7% siswa menjawab di rumahnya ada internet. Ini berarti bahwa separuh lebih kelompok siswa hanya mengandalkan pada pulsa/paketan yang dibeli secara eceran. Namun setelah ditanya tentang perhatian orang tua dalam menyediakan kebutuhan pulsa untuk pembelajaran online diperoleh data bahwa 50,9% orang tua selalu membelikan pulsa ketika paketan pulsanya habis untuk PJJ online, 37,5% mereka hanya kadang-kadang membelikan, sedang 11,6% orang tua tidak pernah membelikan kebutuhan pulsa untuk pembelajaran online. Ini berarti bahwa separuh dari jumlah sampel adalah merupakan kelompok-kelompok siswa yang kurang mendapat perhatian dari orangtuanya, sehingga mereka kurang maksimal dalam mengikuti pembelajaran online.

Bentuk perhatian orang tua juga dapat dilihat pada bagaimana kepedulian orang tua dalam membantu kesulitan anak dalam belajar. Dari survey diperoleh data bahwa hanya 16,1% orang tua yang membantu kesulitan anak dalam belajar, 31,3% orang tua tidak pernah membantu anak dalam kesuliatan belajar, dan 52,7% orang tua hanya kadang-kadang membantu anak dalam kesulitan belajar. Ini berarti bahwa Separuh lebih siswa di SMA Negeri 3 Purwokerto kurang mendapat perhatian orang tua dalam mengatasi kesulitan belajarnya. Kesulitan belajar yang tidak teratasi menjadi beban besar bagi siswa. Secara psikologis mereka mengalami perasaan tidak tenang dan akhirnya memilih untuk tidak mengikuti pembelajaran dan tidak mau tahu dengan tugas yang diberikan guru. Kondisi seperti ini sedikit banyak mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran jarak jauh.

  • Cultural Lag/Ketertinggalan Budaya

Perubahan social memiliki ciri bersifat dinamis, artinya bahwa perubahan social akan selalu ada di dalam masyarakat, tidak ada satupun masyarakat yang tidak mengalami perubahan. Namun demikian, jalannya perubahan dari satu masyarakat ke masyarakat lain tidak mengalami percepatan yang sama. Ada masyarakat yang sangat cepat perubahannya, adapula masyarakat yang perubahannya lambat. Dengan adanya inovasi atau penemuan baru (terutama yang bersifat material), ada masyarakat berubah lebih cepat daripada masyarakat lain. Apabila laju perubahan bagian-bagian yang saling memiliki ketergantungan tersebut berbeda dari satu kebudayaan dengan yang lainnya, maka kondisi yang demikian dalam sosiologi sering disebut dengan istilah cultural lag (ketertinggalan budaya). Konsep ini dikemukakan oleh William F. Ogburn, sosiolog kelahiran Georgia.

Menurut Ogburn (dalam Rahardityo,dkk), cultural lag merupakan fenomena sosial yang umum karena kecenderungan budaya material berkembang dan berubah dengan cepat sedangkan budaya non material yang cenderung menolak perubahan dan tetap  untuk jangka waktu jauh lebih lama dari waktu. Teorinya cultural Lag menunjukkan bahwa periode ketidakmampuan terjadi ketika budaya non material berjuang untuk beradaptasi dengan kondisi materi baru.

William F. Ogburn menyatakan bahwa manusia yang tidak adaptif terhadap perkembangan zaman, yang artinya tidak mampu menyesuaikan dirinya dapat berakibat pada kualitas hidupnya. Dimanapun manusia tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan bermasyarakat tentu harus memiliki sikap adaptif, jika tidak, maka akan terjadi cultural lag.

Menghadapi situasi pandemic covid 19 yang mengharuskan penyelenggarakan penbelajaran jarak jauh, memaksa para pelaku penyelenggaraan pendidikan baik guru, siswa dan tenaga kependidikan untuk dapat adaptif dengan perubahan yang ada. Guru dan siswa dituntut untuk dapat menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dengan baik agar proses pembelajaran jarak jauh dapat dilaksanakan dengan baik. Namun dalam kenyataannya masih terdapat siswa yang belum siap dan belum mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang datang. Masih ditemukan siswa yang belum bisa menggunakan aplikasi pembelajaran yang dipilih sekolah untuk menelola pembelajaran. Ada siswa yang belum paham cara masuk (join) ke kelas maya, ada siswa yang tidak paham cara mengunduh materi, ada siswa yang tidak paham cara mengirim tugas dan masih banyak permaslahan yang muncul berkaitan dengan ketidakmampuan teknonogi. Perubahan pola pembelajaran yang terlalu cepat, tidak cukup bagi mereka untuk mempersiapkan diri terhadap perubahan tadi. Beberapa siswa gagal untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Hal ini sedikit banyak berdampak pada pelaksanaan PJJ online

Berdasarkan survey terhadap 112 siswa diperoleh data bahwa masih ada 11,6% siswa mengakui bahwa mereka belum mampu menggunakan semua aplikasi yang ada di GCR sebagai media kelas maya, dan masih ada 7,2% siswa yang kurang paham untuk mengunduh tugas di GCR yang dibagikan oleh bapak/ibu guru. Hal ini selaras dengan temuan guru di kelas. Beberapa anak yang tugasnya tidak pernah dikumpulkan ketika ditanya kesulitannya, mereka menjawab bahwa mereka tidak paham dengan mengunduh tugas dan mengirim tugas, sehingga mereka merasa putus asa dan akhirnya tidak aktif sama sekali dalam pembelajaran.

  • Kondisi Geografis Lingkungan rumah tinggal

Terlaksananya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ Online) sangat tergantung pada ketersediaan sinyal. Kuat lemahnya sinyal sangat tergantung pada ada tidaknya infrastruktur jaringan internet di lingkungan tempat tinggal siswa. Masyarakat di daerah pedesaan dengan kondisi geografis dataran tinggi akan lebih susah terjangkau pembangunan infrastruktur jaringan internet daripada masyarakat di perkotaan sehingga hal ini akan berdampak pada kurang kuatnya jaringan internet.

Menteri Komunikasi dan informatika Johny G Plate menjelaskan bahwa, sebagian wilayah Indonesia memiliki kontur geografis berupa pegunungan dan banyak sungai. Kondisi ini menyebabkan kendala terhadap pembangunan infrastruktur fisik termasuk infrastruktur telekomunikasi. Dan tidak meratanya pembangunan infrastruktur menyebabkan jaringan yang diterima masyarakat kurang optimal (Tempo, Ahad, 3 Mei 2020)

Berdasarkan catatan monografi kabupaten Banyumas, karakteristik topografi di wilayah Kabupaten Banyumas identik dengan kondisi ketinggian lahan dan kemiringan lahan. Wilayah kecamatan Kedungbanteng dikategorikan berada pada ketinggian >500-1000 meter dpl, ini berarti bahwa wilayah kecamatan Kedungbanteng berada pada kondisi lahan yang cukup tinggi. SMA Negeri 3 Purwokerto secara geografis berada pada lingkungan kecamatan Kedungbanteng yang merupakan daerah pedesaan dengan sebagian berada pada dataran tinggi. Secara otomatis sebagian besar siswanya bertempat tinggal di wilayah tersebut. Kondisi ketinggian wilayah akan berpengaruh pada kuat dan lemahnya sinyal yang tersedia. Oleh karena itu sangat dimungkinkan bahwa proses pembelajaran jarak jauh akan mengalami banyak kendala. Berdasarkan pengamatan penulis dalam praktek pembelajaran, beberapa siswa ketika mengikuti pembelajaran dengan g meet, mengalami kendala tidak dapat mendengar penjelasan guru karena suara terputus-putus, bahkan hilang. Atau terkadang ketika siswa sedang mengikuti pembelajaran di Google meet, mereka terlempar keluar kelas karena sinyal jelek sehingga mereka tidak bisa mengikuti pembelajaran dengan baik

Berdasarkan hasil survey diperoleh gambaran bahwa sebagian besar siswa (64,3%) mereka bertempat tinggal di wilayah pedesaan dengan wilayah dataran tinggi. Hal ini akan berdampak pada kuat lemahnya sinyal internet. Berdasarkan angket yang dibagikan, diperoleh data bahwa 45,5% siswa menyatakan bahwa di daerahnya sinyal internetnya kuat, sedang selebihnya (54,5%) menyatakan bahwa sinyal internet di daerahnya sedang bahkan lemah.

Ketika sinyal di daerahnya lemah, maka konsekuensinya mereka terganggu dalam mengikuti PJJ online, seperti yang diungkapkan oleh siswa dalam survey hanya 21,4% siswa menyatakan bahwa mereka mengikuti pembelajaran dengan lancar. Namun 60,7% siswa menyatakan bahwa mereka kadang-kadang terputus mengikuti PJJ online karena tiba-tiba sinyal lemah, sedang 17,9% siswa menyakan bahwa mereka sering terpental keluar kelas maya karena sinyalnya lemah. Hal ini menjadi hambatan bagi siswa untuk menikmati layanan pendidikan yang diberikan oleh sekolah.

Memasuki abad teknologi bukan berarti bahwa seluruh lapisan masyarakat sudah siap menghadapinya dan siap untuk menyesuaiakn diri. Pada kelompok masyarakat lapisan bawah akan sangat sulit untuk dapat menyesuaikan diri karena penyesuaian diri dengan teknologi memerlukan modal. Pelaksanaan PJJ (online) juga menyangkut kondisi social ekonomi orang tua yang akan berimbas pada daya tahan anak untuk beradaptasi terhadap perubahan jaman yang terjadi. Orang tua dengan status social ekonomi yang baik akan mampu untuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya, namun bagaimana dengan orang tua yang secara ekonomi berkekurangan?

Dengan teridentifikasinya berbagai hambatan dalam pelaksanaan PJJ (online) maka perlu sebuah perenungan, kebesaran hati dan kesabaran dari para pengajar untuk memotivasi siswa agar mereka tetap terus belajar meskipun memiliki banyak kendala. Para pengajar perlu mengembangkan sikap empati pada kelompok-kelompok siswa yang secara ekonomi tidak beruntung sehingga tidak bisa menikmati pendidikan secara maksimal. Banyaknya hambatan yang dihadapi siswa , diharapkan guru dapat mendesain pembelajaran yang mampu dinikmati oleh seluruh siswa tanpa mengurangi esensi belajar itu sendiri. Dengan demikian semua siswa akan terlayani kebutuhan pendidikannya dengan baik sehingga tidak menciptakan ketimpangan sosial yang berulang-ulang dalam masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Anugrahana, A. 2020. Hambatan, Solusi, dan Harapan: Pembelajaran Daring Selama Masa Covid 19 oleh Guru Sekolah Dasar. Yogyakarta: Universitas Sanata Darma Yogyakarta. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Scholaria. Vol.10 No.3. September 2020 : 282-289

Chasiyah, dkk.2009.Perkembangan Peserta Didik. Surakarta: UNS Press

Isman.M.(2017).Pembelajaran Moda dalam Jaringan (Moda Daring). The Progressive and Fun Education Seminar, 586-588

Pardede, T. 2011. Pemanfaatan E-learning Sebagai Media Pembelajaran Pada Pendidikan Tinggi. Seminar Nasional FMIPA UT. 2011. 1. 55-56

Raharditya, dkk.2019. Cultural Lag Dalam Program penerimaan peserta Didik Baru (PPDB) Online Dengan Sistem Zonasi Tahun 2018 di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Sukoharjo. Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Antropologi. Vol 3 No 1. 2019. Hal 1-13

Sugiharto, dkk. 2015. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press

Sumardi, M. 2004. Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok. Jakarta: Rajawali Jakarta.

Soekanto, Soerjono. 2003. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Walgito, B. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Andi Jakarta

https://sippa.ciptakarya.pu.go.id/sippa_online/ws_file/dokumen/rpi2jm/DOCRPIJM_1504162339BAB_II_GAMBARAN_UMUM_DAN_KONDISI_WILAYAH.pdf

Biodata

Nama : Dwiana Pujiasih, S.Sos.

Jabatan : Guru Mapel Sosiologi

Unit Kerja : SMA Negeri 3 Purwokerto

You cannot copy content of this page