Iklan

GURU MALAS, PASTI TERGILAS

Oleh: Eniwati, S.Pd.

Profesi guru saat ini menjadi impian banyak orang gara – gara ada tunjangan sertifikasi. Padahal dahulu orang sekolah keguruan banyak yang malu, mereka lebih bangga kalau bisa jadi insinyur atau sarjana hukum atau yang lainnya. Ujung-ujungnya banyak sekali bukan sarjana pendidikan yang akhirnya menjadi guru juga.

Fungsi guru dalam proses pendidikan begitu mulia. Kita harus mengajar, mendidik, membina, mengarahkan, dan membentuk watak dan kepribadian sehingga peserta didik kita itu berubah menjadi manusia yang memiliki ilmu pengetahuan, cerdas, dan bermartabat. Oleh  karena  itu, tidak setiap orang dapat menjadi guru, dan tidak setiap orang dapat melaksanakan  tugas  guru.Tidak sedikit dari kita sebagai guru yang tidak menjiwai profesinya. Tuntutan tugas dalam pekerjaan yang begitu banyak seringkali membuat kita lelah sebelum melaksanakan tugas utamanya. Administrasi yang harus dibuat, jumlah jam mengajar yang padat dan banyak, tugas tambahan yang harus diselesaikan dan kenaikan pangkat yang tidak mudah, belum lagi sikap peserta didik yang memusingkan kepala. Semua menguras energy kita sehingga banyak dari kita yang menjadi malas untuk melakukan tugas- tugas tersebut apalagi untuk meningkatkan kemampuan keprofesiannya. Semangat untuk menulis, mood untuk mengajar, dan juga keinginan untuk naik pangkat serasa menghilang. Hilangnya motivasi inilah yang memunculkan rasa malas di tambah lagi lingkungan sekolah dalam hal ini temen-teman yang kurang berambisi menjadi pelengkap kemalasan kita untuk menjadi maju. Rasa malas itu salah satu penyakit mental, yang mempunyai ciri suka menunda-nunda perkerjaan. Rasa malas memang sangat sulit di hilangkan bila tidak dengan kemauan dari dalam diri yang kuat.

Hal-hal yang biasanya malas dilakukan guru adalah:

  1. Guru malas membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Sekolah merupakan bagian dari sistem yang terdiri dari kompenan yang saling terikat, berhubungan, berpengaruh, dan membutuhkan sehingga antara satu komponen dengan komponen lainnya tidak bisa dipisahkan. Inti dari komponen tersebut adalah input, proses dan output. Ketiganya harus menjadi bagian yang harus diperhatikan untuk mencapai visi dan misi yang akan dituju bersama. Maka upaya untuk mengharmoniskan antara komponen tersebut adalah dengan melakukan manajemen sekolah. Atau lebih dikenal dengan manajemen berbasis sekolah (MBS).

Begitu pentingnya manajemen guna memudahkan perjalanan sebuah sekolah, maka guru pun dituntut harus melakukan tindakan manajemen untuk melaksanakan tugasnya mengajar dan mendidik. Maka di antara tugas guru adalah menyiapkan rencana pembelajaran, atau dikenal dengan nama Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan silabus di awal pembelajaran sebagai rencana tertulis.

Sama halnya dengan sekolah yang saling terkait antar komponen. Maka, Guru dan rencana pembelajaran pun merupakan dua hal yang beriringan dan tidak dapat dipisahakan. Dengan rencana yang terarah dan tertulis maka guru akan mudah untuk melakuan pembelajaran sesuai dengan konsep sehingga pembelajaran terarah, efektif dan efesien.

Namun, kendala pembuatan RRP dan silabus di awal pembelajaran masih dijadikan beban di kalangan para guru. Di antara beberapa alasan sebagaimana yang pernah penulis rasakan dan melihat fakta yang terlihat secara langsung kenapa guru malas membuat RPP sebagai acuan proses belajar guru di kelas diawal sebelum pembelajaran dilaksanakan, pertama, guru menganggap proses pembelajaran yang terpenting adalah substansinya bukan membuat RPP nya. Kedua, RPP dirasa sangat menghambat kreativitas guru dalam melakukan eksprolasi di dalam proses pembelajaran karena harus sesuai dengan RPP yang dibuat. Ketiga, tidaknya adanya kesesuian antara RPP dan realita pembelajaran, misal : dalam RPP dicantumkan murid mampu memperagakan namun dalam kenyataanya guru malah ceramah. Oleh karena itu seringkali guru membuat RPP namun di akhir proses pembelajaran atau lebih tepatnya di akhir semester untuk bentuk laporan. Guru membuat RPP disamakan dengan tahun kemarin tanpa ada perubahan substansial (copy-paste).

Setidaknya dari alasan-alasan di atas, penulis melihat ada indikasi guru menganggap adanya RPP hanyalah sebagai simbolis karena pada hakikatnya guru melakukan proses pembelajaran sesuai dengan apa yang mereka telah kuasai dan proses pembelajarannya itu adalah substansinya. Malah ada juga guru yang masuk kelas tanpa membawa buku karena sudah menguasai materi. Lepas dari keetisan guru pernyataan dan fakta itu ada benarnya, karena guru terus melakukan pelajaran itu berulang-ulang. Setiap ganti generasi yang diajarnya materinya itu dan itu saja, sehingga guru hafal dengan materi yang diajarkannya.

  1. Guru Malas Mengajar di Kelas

Setiap guru pasti pernah mengalami titik jenuh dalam mengajar, dan mendadak merasa tidak bersemangat untuk berbagi ilmu di kelas online lebih-lebih di ruang kelas atau mengajar offline. Penulis jadi merefleksi diri sendiri, kenapa seorang guru bisa jenuh, malas dan tidak semangat dalam mengajar, padahal mengajar adalah tugas utama seorang guru. Penyebab malasnya guru masuk kelas bisa jadi karena:

Kurang persiapan.  Persiapan merupakan suatu hal yang sangat penting sebelum melaksanakan kegiatan, begitu pula dalam hal mengajar. Guru yang tidak melakukan persiapan sebelum mengajar seringkali tidak menemukan bahan untuk diajarkan di kelas. Bisa jadi dia malah menjadi salah tingkah dan tidak percaya diri di hadapan peserta didiknya. Dan hal ini pasti akan sangat memalukan.

Gaji atau honor yang sedikit atau terlambat. Sangat memprihatinkan jika seorang guru bergantung dengan pendapatan kerjanya sebagai pengajar sedangkan pendapatannya itu tidak mencukupi atau sangat kurang di tambah lagi dengan sistem penggajiannya yang sering terlambat alias tidak tepat waktu dibayarkan maka yang terjadi adalah kinerja sang guru tidak akan maksimal, sering terlambat kerja dan malas masuk kelas. Semua ini disebabkan karena ketidakpuasan dengan hasil kerjanya. Hal ini juga dapat terjadi pada guru PNS yang menggadaikan SK untuk meminjam uang di Bank sehingga pendapatan yang mestinya banyak namun karena pinjaman tersebut maka hanya menerima sedikit bahkan ada yang minus, kalau sudah begini bagaimana bisa bekerja dengan baik dan maksimal.

Mental guru yang buruk. Guru yang hanya rajin menerima gaji atau honor tapi malas mengajar adalah guru bermental buruk yang tidak pernah memikirkan bagaimana peserta didik dapat terlayani belajarnya dengan baik. Melaksanakan tugaspun hanya sekedarnya, kelas sering di tinggalkan dengan alasan yang tidak jelas. Kalau seperti ini yang menjadi korban adalah siswa atau peserta didik karena mereka tidak dapat menerima ilmu yang seharusnya mereka dapatkan dari gurunya saat itu.

  1. Guru Malas Menulis

Rutinitas guru di sekolah pasti dibumbui dengan aktivitas menulis, misalnya saat mengajar off-line guru menulis di papan tulis atau di power point pada saat mengajar on-line. Guru juga mencatat hal-hal penting saat rapat, menulis administrasi mengajar, atau petunjuk tentang kebijakan baru, yang juga menuntut kegiatan menulis.

Tapi bagaimana dengan menulis artikel, karya ilmiah atau yang sejenisnya?

Kebanyakan guru masih malas untuk membuat tulisan-tulisan yang menuntut kedalaman pemikiran dan berpikir komprehensif.

Sulit mencari ide tulisan menjadi salah satu alasan guru malas untuk menulis. Ketika kita mampu menyisihkan waktu dan siap menulis kalimat pertama sering kali kita bingung mau menulis apa dan bagaimana mengawalinya. Akhirnya keinginan menulis berhenti di angan angan saja.

Rasa kurang percaya diri dengan karya tulisan sendiri ini juga kita alami sebagai penulis pemula. Takut data salah, khawatir tulisan kurang menarik, menabrak kebijakan itu semua membuat malas dan bahkan menghentikan minat kita untuk menulis.

Gereget untuk menulis rupanya juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan kerja dan motivasi dari orang lain. Teman kerja yang adem ayem, tanpa ambisi dan obsesi kenaikan pangkat, menerima keadaan apa adanya menjadi panutan, sehingga membuat kita jadi malas untuk merintis karya dan menulis.

Nah jika kita sebagai guru masih mengidap penyakit-penyakit malas di tambah kebal terhadap tuntutan zaman yang semakin komplek dan serba digital pastinya kita akan semakin tertinggal. Guru malas, pasti tergilas.

Nov 25, 2019 · GURU MERDEKA, MENTERI NADIEM MENGUBAH. 

Guru yang dinamis. Guru yang adaptif dengan tantangan zaman. Guru yang inovatif. Guru yang berhasil mengeksplorasi bakat muridnya. Itulah Guru Indonesia (yang seharusnya) di era milenial. Guru-guru Indonesia yang tidak akan tergilas oleh kecepatan pergerakan zaman.

Lalu apa yang mestinya kita lakukan agar kita tidak lagi menjadi guru malas yang bisa tergilas?

Meskipun kualitas mengajar seorang guru tidak terpengaruh besar hanya karena tidak membuat RPP, namun keberadaan RPP akan memberikan pembelajaran berharga tersendiri bagi kita jika kita membuatnya dengan baik, maksudnya membuat di awal sebagai perencanaan dan mempraktekannya dalam proses pembelajaran. Jangan menunda pekerjaan. Ayo membuat RPP di awal dan mengaplikasikanya dengan baik, agar kita tidak termasuk guru yang malas.

Sebelum mengajar buatlah persiapan yang matang agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar, menarik dan tidak membosankan. Buku, media, alat yang di butuhkan saat mengajarkan materi hari itu harus sudah ready karena tidak ada pembelajaran yang berhasil tanpa persiapan yang benar. Jika malas mengajar di kelas cobalah sesekali bawa anak keluar kelas bisa ke taman-taman yang lokasinya tidak terlalu jauh dari sekolah. Dengan begitu, kita dapat belajar sambil bermain dengan materi yang juga bisa menyesuaikan dengan lokasi. Contoh mengajar Bahasa Inggris di taman dengan menggunakan variasi kosa kata yang ada di lingkungan sekitar. Sehingga antara guru dan siswa tidak lagi merasa kegiatan belajar mengajar (KBM) menjadi monoton dan membosankan.

Mulailah menulis tentang yang terdekat dengan kita. Bisa berupa permasalahan siswa, seperti siswa yang paling unik, bandel, cerdas, nakal, dan lainnya. Menulis tentang kejadian yang kita alami sendiri tentu lebih mudah dan lebih menarik daripada menulis teori-teori sulit yang orang pun mungkin juga malas membacanya.

Daftar Pustaka

https://www.kompasiana.com/yanuarnm/5ddb4d8fd541df18d0460ed2/guru-merdeka-menteri-nadiem-mengubah#

Biodata Penulis

Nama : Eniwati, S. Pd.

NIP : 19740404 200501 2 014

PengkatGol : Penata Tk. 1/ III d

Unit Kerja : SMA Negeri 1 Wangon

Email : watieni9@gmail.com

No HP : 085227410901

Judul : GURU MALAS, PASTI TERGILAS

By admin

You cannot copy content of this page