Iklan

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA PROSES PEMBELAJARAN DARING DI ERA PANDEMI COVID-19

Oleh : Widi Eli, S. Pd. SD.

Saat wabah Covid-19 ini muncul seluruh akitivitas manusia dibatasi. Salah satunya ialah kegiatan pembelajaran, baik di jenjang sekolah dasar hingga jenjang perkuliahan yang menerapkan kegiatan belajar dari rumah. Hal ini dilakukan guna membatasi penyebaran virus yang masif. Untuk mengisi kegiatan belajar mengajar yang harus diselesaikan tahun ini, pemerintah mengambil kebijakan pembelajaran dilakukan melalui pembelajaran jarak jauh dengan media daring.

Media daring dirasa sangat efektif sebagai langkah solutif untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 di lingkungan pendidikan. Seorang guru melakukan pembelajaran dengan metode baru, semisal guru memberikan soal yang nantinya dikirim melalui media aplikasi yang sudah dibuat. Kemudian peserta didik tinggal mengerjakan tugasnya dan mengumpulkan hasilnya pada media aplikasi yang sudah dibuat.

Tidak bisa dipungkiri bahwa semua pihak yang menjalani pembelajaran jarak jauh atau secara daring mengalami kepanikan baik guru dan siswa sekalipun, masalah teknis menjadi salah satu kendala dari sekian banyak kendala dan problem dalam proses belajar mengajar secara daring. Masalah teknis yang ditemui biasanya mulai dari kendala kuota, signal, hingga kendala aplikasi yang dipakai termasuk banyaknya tugas yang diberikan selama pandemi Covid-19. Oleh karena itu, sebenarnya secara umum kita belum siap untuk melakukan pembelajaran jarak jauh atau secara daring, apalagi siswa banyak yang menyoal tentang keluhan gagalnya memahami materi yang disampaikan lewat daring. Hal ini memang dirasa wajar karena baik siswa dan guru belum mampu beradaptasi dengan pembelajaran seperti ini.

Motivasi belajar adalah variabel yang terdiri dari dua kata yaitu motivasi dan belajar, yang keduanya memiliki arti tersendiri. Jika membahas mengenai motivasi, sering kali disandingkan dengan kata motif. Sesuai dengan penelusuran peneliti, motif dapat diartikan sebagai gerak atau sesuatu yang mendorong individu untuk bergerak. Dengan demikian yang dimaksud dengan motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak yang terletak di dalam diri peserta didik yang memunculkan niat untuk melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Seseorang harus mempunyai motivasi belajar dalam dirinya agar siswa tersebut memiliki semangat dan keinginan untuk dapat meraih tujuan yang diinginkan. Motivasi belajar yang tertanam dalam diri individu akan menggerakkan individu tersebut untuk belajar dengan lebih baik. Setidaknya terdapat dua faktor yang memengaruhi kemampuan siswa untuk menyelesaikan pembelajaran secara daring, yakni:

Faktor Internal

Cita-cita dan aspirasi

Salah satu faktor pendukung yang dapat memperkuat semangat dalam belajar adalah dengan memiliki cita-cita. Sedangkan aspirasi adalah sebuah harapan atau keinginan yang dimiliki oleh individu dan selalu menjadi tujuan dari perjuangan yang telah ia mulai. Cita-cita dapat dengan mudah diarahkan oleh guru saat pembelajaran tatap muka, begitupun aspirasi siswa dapat dengan mudah didengar pada saat pembelajaran langsung, tidak ada keterlambatan penanganan seperti yang ada di pembelajaran jarak jauh. Itulah mengapa cita-cita dan aspirasi mempengaruhi pembelajaran daring.

Kondisi Fisik

Siswa merupakan salah satu komponen pendidikan yang berusaha mencapai tujuan pembelajaran melalui proses belajar mengajar yang berlangsung di kelas. Untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran tersebut, banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah motivasi belajar. Motivasi belajar tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam diri siswa maupun dari luar diri siswa. Kondisi siswa merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa dari sisi internal. Aspek jasmani meliputi tinggi dan besar badan, pancaindra, anggota badan, kebiasaan hidup teratur, dan lainnya. Pada pembelajaran daring, siswa terlalu lama terpaku pada layar handphone sehingga terkadang membuat penglihatan mereka sedikit terganggu. Padahal, siswa yang memiliki kesehatan penglihatan akan dapat dengan mudah mengikuti semua aktivitas pembelajaran dengan baik di sekolah.

Berdasarkan survey dari Badan LitBang dan Diklat Kementerian Agama RI, siswa paling banyak menggunakan media handphone untuk belajar di masa pandemi covid-19 ini. Data tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 1. Media yang digunakan siswa saat belajar daring

Seorang siswa akan dapat mengikuti pelajaran dengan baik apabila dia sehat, rasa tersebut meliputi rasa aman, kasih sayang, kebahagiaan dan rasa diterima oleh teman-temannya. Begitu pula sebaliknya, bila kondisi siswa tidak sehat, maka siswa tersebut akan merasakan adanya rasa cemas, sedih, marah, kesal, khawatir, rendah diri, kurang percaya diri, dan sebagainya. Selain itu, kebiasaan hidup juga berpengaruh. Kebiasaan hidup teratur dan sehat merupakan kemampuan siswa untuk membiasakan diri untuk selalu menjaga kebersihan, kesehatan, mengikuti aturan dan tuntutan baik tuntutan dalam diri sendiri maupun dari luar diri, seperti menyesuaikan diri dengan lingkungan rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Kondisi Mental

Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gejala-gejala gangguan dan penyakit jiwa, dapat menyesuaikan diri, dapat memanfaatkan segala potensi dan bakat yang ada semaksimal mungkin dan membawa kepada kebahagiaan bersama serta tercapainya keharmonisan jiwa dalam hidup. Kondisi mental siswa juga erat kaitannya dengan kondisi psikologis. Di dalam faktor psikologis sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang mempengaruhi belajar antara lain: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan. Dan faktor-faktor inilah yang harus diperhatikan oleh setiap pendidik agar dapat mengendalikan dan mengatur belajar agar dapat berlangsung efektif, terarah dan optimal.

Gambar 2. Metode pembelajaran yang digunakan saat daring

Dengan kebijakan pembelajaran daring, tentunya para siswa mengalami perubahan drastis terkait dengan aktivitas normal dari diskusi dan interaksi dengan teman sebaya menjadi dominan metode penugasan. Sejatinya aktivitas di sekolah adalah sarana untuk belajar dan bermain bagi anak. Jadi, sejak pemberlakuan pembatasan, beragam aktivitas tersebut harus dilakukan di rumah bersama anggota keluarga dan orang tua mereka. Hilangnya waktu bermain dan belajar bersama dengan teman di sekolah, terbatasnya kesempatan untuk berkunjung ke area bermain, ataupun pengalaman menyaksikan secara langsung dampak Covid-19 terhadap orang tua atau anggota keluarga mereka (dampak fisik, ekonomi, dan psikologi), adalah pengalaman yang sulit bagi anak-anak. Anak-anak mungkin banyak yang belum atau tidak mampu menghadapi perubahan yang terjadi secara cepat dan tiba-tiba ini. Kemampuan anak dalam melakukan adaptasi terhadap perubahan akibat Covid-19 ini tentu saja sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti usia, kematangan, ataupun tahapan perkembangan anak.

Faktor Eksternal

Iklim Belajar

Iklim belajar yang diciptakan pembelajaran daring turut mempengaruhi motivasi belajar siswa, jika dalam pembelajaran luring guru mampu menciptakan suasana kelas kondusif untuk menjaga motivasi belajar siswa agar pembelajaran dapat tercapai karena iklim kelas memiliki pengaruh yang signifikan dengan motivasi belajar. Namun kondisi pembelajaran daring menyebabkan guru kesulitan untuk mengontrol dan menjaga iklim belajar karena terbatas dalam ruang virtual. Kondisi ini menyebabkan motivasi belajar siswa dapat menurun bahkan mempengaruhi hasil belajar siswa.

Lingkungan Belajar

Lingkungan belajar merupakan wilayah dengan segenap isinya yang saling berhubungan dengan kegiatan belajar. Lingkungan belajar yang dimaksud adalah lingkungan belajar di sekitar siswa. Suasana didalam rumah siswa rata-rata tidak mendukung, dimana anggota keluarga sibuk bekerja sehingga tidak bisa menyediakan fasilitas kegiatan belajar mengajar daring dengan baik. Kondisi masyarakat sekitar rumah juga terkadang tanpa sengaja memberikan gangguan dalam proses belajar mereka, sehingga lingkungan belajar siswa adalah dalam kondisi yang tidak baik dan tidak kondusif.

Untuk pembelajaran daring, dukungan orang tua sangat penting bagi peserta didik dan sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran daring. Meskipun peserta didik sudah diberikan fasilitas oleh orang tua terkadang mereka malas untuk mengerjakannya namun jika di dukung dan mendapat motivasi dari orang tua maupun guru itu akan sangat membantu peserta didik. Orang tua yang berpendidikan tinggi tentu besar kemungkinan dapat membimbing anaknya belajar. Itupun tidak pada semua mata pelajaran, pada mata pelajaran tertentu tetap saja orang tua tidak mudah mempelajari dan membimbing anaknya. Selain itu, orang tua juga banyak mengeluh karena mereka harus menyisihkan uang untuk pembelian kuota internet disamping harus membayar kebutuhan pokok.

Sarana dan Prasarana

Salah satu tantangan pembelajaran daring adalah ketersediaan sarana prasarana terutama internet dan smartphone atau laptop. Siswa dan orangtua mengaku kesulitan untuk mengikuti pembelajaran secara online karena tidak semua wilayah desa mereka mendapatkan sinyal seluler, jikapun ada, sinyal yang didapat cukup lemah. Hal ini membuat siswa terkadang terlambat mendapatkan informasi pembelajaran dan mengumpulkan tugas sekolah.

Selain ketersediaan layanan internet, tantangan lain yang harus dihadapi adalah kendala biaya. Siswa menyatakan bahwa untuk mengikuti pembelajaran secara online, mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk membeli kuota data internet. Menurut siswa, pembelajaran yang dilaksanakan dalam bentuk konferensi video menghabiskan kuota yang sangat banyak, sementara diskusi online melalui aplikasi pesan instan tidak membutuhkan banyak kuota. Di samping itu, penggunaan smartphone tanpa pengawasan pada anak juga dapat menimbulkan efek negatif seperti siswa menjadi malas menulis dan membaca, penurunan dalam kemampuan bersosialisasi, adanya kecenderungan bermain game online mengakibatkan anak malas belajar, dll.

Gambar 3. Survey paket data internet yang digunakan siswa

Berdasarkan fakta di atas, maka keefektifan program pembelajaran seharusnya tidak hanya ditinjau dari segi tingkat prestasi belajar saja, melainkan harus pula ditinjau dari segi proses dan sarana yang digunakan. Efektivitas metode pembelajaran merupakan suatu ukuran yang berhubungan dengan tingkat keberhasilan suatu proses pembelajaran. Dengan hal tersebut suatu proses pembelajaran berhasil atau tidak dilihat dari kepuasan siswa dalam melihat sarana yang digunakan dan kenyamanan dalam menerapkan metode pembelajaran tersebut. Karena kenyamanan dan kepuasan siswa dalam melakukan pembelajaran secara daring akan berdampak pada kemampuan siswa dalam memahami pembelajaran.

Selain itu, menurut Sardiman, beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mendorong motivasi belajar siswa, antara lain:

Memberi angka

Umumnya setiap siswa ingin mengetahui hasil pekerjaannya, yakni berupa angka yang diberikan oleh guru. Siswa yang mendapat angka baik akan mendorong motivasi belajarnya menjadi lebih besar, sebaliknya siswa yang mendapat angka kurang, mungkin menimbulkan frustasi atau dapat juga menjadi pendorong agar belajar lebih baik. Dengan pemberian angka-angka yang baik untuk siswa, bisa menjadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk siswa yang bersangkutan.

Hadiah

Cara ini dapat dilakukan oleh guru dalam batas-batas tertentu misalnya pemberian hadiah kepada siswa yang mendapat atau menunjukan hasil belajar yang baik. Hadiah dapat dikatakan sebagai motivasi tetapi tidak selalu demikian, karena hadiah untuk suatu pekerjaan mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk sesuatu pekerjaan tersebut, sehingga hadiah tidak selalu bisa menimbulkan motivasi.

Saingan

Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Hanya saja persaingan individual akan menimbulkan pengaruh yang tidak baik, seperti rusaknya hubungan persahabatan, perkelahian, pertentangan, persaingan antar kelompok belajar.

Ego-involvement

Sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting karena menumbuhkan kesadaran kepada peserta didik betapa pentingnya tugas-tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga mereka bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri. Mereka akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya, karena penyelesaian tugas dengan baik adalah simbol kebanggaan dan harga diri.

Memberitahu hasil secara berkala

Peserta didik akan menjadi giat belajar apabila mengetahui akan ada ulangan. Maka, memberi ulangan adalah salah satu upaya sarana memotivasi siswa dalam belajar. Tetapi yang harus diingat adalah guru jangan terlalu sering memberikan ulangan karena dapat membuat siswa bosan karena terlalu sering dan bersifat rutinitas. Namun, poin yang paling penting dr pemberian ulangan ini adalah guru harus terbuka, maksudnya jika akan diadakan ulangan harus diberitahukan kepada siswanya. Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi jika mengalami kemajuan/ peningkatan, akan mendorong siswa untuk terus belajar dan lebih giat lagi.. semakin mengetahui bahwa hasil belajar selalu mengalami kemajuan, maka aka nada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya selalu meningkat.

Pujian

Pemberian pujian kepada murid atas hal-hal yang telah dilakukan dengan berhasil besar manfaatnya sebagai pendorong belajar, dengan pemberian pujian akan menimbulkan rasa senang dan puas.

Hukuman

Salah satu cara meningkatkan motivasi belajar siswa adalah dengan memberikan hukuman. Hukuman sebagai reinforcement yang negatif apabila diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Oleh karena itu, guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman

Pemahaman akan tujuan yang akan dicapai

Rumusan tujuan yang diakui dan diterima dengan baik oleh siswa merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, dirasa sangat berguna dan menguntungkan bagi siswa, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.

Lebih lanjut lagi, menurut Dimyati, upaya yang dapat dilakukan oleh seorang guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, antara lain:

  1. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan hambatan belajar yang di alaminya
  2. Meminta kesempatan kepada orangtua siswa agar memberikan kesempatan kepada siswa untuk beraktualisasi diri dalam belajar
  3. Memanfaatkan unsur-unsur lingkungan yang mendorong belajar
  4. Menggunakan waktu secara tertib,penguat dan suasana gembira terpusat pada perilaku belajar
  5. Merangsang siswa dengan penguat memberi rasa percaya diri bahwa ia dapat mengatasi segala hambatan dan pasti berhasil
  6. Guru mengoptimalisasikan pemanfataan pengalaman dan kemampuan siswa

Referensi:

Pangondian, R. A., Santosa, P. I., Nugroho, E. 2019. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kesuksesan Pembelajaran Daring Dalam Revolusi Industri 4.0. Seminar Nasional Teknologi Komputer & Sains, hal. 56-60.

Rahmawati, N. R., Rosida, F. E., Kholidin, F. I. 2020. Analysis of Basic Learning During Pandemy in Madrasah Ibtidaiyah. Journal of Primary Education, Vol. 1 No. 2, hal. 139-148.

Cahyani, A., Listiana, I. D., Larasati, P. D. 2020. Motivasi Belajar Siswa SMA pada Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 3, No. 2, hal. 123-140.

BIODATA PENULIS

Nama : Widi Eli, S. Pd. SD.

NIP : 19710715 199408 2 001

Pangkat/Gol : Penata Tk. I/ IIId

Unit Kerja : SDN 2 Karangreja

You cannot copy content of this page