Iklan

EFEKTIFITAS BLENDED LEARNING MODEL FLIPPED CLASSROOM TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK DI SEKOLAH DASAR

Oleh: Maria Ulfah,S.Pd.

ABSTRAK

Penyusunan artikel ini dilatarbelakangi dengan adanya pola pembelajaran yang berbeda selama masa pandemi. Perbedaan desain pembelajaran, strategi dan metode menyebabkan rendahnya motivasi belajar peserta didik kelas IVC di SD Negeri 1 Rempoah Kecamatan Baturraden. Rendahnya motivasi belajar sangat mempengaruhi terhadap rendahnya hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika. Rendahnya hasil belajar peserta didik ditandai persentase ketuntasan belajar yang rendah dan nilai hasil belajar peserta didik masih banyak yang berada di bawah KKM. Artikel ini disusun dengan tujuan untuk memberikan gambaran model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi darurat Covid-19. Penerapan blended learning model flipped classroom diharapkan mampu menjadi solusi pembelajaran pada masa pandemi. Dengan platform asinkron dan sinkron memudahkan guru maupun peserta didik untuk melakukan pembelajaran. Melalui platform asinkron peserta didik dapat memperoleh bahan ajar untuk kemudian melalui platform sinkron peserta didik dan guru dapat melaksanakan diskusi dan konfirmasi terhadap bahan ajar yang telah dipelajari. Hasil PH Matematika materi Pecahan Senilai sebelum menerapkan blended learning model fipped classroom diperoleh nilai rata-rata 67,40 dengan ketuntasan belajar 44%. Setelah menerapkan blended learning model flipped classroom, pada PH Matematika materi Bentuk pecahan diperoleh nilai rata-rata 73,81 dengan ketuntasan belajar 78 % dan meningkat dengan perolehan nilai rata-rata 80,48 dengan ketuntasan 86 % pada PH Taksiran hasil pengoperasin dua bilangan pecahan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan blended learning model flipped classroom dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas IVC pada SD Negeri 1 Rempoah Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas.

Kata Kunci : Blended Learning, Flipped Classroom, Hasil belajar

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan langkah utama dalam usaha untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang aktif serta dapat mengembangkan potensi dari peserta didik. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut diperlukan adanya serangkaian kegiatan atau langkah-langkah yang dilaksanakan dalam satuan waktu tertentu guna mengubah kondisi awal peserta didik menjadi kondisi ideal sebagai hasilnya.

Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang mempunyai peran menghantarkan peserta didik untuk mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Guru merupakan salah satu faktor penentu kualitas pendidikan selain dari faktor peserta didik itu sendiri maupun dari faktor lingkungan, baik lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan sekitar atau masyarakat. Keberhasilan kegiatan Proses Belajar Mengajar (PBM) di sekolah, khususnya di Sekolah Dasar dipengaruhi oleh beberapa komponen diantaranya adalah pemahaman terhadap kurikulum, penguasaan materi, penggunaan metode dan media yang tepat dan sesuai dengan pokok bahasan, serta kondisi lingkungan sekitar.

Berbagai upaya telah dilakukan guru untuk memenuhi komponen tersebut. Namun pada kenyataan yang ada, hal tersebut belum mampu memberikan hasil yang maksimal terhadap hasil belajar peserta didiknya. Salah satu upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik, yaitu penggunaan model dan media pembelajaran yang baik dan benar serta menarik. Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan minat dan keinginan yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh psikologis terhadap pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu (Wiratmojo,P dan Sasono Hardjo, 2002).

Pada masa pandemi seperti sekarang ini sekolah dituntut untuk dapat berperan sesuai dengan kondisi sama seperti sebelumnya. Pembelajaran dalam jaringan atau yang disingkat daring adalah kegiatan pembelajaran yang digunakan selama masa pandemi. Dimana kegiatan pembelajaran berjalan akan tetapi dengan metode yang berbeda dan tanpa tatap muka secara langsung antara guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik tetapi bertatap muka secara langsung melalui media internet.

Artikel ini disusun dengan tujuan secara umum untuk mendapatkan solusi pembelajaran pada masa pandemi agar dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik di sekolah dasar.

Manfaat penyusunan artikel ini adalah agar dapat menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai model pembelajaran inovatif serta media yang dapat diaplikasikan pada pembelajaran Matematika di SD. Meningkatkan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar. Menumbuhkan kreativitas dalam perancangan pembelajaran inovatif salah satunya blended learning model flipped classroom guna memperbaiki tingkat partisipasi dan meningkatkan hasil belajar peserta didik.

MASALAH

Pada awal bulan Maret 2020, Covid-19 atau “coronavirus disease 2019” pertama kali terdeteksi masuk ke Indonesia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Indonesia, Nadiem Anwar Makarim menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 yang diperkuat dengan SE Sekjen nomor 15 tahun 2020 tentang Pedoman Pelaksanaan BDR (Belajar Dari Rumah) selama darurat Covid-19 (Coronavirus Disease). Dalam surat edaran ini disebutkan bahwa tujuan dari pelaksanaan Belajar Dari Rumah (BDR) adalah memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat Covid-19 yang bertujuan untuk membuat pengalaman belajar yang bermakna, tanpa terbebani tuntutan menumbuhkan seluruh capaian kurikulum.

Metode pelaksanaan BDR dilaksanakan dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dibagi kedalam dua pendekatan yaitu pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (daring/online) dan luar jaringan (luring). Pembelajaran jarak jauh (PPJ) secara daring (dalam jaringan/online) diterapkan hampir sebagian besar sekolah dasar yang ada di wilayah kabupaten Banyumas. Salah satu sekolah dasar yang menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini adalah SD Negeri 1 Rempoah, kecamatan Baturraden.

Sejak proses belajar mengajar di sekolah dilaksanakan menggunakan metoda daring (dalam jaringan), banyak sekali kisah menarik, lucu, maupun sedih yang terjadi dalam proses belajar dengan metode ini. Hampir seluruh pemerintah daerah menerapkan kebijakan “Belajar dari Rumah” sebagai upaya mencegah penyebaran wabah Covid-19 untuk memprioritaskan keselamatan peserta didik. Bisa dilihat bagaimana gagapnya para pendidik, stresnya orangtua yang mendampingi anak-anaknya belajar di rumah, dan tentunya kebingungan para siswa menghadapi tugas-tugas.

Serupa dengan kondisi tersebut, baik siswa maupun pendidik di SD Negeri 1 Rempoah Kecamatan Baturraden harus mengalami kebingungan atas kebijakan ini. Tidak semua pendidik, siswa dan orangtua siswa mampu memanfaatkan media teknologi seperti presentasi Zoom, penugasan via Google Classroom, tes dengan Quizizz, dan pemberian tugas dengan Google Drive. Salah satu jalan yang dianggap umum adalah Whatsapp (WA), sebab hampir semua HP memanfaatkan aplikasi WA. Melalui WA grup diharapkan para siswa dapat terus mengikuti pembelajaran dan orangtua siswa dengan mudah memantau tugas dari pendidik.

Pemberlakuan surat edaran nomor 15 tahun 2020 tentang pedoman penyelenggaraan belajar dari rumah dalam masa darurat penyebaran Coronavirus Disease (covid-19) dimana pembelajaran di sekolah dasar dilaksanakan secara daring dan hal tersebut secara institusional telah diterima oleh seluruh sekolah, termasuk SD Negeri 1 Rempoah Kecamatan Baturraden. Namun ternyata dalam pelaksanaannya terdapat beberapa kendala, diantaranya sebagai berikut :

  1. Metode Pembelajaran belum bervariasi masih konvensional yaitu ceramah, tanya jawab, penugasan, dan selama daring ini jarang melakukan kerja kelompok.
  2. Guru belum membuat media berbasis IT untuk pembelajaran, masih sebatas menggunakan link youtube dan pemberian tugas.
  3. Tingkat kedisiplinan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran daring masih rendah.
  4. Peserta didik tidak menganggap serius tentang pembelajaran daring.
  5. Motivasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran daring masih rendah.
  6. Peserta didik tidak terlibat aktif pada pembelajaran daring.

Berdasarkan data pengamatan selama pembelajaran daring pada siswa kelas IVC di SD Negeri 1 Rempoah diperoleh gambaran bahwa pelaksanaan pembelajaran di Sekolah Dasar khususnya mata pelajaran Matematika belum maksimal. Hal ini ditandai dengan kurangnya motivasi peserta didik terhadap pembelajaran daring. Peserta didik pun terlihat kurang disiplin ketika mengerjakan dan mengumpulkan tugas dari guru. Kondisi ini tentunya mempengaruhi hasil belajar peserta didik menjadi rendah. Hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika yang diperoleh dari nilai penilaian harian menunjukkan bahwa beberapa peserta didik mendapat nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan sekolah yaitu 68. Dari 25 peserta didik pada penilaian harian Matematika Materi Pecahan hanya 11 peserta didik (44%) yang mendapatkan nilai di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM), sedangkan sisanya 14 peserta didik (56%) nilainya dibawah KKM. Sehingga dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar 56% peserta didik belum tuntas dalam mata pelajaran matematika.

Suatu pembelajaran dikatakan berhasil apabila nilai rata-rata ulangan harian minimal sama dengan KKM. Namun keadaan nyata sebagaimana tertulis di atas sangat bertolak belakang dengan harapan yang diinginkan. Harapan yang diinginkan adalah hasil belajar semua siswa dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditentukan. KKM muatan pelajaran matematika untuk kelas IV SD Negeri 1 Rempoah tahun pelajaran 2020/2021 adalah 68,00.

Dari uraian di atas terlihatlah dengan jelas adanya kesenjangan antara kenyataan yang terjadi dengan harapan yang diinginkan. Oleh karena itu, tentunya guru kelas sebagai agen pembelajaran harus berusaha meningkatkan hasil belajar peserta didik. Dari identifikasi masalah di atas, dapat dianalisis bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan rendahnya hasil belajar peserta didik yaitu :

  1. Guru kelas IVC SD Negeri 1 Rempoah belum menggunakan media pembelajaran berbasis IT sehingga antusiasme peserta didik dalam belajar masih kurang dan mempengaruhi hasil belajar yang diperoleh peserta didik menjadi tidak optimal.
  2. Guru kelas IVC SD Negeri 1 Rempoah dalam menyajikan proses pembelajaran daring hanya memberikan tugas dan share link yang ada di youtube tanpa ada kegiatan refleksi secara langsung dengan peserta didik.
  3. Guru hanya melakukan kegiatan asinkron dengan platform Whatsaap Group sehingga untuk hasil belajar yang diinginkan belum tercapai dengan baik.
  4. Peserta didik kelas IVC SD Negeri 1 Rempoah kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran daring karena peserta didik belum diberi ruang yang cukup untuk melakukan kegiatan eksplorasi diri dalam memecahkan masalah.

Memang banyak sekali variabel atau kemungkinan penyebab masih rendahnya hasil belajar peserta didik. Guru harus berusaha untuk memperbaiki proses pembelajaran daring dengan menerapan strategi pembelajaran yang tepat melalui kombinasi metode atau model pembelajaran yang menarik, media pembelajaran maupun sumber belajar yang tepat, serta melibatkan siswa untuk belajar aktif, sehingga mempermudah guru untuk mencapai tujuan belajar siswa.

PEMBAHASAN

Pandemi Covid-19 telah memaksa seluruh komponen pendidikan di Indonesia melaksanakan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Sisstem pembelajaran kita telah berubah. Pembelajaran di dalam kelas semula dengan tatap muka mengharuskan perubahan dengan menggunakan teknologi seperti video conference. Tentunya diperlukan penerapan sistem pembelajaran yang dapat memadukan pembelajaran tatap muka, daring dan luring.

Ada beberapa aspek pendidikan yang perlu disiapkan oleh sekolah guna mendukung terjadinya proses pembelajaran selama masa pandemi, antara lain yaitu :

  1. Kurikulum. Kurikulum harus disesuaikan dengan memodifikasi materi pembelajaran tentunya sangat perlu memuat kecakapan hidup (life skill). Beban ketuntasan materi perlu dikurangi.
  2. Sistem Pembelajaran. Pembelajaran dilaksanakan jarak jauh secara daring atau luring.
  3. Kompetensi Guru. Guru dituntut untuk siap dan mampu menerapkan perubahan kurikulum dan sistem pembelajaran.
  4. Infrastruktur. Sekolah harus menyiapkan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran secara daring ataupun luring.

Mempertimbangkan aspek-aspek tersebut di atas maka diperlukan desain pembelajaran yang mudah diterapkan oleh guru dan peserta didik. Salah satu desain pembelajaran mudah diterapkan pada masa pandemi ini adalah Blended Learning model flipped classroom.

Staker & Horn (2012) mendefinisikan blended learning sebagai pembelajaran yang mengkombinasikan antara pembelajaran online dengan pembelajaran konvensional (tatap muka). Pada pembelajaran model ini, peserta didik difasilitasi untuk dapat belajar dan mengulang materi secara mandiri untuk satu bagian sesi menggunakan bahan dan sumber belajar online dan satu bagian sesi lainnya dilakukan secara tatap muka di dalam ruangan kelas. Pada masa pandemi ini tentunya pembelajaran tatap muka yang dimaksud adalah pembelajaran daring dengan menggunakan Zoom Meeting atau Microsoft Teams atau dengan video call yang memungkinkan adanya komunikasi dua arah antara guru dan peserta didik.

Menurut Chaeruman dan Maudiarti (2018) terdapat empat ruang belajar dalam blended learning yaitu sinkron langsung (live synchronous), sinkron virtual (virtual synchronous), asinkron mandiri (self-paced asynchronous) dan asinkron kolaboratif (collaborative asynchronous).

Dalam masa pandemi ini, proses pembelajaran bisa dilaksanakan dengan ketiga ruang belajar yaitu sinkron virtual, asinkron mandiri dan asinkron kolaboratif. Sedangkan untuk sinkron langsung tidak bisa diterapkan karena masih harus menjaga jarak aman (social distancing).

Mengapa blended learning?. Ada tiga alasan utama mengapa guru memilih untuk menerapkan blended learning dalam proses pembelajaran, diantaranya yaitu:

  1. Meningkatkan kualitas belajar peserta didik. Pembelajaran ‘blended learning’ dapat memungkinkan untuk diaplikasikannya berbagai macam strategi pembelajaran yang tidak dapat diterapkan dalam pembelajaran konvensional. Strategi pembelajaran tersebut dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran.
  2. Meningkatkan akses dan fleksibilitas dalam pembelajaran. Pembelajaran ‘blended learning’ dapat meningkatkan akses dan fleksibilitas peserta didik dalam memperoleh pengalaman belajar dengan memperluas jangkauan sumber belajar yang tidak terbatas hanya pada area ruang kelas
  3. Meningkatkan efisiensi dalam pembelajaran. Pembelajaran ‘blended learning’ juga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan dana dan waktu, baik dari pihak guru maupun peserta didik.

Beberapa model pembelajaran blended learning yang cukup sering digunakan dalam pembelajaran menurut Clayton Christensen Institute meliputi: (a) Model Rotasi (Rotation Model): Model kelas Station Rotation, model kelas Lab/Whole Group Rotation, model kelas Flipped (Flipped Clasroom), model rotasi individu (Individual Rotation); (b) Model Kelas Flex; (c) Model Kelas Self-Blend; (d) Model Enriched-Virtual.

Pada kali ini, penulis memadukan penerapan blended learning dengan model flipped classroom. Flipped classroom atau disebut juga kelas terbalik, yaitu membalik pendekatan pembelajaran secara umum dimana pembelajaran yang biasa dilakukan di dalam kelas dilakukan di rumah dan yang di lakukan di rumah dilakukan di dalam kelas. Kegiatan di kelas tidak dihabiskan untuk mendengarkan ceramah guru, tetapi lebih kepada diskusi dan tanya jawab, serta memperdalam pemahaman tentang apa yang sudah dipelajari di rumah. Model flipped classroom membalik siklus yang biasanya terjadi.

Biasanya, dalam suatu pembelajaran yang konvensional, peserta didik mempelajari suatu materi dalam kelas. Kemudian peserta didik akan mendapatkan tugas yang berkaitan dengan materi tersebut untuk dikerjakan setelah jam pelajaran selesai. Namun, yang sering terjadi adalah peserta didik sering mengalami kebingungan karena tidak tersedianya sumber dan bahan ajar yang dapat membantu mereka menyelesaikan tugas rumahnya.

Menurut Slameto (2010: 2), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dalam lingkungannya. Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku.

Setelah berakhirnya suatu proses pembelajaran, maka siswa memperoleh suatu hasil belajar. Ahmadi (1984:35) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai dalam suatu usaha, dalam hal ini usaha belajar dalam mewujudkan prestasi belajar siswa yang dapat dilihat pada nilai setiap mengikuti tes.

Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan kelas IVC SD Negeri 1 Rempoah dengan menggunakan blended learning model flipped classroom dengan menerapkan platform sinkron dan asinkron. Langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut :

Platform asinkron

Pembelajaran kelas IVC menggunakan flipped classroom dimulai dengan menggunakan platform asinkron yaitu Whatsapp Group untuk menyapa ayah-bunda yang selalu mendampingi putra putrinya di rumah, dan dilanjutkan pemberian materi berupa video sebagai bahan pembelajaran yang harus dipelajari oleh peserta didik secara mandiri serta link lain sebagai bahan penunjang materi tersebut. Setiap bahan pembelajaran yang dikirimkan melalui Whatsapp Group disertai dengan instruksi yang jelas sehingga tidak ada miskonsepsi terhadap pembelajaran mandiri ini. Selanjutnya peserta didik menyiapkan diri untuk mengikuti kelas tatap muka secara virtual dengan bekal materi dan pengetahuan yang sudah diberikan dan dipelajari secara mandiri.

Platform sinkron

Pada pembelajaran selanjutnya, guru menggunakan zoom meeting sebagai platform sinkron selama 30-40 menit sebagai tempat untuk mengatasi masalah atau pertanyaan yang timbul ketika peserta didik mempelajari video pembelajaran yang sudah diberikan sebelumnya, memajukan konsep, dan terlibat dalam pembelajaran kolaboratif. Pada pembelajaran ini, guru dan peserta didik secara bersama-sama dapat membuat kesimpulan sesuai dengan yang sudah dipelajari.

Setelah zoom meeting selesai, peserta didik diminta melakukan evaluasi melalui google form dengan menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang sudah dipelajari. Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik dalam pembelajaran dan menjadi refleksi guru untuk meningkatkan pembelajaran yang lebih baik lagi

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa blended learning model flipped classroom lebih efektif bila dibandingkan dengan pembelajaran konvensional dengan tatap muka maupun sistem online. Ada beberapa kelebihan pada penerapan blended learning model flipped classroom yaitu :

  1. Proses pembelajaran menjadi lebih menarik dengan menggunakan 2 (dua) platform sinkron dan asinkron. Penyampaian bahan ajar pembelajaran dapat dilaksanakan kapan saja dan dimana saja melalui sistem jaringan internet.
  2. Peserta didik memiliki keleluasaan mempelajari bahan ajar secara mandiri. Eksplorasi dan elaborasi lebih luas dan dalam karena peserta didik dapat memaksimalkan waktu pelajaran untuk bertanya hal-hal yang kurang dipahami.
  3. Peserta didik dapat menyiapkan bahan diskusi setelah mempelajari bahan ajar yang sudah diberikan, sehingga dapat mengambil kesimpulan pada materi pembelajaran yang sedang dipelajari.
  4. Efisiensi waktu ketika zoom meeting karena peserta didik sudah mempelajari terlebih dahulu materi yang diberikan.
  5. Memacu kreativitas seorang guru dalam membuat bahan ajar yang menarik bagi peserta didik.
  6. Pencapaian materi pembelajaran sesuai dengan target yang ditentukan.

Selain memiliki beberapa kelebihan tersebut di atas, penerapan blended learning model flipped classroom juga memliki kekurangan-kekurangan, antara lain :

  1. Guru perlu memiliki keterampilan IT dalam menyelenggarakan pembelajaran online.
  2. Guru perlu menyiapkan bahan ajar, penilaian serta bahan dikusi yang akan disampaikan kepada peserta didik dalam pembelajaran tatap muka melalui zoom meeting ataupun google classroom.
  3. Kurangnya sarana dan prasarana pendukung pembelajaran.
  4. Rendahnya pengetahuan yang dimiliki guru maupun orang tua sebagai pendamping belajar peserta didik tentang teknologi.

Walaupun dengan kekurangan-kekurangan tersebut, penerapan blended learning model flipped classroom sangat mungkin untuk dilaksanakan. Hal ini seiring dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi, semakin banyaknya aplikasi pendukung serta pemerataan pemanfatan teknologi. Dan tentunya yang paling utama adalah adanya kemauan keras dari para guru untuk mengembangkan diri guna meningkatkan hasil belajar peserta didiknya.

Berdasarkan pengamatan terhadap aktivitas pembelajaran di kelas IVC SD Negeri 1 Rempoah yang telah menerapkan blended learning model flipped classroom diperoleh hasil bahwa :

  1. Keaktifan dan motivasi belajar peserta didik semakin meningkat. Dalam kegiatan pembelajaran yang menerapkan blended learning model flipped classroom, guru memberikan tugas dirumah melalui WAgrup untuk mempelajari dan mengamati video pembelajaran. Kemudian hasil pengamatan dan pengetahuan peserta didik setelah belajar di rumah dikonfirmasi pada saat kegiatan tatap muka melalui Zoom meeting atau Video call.
  2. Peningkatan keaktifan dan motivasi belajar peserta didik berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari Hasil PH Matematika materi Pecahan Senilai sebelum menerapkan blended learning model fipped classroom diperoleh nilai rata-rata 67,40 dengan ketuntasan belajar 44%. Setelah menerapkan blended learning model flipped classroom, pada PH bentuk Pecahan diperoleh nilai rata-rata 73,81 dengan ketuntasan belajar 78 % dan meningkaat dengan perolehan nilai rata-rata 80,48 dengan ketuntasan 86 % pada PH Taksiran Pengoperasian dua Pecahan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan blended learning model flipped classroom dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas IVC pada SD Negeri 1 Rempoah Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas.

SIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan sebagai bahwa terdapat perbedaan motivasi belajar antara siswa yang diajarkan dengan menerapkan blended learning model flipped classroom dibandingkan siswa yang diajarkan pembelajaran konvensional. Oleh karena terdapat peingkatan motivasi belajar peserta didik maka hasil belajar peserta didik akibat penerapan pembelajaran blended learning model flipped classroom. Berdasarkan simpulan tersebut, penulis memberikan saran untuk berbagai pihak yang berkepentingan khususnya para guru untuk dapat menerapkan pembelajaran blended learning model flipped classroom pada pembelajaran pada masa pandemi ini karena terbukti terdapat peningkatan motivasi belajar dan hasil belajar antara siswa yang diajarkan pembelajaran blended learning dibandingkan siswa yang diajarkan pembelajaran konvensional.

PENUTUP

Pembelajaran jarak jauh selama masa pandemi dengan menerapkan blended learning model flipped classroom merupakan sebuah desain pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dilakukan dengan cara memadukan pembelajaran online (melalui whattshap grup) maupun pembelajaran tatap muka dalam jaringan (melalui zoom meeting / google classroom). Penambahan inovasi pembelajaran yang tepat tentunya akan membangkitkan motivasi belajar peserta didik dalam mengeksplorasi sumber belajar yang tidak hanya dari guru. Blended learning model flipped classroom bukanlah satu-satunya alternatif dalam mengatasi masalah pembelajaran. Namun, di tengah pesatnya arus informasi dan komunikasi, menjadikan blended learning model flipped classroom sebagai solusi esensial pasa pandemi.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. dan Jabar,C.S.A (2009) Evaluasi Program Pendidikan Pedoman Teoritis Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan. Jakarta: Bumi aksara

Arikunto.,Suhardjono., Supardi ( 2010 ) Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT Bumi Angkasa

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya.Jakarta : Rineka Cipta.

Sudjana, N. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosda Karya

Muhtadi, Ali. 2019. Modul 3 Pembelajaran Inovatif (Modul mata kuliah Pedagogik Pendidikan Profesi Guru (PPG). Jakarta

Heri Dwiyanto, S.S., M.Pd.(Pengembang Teknologi Pembelajaran LPMP Lampung). 2020. Menyiapkan Pembelajaran dalam Memasuki New Normal dengan Blended Learning. http://lpmplampung.kemdikbud.go.id/po-content/uploads/New_Normal_Blended_Learning_artikel_sec.pdf

TENTANG PENULIS

Nama : Maria Ulfah,S.Pd

NIP : 19800104 200801 2 021

Pangkat/Gol : Penata , III/c

Nama Unit Kerja : SD Negeri 1 Rempoah

By admin

You cannot copy content of this page