Iklan

DINAMIKA PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI SMA NEGERI 3 PURWOKERTO

Oleh : Kusriyanti, S.Pd.

Covid-19 sudah menjangkiti berbagai negara di seluruh belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia. Pandemi Covid-19 juga telah mengubah semua kebiasaan hidup, khususnya pada dunia pendidikan di Indonesia yang hampir semua sekolah menghentikan proses pembelajaran tatap muka dan mengganti menggunakan sistem daring di rumah atau pembelajaran jarak jauh ( PJJ ). Kegiatan pembelajaran secara daring dilakukan karena sekolah-sekolah negeri di Kabupaten Banyumas masih belum dibuka dengan alasan masih merebaknya pandemi Covid-19 pada periode Juli sampai awal Oktober 2020. Oleh karena itu, pembelajaran tatap muka belum memungkinkan untuk dilaksanakan. Hal ini juga sejalan dengan Surat Edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Pandemi Covid-19 yang kemudian dikuatkan dengan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Pemberlakuan pembelajaran daring tersebut menuntut para pendidik untuk melakukan adaptasi dalam kegiatan mengajarnya yang menggunakan teknologi informatika ( IT ). Pembelajaran daring seperti saat ini merupakan cara belajar yang baru di SMA Negeri 3 Purwokerto.. Tentunya sebagai sesuatu yang baru, pembelajaran daring yang diterapkan karena adanya pandemi Covid-19 ini banyak kendala dan tantangan yang harus dihadapi dalam pelaksanaannya.

Adapun tantangan yang dihadapi oleh para pendidik dan sekolah tersebut meliputi tantangan manajemen kelas dan tantangan teknis pelaksanaan pembelajaran daring dengan aplikasi Google Classroom dan WhatsApp (WA) grup kelas, maka pembelajaran Bahasa Inggris yang dilakukan secara daring yang baru kali pertama dilakukan di sekolah ini berusaha untuk mencari jalan keluar guna meminimalisasi dampak-dampak buruk yang ditimbulkan akibat dari tantangan pembelajaran daring yang dilakukan.

Bahasa Inggris adalah salah satu mata pelajaran wajib yang diajarkan di SMA Negeri 3 Purwokerto, dalam hali ini yang menjadi pembahasan adalah pembelajaran Bahasa Inggris yang dilaksanakan di kelas XI MIPA. Topik-topik pembelajaran meliputi Personal Letters, Providing Information Related to Causes and Effects, Conenectors Showing Causes and Effects, Precise Explanations yang semuanya memerlukan tatap muka untuk kegiatan pembelajarannya.

Terkait dengan pelaksanan kelas daring, Carrillo & Flores (2020:2) menjelaskan pemanfaatan teknologi dalam mendukung pembelajaran daring tergantung pada tiga faktor pedagogi. Pendekatan pedagogi yang merupakan faktor pertama meliputi pembelajaran yang berpusat pada siswa, peran guru sebagai fasilitator, dan integrasi pengetahuan. Faktor ke dua adalah desain pembelajaran yang meliputi fleksibilitas pembelajaran, pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan individu masing-masing siswa, sesuai konteks, sosial, proses pembelajaran, dan penggunan alat dan teknologi yang sesuai. Faktor ke tiga adalah fasilitasi yang meliputi harapan yang jelas, pertanyaan yang sesuai, pemahaman dan kepekaan terhadap isu-isu budaya, pemberian umpan balik yang tepat waktu; konstruktif; dan detail, serta sikap dan komitmen yang tinggi dari siswa. Huang et al. (2020:2) juga merinci tiga tantangan utama dalam pembelajaran daring pada masa pandemi. Pertama, para pendidik memilki waktu yang sangat terbatas dalam menyiapkan dan/ atau menyesuaikan materi pembelajaran luring ke daring. Kedua, kurangnya atau terbatasnya kesempatan guru dan siswa dalam berinteraksi secara langsung dan bebas selama pembelajaran daring yang berakibat pada terganggunya proses pembelajaran. Ketiga, penggunaan pendekatan pedagogi yang efektif memerlukan usaha lebih keras dalam memotivasi serta mengaktifkan peserta didik dalam pembelajaran secara daring. Byun & Slavin (2020:665) juga menemukan bahwa walaupun fasilitas sekolah memadai dan kurikulum nasional memfasilitasi pembelajaran daring dengan sangat baik, ketidakseimbangan pendidikan yang diperoleh masing-masing peserta didik juga disebabkan oleh pengaruh keluarga dan permasalahan finansial yang mengganggu proses pembelajaran.

Merujuk pada pentingnya proses pembelajaran daring yang baru kali pertama diselenggarakan di SMA Negeri 3 Purwokerto, penjaminan mutu proses pembelajaran daring yang efektif dan berkelanjutan; dan beberapa fakta dan landasan teori serta empiris yang dipaparkan sebelumnya maka sangat perlu mengidentifikasi tantangan-tantangan yang dihadapi oleh para pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran daring Bahasa Inggris di sekolah dimaksud guna memberikan gambaran secara detail serta memungkinkan analisis lanjutan yang nantinya dapat digunakan sebagai data tambahan bagi pemangku kebijakan publik untuk memberikan solusi terbaik terkait tantangan dimaksud.

Untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan tantangan-tantangan dalam pembelajaran Bahasa Inggris daring yang dihadapi oleh para pendidik dan peserta didik yang baru memulai metode pembelajaran daring, maka tantangan-tantangan diidentifikasi, dianalisis, dan dideskripsikan secara mendalam. Yang menjadi objek adalah tantangan manajemen kelas dan tantangan teknis pembelajaran Bahasa Inggris daring melalui aplikasi Google Classroom dan WhatsApp, juga diperoleh dengan melakukan dokumentasi materi-materi pembelajaran, tugas-tugas, dan proyek-proyek siswa yang terekam di dalam Google Classroom. Guna memperkaya data observasi dan dokumentasi, wawancara terhadap para pendidik dan peserta didik juga dilakukan dengan bertemu langsung tanpa mengabaikan protokol kesehatan, fitur zoom metting dan atau panggilan suara, dan message/ chat atau percakapan dengan teks. Hasil observasi, dokumentasi, dan wawancara menunjukkan pendidik dan peserta didik memiliki tantangan dalam kaitannya dengan manajemen kelas dan teknis. Pendidik memiliki keterbatasan dalam menjelaskan materi pembelajaran terkait dengan variasi metode pembelajaran yang dilakukan. Pada kelas konvensional sebelumnya, pendidik memiliki kreasi, keluwesan, serta keberagaman penggunaan metode mengajar yang disesuikan dengan materi, karakteristik tugas, karakteristik pembelajar, situasi dan lingkungan pembelajaran, dan lain sebagainya. Namun, pendidik mengalami keterbatasan kemampuan dalam menjelaskan karena pembelajaran dilakukan secara daring. Hal ini juga memberi tantangan bagi pendidik dan peserta didik dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran. Aktivitas terbatas pada berbagi materi pembelajaran, video, tugas-tugas, pesan suara, dan informasi-informasi terkait yang memiliki pola interaksi terbatas yaitu dari pendidik ke peserta didik dan sebaliknya. Pola interaksi antar peserta didik cukup terbatas. Aktivitas kerja kelompok atau berpasangan pun belum terlihat dalam pembelajaran, sehingga aktivitas-aktivitas yang menuntut peserta didik untuk berdiskusi dan berkelompok masih terbatas. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik atau student-centered pun belum bisa dilakukan karena semua materi, aktivitas, pertanyaan, tugas-tugas, serta informasi berpusat atau bersumber dari pendidik.

Pendidik dan peserta didik juga terkendala waktu pembelajaran yang membuat pemamaparan, penjelasan, penguatan, pengayaan materi-materi pembelajaran, dan klarifikasi materi-materi sulit dilakukan. Contohnya, beberapa peserta didik yang tidak mengerti suatu materi dalam masa pembelajaran yang telah ditentukan harus bertanya langsung kepada pendidik melalui WA pribadi. Pendidik juga memilki keterbatasan waktu dan metode atau teknik dalam memberikan penjelasan kepada peserta didik secara memuaskan karena cukup sulit untuk memberikannya secara daring. Hal yang sama pun terjadi pada peserta didik. Pemberian umpan balik, penguatan-penguatan, reward, serta sanksi kepada peserta didik pun sangat terbatas. pendidik biasanya memberikan koreksi terhadap tugas-tugas atau proyek peserta didik yang dikumpulkan, memberi penguatan-penguatan dan reward secara verbal seperti kata-kata “bagus, pintar, semangat” dan atau memberikan symbol-simbol atau emotikon yang serupa untuk mebangkitkan motivasi belajar dan berpartisipasi. Namun, pemberian sanksi kepada peserta didik yang tidak, belum, atau terlambat mengumpulkan tugas tidak dapat secara langsung diberikan. Pendidik hanya dapat mengingatkan secara terus menerus setiap minggu agar mereka segera mengumpulkan tugas. Selama proses pembelajaran berlangsung 18 peserta didik saja yang aktif dan mengumpulkan tugas-tugas dan proyek yang diberikan secara penuh dari 36 orang Kelas XI MIPA-1. Disiplin peserta didik dalam pemenuhan tugas-tugas perlu ditingkatkan. Hal ini menunjukkan keterbatasan pendidik dalam mengecek tingkat kompetensi peserta didik secara menyeluruh sehingga, evaluasi pembelajaran tidak dapat dilakukan secara optimal. Akibatnya, tantangan lainnya muncul yaitu keterbatasan kemampuan akomodasi minat, gaya belajar, dan kemampuan peserta didik yang beragam.

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) juga tidak dapat dilakukan secara maksimal mengingat peserta didik tidak berada langsung bersama guru.. Sehingga, PPK diserahkan sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua/wali. Pendidik hanya dapat berusaha menyelipkan sedikit materi PPK ke dalam materi atau tugas-tugas yang diberikan seperti tanggung jawab, jujur, bekerja keras, disiplin, peduli, dan bekerja sama.

Secara teknis, ada peserta didik belum memiliki perangkat penunjang pembelajaran yang sedang dilakukan berupa handphone. Beberapa peserta didik memilki perangkat yang tidak memiliki fitur-fitur tertentu seperti video dan fitur pembuka dokumen tertentu sehingga memiliki keterbatasan dalam mendapatkan materi dan mengerjakan tugas dan proyek yang diberikan.

Keterbatasan kondisi ekonomi keluarga terlebih pada masa pandemi Covid-19 juga turut menjadikan kendala peserta didik sehingga mengalami kesulitan dalam penyediaan kuota internet selama mengikuti kelas daring. Namun, pemerintah telah memberikan bantuan kuota gratis bagi peserta didik dan pendidik. Walaupun belum semua peserta didik memperoleh paket bantuan kuota belajar. Terkait dengan kuota dan jaringan seluler, tantangan lain yang muncul adalah beberapa wilayah tempat tinggal peserta didik sulit terjangkau sinyal.

Kita menyadari bersama bahwa ini adalah awal transformasi pendidikan dari moda luar jaringan (luring) ke dalam jaringan (daring). Kita juga sangat menyadari bahwa daring adalah hal yang baru dalam dunia pendidikan khususnya di SMA Negeri 3 Purwokerto. Perlu beradaptasi dengan kebiasaan baru pada era baru ini. serta perlu adanya upaya bersama untuk memberi edukasi tentang etika dan literasi digital agar pendidik dan peserta didik dapat menggunakan dan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dengan baik, benar, dan bijaksana. Hasil observasi ditemukan bahwa etika dan literasi digital peserta didik masih perlu ditingkatkan karena mereka masih sering menggunakan grup WA kelas untuk membicarakan atau mediskusikan hal-hal yang tidak relevan dengan pembelajaran. Mereka bahkan menggunakan grup tersebut untuk bersenda gurau dengan teman-temannya dan ini dilakukan pada jadwal pembelajaran. Pendidik sering mengingatkan mereka ketika ini terjadi. Alangkah lebih baik jika edukasi dan literasi digital diberikan lebih dini untuk membiasakan mereka memanfaatkan TIK secara bijaksana.

WhatsApp merupakan media sosial yang peruntukannya bukan untuk digunakan sebagai media pembelajaran atau non e-learning platform. Pengunaan WA grup sebagai media berbagi informasi dalam pembelajaran, berdasarkan hasil observasi dan dokumentasi, memiliki beberapa kelemahan. materi, tugas-tugas, dan proyek tidak bisa diatur secara sistematis serta cenderung sulit dicari kembali letaknya jika sudah lewat beberapa pesan, media, dan informasi lainnya yang terus-menerus mengisi chat grup. Kapasitas penyimpanan dokumen-dokumen sering membebani kapasitas penyimpanan perangkat sehingga pengguna, guru dan siswa, menghapus dokumen-dokumen tugas atau materi untuk menghemat ruang memori perangkat mereka. Hal ini berakibat pada hilangnya dokumen tugas dan materi terkait yang belum sempat diunduh oleh siswa maupun guru, sehingga harus menghubungi pemilik sumber dokumen, materi, dan informasi dimaksud untuk mengunggah kembali ke chat grup atau grup WA kelas.

Pengunaan Learning Management System (LMS) atau Sistem Manajemen Belajar (SMB) perlu diperkenalkan kepada pendidik dan peserta didik untuk menanggulangi beberapa kelemahan penggunaan grup WA kelas dimaksud guna menciptakan proses pembelajaran yang efektif, efisien, sistematis, terukur, dan terdokumentasi dengan baik. Salah satu aplikasi LMS yang dikenal adalah Google Classroom.

Google Classroom (Ruang Kelas Google) adalah suatu aplikasi pembelajaran campuran secara online yang dapat digunakan secara gratis. Pendidik bisa membuat kelas mereka sendiri dan membagikan kode kelas tersebut atau mengundang para peserta didiknya. Google Classroom ini diperuntukkan untuk membantu semua ruang lingkup pendidikan yang membantu peserta didik untuk menemukan atau mengatasi kesulitan pembelajaran, membagikan pelajaran dan membuat tugas tanpa harus hadir ke kelas. Tujuan utama Google Classroom adalah untuk merampingkan proses berbagi file antara pendidik dan peserta didik. Google Classroom menggabungkan Google Drive untuk pembuatan dan distribusi penugasan, Google Docs, Sheets, Slides untuk penulisan, Gmail untuk komunikasi, dan Google Calendar untuk penjadwalan. Peserta didik dapat diundang untuk bergabung dengan kelas melalui kode pribadi, atau secara otomatis diimpor dari domain sekolah. Ada bebrapa fungsi dan keunggulan yang didapatkan dari GCR dalam pemanfaatannya sebagai LMS, diantaranya proses setting pembuatan kelas yang cepat dan nyaman, hemat dan efisien waktu, mampu meningkatkan kerjasama dan komunikasi, penyimpanan data yang lebih terpusat, serta dapat berbagi sumber data dengan efisien, praktis, dan cepat.

Setiap kelas membuat folder terpisah di Drive masing-masing pengguna, dan peserta didik dapat mengirimkan pekerjaan untuk dinilai. Aplikasi ini tersedia bagi pengguna seluler perangkat iOS dan android yang memungkinkan pengguna mengambil foto dan melampirkan penugasan, berbagi file dari aplikasi lain dan mengakses informasi secara offline. Pendidik dapat memantau kemajuan untuk setiap peserta didik dan setelah dinilai tugas atau pekerjaannya dapat dikembalikan bersama dengan komentar dari pendidik.

Secara teknis peserta didik juga menghadapi tantangan keterbatasan dalam memperoleh bimbingan belajar Bahasa Inggris yang memadai. Hal ini terkait dengan ketersediaan lembaga bimbel, lokasi tempat tinggal peserta didik yang cukup jauh dengan fasilitas dimaksud, keterbatasan ekonomi keluarga untuk membiayai bimbel, dan situasi pandemi yang tidak memungkinkan secara bebas bepergian. Peserta didik di rumah hanya mengandalkan materi yang dibagikan oleh pendidik, buku-buku penunjang yang mereka dapakan dari sekolah, serta bimbingan orang tua/wali yang memiliki kesibukan menafkahi keluarga dan memliki variasi latar belakang pendidikan serta pengetahuan tentang bahasa Inggris yang terbatas.

Tantangan dan masalah tersebut dihadapi oleh semua satuan tingkat pendidikan dari tingkat usia dini sampai perguruan tinggi, Bazimaziki (2020:299) juga menemukan bahwa perubahan mode pembelajaran dari tatap muka ke daring menjadi lebih berat apabila dalam pembejaran yang disampaikan harus mencakup nilai etika, berpikir kritis, berpikir analitis, dan juga keterampilan berkomunikasi. Pencapaian kemampuan tersebut menjadi terhambat karena keterbatasan kemampuan TIK dan sumber daya pada masa pandemi. Carrillo & Flores (2020:2) menekankan pada faktor pedagogi dari pembelajaran daring yang memanfaatkan teknologi dalam mendukung pembelajaran. Faktor-faktor tersebut meliputi, pertama, pendekatan pedagogi seperti pembelajar sebagai pusat kegiatan, peran pendidik sebagai fasilitator, integrasi pengetahuan. Kedua, desain pembelajaran yang mencakup fleksibilitas pembelajaran, pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan personal, kontekstual, sosial, formatif, dan menggunakan alat dan teknologi yang sesuai. Ketiga, faktor fasilitasi, yang meliputi harapan atau tujuan yang jelas, analisis yang sesuai, pengenalan terhadap isu-isu budaya dan latar belakang peserta didik, pemberian feedback yang tepat waktu, konstruktif, dan detail, dan disertai dengan tingkah laku dan komitmen yang tinggi dari peserta didik.

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa semenjak merebaknya pandemi Covid-19, proses pembelajaran pada sekolah khususnya di SMA Negeri 3 Purwokerto mengalami perubahan dari mode tatap muka ke mode daring. Penerapan mode daring ini selalu memberikan tantangan dan juga kemudahan kepada semua pihak yang terlibat di dalamnya. Tantangan muncul tidak hanya karena memiliki infrastruktur yang kurang, tetapi dari sumber daya yang belum menguasai TIK juga tidak dapat dipungkiri. Tantangan yang terkait dengan manajemen kelas dan pembelajaran yang meliputi persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran daring yang masih membutuhkan sumbang saran semua pihak di sekolah. Tantangan lainnya adalah tantangan teknis yang berupa ketersediaan infrastruktur penunjang, perbaikan ekonomi masyarakat, kesiapan sumber daya manusia, dan edukasi serta literasi digital perlu ditingkatkan guna mewujudkan pembelajaran daring yang efektif, efisien, berkelanjutan, dan bijaksana dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan yang ketat guna mempersempit ruang gerak penyebaran virus Covid-19. Pembelajaran daring juga berdampak positif secara umum dalam membangun kesiapan semua pendidik untuk selalu meningkatkan kualitas diri dan siap dengan berbagai perubahan pada era kehidupan baru.

Daftar Pustaka

Bazimaziki, G. (2020). Challenges in using ICT Gadgets to cope with effects of COVID-19 on Education: A short survey of online teaching Literature in English. Journal of Humanities and Education Development, 2(4), 299–307. https://doi.org/10.22161/jhed.2.4.8

Huber, S. G., & Helm, C. (2020). COVID-19 and schooling: evaluation, assessment and accountability in times of crises—reacting quickly to explore key issues for policy, practice and research with the school barometer. Educational Assessment, Evaluation and Accountability, 32(2), 237–270. https://doi.org/10.1007/s11092-020-09322-y

Krishan, I. A., Ching, H. S., Ramalingam, S., Maruthai, E., Kandasamy, P., Mello, G. De, Munian, S., & Ling, W. W. (2020). Challenges of Learning English in 21st Century: Online vs. Traditional During Covid-19. Malaysian Journal of Social Sciences and Humanities (MJSSH), 5(9), 1–15. ttps://doi.org/10.47405/mjssh.v5i9.494

Rusmiati, A. R., Reza, R., Achmad, S., Syaodih, E., Nurtanto, M., Sultan, A., Riana, A., & Tambunan, S. (2020). The Perceptions of Primary School Teachers of Online Learning during the COVID-19 Pandemic Period : A Case Study in Indonesia. Journal of Ethnic and Cultural Studies, 7(2), 90–109.

Sardiman. (2014). Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Shoimin, Aris. (2014). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Biodata Penulis

Nama : Kusriyanti, S.Pd.

NIP : 19700706 200701 2 017

Jabatan : Guru

Pangkat/Gol : Penata / III.C

Unit Kerja : SMA N 3 Purwokerto

You cannot copy content of this page