Iklan

COOPERATIVE LEARNING PUPUK KEBERANIAN SISWA

Agama memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah kewajiban yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Pendidikan agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.

Selanjutnya, dalam struktur kurikulum SD tahun 2004, salah satu mata pelajaran pokok yang diberikan adalah Pendidikan Agama, dalam hal ini adalah Pendidikan Agama Islam (selanjutnya disingkat PAI). Tujuan utamanya adalah untuk membimbing anak agar menjadi orang muslim sejati, beriman teguh, beramal sholeh dan berakhlak mulia serta berguna bagi masyarakat, agama, bangsa dan negara. Marhamah (2002 : 2) mengemukakan “pendidikan agama sebagai pendidikan umum, khususnya PAI, bertujuan untuk membentuk perilaku dan kepribadian individu sesuai dengan prinsip-prinsip dan konsep Islam dalam mewujudkan nilai-nilai moral dan agama sebagai landasan pencapaian tujuan pendidikan umum”.

Pendidikan agama Islam di sekolah atau Madrasah bertujuan untuk menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan siswa tentang ajaran agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, berbicara pendidikan agama Islam, baik makna dan tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman nilai-nilai ini juga dalam rangka menuai keberhasilan hidup di dunia bagi siswa, yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan di akhirat kelak.

Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan siswa untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al Qur an dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Dibarengi tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubunganya dengan kerukunan antar ummat beragama dalam masyarakat hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.

Dan demi tercapainya kompetensi tersebut di atas, maka setiap pendidik harus mampu menerapkan berbagai strategi pembelajaran. Namun dalam kenyataannya tidak semuanya berjalan sesuai dengan hasil pembelajar yang harapan.

Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Dimana pada tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswa berbagai tingkat kemampuan, melakukan berbagai kegiatan belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk tidak hanya belajar apa yang diajarkan tetapi juga untuk membantu rekan belajar, sehingga bersama-sama mencapai keberhasilan. Semua Siswa berusaha sampai semua anggota kelompok berhasil memahami dan melengkapinya. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, dan pengembangan keterampilan sosial.

Prinsip model pembelajaran kooperatif yaitu 1) saling ketergantungan positif; 2) tanggung jawab perseorangan; 3) tatap muka; 4) komunikasi antar anggota; dan 5) evaluasi proses kelompok.

Model pembelajaran kooperatif memiliki basis pada teori psikologi kognitif dan teori pembelajaran sosial. Fokus pembelajaran kooperatif tidak saja tertumpu pada apa yang dilakukan siswa tetapi juga pada apa yang dipikirkan siswa selama aktivitas belajar berlangsung. Informasi yang ada pada kurikulum tidak ditransfer begitu saja oleh guru kepada siswa, tetapi siswa difasilitasi dan dimotivasi untuk berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompok, dengan guru dan dengan bahan ajar secara optimal agar ia mampu mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Dalam model pembelajaran kooperatif, guru berperan sebagai fasilitator, penyedia sumber belajar bagi siswa, pembimbing siswa dalam belajar kelompok, pemberi motivasi siswa dalam memecahkan masalah, dan sebagai pelatih siswa agar memiliki ketrampilan kooperatif.

Penerapan model cooperative learning berdampak perubahan situasi kelas dan siswa. perubahan kondisi siswa antara lain lebih aktif, lebih antusias mengikuti pembelajaran dan bekerja sama dalam kelompok menjadi lebih baik, kondisi kelas lebih kondusif dan dinamis. Proses pembelajaran menjadi lebih baik karena pengorganisasian kelompok lebih baik, penerapan model cooperative learning lebih baik dan penggunaan alat peraga yang sesuai. Hal ini menyebabkan kemampuan mengemukakan gagasan dan prestasi belajar PAI menjadi meningkat.

80d48a5c-0130-4e37-8b19-54e0fc2fda8f

Sri Wahyuni, S.Pd.I

Guru PAI di SDN 4 Kebanaran, Kec. Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, JATENG

By admin

You cannot copy content of this page