Iklan

APLIKASI G-MEET PLUS PADA PEMBELAJARAN JARAK JAUH TINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI PELAJARAN EKONOMI

Oleh : Heltiana Mondesti, M.E.

Pandemi COVID-19 dengan penyebaran yang sangat cepat dan masif telah memaksa pemerintah Indonesia mengambil banyak kebijakan dengan pertimbangan keselamatan warga, baik dari sisi life-saving hingga economic-saving. Hal itu menyebabkan banyak hal yang telah berubah ditengah masyarakat Indonesia terkait dengan kebijakan lockdown, PSBB, karantina lokal hingga penerapan new normal. Hampir semua sektor terdampak secara signifikan, salah satunya adalah sektor pendidikan sebagai sektor paling utama yang menjadi tanggung jawab negara sebagaimana amanat di dalam Undang-Undang Dasar 1945. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) selaku perumus kebijakan pemerintah dibidang pendidikan menerbitkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan COVID-19 pada satuan Pendidikan. Upaya pencegahan penyebaran COVID-19 dilakukan melalui penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ), tatap maya, group WA serta meniadakan ujian akhir di semua tingkat satuan pendidikan. Program belajar dari rumah ini telah diterapkan dari berbagai tingkatan pendidikan di Indonesia (Kemendikbud, 2020).

Kementrerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mempelajari semua fenomena dan dinamika di masyarakat selama pandemi serta melakukan berbagai kajian bersama ahli dan praktisi, hingga survei ke pemerintah daerah, dan hasilnya dibahas bersama dengan semua stakeholder terkait. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri, pada tanggal 19 Juni 2020 yang lalu. SKB ini menyatakan bahawa pembelajaran tatap muka hanya boleh dilaksanakan secara bertahap di daerah zona hijau berdasarkan rekomendasi gugus tugas, selain dari itu tidak diperkenankan ada tatap muka dan pemerintah setempat diberi kewenangan untuk menentukan metode PJJ yang akan digunakan sesuai dengan kondisi dan kemampuan daerah masing-masing, dapat melalui Tatap Maya, Group Belajar Daring, PJJ Daring maupun PJJ Luring. Kemendikbud selaku regulator akan mengevaluasi masing-masing metode yang telah diterapkan oleh Pemerintah Daerah melalui LPMP secara berkala. Secara keseluruhan penyelenggaraan pendidikan jarak jauh di Indonesia tidak dimaksudkan untuk menggantikan sistem pendidikan konvensional secara tatap muka karena tujuan penyelenggaraannya untuk memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka dan memperluas akses serta mempermudah layanan pendidikan sebagaimana tertuang dalam Permendikbud Nomor 109 Tahun 2013.

Penerapan pembelajaran jarak jauh, tentu ada keunggulan dan kelemahan yang dirasakan bagi pendidik maupun peserta didik. Keunggulan pembelajaran jarak jauh adalah sebagai berikut:

  1. Dari segi jadwal pembelajaran memungkinkan lebih banyak fleksibilitas, tidak hanya dari segi lokasi belajar, namun juga waktu belajar.
  2. Dari segi biaya, pembelajaran jarak jauh cenderung lebih murah karena memerlukan sumber daya dan prasarana yang lebih sedikit. Penggunaan teknologi komunikasi dan informasi sebagai media pembelajaran menimbulkan biaya yang lebih rendah baik bagi penyelenggara pendidikan jarak jauh maupun peserta didik, seperti untuk ruang kelas dan ruang pengajar.
  3. Pembelajaran jarak jauh terkadang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengejar mata pelajaran atau kualifikasi yang mungkin tidak tersedia di daerah setempat, karena kita bisa belajar dari mana saja di seluruh dunia tanpa perlu meninggalkan rumah. Peserta didik dapat mengontrol kapan mereka belajar dan pada tahapan apa.
  4. Materi bahan ajar dan berbagai interaksi dalam bentuk tulisan yang dikemas secara digital memungkinkan peserta didik untuk dapat membaca kembali berulang-ulang informasi yang tercatat di dalamnya.

Selain keunggulan, terdapat pula kelemahan dalam pembelajaran jarak jauh, yaitu:

  1. Disiplin dapat menjadi masalah bagi pendidik saat melakukan pembelajaran jarak jauh. Jenis kenakalan-kenakalan yang biasanya terjadi di ruang kelas juga akan dialami saat melakukan panggilan konferensi, bedanya lebih sulit untuk mengendalikannya dari jauh.
  2. Saat peserta didik belajar di rumah, mereka mungkin dikelilingi oleh lebih banyak gangguan daripada saat belajar di sekolah. Peserta didik yang mengobrol selama pelajaran juga mungkin lebih sulit diawasi dan dicegah.
  3. Minimnya kontak langsung antara pengajar dan peserta didik memperlambat proses terbangunnya relasi sosial dan nilai-nilai yang menjadi tujuan dasar dari pendidikan.
  4. Keterbatasan teknologi komunikasi dan informasi yang tidak dapat menggantikan sepenuhnya proses komunikasi dan interaksi secara langsung yang terjadi dalam pendidikan konvensional.

Secara umum, pendidikan jarak jauh memiliki prinsip yang mencakup antara lain:

  • Akses, yakni terkait dengan keinginan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan melalui penyelenggaraan pendidikan yang berbasis teknologi komunikasi dan informasi, bersifat massal, ekonomis, serta meminimalkan kendala jarak dan waktu.
  • Pemerataan yang merujuk kepada asas keadilan dan persamaan hak bagi siapa saja untuk mengenyam pendidikan tanpa dibatasi oleh berbagai kendala.
  • Kualitas, yaitu berkenaan dengan jaminan standar pengajar, materi bahan ajar dan ujian, dan proses pembelajaran interaktif yang berbasis teknologi komunikasi dan informasi.

Salah satu tantangan bagi pendidik dalam PJJ adalah memilih media untuk menjelaskan materi pembelajaran agar mudah dipahami oleh peserta didik. Ekonomi merupakan mata pelajaran yang cukup banyak memaparkan teori dan selalu mengikuti perkembangan jaman. Dalam pembelajaran secara tatap muka, peserta didik biasa diajarkan secara langsung di kelas sehingga mudah dalam menjelaskan materi kepada peserta didik secara langsung. Dengan pembelajaran jarak jauh, tentu sulit dalam mengontrol peserta didik untuk memusatkan perhatian dan konsentrasi kepada materi. Melihat fenomena seperti ini, pendidik harus mampu berkreasi mencari solusi metode pembelajaran baru di masa pandemi yang cocok dengan kondisi peserta didik, khususnya di kelas XI MIPA dan IPS SMA Negeri 3 Purwokerto. Salah satu metode pembelajaran yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan model pembelajaran dengan G-Meet plus ( Google meet plus Microsoft Power Point). Melalui penggunaan media pembelajaran daring yang disajikan dalam G-Meet plus, diharapkan proses pembelajaran akan menyenangkan, tidak membosankan, dan mudah dipahami oleh peserta didik yang pada akhirnya hasil belajar peserta didik dapat meningkat. Berikut tampilan G-meet yang diterapkan saat pembelajaran jarak jauh pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 3 purwokerto :

Gb. 1 G-meet dalam PJJ mapel Ekonomi

Google meet adalah aplikasi yang diluncurkan oleh Google untuk melakukan konferensi percakapan secara audio-video. Penggunaan aplikasi ini relatif mudah karena hanya memerlukan akun Gmail dan dapat diakses secara gratis yang dapat menampung hingga 250 peserta dalam satu telekonferensi sehingga semua peserta didik dalam satu kelas dapat bergabung. Meet secara real time diperlukan dalam proses belajar karena jika terdapat hal yang belum jelas dapat ditanyakan langsung dan dapat berdiskusi sehingga terjadi interaksi baik antara peserta didik dengan pengajar ataupun interaksi antar peserta didik. Selain itu, G-meet juga dapat dengan mudah membagikan layar dan melakukan presentasi bagi pengajar ataupun peserta didik dalam menampilkan ide atau gagasan seerta penjelasan. Gmeet dapat diakses melalui laptop (PC) maupun smartphone yang terhubung dengan Gmail atau akun google yang dimiliki oleh pengguna sehingga dengan mudah dapat mengakses informasi, sharing data, serta menyimpan data pada drive.

Menurut Carrillo dan Flores (2020:2) terkait dengan pelaksanan kelas daring, menjelaskan pemanfaatan teknologi dalam mendukung pembelajaran daring tergantung pada tiga faktor pedagogi. Pendekatan pedagogi yang merupakan faktor pertama meliputi pembelajaran yang berpusat pada siswa, peran guru sebagai fasilitator, dan integrasi pengetahuan. Faktor ke dua adalah desain pembelajaran yang meliputi fleksibilitas pembelajaran, pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan individu masing-masing siswa, sesuai konteks, sosial, proses pembelajaran, dan penggunan alat dan teknologi yang sesuai. Faktor ke tiga adalah fasilitasi yang meliputi harapan yang jelas, pertanyaan yang sesuai, pemahaman dan kepekaan terhadap isu-isu budaya, pemberian umpan balik yang tepat waktu; konstruktif; dan detail, serta sikap dan komitmen yang tinggi dari siswa. Huang et al. (2020:2) juga merinci tiga tantangan utama dalam pembelajaran daring pada masa pandemi. Pertama, para pendidik memilki waktu yang sangat terbatas dalam menyiapkan dan/ atau menyesuaikan materi pembelajaran luring ke daring. Kedua, kurangnya atau terbatasnya kesempatan guru dan siswa dalam berinteraksi secara langsung dan bebas selama pembelajaran daring yang berakibat pada terganggunya proses pembelajaran. Ketiga, penggunaan pendekatan pedagogi yang efektif memerlukan usaha lebih keras dalam memotivasi serta mengaktifkan peserta didik dalam pembelajaran secara daring. Byun & Slavin (2020:665) juga menemukan bahwa walaupun fasilitas sekolah memadai dan kurikulum nasional memfasilitasi pembelajaran daring dengan sangat baik, ketidakseimbangan pendidikan yang diperoleh masing-masing peserta didik juga disebabkan oleh pengaruh keluarga dan permasalahan finansial yang mengganggu proses pembelajaran.

Sedangkan Microsoft Power Point merupakan sebuah software yang dibuat dan dikembangkan oleh perusahaan Microsoft. Di dalam komputer, biasanya program ini sudah dikelompokkan dalam program Microsoft Office. Program ini dirancang khusus untuk menyampaikan presentasi, baik yang diselenggarakan oleh perusahaan, pemerintahan, pendidikan, maupun perorangan, dengan berbagai fitur menu yang mampu menjadikannya sebagai media komunikasi yang menarik. Microsoft Power Point menyediakan fasilitas dalam bentuk slide-slide yang dapat membantu dalam menyusun suatu presentasi yang efektif dan mudah sehingga memungkinkan para guru untuk memanfaatkan sebagai media pembelajaran (Azhar, 2017 : 16). Menurut Mulyawan yang mengutip dari Maryatun (2015) menyatakan bahwa “Microsoft PowerPoint adalah salah satu jenis program komputer yang tergabung dalam Microsoft Office yang digunakan untuk presentasi dan merupakan program berbasis multimedia”. Berdasarkan hasil penelitian Hikmah (2020) menyatakan bahwa media pembelajaran power point dapat menarik minat belajar peserta didik sehingga berimbas pada pencapaian hasil yang memuaskan. Hal ini membuktikan bahwa penerapan media pembelajaran yang berupa power point efektif digunakan oleh guru ketika pembelajaran Jarak Jauh. Berikut tampilan G-meet plus power point saat kegiatan pembelajaran daring dilakukan :

A screenshot of a computer

Description automatically generated with medium confidence Graphical user interface, application

Description automatically generated

Graphical user interface, application

Description automatically generated Graphical user interface

Description automatically generated

Gb 2. Tampilan G-meet plus dalam PJJ

Power point memilki banyak fitur-fitur yang menarik seperti kemampuan pengolah teks, dapat menyisipkan gambar, audio, animasi, efek yang dapat di atur sesuai selera penggunanya, sehingga peserta didik akan tertarik pada apa yang ditampilkan pada power point (Misbahudin dalam Hikmah 2020). Selain itu, pembelajaran menggunakan media power point lebih mudah diakses dan praktis karena tidak memerlukan koneksi internet ketika akan membukanya serta ukuran file yang kecil sehingga tidak memerlukan ruang penyimpanan yang besar. Aspek kemudahan menggunakan media power point menyebabkan penggunaan media ini menjadi lebih sering digunakan di SMA Negeri 3 Purwokerto. Penggunaan media power point adalah salah satu alat bantu yang digunakan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Dengan penggunaan media power point akan memudahkan peserta didik dalam memahami materi yang disampaikan. Penggunaan media power point tentunya juga akan menarik perhatian peserta didik karena ada permaianan warna, huruf, animasi teks maupun animasi gambar atau foto dalam slide power point. Pembelajaran yang menarik seperti ini akan menjadikan pembelajaran yang sangat menyenangkan (Menurut Nur Rokhman & Agus Murdyastomo (2005: 83).

Penggunaan model pembelajaran G-meet plus ini membuat peserta didik termotivasi dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh yang dibuktikan dengan antusias menyimak penjelasan guru dan aktif dalam bertanya dan menjawab pertanyaan sehingga terjadi interaksi dua arah. Selain itu, keaktifan peserta didik dilihat dari absensinya juga meningkat, pengumpulan tugas yang lebih tepat waktu, dan hasil ulangan harian peserta didik yang mencapai KKM sebesar 82 persen melampaui batas tuntas. Keberhasilan ini dapat disimpulkan bahwa peserta didik merasa senang dan tertarik untuk belajar Ekonomi dengan media G-meet plus, sehingga pembelajaran jarak jauh berbasis daring sesuai harapan semua pihak. Agar lebih meningkatkan motivasi peserta didik dalam menyimak pembelajaran dengan penerapan media G-meet plus maka kemampuan guru dalam membuat materi dalam power point perlu ditingkatkan supaya tampilan power point tidak monoton dan membosankan dengan memberikan efek animasi pada slide, membuat warna background lebih terang, tata tulis yang menarik dan mudah dilihat dengan font huruf serta ukuran yang sesuai.

Daftar Pustaka

Huber, S. G., & Helm, C. (2020). COVID-19 and schooling: evaluation, assessment and accountability in times of crises—reacting quickly to explore key issues for policy, practice and research with the school barometer. Educational Assessment, Evaluation and Accountability, 32(2), 237–270. https://doi.org/10.1007/s11092-020-09322-y

Rokhman, Nur & Agus Murdyastomo (2005). Pembuatan Media Slide Suara Untuk Mata Pelajaran Sejarah SMU Volume 9, Nomor 1, Februari 2005. Yogyakarta: Jurnal Inovasi Dan Aplikasi Teknologi.

Rusmiati, A. R., Reza, R., Achmad, S., Syaodih, E., Nurtanto, M., Sultan, A., Riana, A., & Tambunan, S. (2020). The Perceptions of Primary School Teachers of Online Learning during the COVID-19 Pandemic Period : A Case Study in Indonesia. Journal of Ethnic and Cultural Studies, 7(2), 90–109.

Sardiman. (2014). Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Shoimin, Aris. (2014). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Biodata Penulis

Nama : Heltiana Mondesti, M.E.

NIP : 19701228 200801 2 014

Pangkat/Gol : Penata / III.C

Unit Kerja : SMA Negeri 3 Purwokerto

By admin

You cannot copy content of this page