Iklan

ANALISIS EFEKTIVITAS BELAJAR DARI RUMAH KELAS 1 SELAMA PANDEMI COVID-19

Oleh : Achmad Abdul Jalil, S.Pd.I.

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas pelaksanaan belajar dari rumah (BDR) selama pandemi Covid-19 di kelas I SD Negeri 2 Karanganyar. Penelitian ini menggunakan metode campuran. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket yang diberikan kepada orang tua siswa. Subjek penelitian ini adalah orang siswa kelas I SD Negeri 2 Karanganyar. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan pengisian angket, secara umum pelaksanaan pembelajaran dari rumah (BDR) pada siswa kelas I SD Negeri 2 Karanganyar berjalan cukup efektif dengan persentase 60-79%. Hasil angket pelaksanaan pembelajaran BDR yang memiliki keefektifan kurang efektif dengan kriteria 50-59% sedang dalam proses evaluasi. Disarankan dalam pembelajaran dari rumah (BDR), guru dituntut mampu merancang kegiatan pembelajaran dari perencanaan hingga evaluasi dengan cara yang lebih sederhana, lebih kreatif dan efektif.

Kata Kunci: Covid-19, Akses Belajar, Belajar dari Rumah.

PENDAHULUAN

Kondisi pandemi Covid-19 telah mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia terutama di sektor Pendidikan. Untuk memutus mata rantai penularan virus tersebut, banyak pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah, termasuk pemerintah Indonesia. Pendidikan anak sekolah dasar adalah salah satu sektor yang sangat terdampak kondisi pandemi ini. Sampai saat ini, kemendikbud masih belum mengijinkan pemerintah daerah di selain zona kuning dan hijau untuk melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka. Dalam rangka pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19), proses pembelajaran dilaksanakan melalui penyelenggaraan Belajar dari Rumah (BDR) sebagaimana tercantum dalam Surat Edaran Kemendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19) yang diperkuat dengan SE Sekjen Nomor 15 tahun 2020 tentang Pedoman Pelaksanaan BDR selama darurat Covid 19.

Prinsip dari Kegiatan Belajar dari Rumah (BDR) ini adalah peserta didik dapat mengakses materi dan sumber pembelajaran tanpa batasan waktu dan tempat. Kegiatan Belajar dari Rumah (BDR) ini diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran jarak jauh dan mempermudah dalam penyebaran materi kepada peserta didik. Oleh karena itu, proses pembelajaran yang biasanya dilaksanakan di sekolah dengan tatap muka langsung dengan bapak atau ibu guru dan teman-teman tidak dapat dilakukan pada masa pandemi ini. Para siswa diharuskan belajar dari rumah (BDR), untuk itu guru juga diharuskan menyiapkan perangkat pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk belajar dari rumah. Kondisi ini membuat guru harus mengubah strategi belajar mengajarnya. Penggunaan metode pengajaran yang tepat maupun perilaku dan sikap guru dalam mengelola proses belajar mengajar sangat dibutuhkan dalam pembelajaran selama program belajar dari rumah (BDR). Semua ini dilakukan untuk memberikan akses pembelajaran yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu kepada peserta didik selama diberlakukannya masa darurat Covid-19.

Kondisi siswa dan guru yang tidak dapat bertemu secara langsung untuk menjaga social distancing dan physical distancing inilah yang membuat pembelajaran harus dilakukan melalui pembelajaran daring. Pada pembelajaran daring, kita mengenal ada istilah pembelajaran sinkron dan pembelajaran asinkron. Menurut Chaeruman (2017), dalam pembelajaran sinkron, siswa dan guru berada di tempat yang sama pada waktu yang sama. Ini mirip dengan pembelajaran tatap muka. Salah satu contoh pembelajaran sinkron adalah ketika siswa dan guru berpartisipasi dalam kelas melalui aplikasi web conference. Ini menciptakan ruang kelas virtual yang memungkinkan siswa mengajukan pertanyaan dan para guru menjawab secara instan. Secara keseluruhan, pembelajaran yang sinkron memungkinkan siswa dan guru untuk berpartisipasi dan belajar secara langsung dan terlibat dalam diskusi langsung. Sedangkan pembelajaran asinkron adalah pendekatan belajar mandiri dengan interaksi asinkron yang mendorong kegiatan pembelajaran. Email, youtube, google, dan blog adalah sumber daya yang mendukung pembelajaran asinkron. Beberapa kegiatan pembelajaran asinkron yang umum adalah berinteraksi dengan Learning Management System (LMS), berkomunikasi menggunakan whatshap, memposting di forum diskusi dan membagikan materi. Selain itu, penting untuk menjaga umpan balik tepat waktu dan komunikasi yang jelas untuk melibatkan siswa dalam pembelajaran. Secara keseluruhan, pembelajaran asinkron memberikan keuntungan seperti kenyamanan, fleksibilitas, lebih banyak interaksi dan untuk melanjutkan tanggung jawab kehidupan pribadi dan profesional. Perbedaan antara pembelajaran sinkron dan asinkron adalah bahwa pembelajaran sinkron melibatkan sekelompok siswa yang terlibat dalam pembelajaran pada saat yang sama mirip dengan kelas virtual sedangkan pembelajaran asinkron melibatkan pembelajaran yang berpusat pada siswa mirip dengan pendekatan belajar mandiri yang mirip dengan pendekatan belajar mandiri dengan sumber belajar online yang diperlukan.

Konsep belajar dari rumah (BDR) di SD Negeri 2 Karanganyar dilaksanakan secara asinkron. Pelaksanaan pembelajaran dengan asinkron dilaksanakan satu kali dalam 1 minggu dengan melalui whatsaap dengan memanfaatkan layanan youtube.

Berdasarkan kondisi yang terjadi selama pandemi covid-19 serta kajian dari beberapa teori di atas maka tujuan penelitian ini adalah menganalisis efektivitas pelaksanaan proses Belajar dari Rumah (BDR) selama pandemi Covid-19 di kelas I SD Negeri 2 Karanganyar.

KAJIAN PUSTAKA

Pada pelaksanaannya baik belajar secara jarak jauh secara online maupun belajar tatap muka langsung (offline) tetap harus memperhatikan tercapainya tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu. Hamalik (2005) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran.

Adanya rumusan tujuan pembelajaran yang beragam, tetapi semuanya menunjuk pada esensi yang sama, bahwa: (1) tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran; (2) tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik. Berdasarkan pendapat ahli mengenai definisi dan tujuan pembelajaran maka bisa disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran merupakan muara dari seluruh rangkaian pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan.

Ketercapaian tujuan pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa hal di antaranya adalah: proses pembelajaran, media, dan bahan ajar yang digunakan. Proses pembelajaran adalah proses yang di dalamnya terdapat kegiatan interaksi antara guru-siswa dan komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan belajar (Rustaman, 2001). Dalam proses pembelajaran, guru dan siswa merupakan dua komponen yang tidak bisa dipisahkan. Pengertian proses pembelajaran antara lain menurut Rooijakkers (1991:114): “Proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan belajar mengajar menyangkut kegiatan tenaga pendidik, kegiatan peserta didik, pola dan proses interaksi tenaga pendidik dan peserta didik dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar dalam kerangka keterlaksanaan program pendidikan”.

Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Winkel (1991:200) “Proses pembelajaran adalah suatu aktivitas psikis atau mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap”.

Pelaksanaan pembelajaran adalah proses yang diatur sedemikian rupa menurut langkah – langkah tertentu agar pelaksanaan mencapai hasil yang diharapkan (Nana Sudjana, 2010). Menurut Syaiful Bahri (2013) pelaksanaan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif, nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan siswa. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru melakukan beberapa tahap pelaksanaan pembelajaran antara lain: membuka pelajaran, penyampaian materi pembelajaran, menutup pembelajaran.

Kesimpulan dari beberapa pendapat tersebut adalah bahwa proses pembelajaran adalah segala upaya bersama antara guru dan siswa untuk berbagi dan mengolah informasi. Harapan dari proses pembelajaran tersebut adalah bahwa pengetahuan yang diberikan akan bermanfaat dalam diri siswa dan menjadi landasan belajar yang berkelanjutan. Adanya perubahan-perubahan yang lebih baik untuk mencapai suatu peningkatan yang positif yang ditandai dengan perubahan tingkah laku individu demi tercapainya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien akan tercapai dari sebuah proses pembelajaran. Kemampuan intelektual dan berfikir kritis akan dibentuk dari sebuah proses pembelajaran.

Selain proses pembelajaran, media juga berperan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Hal ini sesuai pula dengan yang disampaikan oleh Hamalik (dalam Arsyad, 2011) yang mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Media dalam proses pembelajaran secara umum memiliki manfaat untuk memperlancar interaksi antara guru dengan siswa. Hal ini dimaksudkan agarproses pembelajaran akan berlangsung secara lebih efektif dan efisien.

Selain proses pembelajaran dan media pembelajaran, bahan ajar juga memiliki peranan yang tidak kalah pentingnya demi tercapainya tujuan pembelajaran. Mulyasa (2006) mengemukakan bahwa Sebagai salah satu bagian dari sumber ajar, bahan ajar dapat diartikan sebagai sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran, baik yang bersifat khusus maupun yang bersifat umum yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran.

Widodo dan Jasmadi (dalam Lestari, 2013) menyatakan bahwa bahan ajar adalah seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mencapai kompetensi dan subkompetensi dengan segala kompleksitasnya.

Berdasarkan pengertian yang diungkapkan dalam berbagai pendapat tersebut, bahan ajar sebaiknyadirancang sesuai dengan kaidah pembelajaran, yakni disesuaikan materi pembelajaran, disusun berdasarkan atas kebutuhan pembelajaran, terdapat bahan evaluasi, serta bahan ajar tersebut menarik untuk dipelajari oleh siswa.

Iskandarwassid dan Dadang (2011) mengungkapkan bahwa bahan ajar merupakan seperangkat informasi yang harus diserap peserta didik melalui pembelajaran yang menyenangkan. Penyusunan bahan ajar perlu dirancang sedemikian rupa hinggamanfaat bahan ajar atau materi itu benar-benar dirasakan oleh siswa setelah ia mempelajarinya. Wardhana (2010) menambahkan bahwa bahan ajar merupakan suatu media untuk mencapai keinginan atau tujuan yang akan dicapai oleh peserta didik. Salah satu saluran alternatif pada komunikasi dalam proses pembelajaran adalah melalui penggunaan bahan ajar sebagai sumber belajar baik secara visual maupun audio visual.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kombinasi (mixed methods) kualitatif dan kuantitatif. Metode penelitian kombinasi adalah suatu metode penelitian yang mengkombinasikan atau menggabungkan antara metode kuantitatif dan metode kualitatif untuk digunakan secara bersama-sama dalam suatu kegiatan penelitian, sehingga diperoleh data yang lebih komprehensif, valid, reliabel dan obyektif. Melalui kombinasi dua metode, maka data yang diperoleh dari penelitian akan lebih valid, karena data yang kebenarannya tidak dapat divalidasi dengan metode kuantitatif akan divalidasi dengan metode kualitatif atau sebaliknya (Sugiyono Pribowo F, 2017).

Didasari permasalahan yang akan diteliti yaitu menganalisis efektivitas pelaksanaan proses Belajar dari Rumah (BDR) selama pandemi Covid-19 di kelas I SD Negeri 2 Karanganyar maka penelitian ini menggunakan jenis penelitian kombinasi kuantitatif kualitatif. Penelitian kuantitatif dilakukan untuk melihat tingkat efektivitas belajar siswa penelitian kualitatif untuk mengetahui respon siswa terhadap pelaksanaan belajar dari rumah. Hal ini dilakukan secara sepadan, tidak terlalu dominan pada salah satunya.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuisioner menggunakan angket kuisioner yang diberikan kepada wali siswa akhir semester gasal bulan sekali untuk mendapatkan gambaran pelaksanaan BDR selama 1 semester tersebut. Dalam analisis kuantitatif ini variabel penelitian disusun secara deskriptif dengan menilai prosentase pencapaian standar dalam bentuk tabel. Teknik analisis data yang digunakan adalah milik Miles and Huberman. Miles and Huberman (Sugiyono, 2017) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu: data reduction, data display, conclusion drawing/verification.

Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan dideskripsikan. Pendeskripsian data dilakukan dalam bentuk persen.

Sumber data : (Sugiyono, 2017)

Perhitungan nilai rata-rata dilakukan dengan menjumlahkan seluruh nilai data suatu kelompok sampel, kemudian dibagi dengan jumlah sampel tersebut. Jadi jika suatu kelompok sampel acak denga jumlah sampel n, maka dapat dihitung rata-rata dari sampel tersebut sebagai berikut.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian dilaksanakan di kelas 1 SD Negeri 2 Karanganyar tahun ajaran 2020/2021 semester gasal pada bulan November 2020. Jumlah responden sebanyak 11 wali siswa dari 13 wali siswa seluruhnya.

Penelitian dilakukan dengan memberikan angket kuisoiner kepada wali siswa melalui Google Form yang berisi 15 pertanyaan. Adapun kisi – kisi pertanyaan tersebut dapat dilihat pada tabel 1 berikut.

Tabel 1. Kisi – kisi Angket respon wali siswa terhadap Belajar Dari Rumah (BDR)

No Indikator Item

pertanyaan

No butir
1 Efektivitas BDR 1 1
2 Akses BDR 1 2
3 Pendampingan BDR 2 3,5
4 Reaksi tugas BDR 2 4,15
5 Kesulitan mata pelajaran 3 6,7,8
6 Materi BDR 1 9
7 Media BDR 3 10,11,12
8 Evaluasi BDR 1 14
9 Kejelasan instruksi 1 13

(Sumber : Data sekunder, 2020)

Berdasarkan hasil respon wali siswa berupa angket kuisioner yang diberikan melalui Google Form dengan alamat https://forms.gle/csNPKEJhqqhn4wvdA didapatkan :

  1. Apakah kamu bisa mengikuti BDR melalui aplikasi youtube dengan baik ? dari item pertanyaan tersebut jawaban wali siswa adalah 81,8% bisa mengikuti, 18,2 % sedikit mengikuti dan 0% tidak bisa mengikuti;
  2. Siapa yang biasanya mengakses pertama kali aplikasi youtube untuk mengetahui materi BDR setiap harinya ? dari item pertanyaan tersebut jawaban wali siswa adalah 9,1% siswa, 72,7% orang tua, 18,2% saudara dan 0% lainnya;
  3. Siapa pendamping belajarmu di rumah ? dari item pertanyaan tersebut jawaban wali siswa adalah 81,8% ibu, 0% ayah, 18,2% saudara dan 9,1% lainnya;
  4. Apakah reaksi kalian saat menerima materi BDR yang disampaikan guru melalui youtube ? dari item pertanyaan tersebut jawaban wali siswa adalah 90,9% langsung mengerjakan dan 9,1% menunda mengerjakan;
  5. Bagaimana cara pendampingan orang tua saat BDR ? dari item pertanyaan tersebut jawaban wali siswa adalah 0% anak mengerjakan sendiri dan 100% orang tua ikut membantu dan mengeceknya;
  6. Mapel apa yang menurutmu paling sulit diselesaikan ketika BDR ? dari item pertanyaan tersebut jawaban wali siswa adalah 27,3% Tematik, 18,2% Penjasorkes dan 54,5% PAI;
  7. Apakah kalian mudah mengikuti materi mapel PAI ? dari item pertanyaan tersebut jawaban wali siswa adalah 72,7% mudah mengikuti dan 27,3% sulit mengikuti;
  8. Jika ada kesulitan dalam mapel PAI, dalam hal apa kesulitan itu biasanya ditemui ? dari item pertanyaan tersebut jawaban wali siswa adalah 9,1% terlalu banyak tugas, 0% materi terlalu banyak, 45,5% video susah diakses, 9,1% instruksi guru kurang jelas dan 36,4% lainnya;
  9. Bagaimana pendapatmu mengenai materi BDR maple PAI di Era new Normal Covid-19 ? dari item pertanyaan tersebut jawaban wali siswa adalah 54,5% sesuai harapan , 9,1% jauh dari harapan dan 36,4% belum sesuai harapan;
  10. Apakah menurut kalian video pembelajaran yang dibuat itu membantu memahami materi pelajaran ? dari item pertanyaan tersebut jawaban wali siswa adalah 81,8% ya saya bisa menyelesaikan tugas dengan baik, 18,2% tidak, saya lebih suka bertanya ke orang tua dan 0% tidak, karena saya bosan;
  11. Apakah kalian selalu menyimak video pembelajaran yang diberikan bapak guru ? dari item pertanyaan tersebut jawaban wali siswa adalah 81,8% ya, 18,2% kadang-kadang dan 0% tidak;
  12. Bagaimana pendapat kalian tentang video pembelajaran mapel PAI yang bapak guru buat di era new normal covid-19 ini ? dari item pertanyaan tersebut jawaban wali siswa adalah 90,9% menarik, 9,1% biasa saja dan 0% membosankan.
  13. Apakah kalian selalu membaca dulu instruksi yang bapak guru berikan di youtube ?  dari item pertanyaan tersebut jawaban wali siswa adalah 72,7% ya, 27,3% kadang-kadang dan 0% tidak.
  14. Bagaimana pandanganmu terhadap tugas-tugas BDR ? dari item pertanyaan tersebut jawaban wali siswa adalah 72,7% wajib diselesaikan untuk melatih karakter disiplin dan tanggung jawab saya, 18,2% wajib diselesaikan karena dengan begini saya bisa tetap belajar, 9,1% wajib diselesaikan sebagai tugas agar mendapat nilai baik, 0% wajib diselesaikan untuk menambah wawasan saya dan 0% tidak wajib diselesaikan karena hanya sebagai pengisi waktu saja sambil menunggu pembelajaran tatap muka kembali; dan
  15. Apakah kalian selalu mengirimkan hasil pekerjaan kalian selama mengikuti BDR ? dari item pertanyaan tersebut jawaban wali siswa adalah 100% selalu, 0% kadang-kadang dan 0% tidak pernah.

Selanjutnya untuk mengetahui hasil efektifitas Belajar dari Rumah (BDR) maka hasil analisis setiap butir pertanyaan diambil rata–rata pernyataan yang bersifat positif dan dikonversi pada kriteria keefektifan yang telah ditentukan. Penafsiran dan pengambilan keputusan tentang hasil analisis data terhadap penelitian dapat yang dikonversi dengan menggunakan kriteria sebagai berikut.

Tabel 2. Konversi Tingkat Pencapaian dan Kualifikasi Keefektifan

No. Kriteria Kualifikasi
1. 80% – 100% Sangat efektif
2. 60% – 79% Cukup efektif
3. 50% – 59% Kurang efektif
4. <49% Tidak efektif

(Sumber data: Pribowo, 2014:47)

Berdasarkan tabel konversi keefektifan pelaksanaan belajar dari rumah (BDR) di kelas 1 SD Negeri 2 Karanganyar maka data yang diperoleh dihitung rata–rata setiap indikator untuk dianalisa berdasarkan kualifikasi keefektifan. Analisa hasil pengisian angket pelaksanaan BDR di Kelas 1 SD Negeri 2 Karanganyar disajikan pada tabel 3 berikut ini.

Tabel 3. Analisa Hasil Pengisian Angket pelaksanaan BDR Kelas 1 SD Negeri 2 Karanganyar

No Indikator Hasil rata-rata Kualifikasi

Keefektifan

1 Efektivitas BDR 81,8 Sangat baik
2 Akses BDR 72,7 Cukup baik
3 Pendampingan BDR 86,35 Sangat baik
4 Reaksi tugas BDR 95,45 Sangat baik
5 Kesulitan mata pelajaran 57,56 Kurang baik
6 Materi BDR 54,5 Kurang baik
7 Media BDR 84,83 Sangat baik
8 Evaluasi BDR 72,7 Cukup baik
9 Kejelasan instruksi 72,7 Cukup baik

(Sumber : Data sekunder, 2020)

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan melakukan pengisian kuisioner melalui Google form maka didapatkan hasil bahwa secara umum pelaksanaan pembelajaran dari rumah (BDR) siswa kelas 1 SD Negeri 2 Karanganyar berjalan cukup baik dengan persentase 60-79%. Jika dianalisis lebih dalam efektivitas pelaksanaan BDR ini berjalan cukup efektif dikarenakan wali siswa sudah terbiasa dengan handphone sehingga dalam akses pembelajaran mereka untuk putra putrinya tidak memiliki masalah yang berarti, disamping itu akses pembelajaran dilakukan dengan pendampingan dari orang tua terutama oleh ibu dari siswa itu sendiri yang tergolong masih muda. Keefektifan penggunaan gawai dalam pembelajaran selaras dengan yang disampaikan oleh Pribowo (2020) yang menjelaskan tentang perilaku anak dan remaja dalam menggunakan internet mencatat sebanyak 84 persen dari jumlah total seluruh rakyat Indonesia adalah pengguna telepon seluler dan 79,5 persen diantaranya adalah pengguna internet.

Selain akses internet berdasarkan hasil respon kuisioner, efektifitas pemahaman materi yang dimiliki siswa melalui belajar BDR cukup baik, hal ini didukung oleh sarana dan prasarana belajar yang disediakan oleh sekolah dan guru. Merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Ibrahim & Suardiman (2014) yang menyatakan bahwa penggunaan e-learning memberikan pengaruh positif terhadap motivasi dan prestasi belajar siswa di SD Negeri 2 Karanganyar. Guru menyediakan media youtube berupa materi yang lengkap dan mudah diakses oleh siswa melalui laman Youtube. Guru juga menyediakan video sebagai media yang mendukung penjelasan materi kepada siswa. Efektivitas video di dalam pembelajaran adalah sebagai suplemen untuk menarik perhatian dan minat belajar siswa. dikunjungi oleh siswa. Kemampuan media video juga dapat diandalkan pada bidang studi yang mempelajari keterampilan motorik dan melatih kemampuan kegiatan.

Kelebihan Video dalam pembelajaran diungkap oleh Hamzah B. Uno & Nina Lamatenggo (2011) yang menyatakan bahwa video pembelajaran memiliki beberapa kelebihan yaitu video dapat memanipulasi waktu dan ruang, siswa dapat diajak melanglang buana ke mana saja walaupun dibatasi dengan ruang kelas. Video juga dapat menampilkan objek-objek yang terlalu kecil, terlalu besar, berbahaya, atau bahkan tidak dapatdikunjungi oleh siswa. Kemampuan media video juga dapat diandalkan pada bidang studi yang mempelajari keterampilan motorik dan melatih kemampuan kegiatan.

Adapun hasil kuisioner pelaksanaan pembelajaran BDR yang memiliki efektifitas kurang baik dengan kriteria sebesar 57,57% dan 54,5 % adalah pada tingkat kesulitan mata pelajaran dan materi pelajaran. Siswa merasa kesulitan dalam bentuk tugas yang diberikan terlalu banyak dan memberatkan. Pada proses BDR memang banyak materi yang disampaikan melalui whatsapp via Youtube, hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Namun siswa menganggap tugas yang diberikan merupakan tes penilaian hasil belajar sehingga siswa merasa berat dalam menyelesaikannya. Sebenarnya tugas yang diberikan oleh guru itu adalah sebuah proses yang sengaja dibuat oleh guru untuk menilai proses pembelajaran, bukan hanya untuk menilai capaian akhir saja. Dalam hal ini ada perbedaan persepsi dari siswa dan guru terhadap jalannya proses evaluasi.

Perbedaan persepsi itu timbul karena kurangnya komunikasi antara guru dan siswa. Dalam proses pembelajaran secara asinkron. Siswa kurang aktif dalam memberikan respon terhadap instruksi yang diberikan oleh guru. Begitu juga ketika proses pembelajaran secara sinkron dilakukan. Kebanyakan hanya guru saja yang aktif berbicara. Siswa cenderung malu mengungkapkan pendapatnya secara terbuka melalui media whatsapp yang dilaksanakan untuk pembelajaran daring secara sinkron.

Selain adanya persepsi mengenai kesulitan mata pelajaran dan materi, beberapa faktor yang ditemukan juga menjadi penyebab dari ketidakefektifan proses belajar dari rumah adalah karena banyaknya distruction/gangguan ketika proses belajar berlangsung seperti game/TV yang membuat siswa kurang fokus dalam pelaksanaan proses pembelajaran dari rumah. Wali siswa cenderung ingin cepat selesai. Kurangnya komunikasi secara efektif antara guru dengan siswa serta siswa dengan wali siswa lainnya menyebabkan proses pelaksanaan belajar dari rumah ini, lama kelamaan menjadi membosankan bagi siswa. Beberapa hal lain yang juga menyebabkan proses belajar jadi rumah ini menjadi kurang efektif adalah adanya kendala jaringan dan kuota yang terbatas.

Adanya kendala mengenai kesulitan mata pelajaran dan materi dalam pembelajaran daring yang dirasa terlalu berat, sejalan dengan temuan Mustakim, (2020) mengenai efektivitas pembelajaran daring menggunakan media online selama Covid-19, bahwa untuk meningkatkan kualitas pembelajaran daring selama pandemi covid-19, maka pemberian materi pembelajaran sebaiknya disampaikan secara ringkas meminimalisir mengirim materi dalam bentuk video berdurasi panjang untuk menghemat kuota, memilih media berupa video dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, tetap memberikan materi sebelum penugasan namun dalam pemberian tugas hendaknya tidak terlalu banyak dan soal hendaknya lebih variatif, serta pemberian tugas harus disertakan dengan instruksi yang jelas.

PENUTUP

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dibahas pada bab sebelumnya, kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa pelaksanaan Belajar dari Rumah (BDR) untuk siswa kelas 1 SD Negeri 2 Karanganyar berlangsung sangat efektif. Orang tua siswa bisa mengakses materi pembelajaran yang disampaikan guru dengan menggunakan gawainya. Penggunaan video pembelajaran juga cukup menarik minat siswa untuk menyelesaikan setiap tahap pembelajaran dan memahami materi dengan baik, namun ada ketidakefektifan pada mata pelajaran dan materinya.

Saran dari peneliti bagi guru, guru dituntut harus mampu mendesain kegiatan belajar dari rumah secara lebih ringan, kreatif namun efektif, dengan memanfaatkan perangkat atau media yang tepat sesuai dengan materi yang hendak disampaikan. Jenis tugas yang diberikan pun harus dirancang sedemikian hingga siswa tetap semangat dalam belajar secara daring dan tidak menjadi beban psikis. Walaupun kegiatan belajar dari rumah dengan sistem daring akan memberikan kesempatan lebih luas dalam mengeksplorasi materi yang akan diajarkan, namun guru harus mampu memilih dan membatasi sejauh mana cakupan materinya dan aplikasi yang cocok pada materi dan metode belajar yang digunakan. Guru juga perlu lebih memberi pemahaman kepada siswa bahwa tugas yang diberikan itu bukanlah sebuah beban yang menjadi kewajiban untuk diselesaikan, tetapi adalah sebuah proses yang harus dilalui untuk mempermudah siswa dalam memahami materi.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, A. (2011). Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.

Chaeruman, U. A. (2017). PEDATI Model Sistem Pembelajaran Blended, Panduan Merancang Mata Kuliah Daring, SPADA Indonesia. Jakarta: Direktorat Pembelajaran KEMRISTEKDIKTI.

Hamalik, O. (2005). Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Bandung: Bumi Aksara

Uno, H.B, (2008). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Ibrahim, D. S., & Suardiman, S. P. (2014). Pengaruh Penggunaan E-Learning Terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Matematika Siswa SDN Tahunan Yogyakarta. Jurnal Prima Edukasia, 2(1), 66

diakses pada 24 Agustus 2020.

Iskandarwassid & Sunendar, D (2011) Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.

Kemendikbud. (2020). Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah. www.kemdikbud.go.id. diakses pada 19 Agustus 2020.

Lestari, I. (2013). Pengembangan bahan ajar berbasis Kompetensi Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan . Padang: Akadenia Permata.

Mulyasa, E. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Mustakim. (2020). Efektivitas Pembelajaran Daring Menggunakan Media Online Selama Pandemi Covid-19 pada Mata Pelajaran IPA. Journal.uin- alauddin.ac.id/index.php/alasma/article/view/1364 6 diakses pada 10 November 2020.

Prastowo, A. (2012). Metode Penelitian Kualitatif dalam Prespektif Rancangan Penelitian. Yogyakarta: Ar- Ruzz Media.

Pribowo, F. S. (2017). Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Pendekatan Scientific Approach. Pedagogia.

Rooijakkers, A. (1991). Mengajar dengan Sukses: Petunjuk untuk Merencanakan dan Menyampaikan Pengajaran. Jakarta: PT Presindo.

Rustaman. (2001). Keterampilan Bertanya dalam Pembelajaran. dalam Handout Bahan Pelantikan Guru-Guru Se-Kota Bandung. Jakarta: Depdiknas.

Sudjana, N. (2010). Penilaian Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Syaiful, B. D. (2013). Strategi belajar mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Wardhana, Y. (2010). Teori belajar dan mengajar. Bandung: Pribumi Mekar.

Winkel. (1991). Psikologi Pengajaran, Jakarta: Gramedia.

Biodata Penulis

Nama : Achmad Abdul Jalil, S.Pd.I.

NIP : 19860801 201902 1 004

Jabatan : Guru PAI

Golongan : Penata Muda III / a

Unit Kerja : SDN 2 Karanganyar Jatilawang

You cannot copy content of this page