Iklan

PEMBENTUKAN KARAKTER

MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

JENJANG SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Warso, S.Ag.

Abstrak

Penulis ini akan membahas tentang peran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah dalam pembentukan karakter peserta didik. Pendidikan agama Islam merupakan salah satu pendidikan karakter yang paling penting, agar tumbuh dengan baik jika dimulai dari tertanamnya jiwa keberagamanpada anak. Oleh karena itu materi PAI harus diajarkan sebagai dasar keagamaan, diajarkan Al-Quran dan Hadist sebagai pedoman hidupnya, diajarkan fiqih sebagai rambu-rambu hukum dalam beribadah, mengajarkan sejarah Islam sebagai sebuah keteladanan hidup, dan mengajarkan akhlak sebagai pedoman perilaku manusia apakah dalam kategori baik atau buruk. Oleh sebab itu tujuan utama Pendidikan PAI adalah pembentukan kepribadian pada diri siswa yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu keberhasilan pembelajaran PAI di sekolah sudah semestinya ditentukan oleh penerapan metode pembelajaran yang tepat.

Kata kunci : Pendidikan, karakter, Pendidikan Agama Islam.

  1. PENDAHULUAN

Pendidikan karakter sangat penting dalam pendidikan akhir-akhir ini, hal ini berkaitan dengan fenomena dekadensi moral yang terjadi ditengah-tengah masyarakat maupun di lingkungan pemerintah yang semakin meningkat dan beragam. Kriminalitas ketidakadilan, korupsi, kekerasan pada anak, pelanggaran HAM, menjadi bukti bahwa telah terjadi krisis jati diri dan karakteristik pada bangsa Indonesia. Budi pekerti luhur, kesantunan, dan relegiusitas yang dijunjung tinggi dan menjadi budaya bangsa Indonesia selama ini seakan-akan menjadi terasa asing dan jarang ditemui di tengah-tengah masyarakat. Kondisi ini akan menjadi lebih parah lagi jika pemerintah tidak segera mengupayakan program-program perbaikan baik yang bersifat jangka panjang maupun jangka pendek. Pendidikan karakter menjadi sebuah jawaban yang tepat atas permasalahan-permasalahan yang telah disebut diatas dan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan diharapkan dapat menjadi tempat yang mampu mewujudkan misi dari pendidikan karakter tersebut. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan dalam melaksanakan pendidikan karakter di sekolah adalah mengoptimalkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Peran pendidikan agama islam sangatlah strategis dalam mewujudkan pembentukan karakter siswa. Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan sarana transformasi pengetahuan dalam aspek keagamaan (aspek kognitif), sebagai transformasi norma serta nilai moral untuk membentuk sikap (aspek afektif), yang berperan mengendalikan perilaku (aspek psikomotor) sehingga tercipta kepribadian manusia seutuhnya (Permendiknas No. 20. 2006). Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan pendidikan . Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan, hambatan dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, regional maupun global.

  1. KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER

Istilah karakter dihubungkan dengan istilah etika, akhlak dan atau nilai yang berkaitan dengan kekuatan moral berkonotasi “positif” bukan netral. Oleh karena itu pendidikan karakter secara lebih luas dapat diartikan sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai budaya bangsa pada peserta didik, sehingga mereka mempunyai nilai dan karakter sebagai dirinya sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif (Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendiknas, 2010). Konsep tersebut harus disikapi secara serius oleh pemerintah dan masyarakat sebagai jawaban dari kondisi riil yang dihadapi bangsa akhir-akhir ini yang ditandai dengan maraknya tindakan kriminalitas, memudarnya nasionalisme, munculnya radikalisme, memudarnya toleransi beragama serta hilangnya religiusitas di masyarakat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memperbaiki kurikulum dalam sistem pendidikan nasional yang mengarah pada pendidikan karakter secara nyata. Sistem pendidikan nasional sebenarnya pendidikan karakter menempayi posisi yang penting, hal ini dapat kita lihat dari tujuan pendidikan nasional (UU No. 20/2003) yang menyatakan bahwa:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdakan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab “.

Namun selama ini proses pembelajaran yang terjadi hanya menitik beratkan pada kemampuan kognitif anak sehingga ranah pendidikan karakter yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional tersebut hanya sedikit atau tidak tersentuh sama sekali. Hal ini terbukti bahwa standar kelulusan untuk tingkat dasar dan menengah masih memberikan prosentase yang lebih banyak terhadap semua mata pelajaran. Pendidikan karakter bukanlah materi yang hanya sekedar dicatat, dihafalkan serta tidak dievaluasi dalam jangka waktu pendek, namun pendidikan karakter sebuah pembelajaran yang teraplikasi dalam semua kegiatan pembelajaran siswa baik di sekolah atau di lingkungan masyarakat. Di lingkungan rumah melalui proses pembatasan, keteladanan dan dilakukan secara berkesinambungan. Oleh karena itu keberhasilan pendidikan karakter ini menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah , orang tua dan masyarakat.

Evaluasi keberhasilan pendidikan karakter ini tentunya tidak dapat dinilai dengan tes formatif atau sumatif yang dinyatakan dalam skor. Tetapi tolak ukur dari keberhasilan pendidikan karakter adalah terbentuknya peserta didik yang berkarakter, berakhlak, berbudaya, santun, religius, kreatif, inovatif yang teraplikasi dalam kehidupan sepanjang hayat. Oleh karena itu tentu tidak ada alat evaluasi yang tepat dan serta merta dapat menunjukan keberhasilan pendidikan karakter. Konfirgulasi karakter sebagai sebuah totalitas proses psikologis dan sosial kultural dapat dikelompokan dalam : (1) olah hati (spiritual and emotional development) (2) olah pikir (intellectual development) (3) olah raga dan kinestetik (psysical and kinestetic development) dan olah rasa dan karsa (affective and creative development). Keempat proses psikososial (olah hati, olah pikir, olah raga dan olah rasa serta karsa tersebut secara holistik dan koheren memiliki saling keterkaitan dan saling melengkapi, yang bermuara pada pembentukan karakter yang menjadi perwujudan dari nilai-nilai luhur (Dirjend Pendidikan Kemendikbud). Pendidikan karakter menjadi salah satu akses yang tepay dalam melaksanakan charakter building bagi generasi muda, generasi berilmu pengetahuan tinggi dengan dibekali iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cakep, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

  1. EKSISTENSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM SISDIKNAS

Kurikulum merupakan bagian dari sistem pembelajaran yang berfungsi mewujudkan tujuan pendidikan nasional, oleh karena itu dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 36 kurikulum di Indonesia disusun dalam kerangka peningkatan iman dan takwa, peningkatan akhlak mulia, peningkatan potensi, peningkatan kecerdasan dan minat peserta didik, keragaman potensi, daerah dan lingkungan, tuntutan pembangunan daerah dan nasional, tuntutan dunia kerja, tuntutan iptek. Termasuk seni, agama, dinamika perkembangan global, persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Untuk mendukung keterlaksanaan kerangka kurikulum tersebut , maka dalam pasal selanjutnya ( UU No, 20 tahun 2003 pasal 37) dijelaskan bahwa dalam kurikulum wajib memuat pendidikan agama, pendidikan Kewarganegaraan, bahasa, matematika, IPA IPS, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olah raga, ketrampilan/kejuruan, muatan lokal (UU Nomor: 20 tahun 2003). Pendidikan agama merupakan salah satu materi yang bertujuan meningkatkan akhlak mulia serta nilai-nilai spiritual dalam diri anak. Hal ini menunjukan bahwa pendidikan agama mempunyai peranan yang penting dalam melaksanakan pendidikan karakter di sekolah. Hal yang sangat menarik jika sekolah mampu menyusun kurikulum dengan menerapkan nilai-nilai agama yang tercermin dalam setiap mata pelajaran. Pada dasarnya pendidikan agama menitikberatkan pada penanaman sikap dan kepribadian berlandaskan ajaran agama dalam seluruh sendi-sendi kehidupan siswa kelak. Sehingga penanaman nilai-nilai agama seyogyanya tercantum dalam keseluruhan mata pelajaran dan menjadi tanggung jawab bersama seluruh guru. Pendidikan agama, khususnya PAI mempunyai posisi yang penting dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan agama menjadi materi yang wajib diajarkan pada setiap sekolah . Pendidikan agama islam pada prinsipnya memberikan pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai spiritualitas pada peserta didik agar menjadi manusia yang berakhlak , beretika serta berbudaya sebagai bagian dari tujuan pendidikan nasional. Sedangkan pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama di sekolah dapat di internalisasikan dalam kegiatan intra dan ekstra sekolah dan lebih mengutamakan aplikasi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

  1. PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK SEBAGAI TUJUAN PENDIDIKAN DALAM ISLAM

Konsep pendidikan karakter sebenarnya telah ada sejak zaman Rosulullah SAW. Hal ini terbukti dari perintah Alloh bahwa tugas pertama dan utama Rosululloh adalah sebagai penyempurna akhlak bagi umatnya. Pembahasan substansi makna dari karakter sama dengan konsep akhlak dalam islam, keduanya membahas tentang perbuatan perilaku manusia. Al-Ghazali menjelaskan jika akhlak adalah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang dari lahirnya sebagai perbuatan dengan mdah dan gampang tanpa perlu adanya pemikiran dan pertimbangan (suwito. 2014). Suwito menyebutkan bahwa akhlak sering disebut ilmu tingkah laku atau perangai, karena ilmu tersebut akan diperoleh pengetahuan tentang keutamaan-keutamaan jiwa, bagaimana cara memperoleh dan bagaimana membersihkan jiwa yang telah kotor ( Rusn, Abidin Ilmu : 1998 ). Sedangkan arti karakter adalah niilai-nilai khas yang baik ( tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berbuat baik, dan berdampak baik ) yang terpateri dalam diri dan perilaku. Akhlak atau karakter dalam islam adalah sasaran utama dalam pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai hadits nabi yang menjelaskan keutamaan pendidikan akhlak, salah satunya hadits berikut ini : “Ajarilah anak-anakmu kebaikan, dan didiklah mereka” ( Ulwan , Abdullah Nasih ). Konsep pendidikan dalam islam memandang bahwa manusia dilahirikan dengan membawa potensi lahiriyah yaitu: 1) potensi berbuat baik terhadap alam, 2) potensi berbuat kerusakan terhadap alam, 3) potensi ketuhanan yang yang memiliki fungsinon fisik. Ketiga potensi tersebut kemudian diserahkan kembali perkembangannya kepada manusia (Ulwan, Abdullah Nasih). Hal ini kemudian memunculkan konsep pendekatan yang menyeluruh dalam pendidikan islam yaitu meliputi unsur pengetahuan akhlak dan akidah.

Akhlak selalu menjadi sasaran utama dalam proses pendidikan dalam islam, karena akhlak dianggap sebagai dasar bagi keseimbangan kehidupan manusia yang menjadi penentu keberhasilan bagi potensi paedagogies yang lain. Prinsip akhlak terdiri dari empat hal yaitu :

  1. Hikmah ialah situasi keadaan psikis dimana seseorang dapat membedakan antara yang benar dan salah.
  2. Syajaah (kebenaran) ialah keadaan psikis dimana seseorang melampiaskan atau menahan potenssialitas aspek emosional dibawah keadaan akal.
  3. Iffah (kesucian) ialah mengendalikan potensialitas selera atau keinginan di bawah kendali akal dan syariat.
  4. Adl (keadilan ialah situasi psikis yang mengatur tingkat emosi dan keinginan sesuai kebutuhan hikmah disaat melepas atau melampiaskannya.

Islam selalu memposisikan pembentukan akhlak atau karakter anak pada pilar utama tujuan pendidikan. Untuk itu pembentukan akhlak pada anak. Al-Ghazali menawarkan sebuah konsep pendidikan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Alloh. Pendapat di atas menggambarkan bahwa akhlak merupakan pilar utama dari tujuan pendidikan dalam islam , hal ini senada dengan dengan latar belakang perlunya diterapkan pendidikan karakter disekolah, untuk menciptakan bangsa yang besar, bermartabat dan disegani oleh dunia maka dibutuhkan good society yang dimulai dari pembangunan karakter (character building). Pembangunan karakter atau akhlak tersebut dapat dilakukan salah satunya melalui proses pendidikan di sekolah dengan mengimplementasikan penanaman nilai-nilai akhlak dalam setiap pelajaran.

  1. MATERI PAI DI SEKOLAH SEBAGAI WUJUD KARAKTER BAGI PESERTA DIDIK

Uraian di atas menggambarkan bahwa pendidikan merupakan agen perubahan yang signitikan dalam pembentukan karakter anak, dan pendidikan agama islam menjadi bagian yang penting dalam proses tersebut. Tetapi yang menjadi persoalan selama ini adalah pendidikan agama islam di sekolah hanya diajarkan sebagai sebuah pengetahuan tanpa adanya pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga fungsi pendidikan agama islam sebagai salah satu pembentukan akhlak mulia bagi siswa tidak tercapai dengan baik. Munculnya paradigma bahwa PAI bukanlah salah satu materi yang menjadi standar kelulusan bagi siswa ikut berpengaruh terhadap kedalaman pembelajarannya. Hal ini menyebabkan PAI hanya dilakukan materi yang tidak penting dan hanya menjadi pelengkap pembelajaran saja. Dan bahkan pembelajaran PAI hanya dilakukan di dalam kelas saja yang hanya mendapat jatah 3 jam pelajaran setiap minggu. Tujuan utama pembelajaran PAI adalah pembentukan kepribadian pada diri siswa yang tercermin dalam tingkah laku dan pola pikirnya dalam kehidupan sehari-hari. Maka pembelajaran PAI tidak hanya menjadi tanggung jawab guru PAI , tetapi dibutuhkan sukungan dari seluruh komunitas di sekolah, masyarakat dan lebih penting lagi adalah orang tua. Sekolah harus mampu mengkordinir dan menginformasikan pola pembelajaran PAI terhadap beberapa pihak yang telah disebutkan sebagai sebuah rangkaian komunitas yang saling mendukung dan menjaga demi terbentuknya siswa berakhlak dan berbudi pekerti luhur. Keberhasilan pembelajaran PAI di sekolah salah satunya juga ditentukan oleh penerapan metode pembelajaran yang tepat. Sejalan dengan hal ini Abdullah Nasih Ulwan memberikan konsep pendidikan influientif dalam pendidikan akhlak anak yang terdiri dari:

1). Pendidikan dengan keteladanan

2) Pendidikan dengan adat kebiasaan

3) Pendidikan dengan nasihat

4) Pendidikan dengan memberikan perhatian

5) Pendidikan dengan memberikan hukuman

Bentuk apresiasi guru terhadap prestasi siswa adalah adanya umpan balik yang positif yaitu dengan memberikan ganjaran dan hukuman (reward-punshment). Ganjaran diberikan sebagai apresiasi guru terhadap prestasi siswa sedangkan hukuman diberikan jika siswa melanggar aturab yang telah ditentukan. Tetapi hukuman disini bukan berarti dengan kekerasan atau merendahkan mwntal siswa ? namun lebih kepada hukuman yang sifatnya mendidik. Metode reward dan punishment dalam pembelajaran PAI dengan tujuan agar anak selalu termotivasi untuk belajar. Disinilah pentingnya pembelajaran PAI di sekolah karena pendidikan agama merupakan pondasi bagi pembelajaran ilmu pengetahuan lain, yang akan menghantarkan terbentuknya anak yang berkepribadian, agamis dan berpengetahuan tinggi. Maka tepat jika dikatakan bahwa penerapan pendidikan agama islam di sekolah adalah sebagai pilar pendidikan karakter yang utama. Pendidikan agama mengajarkan pentingnya penanaman akhlak yang dimulai dari kesadaran beragama, mengajarkan kaidah sebagai dasar keagamaannya, mengajarkan al-Quran dan hadits sebagai pedoman hidupnya, mengajarkan fiqih sebagai rambu-rambu hukum dalam beribadah, mengajarkan sejarah sebagai teladan hidup dan mengajarkan akhlak sebagai pedoman perilaku manusia apakah katagori baik atau buruk.

.

  1. KESIMPULAN

Penanaman karakter pada anak sejak dini berarti ikut mempersiapkan generasi bangsa yang berkarakter, mereka adalah calon generasi penerus bangsa yang diharapkan mampu memimpin bangsa dan menjadikan negara yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa dengan akhlak dan budi pekerti yang baik serta menjadi generasi yang berilmu pengetahuan tinggi dan menghiasi dirinya dengan iman dan takwa. Pembentukan karakter anak akan lebih baik jika muncul dari kesadaran keberagaman bukan hanya karena sekedar perilaku yang membudaya dalam masyarakat. Indikator keberhasilan pendidikan karakter adalah jika seorang mengetahui sesuatu yang baik (knowing the good) bersifat kognitif, kemudian mencintai yang baik (loving the good) bersifat afektif dan selanjutnya melakukan yang baik (acting the good) bersifat psikomotorik (Sudrajat, Ajat : 2011). Sedangkan upaya yang dapat dilakukan sekolah dalam memaksimalkan pembelajaran PAI diantaranya:

  1. Dibutuhkan guru yang profesional dalam arti mumpuni dalam keilmuannya.
  2. Pembelajaran tidak hanya dilakukan dalam kelas , gtetapi ditambah dengan kegiatan ekstra kurikuler.
  3. Mewajibkan siswa melaksanakan ibadah tertentu di sekolah dengan bimbingan guru ( misalnya rutin melaksanakan sholat duhur berjamaah)
  4. Menyediakan tempat ibadah yang layak unbtuk kegiatan keagamaan.
  5. Membiasakan akhlak yang baik di lingkungan sekolah (misal program salam sapa dan senyum ).
  6. Hendaknya semua guru dapat mengimplementasikan pendidikan agama islam dalam keseluruhan materi yang diajarkan sebagai wujud pendidikan karakter.

Jika beberapa hal tersebut dapat terlaksana niscaya tujuan pendidikan nasional dalam menciptakan anak didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap serta bertanggung jawab dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Mahmud. Ali Abdul Halim. 2003. Tarbiyah Khuluqiyah Pembinaan Diri Menurut Konsep Nabawi. Media Insani

Permendiknas No. 22 Tahun 2006. Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Tingkat Dasar Dan Menengah.

Ridia. Muhammad Jawwad, 202. Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam Perspektif Sosiologis Filosofis. Terj Mahmud Arif, Yogyakarta. Tiara Wacana Yoga Sudrajat, Ajat. 2011

Rusn, Abidin Ibnu, 1998. Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Suwito, 2004. Filsafat PendidikannAkhlak Ibnu Miskawan, Yogyakarta, Belukar.

Kebijaksanaan nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025.

Uiwan, Abdullah Nasin. Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam, Terj Saefullah Kamalie Dan Hery Noer Ali, Jilid 2. Semarang. Asy-Sifa. Tt

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

BIO DATA

Nama : Warso, S. Ag

NIP : 19690517 200701 1 015

Pangkat/Gol : Penata/ III c

Jabatan : Guru muda

Unit Kerja : SMP Negeri 3 Sumbang, Kabupaten Banyumas

Judul : PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JENJANG SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

PEMBENTUKAN KARAKTER

MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

JENJANG SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Warso, S.Ag.

Abstrak

Penulis ini akan membahas tentang peran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah dalam pembentukan karakter peserta didik. Pendidikan agama Islam merupakan salah satu pendidikan karakter yang paling penting, agar tumbuh dengan baik jika dimulai dari tertanamnya jiwa keberagamanpada anak. Oleh karena itu materi PAI harus diajarkan sebagai dasar keagamaan, diajarkan Al-Quran dan Hadist sebagai pedoman hidupnya, diajarkan fiqih sebagai rambu-rambu hukum dalam beribadah, mengajarkan sejarah Islam sebagai sebuah keteladanan hidup, dan mengajarkan akhlak sebagai pedoman perilaku manusia apakah dalam kategori baik atau buruk. Oleh sebab itu tujuan utama Pendidikan PAI adalah pembentukan kepribadian pada diri siswa yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu keberhasilan pembelajaran PAI di sekolah sudah semestinya ditentukan oleh penerapan metode pembelajaran yang tepat.

Kata kunci : Pendidikan, karakter, Pendidikan Agama Islam.

  1. PENDAHULUAN

Pendidikan karakter sangat penting dalam pendidikan akhir-akhir ini, hal ini berkaitan dengan fenomena dekadensi moral yang terjadi ditengah-tengah masyarakat maupun di lingkungan pemerintah yang semakin meningkat dan beragam. Kriminalitas ketidakadilan, korupsi, kekerasan pada anak, pelanggaran HAM, menjadi bukti bahwa telah terjadi krisis jati diri dan karakteristik pada bangsa Indonesia. Budi pekerti luhur, kesantunan, dan relegiusitas yang dijunjung tinggi dan menjadi budaya bangsa Indonesia selama ini seakan-akan menjadi terasa asing dan jarang ditemui di tengah-tengah masyarakat. Kondisi ini akan menjadi lebih parah lagi jika pemerintah tidak segera mengupayakan program-program perbaikan baik yang bersifat jangka panjang maupun jangka pendek. Pendidikan karakter menjadi sebuah jawaban yang tepat atas permasalahan-permasalahan yang telah disebut diatas dan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan diharapkan dapat menjadi tempat yang mampu mewujudkan misi dari pendidikan karakter tersebut. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan dalam melaksanakan pendidikan karakter di sekolah adalah mengoptimalkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Peran pendidikan agama islam sangatlah strategis dalam mewujudkan pembentukan karakter siswa. Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan sarana transformasi pengetahuan dalam aspek keagamaan (aspek kognitif), sebagai transformasi norma serta nilai moral untuk membentuk sikap (aspek afektif), yang berperan mengendalikan perilaku (aspek psikomotor) sehingga tercipta kepribadian manusia seutuhnya (Permendiknas No. 20. 2006). Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan pendidikan . Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan, hambatan dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, regional maupun global.

  1. KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER

Istilah karakter dihubungkan dengan istilah etika, akhlak dan atau nilai yang berkaitan dengan kekuatan moral berkonotasi “positif” bukan netral. Oleh karena itu pendidikan karakter secara lebih luas dapat diartikan sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai budaya bangsa pada peserta didik, sehingga mereka mempunyai nilai dan karakter sebagai dirinya sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif (Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendiknas, 2010). Konsep tersebut harus disikapi secara serius oleh pemerintah dan masyarakat sebagai jawaban dari kondisi riil yang dihadapi bangsa akhir-akhir ini yang ditandai dengan maraknya tindakan kriminalitas, memudarnya nasionalisme, munculnya radikalisme, memudarnya toleransi beragama serta hilangnya religiusitas di masyarakat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memperbaiki kurikulum dalam sistem pendidikan nasional yang mengarah pada pendidikan karakter secara nyata. Sistem pendidikan nasional sebenarnya pendidikan karakter menempayi posisi yang penting, hal ini dapat kita lihat dari tujuan pendidikan nasional (UU No. 20/2003) yang menyatakan bahwa:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdakan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab “.

Namun selama ini proses pembelajaran yang terjadi hanya menitik beratkan pada kemampuan kognitif anak sehingga ranah pendidikan karakter yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional tersebut hanya sedikit atau tidak tersentuh sama sekali. Hal ini terbukti bahwa standar kelulusan untuk tingkat dasar dan menengah masih memberikan prosentase yang lebih banyak terhadap semua mata pelajaran. Pendidikan karakter bukanlah materi yang hanya sekedar dicatat, dihafalkan serta tidak dievaluasi dalam jangka waktu pendek, namun pendidikan karakter sebuah pembelajaran yang teraplikasi dalam semua kegiatan pembelajaran siswa baik di sekolah atau di lingkungan masyarakat. Di lingkungan rumah melalui proses pembatasan, keteladanan dan dilakukan secara berkesinambungan. Oleh karena itu keberhasilan pendidikan karakter ini menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah , orang tua dan masyarakat.

Evaluasi keberhasilan pendidikan karakter ini tentunya tidak dapat dinilai dengan tes formatif atau sumatif yang dinyatakan dalam skor. Tetapi tolak ukur dari keberhasilan pendidikan karakter adalah terbentuknya peserta didik yang berkarakter, berakhlak, berbudaya, santun, religius, kreatif, inovatif yang teraplikasi dalam kehidupan sepanjang hayat. Oleh karena itu tentu tidak ada alat evaluasi yang tepat dan serta merta dapat menunjukan keberhasilan pendidikan karakter. Konfirgulasi karakter sebagai sebuah totalitas proses psikologis dan sosial kultural dapat dikelompokan dalam : (1) olah hati (spiritual and emotional development) (2) olah pikir (intellectual development) (3) olah raga dan kinestetik (psysical and kinestetic development) dan olah rasa dan karsa (affective and creative development). Keempat proses psikososial (olah hati, olah pikir, olah raga dan olah rasa serta karsa tersebut secara holistik dan koheren memiliki saling keterkaitan dan saling melengkapi, yang bermuara pada pembentukan karakter yang menjadi perwujudan dari nilai-nilai luhur (Dirjend Pendidikan Kemendikbud). Pendidikan karakter menjadi salah satu akses yang tepay dalam melaksanakan charakter building bagi generasi muda, generasi berilmu pengetahuan tinggi dengan dibekali iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cakep, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

  1. EKSISTENSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM SISDIKNAS

Kurikulum merupakan bagian dari sistem pembelajaran yang berfungsi mewujudkan tujuan pendidikan nasional, oleh karena itu dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 36 kurikulum di Indonesia disusun dalam kerangka peningkatan iman dan takwa, peningkatan akhlak mulia, peningkatan potensi, peningkatan kecerdasan dan minat peserta didik, keragaman potensi, daerah dan lingkungan, tuntutan pembangunan daerah dan nasional, tuntutan dunia kerja, tuntutan iptek. Termasuk seni, agama, dinamika perkembangan global, persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Untuk mendukung keterlaksanaan kerangka kurikulum tersebut , maka dalam pasal selanjutnya ( UU No, 20 tahun 2003 pasal 37) dijelaskan bahwa dalam kurikulum wajib memuat pendidikan agama, pendidikan Kewarganegaraan, bahasa, matematika, IPA IPS, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olah raga, ketrampilan/kejuruan, muatan lokal (UU Nomor: 20 tahun 2003). Pendidikan agama merupakan salah satu materi yang bertujuan meningkatkan akhlak mulia serta nilai-nilai spiritual dalam diri anak. Hal ini menunjukan bahwa pendidikan agama mempunyai peranan yang penting dalam melaksanakan pendidikan karakter di sekolah. Hal yang sangat menarik jika sekolah mampu menyusun kurikulum dengan menerapkan nilai-nilai agama yang tercermin dalam setiap mata pelajaran. Pada dasarnya pendidikan agama menitikberatkan pada penanaman sikap dan kepribadian berlandaskan ajaran agama dalam seluruh sendi-sendi kehidupan siswa kelak. Sehingga penanaman nilai-nilai agama seyogyanya tercantum dalam keseluruhan mata pelajaran dan menjadi tanggung jawab bersama seluruh guru. Pendidikan agama, khususnya PAI mempunyai posisi yang penting dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan agama menjadi materi yang wajib diajarkan pada setiap sekolah . Pendidikan agama islam pada prinsipnya memberikan pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai spiritualitas pada peserta didik agar menjadi manusia yang berakhlak , beretika serta berbudaya sebagai bagian dari tujuan pendidikan nasional. Sedangkan pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama di sekolah dapat di internalisasikan dalam kegiatan intra dan ekstra sekolah dan lebih mengutamakan aplikasi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

  1. PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK SEBAGAI TUJUAN PENDIDIKAN DALAM ISLAM

Konsep pendidikan karakter sebenarnya telah ada sejak zaman Rosulullah SAW. Hal ini terbukti dari perintah Alloh bahwa tugas pertama dan utama Rosululloh adalah sebagai penyempurna akhlak bagi umatnya. Pembahasan substansi makna dari karakter sama dengan konsep akhlak dalam islam, keduanya membahas tentang perbuatan perilaku manusia. Al-Ghazali menjelaskan jika akhlak adalah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang dari lahirnya sebagai perbuatan dengan mdah dan gampang tanpa perlu adanya pemikiran dan pertimbangan (suwito. 2014). Suwito menyebutkan bahwa akhlak sering disebut ilmu tingkah laku atau perangai, karena ilmu tersebut akan diperoleh pengetahuan tentang keutamaan-keutamaan jiwa, bagaimana cara memperoleh dan bagaimana membersihkan jiwa yang telah kotor ( Rusn, Abidin Ilmu : 1998 ). Sedangkan arti karakter adalah niilai-nilai khas yang baik ( tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berbuat baik, dan berdampak baik ) yang terpateri dalam diri dan perilaku. Akhlak atau karakter dalam islam adalah sasaran utama dalam pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai hadits nabi yang menjelaskan keutamaan pendidikan akhlak, salah satunya hadits berikut ini : “Ajarilah anak-anakmu kebaikan, dan didiklah mereka” ( Ulwan , Abdullah Nasih ). Konsep pendidikan dalam islam memandang bahwa manusia dilahirikan dengan membawa potensi lahiriyah yaitu: 1) potensi berbuat baik terhadap alam, 2) potensi berbuat kerusakan terhadap alam, 3) potensi ketuhanan yang yang memiliki fungsinon fisik. Ketiga potensi tersebut kemudian diserahkan kembali perkembangannya kepada manusia (Ulwan, Abdullah Nasih). Hal ini kemudian memunculkan konsep pendekatan yang menyeluruh dalam pendidikan islam yaitu meliputi unsur pengetahuan akhlak dan akidah.

Akhlak selalu menjadi sasaran utama dalam proses pendidikan dalam islam, karena akhlak dianggap sebagai dasar bagi keseimbangan kehidupan manusia yang menjadi penentu keberhasilan bagi potensi paedagogies yang lain. Prinsip akhlak terdiri dari empat hal yaitu :

  1. Hikmah ialah situasi keadaan psikis dimana seseorang dapat membedakan antara yang benar dan salah.
  2. Syajaah (kebenaran) ialah keadaan psikis dimana seseorang melampiaskan atau menahan potenssialitas aspek emosional dibawah keadaan akal.
  3. Iffah (kesucian) ialah mengendalikan potensialitas selera atau keinginan di bawah kendali akal dan syariat.
  4. Adl (keadilan ialah situasi psikis yang mengatur tingkat emosi dan keinginan sesuai kebutuhan hikmah disaat melepas atau melampiaskannya.

Islam selalu memposisikan pembentukan akhlak atau karakter anak pada pilar utama tujuan pendidikan. Untuk itu pembentukan akhlak pada anak. Al-Ghazali menawarkan sebuah konsep pendidikan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Alloh. Pendapat di atas menggambarkan bahwa akhlak merupakan pilar utama dari tujuan pendidikan dalam islam , hal ini senada dengan dengan latar belakang perlunya diterapkan pendidikan karakter disekolah, untuk menciptakan bangsa yang besar, bermartabat dan disegani oleh dunia maka dibutuhkan good society yang dimulai dari pembangunan karakter (character building). Pembangunan karakter atau akhlak tersebut dapat dilakukan salah satunya melalui proses pendidikan di sekolah dengan mengimplementasikan penanaman nilai-nilai akhlak dalam setiap pelajaran.

  1. MATERI PAI DI SEKOLAH SEBAGAI WUJUD KARAKTER BAGI PESERTA DIDIK

Uraian di atas menggambarkan bahwa pendidikan merupakan agen perubahan yang signitikan dalam pembentukan karakter anak, dan pendidikan agama islam menjadi bagian yang penting dalam proses tersebut. Tetapi yang menjadi persoalan selama ini adalah pendidikan agama islam di sekolah hanya diajarkan sebagai sebuah pengetahuan tanpa adanya pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga fungsi pendidikan agama islam sebagai salah satu pembentukan akhlak mulia bagi siswa tidak tercapai dengan baik. Munculnya paradigma bahwa PAI bukanlah salah satu materi yang menjadi standar kelulusan bagi siswa ikut berpengaruh terhadap kedalaman pembelajarannya. Hal ini menyebabkan PAI hanya dilakukan materi yang tidak penting dan hanya menjadi pelengkap pembelajaran saja. Dan bahkan pembelajaran PAI hanya dilakukan di dalam kelas saja yang hanya mendapat jatah 3 jam pelajaran setiap minggu. Tujuan utama pembelajaran PAI adalah pembentukan kepribadian pada diri siswa yang tercermin dalam tingkah laku dan pola pikirnya dalam kehidupan sehari-hari. Maka pembelajaran PAI tidak hanya menjadi tanggung jawab guru PAI , tetapi dibutuhkan sukungan dari seluruh komunitas di sekolah, masyarakat dan lebih penting lagi adalah orang tua. Sekolah harus mampu mengkordinir dan menginformasikan pola pembelajaran PAI terhadap beberapa pihak yang telah disebutkan sebagai sebuah rangkaian komunitas yang saling mendukung dan menjaga demi terbentuknya siswa berakhlak dan berbudi pekerti luhur. Keberhasilan pembelajaran PAI di sekolah salah satunya juga ditentukan oleh penerapan metode pembelajaran yang tepat. Sejalan dengan hal ini Abdullah Nasih Ulwan memberikan konsep pendidikan influientif dalam pendidikan akhlak anak yang terdiri dari:

1). Pendidikan dengan keteladanan

2) Pendidikan dengan adat kebiasaan

3) Pendidikan dengan nasihat

4) Pendidikan dengan memberikan perhatian

5) Pendidikan dengan memberikan hukuman

Bentuk apresiasi guru terhadap prestasi siswa adalah adanya umpan balik yang positif yaitu dengan memberikan ganjaran dan hukuman (reward-punshment). Ganjaran diberikan sebagai apresiasi guru terhadap prestasi siswa sedangkan hukuman diberikan jika siswa melanggar aturab yang telah ditentukan. Tetapi hukuman disini bukan berarti dengan kekerasan atau merendahkan mwntal siswa ? namun lebih kepada hukuman yang sifatnya mendidik. Metode reward dan punishment dalam pembelajaran PAI dengan tujuan agar anak selalu termotivasi untuk belajar. Disinilah pentingnya pembelajaran PAI di sekolah karena pendidikan agama merupakan pondasi bagi pembelajaran ilmu pengetahuan lain, yang akan menghantarkan terbentuknya anak yang berkepribadian, agamis dan berpengetahuan tinggi. Maka tepat jika dikatakan bahwa penerapan pendidikan agama islam di sekolah adalah sebagai pilar pendidikan karakter yang utama. Pendidikan agama mengajarkan pentingnya penanaman akhlak yang dimulai dari kesadaran beragama, mengajarkan kaidah sebagai dasar keagamaannya, mengajarkan al-Quran dan hadits sebagai pedoman hidupnya, mengajarkan fiqih sebagai rambu-rambu hukum dalam beribadah, mengajarkan sejarah sebagai teladan hidup dan mengajarkan akhlak sebagai pedoman perilaku manusia apakah katagori baik atau buruk.

.

  1. KESIMPULAN

Penanaman karakter pada anak sejak dini berarti ikut mempersiapkan generasi bangsa yang berkarakter, mereka adalah calon generasi penerus bangsa yang diharapkan mampu memimpin bangsa dan menjadikan negara yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa dengan akhlak dan budi pekerti yang baik serta menjadi generasi yang berilmu pengetahuan tinggi dan menghiasi dirinya dengan iman dan takwa. Pembentukan karakter anak akan lebih baik jika muncul dari kesadaran keberagaman bukan hanya karena sekedar perilaku yang membudaya dalam masyarakat. Indikator keberhasilan pendidikan karakter adalah jika seorang mengetahui sesuatu yang baik (knowing the good) bersifat kognitif, kemudian mencintai yang baik (loving the good) bersifat afektif dan selanjutnya melakukan yang baik (acting the good) bersifat psikomotorik (Sudrajat, Ajat : 2011). Sedangkan upaya yang dapat dilakukan sekolah dalam memaksimalkan pembelajaran PAI diantaranya:

  1. Dibutuhkan guru yang profesional dalam arti mumpuni dalam keilmuannya.
  2. Pembelajaran tidak hanya dilakukan dalam kelas , gtetapi ditambah dengan kegiatan ekstra kurikuler.
  3. Mewajibkan siswa melaksanakan ibadah tertentu di sekolah dengan bimbingan guru ( misalnya rutin melaksanakan sholat duhur berjamaah)
  4. Menyediakan tempat ibadah yang layak unbtuk kegiatan keagamaan.
  5. Membiasakan akhlak yang baik di lingkungan sekolah (misal program salam sapa dan senyum ).
  6. Hendaknya semua guru dapat mengimplementasikan pendidikan agama islam dalam keseluruhan materi yang diajarkan sebagai wujud pendidikan karakter.

Jika beberapa hal tersebut dapat terlaksana niscaya tujuan pendidikan nasional dalam menciptakan anak didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap serta bertanggung jawab dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Mahmud. Ali Abdul Halim. 2003. Tarbiyah Khuluqiyah Pembinaan Diri Menurut Konsep Nabawi. Media Insani

Permendiknas No. 22 Tahun 2006. Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Tingkat Dasar Dan Menengah.

Ridia. Muhammad Jawwad, 202. Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam Perspektif Sosiologis Filosofis. Terj Mahmud Arif, Yogyakarta. Tiara Wacana Yoga Sudrajat, Ajat. 2011

Rusn, Abidin Ibnu, 1998. Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Suwito, 2004. Filsafat PendidikannAkhlak Ibnu Miskawan, Yogyakarta, Belukar.

Kebijaksanaan nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025.

Uiwan, Abdullah Nasin. Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam, Terj Saefullah Kamalie Dan Hery Noer Ali, Jilid 2. Semarang. Asy-Sifa. Tt

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

BIO DATA

Nama : Warso, S. Ag

NIP : 19690517 200701 1 015

Pangkat/Gol : Penata/ III c

Jabatan : Guru muda

Unit Kerja : SMP Negeri 3 Sumbang, Kabupaten Banyumas

Judul : PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JENJANG SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

By admin

You cannot copy content of this page