Iklan

PERAN STRATEGIS WANITA MILENIAL DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN PEMIKIRAN RA KARTINI

Oleh: Umarotul Muslimah, S.Pd.

  1. Pendahuluan

Tanggal 21 April memiliki arti penting bagi bangsa Indonesia. Tanggal tersebut menjadi momentum bagi kaum wanita Indonesia untuk mengenang kembali sosok dan perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini. Sosok wanita hebat yang sangat gigih memperjuangkan emansipasi wanita. Perjuangan RA Kartini dilatarbelakangi oleh keberadaan wanita yang sering tidak dihargai. Pada saat itu, wanita hanya boleh mengerjakan urusan dapur dan anak, tanpa diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang layak.

RA Kartini memang telah ada pada ratusan tahun yang lalu, namun banyak karya dan peran yang takkan lekang meski tergerus zaman. Perjuangannya tentang emansipasi memliki peran strategis untuk membangkitkan perjuangan para wanita era milenial digital sekarang ini. Zaman boleh mengalami tranformasi yang sangat besar, namun subtansi perjuangan RA Kartini tetap memiliki nilai yang penting untuk senantiasa diimplementasikan.

Wanita di era milenial digital sekarang ini memang mengalami transformasi di berbagai lini, baik sisi sosial, budaya dan tradisi yang tentu sangat berbeda pada masa RA Kartini. Perjuangan dan pemikiran RA Kartini keberadaannya pada saat itu memang berbeda dengan reallita sekarang ini, namun ada nilai-nilai dan pemikiran inspiratif yang penting untuk dipahami dan diimplementasikan oleh wanita milenial sekarang ini. Dengan demikian generasi wanita milenial tentu harus dapat memahami nilai dan pemikirannya untuk dapat diimplementasikan pada kondisi zaman sekarang yang mengalami tranformasi di berbagai lini yang begitu cepat. Sehingga wanita milenial digital tetap eksis dan dinamis dalam menghadapi perubahan zaman tersebut.

Mengingat pentingnya pemahaman wanita milenial digital sekarang ini terhadap nilai-nilai dan perjuangan RA Kartini untuk dapat diimplementasikan di era sekarang maka penulis mengangkat tema tentang Peran Strategis Wanita Milenial dalam Mengimplementasikan Pemikiran RA Kartini.

  1. Pembahasan
  2. Sketsa RA Kartini

RA Kartini terlahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. RA Kartini lahir di tengah-tengah keluarga bangsawan Jawa (id.wikipedia.org/wiki/kartini#Biografi). Hal tersebut menjadikan beliau mendapat gelar RA yang merupakan singkatan dari Raden Ajeng. Namun setelah menikah, sesuai dengan tuntunan adat Jawa kepanjangan dari gelar RA tersebut berubah menjadi Raden Ayu. RA Kartini merupakan putri pertama dari istri pertama Raden Adipati Ario Sosroningrat. Kartini kecil tumbuh genit dan cekatan seperti burung Trinil maka beliau sering dipanggil ”Trinil” (republika.co.id/berita/pqco6a282/kisahkartini). Sifat kepemimpinan dan jiwa kepeloporannya sudah terlihat sejak remaja. Kartini tumbuh menjadi anak pandai, senang belajar dan sangat haus ilmu pengetahuan.

Ibu dari RA Kartini bernama M.A. Ngasirah. Beliau adalah putri seorang guru agama di Telukawur, Jepara. M.A. Ngasirah sendiri bukan merupakan putri keturunan bangsawan. Ibu dari RA Kartini merupakan istri pertama, namun ibu dari RA Kartini bukan istri yang utama. Pada masa kolonial Belanda terdapat peraturan jika seorang Bupati harus menikah dengan sesama keturunan bangsawan. Hal tersebut yang mendasari ayah RA Kartini menikahi Raden Adjeng Woerjan yang merupakan keturunan bangsawan dari Raja Madura.

Keluarga Kartini dikenal sebagai kelompok bangsawan yang telah berpikiran maju. Kakek RA Kartini, Pengeran Condronegoro merupakan generasi awal dari rakyat Jawa yang menerima pendidikan Barat dan menguasai bahasa Belanda dengan sempurna (Sitisoemandari Soeroto, 1977:42). Diantara putra-putra Pangeran Condronegoro yang terkenal adalah Pangeran Ario Hadiningrat, RMAA Ario Condronegoro dan RMAA Sosroningrat. RMAA Condronegoro merupakan seorang sastrawan yang banyak dikenal oleh pembaca baik di Indonesia maupun di Belanda.

RMAA Sosroningrat, ayah Kartini merupakan seorang bangsawan yang berpikiran maju. Beliau memberikan pendidikan Barat kepada seluruh anak-anaknya karena didorong oleh adanya kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan demi kemajuan bangsa dan negaranya. Sampai usia 12 tahun, Kartini mendapat pendidikan di ELS (Europese Lagere School) dimana Kartini mendapat pelajaran Bahasa Belanda. Sebagai keluarga bangsawan, diusia 12 tahun Kartini harus ”dipingit” (tidak bebas keluar rumah dan batas-batas tembok kabupaten) sehingga merasa terbelenggu dengan tradisi itu.

“Dunia Kartini menjadi sangat sempit, terbatas antara dinding-dinding gedung kabupaten yang tebal dan kuat, serta halaman yang luas dilingkari tembok tebal dan tinggi, dengan pintu-pintu yang selalu tertutup rapat,” tulis Sitisoemandari Soeroto dalam Kartini: Sebuah Biografi. Ia pun harus belajar menjadi putri bangsawan sejati: bicara tak boleh keras, dilarang tertawa, hanya boleh tersenyum dengan bibir terkatup, berjalan perlahan-lahan, dan menundukkan kepala setiap ada anggota keluarga yang lebih tua melintas. (Yus Ariyanto, Saat Kartini Harus Hidup dalam Pingitan, 2014)

Tradisi dan adat “pingit” dirasakan oleh Kartini sebagai kekangan dan ketidakadilan terhadap kaumnya. Penderitaan yang dialami pada saat pingitan menimbulkan tekad untuk menembus adat yang dianggap kejam dan menghambat kemajuan kaum wanita. Dalam pandangan Kartini, kaum wanita harus mendapatkan dan memiliki ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya agar bisa menjadi pendidik yang utama dan pertama bagi anak-anaknya.

Selama menjalani pingitan, Kartini gemar membaca surat kabar yang terbit di Semarang yaitu De Locomotief. Disamping itu, Kartini juga sering mengirimkan tulisannya kepada majalah wanita yang terbit di Belanda yaitu De Hollandsche Lelie. Di samping membaca majalah, Kartini juga membaca buku Max Havelaar dan Surat-surat Cinta karya Multatuli, lalu De Stille Kracht karya Louis Coperus, dan sebuah roman anti perang yang berjudul Die Waffen Nieder karya Berta Von Suttner.

Kartini merupakan salah satu dari sedikit perempuan Indonesia yang menguasai bahasa Belanda dengan baik. Kemampuannya dalam berbahasa Belanda merupakan modal pengetahuan yang amat berharga untuk berhubungan dengan teman-temannya terutama dari Eropa. Korespodensi yang dilakukan Kartini dengan wanita modern dari Eropa seperti Stella Zeehandelaar (https://nasional.tempo.co/read), semakin membuka wawasannya khususnya tentang kemajuan wanita. Hal inilah yang mendorong semangat Kartini untuk memajukan kaum wanita Indonesia, yang saat itu berada dalam status sosial yang sangat rendah.

RA Kartini sempat mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda karena tulisan-tulisan hebatnya, namun ayahnya pada saat itu memutuskan agar Kartini harus menikah dengan R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat, Bupati Rembang kala itu yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Sejak saat itu, Kartini harus hijrah dari Jepara ke Rembang mengikuti suaminya. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Beasiswa yang telah diperjuangkan dengan susah payah itu, akhirnya diberikan kepada seorang pemuda cerdas dan penuh cita-cita, bernama Agus Salim. Kelak dikemudian hari pemuda ini bernama Haji Agus Salim, menjadi salah seorang pemimpin bangsa Indonesia terkenal, pernah menjadi Menteri Muda Luar Negeri dan seorang diplomat ulung tingkat dunia yang sangat disegani oleh semua kalangan.

Dari pernikahannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat (https://alharaki.sch.id/), Kartini dianugerahi satu orang anak laki-laki yang lahir pada tanggal 13 September 1904 dan diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Kartini yang memiliki semangat dan perjuangan memajukan kaum wanita Indonesia meninggal beberapa hari pasca melahirkan. Kartini tutup usia pada tanggal 17 September 1904. Kartini meninggal muda yakni pada usia 25 tahun. Beliau dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

  1. Pemikiran RA Kartini

Surat-surat Kartini banyak mengungkapkan keadaan kaumnya dan juga harapan-harapannya tentang upaya meningkatkan derajat kaum wanita Indonesia. Kartini mengungkapkan pemikiran-pemikirannya tentang nasionalisme, pendidikan, humanisme dan perjuangan untuk meningkatkan derajat bangsa Indonesia.

Menurut Cosmo dalam 3 Pemikiran Inspiratif Kartini yang Tak Lekang Zaman (Hana A. Devarianti : 2018), RA Kartini memiliki pemikiran maju yang membuat beliau menjadi panutan kaum wanita sampai saat ini. Pemikiran Kartini yang fenomenal tersebut adalah:

  1. Seorang edukator yang percaya akan kekuatan pendidikan dan literasi.

RA Kartini terkenal sebagai salah satu tokoh nasional Indonesia yang percaya akan kekuatan pendidikan dan literasi untuk memajukan seseorang dan meningkatkan derajat martabat sebuah bangsa. Kartini meyakini bahwa pendidikan adalah hak setiap orang, tidak terbatas akan gendernya. Hal inilah yang kemudian mendorong Kartini untuk memberontak ketika harus mengikuti tradisi pingit. Menurut pandangan beliau, pada masa itu tradisi pingit memaksa para wanita Jawa, termasuk Kartini, putus sekolah pada usia belia untuk tinggal di rumah agar dapat dinikahkan.

Bagi Kartini, seorang wanita adalah pengajar dan pendidik pertama dalam sebuah keluarga dan masyarakat. Menurutnya pendidikan bagi wanita adalah tonggak kehidupan. Kartini berkeinginan mengubah kedudukan perempuan, dengan memberi kesempatan dan kebebasan untuk menuntut ilmu dan diberi hak memangku jabatan dalam masyarakat (Stuers, 2017:50). Dalam pandangan Kartini, jika kaum wanita berpendidikan, ia akan lebih cakap dalam mendidik putra-putrinya dan mengurus rumah tangganya. Dampak lebih lanjut adalah akan memajukan peradaban bangsanya.

Kartini menyarankan, agar anak-anak Indonesia diberi pendidikan modern dan pendidikan budi pekerti, karena suatu bangsa yang tidak berbudi dan bermoral baik, pasti akan mengalami kemunduran. “ Wanita harus menjadi soko guru paradaban”, kata Kartini dalam sebuah suratnya. Maksudnya, wanita atau Ibu merupakan pengajar dan pendidik yang utama, dan yang sejak pertama pula saat anak masih berada dipangkuan, anak belajar merasa, berpikir dan berbicara. Dari sinilah awal manusia mengenal peradaban. ” Dipangkuan ibu itulah manusia mendapatkan pendidikan yang pertama ”, tegasnya.

Kalau kita cermati pemikiran Kartini tersebut, ternyata bidang pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena bidang ini merupakan kunci untuk meningkatkan kecerdasan dan kemajuan. Terutama untuk kaum wanita, harus membebaskan dirinya dari keterbelakangan atau kebodohannya melalui pendidikan. Dengan pendidikan, kaum wanita akan mengetahui hak dan kewajibannya, apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan, serta bisa diajak untuk mengambil keputusan. Dengan modal pendidikan maka ketergantungan perempuan kepada laki-laki menjadi kecil, kaum wanita menjadi lebih mandiri. Oleh karena itu, kaum wanita dituntut untuk memiliki pendidikan yang cukup dan memadai.

Untuk mewujudkan cita-citanya, Kartini menentang pendidikan yang bersifat diskriminatif (M. Rifa‟i, 2011:59), Kartini minta kepada ayahnya agar ia diijinkan untuk masuk sekolah HBS di Semarang. Tetapi dengan hati berat, ayahnya tidak mengijinkan permintaan itu walau ia tahu anaknya ini sangat cerdas dan telah mahir bahasa Belanda.

  1. Seorang humanis yang tak memandang orang lain sebelah mata.

Kartini adalah seorang humanis, seseorang yang meyakini bahwa sesama manusia harus saling memahami, menghargai, dan menjalin hubungan dengan kebajikan. Pemikirannya ini dipengaruhi oleh gagasan dari Eduard Douwes Dekker, atau yang lebih dikenal oleh Multatuli. Lewat novel tersebut, Kartini memahami bahwa kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat para era tersebut hanya menguntungkan kelompok-kelompok tertentu dan menindas kelompok yang lain.

Meski terlahir di keluarga keturunan raja Madura, Kartini menolak untuk mengaitkan dirinya akan hal tersebut. Ia tak ingin dianggap berbeda hanya karena terlahir dari keluarga bangsawan. Sama halnya dengan dirinya yang tidak pernah membeda-bedakan orang berdasarkan kelas sosialnya. Kartini menganggap kelas sosial sengaja dilestarikan oleh feodalisme untuk melahirkan hierarki yang dapat memecah belah masyarakat.

Sementara itu sisi humanisme yang melekat dari diri Kartini tampak dalam ungkapannya dimana ia ingin dipandang sebagai individu yang sama dengan orang lain. Kartini menilai bahwa dirinya tidak berbeda dengan rakyat biasa yang sama-sama hidup dibawah penjajahan. Bahkan kartini ingin dipanggil Kartini saja, tanpa ditambah dengang embel-embel Raden Adjeng. Kartini tidak mau dianggap jauh di atas orang lain, lebih-lebih di atas insan yang sering disebut dengan rakyat jelata.

Pemikiran tersebut bisa jadi merupakan dampak dari perkenalannya dengan Stella Zeehandelaar melalui korespodensinya. Seperti diketahui Stella Zeehandelaar merupakan sosok gadis yang demokratis karena berada dilingkungan masyarakat Barat yang demokratis, disamping ia merupakan anak orang biasa. Humanisme Kartini merupakan refleksi kritis dari stratifikasi sosial yang hierakhis akibat konstruk budaya yang feodalistik. Gagasan ini merupakan benih dari munculnya ide persamaan derajat atau yang dikenal dengan emansipasi dimana wanita sudah selayaknya ditempatkan pada proporsi yang semestinya.

  1. Seorang pendobrak akan stigma yang melemahkan sosok wanita.

Tak perlu disangsikan lagi bahwa Kartini adalah sosok wanita pertama yang fearless berani menentang feodalisme pribumi pada masanya (Toer, 2003:12). Beliau berani untuk mendobrak dan melawan stigma yang melemahkan sosok wanita di masyarakat. Salah satunya adalah tidak setuju soal budaya yang memaksa wanita untuk tidak melanjutkan pendidikan karena harus “masuk dapur”. Kartini beranggapan bahwa seorang wanita perlu memperoleh persamaan, kebebasan, otonomi, serta kesetaraan dalam masyarakat.

Kartini sangat sensitif akan masalah sosial yang satu ini karena melihat wanita pribumi  memiliki status sosial yang rendah di masyarakat dan sangat tertinggal. Lewat surat-surat yang beliau kirimkan ke sahabat penanya di Belanda, Estella Helena Zeehandelaar, Kartini kerap sekali mengungkapkan soal pemikirannya tentang wanita pribumi. Menurut pandangan Kartini bahwa wanita pribumi berhak diperlakukan sama dalam kehidupan bermasyarakat. Meskipun berada di tengah penjajahan Belanda yang sering kali “mengecilkan” sosok wanita pribumi, Kartini sudah berani menyuarakan persoalan emansipasi wanita.

  1. Implementasi Pemikiran RA Kartini

Semangat dan pemikiran Kartini pada masa lampau membawa manfaat bagi wanita-wanita Indonesia hingga saat ini. Antara lain semangat supaya kaum wanita mendapat pendidikan yang layak, semangat agar kaum wanita mendapat perlakuan yang adil, dan semangat agar kaum wanita mendapat tempat yang sejajar dengan kaum laki-laki.

Dalam salah satu percakapan Kartini dengan Abendanon, beliau mengungkapkan perlunya pendidikan kejuruan. Di zaman itu, Kartini sudah berpikir untuk membangun sebuah pendidikan yang lebih spesifik yakni kejuruan. Kalau sekarang kita bisa melihat banyaknya sekolah kejuruan atau lembaga kursus suatu bidang tertentu. Sekolah kejuruan saat ini membuka jurusan-jurusan yang dibutuhkan dunia usaha dan dunia industri. Antara lain mesin, otomotif, farmasi, dan akuntansi. Lembaga kursus yang tersedia diantaranya kursus menjahit, bahasa Inggris, dan bidang otomotif.

Pemikiran Kartini yang sangat dipengaruhi lingkungan sosialnya menjadikan pendidikan itu sebagai alat untuk memajukan sebuah bangsa. Ilmu pengetahuan yang didapat seseorang merupakan sebuah jalan mencapai kebahagiaan untuk suatu individu atau kelompok masyarakat. Kartini memiliki harapan yang sangat dalam bagi kaum pribumi untuk mendapatkan pendidikan. Semua ini bertujuan untuk mencetak individu yang punya kecerdasan akal dan budi pekerti (KERATON : Journal of History Education and Culture Vol. 1, No. 1, Juni 2019).

Sayangnya, saat ini terdapat oknum pelajar yang tidak mencerminkan dirinya sebagai pelajar. Berani melawan guru, malas mengerjakan tugas, bolos sekolah, tawuran, hingga penyalahgunaan narkoba. Padahal, saat ini teknologi sudah sangat membantu anak sekolah. Masalahnya adalah bisakah kita memilih dengan bijaksana mana informasi yang harus kita ambil, dan mana yang kita tinggalkan . Banyaknya informasi yang beredar seringkali malah membuat kita jadi “arogan” dan berpikir malas. Oleh karena itu, penting sekali memahami dan mengolah informasi dari sumber-sumber yang ada.

Sejatinya, pendidikan bukanlah untuk mengukur prestasi peserta didik dalam bentuk angka-angka saja. Pendidikan seharusnya lebih ditujukan untuk pembentukan watak dan jati diri bangsa yang agung. Menciptakan individu berperilaku akhlak mulia, memiliki pengetahuan dan menguasai teknologi. Seperti kata Kartini, pendidikan tidak hanya menghasilkan kecerdasan akal, tetapi budi dan jiwa.

Pemikiran R.A. Kartini berkenaan dengan humanistik, yakni menekankan pengembangan individu, memanusiakan manusia dan aktualisasi diri. Hanya saja, perlu kiranya dicatat bahwa pendidikan humanistik yang menjadi perhatian R.A. Kartini tidaklah bersifat atheistic namun bersifat theistic. Hal ini antara lain terlihat dalam diri pribadi R.A. Kartini dalam tulisan-tulisannya yang menyiratkan bahwa Ia tidak berupaya menjadi “super women” namun menjadi “khalifatullah fil ard “.

Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada kaum wanita saat ini adalah, ketika ia harus membuat keputusan antara keluarga atau karier. Ada yang akhirnya memutuskan untuk tidak menikah agar leluasa untuk berkarier, ada juga yang rela melepas karier dan impiannya untuk menjalankan tugas sebagai ibu dan istri yang baik. Padahal sejatinya, karier dan keluarga bisa berjalan bersama, dan bahkan tidak mungkin ditambah dengan peran dan kontribusi pada pengabdian masyarakat luas.

Kaum wanita saat ini idealnya berbudi pekerti luhur, pandai dan berani. Dengan budi luhur dan moral etika yang baik menjadikan wanita tidak kehilangan arah dan memiliki prinsip dalam menghadapi tantangan saat ini. Mereka memiliki dasar yang kuat untuk menjalankan hak dan kewajibannya. Misalnya ketika mereka mendapatkan hak untuk bekerja, namun tidak melupakan kodrat dan kewajibannya untuk merawat keluarga serta menghargai suaminya.

Kaum wanita saat ini seharusnya pandai dan kritis dalam menghadapi perubahan – perubahan yang ada. Tujuannya agat tidak mudah tertipu dengan hal – hal yang merugikan mereka. Saat dihadapkan dengan berbagai persoalan, mereka dapat mencari solusi terbaik. Hal ini dapat menunjukan bahwa kaum wanita dapat mandiri dengan apa yang dimilikinya.

Keberanian menjadi salah satu kunci utama kaum wanita saat ini untuk eksis dalam kehidupannya. Mereka harus berani melakukan hal yang benar, meskipun banyak pihak yang menentangnya. Berani dalam hal memperjuangkan keadilan, pendidikan, kesehatan dan pekerjaan yang layak. Berani menyampaikan pendapat untuk kepentingan dan kebaikan bersama.

Menurut Rahman Indra (Menjadi Inspirasi, Semangat Kartini Masa Kini : 2017), menuliskan bahwa Betti Alisjahbana dalam bukunya Perempuan Pemimpin yang merangkum kisah 10 CEO perempuan mengungkapkan bahwa penghalang bagi perempuan itu kadang justru datang dari dirinya sendiri, misalnya tidak punya cita-cita tinggi, atau merasa takut gagal, atau bahkan merasa tidak mampu.

Banyak kaum wanita yang sungkan atau malu untuk memiliki cita-cita dan impian. Padahal, kata dia, salah satu kunci keberhasilan untuk mencapai posisi puncak adalah dengan adanya cita-cita dan impian yang membuat langkah semakin lebih terarah, semangat dan energi membuncah untuk bangkit. Kaum wanita mampu menunjukkan eksistensi dirinya. Harkat dan martabat kaum wanita diakui, dihargai dan dihormati.

Pada masa Kartini, wanita Indonesia tidak diperbolehkan menempuh pendidikan yang tinggi. Bahkan sampai saat ini, ungkapan ‘mengapa sekolah tinggi-tinggi kalau nantinya hanya berakhir di dapur’ juga masih familiar di telinga masyarakat. Wanita Indonesia dulu juga diwajibkan untuk menerima pasangan yang dicarikan oleh orang tuanya.

Tentu hal tersebut telah mencederai hak wanita untuk dapat memilih pasangan hidupnya sendiri. Hal yang paling mengerikan, dulu banyak orang tua yang memaksa menikahkan anak wanitanya dengan bangsawan hanya demi mengangkat derajat keluarga mereka. Hal inilah yang juga dialami dan menjadi keresahan sosok Kartini.

Konsepsi emansipasi wanita dalam pemikiran R. A. Kartini terangkum dalam Buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang merupakan kumpulan surat Kartini kepada teman-teman di Belanda dan dapat dipublikasikan atas inisiatif Mr. Abendanon. Buku ini dikenal sebagai pengejawantahan ide- ide Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita, karena tulisan-tulisan Kartini banyak membicarakan kepeduliannya terhadap hak dan peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. 

Kartini tidak menyebutkan secara terperinci mengenai emansipasi wanita yang diperjuangkannya. Jauh sebelum mengenal kata emansipasi dan artinya apa, Kartini telah memiliki konsep perjuangan untuk membela hak-hak perempuan sebagai manusia seutuhnya. Emansipasi yang di maksudkan adalah agar wanita di akui kecerdasannya dan di berikan kesempatan yang sama untuk mengaplikasikan keilmuan yang dimilikinya, sehingga wanita tidak merendahkan diri dan tidak selalu di rendahkan derajatnya oleh kaum pria.

Seiring dengan perkembangan dan kemajuan jaman, semakin banyak emansipasi wanita yang sudah mulai dapat kita rasakan. Ketika wanita memiliki keberanian untuk bermimpi dan mewujudkannya serta mampu mengaplikasikan dan tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain, itulah merupakan salah satu wujud dari emansipasi. Bentuk emansipasi bisa juga di lakukan dengan berbuat baik kepada orang lain dan menghargai apa yang di miliki sebagai bentuk rasa syukur kepada anugerah yang di berikan Tuhan.

Sekarang, kita sudah bisa melihat kemajuan para perempuan Indonesia di era milenial digital dalam berbagai bidang pekerjaan. Beberapa posisi awalnya hanya ditempati oleh kaum lelaki tetapi saat ini sudah dapat ditempatii oleh kaum wanita. Berbagai pekerjaan atau jabatan mulai dari pegawai negeri/swasta, pilot, pengacara, notaris, dokter, direktur, menteri bahkan sampai jabatan presiden sudah banyak diperankan oleh wanita Indonesia. Dengan prestasi-prestasi itulah kaum wanita sekarang bisa sejajar kemampuannya dengan kaum pria dalam berbagai pekerjaan dan kegiatan.

Beberapa wanita Indonesia di era milenial digital sudah mampu membuktikan kepada bangsa dan negaranya bahwa mereka dapat memegang peran penting dalam membangun bangsa. Beberapa sosok yang bisa kita lihat sepak terjangnya adalah Mari Elka Pangestu seorang ekonom Indonesia kelas dunia. Kita juga mengenal Susi Susanti yang sudah mengharumkan nama Indonesia dalam bidang olahraga (bulu tangkis), beliau adalah peraih piala emas Olimpiade Barcelona pada tahun 2002. Sejarah mencatat mantan presiden kelima kita yaitu Megawati Soekarnoputri sebagai wanita pertama yang memegang kendali roda pemerintahan di negara Indonesia .

Kita juga mengetahui sosok Sri Mulyani yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan. Prestasi besar sebelumnya, ia menjabat sebagai Direktur Bank Dunia (World Bank) periode Juni 2010 hingga Juli 2016. Hal ini menjadikan Ibu Sri sebagai wanita pertama dari Indonesia dan dunia yang menjabat posisi di World Bank. Ia pun berhasil menjadi wanita paling berpengaruh di dunia ke-38 pada tahun 2014 versi majalah Forbes. Sebelumnya, Sri Mulyani menjabat sebagai menteri keuangan di tahun 2005 pada era pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tak kalah hebatnya adalah Angkie Yudistia seorang CEO dan Founder untuk perusahaanya sendiri bernama Thisable Enterprise yang menjadi rumah untuk para penyandang disabilitas yang juga ingin sukses menjadi seorang pengusaha. Berkat segala prestasi yang telah diraihnya Angkie berhasil menjadi sosok yang menginspirasi bagi semua orang menyadang difabel, bahwa kekurangan yang dimiliki tidaklah menjadi halangan untuk meraih kesuksesan di bidang apapun.

Sosok wanita fenomenal, Susi Pudjiastuti yang terkenal karena gaya dan perilakunya yang cukup nyentrik ini pernah menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan di Indonesia. Beliau adalah wanita berkarakter yang tegas dan berani. Gaya kepemimpinannya tidak ragu mengambil langkah ekstrim demi menjaga dan melindungi sumber daya laut di Indonesia. Salah satu tindakan heroik yang pernah dilakukan oleh Ibu Susi adalah peledakan kapal-kapal negara lain yang secara ilegal memancing di perairan di Indonesia. Hal ini sempat menjadi sensasional sampai seorang komikus senior terkenal di Jepang, menggambar sosok Ibu Susi di salah satu komiknya dan mengatakan bahwa Beliau adalah Menteri paling keren di Asia.

Mereka semua adalah pelaku emansipasi wanita. Mereka mengimplementasikan semangat Raden Ajeng Kartini untuk membekali diri mereka sendiri dengan keahlian, pengetahuan, dan wawasan berfikir yang luas. Mereka mencari dan menggali potensi mereka tanpa menuntut selalu diistimewakan sebagai seorang wanita. Melalui gerakan emansipasi, kaum wanita Indonesia akhirnya dapat mensejajarkan diri dengan kaum pria dalam berbagai hal. Wanita tidak hanya bekerja di lingkungan rumah ataupun melayani suami, tetapi mereka juga dapat berperan aktif, kreatif serta inovatif di berbagai bidang kehidupan.

  1. Kesimpulan

Raden Ajeng Kartini atau lebih sering dikenal dengan nama R. A. Kartini merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Ia dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita pribumi kala itu. Wanita yang lahir di Jepara, 21 April 1879 ini berasal dari keluarga priyayi atau bangsawan Jawa, yang telah berjuang untuk kesetaraan kaum wanita agar sejajar dengan kaum pria. Gerakannya telah memberikan inspirasi kepada wanita era milenial digital untuk dapat menjadikan pemikirannya memberikan motivasi agar wanita era sekarang dapat berperan aktif untuk memajukan dirinya, keluarga, bangsa dan negara sesuai dengan peran masing-masing.

Pemikiran RA Kartini pada masanya ketika ditarik untuk Wanita di era kekinian ternyata masih sangat relevan dan memiliki peran yang strategis untuk diimplementasikan. Pemikiran RA Kartini dimana Ia merupakan Seorang edukator yang percaya akan kekuatan pendidikan dan literasi, Seorang humanis yang tak memandang orang lain sebelah mata dan Seorang pendobrak akan stigma yang melemahkan sosok wanita, hal ini menjadi inspirasi dan motivasi lahirnya Kartini-Kartini muda di era milenial digital untuk dapat berkiprah menjadi wanita-wanita hebat yang profesional yang berkemajuan namun tetap beretika dan tak melepaskan kodratnya sebagai seorang wanita.

DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini#Biografi, diakses pada 20 Januari 2022 pukul 19.30 WIB

https://www.republika.co.id/berita/pqco6a282/kisah-kartini-sang-trinil-dari-mayong-part2, diakses pada 21 Januari 2022 pukul 19.45 WIB

https://nasional.tempo.co/read/764528/hari-kartini-pingitan-yang-merenggut-masa-kecil/full&view=ok, diakses pada 22 Januari 2022 pukul 19.45 WIB

https://alharaki.sch.id/mengenal-sosok-raden-ajeng-kartini-pahlawan-nasional-indonesia/#:~:text=Kartini%20dijodohkan%20dengan%20Bupati%20Rembang,didukung%20juga%20mendirikan%20Sekolah%20Wanita. diakses pada 22 Januari 2022 pukul 20.00 WIB

https://www.cosmopolitan.co.id/article/read/4/2018/13899/3-pemikiran-inspiratif-kartini-yang-tak-lekang-zaman, diakses pada 21 Januari 2022 pukul 20.15 WIB

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170422064732-277-209407/menjadi-inspirasi-semangat-kartini-masa-kini, diakses pada 20 Januari 2022 pukul 20.00 WIB

KERATON : Journal of History Education and Culture Vol. 1, No. 1, Juni 2019

Rifa‟i, Muhammad. 2011. Sejarah Pendidikan Indonesia: Dari Masa Klasik Hingga Modern. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.

Soeroto, Sitisoemandari. 2001. Kartini: Sebuah Biografi. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Stuers, Cora Vreede. 2017. Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan & Pencapaian. Depok: Komunitas Bambu.

Toer, Pramoedya Ananta. 2003. Panggil Aku Kartini Saja. Jakarta: Lentera Dipantara.

BIODATA PENULIS

Nama : Umarotul Muslimah, S.Pd.

NIP : 19770727 200801 2 011

Jabatan : Guru Muda

Pangkat/ Golongan : Penata, III/c

Unit Kerja : SMP Negeri 2 Patikraja

Judul : PERAN STRATEGIS WANITA MILENIAL DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN PEMIKIRAN RA KARTINI

Alamat Kantor : JL. Balai Desa, Desa Kedungwuluh Lor, Patikraja, Clibur,

Kedungwuluh Lor, Kabupaten Banyumas,

Jawa Tengah 53171

Telp. Kantor : (0281) 6574601

Pendidikan Terakhir : S-1 Pendidikan Ekonomi

Pengalaman Pekerjaan : Guru SMK YPE Kroya Kabupaten Cilacap

Guru SMP Negeri 2 Patikraja

Penulis,

Umarotul Muslimah, S.Pd

You cannot copy content of this page