Iklan

MODERASI AGAMA DI SEKOLAH UMUM MENUJU PROFIL PELAJAR PANCASILA

Oleh : Nur Azizah, S.P.dI.*)

Sekolah umum sebagai tempat pendidikan bagi semua sebaiknya terus dijaga dari pandangan sebagai tempat yang special bagi siswa yang memiliki agama atau keyakinan tertentu saja. Keadaan yang menonjolkan sebuah simbol agama dapat berdampak pada sikap egois yang hanya mementingkan golongan tertentu. Terlebih jika ada nilai-nilai yang mengarah pada keunggulan yang ajaran-ajaran yang diyakininya dianggap sebagai kebenaran mutlak bagi kelompoknya. Fenomena dari dulu hingga sekarang muncul banyak kelompok yang menganggap kelompoknya paling benar disertai dengan sikap menyalahkan kelompok lain. Jika hal ini terjadi di lembaga pendidikan tentu menjadi hal yang mengancam terciptanya sekolah aman dan ramah anak. Kehidupan beragama di sekolah menjadi salah satu faktor yang penting khususnya di sekolah umum. Sekolah ini memiliki peserta didik dari berbagai agama. Keberagaman yang tinggi dialami oleh sekolah umum di perkotaan, sebab masyarakat perkotaan lebih beragam dari berbagai latar belakang agama dan keyakinan. Maka dari itu, pemahaman tentang moderasi beragama yang benar harus dimiliki oleh seluruh warga sekolah sehingga tercipta kebersamaan dan kedamaian dalam menjalankan keyakinannya.

Makna Moderasi Beragama

Sebenarnya moderasi beragama itu apa? Pertanyaan ini harus dijawab dengan mengetahui makna kata terlebih dahulu. Moderasi dari bahasa Latin “moderatio”, yang berarti ke-sedang-an atau dalam bahasa jawa ”sedengan”. Tidak berlebih dan tidak pula berkurang, bahasa Inggrisnya,“moderation” yang berarti bersikap sederhana atau sedang. Sedangkan bahasa Arab, moderasi dikenal dengan kata “wasath” atau “wasathiyah” yang atau “tawassuth” yang artinya tengah-tengah, “i’tidal” artinya adil, dan “tawazun” artinya berimbang. Berdasarkan makna kata moderasi tersebut maka kita dapat mengatakan bahwa moderasi adalah sikap memilih jalan tengah, berusaha adil, dan tidak berlebihan. Maka moderasi dapat diberi pengertian sebagai cara pandang, sikap, dan perilaku yang selalu berupaya mengambil sikap tengah-tengah, bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama.

Moderasi beragama merupakan sikap beragama yang seimbang antara pengamalan agama sendiri dan penghormatan kepada praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan, menerima perbedaan, serta hidup bersama dalam damai, sehingga tercipta toleransi dan kerukunan. Sehingga kita tidak boleh memahami moderasi agama sebagai kompromi antar agama, namun merupakan sikap pengamalan agama sendiri secara baik dan benar dengan sikap menghargai keyakinan orang lain.

Pentingnya Moderasi

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas memberikan ceramah kepada peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) 62 yang diselenggarakan pada hari Kamis tanggal 18 Maret 2021 menyampaikan materi “Meningkatkan Toleransi Masyarakat Dalam Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa di Era New Normal”. “Keragaman adalah kehendak Tuhan,” kata Yaqut (www.lemhanas.go.id). Menteri Yaqut juga mengungkapkan bahwa Tuhan telah menciptakan manusia beragam dan tidak ada yang sama. Negara Indonesia merupakan negara dengan perbedaan etnis, suku, budaya, bahasa, dan agama. Gusmen (gus menteri) menegaskan bahwa semua pemeluk agama berhak memeluk agama yang dianutnya dan berhak pula menganggap bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang benar dan baik. Di sisi lain setiap pemeluk agama harus menghargai hak pemeluk agama lain yang juga berpandangan bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang benar dan baik. “Keyakinan kuat kita atas agama yang dianut dan kepercayaan yang kita yakini itu dibatasi oleh keyakinan kuat yang dimiliki oleh umat beragama yang lain. Kenyataan tersebut harus dihadapi dengan sikap toleransi dan saling menghargai antar umat beragama.

Berkaitan dengan kondisi keragaman tersebut, diperlukan cara beragama yang moderat. “Keragaman agama sejatinya tidak menjadi masalah yang terlalu perlu untuk dirisaukan. Terciptanya toleransi dan kerukunan maka masing-masing umat beragama dapat memperlakukan orang lain secara terhormat, menerima perbedaan, dan hidup berdampingan secara damai. Gerakan untuk merajut toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan harus terus ditumbuh kembangkan dengan memunculkan dialog-dialog lintas agama serta solidaritas tanpa batas. Simbol-simbol kerukunan dan toleransi di berbagai daerah harus selalu ditonjolkan sehingga menciptakan rasa tenteram dan damai.

Berdasarkan hal di atas maka moderasi beragama menjadi sangat penting karena kecenderungan pengamalan ajaran agama yang berlebihan atau melampaui batas sering berimbas negative adanya klaim kebenaran secara sepihak dan menganggap dirinya paling benar sementara yang lain dianggapnya salah. Mengamalkan moderasi beragama pada hakikatnya juga menjaga keharmonisan intern antarumat beragama sehingga kondisi kehidupan bangsa tetap damai dan kehidupan berjalan harmonis.

Beberapa Pandangan Moderasi dalam Al Qur’an

Pandangan tentang moderasi dalam Al Qur’an dapat dilihat beberapa ayat yang menunjukkan adanya misi agama Islam, karakteristik ajaran Islam, dan karakteristik umat Islam. Misi agama ini adalah sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin, QS. al-Anbiya’: 107). Adapun karakteristik ajaran Islam adalah agama yang sesuai dengan kemanusiaan (fitrah, QS. al-Rûm: 30), sedangkan karakteristik umat Islam adalah umat yang moderat (ummatan wasatan, QS. Al-Baqarah: 143). Di samping itu, terdapat pula ayat yang memerintahkan agar umat Islam berpihak kepada kebenaran (hanîf, QS. al-Rûm: 30), serta menegakkan keadilan (QS. al-Maidah: 8) dan kebaikan agar menjadi umat terbaik (khair ummah, QS. Ali ‘Imrân: 110).

Ayat-ayat tersebut memperkuat perlunya beragama dengan sikap moderat (tawassuth) yang digambarkan sebagai umatan wasathan. Ulama-ulama Indonesia sudah banyak yang melakukan sosialisasi tentang pemahaman konsep moderasi Islam (wasathiyyah al-Islâm). Fakta di masyarakan memang ada kelompok-kelompok Islam yang tidak setuju dengan konsep moderasi ini, karena ia dianggap menjual agama kepada pihak lain. Namun sesungguhnya, dalam kerangka berbangsa dan bernegara dengan adanya kemajemukan, maka sudah seharusnya saling menghargai dan menghormati antar ummat beragama. Secara bahasa wasathiyyah berarti jalan tengah di antara dua hal atau pihak (kubu) yang berhadapan atau berlawanan. Adapun pengertian dan rambu-rambu tentang moderasi ini cukup bervariasi, yang tidak terlepas dari pemahaman dan sikap keagamaan secara personalitas. Salah satu di antara ulama yang banyak menguraikan tentang moderasi adalah Yusuf al-Qaradhawi. Dia pun mengungkapkan rambu-rambu moderasi ini, antara lain: (1) pemahaman Islam secara komprehensif, (2) keseimbangan antara ketetapan syari’ah dan perubahan zaman, (3) dukungan kepada kedamaian dan penghormatan nilai-nilai kemanusiaan, (4) pengakuan akan pluralitas agama, budaya dan politik, dan (5) pengakuan terhadap hak-hak minoritas.

Implementasi Moderasi Beragama di Sekolah Umum

Implementasi moderasi beragama di sekolah harus mendapatkan pendampingan oleh pihak sekolah, terutama kepala sekolah, guru pendidikan agama, dan guru pada umumnya. Semua fasilitas sarana pra sarana di sekolah bagi setiap peserta didik dengan agama yang berbeda sebaiknya diadakan atau dipenuhi. Sekolah harus mampu menjadi rumah kedua yang menyediakan tempat-tempat yang dibutuhkan mereka. Di samping itu, sekolah juga harus menyediakan pendamping khusus sehingga mampu memberikan arahan-arahan pelaksanaan praktik agama di sekolah. Penerapan ajaran agama tertentu kepada penganut ajaran agama lain tentu harus dihindarkan sehingga tercipta ketenteraman dan kedamaian.

Hal tersebut di atas sangat sejalan dengan profil pelajar Pancasila, di mana di dalamnya terdapat sikap hormat-menghormati antar ummat beragama sehingga peserta didik merasa aman dan terlindungi. Agama yang berbeda tidak menjadi penghalang bagi kerukunan  hidup di sekolah. Baik dalam beribadah sebagai individu maupun dalam berinteraksi sosial sebagai warga masyarakat, Islam mengajarkan untuk selalu bersikap moderat. Beberapa hal yang dapat dilakukan sekolah dan segenap tim Pembina Kesiswaan antara lain:

  1. Mengidentifikasi peserta didik berdasarkan keyakinan
  2. Menunjuk pembina untuk meakukan pendampingan pelaksanaan agama sesuai jumlah agama yang diyakini peserta didik
  3. Sosialisasi tentang pelaksanaan praktik beragama di sekolah
  4. Sosialisasi regulasi atau peraturan yang harus dipatuhi oleh seluruh warga sekolah
  5. Memantau kehidupan beragama oleh pembina OSIS dan organisasi yang ada di dalam sekolah (misalnya kerohanian islam, kerohanian katolik, dan sebagainya)
  6. Mempelajari dan menyelidiki kemungkinan adanya warga sekolah yang memiliki keyakinan dan melaksanakan praktik agama yang diyakini cenderung ekslusif atau menyendiri.
  7. Memberikan saran dan nasehat kepada individu yang ekslusif untuk tidak melakukan perekrutan atau mempengaruhi orang lain di sekolah.
  8. Melakukan screening kepada nara sumber luar sekolah dalam setiap kegiatan keagamaan (misalnya dalam peringatan hari besar agama).
  9. Kerjasama dengan pihak-pihak terkait misalnya organisasi keagamaan, kepolisian, dan organisasi legal lainnya untuk memaksimalkan kontrol terhadap kehidupan sekolah.
  10. Menegakkan aturan secara tegas, sehingga mampu memberikan jaminan kepada seluruh warga khususnya kelompok penganut agama minoritas di sekolah.

Penulis sebagai guru Pendidikan Agama Islam memiliki tanggungjawab yang besar terhadap pelaksanaan praktik agama di sekolah. Walaupun di sekolah saya lebih dari 95% beragama Islam, namun konflik antar individu guru, karyawan, dan peserta didik dapat terjadi. Pemahaman agama yang dangkal sering menjadi penyebab gesekan antar organisasi. Perbedaan pengamalan agama dalam hubungan antar manusia masih sering terjadi. Misalnya mengenai kegiatan ziarah para wali/ ulama, tahlil, qunut dalam shubuh, shalat tarawih, dan sejenisnya masih sering didiskusikan sehingga terjadi gesekan bila tidak ada yang menengahi. Konflik-konflik tersebut juga harus diperhatikan, karena beberapa kasus di suatu sekolah juga pernah terjadi baik di sekolah perkotaan maupun di perdesaan. Bahkan sampai ada demo terhadap guru yang dianggap keliru dalam menyampaikan materi pelajaran. Dalam hal ini, maka setiap guru PAI maupun guru Agama lainnya harus memiliki bekal “moderat” dalam menyampaikan materi. Kita tidak bisa memungkiri bahwa peserta didik berasal dari berbagai kelompok dan latar belakang pengetahuan yang berbeda.

6 Ciri Pelajar Pancasila yang Cerdas dan Berkarakter

Kemajuan bangsa Indonesia di masa mendatang , tidak hanya terletak dari kecerdasan yang dimiliki oleh generasi muda, namun juga harus diimbangi dengan karakter yang baik. Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendukung visi dan misi Presiden untuk mewujudkan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila sendiri, sering kali disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim dalam episode Merdeka Belajar. Tetapi, apa sih yang dimaksud dengan profil Pelajar Pancasila? Mari simak 6 (enam) ciri/karakteristik Pelajar Pancasila yaitu beriman, Bertakwa Kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Keterkaitan implementasi moderasi beragama dengan upaya mewujudkan profil pelajar Pancasila sangat erat. Kehidupan beragama yang serasi dan harmonis tentu akan menciptakan rasa sejuk dan penuh kedamaian. Seluruh warga sekolah menjalankan ibadah sesuai agamanya secara terbuka dan penuh kekhusyu’an. Profil pelajar yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, tentu akan terbentuk dengan sendirinya. Mereka tidak perlu lagi malu atau merasa terganggu dalam menjalankan aktivitas dengan orang lain, demikian sebaliknya. Perlakuan yang sama juga dirasakan oleh penganut agama lainnya. Justeru mereka saling menjaga sehingga setiap kelompok penganut agama merasa bahwa mereka adalah kita. Artinya jika mereka dapat menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinannya dengan nyaman, kita merasa senang. Begitulah suasana kekeluargaan yang diharapkan dalam kehidupan kita.

Demikian juga terkait kebhinekaan, ketika semua pelajar sudah memiliki pemahaman dan melaksanakan moderasi beragama maka tidak ada lagi egoism yang dilakukabn seorang individu atau kelompok tertentu. Kehidupan sekolah yang di dalamnya tercipta keharmonisan menjadi modal untuk mewujudkan pendidikan Indonesia yang tidak lagi mempermasalahkan perbedaan latar belakang etnis, suku, ras, maupun agama. Dalam komunikasi global pun sudah tidak lagi membicarakan hal-hal tersebut sehingga dunia menjadi aman dan damai.

Persatuan ummat yang kokoh juga menjadi modal utama individu mau melakukan gotong royong. Gotong royong sebagai ciri khas bangsa Indonesia sejak dulu. Begitu kentalnya kebersamaan dalam kehidupan masyarakat sehingnga suka dan duka dihadapi bersama. Kemajuan dalam kemajemukan mempermudah tercapainya tujuan sebuah masyarakat. Demikian pula tentang sikap mandiri. Mandiri secara individual maupun secara kolektif para peserta didik akan terbangun dengan adanya kebebasan belajar. Secara bertahap adanya kehidupan yang saling membantu melahirkan generasi yang cakap dan terampil, mampu bernalar kritis, dan kreatif. Mereka tidak lagi canggung dan merasa rendah diri ketika membuat suatu karya. Tidak ada lagi perasaan takut berkreasi, karena semua orang merasa satu keluarga yang harus saling menghargai. Pembiasaan kegiatan dengan saling asah, asih, dan asuh merupakan usaha menciptakan kebersamaan untuk kemajuan.

Demikian uraian singkat yang dapat saya kemukakan melalui tulisan ini, mudah-mudahan menjadi sebuah sumbangan pikiran terkait dengan moderasi agama dalam mewujudkan profil pelajar yang mencerminkan nilai-nilai sikap yang digali dari lima sila Pancasila. Sekolah sebagai tempat pendidikan tentu menjadi sarana mengembangkan nilai-nilai luhur sehingga tercipta pribadi-pribadi berkarakter luhur dan unggul. Sebagai pendidik sudah menjadi kewajiban turut perpartisipasi aktif dalam meraih generasi emas untuk Indonesia maju.

DAFTAR BACAAN:

http://www.kemdikbud.go.id/6 ciri pelajar pancasila yang cerdas dan berkarakter/ diakses tanggal 3 Oktober 2021 pukul 08.00

http://www.lemhanas.go.id/index.php/berita-utama/1013/ menteri agama moderasi agama sangat penting. diakses tanggal 3 Oktober 2021 pukul 08.30

https://uninus.ac.id/moderasi beragama dan urgensinya/ diakses tanggal 3 Oktober 2021 pukul 08.50.

BIODATA PENULIS

Nama : Nur Azizah, S.Pd.I

NIP : 198111152015022001

Pangkat/ Gol : Penata Muda Tk. I/ IIIb

Email : nurazizah15bita@gmail.com

Unit kerja : SMA Negeri 1 Wangon

You cannot copy content of this page