Iklan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR TEMATIK MUATAN PELAJARAN MATEMATIKA MATERI HUBUNGAN ANTAR SATUAN WAKTU MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING PADA SISWA KELAS III SD NEGERI BANJAREJA 02 SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Supriyani, S.Pd.

ABSTRAK

Supriyani, S.Pd. 2019. Peningkatan Hasil Belajar Tematik Muatan Pelajaran Matematika Materi Hubungan Antar Satuan Waktu Melalui Model Cooperative Learning pada Siswa Kelas III SD Negeri Banjareja 02 Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020. Kegiatan pembelajaran Tematik pada siswa kelas III SD Negeri Banjareja 02 cenderung berpusat pada guru dan penggunaan metode pembelajaran yang kurang variatif. Hal ini mengakibatkan hasil belajar siswa kurang optimal. Tindakan sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan menerapkan Cooperative Learning pada tematik kelas III SD Negeri Banjareja 02. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Masing- masing siklus melalui empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Setiap siklus terdiri dari 1 pertemuan pembelajaran yang diakhiri dengan tes formatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes dan non tes. Data penelitian dianalisis dengan teknik analisis data secara kuantitatif dan kualitatif. Data yang dianalisis secara kuantitatif yaitu tes formatif berbentuk esai. Data yang dianalisis secara kualitatif yaitu data non tes hasil pengamatan aktivitas belajar siswa selama pembelajaran berlangsung Hasil ulangan menunjukkan hanya 5 siswa dari 15 siswa yang nilainya memenuhi KKM 70. Pada siklus I nilai rata-rata kelas sebesar 69, ketuntasan belajar 67%, persentase keaktifan siswa 53,3%,. Pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa 77, ketuntasan belajar 87%, persentase keaktifan siswa 76,57%. Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II. Dari hasil yang diperoleh, dapat diambil simpulan bahwa penelitian ini mampu menjawab tujuan penelitian, yakni penerapan Cooperative Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SD Negeri Banjareja 02.

Kata kunci: Hasil Belajar, Tematik, Cooperative Learning

PENDAHULUAN

Menurut Depdiknas dalam Bafadal (2011: 10), menyatakan bahwa dalam KTSP 2006 pembelajaran matematika di berikan kepada siswa sekolah dasar (SD) bertujuan agar siswa : (1). Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antara konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara lowes, akurat, efesen dan tepat dalam pemecahan masalah. (2). Menggunakan penalaran pada pola dan sipat pola, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dalam pernyataan matematika. (3). Memecakan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menapsirkan solusi yang di peroleh. (4). Mengkomunikasikan gagasan dengan simbul tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. (5). Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam pembelajaran matematika serta sikap ulet dan percaya diri dalam memecakan masalah. Untuk mencapai tujuan tersebut dalam pembelajaran matematika memerlukan metode yang variatif dan kreatif.

Keberhasilan proses pembelajaran matematika dapat di ukur dari tercapainya tujuan pembelajaran matematika. Keberhasilan itu dapat di lihat dari aktivitas guru yang mampu melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai mediator, motivator, dan fasilitator siswa.Sehingga siswa menjadi aktif dan kreatif serta pembelajaran pun menjadi efektif dan menyenangkan. Namun pada kenyataan di lapangan dapat dilihat bahwa minat belajar siswa pada mata pelajaran matematika masih sangat rendah. Rendahnya minat belajar siswa tehadap mata pelajaran matematika bukan karena kesalahan pada diri siswa itu saja, tetapi juga di sebabkan oleh faktor cara guru di kelas. Dalam pembelajaran matematika masih banyak guru yang kurang tepat menggunakan metode pembelajaran, sehingga menyebabkan siswa kurang aktif dan tertarik pada mata pelajaran matematika. Berdasarkan observasi yang dilakukan di SDN Banjareja 02 pada Bulan November 2019 ditemukan bahwa pembelajaran masih berpusat pada guru, sehingga pembelajaran di kelas kurang efektif dan kurang terlibatnya siswa pada kegiatan pembelajaran. Guru hanya menggunakan metode ceramah dan penugasan. Selain itu, pada kegiatan pembelajaran guru menggunakan model pembelajaran yang terlalu konvensional dan menggunakan model pembelajaran yang monoton.

Situasi ini dapat mengakibatkan proses pembelajaran kurang kondusif dan kurang menyenangkan sehingga peserta didik merasa januh/bosan, tidak bergairah saat mengikuti pelajaran. Hal tersebut dapat mengakibatkan rendahnya hasil belajar peserta didik. Oleh karena itu guru harus memiliki kemampuan dalam memilih model pembelajaran yang tepat. Ketidaktepatan memilih model pembelajaran akan meimbulkan kejenuhan bagi siswa dalam menerima materi yang disampaikan sehingga materi kurang dapat dipahami oleh siswa. Untuk itu guru menerapkan Cooperatif Learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran tema 3 subtema 4 di kelas 3 yang terdiri dari beberapa muatan pelajaran, yaitu muatan Bahasa Indonesia, muatan Matematika, dan muatan SBdP. Hasil ulangan belum maksimal terutama pada muatan pelajaran matematika tentang hubungan antar satuan waktu. Nilai rata-rata kelas belum mencapai KKM yang ditentukan yaitu 70. Hanya 5 siswa dari 15 siswa kelas 3 SD Negeri Banjareja 02 yang nilainya diatas KKM, sedang 10 siswa lainnya masih dibawah KKM, sedang nilai rata-rata kelasnya adalah 60.

KAJIAN PUSTAKA

Menurut Suratinah Titonegara (2001: 43) yang dimaksud hasil belajar adalah penilaiaan hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dengan bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat yang dapat dicerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu. Uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat. Hasil belajar yang diperoleh dapat digunakan sebagai evaluasi dari proses belajar.

Ada beberapa ahli yang memberikan pengertian belajar sebagai berikut: belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman (Gagne dalam Winaputra: 1997,2.3). Belajar adalah suatu aktivitas yang sengaja dilakukan oleh individu agar terjadi perubahan kemampuan diri, dengan belajar anak yang tadinya tidak mampu menjadi mampu melakukan sesuatu, atau anak yang tadinya tidak terampil menjadi terampil.

Berdasarkan pengertian tersebut di atas maka peningkatan hasil belajar adalah usaha mengubah perilaku siswa agar memiliki dorongan untuk melakukan proses sehingga terjadi perubahan kemampuan diri dari akibat pengalaman.

Kooperatif berarti: bersifat kerjasama dan bersedia membantu (KBBI, 2007, 365). Model pembelajaran koperatif adalah suatu pendekatan pembelajaran yang berisi serangkaian aktivitas yang diorganisasikan, difokuskan pada pertukaran informasi terstruktur antar siswa dalam kelompok yang bersifat sosial dan siswa bertanggung jawab atas tugasnya masing-masing. Dalam pembelajaran kooperatif proses belajar tidak harus berasal dari guru ke siswa, melainkan dapat juga siswa saling mengajar sesama siswa lainnya. Pengajaran rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif dari pada pengajaran oleh guru, Anita Lie (dalam Hidayati, 2008, 30). Roger dan David Johnson menurut Anita Lie (dalam Hidayati, 2008, 30-31) mengungkapkan bahwa tidak semua kerja kelompok dapat dikatakan pembelajaran kooperatif. Ada lima prinsip untuk mencapai hasil maksimal dari pembelajaran dengan model coopertive learning yang harus dikembangkan, antara lain: saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, evaluasi kelompok.

Keterampilan yang dapat dilatih dalam pembelajaran kooperatif adalah :

1. Keterampilan Tingkat Awal

a. Menggunakan kesepakatan, yaitu keterampilan menyamakan pendapat yang berguna untuk meningkatkan kera dalam kelompok.

b. Menghargai kontribusi, yaitu menghargai pendapat orang lain.

c. Mengambil giliran dan berbagai tugas, kemampuan kelompok, bahwa setiap anggota kelompok bersedia menggantikan dan bersedia mengemban tugas / tanggung jawab tertentu dalam kelompok.

d. Berada dalam kelompok, yaitu kemampuan bertahan untuk bekerja selama kegiatan berlangsung.

e. Berada dalam tugas, kemampuan meneruskan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, agar kegiatan dapat diselesaikan sesuai waktu yang dibutuhkan.

f. Mendorong partisipasi, yaitu kemampuan mendorong semua anggota kelompok untuk memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok.

g. Mengundang orang lain untuk berpartisipasi

h. Menyelesaikan tugas pada waktunya.

i. Menghormati perbedaan individu.

2. Keterampilan Tingkat Menengah

Keterampilan tingkat menengah meliputi kemampuan menunjukkan penghargaan dan simpati, mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara dapat diterima, mendengarkan dengan aktif, bertanya, membuat rangkuman, menafsirkan mengatur dan mengorganisir, serta mengurangi ketegangan.

3. Keterampilan Tingkat Akhir

Berupa kemampuan mengelaborasi, memeriksa dengan cermat, menanyakan kebenaran, menetapkan tujuan, dan berkompromi.

Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam melaksanakan Pembelajaran Kooperatif menurut Karuru (2005) antara lain adalah :

FASE KEGIATAN GURU
Fase 1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase 2

Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa baik dengan peragaan (demonstrasi) atau teks.
Fase 3

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

Guru menjelaskan siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan perubahan yang efisien.
Fase 4

Membantu kerja kelompok dalam belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.
Fase 5

Mengetes materi

Guru mengetes materi pelajaran atau kelompok menyajikan hasil-hasil pekerjaan mereka
Fase 6

Memberikan penghargaan

Guru memberikan cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Berlandaskan pendapat tersebut, maka peneliti berkeyakinan bahwa akan lebih tepat dalam pembelajaran tematik menggunakan model pembelajaran kooperatif.

Berdasarkan kajian teoritis yang telah diuraikan sebelumnya, maka diperoleh alur kerangka berpikir sebagai berikut.

Berdasarkan telaah teori di atas, maka hipotesis tindakan yang akan peneliti ajukan dalam penelitian ini adalah: “Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif, maka hasil belajar siswa pada muatan pelajaran matematika materi hubungan antar satuan waktu kelas III semester 1 SD Negeri Banjareja 02 tahun pelajaran 2019/2020 meningkat”.

METODOLOGI PENELITIAN

Prosedur Penelitian

Penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru didalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar sisw dapat meningkat. PTK mempunya empat tahapan penting yakni perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil refleksi inilah yang menjadi dasar perencanaan tindakan pada siklus berikutnya.

Gambar 1: Model Tahapan PTK menurut Kemmis dan Taggart menurut Arikunto, dkk.

Subjek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah peserta didik kelas III SDN Banjareja 02 tahun pelajaran 2019/2020 yang berjumlah 15 anak. Peserta didik tersebut terdiri dari 8 anak laki-laki dan 7 anak perempuan.

Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah peningkatan hasil belajar tematik menggunakan model cooperative learning pada siswa kelas III SDN Banjareja 02, Nusawungu.

Metode dan Pengambilan Data

Teknik pengumpulan data

Dokumentasi

Digunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajar kondisi awal siswa yaitu berupa daftar nilai/ laporan penilaian, pengolahan dan analisis hasil belajar siswa.

Tes

Digunakan untuk mendapatkan data nilai tentang hasil belajar siswa.

Non Tes

Digunakan untuk mengumpulkan data yang bersifat abstrak tentang perubahan perilaku siswa selama proses pembelajaran. Perubahan perilaku yang diamati adalah sikap memahami materi pelajaran yang diperoleh dari lembar observasi dan angket.

Teknik Pengumpulan Data

Instrumen diperlukan untuk memperoleh data yang akurat dan informasi yang relevan pada saat melakukan penelitian. Pada penelitian ini instrumen yang digunakan adalah soal tes formatif . Soal tes dilakukan untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai materi yang disampaikan. Instrumen soal tes formatif digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan siswa dalam memahami materi tematik tema 3 subtema 4 muatan pelajaran matematika hubungan antar satuan waktu. Jenis soal tes yang digunakan adalah tes tertulis dalam bentuk essai. Hasil tes inilah yang akan menjadi alat ukur hasil belajar siswa selama kegiatan pembelajaran.

Analisis Data

Pada penelitian ini akan digunakan teknik analisis kuantitatif .sehingga diketahui peningkaatan hasil belajar siswa melalui penerapan Cooperative Learning. Analisis data yang dilakukan untuk memperoleh kesimpulan tentang keberhasilan sebuah penelitian yang ditampilkan dalam bentuk narasi, grafik atau tabel. Analisis data diperoleh dari proses pelaksanaan dan hasil penelitian. Tes digunakan untuk memperoleh data kognitif berupa hasil belajar siswa. Tes untuk mengetahui seberapa pemahaman siswa tentang materi yang dijelaskan selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Kemudian hasil siswa diperoleh dengan rumusan sebagai berikut:

Hasil penskoran disesuaikan dengan nilai KKM yang telah ditentukan yaitu 70. Seperti tabel di atas, siswa yang memperoleh ≥ 70 maka dinyatakan tuntas, sedangkan peserta didik yang memperolah nilai < 70 dinyatakan bel

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian yang telah dilaksanakan di SD Negeri Banjareja 02 pada tanggal 16 November 2019 untuk siklus I dan pada tanggal 23 November 2019 untuk siklus II. Subjek penelitian adalah siswa kelas III SD Negeri Banjareja 02 yang termasuk kelas rendah. Oleh karena itu, sesuai ketentuan Permendiknas nomor 41 tahun 2007 (BSNP 2007: 3) maka pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran adalah pendekatan tematik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan cooperative learning dalam meningkatkan hasil belajar tematik. Dalam penelitian ini materi yang dipadukan dengan Bahasa Indonesia adalah Matematika dan SBdP dengan tema berbagai benda di sekitarku. Namun, dalam penelitian ini hanya hasil pelaksanaan pembelajaran Matematika saja yang dibahas secara rinci. Pembahasan hasil penelitian hanya difokuskan pada materi hubungan antar satuan waktu mata pelajaran matematika sebagai materi kajian penelitian. Hasil penelitian yang diperoleh berupa hasil tes dan non tes. Hasil tes berupa hasil tes formatif.. Sedangkan hasil non tes berupa lembar pengamatan aktivitas siswa dan lembar pengamatan aktivitas guru.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, dapat dikatakan bahwa tujuan penelitian tercapai, yaitu peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan cooperative learning pada pembelajaran tematik muatan pelajaran matematika materi hubungan antar satuan waktu pada kelas III SDN Banjareja 02. Kegiatan pembelajaran pada siklus I yang dilaksanakan selama satu kali pertemuan. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran dimulai dengan kegiatan apersepsi, kemudian kegiatan inti yang terdiri dari penjelasan tujuan pembelajaran, diskusi kelompok ,mengerjakan lembar kerja siswa. Presentasi siswa, penguatan dan kegiatan penutup. Hasil belajar siklus I diperoleh nilai rata-rata sebesar 69, dengan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 40. Jumlah siswa yang tuntas sebanyak 10 siswa dengan prosentase ketuntasan sebesar 67% dan yang tidak tuntas sebanyak 5 siswa dengan prosentase sebesar 33%. Dari hasil tersebut masih belum mencapai kriteria ketuntasan yang ditentukan yaitu 75%., sehingga penelitian dilanjutkan pada siklus II.

Masih banyaknya siswa yang belum tuntas dikarenakan sebagian siswa tampak belum terbiasa untuk melakukan kerja dalam kelompok, tingkat ketergantungan pada guru dan teman yang dianggap memiliki pengetahuan lebih masih tinggi sehingga menyebabkan tingkat pemahaman, penguasaan dan menemukan gagasan kurang dilakukan oleh siswa. Siswa kurang terbiasa mencari dan menemukan solusi untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya sehingga kurang komunikatif dan cenderung belajar masih individual mengandalkan teman yang dianggap mempunyai kemampuan lebih.

Siklus II dilaksanakan pada tanggal 23 November 2020. Kegiatan pembelajaran siklus II dilaksanakan berdasarkan refleksi pada silkus I sebagai upaya peningkatan pembelajaran pada siklus II. Analisis data pelaksanaan tindakan siklus II terdiri dari hasil belajar, observasi proses pembelajaran dan refleksi. Hasil belajar berupa perolehan nilai siswa dari tes formatif . Rata-rata hasil belajar siklus II sebesar 80 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 60. Siswa yang mendapat niali ≥ 70 sebanyak 13 dengan prosentase 87% dan siswa yang mendapat nilai dibawah KKM 70 sebanyak 2 dengan prosentase 13%. Meskipun pada siklus II masih terdapat 2 anak yang belum mencapai KKM, nilai rata-rata pada siklus II sebesar 80 telah memenuhi KKM ( 70 ) dan jumlah siswa yang telah memenuhi KKM 70 telah mencapai 87% sesuai dengan kriteria ketuntasan.

Hasil Belajar Siswa

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di kelas III SD Negeri Banjareja 02 pada pembelajaran tematik dengan penerapan Cooperative Learning mampu membuktikan adanya peningkatan hasil belajar. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan hasil belajar dari prasiklus, siklus I dan II. Peningkatan itu meliputi nilai rata-rata kelas dari 60 pada prasiklus meningkat menjadi 69 pada siklus I kemudian meningkat menjadi 80 pada siklus II, dan ketuntasan dari 33% menjadi 67% kemudian meningkat menjadi 87%. Peningkatan hasil belajar pada siklus II sudah mencapai indikator keberhasilan yaitu nilai rata-rata siswa di atas 70 (KKM), dengan ketuntasan belajar sudah di atas 75%. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel.3. Perbandingan Hasil Belajar siswa

Tindakan Nilai Rata-rata Nilai Tertinggi Nilai Terendah Prosentase (%) Ketuntasan
Prasiklus 60 80 40 33% Tidak tuntas
Siklust 1 69 90 60 67% Tidak tuntas
Siklus 2 80 100 60 87% Tuntas

Dari tabel diatas menunjukan adanya peningkatan nilai rata-rata prasiklus sampai dengan siklus II yaitu sebesar 20. Prosentase ketuntasan dari prasiklus sampai siklus II juga mengalami peningkatan sebesar 54% .Peningkatan hasil belajar prasiklus, siklus I dan siklus II juga dapat dilihat pada diagram dibawah ini

Gambar 3. Perbandingan Hasil Belajar Siswa

Dari diagram diatas dapat dilihat perbandingan antara prasiklus, siklus I dan siklus II dimana pada setiap siklus mengalami kenaikan yang signifikan. Bila diukur menggunakan standar skor kualifikasi maka siklus I dengan nilai rata-rata 69 berada pada kategori kurang baik, kemudian pada siklus II nilai rata-rata meningkat 11 poin menjadi 80 dengan kategori baik, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan cooperative learning pada pembelajaran tematik dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pengembangan hasil belajar siswa perlu diimbangi terkait kemampuan self-regulated learning siswa (Alhadi& Supriyanto, 2017). Proses pengaturan belajar yang terstruktur memungkinkan siswa untuk merencanakan masa depan mereka dalam tiga domain perkembangan yaitu akademik, karir dan pribadi-sosial, serta memungkinkan konselor dan guru untuk mengamati kemajuan siswa sepanjang kontinum melalui pembelajaran (Syamsudin& Supriyanto, 2019). Pengembangan diri siswa memerlukan kolaborasi antara orangtua, konselor, dan guru kelas pada tujuan yang sama dari pengembangan kompetensi anak usia melalui pembelajaran di sekolah (Supriyanto, 2016).

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan di SDN Banjareja 02 dengan subjek penelitian siswa kelas 3 yang berjumlah 15 anak dapat disimpulkan bahwa, Penerapan cooperative learning pada pembelajaran tematik muatan pelajaran matematika materi hubungan antar satuan waktu dapat meningkat. Peningkatan tersebut dapat diketahui setelah membandingkan hasil test formatif prasiklus dengan siklus I dan siklus II. Nilai rata-rata saat pelaksanaan prasiklus yang hanya mencapai 60 meningkat pada siklus I mencapai 69 meningkat lagi pada siklus II menjadi 80 dengan peningkatan ketuntasan belajar dari 33,33 % menjadi 67% kemudian meningkat lagi menjadi 87%

DAFTAR PUSTAKA

Alhadi, S., & Supriyanto, A. (2017, August). Self-Regulated Learning Concept: Student Learning Progress. In Seminar Nasional Bimbingan Konseling Universitas Ahmad Dahlan (Vol. 2).

Aqib, Zainal. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV Yrama Widya.

Kemendikbud. (2013). Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Maznah. (2016). Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Square (TPS) Kelas VI SDN 001 Empat Balai Kecamatan Kuok Kabupaten Kampar. Jurnal Primary, 5(3), 427–441.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta: Bandung.

Supriyanto, A. (2016). KOLABORASI KONSELOR, GURU, DAN ORANG TUA UNTUK MENGEMBANGKANKOMPETENSI ANAK USIA DIN MELALUI BIMBINGAN KOMPREHENSIF. Jurnal CARE (Children Advisory Research and Education), 4(1), 1- 8.

Sutirman. (2013). Media dan Model-Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Graha Ilmu. Syamsudin, S., & Supriyanto, A. (2019). Konsep Individual Learning Plan. Proceeding of The URECOL, 160-165.

BIODATA

Nama : Supriyani, S.Pd.

NIP : 19650307 199303 2 003

Pangkat/ gol. ruang : Pembina, IV/A

Jabatan : Guru kelas

Unit Kerja : SD Negeri Banjareja 02

By admin

You cannot copy content of this page