Iklan

PENTINGNYA LITERASI DIGITAL UNTUK PEMBELAJARAN DARING

Oleh : Sri Irawati

Pendahuluan

Indonesia terlibat dalam kesepakatan Millenium Development Goals atau disingkat MDGs yang juga dapat diartikan sebagai tujuan pembangunan milenium. Dalam kesepakatan ini, terdapat delapan kesepakatan yang telah diajukan sebagai tujuan dari pembangunan tersebut. Salah satu diantaranya adalah pada tujuan kedua, mengenai hak atas pendidikan dasar untuk semua warga negara. Pendidikan dasar merupakan hak asasi setiap individu yang sudah diakui dalam berbagai konvensi perundangan nasional maupun internasional. Indonesia sendiri menerapkan sistem wajib belajar selama 12 tahun sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Hal tersebut diatur dalam UU pasal 6 ayat 1. Meskipun sudah diatur dalam peraturan perundangan, masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan dasar.

Masa pandemi Covid-19 ini tidak hanya menjadi musibah besar bagi kesehatan dan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi hambatan besar bagi dunia pendidikan untuk mewujudkan salah satu tujuan dari MDGs tersebut. Pemerintah melalui Kemendikbud menghimbau kepada para tenaga kependidikan untuk meniadakan kegiatan pembelajaran tatap muka dan diganti dengan pembelajaran online atau daring untuk memutus rantai penularan Covid-19. Kurikulum darurat pun segera dibuat demi kelancaran proses kegiatan belajar mengajar secara daring. Namun, sedikitnya interaksi antara guru dan murid menyebabkan kurangnya pemahaman yang diterima oleh murid.

Teknologi digital telah merambah ke semua kalangan, termasuk anak-anak di bawah umur maupun orang dewasa, baik di kota besar maupun daerah terpencil. Dalam penelitian Kurniawan dan Pambudi (2018) mengenai literasi digital pada metode pembelajaran yang dicobakan pada anak-anak sekolah dasar, sekitar 99% siswa sudah mulai menggunakan ponsel pada umur 9 tahun, dimana aktivitas yang sering diakukan adalah menonton youtube dan bermain game. Menurut laporan terbaru Digital 2020, juga disebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia pada tahun Januari 2020 sebesar 175,4 juta jiwa. Terdapat kenaikan sebesar 17% atau 25 juta pengguna internet di Indonesia dibandingkan dengan tahun 2019. Artinya, dari total populasi penduduk Indonesia yaitu sebesar 272,1 juta jiwa, sebanyak 64% penduduk RI telah merasakan akses ke dunia maya. Hal ini juga berarti bahwa jumlah pengguna komunikasi dan informasi via aplikasi digital semakin dominan di negeri ini. Oleh karena itu, akan menjadi alternatif yang bagus apabila dilakukan pemanfaatan teknologi digital pada ranah pendidikan melalui ponsel atau komputer untuk meningkatkan literasi siswa, sehingga tidak dipakai untuk kegiatan yang kurang bermanfaat.

Literasi Digital untuk Pembelajaran Daring

Kemampuan literasi sangat diperlukan bagi siswa karena dapat membuka dan memberikan wawasan berpikir, merangsang imajinasi serta meningkatkan kreativitas, membuat pikiran lebih kritis, objektif, dan reflektif dengan berbagai perspektif sehingga tidak monoton dan stagnan. Rendahnya budaya literasi di Indonesia menyebabkan masyarakat Indonesia tidak memiliki kebiasaan membaca dan menulis. Hal ini dapat menyebabkan kondisi “generasi nol buku” yang artinya generasi yang tidak membaca buku satupun selama satu tahun, generasi rabun membaca dan menulis. Padahal siswa SMA di negara lain seperti Jerman dapat membaca buku sebanyak 32 buku dalam satu tahun.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015, membentuk program pendidikan yang diberi nama Gerakan Literasi Sekolah. Dengan dilatarbelakangi oleh fenomena rendahnya keterampilan literasi yang membuktikan bahwa proses pendidikan belum mengembangkan kompetensi dan minat peserta didik terhadap pengetahuan. Pada uji leterasi membaca yang dilakukan dengan mengukur aspek memahami, menggunakan, dan merefleksikan hasil membaca dalam bentuk tulisan dalam Progress International Reading Literacy Study 2011 (PIRLS), Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 negera peserta dengan skor 428 dari skor rata-rata. Kondisi tersebut mengindikasikna bahwa literasi di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Pemerintah pun bersungguh-sungguh dalam meningkatkan budaya literasi siswa dengan mengeluarkan beberapa program khusus guna memberantas penyakit malas membaca dan menulis yang terjadi pada masyarakat Indonesia. Namun, pelaksanaan program-program tersebut dikatakan belum maksimal karena dipengaruhi beberapa faktor, seperti siswa yang kurang tertarik dengan buku dan lebih memilih bermain ponsel. Oleh karena itu, pemerintah menggalakkan penggunaan literasi digital yang dapat diakses melalui ponsel dan komputer, terutama dalam masa pandemi seperti ini dapat digunakan untuk mendukung program literasi digital.

Pengertian literasi digital menurut UNESCO dalam Kemendikbud (2017) adalah kemampuan individu yang tidak hanya berkaitan dengan perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi. Selain itu juga melibatkan kemampuan bersosialisasi, kemampuan dalam pembelajaran, dan bersikap kritis, kreatif, serta inspiratif. Oleh karena itu setiap siswa diharapkan untuk dapat mengakses, memahami, membuat, mengkomunikasikan, dan mengevaluasi informasi yang dilakukan melalui teknologi digital. Teknologi digital seperti internet membuat perubahan besar dalam kemudahan akses informasi. Namun, rendahnya sosialisasi mengenai penggunaan teknologi digital di bidang pendidikan membuat Indonesia masih tertinggal satu langkah dari negara-negara lain di dunia dalam hal pemanfaatan teknologi, sehingga masih banyak terjadi kasus penyalahgunaan internet seperti cyberbullying, pelanggaran privasi, penyebaran konten pornografi, hoaks, dan lain-lain. Untuk mengatasi terjadinya penyalahgunaan tersebut, pemerintah mewajibkan guru di sekolah untuk mulai membiasakan budaya literasi kepada peserta didik sehingga dapat membedakan informasi yang benar dan salah. Tentu saja penyampaian budaya literasi tersebut juga diiringi dengan penanaman karakter kepada peserta didik sehingga terhindar dari dampak negatif penyalahgunaan teknologi digital.

Pemanfaatan internet juga dapat menjadi salah satu solusi untuk menunjang pembelajaran daring yang diakibatkan oleh Covid-19. Dikutip dari Kompas.com, pada era milenial terdapat kecenderungan secara internasional bahwa pembaca buku sekarang mulai beralih dari buku cetak ke buku digital atau yang sering kita sebut dengan e-book. Penggunaan e-book juga memudahkan masyarakat yang hidup di daerah terpencil karena keberadaan toko buku yang masih sedikit dan akses pengiriman yang terbatas. Selain e-book, konten edukasi dalam pembelajaran daring juga bisa dilakukan dengan membuat video pembelajaran, blog pendidikan, slide powerpoint, video teleconference, maupun menggunakan perangkat lunak khusus yang dibuat oleh sekolah. Dengan demikian, sangat cocok diaplikasikan pada siswa di masa pembelajaran daring ini untuk mengurangi kontak langsung dengan orang lain.

Beberapa hal yang patut menjadi perhatian yaitu penyalahgunaan media. banyak media yang disalahgunakan oleh oknum tertentu untuk memperoleh keuntungan sepihak. Oleh karena itu, kita sebagai warga negara Indonesia yang cerdas harus pandai memilah konten yang disebarkan oleh media. Berikut adalah konsep penting literasi media berdasarkan versi Center for Media Literacy (2003) yang dapat menjadi landasan dalam pemilihan bahan literasi:

  1. Pesan yang diperoleh dari media merupakan hasil konstruksi.
  2. Pesan dari media dikonstruksi dengan menggunakan bahasa yang kreatif dengan aturan yang khusus.
  3. Setiap orang akan menginterpretasikan pesan media tersebut secara berbeda-beda.
  4. Media memiliki value dan pandangan tertentu yang diselipkan dalam pesan tersebut.
  5. Sebagian besar pesan yang berasal dari media digunakan untuk memperoleh keuntungan dan kekuasaan.

Contoh Fasilitas Pendukung Pembelajaran Daring

Pembelajaran daring didukung dengan teknologi digital. Salah satu yang menarik yaitu menggunakan perpustakaan elektronik untuk menunjang pembelajaran siswa di rumah selama masa pandemi, mengingat rendahnya minat sisa terhadap buku. Perpustakaan Elektronik atau Electronic Library (E‐Library) sebenarnya sudah berkembang sejak lama, yakni sejak keberadaan teknologi informasi elektronik berkembang melalui perangkat seperti microfilm, video tape, audio tape, dan perangkat multimedia lainnya yang sejenis. Kemudian seiring dengan perkembangan teknologi informasi komunikasi dan media terutama komputer melalui jaringan lokal (LAN) dan internet, maka isi dari E-library semakin berkembang mulai dari penggunaan media Compact Disc (CD) atau Laser Disc (LD) yang mampu menyimpan data‐data digital dan database elektronik hingga penggunaan media perangkat smartphone yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini. Pengguna E‐Library juga harus mampu memanfaatkan segala macam fasilitas yang tersedia di perpustakaan yang tersedia secara offline maupun online, sehingga wajib hukumnya bagi pustakawan dan pemustaka untuk menguasai misalnya bagaimana untuk mengakses informasi dalam bentuk jurnal elektronik, buku elektronik, audio elektronik, database elektronik, dan sebagainya. E‐Library banyak yang tersedia di internet dan dapat diakses secara gratis maupun berbayar. Selain itu, sekolah juga bisa membuat platform E‐Library sendiri sesuai dengan kehendak sekolah masing-masing sehingga dapat diakses secara gratis oleh siswa sekolah tersebut.

Selain E‐Library juga terdapat beberapa platform digital di Indonesia bersinergi bersama pemerintah untuk mewujudkan perilaku social distancing dalam masa pandemi dengan meluncurkan program-program baru. Menurut Kominfo, salah satu platform digital tersebut yaitu Ruang Guru. Ruang Guru adalah platform digital yang bergerak di bidang pendidikan, dimana sudah memiliki lebih dari 15 juta pengguna dan 300.000 tenaga pengajar lebih dari 100 mata pelajaran. Ruang Guru berkomitmen mendukung pemerintah untuk membantu masyarakat Indonesia untuk meningkatkan pendidikan dan kualitas sumber daya manusia, diantaranya:

  1. Di masa pandemi ini, Ruang Guru menyediakan sekolah online untuk para siswa mulai dari kelas 1 Sekolah Dasar hingga kelas 12 Sekolah Menengah Atas, yang beroperasi pada hari Senin sampai Jumat dan disesuaikan dengan jam kegiatan belajar mengajar (KBM).
  2. Selain sekolah online, Ruang Guru juga menyediakan pelatihan gratis bagi para guru berbasis mobile. Program tersebut bernama Indonesia Teaching Fellowship yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru. Ruang Guru menyediakan 250 modul dan video pelatihan guru dari berbagai bidang.
  3. Ruang Guru juga menyediakan program Skill Academy yang diperuntukkan bagi para calon pekerja yang sedang melakukan work from home.

Selain Ruang Guru, juga terdapat beberapa platform digital yang lainnya yang bergerak dalam bidang pendidikan dan mudah digunakan, seperti Zenius, Cisco Webex, Zoom, dan lain-lain. Penggunaan media digital untuk literasi sangat mendukung adanya proses pembelajaran secara mandiri. Diharapkan untuk ke depannya dapat digunakan dan dikembangkan secara kontinyu seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini dapat memudahkan siswa, siswa tidak harus datang ke sekolah melainkan hanya dapat mengaksesnya dari rumah.

Daftar Pustaka

https://datareportal.com/reports/digital-2020-indonesia

https://news.detik.com/adv-nhl-detikcom/d-5099866/6-tahun-berdiri-ini-torehan-ruangguru-ke-pendidikan-indonesia

https://lifestyle.kompas.com/read/2020/11/22/181000720/buku-cetak-vs-e-book-mana-yang-paling-baik-untuk-anak?page=all

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Materi Pendukung Literasi Digital. Jakarta (ID): Kemnetrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kurniawan MR, Pambudi DI. 2018. Literasi digital dalam pembelajaran di sekolah dasar (Pentingnya pendidikan karakter bagi generasi digital native). Seminar Nasional Pendidikan Dasar 386-393.

Nama: Sri Irawati

NIP: 197106142003122002

Pangkat/ Gol: Penata TK.I/III d

Unit Kerja: SMA negeri 1 Wangon

By admin

You cannot copy content of this page