Iklan

PENGEMBANGAN E-MODUL PEMBELAJARAN IPS DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS V SD GUGUS DR SUTOMO MANDIRAJA BANJARNEGARA

Aziz pakai khahi-min

Oleh: Aziz Fanani, S.Pd.SD.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan e-modul pembelajaran IPS dan menguji efektivitasnya dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas V SD Gugus dr. Sutomo semester 1 tahun pelajaran 2021/2022. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Riset dan Pengembangan (RnD) model Borg dan Gall. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD di gugus dr. Sutomo yang terdiri dari: SDN 1 Mandiraja Wetan, SDN 2 Mandiraja Wetan, SDN 3 Mandiraja Wetan, SDN 1 Mandiraja Kulon, SDN 3 Mandiraja Kulon, SDN 1 Kebakalan, SDN 2 Kebakalan, dan SDN Banjengan. Penelitian menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian pengembangan menunjukkan bahwa E-Modul Pembelajaran IPS efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan diterima siswa dengan antusias.

Kata Kunci: E-Modul IPS, Kemampuan Berpikir Kritis, Siswa Kelas V SD.

PENDAHULUAN

Salah satu ciri pembelajaran abad 21 adalah pembelajaran yang diarahkan untuk melatih berpikir analitis, seperti dalam proses pengambilan keputusan, bukan berpikir mekanistis dan rutin. Siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis dapat mencermati pendapat orang lain tanpa ragu sehingga dapat menilai benar atau salah berdasarkan kebenaran ilmiah dan pengetahuan (Rahmawati, I., 2016). Pembelajaran yang berlangsung belum sepenuhnya memfasilitasi siswa berpikir kritis. Tingkat berpikir kritis siswa masih rendah. Salah satu penyebab adalah kurangnya sumber belajar (Wahyuni, D., 2020). Kemampuan berpikir kritis dapat diasah dengan menerapkan pembelajaran yang bervariasi.

Bahan ajar merupakan komponen penting dalam pembelajaran. Bahan ajar diperlukan sebagai pedoman beraktivitas dalam proses pembelajaran sekaligus merupakan substansi komponen yang dibelajarkan kepada siswa. Dengan bahan ajar, program pembelajaran dapat dilaksanakan secara lebih teratur karena guru sebagai pelaksana pendidikan akan memperoleh pedoman materi yang jelas.

Ilmu Pengetahuan IPS (IPS) merupakan salah satu muatan pelajaran di tingkat sekolah dasar. IPS sangat penting dipelajari untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas dan mampu mengambil keputusan rasional dalam keanekaragaman budaya (Rahmad, 2016). Fakta di lapangan, pembelajaran IPS cenderung diajarkan dengan model konvensional misalnya ceramah dan siswa diinstruksikan menulis (Arriany, I, 2020). Pembelajaran IPS di SD juga hanya dianggap sebagai pelajaran hafalan saja (Faizah, E.N., 2014).

Penggunaan e-modul pada pembelajaran sangat cocok digunakan. Guru dapat menentukan komposisi, desain dan konsep modul sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Kurikulum 2013 mengamanatkan kegiatan belajar mengajar berbasis student center learning. Penelitian Winatha (2018) menunjukan bahwa pembelajaran dengan modul menjadikan siswa dapat belajar mandiri dan leluasa sesuai dengan kondisi siswa. Sejalan dengan itu, penelitian Pradana (2020) diperoleh hasil bahwa penggunaan e-modul dapat meningkatkan hasil belajar. Penggunaan modul online menjadikan pembelajaran semakin menarik. Dalam e-modul dapat disisipkan gambar dan tautan/link video yang diharapkan siswa lebih antusias dan berpikir kritis terhadap materi IPS yang dipelajari.

Berdasarkan observasi, wawancara dan analisis kebutuhan yang peneliti lakukan di SD Gugus dr. Sutomo Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara didapat kenyataan bahwa guru sebagai pengajar masih banyak yang menggunakan metode dan media konvensional berupa modul cetak dan metode ceramah. Hal ini mengakibatkan materi yang disajikan menjemukan. Jika siswa tidak dibekali dengan bahan ajar yang menarik sebagai sumber belajar maka siswa akan kesulitan mengulang kembali materi pada proses pembelajaran. Perlu dikembangkan bahan ajar yang dapat menjadikan pembelajaran menarik dan menyenangkan.

Salah satu jenis bahan ajar yaitu modul elektronik atau e-modul. Bahan ajar ini memungkinkan adanya gambar dan tautan sebagai bahan ajar yang melengkapi proses belajar siswa. E-modul diharapkan memberi stimulus untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui lembar kerja dan soal yang diberikan. Modul yang ada saat ini kurang mendukung stimulasi berpikir kritis siswa. Modul yang ada belum dilengkapi latihan soal yang memberi stimulus nalar kritis siswa. Perlu dikembangkan modul dengan mendesain variasi soal yang lebih menantang siswa untuk berpikir kritis. Modul dikemas secara digital dan dapat dibuka menggunakan gawai membuat siswa lebih tertarik. Siswa kelas V SD saat ini akrab dengan teknologi informasi sehingga e-modul menjadi nilai tambah sebagai sumber belajar.

Pengamatan peneliti terhadap pembelajaran pada SD yang tergabung dalam Gugus dr. Sutomo Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara menunjukan bahwa proses pembelajaran kurang berjalan dengan baik. Siswa belajar di rumah hanya dipandu lembar kerja dan didampingi orang tua/wali. Sumber belajar hanya dari lingkungan dan internet. Isian lembar kerja mereka tidak sedikit yang tidak sesuai dengan tagihan lembar kerja bahkan jauh dari harapan. Diperlukan sumber belajar yang dapat mendampingi belajar siswa, menarik dan merangsang kemampuan berpikir kritis.

Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara menerapkan kebijakan kegiatan pembelajaran dilakukan secara jarak jauh dengan pembelajaran dalam jaringan (daring). Pembelajaran Jarak Jauh (yang selanjutnya disebut PJJ) di Sekolah Dasar (SD) Kecamatan Mandiraja dilakukan melalui grup WhatsApp. Setiap pekan, orang tua/wali dibagikan lembar kerja yang harus dilakukan siswa di rumah.

Rendahnya pemahaman siswa terhadap pelajaran IPS dan berpikir kritis dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor tersebut ialah proses pembelajaran yang masih tradisional, di mana guru lebih dominan di dalam kelas (teacher center learning). Penerapan proses belajar yang masih tradisional ini membuat siswa tidak terlatih untuk berpikir kreatif, karena belum memberdayakan kemampuan berpikir sehingga ketrampilan berpikir kreatif siswa rendah (Lestari, 2019).

Berhasilnya suatu tujuan pendidikan tergantung pada bagaimana proses belajar mengajar yang dialami oleh siswa. Seorang guru di samping dituntut untuk teliti dalam memilih dan menerapkan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, juga mampu memilih media yang sesuai dengan materi untuk mempermudah dalam menyampaikan materi. Diperlukan media yang dapat menimbulkan daya tarik siswa dalam menyerap materi. Salah satu media yang dapat dikembangkan adalah modul
pembelajaran interaktif berupa modul elektronik (e-modul).

Modul dapat memfasilitasi siswa dalam belajar mandiri maupun konvensional. Modul dilengkapi petunjuk untuk belajar sendiri, sehingga siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya dan dapat memenuhi seluruh kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa. Modul merupakan alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya (Depdiknas, 2008:3). Guru dalam menyampaikan materi atau penjelasan kepada siswa memerlukan berbagai media disesuaikan dengan karakteristik materi pembelajaran. Hal ini karena siswa memerlukan abstraksi yang cukup tinggi untuk memahami materi.

Latar belakang tentang kurangnya bahan belajar yang memberi stimulus kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran IPS menjadikan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian: “Pengembangan E-Modul Pembelajaran IPS dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas V SD Gugus dr. Sutomo Mandiraja Banjarnegara”.

Rumusan masalah penelitian ini adalah: 1. “Bagaimanakah Pengembangan e-modul pembelajaran IPS Kelas V SD Gugus dr. Sutomo Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara?”; 2. “Bagaimana efektivitas penggunaan e-modul pembelajaran IPS Kelas V SD terhadap kemampuan berpikir kritis siswa?”.

Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk: 1. Mengembangkan dan menganalisa e-modul pembelajaran IPS Kelas V SD gugus dr. Sutomo Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara; 2. Menguji dan menganalisa kevalidan dan keefektivan e-modul pembelajaran IPS yang dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa Kelas V SD gugus dr. Sutomo Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara.

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian E-Modul

Modul merupakan jenis kesatuan kegiatan belajar yang terencana, dirancang untuk membantu siswa belajar secara individu untuk mencapai tujuan belajar (Sukiman, 2012:131). Modul merupakan satu kesatuan program yang disusun untuk keperluan belajar.

Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis, di dalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar dengan terencana dan didesain untuk membantu siswa menguasai materi belajar dan untuk evaluasi (Daryanto, 2013:1). Guru terlebih dahulu mengidentifikasi kebutuhan kemudian merencankaan, mendesain dan membuat modul. Modul yang dibuat sesuai kebutuhan siswa dapat menambah daya tarik dan semangat belajar siswa.

Modul merupakan sarana pembelajaran tertulis yang disusun sistematis berisi materi, metode, tujuan pembelajaran, petunjuk kegiatan, dan latihan untuk menguji diri siswa. Modul bersifat self-contained, dikemas dalam satu kesatuan utuh untuk mencapai kompetensi. Modul juga bersifat self-instructional, membelajarkan diri sendiri dan self-alone, tidak bergantung terhadap media lain dalam penggunaannya (Hamdani, 2011:220).

Modul dapat disimpulkan sebagai sumber belajar berisi materi pelajaran, lembar kerja, contoh, dan latihan soal untuk membelajarkan siswa secara mandiri. Electronic modul atau modul elektronik yang selanjutnya disebut e-modul merupakan modul dalam bentuk elektronik yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja menggunakan perangkat elektronik. Modul yang biasanya dalam bentuk cetak kini disajikan dalam bentuk berkas dan diakses menggunakan piranti elektronik.

Tujuan dan Manfaat E-Modul

Penyusunan modul salah satunya bertujuan menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum. Penyusunan modul mempertimbangkan kebutuhan belajar siswa, karakteristik materi pelajaran, karakteristik siswa dan latar belakang kondisi lingkungan dan sosial siswa (Hamdani, 2011:220). Modul sangat tepat disusun masing-masing guru dengan mempertimbangkan kesesuaian kurikulum, kondisi siswa dan lingkungan.

Modul sangat bermanfaat bagi siswa maupun guru. Manfaat modul bagi siswa yaitu melatih siswa belajar mandiri, dapat mempelajari di luar kelas sehingga lebih menarik, leluasa dalam mengekspresikan cara belajar, berkesempatan menguji diri sendiri, dapat membelajarkan diri sendiri, dan mengembangkan kemampuan siswa berinteraksi langsung dengan lingkungan maupun sumber belajar. Manfaat bagi guru yaitu mengurangi ketergantungan buku sumber, memperluas wawasan, menambah pengetahuan dan pengalaman menulis bahan ajar, membangun komunikasi efektif dengan siswa, dan menambah angka kredit (Hamdani, 2011:220-221).

Pengertian IPS

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran di tingkat sekolah dasar maupun menengah sejak kurikulum 1975 (Sapriya, 2019:19). IPS merupakan integrasi beberapa mata pelajaran, yaitu: Sejarah, Ekonomi, Geografi, dan ilmu sosial lainnya (Somantri, M.N., 2001:101). IPS dikenal dunia dengan nama social studies dengan lingkup disiplin ilmu yaitu Antropologi, Ekonomi, Geografi, Sejarah, Filsafat, Ilmu Politik, Psikologi dan Sosiologi. Semua disiplin ilmu tersebut pada hakikatnya memiliki kesamaan objek kajian yaitu manusia (Sapriya, 2019:22). Muatan Pelajaran IPS dapat disimpulkan sebagai proses belajar yang mengintegrasikan konsep-konsep terpilih dari berbagai ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Pembelajaran IPS di SD

IPS merupakan salah satu mata pelajaran wajib dari tingkat SD hingga SMA. Pembelajaran IPS pada masing-masing jenjang pendidikan memiliki karakteristik dan tujuan masing-masing. IPS di SD merupakan integrasi dari sejumlah konsep disiplin ilmu sosial, humaniora, sains bahkan berbagai isu dan masalah sosial kehidupan. Materi IPS SD merupakan suatu bahan kajian terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi diorganisasikan dari konsep-konsep ketrampilan-ketrampilan Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi, dan Ekonomi.

Pembelajaran IPS di persekolahan memiliki dua jenis yaitu integrasi utuh konsep esensial satu disiplin ilmu dan materi ajar disipliner yang merupakan integrasi beberapa disiplin ilmu sosial. Pembelajaran IPS di SD merupakan integrasi disiplin ilmu sosial dan disiplin ilmu lain yang relevan (Andriani, A., 2020:4).

Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar pada kurikulum 2013 dilaksanakan secara tematik, terpadu dengan muatan pelajaran lain dan tergabung dalam sebuah tema besar. Hal ini diamanahkan dalam Permendikbud nomor 67 tahun 2013. IPS di SD merupakan suatu muatan pelajaran.

Adanya muatan pelajaran IPS di SD diharapkan siswa dapat memiliki pengetahuan dan wawasan luas tentang konsep-konsep dasar ilmu sosial dan humaniora, memiliki kepekaan dan kesadaran terhadap masalah sosial di lingkungannya, serta memiliki ketrampilan mengkaji dan memecahkan masalah-masalah sosial tersebut. Lingkungan masyarakat merupakan tempat tumbuh dan berkembang siswa. Mereka akan menghadapi berbagai permasalahan di masyarakat. Siswa harus berpikir dan bertindak dengan tepat sesuai dengan kemampuan berpikir sesuai tahapan perkembangan usianya. Pembelajaran IPS haruslah bermakna dan memfasilitasi siswa berpikir dan memecahkan masalah, tidak sekadar transfer ilmu.

Penelitian ini dilaksanakan pada pembelajaran IPS kelas V SD. Fokus pembelajaran IPS kelas V yaitu: a. Geografi dan Sosiologi: bencana alam dan sosial di provinsi atau pulau/kelompok pulau; b. Sejarah, Sosiologi dan Ekonomi: kisah perjuangan tokoh pada zaman penjajahan barat; c. Sosiologi dan Ekonomi: interaksi dalam kehidupan sosial, ekonomi dan budaya; d. Ekonomi: peran pasar dalam kegiatan Ekonomi dan etika perilaku Ekonomi.

Penelitian ini akan difokuskan pada 4 Kompetensi Dasar (KD) yaitu: KD 3.1. Mengidentifikasi karakteristik geografis Indonesia sebagai negara kepulauan/maritim dan agraris serta pengaruhnya terhadap kehidupan ekonomi, sosial, budaya, komunikasi, serta transportasi; KD 4.1. Menyajikan hasil identifikasi karakteristik geografis Indonesia sebagai negara kepulauan/maritim dan agraris serta pengaruhnya terhadap kehidupan ekonomi, sosial, budaya, komunikasi, serta transportasi; KD 3.2. Menganalisis bentuk bentuk interaksi manusia dengan lingkungan dan pengaruhnya terhadap pembangunan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Indonesia; dan KD 4.2. Menyajikan hasil analisis tentang interaksi manusia dengan lingkungan dan pengaruhnya terhadap pembangunan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Indonesia. Pembelajaran KD ini dilaksanakan pada semester 1 kelas V SD.

Pelaksanaan kurikulum di masa pandemi covid-19 berpedoman pada Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor: 719/P/2020 tentang pedoman pelaksanaan kurikulum pada satuan pendidikan dalam kondisi khusus. Satuan Pendidikan dalam kondisi khusus dalam melaksanakan pembelajaran dapat mengacu pada kurikulum nasional, kurikulum kondisi darurat ataupun melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri. Pembelajaran yang dilaksanakan dalam kondisi khusus tetap menerapkan prinsip aktif, relasi sehat, inklusif, keragaman budaya, berorientasi sosial, berorientasi masa depan, sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa serta menyenangkan.

Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olah Raga Kabupaten Banjarnegara pada tahun pelajaran 2021/2022 menerapkan kurikulum 2013 dengan melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri. Implementasi kebijakan tersebut dalam pembelajaran daring di sekolah dasar yaitu pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan berdasar muatan pelajaran. Tema pembelajaran dibelajarkan dipecah berdasar muatan pelajaran.

Teknis pembelajaran diawali dengan Dinas Pendidikan membuat tim pembuat lembar kerja di tingkat kabupaten untuk tiap tingkat kelas. Setiap awal pekan, lembar kerja dibagi ke orang tua siswa untuk digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran selama satu pekan tersebut. Siswa belajar dari rumah sesuai jadwal dengan panduan lembar kerja. Orang tua, siswa dan guru berkomunikasi melalui grup WhatsApp. Awal pekan berikutnya, orang tua siswa mengumpulkan lembar kerja pekan sebelumnya dan mengambil lembar kerja pekan tersebut.

Pengertian Berpikir Kritis

Berpikir merupakan keterampilan yang berkontribusi dalam proses pemecahan masalah dan partisipasi dalam kehidupan bermasyarakat. Kemapuan berpikir yang perlu dikembangkan di sekolah antara lain menilai data secara kritis, merencanakan, merumuskan faktor sebab-akibat, memprediksi hasil, menyarankan, curah pendapat, berspekulasi, memberi solusi, dan mengajukan pendapat (Sapriya, 2019:52).

Berpikir kritis merupakan kemampuan untuk mempertimbangkan segala sesuatu menggunakan metode berpikir secara konsisten dan merefleksikannya sebagai dasar mengambil keputusan (Sihotang, K., 2019:37). Ada tiga hal pokok yang merupakan esensi berpikir kritis yaitu melakukan pertimbangan secara kontinu, pertimbangan berdasar kajian mendalam dengan menerapkan metode berpikir ktitis dan merefleksikan untuk menghasilkan kesimpulan yang valid.

Berdasar pendapat tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa berpikir kritis merupakan kemampuan menilai dan menarik kesimpulan berdasar metode berpikir konsisten dan merefleksikan untuk menghasilkan kesimpulan yang valid.

Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

Ennis menyampaikan ada 7 indikator berpikir kritis yaitu merumuskan masalah, memberikan pendapat, melakukan pengumpulan data, menganalisis, mengambil keputusan, menarik kesimpulan dan mengevaluasi (Rahmawati, I., 2016). Dalam penelitian ini, indikator kemampuan berpikir kritis meliputi: Menginterpretasi; Mengumpulkan data; Menganalisis; Memberikan pendapat; Menarik kesimpulan.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di 8 Sekolah Dasar yang tergabung dalam gugus dr. Sutomo Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara. Letak gugus SD berada 17 km di barat pusat kota Banjarnegara. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Februari 2021 hingga November 2021.

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (research and development). “Educational research and development (R & D) is a process used to design new products and procedures which then are systematically field-tested, evaluated and refined untuill they meet specified criteria of effectiveness, quality or similar standard”. (Borg and Gall, 2003:569).

Model Borg & Gall mencakup 10 langkah umum, yaitu: (1) research and information collecting yang berkaitan dengan analisis kebutuhan dan studi literatur tentang permasalahan yang dikaji, (2) planning yang berkaitan dengan analisis dan penentuan rencana untuk mencapai tujuan yang akan dicapai pada setiap tahapan, (3) develop preliminary form of product, yaitu pengembangan produk awal yang akan dihasilkan, (4) preliminary field testing, yang berkaitan dengan uji validasi produk, (5) main product revision, yaitu melakukan perbaikan terhadap produk awal yang dihasilkan berdasarkan hasil validasi, (6) main field testing, yaitu uji coba awal produk yang dihasilkan, (7) operational product revision, yaitu melakukan perbaikan terhadap hasil uji coba awal sehingga produk yang dihasilkan merupakan desain yang siap diujicoba lebih luas, (8) operational field testing, yaitu uji coba utama yang melibatkan khalayak lebih luas, (9) final product revision, yaitu perbaikan akhir, (10) dissemination and implementation, yaitu langkah menyebarluaskan produk yang dihasilkan kepada khalayak luas (Sugiyono, 2017:35-37).

Sumber data terdiri dari: 1. Siswa kelas V SD di gugus dr. Sutomo; 2. Guru kelas V di gugus dr. Sutomo; 3. Dosen (validator ahli) serta kepala sekolah dan guru (validator praktisi). Teknik dan instrumen pengumpulan data menggunakan wawancara, angket, dan tes.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada tahap pendahuluan diperoleh temuan dan fakta sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran. Tahap ini dilakukan dengan wawancara kepada guru dan siswa kelas V SD gugus dr. Sutomo. Hasil wawancara dengan guru sebagai berikut:

Tabel 1. Hasil Wawancara guru terhadap kebutuhan e-modul pembelajaran

No Hasil analisis
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

Sumber belajar yang digunakan yaitu buku tematik, media online dan lingkungan sekitar

Sumber belajar belum begitu bagus karena masih banyak kendala memberikan arahan kepada siswa

Sebagian siswa sukar memahami sumber belajar yang telah ada

Sumber belajar saat ini belum maksimal membantu mencapai tujuan pembelajaran

Sebagian materi telah dikaitkan dengan lingkungan

Sumber belajar yang digunakan belum optimal memfasilitasi anak untuk berpikir kritis

Sumber belajar lebih mudah menggunakan perangkat/gawai

Jenis bahan ajar pembelajaran IPS yang diinginkan yaitu bahan ajar digital yang praktis dan efektif

Soal dalam bahan ajar hendaknya disusun secara komprehensif memancing daya kritis siswa

Bahan ajar yang diinginkan disertai ilustrasi dan gambar yang menarik

(Sumber: Peneliti, 2021)

Hasil wawancara siswa sebagai berikut:

Tabel 2. Hasil Wawancara siswa terhadap kebutuhan e-modul pembelajaran

No. Hasil analisis
1.

2.

3.

4.

5.

Sumber belajar yang digunakan buku paket dan lembar kerja

Sumber belajar belum begitu mudah dipahami

Sumber belajar saat ini belum maksimal membantu mencapai tujuan pembelajaran

Belum semua materi dikaitkan dengan lingkungan

Sumber belajar yang digunakan belum optimal memfasilitasi anak untuk berpikir kritis

Sumber belajar lebih mudah menggunakan perangkat/gawai

(Sumber: Peneliti, 2021)

Temuan dan fakta pada tahap pendahuluan dijadikan dasar produk bahan ajar yang akan dikembangkan yaitu berupa e-modul. Pada tahap pengembangan, produk yang dihasilkan berupa konseptual e-modul pembelajaran yang telah divalidasi ahli dan praktisi. Hasil validasi ahli dan praktisi sebagai berikut:

Tabel 3. Rekapitulasi Skor Validasi

Validasi materi/

konten

Validasi

desain

Validasi

praktisi 1

Validasi

praktisi 2

e-modul

pembelajaran

76,8 88,33 81,28 96,67

(Sumber: Peneliti, 2021)

Berdasarkan hasil validasi e-modul pembelajaran oleh validator ahli dan praktisi, diperoleh data kriteria validitas yang tersaji pada Tabel 4.

Tabel 4. Kriteria Validasi E-modul Pembelajaran

Rerata Skor

Perolehan

Kriteria Kesimpulan
e-modul

pembelajaran

85,77 % Baik Memenuhi kriteria baik sehingga dapat dipergunakan untuk ujicoba produk

(Sumber: Peneliti, 2021)

Pada tahap uji coba utama menghasilkan data pretes dan postes penggunaan e-modul pembelajaran di dalam kelas. Tes dianalisis dengan deskripsi kuantitatif berupa uji normalitas, uji homogenitas dan uji efektivitas.

Hasil uji normalitas diperoleh data tidak berdistibusi normal dan uji homogenitas data tidak homogen maka uji efektivitas e-modul terhadap kemampuan berpikir kritis menggunakan uji Mann Whitney. Jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) < 0,05 maka ada perbedaan hasil kemampuan berpikir kritis menggunakan e-modul. Uji Mann Whitney menggunakan SPSS 25. Hasil uji Mann Whitney sebagai berikut.

Tabel 5. Hasil uji Mann Whitney

Kelas N Mean Rank Sum of Ranks
Hasil

Belajar

Kelas Kontrol 30 15.50 465.00
Kelas

Eksperimen

25 43.00 1075.00
Total 55
Test Statisticsa
Hasil Belajar
Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 465.000
Z -6.366
Asymp. Sig. (2-tailed) .000

Hasil uji Mann Whitney diperoleh nilai asymp.sig (2-tailed) = 0,000 < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Dengan kata lain, terdapat perbedaan signifikan penggunaan e-modul pembelajaran kelas V IPS terhadap kemampuan berpikir kritis siswa.

PENUTUP

Kesimpulan dari penelitian pengembangan yaitu: 1. Produk berupa e-modul pembelajaran IPS Kelas V SD siap digunakan sebagai sumber belajar. 2. E-modul pembelajaran IPS kelas V SD efektif meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas V SD.

Saran yang bisa disampaikan yaitu: pengembangan produk e-modul sejenis diharapkan bisa dikembangkan oleh peneliti atau guru yang lain. Sehingga ikhtiar memenuhi sumber belajar alternatif bisa terpenuhi.

DAFTAR PUSTAKA

Andriani, A., Widjajanti, Koswara, J 2020. Model Simulasi Sosial Mendidik Warga Negara yang Baik. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.

Arriany, I, Ibrahim, N, Sukardjo, M. 2020. Pengembangan Modul Online untuk Meningkatkan hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Jurnal Inovasi teknologi Pendidikan volume 7 no 1, April 2020.

Borg, W.R. & Gall, M. 2003. Educational Research, an Introduction. New York: Longman.

Daryanto. 2013. Menyusun Modul: Bahan Ajar untuk Persiapan Guru dalam Mengajar. Yogyakarta: Gava Media.

Faizah, E.N. 2014. Peningkatan keterampilan berpikir kritis melalui model pembelajaranan discovery siswa pada pembelajaran IPS di SD. JPGSD vol. 02 nomor 03

Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV Pustaka Setia

Kamus Besar Bahasa Indonesia online.

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus

Lestari, P.A.S., Gunawan, Kosim. 2019. Model pembelajaran discovery learning dengan pendekatan konflik kognitif berorientasi pada kemampuan berpikir kritis peserta didik. Jurnal Pendidikan Fisika dan Teknologi vol. 5 no. 1, Juni 2019.

Pradana, RA dkk. 2020. Pengembangan e-modul berbasis moile learning mata pelajaran seni budaya konsep, seni dan keindahan kelas X SMKN 1 Turen Malang. JINOTEP vol. 6(2)(2020):89-96.

Rahmad. 2016. Kedudukan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada Sekolah Dasar. Muallimuna Jurnal Madrasah Ibtidaiyah.

Rahmawati, I. 2016. Analisis keterampilan berpikir kritis siswa SMP pada materi gaya dan penerapannya. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA Pascasarajana UM

Sapriya. 2019. Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sihotang, K. 2019. Berpikir Kritis Kecakapan Hidup di Era Digital. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Somantri, MN. 2001. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian dan Pengembangan (Research and Development/ R&D). Bandung: Alfabeta

Sukiman. 2012. Pengembangan Media Pembelajaran. Yogyakarta: Pedagogia.

Wahyuni, D dkk. 2020. Efektivitas e-modul berbasis problem solving terhadap keterampilan berpikir kritis siswa. Jurnal Penelitian bidang IPA dan Pendidikan IPA vol. 6 no 2 tahun 2020: 180-189

Winatha, KR dkk. 2018. Pengembangan E-modul Interakatif Berbasis Proyek Mata pelajaran Simulasi Digital. Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan vol. 15, Juli 2018.

BIODATA PENULIS

Biodata Penulis

Nama : Aziz Fanani, S.Pd.SD.

NIP : 19851214 200903 1 004

Jabatan : Guru Muda

Pangkat, Gol : Penata, III/c

Unit Kerja : SD Negeri 1 Mandiraja Wetan Korwilcam Dikpora Mandiraja.

By admin

You cannot copy content of this page