Iklan

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF LEARNING MODEL TEAM GROUP TOURNAMENT UNTUK MENIINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN IPS TENTANG KENAMPAKAN ALAM DAN SOSIAL NEGARA-NEGARA ASIA TENGGARA BAGI SISWA KELAS VI SD NEGERI 2 WINDUNEGARA TAHUN 2019/2020

Oleh : Rudiyanto, S.Pd.SD

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada Kompetensi Dasar Kenampakan Alam dan Sosial Negar-Negara Asia Tenggara pada siswa kelas VI Semester I SD Negeri 2 Windunegara tahun pelajaran 2019/2020. Dipilihnya Penerapan pembelajran kooperatif Learning model Team Group Tournament (TGT) ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran. Pembelajaran Koopertif Learning Model Team Group Tournament (TGT) ini merupakan pembelajaran yang mengutamakan penanaman kemampuan sikap sosial terutama kemampuan bekerjasama, berinteraksi tapi juga berkompetisi sehingga suasana kelas menjadi hidup tidak membosankan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri atas 2 siklus. Subyek penelitian adalah siswa kelas VI SD Negeri 2 Windunegara tahun 2019/2020 sebanyak 18 siswa. Analisis data menggunakan teknik analisis diskriptif komparatif dengan membandingkan kondisi awal dengan hasil-hasil yang dicapai pada setiap siklus, dan analisis deskriptif kualitatif hasil observasi dengan membandingkan hasil observasi dan refleksi pada siklus I dan siklus II Dengan penerapan pembelajaran kooperatif learning model team group tournament (TGT) pada kompetensi dasar Kenampakan Alam dan Sosial Negara-Negara Asia Tenggara pada siswa kelas VI SD Negeri 2 Windunegara tahun pelajaran 2019/2020. Pada akhir siklus II diketahui telah terjadi peningkatan rata-rata kelas 58,59 %, yaitu dari rata- rata tes kondisi awal 4,83 menjadi 7.66. Sedangkan ketuntasan belajar siswa ada peningkatan sebesar 53%, dari kondisi awal yang sudah tuntas hanya 4 siswa menjadi 14 siswa. Dengan demikian sebagian besar siswa kelas VI SD Negeri 2 Windunegara mengalami peningkatan hasil belajar pada kompetensi dasar Kenampakan Alam dan Sosial Negara-Negara Asia Tenggara

Kata Kunci : Pembelajaran , Kooperatif Learning, Team Gruop Tournament

PENDAHULUAN

Latar belakang

Salah satu indikator pendidikan berkualitas adalah perolehan nilai hasil belajar siswa. Nilai hasil belajar dapat lebih meningkat jika pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien serta kecakapan guru dalam pengelolaan kelas dan pengusaan materi yang memadai.

Berdasarkan hasil refleksi peneliti dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di kelas VI SD Negeri 2 Windunegara untuk beberapa kompetensi dasar umumnya menunjukkan nilai yang rendah. Hal ini karena standar kompetensi dan kompetensi dasar IPS kelas VI memang sarat akan materi. Jika dilihat dari hasil ulangan harian sebagian besar masih di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu sebesar 83,34%, hanya 16,66 % siswa yang telah memenuhi standar ketuntasan minima. Dengan rata –rata kelas sebesar 4,83. Rendahnya prestasi belajar IPS di kelas VI SD Negeri 2 Windunegara, dimungkinkan mata pelajaran IPS cukup sarat akan materi sedangkan alokasi wktu sangat terbatas juga karena guru belum kreatif, inovatif dan juga belum menggunakan metode, model atau pun media pembelajaran yang tepat sehingga susana pembelajaran kurang bermakna dan cepat membosankan.

Identifikasi Masalah

Dari uaraian yang dikemukakan dalam latar belakang masalah tersebut diatas, dapat diidentifikasikan masalah-masalah antara lain :

  1. Mata Pelajaran IPS di SD cukup sarat akan materi, tapi jumlah alokasi waktu sangat terbatas.
  2. Kegiatan belajar mengajar masih satu arah sehingga kreatifitas siswa kurang berkembang secara optimal.
  3. Perlunya model pembelajaran yang efektif dan inovatif sehingga siswa tidak cepat bosan dan lebih bermakna.

Perumusan Masalah

Dari uaraian yang dikemukakan dalam latar belakang masalah tersebut diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah Apakah melalui Penerapan Pembelajaran Kooperatif Learning Model Team Group Tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS tentang Kenampakan Alam dan Sosial Negara-Negara Asia Tenggara bagi siswa kelas VI Semester 1 SD Neger 2 Windunegara Kecamatan Wangon Tahun Pelajaran 2019/2020?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan unutk mengetahui efektifitas penerapan pembelajaran kooperatif learning model Team Group Tournament (TGT) dalam meningkatan hasil belajar mata pelajaran IPS siswa kelas VI Semester 1 SD Negeri 2 Windunegara dengan materi pokok tentang Kenampakan Alam dan Sosial Negara-Negara Asia Tenggara

Manfaat Penelitian

Bagi siswa dapat meningkatkan prestasi hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial materi tentang Kenampakan Alam dan Sosial Negar-Negara Asia Tenggara. Bagi Guru hasil penelitian diharapkan menjadi bahan rujukan buntuk melakukan kreatifitas dan inovasi dalam meningkatkan proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran yanga beragam. Bagi sekolah hasil pemelitian diharapkan dapat dijadikan bahan masukan untuk meningkatkan mutu akademik siswanya.

KAJIAN PUSTAKA

Landasan Teori

Belajar merupakan usaha yang dilakukan setiap manusia dalam rangka untuk mencapai sesuatu yang ingin dicapai. Menurut Suryabrata, Sumadi ( 2002;232) menyimpulkan tentang belajar yaitu:(1) belajar itu membawa perubahan;(2) perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru;(3) perubahan itu terjadi karena usaha dengan sengaja .Belajar adalah suatu proses di mana suatu tindakan muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi (Sukmadinata,2003:15). Hal ini yang juga terkait dengan belajar adalah pengalaman, pengetahuan yang berbentuk interaksi dengan orang lain atau lingkungannya.

Menurut paham Progresivisme Jhon Dewey ( Pahyono, 2005 : 4) Siswa belajar dengan baik apabila mereka secara aktif dapat mengkonsruksikan sendiri pemahaman mereka tentang apa yang diajarkan oleh guru. Anak harus bebas agar bisa berkembang wajar. Penumbuhan minat melalui pengalaman langsung untuk merangsang belajar. Guru sebagai pembimbing dan peneliti. Harus ada kerja sama antara sekolah dan masyarakat.

Hasil belajar siswa dalam hal ini meliputi tiga aspek, yaitu (1) aspek kognitif, meliputi: pengetahuan, pemahaman,penerapan,analisis, sintesis, dan evaluasi.(2) Aspek afektif, meliputi penerimaan, partisipasi, penilaian,dan penentuan sikap, (3)Aspek psikomotorik meliputi: persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks,gerakan penyesuaian dan kreativitas.( Hamalik,2003:160)

Dalam Badan Standar Nasional Pendidikan ( BSNP, 2007: 18) Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya, memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial, memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, serta memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional dan global.

Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning) Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Adapun berbagai elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya: (1) saling ketergantungan positif; (2) interaksi tatap muka; (3) akuntabilitas individual, dan (4) keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja.

Karakteristik pembelajaran Kooperative Learning model Team Group Tournament memunculkan adanya kelompok dan kerja sama dalam belajar, disamping itu terdapat persaingan antar individu dalam kelompok maupun antar kelompok. Oleh sebab itu penerapan pembelajaran Kooperative Learning model Team Group Tournament diharapkan mampu mengatasi keterbatasan waktu, guru tidak lagi harus secara marathon menjelaskan materi. Kemampuan dan potensi yang dimiliki siswa cukup dengan arahan dan bimbingan guru.Pembelajaran Kooperatif Learning dengan berbagai model dikembangkan berlandaskan teori belajar Konstruktivisme (Contructivisme). Model pembelajaran kooperatif learning model Team Group Tournament (TGT) lebih banyak dipilih karena waktu relatif lebih singkat dan cara melakukannya relatif lebih mudah.

Kerangka Berfikir

Secara Skematis uraian digambarkan kerangka pemikirannya sebagai berikut:

Gambar 2. Diagram alur penelitian tindakan Kelas

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, maka penulis membuat suatu hipotesis tindakan sebagai berikut: Melalui pembelajaran Kooperatif Learning model Team Group Tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar IPS tentang Kenampakan Alam dan Sosial Negar-Negara Asia Tenggara. bagi siswa kelas VI Semester I SDN 2 Windunegara Kecamatan Wangon Tahun pelajara 20219/2020

METODOLOGI PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kelas VI SD Negeri 2 Windunegara Korwilcam Dindik Kec. Wangon pada semester I tahun pelajaran 2019/2020. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada hari-hari efektif sesuai dengan jadwal jam pelajaran .

Subyek Penelitian

Berdasarkan judul penelitian yaitu upaya meningkatakan hasil belajar IPS melalui penerapan pembelajaran kooperatif learning model team group tournament (TGT) pada siswa siswa kelas VI SD Negeri Windunegara tahun pelajaran 2019/2020, maka subyek penelitiannya adalah siswa kelas VI SD Negeri Windunegara.

Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah data yang dikumpulkan dari siswa meliputi data hasil tes tertulis. Tes tertulis dilaksanakan pada setiap akhir siklus yang terdiri atas materi Kenampakan Alam dan Sosial Negar-Negara Asia Tenggara. Penulis juga menggunakan teman sejawat sebagai sumber data.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini pengumpulan data menggunakan teknik tes dan non tes. Tes tertulis digunakan pada akhir siklus I dan siklus II, Sedangkan Teknik non tes meliputi teknik observasi dan dokumentasi. Sedangkan teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data khususnya nilai mata pelajaran IPS. Alat pengumpulan data meliputi:

Tes tertulis terdiri atas beberapa butir soal essay dan non tes meliputi lembar observasi dan dokumen.

Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis dekskriptif, yang meliputi: Analisis deskriptif komparatif hasil belajar dengan cara membandingkan hasil belajar pada siklus I dengan siklus II dan membandingkan hasil belajar dengan indikator pada siklus I dan siklus II. Analisis deskriptif kualitatif hasil observasi dengan cara membandingkan hasil observasi dan refleksi pada siklus I dan siklus II.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang ditandai dengan adanya siklus, adapun dalam penelitian ini terdiri atas 2 siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

HASIL PENELITIAN

Deskripsi Kondisi Awal

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sebelum pelaksanaan tindakan kelas, guru mengajar secara konvensional. Guru cenderung menstranfer ilmu pada siswa, sehingga siswa pasif, kurang kreatif, bahkan cenderung bosan. Berdasarkan hasil analisis digambarkan dalam bentuk tabel dibawah ini

Tabel Nilai Tes Pra Siklus

NO Hasil (Angka) Hasil(Huruf) Arti Lambang Jumlah Siswa Persen
1 85-10 A Sangat baik 0 %
2 75-84 B Baik 4 22.2 %
3 65-74 C Cukup 5 27,8 %
4 55-64 D Kurang 6 33,3 %
5 <54 E Sangat Kurang 3 16,7 %
Jumlah 18 100%

Deskripsi Hasil Siklus I

Perencanaan Tindakan

Perencanaan tindakan dalam siklus I Berdasarkan materi yang dipilih tersebut, kemudian disusun ke dalam RPP . Masing-masing RPP diberikan alokasi waktu sebanyak 2 x 35 menit, Dengan demikian, selama siklus I terjadi 2 kali tatap muka. Pembentukan kelompok-kelompok belajar Pada siklus I, siswa dalam satu kelas dibagi menjadi 4 kelompok kecil dengan memperhatikan heterogenitas baik kemampuan, gender.

Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan pada siklus I dapat dideskripsikan sebagai berikut: Pelaksanaan tatap muka. Tatap muka I dan II dengan RP tentang materi Kenampakan Alam dan Sosial Negar-negara Asia Tenggara. Metode pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran kooperatif learning model TGT dengan panduan Lembar Kerja Siswa. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut; Secara kelompok siswa berkompetisi menempelkan pias–pias peta pada peta yang telah didesain. Secara kelompok siswa bertanya jawab antar kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Guru memberi umpan balik dengan mengadakan evaluasi berupa tes.

Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada siklus I dapat dideskripsikan bahwa berdsarkan ketuntasan belajar siswa dari sejumlah 18 siswa terdapat 7 atau 38,88 % yang sudah mencapai ketuntasan belajar. Sedangkan 11 siswa atau 61,11% belum mencapai ketuntasan dengan nilai rata-rata kelas sebesar 6,67

Refleksi

Berdasarkan hasil tes kemampuan awal dengan hasil tes kemampuan siklus I dapat dilihat adanya pengurangan jumlah siswa yang masih di bawah Kriteria ketuntasan Minimal. Pada pra siklus jumlah siswa yang dibawah KKM sebanyak 14 anak dan pada akhir siklus I berkurang menjadi 7 anak. Nilai rata-rata kelas meningkat dari 4,83 menjadi 6,67. Jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I, seperti disajikan dalam tabel berikut ini.

Perbandingan Hasil Nilai Tes Pra Siklus dan Siklus I

No Hasil tes

(dalam huruf )

Jumlah siswa yang berhasil
Pra siklus Siklus I
1 A (85 -100) 2
2 B (75-84) 4 9
3 C (65-74) 5 6
4 D (55-64) 6 1
5 E (< 54) 3
Jumlah 18 18

Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif learning model team group tournament (TGT) mampu meningkatkan hasil belajar, rata-rata kelas pun mengalami kenaikan menjadi 6,67. Walaupun sudah terjadi kenaikan seperti tersebut di atas, namun hasil tersebut belum optimal. Hal ini dapat terlihat dari hasil observasi bahwa dalam kegiatan pembelajaran masih terdapat beberapa siswa yang kurang aktif dalam melakukan kegiatan pembelajaran, Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan pembelajaran pada siklus II.

Deskripsi Hasil Siklus II

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, maka pelaksanaan tindakan pada siklus II dapat dideskripsikan sebagai berikut.

  1. Perencanaan tindakan Dalam siklus II, pada hakikatnya merupakan perbaikan atas kondisi siklus I. Atas dasar materi pelajaran tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pembentukan kelompok siswa Pada siklus II, strategi pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran kooperatif learning model TGT dikemas dalam bentuk kuis yang dikompetisikan antar kelompok, sehingga siswa dibagi menjadi 4 kelompok untuk memperebutakan penempatan letak peta secara benar tepat dan cepat
  2. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan pada siklus II dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Pada pelaksanaan pembelajaran pada siklus II siswa masaih belajar secara kelompok, namun dalam kegiatan kelompok ini siswa tertantang untuk lebih mandiri dalam menguasai materi. Karena disamping belajar secara kelompok , namun mereka antar individu harus berkompetisi secara pribadi .Wawancara dilaksanakan pada saat siswa melakukan kegiatan pembelajaran. Wawancara diperlukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam memahami, memadukan dengan mata pelajaran lain. Disamping itu, wawancara digunakan untuk mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dialami oleh siswa. Hasil wawancara digunakan sebagai bahan refleksi. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui aktivitas siswa secara langsung dalam proses pembelajaran. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi.

Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada siklus II dapat dideskripsikan bahwa berdsarkan ketuntasan belajar siswa dari sejumlah 18 siswa terdapat sebanyak 16 siswa ( 88,88%) yang berarti sudah ada peningkatan . Rata-rata kelas pun menjadi meningkat Hasil Nilai Rata- rata Siklus II adalah 7,66

Refleksi

Berdasarkan nilai hasil siklus I dan nilai hasil siklus II dapat diketahui bahwa pembelajaran kooperatif learning model team group tournament dapat meningkatkan hasil belajar IPS, khususnya Kompetensi Dasar Kenampakan Alam dan Sosial Negara-Negara Asia Tenggara. Untuk lebih jelasnya pada tabel berikut dipaparkan hasil refleksi pada siklus II.

Perbandingan Hasil Tes Pra siklus, siklus I dan Siklus II

NO HasilLambang

Angka

Hasil Evaluasi Arti Lambang Pra tindakan Model Siklus I Model Siklus II
1 85-100 A Sangat Baik 2 4
2 75-84 B Baik 4 9 12
3 65-74 C Cukup 5 6 2
4 55-64 D Kurang 6 1
5 <54 E Sangat Kurang 3
Jumlah 18 18 18

Jika dibandingkan antara keadaan kondisi awal , siklus I dan siklus II dapat dilihat bahwa saat kondisi awal rata- rata kelas sebesar 4,83 , sedangkan nilai rata- rata kelas siklus II sudah ada peningkatan menjadi 6,67. Adapun kenaikan rata – rta pada siklus II menjadi 7,66.

2. Pembahasan

Dengan melihat perbandingan hasil tes siklus I dan siklus II ada peningkatan yang cukup signifikan, baik dilihat dari ketuntasan belajar maupun hasil perolehan nilai rata- rata kelas. Jika dibandingkan antara keadaan kondisi awal , siklus I dan siklus II dapat dilihat bahwa saat kondisi awal rata- rata kelas sebesar 4,83 , sedangkan nilai rata- rata kelas siklus II sudah ada peningkatan menjadi 6,67. Adapun kenaikan rata – rta pada siklus II menjadi 7,66. Berdasarkan hasil penelitian dapat dinyatakan bahwa pembelajaran kooperatif learning model Team Group tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar IPS khususnya penguasaan Kompetensi Dasar Kenampakan Alam dan Sosial Negara – Negara Asia Tenggara. pada siswa kelas VI Semester I tahun pelajaran 2019/2020.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan Pembelajaran Kooperatif Learning model Team Group Tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS khususnya Kompetensi Dasar Kenampakan Alam dan Sosial Negara – Negara Asia Tenggara. bagi siswa kelas VISemester 1 SD Negeri Windunegara 1 Kecamatan WangonKota Banyumas Tahun Pelajaran 2019/2020. Pada akhir siklus I, siswa yang mencapai ketuntasan belajar sebanyak 61,11% (11 anak), dan siswa yang belum tuntas sebanyak 38,89% (7 anak), sedangkan pada akhir siklus II, sebanyak 88,89% (16 anak) dan sebanyak 11, 11% (2 anak) belum mencapai ketuntasan belajar. Dengan nilai rata- rata kelas siklus I 6,67 dan rata- rata kelas siklus II 7,66. adapun hasil non tes pengamatan proses belajar menunjukkan perubahan siswa lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsung . Secara keseluruhan rata-rata kelas mencapai kenaikan sebesar 58,59% , dan ketuntasan belajar siswa secara keseluruhan mencapai peningkatan sebesar.553%. jika dibandingkan dengan kondisi awal .

DAFTAR PUSTAKA

BNSP, 2007. Standar Kompetensi dan kompeternsi Dasar . Jakarta. Depdiknas

BNSP , 2007. Pedoman Penilaian Hasil Belajardi SD . Jakarta. Depdiknas.

BNSP , 2007. Pedoman Penilaian Hasil Belajar di SD . Jakarta. Depdiknas.

Hamalik, Oemar. (2003). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Pahyono, dkk. 2005. Strategi Pembelajaran efektif , Model pembelajaran Kooperatif Learning. Makalah disampaikan pada diklat guru kurikulum KBK di LPMP Jawa Tengah.

Sukmadinata, Nana Syaodih, 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Suryabrata, Sumadi. (2002). Psikologo pendidikan. Jakarta: PT Grafindo Perkasa Rajawali

BIODATA PENULIS

Nama : Rudiyanto, S.Pd.SD.

NIP : 19731005 200604 1 014

Unit Kerja : SD Negeri 2 Windunegara, Korwilcam Wangon

By admin

You cannot copy content of this page