Iklan

Mudahnya Pacaran dalam Pembelajaran Kata Baku Bahasa Indonesia

Erlin Krisnawati, S.Pd.

SMA Negeri 1 Banyumas, Banyumas, Jawa Tengah

Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah

Bahasa Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran wajib di Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk semua tingkat dan program studi. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan pada pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam penerapannya. Apakah yang dimaksud bahasa Indonesia yang baik dan benar? Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bahasa yang baik adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan situasi pemakaiannya, sedangkan bahasa yang benar adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah (aturan) bahasa (Kemendikbud, 2015:26). Penggunaan bahasa yang baik dan benar sangat dianjurkan untuk diterapkan di sekolah, baik oleh guru maupun peserta didik. Mengingat hampir semua kegiatan di sekolah dilaksanakan dalam situasi resmi, peserta didik harus menggunakan kosakata baku ketika berbahasa Indonesia dalam situasi resmi di sekolah.

Namun demikian, kenyataan yang terjadi benar-benar memprihatinkan. Banyak peserta didik yang menggunakan kosakata tidak baku dalam situasi resmi di sekolah, baik dalam ragam lisan maupun tulis. Misalnya, dalam rapat OSIS, komunikasi antara peserta didik dengan guru baik di dalam kelas maupun di luar kelas (di kantor), dan lain-lain. Dalam bahasa tulis, ketika peserta didik mengerjakan tugas, misalnya, seringkali ditemukan kosakata tidak baku yang dipergunakan oleh peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan peserta didik dalam berbahasa Indonesia secara baku masih rendah.

Selain rendahnya kemampuan berbahasa baku, minat peserta didik untuk mempelajari kata baku bahasa Indonesia juga masih sangat rendah. Pada umumnya, peserta didik kurang antusias mengikuti pembelajaran mengenai kata baku bahasa Indonesia. Mereka tidak pernah berpikir bahwa tidak setiap kata yang mereka jumpai atau mereka baca ditulis dengan benar. Setiap orang memiliki kemampuan dan pengetahuan tata tulis atau ejaan yang berbeda-beda sehingga memungkinkan bahwa setiap tulisan yang kita baca belum tentu benar ejaannya. Keterbatasan jumlah kamus yang dimiliki oleh sekolah juga menjadi pemicu kemalasan anak untuk bergantian mencari kata lewat kamus (KBBI) dan aturan penulisan ejaan yaitu Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Keduanya, KBBI dan PUEBI merupakan dasar aturan penulisan dalam bahasa Indonesia.

Perlunya Mengaktifkan Peserta Didik

Peserta didik bukanlah objek pendidikan melainkan subjek pendidikan. Oleh karena itu, ia harus diperlakukan dan memperlakukan dirinya bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek yang aktif dalam kegiatan belajar (Gulo, 2002:23). Berawal dari kondisi tersebut, penulis berupaya mencari strategi yang diharapkan dapat menjadikan pembelajaran tentang kata baku bahasa Indonesia menarik minat peserta didik. Apabila pembelajaran menarik maka kemampuan peserta didik mengenai penggunaan kata baku dalam bahasa Indonesia diharapkan dapat meningkat. Penulis berasumsi bahwa pembelajaran mengenai kata baku bahasa Indonesia akan lebih diminati oleh peserta didik apabila dikaitkan secara langsung dengan dunia nyata di sekitar peserta didik. Hal ini sejalan dengan konsepsi metode kontekstual, yakni menghubungkan antara pengetahuan yang dimiliki peserta didik dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga maupun masyarakat (Suyatno, 2004:39). Belajar dari lingkungan sekitar yang lekat dengan kehidupan kita sehari-hari barangkali lebih mengena karena secara otomatis kegiatan ini disadari atau tidak akan terus berulang.

Pada kenyataannya jumlah Kamus Besar Bahasa Indonesia yang ada di perpustakaan sekolah kurang memadai, hanya sekitar sepuluh KBBI bahkan PUEBI sebagai pedoman aturan penulisan kata baku tidak tersedia di perpustakaan sekolah. Sementara jumlah peserta didik sangat banyak yaitu 1282 peserta didik sehingga perbandingannya satu kamus dibaca 128 peserta didik. Rentang waktu pertemuan guru dengan peserta didik di kelas cukup lama seminggu dua kali sehingga memungkinkan lupa menanyakan kebakuan kata yang dilihat ataupun dibaca. Kondisi yang demikian membuat penulis berpikir bagaimana caranya agar peserta didik setiap kali melihat kata atau membaca tulisan tanpa menunggu bertemu dengan guru untuk bertanya atau tidak harus ke perpustakaan, keterbatasan jumlah KBBI dan tidak adanya PUEBI, menemukan penggunaan dan penulisan kata dengan benar secara langsung atau pada saat itu juga.

Ada dua fenomena yang diamati oleh penulis berkaitan dengan pembelajaran kata baku dalam bahasa Indonesia. Fenomena yang pertama, saat ini hampir semua peserta didik memiliki telepon genggam. Telepon genggam yang dimiliki peserta didik kebanyakan lebih canggih, artinya memiliki fitur lebih lengkap sebagai sarana pembelajaran. Fenomena yang kedua, penulis melihat kenyataan di lapangan bahwa banyak sekali penggunaan kata tidak baku yang dipergunakan oleh masyarakat di lingkungan sekitar, seperti dalam penulisan papan nama, spanduk, iklan, dan lain-lain. Oleh karena itu, penulis menggabungkan kedua fenomena tersebut untuk membuat inovasi strategi pembelajaran mengenai kata baku bahasa Indonesia. Strategi yang penulis gagas bernama Pacaran, merupakan akronim dari kata Pasang Aplikasinya, Cari Kata, dan Analisis. Aplikasi yang dipasang dalam telepon genggam peserta didik adalah KBBI dan PUEBI. Dua aplikasi ini merupakan pedoman atau acuan penulisan kata baku bahasa Indonesia.

Pemanfaatan Aplikasi di Era Teknologi

Peserta didik seolah tidak dapat melepaskan diri dari kegemaran menggunakan telepon genggam dalam kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan telepon genggam oleh peserta didik diarahkan bukan hanya untuk berkomunikasi antarsesama melainkan juga sebagai sarana memperoleh pengetahuan. Salah satu di antara beberapa manfaat pengetahuan yang diperoleh peserta didik dari telepon genggam dengan cara memasang aplikasi KBBI dan PUEBI. Apabila hal ini diterapkan dalam kegiatan pembelajaran tentu mereka akan merasa mudah sehingga tidak menganggap pembelajaran sebagai aktivitas yang membebani dan membosankan. Oleh karena itu, penulis berupaya memecahkan permasalahan pembelajaran kata baku bahasa Indonesia dengan memanfaatkan aplikasi KBBI dan PUEBI menggunakan telepon genggam. Upaya yang penulis terapkan dengan menggunakan strategi Pacaran (Pasang Aplikasinya, Cari kata, dan Analisis).

Penerapan strategi Pacaran dalam pembelajaran diarahkan agar peserta didik memanfaatkan teknologi telepon genggam untuk mencari dan menemukan penggunaan kosakata bahasa Indonesia di lingkungan masyarakat sekitar, khususnya penggunaan kata baku bahasa Indonesia. Kesalahan berbahasa yang banyak terjadi di masyarakat itulah yang menjadi objek bagi peserta didik untuk memperoleh data mengenai kata baku dan tidak baku dalam bahasa Indonesia. Misalnya, tulisan yang sering kita lihat dan jumpai kesalahan penulisannya antara lain praktek dokter, apotik pada papan nama, antar kota antar propinsi pada badan bus, ikut mensukseskan pada bentangan spanduk, dll. Tulisan-tulisan tersebut tidak baku. Tulisan yang benar sesuai dengan kaidah kebahasaan berturut-turut sebagai berikut praktik dokter, apotek, antarkota antarprovinsi, menyukseskan.

Pelaksanaan Teknik Pacaran

  1. Langkah-langkah yang dapat dilakukankan oleh peserta didik dalam penerapan strategi Pacaran sebagai berikut.
  2. Peserta didik memasang aplikasi KBBI dan PUEBI di telepon genggam masing-masing.
  3. Peserta didik mencari data/kata mengenai pemakaian kosakata bahasa Indonesia di lingkungan masyarakat sekitar yang diperlukan.
  4. Peserta didik menganalisis kebakuan atau ketidakbakuan kata yang ditemukan.
  5. Tahapan Operasional Pelaksanaan

Secara lebih rinci, tahapan operasional pelaksanaan strategi Pacaran sebagai berikut.

  1. Pa = Pasang Aplikasinya

Pada tahap ini peserta didik diberi tugas memasang aplikasi KBBI dan PUEBI di telepon genggam masing-masing dengan cara mengunduh atau download lewat play store yang ada di telepon genggam.

  1. Car = Cari Kata

Pada tahap ini peserta didik diberi tugas mencari data berupa kosakata dalam bahasa tulis bahasa Indonesia yang dipergunakan oleh masyarakat di lingkungan sekitarnya, seperti di papan nama, spanduk, iklan, dan sebagainya.

  1. An = Analisis

Pada tahap ini peserta didik menganalisis kosakata yang telah ditemukan untuk mendapatkan jawaban apakah kosakata tersebut merupakan kata baku atau tidak.

Keuntungan Menggunakan Teknik Pacaran

Sebelum menggagas dan mempergunakan strategi hasil inovasi dari pendekatan kontekstual, metode yang penulis gunakan dalam pembelajaran kata baku adalah ceramah yang divariasikan dengan tanya jawab dan diskusi. Metode ini ternyata kurang dapat memotivasi peserta didik untuk mempelajari dan menggunakan kata baku bahasa Indonesia dengan benar. Peserta didik hanya berharap asupan materi yang sudah “masak” dan itu pun mereka “telan” tanpa gairah. Dalam hal ini mereka hanya berperan sebagai objek dalam kegiatan pembelajaran. Padahal, semestinya peserta didik diperlakukan dan memperlakukan dirinya bukan semata-mata sebagai objek melainkan sebagai subjek yang aktif dalam kegiatan belajar.

Oleh karena itu, penulis berupaya menggagas strategi baru yang lebih inovatif dan dapat memotivasi peserta didik untuk mempelajari dan menggunakan kata baku bahasa Indonesia dengan benar. Strategi yang penulis gagas adalah Pacaran. Kata Pacaran merupakan akronim dari Pasang Apikasinya, Cari Kata, dan Analisis. (1) Langkah pertama dalam penerapan strategi ini adalah peserta didik diberi kesempatan untuk memasang aplikasi KBBI dan PUEBI di telepon genggam masing-masing. (2) Setelah memasang aplikasi KBBI dan PUEBI di telepon genggam masing-masing, peserta didik mencari kosakata yang sering dipergunakan oleh masyarakat dalam ragam bahasa tulis, seperti pada penulisan papan nama, spanduk iklan, dan lain-lain. (3) Langkah selanjutnya peserta didik menganalisis kata-kata tersebut untuk mengetahui apakah termasuk kata baku atau tidak baku kosakata yang mereka temukan. Penulis memilih strategi ini dengan alasan bahwa sebuah pembelajaran akan lebih menyenangkan dan membekas dalam sanubari peserta didik apabila berkaitan langsung dengan kegemaran mereka. Fenomena yang ada dewasa ini adalah banyaknya peserta didik sekolah menengah atau remaja pada umumya sangat gemar mempergunakan telepon genggam. Namun, kegemaran ini semestinya diarahkan pada hal-hal yang positif.

Manfaat Inovasi Teknik Pembelajaran Berbasis Aplikasi

Strategi Pacaran layak diterapkan dalam pembelajaran kata baku bahasa Indonesia. Oleh karena itu, penulis menyampaikan rekomendasi sebagai berikut.

1. Sebuah pembelajaran dapat menarik minat peserta didik tergantung bagaimana strategi yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Oleh karena itu, seorang guru diharapkan memiliki inovasi, meskipun sangat sederhana, pembelajaran agar materi yang disampaikan dapat menarik minat peserta didik. Menurut penulis, prinsip pembelajaran adalah memudahkan diri sendiri. Selain itu, tuntutan zaman yang serbacepat dan tepat, kita tidak harus menunggu bertemu dengan guru untuk memastikan kosakata yang kita temukan baku atau tidak, bahkan kita tidak perlu mengantre pinjam KBBI untuk menemukan penulisan kosakata yang kita perlukan. Hanya dengan membuka aplikasi yang ada di telepon genggam, kita dapat menemukan kosakata yang kita cari. Dunia ada digenggaman kita bahkan ada di ujung jari kita.

2. Penggunaan kosakata bahasa Indonesia selama ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting sehingga banyak pihak yang tidak memahami apakah kata-kata yang mereka gunakan sudah sesuai dengan kaidah atau belum. Oleh karena itu, pihak-pihak yang terkait dengan penggunaan kosakata bahasa Indonesia hendaknya dapat berperan aktif memberikan pemahaman kepada masyarakat pengguna bahasa.

DAFTAR PUSTAKA

Aplikasi Luring Resmi Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan. Kamus Besar Bahasa IndonesiaEdisi Kelima. Kemendikbud.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2016. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Kemendikbud.

Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo.

Kemendikbud. 2015. Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik. Jakarta: Kemendikbud.

Suyatno. 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: SIC.

Nama : Erlin Krisnawati, S.Pd.

Nip : 19731227 200701 2 008

Pangkat Gol : Penata Tk.1/III d

Unit kerja : SMA Negeri 1 Banyumas

Email : erlienkrisnawati@gmail.com

No HP : 081548819441

You cannot copy content of this page