Iklan

INOVASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI TENGAH PANDEMI

Oleh : KIRTAM, S.Pd

Matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang besaran, struktur, bangun ruang, dan perubahan-perubahan yang ada pada suatu bilangan. Matematika berasal dari bahasa Yunani “mathematikos” yang artinya ilmu pasti. Matematika adalah salah satu ilmu yang banyak dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Baik secara umum maupun secara khusus. Sehingga sangat penting mempelajari matematika. Tetapi sebagian besar peserta didik tidak menyukai matematika karena peserta didik mengalami kesulitan dalam belajar matematika. Sunarta (1985:7) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kesulitan belajar adalah kesulitan yang dialami oleh siswa-siswi dalam kegiatan belajarnya, sehingga berakibat prestasi belajarnya rendah dan perubahan tingkah laku yang terjadi tidak sesuai dengan partisipasi yang diperoleh sebagaimana teman-teman kelasnya.

Kesulitan belajar matematika peserta didik dialami tidak hanya saat pembelajaran jarak jauh tetapi saat pembelajaran tatap muka sebelum pandemi covid-19. Namun kesulitan belajar matematika yang dialami peserta didik pada saat pandemi covid-19 ini lebih banyak. Bila kesulitan peserta didik dalam menerima pembelajaran matematika pada saat pembelajaran jarak jauh sekarang ini tidak segera diatasi maka akan sangat berpengaruh untuk prestasi kedepanya. Maka dari itu guru sebagai partner dari peserta didik dalam belajar di sekolah harus mampu mencari solusi untuk mengatasi atau meminimalisir kesulitan yang dialami peserta didik tersebut. Dengan tatap muka kesulitan dalam pembelajaran matematika peserta didik lebih sedikit daripada saat pembelajaran jarak jauh sehingga guru harus membuat pembelajaran jarak jauh seperti pembelajaran tatap muka. Karena saat pembelajaran tatap muka peserta didik yang belum paham materi bisa langsung bertanya kepada guru, sedangkan pada saat pembelajaran jarak jauh peserta didik kesulitan untuk bertanya begitu pula guru kesulitan menerangkan.

Pembelajaran online atau jarak jauh menjadi salah satu metode pembelajaran yang dapat dilakukan oleh institusi pendidikan dimasa pandemi covid-19, dimana dengan belajar secara online maka dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Dengan belajar secara online masyarakat membutuh suatu jaringan yang disebut dengan jarngan internet. Menurut Suryatii (2019) internet merupakan singkatan dari interconnection and networking adalah sebuah jaringan informasi global yang memungkinkan manusia untuk terhubung satu sama lainnya diseluruh dunia melalui komputer. Internet seringkali diasosiakan dengan perguruan tinggi, sehingga pemanfaatan internet lebih sering ditekankan pada fungsi pendidikan.

Dengan internet dimungkinkan diselenggarakannya pendidikan jarak jauh yang didalamnya terintegrasi pembelajaran online, diskusii online, hingga evaluasi atau tes online. Internet juga memungkinkan kita untuk dapat berkonsultasi dengan para ahli dii seluruh dunia. Munir (dalam Yudha & Herzamzam, 2020) menyatakan bahwa pembelajaran online (online learning) atau daring (dalam jaringan) merupakan suatu pembelajaran yang mampu memfasilitasi pembelajar dapat belajar lebih luas, lebih banyak dan bervariasi. Dari aktifitas tersebut maka muncullah istilah dengan yang disebut dengan sebutan “E-Learning”. E-learning merupakan inovasi yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran, tidak hanya dalam penyampaian materii pembelajaran tetapi juga perubahan dalam kemampuan berbagai kompetensi peserta didik (Hartanto,2017) dengan belajar menggunakan konsep e-learning peserta didik tidak hanya fokus mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru, tetapi juga dapat aktif mencari, mengamati dan mendemonstrasikan apa yang telah didapatkannya. Sejalan dengan itu Henderson (2003) menyatakan e-learning adalah pembelajaran berjarak menggunakan teknologi komputer (biasanya adalah internet) E-learning menjadi salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan pada saat pandemi covid-19 dimana salah satu sifat e-learning adalah dapat belajar dimana saja dan kapan saja. Menurut (Wena., 2009) strategi pembelajaran yang dapat diterapkan di sekolah antara lain strategi dengan teori elaborasi, strategi pengelolaan emosional, strategi dengan pemecahan masalah, strategi inkuiri, strategi pelatihan industri, strategi pembelajaran kreatif produktif, berbasis proyek, pempelajaran kuantum, dan yang lainnya yang salah satu didalamnya terdapat strategi pembelajaran berbasis elektronik (E-learning). Banyak aplikasi-aplikasi yang dapat mendukung proses pembelajaran yang dapat diakses oleh peserta didik di android yang dimiliki oleh peserta didik, karena salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan dimasa pandemi covid-19 ini adalah dengan pembelajaran yang berbasis internet atau daring.

Melalui fasilitas yang telah disediakan oleh sistem tersebut, pembelajar dapat belajar kapan dan dimana saja tanpa terbatas oleh jarak, ruang dan waktu. Santoso (2020) melanjutkan hal ini mengakibatkan proses belajar mengajar atau pembelajaran yang biasanya dilaksakan di dalam kelas, harus dilaksanakan dirumah masing-masing melalui dunia virtual. Sehingga, menjadikan tantangan lebih untuk pendidik dan peserta didik untuk memperoleh tujuan pembelajaran itu sendiri, terutama dalam pembelajaran matematika yang pada umumnya, peserta didik merasa kesulitan untuk menerima materi dan menemukan pemecahan dari masalah yang diberikan. Kondisi saat ini mendesak pendidik untuk melakukan inovasi dan adaptasi terkait pemanfaatan teknologi yang tersedia untuk mendukung proses pembelajaran (Ahmed, shehata & hassanien, 2020).

Untuk membuat pembelajaran jarak jauh seperti pembelajaran tatap muka maka bisa digunakan droidcam yang terintegrasi dengan googlemeet ataupun zoom meeting. Dengan droidcam yang terintegrasi dengan google meet atau zoom meeting, peserta didik bisa bertatap muka dengan guru sehingga pembelajaran jarak jauh seperti pada saat pembelajaran tatap muka. Peserta didik bisa langsung bertanya kepada guru bila ada materi pembelajaran matematika yang belum dipahami agar peserta didik paham dan bisa menerima materi yang dipelajari. Dengan google meet, peserta didik tidak keberatan masalah kuota paket data untuk belajar karena pemerintah memberikan bantuan kuota paket data untuk belajar peserta didik yang bisa digunakan untuk google meet.

Masa pandemi Covid-19 yang melanda berbagai belahan dunia telah mengubah kebiasaan berbagai aspek kehidupan, tak terkecuali pendidikan formal di sekolah. Oleh karena itu, saat ini metode pembelajaran konvensional dengan tatap muka menjadi sebuah kerinduan bagi semua peserta didik yang selama ini dianggap model pembelajaran andalan dan paling efektif di sekolah. Namun, kini mendadak harus berganti dan berubah drastis dengan model pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebagai alternatif physical distancing di tengah pandemi.

Di antara guru berbagai mata pelajaran di sekolah, guru mata pelajaran eksak khususnya matematika mengalami hambatan yang cukup berarti. Mulai dari cara penyampaian materi kepada peserta didik yang sedikit rumit, hingga selama ini persepsi sebagian besar peserta didik yang menganggap matematika sulit, terlalu banyak angka, segudang rumus yang harus diingat, dan konten yang terlalu abstrak sehingga kurang diminati oleh banyak peserta didik, sekalipun pembelajaran sudah dilakukan dalam berbagai metode yang menyenangkan. Dengan pembelajaran tatap muka biasa ditemukan banyak peserta didik mengalami kesulitan, apalagi jika dilaksanakan dalam skema PJJ. Namun, guru yang hebat adalah guru yang mampu mengubah mindset dan menepis anggapan bahwa matematika itu sulit dipelajari.

Menyikapi hal tersebut, seorang guru matematika tentu perlu berpikir kreatif, terus bergerak dan bekerja keras dalam mendesain pembelajaran matematika yang menarik dan menyenangkan bagi peserta didik, tetapi tetap dalam skema PJJ.  Leli Sugiarti pada Webinar Olimpiade Matematika (OPTIKA 20) dengan tema: “Peran Teknologi dalam Pengembangan Keterampilan Belajar dan Mengajar untuk Mencapai Berpikir Tingkat Tinggi”, menyebutkan, empat keterampilan yang sebaiknya dimiliki tenaga pendidik.

  1. Kesabaran dan kegigihan, dalam hal ini guru harus memiliki kesabaran dan kegigihan dalam menghadapi aneka ragam sifat dan kepribadian peserta didik. Karena peserta didik memiliki jiwa petualang dan sikap keingintahuan yang besar, hal itu kadang mendorong mereka bertindak di luar jalur.
  2. Memahami perkembangan IPTEK, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu pesat, hal ini berlaku secara global. Penggunaan internet dan media sosial tak luput mengimbas peserta didik. Sehingga guru harus mampu menyikapinya dalam pembelajaran. Guru harus mampu mendesain pembelajaran secara virtual.
  3. Berpikir kreatif dan inovatif, seorang guru yang berpikir kreatif akan mampu menemukan inovasi baru dalam pembelajaran. Sehingga, guru tersebut memiliki berbagai metode pembelajaran menarik yang dapat dilakukan dalam mentransfer ilmu.
  4. Manajemen dunia maya, saat ini, hampir semua guru aktif bermedia sosial. Guru juga harus terampil menyaring dan membagikan informasi, Mampu memanfaatkan media sosial, sebagai sarana pembelajaran.

Diera pandemi covid-19 proses pembelajaran yang biasanya dilaksanakan di dalam kelas harus dilaksanakan dirumah masing-masing melalui daring (dalam jaringan) atau jarak jauh tanpa bertatap muka langsung. Ini menjadikan tantangan untuk pendidik agar dapat melakukan inovasi terkait pembelajaran yang dilakukan di era pandemi, terutama dalam pembelajaran matematika. Menyadari matematika merupakan ilmu yang abstrak dan memiliki karakteristik yang kompleks, mengharuskan guru matematika memperhatikan metode atau gaya penyampaian materi secara tepat kepada peserta didik, lebih-lebih dalam pembelajaran tanpa tatap muka sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal. Diawali dengan menyusun rencana pembelajaran ringkas sebagai persiapan PJJ merupakan hal penting dan sangat membantu bagi guru matematika dalam mengoptimalkan pembelajaran. Sekalipun tidak bertatap muka dengan peserta didik, guru sejatinya tetap menghindari pembelajaran yang mengambang. Karena jika tidak, pembelajaran akan berlangsung tanpa adanya organisasi yang baik yang bermuara pada tidak efektifnya pembelajaran. Dalam penerapan pembelajaran yang efektif setidaknya membutuhkan beberapa hal yang mampu mengakomodir semua aspek yang ada dalam pembelajaran matematika, seperti tujuan pembelajaran, materi yang disampaikan, metode pembelajaran yang sesuai di mana tidak membosankan dan tidak terkesan membebankan peserta didik, forum diskusi, dan bentuk penugasan peserta didik. Demi mengkonkretkan konsep yang abstrak dalam pembelajaran matematika, guru dapat mengintegrasikan media teknologi dalam pembuatan bahan ajar berbasis multimedia yang sesuai dengan gaya belajar peserta didik. Bahan ajar dapat disusun berupa teks atau video dengan menarik, ringkas, jelas, dan memuat penjelasan materi, contoh soal beserta penyelesaian, serta latihan mandiri secara bertingkat (mudah, sedang, hingga sulit).

Pengemasan bahan ajar dapat menggunakan berbagai aplikasi multimedia yang mendukung yang mampu menyajikan presentasi secara menarik, menampilkan konten dengan cara lebih modern, serta menghasilkan video pembelajaran yang memadukan tema, animasi, dan efek sehingga dapat mewujudkan pencapaian hasil belajar yang komprehensif meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Bahan ajar tersebut bisa didapatkan secara gratis dari media pembelajaran yang sudah tersedia seperti Rumah Belajar, Setara Daring, Ruang guru, Quipper, Zenius, Kelas Pintar, Google Suite for Education, Kipin School, Meja Kita, SekolahMu, Cisco Webex, dan lainnya. Pembelajaran matematika yang menarik juga harus tersedianya forum diskusi antara guru dan peserta didik. Forum diskusi ini bisa menggunakan media popular seperti WhatsApp, Line, Google Classroom, Microsoft Teams, Shcoology, atau forum diskusi lainnya yang disiapkan Learning Management System (LMS). Forum diskusi ini bertujuan untuk menghidupkan belajar daring sehingga terjalinnya proses komunikasi aktif dan interaktif secara virtual antara guru dan peserta didik dalam pembelajaran.

Selain itu, pengecekan kehadiran peserta didik secara online juga diusahakan bervariasi agar menghadirkan suasana pembelajaran yang berbeda setiap pertemuannya. Pengecekan kehadiran dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai fitur seperti Google Form, Zoho Form, Mentimeter, dan lainnya. Mengisi presensi kehadiran oleh setiap peserta didik menjadi amat penting dikarenakan hal ini sebagai penentu kehadiran mereka dalam setiap kelas daring, juga hal ini sebagai bagian dari ikhtiar guru untuk melibatkan peserta didik secara aktif dalam pembelajran.

Penting bagi guru untuk mewujudkan pembelajaran yang interaktif. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan sehingga tujuan pembelajaran juga dengan sendirinya dapat tercapai. Terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan guru untuk mencapai hal tersebut.

  1. Melakukan apersepsi di awal pembelajaran

Karena hal ini merupakan nadi keberhasilan suatu pembelajaran. Munif Chatib (2011) menyatakan bahwa menit-menit pertama dalam proses belajar adalah waktu berharga untuk satu jam pembelajaran selanjutnya. Apersepsi yang tepat membuat peserta didik merasa relaks dan senang, kondisi ini disebut sebagai kondisi zona alfa yang artinya tahap paling cemerlang proses kreatif otak seseorang. Sehingga sangat disayangkan jika guru tidak melakukan apersepsi di awal pembelajaran, hal ini akan berakibat pada ketidaksiapan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran pada tahapan selanjutnya.

  1. Menghindari penggunaan rentang waktu yang lama saat memberikan informasi

Karena hal tersebut akan berakibat pada kejenuhan yang dialami peserta didik sehingga menghilangkan konsentrasi mereka dalam belajar.

  1. Berusaha selalu memberikan apresiasi dan reward dalam bentuk kata kepada setiap peserta didik yang sudah merespons diskusi pembelajaran dengan baik.
  2. Menyebutkan nama peserta didik yang kurang terlihat di bilik chat dengan tujuan untuk memberikan rasa peduli, sehingga mereka merasa dihargai keberadaannya sekalipun dalam kelas non tatap muka.
  3. Memberikan instruksi atau informasi dengan jelas, menggugah pembaca untuk meresponsnya, dan tidak menggunakan kalimat singkat yang terkesan kaku. Ada baiknya saat mengomentari respons peserta didik hendaknya dibarengi dengan kalimat humoris, candaan, dan lain sebagainya sehingga terkesan seperti pembelajaran tatap muka biasanya di kelas.
  4. Memberikan waktu jeda sekitar 5-10 menit untuk peserta didik menenangkan diri di tengah pembelajaran, tetapi tetap menekankan kedisiplinan waktu sebagaimana yang telah diatur di awal pembelajaran.
  5. Melakukan penilaian yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Untuk penilaian kognitif dapat diperoleh dari hasil kuis, latihan, ulangan harian dan PAS yang bisa dilakukan melalui platfoam digital seperti Quizizz, Kahoot, Google Classroom dan lain sebagainya. Untuk penilaian afektif, guru bisa melihat kedisiplinan siswa baik dalam kehadiran maupun dalam mengumpulkan tugas-tugas yang diberikan, serta partisipasi mereka dalam mengikuti proses pembelajaran secara daring dari awal hingga akhir. Sementara penilaian psikomotorik dapat dilihat dari keaktifan peserta didik dalam mengutarakan pendapatnya melalui bilik komentar, kreativitas peserta didik dalam mengerjakan tugas bersifat keterampilan seperti pembuatan mind mapping atau poster pembelajaran dari sebuah konsep matematika yang telah dipelajari.

Berbagai inovasi pembelajaran telah dilakukan oleh guru sebagai pendidik agar dapat melaksanakan pembelajaran di tengah pandemi Covid-19 dengan menggunakan sistem daring. Proses pembelajaran yang dilakukan harus benar-benar berkesan untuk siswa sehingga siswa lebih mudah untuk memahami materi yang disajikan oleh guru (Handayani & Irawan, 2020)

DAFTAR BACAAN:

Abidin, Zainal, dkk. “Pembelajaran Online Berbasis Proyek Salah Satu Solusi Kegiatan Belajar Mengajar di Tengah Pandemi Covid-19”. Dalam Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan edisi no. 1. Vol. 5. Mei 2020

Handayani, S. D., & Irawan, A.(2020). Pembelajaran matematika di masa pandemic covid-19 berdasarkan pendekatan matematika realistik. Jurnal Math Educator Nusantara:Wahana Publikasi Karya Ilmiah di Bidang Pendidikan, 6 (2),179-189

Hartanto, W. 2016. Penggunan E-Learning Sebagai Media Pembelajaran. Jurnal.unej

Masson, R. and Rennie, F. (2020). E-learning Panduan Lengkap Memahami Dunia Digital dan Internet.Yogyakarta: Pustaka Baca

Muniroh, S.H., Rojanah, S., & Raharjo, S. (2020). Efektivitas Pembelajaran Matematika melalui Media Google Meet Ditinjau dari Hasil Belajar Siswa di Masa Pandemi Covid-19. EDISI : Jurnal Edukasi dan Sains, 2 (2), 410-419.

Nur Hadi Waryanto. (2006). Online learning sebagai salah satu inovasi pembelajaran. Jurnal Matematika, 2(1), hlm 10-23

Suryati. (2019). Sistem Manajemen Pembelajaran Online, Melalui Elearning. UIN Raden Fatah Palembang

Wena, M. (2009). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Angkasa.

C:\Users\User\Downloads\WhatsApp Image 2022-04-14 at 07.32.39.jpeg

Nama : KIRTAM, S.Pd

NIP. : 19770429 200701 1 013

Alamat email : maskirtam77@gmail.com

No.hp : 082138998935

Unit kerja : SMA Negeri 1 Rawalo

You cannot copy content of this page