Iklan

EPISTIMOLOGI ISLAM: PEMIKIRAN KH. ABDURRAHMAN WAHID

Oleh: Dudiyono, M.Pd.I

A. Pendahuluan

Terwujudnya sebuah bangsa yang hebat dan bermartabat tidak pernah lepas dari peran para intelektual.[1] Ia telah banyak andil dalam membangun sumberdaya manusia manusia pada bangsa dan negaranya. Salah satu dari para tokoh intelektual didalamnya adalah para ulama, ulama merupakan vigur penting yang telah memiliki peran strategis dalam memerdekakan dan membangun bangsa dan negara Indonesia.[2]

Ada banyak para ulama di negeri ini yang telah berkontribusi besar dalam membesarkan bangsa dan negara, sebelum masa kemerdekaan, pada saat kemerdekaan[3] sampai era sekarang kebangkitan revolusi industri dan sosial 4.0.[4] Dari sekian banyak ulama yang telah berkontribusi membangun negeri ini salah satunya adalah KH. Abdurrahman Wahid yang dikenal dengan sapaan akrabnya Gus Dur.[5] Gus Dur merupakan salah satu intelektual Indonesia yang menonjol dan disegani, tokoh yang ternyata mampu menjabat sebagai ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) selama lebih dari 15 tahun.[6]

Gus Dur memliki spektrum pemikiran yang luas meliputi politik, ideologi, nasionalisme, gerakan keagamaan, pemikiran sosial dan budaya.[7] Gus Dur sebagai bagian Ulama Cendekia yang terkemuka dengan analisa pemikirannya yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan dalam jurnal Prisma era 70an hingga 80an.[8] Karya pemikiran Gus Dur banyak yang dituangkan melalui artikel-artikel yang di ekspos di Jurnal Prisma yang bertemakan masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya.[9] Berdasarkan latar belakang tersebut, agar lebih dalam membahas pemikiran Gus Dur melalui makalah ini penulis mencoba untuk membahas tentang “Epistimologi Islam: Pemikiran KH. Abdurrahman Wahid”.

B. Permasalahan

Berpijak dari latar belakang makalah di atas tentang “Epistimologi Islam: Pemikiran KH. Abdurrahman Wahid”, untuk membatasi pembahasan maka penulis mengambil permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagaimana latar belakang intelektual Gus Dur?
  2. Bagaimana pandangan Gus Dur terkait dengan pengertian, sumber dan metode ilmu pengetahuan?
  3. Bagaimana pandangan pemikiran Gus Dur tentang Pesantren, Nilai-nilai Perdamaian, Agama dan Negara?

C. Metodologi

Metode ialah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah sistematis. Sedangkan metodologi ialah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan suatu metode. Jadi, metodologi penelitian ialah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan- peraturan yang terdapat dalam penelitian. Ditinjau dari sudut filsafat, metodologi penelitian merupakan epistemologi penelitian. Yaitu yang menyangkut bagaimana kita mengadakan penelitian.[10]

Metodologi yang digunakan dalam penyusunan makalah ini dengan mengadopsi dari berbagai literatur. Literatur yang digunakan adalah berupa jurnal-jurnal yang telah terpublikasi dan buku-buku yang dijadikan sebagai referensi sehingga patut untuk dijadikan sebagai sumber ilmiah dalam yang digunakan dalam menjawab masalah yang dikaji. Makalah ini mengkaji tentang “Epistimologi Islam: Pemikiran KH. Abdurrahman Wahid”.

D. Pembahasan

  1. Latar Belakang Intelektual KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

KH. Abdurrahman Wahid lahir pada hari ke-4 dan bulan ke-8 kalender Islam tahun 1940 di Denanyar Jombang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Terdapat kepercayaan bahwa ia lahir tanggal 4 Agustus, tetapi kalender yang digunakan untuk menandai hari kelahirannya adalah kalender Islam yang berarti ia lahir pada 4 Sya’ban 1359 Hijriah, sama dengan 7 September 1940.

Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. “Addakhil” berarti “Sang Penakluk”. Kata “Addakhil” tidak cukup dikenal dan diganti nama “Wahid”, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur.[11] “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berarti “abang” atau “mas”.[12]

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Wahid lahir dalam keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan.[13] Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Saudaranya adalah Salahuddin Wahid dan Lily Wahid. Ia menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri: Alisa, Yenny, Anita, dan Inayah.

Gus Dur secara terbuka pernah menyatakan bahwa ia memiliki darah Tionghoa[14] Gus Dur mengaku bahwa ia adalah keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.[15]

Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan anak dari Putri Campa, puteri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V. Tan Kim Han sendiri kemudian berdasarkan penelitian seorang peneliti Prancis, Louis-Charles Damais diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang diketemukan makamnya di Trowulan.[16]

Dalam segi pendidikan, Gus Dur memiliki latar belakang pendidikan yang sangat dinamis. Gus Dur yang memiliki latar belakang pesantren pada kenyataannya tidak selalu belajar di pesantren. Dalam pendidikan formalnya, Gus Dur pernah bersekolah di sekolah Kristen, Gus Dur pernah sekolah di sekolah umum. Pendidikan umum Gus Dur dimulai di Jakarta, yaitu pada tahun 1949. Ia masuk di SD KRIS Jakarta Pusat. Namun, di kelas empat Gus Dur pindah ke SD Matraman Perwari.[17]

Di usianya ini Gus Dur sudah mulai diajarkan membaca buku non-muslim, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya.[18] Pada tahun 1954, Gus Dur dikirim oleh ibunya ke Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah di SMP. Selama di Yogyakarta ini, ia tinggal di rumah salah seorang teman ayahnya, Kiai Junaidi, salah satu anggota Majelis Tarjih atau Dewan Penasihat Agama Muhammadiyah. Greg Bartonmenyatakan bahwa tinggalnya Gus Dur di rumah salah seorang pemimpin utama Muhamadiyah adalah merupakan hal yang luar biasa. Pengalaman awal inilah yang merupakan warisan pandangan yang luas dari sang ayah kepada Gus Dur. Pada SMP ini, Gus Dur juga Gus Dur juga menuntut ilmu di Pesantren Al-Munawir Krapyak. Gus Dur belajar bahasa Arab kepada K.H. Ali Ma’shum tiga kali dalam seminggu.[19]

Setamatnya dari SMP, yaitu pada tahun 1957, Gus Dur melanjutkan pendidikan pesantren Gus Dur berlanjut Magelang, yaitu di Pondok Psantren Tegalrejo Magelang di bawah asuhan kiai karismatik, Kiai Khudori.Di sini, Gus Dur belajar secara penuh dengan dunia pesantren berikut segala keilmuannya.[20]

Seusai dari menamatkan pendidikannya di Tegalrejo, pada tahun 1959, Gus Dur diminta pamannya, K.H. Abdul Fatah Hasyim, untuk membantu mengurus sekolah Mualimat di Pesantren Tambak Beras, Jombang, tepatnya sebagai sekretaris pondok. Di luar itu, Gus Dur tetap aktif belajar ngaji kepada K.H. Masduki, K.H. Bisri Syansuri, dan K.H. Abdul fatah Hasyim.[21]

Tahun 1963, Gus Dur menerima beasiswa dari Kementerian Agama untuk belajar di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Ia pergi pada November 1963. Pada saat Gus Dur tiba di al-Azhar, ia diberitahu oleh pejabat-pejabat universitas itu bahwa dirinya harus mengikuti kelas khusus untuk memperbaiki pengetahuan bahasa Arabnya.[22] Meskipun pada kenyataannya kemudian, Gus Dur merasa kecewa atas apa yang ia dapatkan di Al-azhar.

Baginya, materi-materi yang diajarkan di sana tidak jauh beda dengan apa yang telah ia kuasai di pesantren, ditambah lagi dengan kebijakan kembali mengulang pelajaran bahasa Arab yang telah dikuasai.Rasa bosan dan kecewa atas apa yang didapati Gus Dur akhirnya terobati ketika ia mendapat tawaran beasiswa di Universitas Baghdad, yang pada tahun 1960-an mulai berubah menjadi universitas bergaya Eropa. Selama di Baghdad, ia tidak hanya mempelajari pelajaran formal saja, tapi juga mulai belajar bahasa Prancis, belajar sufisme dengan menziarahi makam-makam para wali kelas dunia, dan tentang sejarah, tradisi, serta komunitas Yahudi.[23]

Pada tahun 1970-an. Gus Dur berhasil menyelesaikan studi empat tahunnya di Universitas Baghdad dan kemudian pindah ke Eropa. Di sana, ia tinggal di Belanda dengan maksud ingin melanjutkan studinya, namun kekecewaan yang akhirnya Gus Dur dapati, karena hampir semua universitas di Belanda (termasuk Universitas Leiden) tidak mengakui ijazah dari Universitas Baghdad.[24] Gus Dur berkelana di Eropa selama setahun, sebelum akhirnya kembali ke Tanah Air pada pertengahan tahun 1971.

Dari riwayat pendidikan yang ditempuh Gus Dur, nampak bagaimana mulai usia dini Gus Dur sudah terbiasa dengan keberagamaan, termasuk dalam hal agama sekalipun, yang pada akhirnya dinamika pendidikan Gus Dur tentunya mempengaruhi pemikiran-pemikirannya serta pandangan-pandangannya yang dinamis tentang keagamaan dan kebangsaan.

Pandangan dinamis yang disuguhkan Gus Dur tentu dipengaruhi watak dan kepribadian Gus Dur yang telah melampaui tiga arus besar kebudayaan dan peradaban. Pertama, kultur pesantren yang sangat hierarkis, tertutup dan penuh dengan etika yang serba formal; kedua, budaya Timur Tengah yang terbuka dan keras; dan ketiga, dunia Barat yang liberal, rasional, dan sekuler.[25]

2. Pandangan Gus Dur tentang Pengertian, Sumber dan Metode Ilmu Pengetahuan

a. Ilmu Pengetahuan Menurut Gus Dur

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terlahir dan besar dalam lingkungan yang kental dengan pendidikan keislaman yakni pesantren. Lingkungan pesantren yang telah memberikan warna dalam perkembangan intelektualnya. Pindahnya Gus Dur dari Jombang ke Jakarta sebagai kota besar tentu juga memberikan nuansa baru corak intelektualnya. Bagi Gus Dur meskipun ia masih duduk di bangsku Sekolah Menengah namun ia sudah menyelesaikan bacaan-bacaan terkait sosialisme dan marxixme yang tentu ini akan berpengaruh terhadap cora pemikiran dan kehidupan Gus Dur

Pendidikan keagamaan yang semula ia dapatkan di Pesantren kemudian mengalami pertambahan khasanah keilmuannya ketia ia belajar di Timur Tengah. Ketika mendapatkan kesempatan belajar di Timur Tengah ia lebih banyak menggunakan waktunya untuk membaca buku-buku pengetahuan di Perpustakaan, terutama ketika di Universitas Al Azhar, Kairo Mesir. Di perpustakaan tersebut ia mendapatkan pengetahuan dari buku-buku karya para intelektual muslim maupun non muslim[26], yang ini tentu akan sangat berpengatruh terhadap pandangan Gus Dur tentang pewngetahuan.

Ketika berbicara tentang ilmu pengetahuan tentu tidak lepas pula dengan istilah pendidikan, demikian halnya tentang pandangan Gus Dur tentang Ilmu Pengetahuan tak bisa dipisahkan dengan Pendidikan Islam itu sendirii dalam perspektif Gus Dur. Dalam pandangan Gus Dur Ilmu Pengetahuan merupakan alat untuk mencetak generasi dalam rangka menuju manusia yang ideal.[27]

Dalam perspektif Gus Dur manusia merupakan ciptaan terbaik Allah Swt yang mempunyai tugas kemanusian sebagai khalifah dalam memberikan kemakmuran dan kedamaian di muka bumi ini. Oleh karenanya manusia harus memiliki ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan dalam rangka membekali manusia agar dapat menjadi khalifah yang baik sehingga dapat menjalankan misi kekhalifahannya itu.

Bagi Gus Dur ilmu pengetahuan yang ideal adalahg ilmu pengetahuan yang dilandasi dengan tertanamnya nilai-nilai moral yang ini akan didapatkan melalui pendidikan, kearifan lokal (tradisi dan ajaran Islam) yang menjadi ruh dalam proses pendidikan dalam memperoleh ilmu pengetahuan.

Dalam konteks Indonesia, pengelolaan dan pengembangan ilmu pengetahuan melalui pendidikan berorientasi pada terbentuknya masyarakat Indonesia yang berkualitas dan kritis. Dengan demikian orientasi ilmu pengetahuan yang dibangun harus dapat melakukan perubahan paradigma dari nyang berorientasi masa lalu (abad pertengahan) menuju paradigma yang berorientasi masa depan, yakni melakukan transformasi paradigma yang mengawetkan kemajuan menuju wawasan pengetahuan yang merintis kemajuan dan berjiwa demiokratis[28]

b. Sumber Ilmu Pengetahuan Menurut Gus Dur

Ilmu pengetahuan yang dicapai melalui proses pendidikan merupakan salah satu syarat utama dalam upaya meneruskan dan mengekalkan nilai, falsafah dan kebudayaan masyarakat. Dengan demikian ia merupakan alat dalam rangka mencapai tujuan mulia yang diharapkan dalam kehidupan masyarakat. Untuk mewujudkan agar ilmu penngetahuan memiliki fungsi dan manfaat yang menjadi dasar pokok sehingga ilmu pengetahuan tersebut dapat bermanfaat maka diperlukan sumber diperolehnya.

Bagi Gus Dur sebagai seorang muslim tentu dalam menjadikan sumber ilmu pengetahuan adalah nilai yang transenden, universal dan eternal. Gus Dur sebagai bagian dari para pemikir muslim membagi sumber atau dasar nilai ilmu pengetahuan yang utama menjadi tiga yakni Al Qur’an, Hadits dan Ijtihas (ijma’ ulama). Hal ini sebagaimana secara eksplisit diinformasikan pada al Qur’an Surat An Nisa (4): 59 berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)

Ayat tersebut memberikan informasi bahwa manusia sebagai objek maupun subjek ilmu pengetahuan tentu haru mentaati atau berpedoman kepada al Qur’an dan Al Hadits serta ketetapan pemimpin selama tidak menyimpang dari grand theory universal yakni al Qur’an dan Hadits. Demikian halnya bagi Gus Dur sebagai seorang muslim menjadikan al Qur’an, Hadits sebagai sumber utama ilmu pengetahuan dan ditambah dengan ijtihad (kesepakatan para ulama) untuk menambah referensi khasanah sumber ilmu pengetahuannya.

Sumber ilmu pengetahuan tidaklah cukup hanya al Qur’an, hadits dan ijtihad. Bagi Gus Dur ada sumber-sumber lain yang ia dapat memperoleh ilmu pengetahuan, diantaranya; orang tua, membaca, pesantren, lembaga pendidikan formal, dan berorganisasi. Semua sumber-sumber ilmu tersebut menjadi penting dalam mewujudkan pemahaman bahwa ilmu pengetahuan haru dapat memberikan manfaat dan kedamaian bagai sesama.

Gu Dur telah banyak menimba ilmu dari ayahnya yaitu Wahid Hasyim, seorang ayah yang sabar terutama kepada anak sulungnya, Gus Dur. Gus Dur tumbuh subur sebagai seorang anak menjadi dewasa tanpa penekanan dan memang tipikal karakter Gus Dur tidak bisa di tekan, hal ini yang kemudian mempenngaruhi pola pemikiran Gus Dur dalam menjalankan roda organisasi mapun ketika ia menjadi Presiden RI ke-4.

Gus Dur telah banyak belajar kepada ayahnya bagaimana memperoleh pengetahuan tentang membangun nasionalisme dan menghargai kebudayaan terutama kebidayaan Islam tradisional. Gus Dur seringkali menemani ayahnya untuk menghadiri pertemuan-pertemuan, sehingga Gus Dur dapat belajar kepada ayahnya tentang pentingnya menjadi manusia yang ederhana dan gampangan.[29]

c. Metode Ilmu Pengetahuan Menurut Gus Dur

Gus Dur ebagai bagian dari ulama yang memiliki pemikiran luas tentu tidak terlepas dari bagaimana metode yang dilakukannya dalam memperoleh pengetahuan. Dengan metode yang dilakukan oleh Gus Dur menjadi pintu gerbang masuknya pengetahuan yang kemudian mempengaruhi corak pemikiran Gus Dur yang dituangkan dalam pemikiran, ucapan dan tindakan.

Berdaarkan latar belakangn intelektual Gus Dur, sejak kecil ia tidak pernah lepas dari bimbingan orang tua Gus Dur terutama dari ayahnya yang juga menjadi tokoh Bangsa yang kharismatik yaitu Wahid Hasyim. Ini berarti bahwa dalam memperoleh ilmu pengetahuan tidak terlepas dari bimbingan orang tua, karena orang tua menjadi teladan bagi putranya, dengan demikian pola pikir dan tindak tanduk aktifitas orang tua juga bagian yang tak terpisahkan dari pola putanya.

Membaca bagi Gus Dur adalah aktifitas rutinitas yang tidak pernah lepas dari kehidupannya. Gus Dur gemar membaca buku, bahkan ia kerap kali berlama-lama untuk membaca berbagai buku di perpustakaan ayahnya[30]. Ini artinya bahwa membaca dapat menjadi metode bagaimana ilmu pengetahuan akan dapat terserap dalam diri seseorang.

Memperoleh ilmu pengetahuan juga akan dapat dilaksanakan melalui kegiatan belajar atau berekolah baik di lembaga pendidikan formal maupun informal. Memperoleh pengetahuan dapat diraih melalui pendidikan formal seperti yang telah Gus Dur lakukan melalui jenjang SD, SMP dan SMA. Tidak cukup hanya di lembaga pendidikan formal Gus Dur juga belajar di dunia pendidikan non formal yakni pesantren. Gus Dur belajar di Pesantren Krapyak Jogjakarta, kemudian ia berpindah menuntut ilmu ke pesantren Tegalrejo yang kemudian ia banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku-buku Barat, seperti Das Kapital, filsafat Plato, Thales, novel-novel Willem Bochner dan romantisme Revolusioner, dan karangan Lenin Vladimir Ilyeh.[31]

Untuk memperoleh pengetahuan yang lebih luas Gus Dur memahami berbagai macam bahas asing yang bagus, sehingga membuat Gus Dur memahami pemikiran ilmuwan kela dunia seperti Karl Mark, Lenin, Gramsci, Mao Zedong. Tidak meraa cukup Gus Dur memperoleh ilmu pengetahuan di Tanah Air kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Kairo, Mesir di Universita Al Azhar, kemudian hijrah ke Baghdad, Irak, dan kemudian melanjutkan pendidikannya ke Eropa.

Berorganisasi juga menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi Gus Dur untuk memperoleh ilmu pengetahuan, hal ini dapat dibuktikan dengan partiipasi Gus Dur dalam berorganisasi. Gus Dur berkarir di organisasi Keagamaan di NU yang kemudian mengantarkannya menjadi ketua umum PBNU, namun tidak hanya NU yang dilakukan Gus Dur dalam berorganisasi. Bahkan ranah kegiatan organisai Gus Dur tidak hanya pada Sosial Keagamaan saja tetapi juga meluas menjasi Ketua Dewan Kesenian Jakarta.

3.  Pemikiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

a.Tentang Pesantren

Apabila ditinjau ulang pemikiran Gus Dur yang plural, tentu saja tidak lepas dari situasi dan kondisi yang berkembang di negeri ini. Ketika melihat realitas sosial yang majemuk, dituntut sebuah pemikiran yang cukup beragam pula, apalagi aspek pemikiran Gus Dur dalam hal pendidikan Islam lebih banyak tercurah pada pondok pesantren sebagai salah satu institusi tua yang berkembang pertama kali di bangsa ini, yang tentu saja membutuhkan pemikiran yang cukup beragam.[32]

Munculnya dinamika pesantren tidak lepas dari gagasan pembaruan dan dinamisasi pesantren yang dilontarkan Gus Dur. Melalui gagasan pembaruan dan dinamisasi pesantren yang sedemikian itu, Gus Dur menginginkan terjadinya proses penggalakan kembali nilai-nilai hidup positif yang telah ada dan melakukan pergantian nilai-nilai lama yang tidak relevan lagi dengan nilai-nilai baru yang lebih relevan dan dianggap lebih baik dan lebih sempurna.[33]

Menurut Gus Dur , semua aspek pendidikan pesantren, mulai dari visi, misi, tujuan, kurikulum, manajemen, dan kepemimpinannya harus diperbaikidan disesuaikan dengan perkembangan zaman era globalisasi. Meski demikian, menurut Gus Dur pesantren juga harus mempertahankan identitas dirinya sebagai penjaga tradisi keilmuan klasik. Dalam arti tidak larur sepenuhnya dengan modernisasi, tetapi mengambil sesuatu yang dipandang manfaat positif untuk perkembangan.[34] Dalam hal modernisasi ini, ia berlandaskan pada maqolah sebagaimana berikut:[35]

al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yakni ‘Memelihara yang lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik’.

Erat kaitannya dengan gagasan pembaruan pesantren tersebut di atas, Gus Dur juga menyinggung tentang terjadinya kekacauan dalam sistem pendidikan pesantren. Menurutnya, kekacauan ini disebabkan karena dua hal. Pertama, sebagai refleksi dari kekacauan yang terjadi secara umum di masyarakat Indonesia. Kedua, karena munculnya kesadaran bahwa kapasitas pesantren dalam menghadapi tantangan-tantangan modernitas hampir tidak memadai yang disebabkan karena unsur-unsur strukturalnya mandeg sehingga tidak mampu menanggapi perubahan.[36]

Selain itu, Gus Dur juga melihat adanya kerawanan pada sistem pesantren yang berakibat pada kekurangmampuan pesantren dalam menghadapi tantangan pembaruan. Gus Dur melihat bahwa kerawanan tersebut melahirkan dua reaksi sebagai berikut. Pertama, terbentuk munculnya sikap menutup diri dari perkembangan umum masyarakat luar, terutama dari kegiatan yang mengancam kemurnian kehidupan beragama. Kedua,timbulnya aksi solidaritas yang kuat di antara pesantren dan masyarakat.[37]

Dengan demikian, pembaruan pendidikan Islam di era globalisasi menurut Gus Dur adalah proses penggalakan kembali nilai-nilai hidup positif yang telah ada dan melakukan pergantian nilai-nilai lama yang tidak relevan lagi dengan nilai-nilai baru yang lebih relevan dan dianggap lebih baik dan lebih sempurna, namun harus menghindari sebab-sebab kekacauan yang timbul dalam sistem pendidikan Islam dan juga menghindari kerawanan pada sistem pesantren yang berakibat pada kekurangmampuan pesantren dalam menghadapi tantangan pembaruan.

b. Tentang Nilai-Nilai Perdamaian

Gus Dur mantan ketu aumum PBNU dua periode tidak hanya memberikan perspektif tentang pendidikan, tetapi memberikan perhatian yang cukup terhadap upaya-upaya membangun perdamaian (peace-building), tak hanya dalam konteks ke-indonesiaan teta[i juga dalam konteks internasional.[38]

Kiprahnya dalam ranah kemanusiaan, demokrasi, hak asasi manusia dan perdamaian kiprahnya tidak hanya diakui oleh masyarakat tanah air, tetapi juga publik dan lembaga internasional di manca negara. Tentu tanpa menafikan sisi kekurangan yang dimiliki Gus Dur sebagai manusia yang kerap mengundang pro dan kontra atas pemikiran dan kiprahnya.

Pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan Gus Dur kerap disalahpahami, baik oleh warga Nahdliyin sendiri, umat muslim pada umumnya, dan umat non muslim lainnya, maupun mereka yang dengan terang-terangan memang kontra dengan pemikiran dan tindakan Gus Dur. Sehingga hal tersebut bisa jadi membuat banyak pemikiran Gus Dur terkait dengan pendidikan perdamaian belum begitu dipahami oleh masyarakat Indonesia.[39]

Gagasan tentang kerukunan dan kebersamaan yang menjadi prasyarat bagi terwujudnya kehidupan damai menjadi perhatian Gus Dur sejak 1975, saat itu ia berusia 35 tahun. Dalam salah satu artikelnya yang berjudul “Menjadikan Hukum Islam sebagai Penunjang Pembangunan”, Gus Dur menyampaikan bahwa Islam bukanlah sesuatu yang statis. Ajaran Islam bukan sesuatu yang sekali jadi sehingga tidak membutuhkan reformulasi dan reaplikasi. Dengan kata lain pembangunan hukum Islam pada dasarnya harus selalu diterjemahkan secara kontekstual.

Prinsip-prinsip universalitas Islam yang berpijak pada asas kerukunan, kebersamaan, memperjuangan keadilan, serta menolak berbagai atribut diskriminatif dan kekerasan menjadi pertimbangan dasar dalam pengambilan keputusan hukum. Pijakan inilah yang menjadi prinsip bagi pergumulan mendasar Gus Dur tentang respons Islam terhadap modernitas dan pentingnya dialog peradaban dalam rangka membangun perdamaian.[40]

c. Tentang Agama dan Negara

Hubungan Islam dan Negara,[41] merupakan suatu bidang kajian yang sangat penting sebagai gejala sosial. Hubungan tersebut merupakan cermin agama Islam dalam masyarakat. Hubungan Islam dan Negara dalam penjelasan Gusdur dikatakan bahwa:

Islam tidak mengenal doktrin tentang negara. Dalam soal bentuk negara, menurutnya tidak mempunyai aturan baku. Hal ini bergantung negara bersangkutan apakah mau menggunakan model demokrasi, teokrasi atau monarchi. Hal yang terpenting bagi Gusdur adalah terpenuhinya tiga kreteria, yaitu: pertama, mengedepangkan prinsip-prinsip permusyawaratan. Kedua, ditegakkan keadilan. Ketiga, adanya jaminan kebebasan (al-huriyyah).[42]

Dalam pembukaan UUD 1945 terdapat doktrin tentang keadilan dan kemakmuran. Tak ada pula doktrin bahwa negara harus berbentuk formalisme negara Islam, demikian pula dalam pelaksanaan hal-hal kenegaraan. Negara dalam perspektif Gusdur adalah al-Hukum (hukum atau aturan).10 Islam tidak mengenal konsep pemerintahan yang defenitif sehingga etik kemasyarakatanlah yang diperlukan. Dalam persoalan mendasar misalnya Islam tidak konsisten, terkadan memakai Istikhlaf, Bay’ah, ataupun Ahlu al-Halli wa al-Aqdi, padahal suksesi adalah soal yang cukup urgen dalam masalah kenegaraan. Apa yang menjadi keinginan Gusdur untuk tidak memformalkan Islam sebagai ideologi dan acuan dalam negara sejalan dengan keinginan sebahagian besar warga negara yang mayoritas Islam. Hal ini terbukti dalam pemilu 1999 yang dimenangkan oleh partai nasionalis termasuk PAN dan PKB yang sedikit religius. Penerimaan Pancasila sebagai ideologi negara yang dimotori oleh Gusdur dan KH. Amad Siddiq, paling tidak karena dua hal yaitu; Pertama, Islam adalah agama Fitriah. Sepanjang suatu nilai tidak bertentangan dengan keyakinan Islam, ia dapat diarahkan agar selaras dengan tujuan-tujuan dalam Islam. ketika Islam diterima oleh masyarakat, ia tidak harus menganti nilai-nilai yang terdapat di dalamnya tetapi bersikap menyempurnakan. Di sinilah letak pertentangan Gusdur secara pribadi dengan sebahagian person ICMI sebagai sebuah lembaga.[43]

Dalam perspektif Ahlu al-Sunnah Wa-al-Jamaah aliran yang diyakini GusDur, pemerintah dinilai dari segi fungsionalnya, bukan dari normal formal eksistensinya, negara Islam atau bukan. Selama kaum muslimin dapat menyelengarakan kehidupan beragama mereka secara penuh, maka konteks pemerintahannya tidak lagi menjadi pusat perhatiannya.

Kedua Islam dan Pancasila dinilai mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan Islam dan wawasan ke agamaan negara Indonesia sudah dijamin. Gusdur dengan penuh keyakinan menjelaskan pemerintah yang berideologi pancasila harus dipertahankan, karena syari’ah dalam bentuk hukum agama, fikhi atau etika masyarakat masih dilaksanakan oleh kaum muslimin di dalamnya sekalipun hal itu tidak diikuti dengan legislasi dalam bentuk undang-undang negara. Bila etik kemasyarakatan Islam diljalankan, tak ada alasan selain mempertahankannya sebagai kewajiban agama. Dari sanalah munculnya keharusan untuk taat kepada pemerintah.[44]

Gusdur berusaha memberikan sinergi untuk memparalelkan hubungan negara dan agama. Dalam pemikirannya, ia melihat besarnya hanbatan dalam proses pembangunan yang diakibatkan oleh kesalahpahaman yang sangat besar antara pihak penanggungjawab ideologi negara-negara yang sedang berkembang.[45] Upaya Gusdur ini tidak lepas dari perang bapaknya sebagai perumus konsep kenegaraan dan ia berpendapat bahwa tidak ada pertentangan antara Islam dan nasionalisme. Islam bisa berkembang secara spritual dalam sebuah negara nasional yang tidak secara formal berdasarkan pada Islam. Gusdur menjelaskan lebih lanjut sebagaimana yang dikutip Douglas E. Ramage sebagai berikut:

NU berpegang kepada konsepsi nasionalisme yang sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. NU telah menjadi pioner dalam masalah ideologis. Ini tentu hanya satu kasus, karena di seluruh dunia Islam hubungan antara nasionalisme dan Islam masih menjadi persoalan. Negara-negara Arab mengangap nasionalisme sebagai bentuk sekularisme. Mereka belum mengerti bahwa nasionalisme seperti yang dipraktekkan di Indonesia tidaklah sekuler, tetapi sangat menghormati perang agama.[46]

Pemikiran Gusdur ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai lapisan termasuk non muslim dan mereka ini sangat antusias terhadap sikap inklusif Gusdur. Keyakinan keagamaan di Indonesia patut menjadi teladan karena satu sisi sistem politik yang netral secara agama dan pancasila adalah sebuah ekspresi dari negara yang sekuler secara politik tetapi memberi peluang berkembangnya agama.

E. Keimpulan

Latar belakang intelektual Gus Dur tidak terlepa dari aktifitasnya dalam menuntut ilmu baik di jenjang pendidikan formal di jenjang SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi baik di dalam negeri maupun di luar negeri, maupun non formal yaitu di pesantren yang mana Gus Dur telah belajar di sana yang ini tentu akan berpengaruh terhadap corak pemikiran intelektualnhya.

Sebagai seorang ulama dan intelektual Gus Dur membarikan pandangan bahwa ilmu pengetahuan merupakan alat dalam rangka mencetak generasi penerus yang bermanfaat sebagai manusia yang ideal. Untuk menuju manusia ideal dalam memperoleh ilmu pengetahuan haru berumber dari al Qur’an dan Hadits, disamping umber lain seperti Ijtihad atau kesepakatan para ulama. Dan orang tua juga dapat menjadi referensi sumber keilmuan. Imu pengetahuan akan dapat diraih ketika diterapkan metode-metode yang sesuai dalam rangka mengembangkan khasanah keilmuan. Hal ini dapat dilakukan dengan membaca, belajar baik di lembaga formal maupun informal, menguasai bahasa asing dan berorganisasi.

Gus Dur memiliki pemikiran bahwa proses penggalakan kembali nilai-nilai hidup positif yang telah ada dan melakukan pergantian nilai-nilai lama yang tidak relevan lagi dengan nilai-nilai baru yang lebih relevan dan dianggap lebih baik dan lebih sempurna, adalah urgen dan itu dapat dibangun melalui dunia pesantren. Aktifitas Gus Dur dalam persoalan kemanusiaan, demokrasi, hak asasi manusia dan perdamaian tidak hanya diakui oleh masyarakat tanah air tetapi juga publik dan lembaga internasional di manca negara. Meskipun ada sisi kekurangan yang dimiliki Gus Dur sebagai manusia yang kerap mengundang pro dan kontra atas pemikiran dan kiprahnya. Gus Dur berusaha memberikan sinergi untuk memparalelkan hubungan negara dan agama. Dalam pemikirannya, ia melihat besarnya hanbatan dalam proses pembangunan yang diakibatkan oleh kesalahpahaman yang sangat besar antara pihak penanggungjawab ideologi negara-negara yang sedang berkembang.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Wahid, Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan (Wahid Institute, 2007).

Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi: Esai-esai Pesantren, (Yogyakarta: LkiS, 2010).

Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan (Cet. II; Jakarta: Desantara, 2001).

Abuddin Nata, Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005).

Ahmad Mansur Suryanegara, A.P.E Korver, Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil, (Jakarta: Grafiti, 1985).

Ahmad Nurcholish, Peace Education & Pendidikan Perdamaian Gus Dur, (Jakarta: PT Gramedia, 2015).

Amin Farih, Nahdlatul Ulama (Nu) Dan Kontribusinya Dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Dan Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Walisongo, Volume 24, Nomor 2, November 2016.

Dedy DJamaluddin Malik dan Idy Subandi Ibrahim, Zaman Baru Islam Indonesia (Cet. I; Bandung: Mizan, 1998).

Douglas E. Remage, Demokratisasi, toleransi agama dan pancasila; pemikiran politik Abdurrahman Wahid, dalam Greg Fealy dan Greg Barton, Tradisionalisme Radikal; Persingungan Nahdatul Ulama-Negara (Cet. I; Yogyakarta: LkiS, 1997).

Faisol. Gus Dur & Pendidikan Islam: Upaya Mengembalikan Esensi Pendidikan di Era Global. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013).

Greg Barton, Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Gus Dur (Yogyakarta: LKIS, 2017).

Gus Dur, Islam Kosmopolitan; Nilai-nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan, (Jakarta: The Wahid Institute, 2007).

Hairus Salim HS dan Greg Barton, Prisma Pemikiran Gus Dur, KH. Abdurrahman Wahid, (Yogyakarta: LkiS Printing Cemerlang, 2010).

https://radarjember.jawapos.com/pascasarjana_iain/02/04/2020/peran-kiai-eksistensi-pesantren-dan-era-4-0/, diakses 24 Oktober 2020 pada pukul 09.45.

https://www.merdeka.com/abdurrahman-wahid/profil/, diakses 24 Oktober2020 pada pukul 10.00

https://www.uii.ac.id/peran-intelektual-untuk-kemajuan-bangsa/, diakses 24 Oktober 2020 pada pukul 09.41

Husaini Usman, M.Pd., M.T. Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008).

Jangan Malu Jadi Tionghoa, Gus Dur Mengaku Keturunan”. Surya Online. Diakses tanggal 19 Juni 2008.

Jhon L. Esposito dan Jhon O. Voll, Makers of Contemporary Islam, diterjemahkan oleh Sugen Harianto, at. al, Tokoh Kunci Gerakan Islam Kontemporer (Cet. I; Jakarta: PT. Raja Garafido Persada, 2002).

K.H. Abdurrahman Wahid, Prisma Pemikiran Gusdur (Cet. II; Yogyakarta: LkiS, 2010).

Latar belakang keluarga Abdurrahman Wahid, Gus Dur.net

Ma’mun Murod al-Brebesy, Menyingkap Pemikiran politik Gusdur dan Amin Rais tentang Negara (Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999).

Muhamad Rifai, Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid: Biografi Singkat 1940-2009 (Garasi House of Book, 2010).

Muhammad Zaairul Haq, Tasawuf Gus Dur, (Yogyakarta: Aditya Media, 2012).

Qurtuby, Sumanto. “Gus Dur, Tionghoa, Indonesia”. Suara Merdeka. Diakses tanggal 19 Juni 2008.

Zhiwang, Huang. “Abdurrahman Wahid Dan Silsilah Tionghoa”. Budaya Tionghoa. Diakses tanggal 14 Oktober 2018

BIODATA PENULIS

Nama Lengkap dan Gelar : DUDIYONO, M.Pd.I

NIP : 19781224 200710 1 001

NUPTK : 2556756656200003

NRG : 131272218109

Nomor Sertifikat Pendidik : 2061312706430

Pangkat/ Golongan : Pembina, IV/a

Jabatan : Guru Ahli Madya

Tempat, Tanggal Lahir : Banyumas, 24 Desember 1978

Status : PNS

Nama Unit Kerja : Kementerian Agama Kabupaten Banyumas

DPK SMA Negeri 4 Purwokerto

Alamat Kantor : Jl. Overste Isdiman No. 09 Telp. (0281) 636584

Purwokerto Kode Pos 53114

Telp. Kantor : 0281 – 636068 Kemenag Kab. Banyumas

0281 – 636584 SMA Negeri 4 Purwokerto

Pendidikan Terakhir : S-2

Pengalaman Jabatan : Guru MTs. Al Masruriyah Baturraden

Guru SMA Veteran Purwokerto

Guru SMP Negeri 1 Kebasen

Guru SMK Negeri 1 Kalibagor

Guru SMA Negeri 4 Purwokerto

Purwokerto, Desember 2022

Dudiyono, M.Pd.I

NIP. 19781224 200710 1 001

  1. https://www.uii.ac.id/peran-intelektual-untuk-kemajuan-bangsa/, diakses 24 Oktober 2020 pada pukul 09.41
  2. Amin Farih, Nahdlatul Ulama (Nu) Dan Kontribusinya Dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Dan Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Walisongo, Volume 24, Nomor 2, November 2016, h. 253
  3. Ahmad Mansur Suryanegara, A.P.E Korver, Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil, (Jakarta: Grafiti, 1985), h. 353-394.
  4. https://radarjember.jawapos.com/pascasarjana_iain/02/04/2020/peran-kiai-eksistensi-pesantren-dan-era-4-0/, diakses 24 Oktober 2020 pada pukul 09.45.
  5. https://www.merdeka.com/abdurrahman-wahid/profil/, diakses 24 Oktober2020 pada pukul 10.00
  6. Hairus Salim HS dan Greg Barton, Prisma Pemikiran Gus Dur, KH. Abdurrahman Wahid, (Yogyakarta: LkiS Printing Cemerlang, 2010), h. v.
  7. Hairus Salim HS dan Greg Barton, Prisma Pemikiran Gus Dur, KH. Abdurrahman Wahid, (Yogyakarta: LkiS Printing Cemerlang, 2010), h. v.
  8. Hairus Salim HS dan Greg Barton, Prisma Pemikiran Gus Dur, KH. Abdurrahman Wahid, (Yogyakarta: LkiS Printing Cemerlang, 2010), h. vii
  9. Hairus Salim HS dan Greg Barton, Prisma Pemikiran Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid, (Yogyakarta: LkiS Printing Cemerlang, 2010), h. xii
  10. Husaini Usman, M.Pd., M.T. Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008), h. 41
  11. Latar belakang keluarga Abdurrahman Wahid, Gus Dur.net
  12. Barton (2002), halaman 38-40.
  13. Zhiwang, Huang. “Abdurrahman Wahid Dan Silsilah Tionghoa”. Budaya Tionghoa. Diakses tanggal 14 Oktober 2018
  14. “Jangan Malu Jadi Tionghoa, Gus Dur Mengaku Keturunan”. Surya Online. Diakses tanggal 19 Juni 2008.
  15. “Jangan Malu Jadi Tionghoa, Gus Dur Mengaku Keturunan”. Surya Online. Diakses tanggal 19 Juni 2008.
  16. Qurtuby, Sumanto. “Gus Dur, Tionghoa, Indonesia”. Suara Merdeka. Diakses tanggal 19 Juni 2008.
  17. Muhamad Rifai, Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid: Biografi Singkat 1940-2009 (Garasi House of Book, 2010), 30.
  18. Muhammad Zaairul Haq, Tasawuf Gus Dur, (Yogyakarta: Aditya Media, 2012), 161.
  19. Greg Barton, Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Gus Dur (LKIS PELANGI AKSARA, 2002), 51.
  20. Rifai, Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid, 33
  21. Muhammad Zaairul Haq, Tasawuf Gus Dur, 166
  22. Greg Barton, Biografi Gus Dur, 88.
  23. Rifai, Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid, 34.
  24. Barton, Biografi Gus Dur, 111.
  25. Abdurrahman Wahid, Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan (Wahid Institute, 2007), xiii.
  26. Ahmad Nurcholish, Peace Education & Pendidikan Perdamaian Gus Dur, (Jakarta: PT Gramedia, 2015). Hlm. 138
  27. Ahmad Nurcholish, Peace Education…. hlm. 149
  28. Faisol. Gus Dur & Pendidikan Islam: Upaya Mengembalikan Esensi Pendidikan di Era Global. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013). Hlm. 76-77
  29. Greg Barton, Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Gus Dur (Yogyakarta: LKIS, 2017). hlm. 43
  30. Greg Barton, Biografi Gus Dur… hlm. 140
  31. Abuddin Nata, Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005), hlm. 340.
  32. Faisol. Gus Dur & Pendidikan Islam: Upaya Mengembalikan Esensi Pendidikan di Era Global. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), hlm. 107
  33. Abuddin Nata, Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia ….. hlm. 349.
  34. Faisol, Gus Dur dan Pendidikan Islam, h. 26-27
  35. Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi: Esai-esai Pesantren, (Yogyakarta: LkiS, 2010), h. 181.
  36. Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi: Esai-esai Pesantren, (Yogyakarta: LkiS, 2010), h. 54.
  37. Abuddin Nata, Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005), h. 350.
  38. Ahmad Nurcholish, Peace Education & Pendidikan Perdamaian Gus Dur, (Jakarta: PT Gramedia, 2015), h. 26.
  39. Ahmad Nurcholish, Peace Education & Pendidikan Perdamaian Gus Dur, (Jakarta: PT Gramedia, 2015), h. 27.
  40. Gus Dur, Islam Kosmopolitan; Nilai-nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan, (Jakarta: The Wahid Institute, 2007), h. 44-62.
  41. Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan (Cet. II; Jakarta: Desantara, 2001) h. 103. Lihat pula Jhon L. Esposito dan Jhon O. Voll, Makers of Contemporary Islam, diterjemahkan oleh Sugen Harianto, at. al, Tokoh Kunci Gerakan Islam Kontemporer (Cet. I; Jakarta: PT. Raja Garafido Persada, 2002) h. 265.
  42. Ma’mun Murod al-Brebesy, Menyingkap Pemikiran politik Gusdur dan Amin Rais tentang Negara (Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999) h. 155.
  43. Menurut Gusdur “Pak Habibi membangun kekuatan dengan menghimpun para

    intelektual muslim dalam suatu wadah dengan bendera Islam”. Ia berusaha membendera Islamkan lembaga politik yang ada contoh, mereka sangat bangga ketika Golkar dikuasai oleh ICMI. Bahkan menurut Gusdur dirinya yang moderat dianggap menghianati Islam karena tidak mau mengibarkan Islam sementara dirinya berusaha mengembangkan peranan Islam. Wawancara wartawan Matra dengan Gusdur dengan judul “Saya nomor tiga tentang suksesi NU, ICMI dan Pak Harto” dalam tabayun GusDur (Cet. I; Yoqyakata: LkiS, 1998) h. 46. bandingkan dengan John L. Esposito-Jhon O. Voll, op cit., h. 262.

  44. Dedy DJamaluddin Malik dan Idy Subandi Ibrahim, Zaman Baru Islam Indonesia (Cet. I; Bandung: Mizan, 1998), h. 170.
  45. K.H. Abdurrahman Wahid, Prisma Pemikiran Gusdur (Cet. I; Yogyakarta: LkiS, 1999), h. 2.
  46. Lihat Douglas E. Remage, Demokratisasi, toleransi agama dan pancasila; pemikiran politik Abdurrahman Wahid, dalam Greg Fealy dan Greg Barton, Tradisionalisme Radikal; Persingungan Nahdatul Ulama-Negara (Cet. I; Yogyakarta: LkiS, 1997), h. 197. 15 Ibid., h. 197-198
You cannot copy content of this page