Iklan

MENGEMBANGKAN SIKAP PEDULI LINGKUNGAN SISWA SMA N 1 BATURRADEN MELALUI PENILAIAN KEBERSIHAN TERJADWAL SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN 2022-2023

Oleh : Ratri Damaryanti

ABSTRAK

Sekolah merupakan rumah kedua bagi siswa setelah rumah dimana siswa tinggal. Dalam seminggu siswa berada di sekolah dari pukul 07.00 sampai dengan pukul15.30 atau sekitar 8 jam 30 menit, kecuali pada hari Jumat hanya sekitar 7 jam di sekolah. Dalam 1 minggu siswa rata-rata berada di sekolah sekitar 7 jam x 5 hari yaitu sekitar 35 jam. Jumlah jam yang cukup lama ada di sekolah membuat siswa dapat berkontribusi sangat besar terhadap kebersihan lingkungan kelas dan lingkungan sekolah.

Pengelolaan sampah di SMA N 1 Baturraden dikumpulkan dalam tempat sampah di depan kelas masing-masing, terdiri dari 3 tempat sampah sesuai jenisnya yaitu organik, anorganik serta B3 (bahan beracun dan berbahaya). Sampah diangkut dan dikumpulkan di TPS milik sekolah yang ada disamping gerbang sekolah, kemudian akan diangkut ke TPS Desa Rempoah sesuai jadwal yang ditentukan oleh TPS Desa.

Sikap ditumbuhkan dan dipelajari sepanjang perkembangan peserta didik dalam keterkaitannya dengan objek tertentu. Dalam pembelajaran, sikap sangat berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki peserta didik. Hal ini penting karena informasi pengetahuan lingkungan yang didapat dari pembelajaran akan diproses diotak melalui serangkaian kegiatan analisis, sintesis dan evaluasi sehingga menghasilkan nilai yang tertuang dalam bentuk sikap.

Untuk meningkatkan kesadaran dan sikap peduli lingkungan, sekolah memberikan penilaian kepada kelas dimana salah satu poin penilaiannya adalah kebersihan. Tim penilai diambil perwakilan dari masing-masing kelas(OSIS dan MPK). Tim penilai akan dijadwal untuk lokasi/tempat penilaian, waktunya tidak ditentukan.. Sekolah akan mengumumkan hasil penilaian untuk kelas terbersih pada setiap kegiatan upacara di hari senin pagi awal bulan.

Kata Kunci :Sikap Peduli Lingkungan, Pengelolaan Sampah, Penilaian Terjadwal

PENDAHULUAN

Sekolah merupakan rumah kedua bagi siswa setelah rumah dimana siswa tinggal. Dalam seminggu siswa berada di sekolah dari pukul 07.00 sampai dengan pukul15.30 atau sekitar 8 jam 30 menit, kecuali pada hari Jumat hanya sekitar 7 jam di sekolah. Dalam 1 minggu siswa rata-rata berada di sekolah sekitar 7 jam x 5 hari yaitu sekitar 35 jam. Jumlah jam yang cukup lama ada di sekolah membuat siswa dapat berkontribusi sangat besar terhadap kebersihan lingkungan kelas dan lingkungan sekolah. Program Jumat bersih meskipun diadakan secara terencana tetapi efek terhadap kebersihan lingkungan sekolah hanya sebentar. Setelah jumat bersih selesai biasanya sampah kembali terlihat dan kelas mulai kotor kembali. Petugas kebersihan yang jumlahnya terbatas tidak akan mampu untuk terus menerus membersihkan lingkungan sekolah. Beberapa kelas dengan jumlah anak yang memiliki kepedulian lingkungan tingi, akan lebih terlihat beraih dibandingkan dengan kelas yang lain.

Sampah yang terbanyak muncul adalah plastik yang berwujud plastik lembaran, plastik kresek, plastik kemasan makanan, gelas dan botol minuman serta sedotan. Sampah berikutnya adalah kertas pembungkus makanan, kardus dan sisa makanan. SMA N 1 Baturraden memiliki jumlah siswa kurang lebih 1.067 siswa dan jumlah guru karyawan sebanyak 66 orang, serta petugaskantin sekitar 9 orang sehingga total untuk setiap hari kerja ada 1.142 orang. Semakin banyak jumlah penghuni maka sampah dan limbah yang dihasilkan juga akan semakin besar.

PEMBAHASAN

Pengelolaan sampah di SMA N 1 Baturraden dikumpulkan dalam tempat sampah di depan kelas masing-masing, terdiri dari 3 tempat sampah sesuai jenisnya yaitu organik, anorganik dan bahan-bahan beracun dan berbahaya. Sampah kemudian diangkut dan dikumpulkan di TPS sementara milik sekolah yang ada disamping gerbang sekolah, kemudian akan diangkut ke TPS Desa Rempoah sesuai jadwal yang ditentukan oleh TPS Desa.

Pada pelaksanaannya, timbul masalah untuk sampah-sampah yang tidak dibuang pada tempatnya, misalnya pada lorong-lorong kelas, tempat parkir dan halaman sekolah, dan di sudut –sudut sekolah. Pada saat Kepala Sekolah berkeliling ternyata dijumpai tumpukan sampah pada beberapa tempat yang jarang dilalui oleh siswa misalnya pada sudut-sudut di bawah tangga menuju Ruang Karawitan yang ada di belakang sekolah dan di bawah jendela beberapa kelas yang letaknya di sudut sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tempat sampah sudah disediakan ternyata kesadaran siswa untuk membuang sampah pada tempatnya juga harus ditingkatkan lagi.

Menurut Sumantri (66: 2015), faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah sampah adalah sebagai berikut:

  1. Jumlah penduduk
  2. Sistem pengumpulan atau pembuangan sampah yang dipakai
  3. Pengambilan bahan-bahan yang ada pada sampah untuk dipakai kembali
  4. Faktor geografis
  5. Faktor waktu
  6. Faktor sosial, ekonomi,dan budaya
  7. Faktor musim
  8. Kebiasaan masyarakat
  9. Kemajuan teknologi
  10. Jenis sampah

Untuk pengelolaan sampah padat ada beberapa tahapan yaitu :

  1. Tahap pengumpulan dan penyimpanan di tempat sumber
  2. Tahap pengangkutan
  3. Tahap pemusnahan

a. Sanitary landfill (sampah ditimbun dengan tanah)

b. Incineration (pembakaran sampah besar-besaran dengan menggunakan incinerator)

c. Composting (sampah dijadikan kompos)

d. Hot feeding (sampah basah dipanaskan kemudian digunakan untuk memberi makan ternak)

e. Discharge to sewers (sampah dihaluskan kemudian dibuang melalui pembuangan limbah)

f. Dumping (sampah dibuang begitu saja)

g. Dumping in water (sampah dibuang ke perairan)

h. Individual incineration (membakar sampah perorangan)

i. Recycling (daur ulang)

j. Reduction (mengurangi volume dengan memperkecil bentuk sampah)

k. Salvaging (pemanfaatan sampah yang dapat dipakai kembali)

Langkah-langkah yang sudah ditempuh untuk meningkatkan kesadaran lingkungan siswa yaitu melalui himbauan pada saat upacara pada hari senin, Pembina upacara selalu mengingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan tetapi masih saja terlihat di beberapa titik masih ada sampah-sampah yang berserakan.

Menurut Suharyat (2014) Sikap ditumbuhkan dan dipelajari sepanjang perkembangan peserta didik dalam keterkaitannya dengan objek tertentu. Dalam pembelajaran, sikap sangat berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki peserta didik. Hal ini penting karena informasi pengetahuan lingkungan yang didapat dari pembelajaran akan diproses diotak melalui serangkaian kegiatan analisis, sintesis dan evaluasi sehingga menghasilkan nilai yang tertuang dalam bentuk sikap.

Dalam rangka untuk meningkatkan kesadaran dan sikap peduli lingkungan terutama untuk siswa, maka sekolah mengambil langkah untuk memberikan penilaian kepada masing-masing kelas dimana salah satu poin penilaiannya adalah kebersihan kelas. Tim penilai adalah siswa sendiri yang diambil perwakilan dari masing-masing kelas(OSIS dan MPK). Tim penilai akan dibagi jadwal untuk lokasi/tempat penilaian dan waktunya tidak ditentukan, bisa pagi hari ataupun siang hari tergantung dari tim penilai tersebut. Sekolah akan mengumumkan hasil penilain untuk kelas terbersih pada setiap kegiatan upacara di hari senin pagi di awal bulan.

Berikut ini dokumentasi kegiatan penilaian kebersihan terjadwal yang dilakukan oleh anggota MPK sesuai jadwal tugas masing-masing :

E:\KP RT 3d\Penilaian K5_4.jpeg

E:\KP RT 3d\Penilaian K5_5.jpeg

Pengumuman untuk kelas terbersih akan dilakukan setiap awal bulan dengan Peringkat Kelas Terbersih 1, Peringkat Kelas Terbersih 2 dan Peringkat Kelas Terbersih 3. Kelas Terbersih 1,2 dan 3 akan mendapatkan Piala Bergilir dan Piagam Perhargaan sebagai apresiasi dan pemacu untuk anak-anak kelas tersebut agar dapat mempertahankan kebersihan yang telah dicapai oleh kelas.

E:\KP RT 3d\Penyerahan Piala dan Piagam_1.jpeg

E:\KP RT 3d\Penyerahan Piala dan Piagam_2.jpeg

E:\KP RT 3d\Penyerahan Piala dan Piagam_3.jpeg

PENUTUP

Kesimpulan : sampah merupakan persoalan lingkungan yang serius karena berkaitan dengan kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah. Pengelolaan sampah harus melibatkan semua pihak yang ada disekolah. Peserta didik mewakili jumlah terbanyak dalam menghasilkan sampah, terutama di sekitar kelas. Tempat sampah yang telah dibedakan berdasarkan jenis sampah dapat memudahkan peserta didik untuk membuang sampah dengan tertib. Penilaian terjadwal untuk kebersihan kelas dapat memacu peserta didik untuk menjaga kelas dalam keadaan selalu bersih dan tertib.

Saran : pihak sekolah hendaknya dapat memberikan penghargaan menarik untuk kelas-kelas yang mendapat nilai tinggi untuk kebersihan, sehingga dapat lebih memacu siswa untuk menjaga kelas selalu bersih. Kepala Sekolah, Guru dan Karyawan dapat menjadi teladan dengan selalu mengingatkan dan menjaga kebersihan.

DAFTAR PUSTAKA

Salim, Emil. 2011. Dari Limbah Menjadi Rupiah. Mudah dan Praktis Mengolah Limbah Industri Skala Rumah Tangga. Lily Publisher (Penerbit Andi). Yogyakarta.

Sembel, Dantje T. 2015. Toksikologi Lingkungan, Dampak Pencemaran dari Berbagai Bahan Kimia dalam Kehidupan Sehari-hari. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Suharyat, Yayat.. 2014. Hubungan antara Sikap, Minat dan Perilaku Manusia. Artikel Unisma Bekasi.

Sumantri, Arif. 2015. Kesehatan Lingkungan. Penerbit Kencana. Jakarta.

Winarso, Sugeng. 2005. Kesuburan Tanah, Dasar Kesehatan dan Kualitas Tanah. Penerbit Gava Media. Yogyakarta.

http://openjournal.unpam.ac.id/index.php/gnp/article/view/11263 (diakses pada tanggal 11 September 2022)

https://dli.ejournal.unri.ac.id/index.php/DL/article/download/7459/6361 (diakses pada tanggal 15 September 2022)

https://journal.stkipsingkawang.ac.id/index.php/JurnalPIPSI/article/view/1979 (diakses pada tanggal 15 September 2022)

https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej/article/view/13768/7535 (diakses pada tanggal 15 September 2022)

https://unisa-palu.e-journal.id/gurutua/article/download/67/52 (diakses pada tanggal 15 September 2022)

https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/download/30614/75676579725 (diakses pada tanggal 30 September 2022)

.

You cannot copy content of this page