Iklan

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR LOMPAT TINGGI GAYA STREADDLE MELALUI MEDIA SASMILOTI PADA SISWA KELAS XII IPS 4 SMA NEGERI 1 RAWALO SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN 2017/2018

PENDAHULUAN

Atletik merupakan salah satu bagian dari aspek permainan dan olahraga yang diajarkan di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Atletik yang diajarkan disekolah mencakup empat nomor yaitu : (1) jalan, (2) lari, (3) lompat, (4) lempar. Lompat tinggi merupakan salah satu nomor lompat yang diajarkan disekolah-sekolah.

Pendidikan Jasmani yang diajarkan pada peserta didik harus dapat membangkitkan partisipasi dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. Dengan siswa aktif berpartisipasi maka tujuan Pendidikan Jasmani akan dapat tercapai. Sebagai guru pendidikan jasmani harus bisa dan mampu mengemas pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan menjadi suatu pembelajaran yang menarik dan menyenangkan sehingga siswa termotivasi dan berpartisipasi aktif dalam mengikuti proses pembelajaran, salah satunya yaitu dengan menggunakan alat bantu.

Penggunaan alat bantu merupakan solusi untuk mengatasi kendala atau kesulitan yang dihadapi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran lompat tinggi gaya streadle. Penggunaan alat bantu diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan partisipasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran lompat tinggi gaya streadle. Namun penggunaan alat bantu ini belum diketahui seberapa besar pengaruhnya untuk meningkatkan kemampuan lompat tinggi gaya streadle pada peserta didik. Untuk membuktikan bahwa penggunaan alat bantu pendidikan jasmani dapat meningkatkan kemampuan dan motivasi peserta didik, maka perlu dibuktikan melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Setiap cabang olahraga memerlukan keterampilan, keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam melakukan agar hasilnya dapat maksimal. Demikian juga dengan cabang olah raga lompat tinggi gaya streadle, agar hasilnya dapat optimal perlu memiliki keberanian, kesenangan, dan percaya diri dalam melakukannya. Untuk meningkatkan itu semua, guru dituntut untuk bisa membangkitkanya dengan cara pemberian motivasi kepada peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik yaitu dengan cara memodifikasi penggunaan mistar standar dengan media karet gelang.

Dalam kenyataanya tidak semua peserta didik memiliki keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam melakukan gerakan dalam cabang olahraga lompat tinggi gaya streadle, seperti yang penulis amati ketika mengajar lompat tinggi gaya streadle di kelas XII IPS 4 SMA Negeri 1 Rawalo. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran lompat tinggi mengalami masalah yang harus dicari solusinya.

Memperhatikan permasalahan di atas, penulis mencoba menggunakan media yaitu “karet gelang” untuk menumbuhkan motivasi dalam pembelajaran lompat tinggi gaya streaddle pada kelas XII IPS 4 SMA Negeri 1 Rawalo. Diharapkan dengan cara memodifikasi alat pembelajaran dengan menggunakan media karet gelang peserta didik akan lebih termotivasi dan berkonsentrasi pada lompatan dibandingkan dengan menggunakan media mistar standar pada lompat tinggi gaya streadle.

LANDASAN TEORI

Motivasi

Winkel, (1996) dalam Nyayu Khodijah (2014:46) menyatakan bahwa motivasi ada dua jenis yaitu (1) motivasi instrinsik, dan (2) ekstrinsik. Motivasi instrinsik adalah keinginan bertindak yang disebabkan oleh faktor pendorong yang murni berasal dari dalam individu, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah keinginan bertingkah laku sebagai akibat dari adanya rangsangan dari luar atau karena adanya kekuatan dari luar. Menurut Mc Donald dalam Oemar Hamalik (2010, : 173), motivasi adalah suatu perubahan energi didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan.

Belajar

Suryabrata dalam Nyayu Khodijah, ( 2014 : 47 ) menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses yang berlangsung sepanjang hayat. Hampir semua kecakapan, keterampilan, pengetahuan, kebiasaan, kegemaran dan sikap manusia terbentuk, dimodifikasi dan berkembang karena belajar. Dengan demikian, belajar merupakan proses penting yang terjadi dalam kehidupan setiap orang. Seseorang ingin mempunyai suatu keahlian atau peserta didik ingin mempunyai pengalaman baru dalam kehidupan maka harus ditempuh dengan belajar. Karenanya pemahaman yang benar tentang konsep belajar sangat diperlukan terutama bagi kalangan para pendidik yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran.

Motivasi Belajar

Petri dalam (Hamalik,1992:174) menggambarkan motivasi sebagai kekuatan yang bertindak pada organisme yang mendorong dan mengarahkan perilakunya. Konsep motivasi juga digunakan untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan dalam intensitas perilaku. Mc Donald dalam (Hamalik,1992:174) mengatakan bahwa motivasi adalah sesuatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. (Morgan dkk. (1986) dalam Nyayu Khotijah, (2014:150) mendefinisikan motivasi sebagai kekuatan yang menggerakkan dan mendorong terjadinya perilaku yang diarahkan pada tujuan tertentu. Enggen dan Kaushak (1987) dalam Nyayu Khotijah, (2014:150) mendefinisikan motivasi sebagai kekuatan yang memberi energi, menjaga kelangsungannya dan mengarahkan perilaku terhadap tujuan.

Dari beberapa definisi tentang motivasi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatu dorongan yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu dan secara psikologis mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar.

Lompat Tinggi

(Eddy Purnomo dan Dapan,2011:1). Lompat tinggi adalah merupakan bagian dari atletik yaitu termasuk dalam kategori nomor lompat, oleh karena itu lompat tinggi adalah merupakan salah satu cabang dari atletik.

Lompat tinggi merupakan olahraga yang menguji keterampilan melompat dengan melewati mistar lompat. Tujuan dari lompat tinggi adalah pelompat / atlet berusaha untuk menaikkan pusat masa tubuhnya setinggi mungkin dan berusaha untuk melewati mistar lompat tinggi agar tidak jatuh. Pelaksanaan lompat tinggi ditentukan oleh sejumlah parameter, dan ini semuanya berkaitan dengan kemampuan biomotorik, adapaun biomotorik yang terpenting adalah kekuatan lompat, kecepatan,dan rasa irama koordinasi. (Eddy Purnomo dan Dapan, 2011:65)

Untuk mencapai prestasi lompatan yang maksimal dalam lompat tinggi seorang pelompat / atlit harus menguasai terlebih dahulu unsur-unsur pokok dalam lompat tinggi yaitu awalan, tumpuan/tolakan, saat melayang di atas mistar dan pendaratan.

Gaya Straddle

Gaya guling perut dikenal dengan gaya straddle mulai dikenalkan pada tahun 1930. Gaya straddle atau gaya guling perut adalah merupakan gaya yang paling mudah untuk dilakukan, maka bila dibanding dengan gaya yang lain bila seorang atlit menggunakan gaya straddle bisa mencapai lompatan sangat tinggi. Untuk bisa melakukan lompat tinggi gaya straddle, maka yang harus dikuasai terlebih dahulu adalah unsur-unsur pokok lompat tinggi yaitu awalan, tumpuan, melayang di atas mistar dan pendaratan.

Media Sasmiloti

Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti “tengah”, “perantara” atau “pengantar”. (Azhar Arsyad 2014 : 3). Gerlach & Ely (1971) dalam ( Azhar Arsyad 2014 : 3) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Dalam pengertian di atas bahwa media pembelajaran adalah berupa benda-benda atau lingkungan disekitar kita yang dapat dijadikan sebagai media dalam belajar.

Penelitian yang dilakukan terhadap penggunaan media pengajaran dalam proses belajar mengajar sampai pada kesimpulan, bahwa proses dan hasil belajar para siswa menunjukkan perbedaan yang berarti antara pengajaran tanpa media dengan pengajaranmenggunakan media. Oleh sebab itu penggunaan media pengajaran dalam proses pengajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pengajaran.(Nana Sudjana & Ahmad Rivai 2013 : 3).

Sasmiloti adalah merupakan singkatan dari Satu Set Mistar Lompat Tinggi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang di maksud dengan satu set adalah satu pasang, satu setel atau setelan. Namun dalam kalimat lain misalnya dalam Kamus Istilah Olahraga satu set bisa diartikan satu babak dalam pertandingan atau bagian dari pertandingan. Adapun yang dimaksud satu set dalam penelitian ini adalah satu pasang atau satu setel alat yang digunakan dalam proses pembelajaran lompat tinggi yaitu yang berupa mistar asli ( standar) yang digunakan dalam lompat tinggi dan satu mistar modifikasi yaitu yang terbuat dari karet gelang yang dirangakai hingga karet tersebut menjadi panjang.

Yang dimaksud dengan mistar adalah alat yang digunakan dalam lompat tinggi yaitu alat yang terbuat dari besi aluminium atau pipa plastik berukuran ½” yang dibentangkan melebar selebar matras yang digunakan atau dilompati saat melakukan gerakan lompat tinggi.

Yang dimaksud dengan lompat tinggi adalah materi pelajaran yang diajarkan pada saat penulis melakukan penelitian tindakan kelas. Dalam cabang atletik bahwa lompat tinggi ada beberapa macam gaya yaitu gaya Streddle, Gaya Scisors dan gaya Foshbury Floop. Di dalam penelitian ini , penulis mengambil gaya streddle sebagai obyek penelitian.

Kerangka Berpikir

Motivasi belajar yang rendah berakibat nilai hasil belajar siswa menjadi tidak optimal. Kurangnya motivasi belajar dalam mata pelajaran penjasorkes materi lompat tinggi gaya stradlle disebabkan oleh faktor ketidak beranian siswa untuk melompat bila menggunakann mistar lompat yang standart dan diduga karena materi pelajaran yang kurang diminati atau kurang disenangi oleh siswa. Tolak ukur motivasi belajar yang masih kurang antara lain: siswa yang berani malakukan lompatan masih sedikit, siswa kurang antusias dalam melakukan gerakan lompat tinggi.

Penerapan media sasmiloti diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar penjasorkes materi lompat tinggi gaya straddle. Dengan media sasmiloti juga akan merubah suasana kegiatan belajar mengajar manjadi lebih menarik siswa untuk aktif dan lebih menumbuhkan keberanian siswa untuk melakukan lompatan yang pada akhirnya nilai hasil belajar akan dapat meningkat dengan baik.

HIPOTESIS TINDAKAN

Hipotesa dalam penelitian ini adalah bahwa dengan menggunakan media sasmiloti peserta didik akan lebih termotivasi dalam mempelajari lompat tinggi gaya streaddle.

METODE PENELITIAN

Setting / Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Rawalo. SMA Negeri 1 Rawalo terletak di Jalan Pawiyatan No. 1, Desa Pesawahan Kecamatan Rawalo.

Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai dengan bulan Desember tahun 2017

Subjek Penelitian

Penelitian akan dilakukan pada siswa kelas XII IPS 4 dengan jumlah siswa ada 32 siswa dengan jumlah siswa laki-laki 14 dan siswa wanita 18 siswa. Penelitian akan dibantu oleh satu obesrver yang akan mengamati guru dan siswa.

Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang dipakai dalam penelitian antara lain : (1) Lembar observasi kelas, (2) Lembar observasi guru, (3) Angket

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang akan dilakukan meliputi : Data kualitatif : lembar observasi kelas, lembar observasi guru, angket

Analisis data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tekhnik analisis dokumen dengan langkah-langkah sebagai berikut (1) Menyeleksi, memfokuskan dan mengorganisir data, (2) Mendeskripsikan atau menyajikan data dalam bentuk narasi, tabel atau grafik, (3) Menarik simpulan dalam bentuk formula atau narasi singkat, (4) Triangulasi data.

Indikator Keberhasilan

Penilaian motivasi siswa menggunakan persentase jumlah siswa yang aktif dalam pembelajaran ( siswa on task ) dengan keseluruhan siswa.

Persentase ( % ) = ( n / N ) x 100 %

Keterangan :

n = Jumlah siswa on task

N = Jumlah keseluruhan siswa

Motivasi siswa dikatakan berhasil jika siswa yang on task > 80% (Daniel Muijs & David Reynolds : 2008, hal 386)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

KONDISI AWAL

Peningkatan pembelajaran harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, begitu pula pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan harus selalu ditingkatkan. Hal ini disebabkan karena masih rendahnya aktivitas dan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Dalam kenyataannya masih banyak anak yang malu bertanya, kurang aktif saat diskusi, kurang percaya diri saat melakukan gerakan khususnya gerakan olahraga, tidak ada motivasi untuk belajar dan kurang kreatifnya siswa untuk menciptakan alternatif baru untuk memecahkan masalah dalam belajar. Selain itu peran guru juga sangat berpengaruh dalam pembelajaran karena masih menggunakan metode yang tidak pas dan tidak adanya alat peraga yang menarik bagi siswa.

Dalam proses pembelajaran yang seperti itu membuat siswa menjadi bosan dan kurang aktif karena tidak adanya motivasi yang kuat dari para peserta didik yang mengakibatkan tujuan pembelajaran tidak tercapai dan berdampak pada nilai yang kurang memuaskan. Hasil belajar Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan pada kelas XII IPS4 di SMA Negeri 1 Rawalo, peneliti belum menggunakan Media Pembelajaran SASMILOTI mengakibatkan hasil yang dicapai belum memuaskan. Berdasarkan hasil tes wawancara pada saat proses pembelajaran dari jumlah 32 peserta didik baru 40,6% anak yang berani melompat dengan mistar yang standar selebihnya 59,3% tidak berani dengan berbagai alasan. Alasan yang paling banyak adalah karena faktor takut melompat dengan mistar standar dan takut jatuh pada matras dengan anggapan jatuhnya nanti sakit.

Melalui deskripsi pada data awal yang telah diperoleh menunjukkan kualitas pembelajaran yang masih rendah. Maka disusunlah rencana pelaksanaan penelitian tindakan kelas untuk mengoptimalkan kualitas pembelajaran materi loncat tinggi gaya streaddle pada siswa kelas XII IPS 4 SMA Negeri 1 Rawalo. Rencana Pelaksanaan tindakan akan dilaksanakan dalam 2 siklus dan masing-masing siklus dengan tahapan perencanaan, perlakuan dan pengamatan serta refleksi.

Untuk memenuhi unsur gerakan teknik loncat tinggi dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti memilih media sederhana dan tidak membuat peserta didik takut melakukan gerakan yaitu karet gelang. Penerapan media karet gelang sebagai solusi untuk meningkatkan hasil belajar dan peningkatan motivasi belajar pendidikan jasmani materi loncat tinggi gaya streaddle, dimaksudkan untuk membiasakan peserta didik dalam melatih gerak dasar loncat tinggi berupa teknik dasar loncat tinggi.

SIKLUS I

Pertemuan I

Berdasarkan hasil observasi dan tanya jawab dengan peserta didik serta dokumentasi foto kegiatan yang telah dilaksanakan, diketahui bahwa proses internalisasi penumbuhan minat siswa untuk melakukan lompatan pada siklus I sudah termasuk dalam kategori baik, yaitu 96,8% dari jumlah 32 peserta didik. Namun demikian, masih perlu ditingkatkan lagi agar menjadi lebih baik pada siklus II. Setelah proses internalisasi minat melompat dilaksanakan dengan baik, tahap berikutya adalah latihan ayunan kaki lompat tinggi gaya streaddle.

Pada tahap latihan ayun kaki, berdasarkan hasil pengamatan , tanya jawab dan dokumentasi kegiatan, diketahui bahwa proses internalisasi penumbuhan minat siswa untuk melakukan lompatan pada siklus I sudah termasuk dalam kategori baik yaitu 93,7% dari jumlah 32 peserta didik. Namun, masih tetap harus ditingkatkan lagi agar menjadi semakin baik pada siklus II.

Berdasarkan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi foto, dapat diketahui bahwa proses internalisasi penumbuhan minat peserta didik untuk melakukan gerakan melayang lompat tinggi gaya streaddle pada siklus I sudah termasuk dalam kategori baik yaitu 93,7% dari 32 jumlah peserta didik. Namun, masih tetap harus lagi agar menjadi semakin baik pada siklus II.

Secara umum, pembelajaran lompat tinggi dengan menggunakan media sasmiloti yang dilakukan dapat diikuti peserta didik dengan baik, walaupun masih belum sesuai dengan yang diinginkan dan kurang on task dalam pembelajaran lompat tinggi. Beberapa siswa yang awalnya merasa takut dalam melompat melalui media sasmiloti sudah berani melompat walaupun dengan ketinggian yang rendah.

Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan kolaborator proses pembelajaran lompat tinggi gaya streaddle yang diperoleh pada siklus I, tingkat keberanian dan keantusiaan dalam belajar baru termasuk dalam kategori cukup. Terbukti baru 40,6% yang berani melompat dengan mistar yang standart sedangkan 59,3% belum berani melompat dengan mistar standart.

Dengan melihat data di atas maka diperoleh refleksi sebagai berikut :

  1. Banyak peserta didik yang masih canggung dalam melakukan gerakan lompat tinggi gaya streaddle
  2. Peserta didik perlu dimotivasi kembali agar dalam melakukan gerakan lompat tinggi gaya streaddle lebih semangat.
  3. Secara klasikal peserta didik yang berani melompat 40,6% sehingga belum mencapai ketuntasan kelas yaitu 80%
  4. Pembelajaran yang belum maksimal ini karena masih mengalami kekurangan. Kekurangan yang terjadi pada siklus I sebagai bahan refleksi untuk ditindak lanjuti pada siklus II.

Pertemuan II

Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan kolaborator proses pembelajaran lompat tinggi gaya streaddle yang diperoleh pada siklus I, tingkat keberanian dan keantusiaan dalam belajar baru termasuk dalam kategori cukup. Terbukti baru 40,6% yang berani melompat dengan mistar yang standart sedangkan 59,3% belum berani melompat dengan mistar standart.

Dengan melihat data di atas maka diperoleh refleksi sebagai berikut :

  1. Banyak peserta didik yang masih canggung dalam melakukan gerakan lompat tinggi gaya streaddle
  2. Peserta didik perlu dimotivasi kembali agar dalam melakukan gerakan lompat tinggi gaya streaddle lebih semangat.
  3. Secara klasikal peserta didik yang berani melompat 40,6% sehingga belum mencapai ketuntasan kelas yaitu 80%
  4. Pembelajaran yang belum maksimal ini karena masih mengalami kekurangan. Kekurangan yang terjadi pada siklus I sebagai bahan refleksi untuk ditindak lanjuti pada siklus II.

SIKLUS II

Pertemuan I

Dari hasil diskusi dan tanya jawab diperoleh data bahwa peserta didik yang berani melompat dengan mistar modifikasi adalah 78,1%.atau sejumlah 25 peserta didik. Dari data tersebut berarti ada peningkatan motivasi peserta didik sekitar 31,3% setelah lompatan diganti dengan mistar modifikasi.

Dengan setelah diadakan testimoni dari peserta didik yang sudah berani melompat diperoleh data 87,5% atau sejumlah 28 peserta didik sudah berani melompat dengan mistar modifikasi sedangkan yang tidak berani melompat dengan mistar modifikasi adalah 12,5% atau 4 peserta didik.

Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi dengan kolaborator proses pembelajaran lompat tinggi gaya streaddle yang dilaksanakan pada siklus II, tingkat keberanian dan keantusiaan dalam belajar termasuk dalam kategori baik. Terbukti 87,5% peserta didik sudah berani melompat dengan mistar yang standart sedangkan 12,5% belum berani melompat dengan mistar standart.

Dengan melihat data di atas maka diperoleh refleksi sebagai berikut :

  1. Peserta didik sudah tidak takut dalam melakukan gerakan lompat tinggi gaya streaddle
  2. Peserta didik perlu dimotivasi kembali agar dalam melakukan gerakan lompat tinggi gaya streaddle lebih baik lagi.
  3. Secara klasikal peserta didik yang berani melompat 87,5% sehingga sudah mencapai ketuntasan kelas yaitu 80%
  4. Dengan media sasmiloti motivasi peserta didik lebih meningkat

Pertemuan II

Dari hasil diskusi dan tanya jawab diperoleh data bahwa peserta didik yang berani melompat dengan mistar modifikasi adalah 78,1%.atau sejumlah 25 peserta didik. Dari data tersebut berarti ada peningkatan motivasi peserta didik sekitar 31,3% setelah lompatan diganti dengan mistar modifikasi.

Setelah diadakan testimoni dari peserta didik yang sudah berani melompat diperoleh data 87,5% atau sejumlah 28 peserta didik sudah berani melompat dengan mistar modifikasi sedangkan yang tidak berani melompat dengan mistar modifikasi adalah 12,5% atau 4 peserta didik.

Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi dengan kolaborator proses pembelajaran lompat tinggi gaya streaddle yang dilaksanakan pada siklus II, tingkat keberanian dan keantusiaan dalam belajar termasuk dalam kategori baik. Terbukti 87,5% peserta didik sudah berani melompat dengan mistar yang standart sedangkan 12,5% belum berani melompat dengan mistar standart.

Dengan melihat data di atas maka diperoleh refleksi sebagai berikut :

  1. Peserta didik sudah tidak takut dalam melakukan gerakan lompat tinggi gaya streaddle
  2. Peserta didik perlu dimotivasi kembali agar dalam melakukan gerakan lompat tinggi gaya streaddle lebih baik lagi.
  3. Secara klasikal peserta didik yang berani melompat 87,5% sehingga sudah mencapai ketuntasan kelas yaitu 80%
  4. Dengan media sasmiloti motivasi peserta didik lebih meningkat

PEMBAHASAN

SIKLUS I

a. Keon taskan peserta didik

Berdasarkan hasil refleksi pembelajaran pada siklus I secara umum, pembelajaran lompat tinggi dengan menggunakan media sasmiloti yang dilakukan dapat diikuti peserta didik dengan baik, walaupun masih belum sesuai dengan yang diinginkan dan kurang on task dalam mengikuti pembelajaran lompat tinggi. Tingkat ketidakon taskan peserta didik baru masuk dalam kategori cukup yaitu 71,8% sedangkan yang on task baru mencapai 28,1 %. Hasil pengamatan tingkat keon taskan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran lompat tinggi gaya streaddle dengan media sasmiloti ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

Keberanian melompat peserta didik

Hasil observasi dan diskusi dengan kolaborator proses pembelajaran lompat tinggi gaya streaddle yang diperoleh pada siklus I, tingkat keberanian baru termasuk dalam kategori kurang. Terbukti baru 40,6% yang berani melompat dengan mistar yang standart sedangkan 59,3% belum berani melompat dengan mistar standart. Hasil pengamatan tingkat keberanian peserta didik dalam melakukan lompatan dengan mistar standart ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

SIKLUS II

a. Keon taskan peserta didik

Berdasarkan hasil refleksi pembelajaran pada siklus II secara umum, pembelajaran lompat tinggi dengan menggunakan media sasmiloti yang dilakukan dapat diikuti peserta didik dengan baik. Tingkat keon taskan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran pada siklus II mengalami peningkatan yang signifikan masuk dalam kategori baik yaitu 84,3% sedangkan yang tidak on task hanya 15,6 %. Hasil pengamatan tingkat keon taskan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran lompat tinggi gaya streaddle dengan mistar modifikasi ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

  1. Keberanian melompat peserta didik

Hasil observasi dan diskusi dengan kolaborator proses pembelajaran lompat tinggi gaya streaddle yang diperoleh pada siklus II, tingkat keberanian termasuk dalam kategori baik yaitu 87,5%, sedangkan 12,5% belum berani melompat dengan mistar modifikasi. Hasil pengamatan tingkat keberanian peserta didik dalam melakukan lompatan dengan mistar modifikasi ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

Perbandingan Siklus I dan Siklus II

Dengan melihat data yang tertulis di atas, jelas ada peningkatan motivasi belajar lompat tinggi gaya streaddle melalui media sasmiloti pada siswa kelas XII IPS 4 SMA Negeri 1 Rawalo. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya prosentase tingkat keon taskan dan tingkat keberanian peserta didik dalam melakukan lompatan dengan mistar standart. Keberhasilan proses pembelajaran dan peningkatan motivasi belajar pada materi lompat tinggi gaya streaddle melalui media sasmiloti dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan :

  1. Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan dengan menggunakan media sasmiloti dapat meningkatkan motivasi pada peserta didik saat mengikuti pembelajaran. Hal ini dibuktikan dengan semakin kooperatif dan on tasknya para peserta didik dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan sejak siklus 1 sampai siklus 2.
  2. Dengan media sasmiloti terjadi peningkatan motivasi belajar pada materi lompat tinggi gaya streaddle. Dalam kegiatan pembelajaran peneliti menggunakan mistar modifikasi yang terbuat dari rangkaian karet gelang. Dengan mistar modifikasi peserta didik tidak lagi ada rasa takut didalam melakukan lompatan karena mistar modifikasi tidak keras dan sangat lentur. Hal ini juga buktikan dengan naiknya keon taskan dan perilaku peserta didik dalam mengikuti pembelajaran secara klasikal, pada siklus 1 sebesar 28,1% menjadi 84,3% pada siklus 2. Rata-rata peningkatan tingkat ke on task an peserta didik naik yaitu sebesar 56,2%. Media sasmiloti juga meningkatkan motivasi peserta didik untuk berani melakukan lompatan, dibuktikan dengan naiknya tingkat keberanian untuk melakukan lompatan pada siklus I sebesar 40,6% menjadi 87,5% pada siklus II. Rata-rata peningkatan motivasi belajar peserta didik naik yaitu sebesar 46,9%.

Saran

Berdasarkan simpulan hasil penelitian tersebut, saran yang diberikan peneliti adalah sebagai berikut.

1) Guru mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan hendaknya menggunakan media sasmiloti dalam pembelajaran. Pembelajaran dengan media sasmiloti telah terbukti dapat meningkatkan motivasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran lompat tinggi gaya streaddle. Selain itu, pembelajaran tersebut dapat mengubah perilaku peserta didik menjadi lebih on task, aktif, berani dan percaya diri, mandiri, serta tanggung jawab dalam belajar.

2) Bagi siswa, hendaknya lebih memperhatikan penjelasan yang diberikan guru, serius dalam belajar, dan selalu bertanya ketika menemui kesulitan dalam pembelajaran.

3) Bagi praktisi di bidang pendidikan, peneliti berharap adanya penelitian lanjutan mengenai penggunaan media sasmiloti, model, pendekatan, metode, teknik, dan media berdasarkan pendekatan tertentu yang tepat untuk meningkatkan keterampilan gerak lompat tinggi. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat membantu guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan sehingga berdampak positif bagi perkembangan pendidikan yang lebih berkualitas.

BIODATA PENULIS

NAMA : LASTIONO, S.Pd.

NIP : 19710324 200801 1 005

UNIT KERJA : SMA NEGERI 1 RAWALO

DAFTAR PUSTAKA

Azhar Arsyad, 2014. Media Pembelajaran, Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.

Eddy Purnomo, Dapan, 2011. Dasar-Dasar Gerak Atletik, Yogyakarta : Alfamedia.

Nana Sudjana, Ahmad Rivai, 2013. Media Pengajaran. Bandung : Sinar Baru Algensindo.

Nyayu Khodijah, 2014. Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rajagrafindo Persada.

Oemar Hamalik, 2010. Psikologi Belajar dan Mengajar, Bandung : Sinar Baru Algensindo.

You cannot copy content of this page